Rabu, 31 Mei 2017

PERJALANAN LABUAN BAJO 3

Puncak Padar

( panorama dari puncak Padar, doc. pribadi)


Hari kedua berada di Labuan Bajo membawa kami mengunjungi tiga pulau: Padar, Rinca, dan Kelor. Kunjungan pertama rombongan kami berlima belas, penumpang Kapal Kajoma Eco adalah ke Pulau Padar.

Pulau Padar

Nama Besar Pulau Padar mulai terdengar sejak tahun 2014. Sejak  banyak foto dan ulasan wisatawan yang pernah berkunjung ke pulau ini sehingga  membuat Pulau Padar menjadi salah satu tujuan favorit dalam daftar tempat wisata Labuan Bajo.

Keindahan pemadangan di bukit Pulau Padar adalah daya tarik utama. Tak  hanya itu wisatawan  bisa menikamti indahnya sunset dan sunrise di atas bukit pulau ini.  Sungguh sangat mengagumkan.

Pulau Padar adalah sebuah pulau kosong di kawasan Taman Nasional Komodo. Pulau Padar bukanlah pulau yang berpenghuni, bahkan tidak ada bangunan satupun di sini sehingga padar seolah pulau perawan yang belum pernah dikunjungi siapapun. Di pulau ini begitu sepi, tapi karena pesona kontur pulau padar yang berbukit-bukit dan bercabang seolah membentuk bintang membuat pulau ini menarik.

Ketika melihat panorama di pulau ini rasanya sangat surreal, seperti tidak nyata.  Dengan bukit-bukit menjulang tinggi dan banyak bagian yang tampaknya sukar untuk dilalui karena tebing yang curam langsung menukik ke laut. Beberapa bukit belum atau tidak dapat dijamah manusia karena trekking yang terlalu curam. 

Bagian Pulau Padar yang terhalang bukit terlihat menyimpan banyak misteri! Saya membayangkan ada mahluk-mahluk asing yang menghuni pulau-pulau kosong itu. Mereka tak bisa dilihat dengan mata biasa. Mereka bagian dari semesta yang membuatnya menjadi seimbang. Itu kan imajinasi  saya semata.

Pulau Padar letaknya cukup jauh dari pelabuhan di kota Labuan Bajo. Sebagai salah satu pulau di gugusan terluar, maka membutuhkan sekitar 3,5 jam waktu tempuh demi mencapai tempat ini. Perjalanan laut yang cukup panjang.  Perjalanan menuju Pulau Padar sangat menarik dengan berbagai pulau yang berwarna kuning kecoklatan dan birunya laut pun menjadikan pemandangan hari itu begitu kontras. Saya yang suka agak-agak romantis dan puitis jadi terbuai dengan perjalanan itu. 

Saya mempunyai pengalaman secara indrawi maupun secara emosi di puncak Bukit Padar ini. Bibir pantai pulau ini memiliki kontur yang dangkal, hal ini menyebabkan perahu yang saya tumpangi tidak dapat berlabuh di tepinya. Karena itu dibuatlah dermaga kayu di situ tempat perahu dan kapal bisa ditambatkan. 

Kapal atau perahu harus menancapkan jangkarnya sedikit menjauhi area karang dan bibir pantai. Dari situ para penumpang dapat  menggunakan perahu kecil atau sekoci untuk dapat sampai ke area pantai Pulau Padar.

Menaiki bukit di pulau ini adalah sebuah keharusan yang mutlak dan tak bisa ditawar  apabila ingin melihat keindahan pulau yang sesungguhnya. Saya ini perempuan berusia 53 tahun dengan kondisi tubuh yang biasa-biasa saja. Saya bukan atlet dan bukan pula seseorang yang penyuka  olahraga. Yang agak membuat saya agak tentram adalah saya pelaku meditasi Zhen Qi. Nah dengan keadaan fisik yang biasa saja, saya naik bukit-bukit di Pulau Padar.

Nampaknya  semua peserta naik meskipun setiap orang akan berbeda titik akhir pendakiannya. jadi paling tidak peserta bisa menginjakkan kakinya di tempat yang luar baisa ini. Saya memang suka berjalan kaki, meskipun sekarang tidak dilakukan rutin. Jadi bagi saya mendaki bukit hayo saja.

Untung  saat itu matahari  belum berada di puncaknya. Meskipun tergolong pagi, matahari begitu terik tanpa terlihat ada awan yang melintas di atas kepala. Terang benderang tanpa sekat tanpa penghalang. Indah, sempurna, tanpa cela.  Saya membayangkan kalau naik pada kala matahari di tengah siang hari. Pasti akan terpanggang. 

Meskipun para pendaki ini tak bisa sampai puncak, lumayan lah kelelahannya bisa terbayar dengan berpose untuk mengabadikan gaya dengan berlatar indahnya alam Pulau Padar. Hasilnya bisa di-share di media sosial. Keren!!!

Seperti yang saya katakan saya adalah seorang pelaku meditasi kesehatan. Itu sangat menolong saya untuk mendaki puncak-puncak bukit di Pulau Padar. Ya, memang jauh bedanya kondisi tubuh saya ketika muda belia dulu dengan sekarang. Namun, saya bersyukur pada usia yang oversex ( over seket-lebih dari lima puluh tahun) ini saya bisa sampai di bukit tertinggi Pulau Padar. 

Saat saya sampai  di 3/4 puncak bukit padar ini , panorama menakjubkan sudah menjadi milik yang berhasil berjuang mendaki bukit, yaitu saya. Woooow, mempesona!!!! Perlu diketahui bahwa mendaki ¾ itu memerlukan energi yang yang luar biasa dengan menguras keringat sampai kotos-kotos.

Ketika tiba di ¾ pendakian, saya kira sudah sampai puncak karena terlihat dari bawah itu puncaknya. Namun, penglihatan saya salah. Di belakang puncak yang menjulang itu masih ada buntutnya si pulau yang puncaknya tak  semenjulang yang terlihat tadi. Tadinya saya hampir menyerah untuk mendaki sampai ke titik puncak paling ujung, tetapi terpikir lagi oleh diri saya, ‘ kagok amat, tinggal sedikit lagi, masa segitu aja gak bisa’

Untungnya, saya bersama teman saya Ibu Margareth yang seorang atlet karateka dengan ban hitam. Akhirmya kami bisa mencapai penuh Bukit Padar. Tentu saja kami juga pelan-pelan melakukannya karena jalan yang berkerikil dan berpasir membuat licin kala diinjak. Belum lagi kalau melihat ke belakang atu ke sebelah kiri-kanan yang curam membuat nyut-nyutan dan singunen (takut melihat ke bawah). 

(puncak Padar, doc.pribadi)

Dan......, wooooow! Pemandangan di atas Bukit Padar begitu tak terkatakan. Bukit-bukit menjulang di sana sini, warna cokelat mendominasi, diselingi warna kekuningan,  putihnya pasir pantai, hijaunya lautan, didominasi warna biru. Semuanya terhampar di hadapan kami. Untuk mennsyukuri semua itu kami berdua sepakat untuk berdoa dan bernyanyi lagu syukur. 

Di bawah payung merah muda bernuansa keperakan, kami bagaikan pasangan lesbian bergandengan tangan, memanjatkan doa dan pujian. Doa saya yang memimpin. kami berdoa untuk almarhun Pak Hendrikus (suami Bu Margareth), untuk kedua putrinya Cindy dan Sherly, untuk Bob (suami saya), Metta, Aga, dan Abhimanyu, ketiga buah hati saya,  juga untuk kami berdua Margareth dan Enung.  Tak lupa untuk Tanah Air Indonesia. Lantas kami menyanyikan lagu ‘ surya bersinar udara segar terima kasih, di tepi pantai ombak berderai terima kasih.....,’     Saya yang cengeng dibarengi dengan tangisan.  


(puncak, Bukit Padar, doc. pribadi)

Di puncak Bukit Padar kuseru nama-Mu ya Bapa hingga membahana sampai di nubariku terdalam. Terima kasih untuk keindahan ini! Aku bangga pada diriku bisa mendaki hingga ke ujung demi melihat karya-Mu yang besar!

(Christina Enung Martina, Bukit Padar, Laboan Bajo, 26 Mei 2017)


PERJALANAN LABUAN BAJO II

Catatan hati: Laut Bajo

(Laut Flores, doc. pribadi)

Hari kedua berada di Labuan Bajo, tepatnya jatuh pada hari Jumat, 26 Mei 2017, bertepatan dengan hari pertama saudari-saudara Muslim memasuki bulan Ramadan. Destinasi hari kedua adalah Pulau Padar, Pulan Rinca, dan Pulau Kelor.

Pagi hari yang damai. Semburat mentari dari arah timur menyatu antara kaki langit dan lautan. Cahaya mentari meyorot lembut air samudra raya yang terbentang sejauh pandang. Sesekali bentangannya  tertumbuk pada deretan bukit berwarna kekuningan. Pemandangan yang sepertinya pernah kulihat pada gambar kalender dan internet, kini terhampar bebas di depan mata. Sungguh agung ciptaan-Nya.

Kapal kecil bernama Kajoma Eco berlayar menyibakkan sang banyu biru lautan. Bayu nan lirih sepoinya terasa segar di badan. Kecipak air yang tertabrak kapal dan suara mesin kapal menjadi pengiring sempurnanya panorama pagi hari di Laut Flores.

Aku duduk termenung di atas geladak kapal menyimak keindahan sempurna yang hadir di hadapanku. Rasanya tak ingin kulepas setiap kali mata memandang panorama alam nan elok ini. Langit biru bercampur kuning keemasan tanda mentari hadir di bumi. Air yang biru kehijauan terbentang seluas mata melmandang. Bukit-bukit kuning hijau menjadi penghias yang tepat untuk warna birunya lautan.  

Kuresapi semua keindahan langka ini. Berbahagialah kamu para Bajo yang tiap hari memandangnya dan bergumul intim dengan keindahan ini. Berbahagialh aku yang saat ini diberi kesempatan untuk berada di sini menikmatinya. Namun, belum tentu juga. Semua yang  tampak dan terhampar elok akan terhayati dengan sempurna bila ada syukur dalam dada. 

Perjalanan yang menakjubkan ini akhirnya kami rayakan dengan nyanyian Rayuan Pulau Kelapa. Semua syair yang kami nyanyikan rasanya sangat pas dengan apa yang kami lihat di hadapan kami. Perasaan cinta tanah air mengalir lembut dan manis dalam hatiku. Semua keindahan ini menghilangkan kerisauan akan keutuhan negara yang selama ini terbersit muncul di kepala. Semua kerisauan menjauh seolah itu sebuah fatamorgana antara nyata dan maya.

Kerlingan cahaya pagi memantul di birunya laut. Biru gemerlap keemasan. Semua keindahan ini kami hayati lewat lantunan nyanyian rohani, lagu wajib tanah air, dan lagu-lagu profan yang senada. Tak cukup kami bernyanyi kami menari merayakan kemegahan samudra. Kami bersuka cita. Kami bersyukur. Kami menggila di lautan. Kami terkapar dalam gelepar samudra yang tanpa batas. Terpujilah Dia yang menjadikan segala sesuatu teramat baik!!!!!

Sebuah kebetulan kalau kami bertemu dengan 4 atau 5 ekor lumba-lumba yang dengan gembira muncul menyambut sang matahari ke permukaan. Mereka besar dan menakjubkan. Tubuh mereka melenting sempurna lalu menghilang di luasnya samudra. Rasanya aku sedang berada di dunia mimpi dan khayalan yang masuk dalam sebuah alur cerita imajinasi. Ini bagian dari imajinasiku yang terbukti.

Langit biru, laut biru, semilir sang bayu, hangat mentari, dan keriuhan teman-teman satu grup membawaku pada perasaan begitu bersyukur yang membawa air mata setitik menetes. Pujian kulambungkan untuk semua kenikmatan hidup yang kurasakan. 


( Ch. Enung Martina, Laut Flores, 26 Mei 2017)

Selasa, 30 Mei 2017

PERJALANAN LABUAN BAJO I




Kali ini Tuhan membawa saya untuk melihat salah satu sudut di negri tercinta ini. Perjalanan kali ini Suster Francesco memberikannya kepada kami untuk mengenal dari dekat destinasi wisata tanah air yang laris dikunjungi turis mancanegara. Tiada lain adalah Labuan Bajo. 


Ini adalah tempat wisata yang mempunyai daya tarik besar karena itu  namanya sudah mendunia ! Selain Pulau Komodo yang sohor itu, keindahan alam di Labuan bajo bukan hal yang bisa disepelekan. 

Saya dan rombongan, keluarga besar guru Santa Ursula BSD berangkat pada hari Kamis, 25 Mei 2017 dengan penerbangan Jakarta Labuan Bajo dengan menggunakan jasa Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA453. 

Udara lembab dan terik matahari menyambut kami di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Dengan keriuhan, rombongan yang terdiri dari  70 orang guru dan 2 orang guide, keluar dari pesawat. Penjemput Suster Lily, OSU dan 4 orang teman yang datang sehari sebelumnya, sudah menantikan kedatangan kami.



Panorama sepanjang perjalanan ke hotel La Prima membuat saya terpukau. Labuan Bajo yang saya lihat di gambar dan saya baca, sekarang sedang saya jejaki. Daerah ini merupakan pulau yang terbentang di di pinggir pantai paling barat Pulau Flores. Sebenarnya menurut Wikipedia Indonesia Labuan Bajo merupakan salah satu desa dari 9 desa dan kelurahan yang berada di kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Hotel tempat kami menginap bernama Laprima Hotel Flores terletak di Pantai Pede di Labuan Bajo, serta dikelilingi oleh perbukitan yang indah di Taman Nasional Komodo Indonesia. Sebuah kolam renang outdoor, Wi-Fi gratis, dan pemandangan laut yang indah dapat dinikmati dari hotel ini. 

Usai kami meletakkan barang-barang di hotel, kami menikmati panorama di Bukit Sylvia. Bukit ini sering pula disebut Bukit Cinta.Keberadaan Bukit Cinta adalah salah satunya bentuk nyata keindahan Labuan Bajo. Berada di dataran Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores Barat, Bukit Cinta menyajikan pemandangan dan panorama yang sangat indah dari atas perbukitan. 

Nama Bukit Cinta diberikan karena tempat ini memang merupakan spot yang tepat untuk pengunjung memadu kasih dan memang banyak pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu di bukit ini pada malam harinya.

Perjalanan menuju Bukit Cinta cenderung berbukit-bukit. Perbukitan sepanjang jalan di Labuan Bajo banyak ditumbuhi pohon petai cina. Nampak daunnya yang kecil-kecil menghijaukan perbukitan sepanjang perjalanan. Buahnya lebat. Namun, orang Labuan Bajo sepertinya tidak memanfaatkan buah petai cina ini. Nampak dari buahnya kehitaman karena tua  yang bergelantungan di pohon. Melihatnya saya ingin memetik untuk membuat botok yang dicampur teri dan ditambahkan sedikit tempe. Atau membuat sambal petai cina yang diberi sedikit goreng teri. Wah... jadi ingat masakan almarhumah nenek saya, Nini Ukit. 



Trekking ke Bukit Cinta termasuk  ringan. Untuk  menuju puncak akan menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit, tergantung oleh kekuatan fisik tiap orang. Namun meskipun demikian, perjalanan trekking tidak akan terasa membosankan sama sekali karena pengunjung dapat meluangkan waktu sejenak untuk sekedar mengambil foto atau menikmati semilir angin yang berhembus. Ketika tiba di puncak bukit, pemandangan ke lautan lepas yang diselingi perbukitan membuat takjub mata memandang. Laut nan biru, pemandangan Kota Labuan Bajo, deretan pepohonan, dan bukit-bukit hijau kekuningan menuju coklat akan memanjakan mata kita. 

Perjalanan hari pertama ditutup dengan makan malam di dermaga Kampung Ujung. Menu yang kami nikmati adalah nasi putih, ikan kerapu yang dibakar, lalaban ( terong goreng, timun, kemangi, rebusan kangkung) dilengkapi sambal mentah  cabe kombinasi tomat dan terasi. Aromanya yang khas membuat terbit air lir. sempurnalah hari yang beranjak malam dalam makanan lezat di dermaga Labuan Bajo.
(Christina Enung Martina, Labuan Bajo, 25 Mei 2017)  

Kamis, 18 Mei 2017

Farewell Party

PURA VIDA DI CALDERA



Pura vida "pure life " berasal dari bahasa Spanyol yang berarti ‘ hidup murni, hidup sederhana.  Kata inilah yang dijadikan tema dalam kegiatan perpisahan kelas IX angkatan lulusan 2017 SMP St. Ursula BSD. Tentunya dengan harapan lulusan tahun ini mampu mewujudkan hidup murni – hidup sederhana  dalam kehidupan mereka. Dirasakan tema ini sesuai dengan tantangan zaman yang mereka akan hadapi.

Untuk merealisasikan tema ini, panitia kegiatan perpisahan memilih lokasi yang bernuansa alam. Mereka beranggapan bahwa yang paling murni adalah alam. Alam itu tidak basa-basi. Karena itu, maka acara pun disesuaikan dengan tema dan lokasinya.

Kegiatan diselenggarakan pada hari Selasa sampai dengan Rabu, 16 sampai dengan 17 Mei 2017 di Caldera, Citarik, Kampung Panyidangan, Cikidang, Pelabuhan Ratu, Suka Bumi.

Setelah berbagai ujian terselenggara, dan yang terakhir  Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)  selesai, saatnya sekolah mengadakan acara perpisahan untuk peserta didik kelas IX. Pastinya acara ini digelar untuk melepas siswa kelas sembilan  ke jenjang pendidikan  yang lebih tinggi lagi. Khusus bagi siswa – siswi  yang udah melewati ujian dengan penuh daya juang, dan saatnya  deg degan menunggu hasilnya, moment perpisahan merupakan hal yang sangat istimewa. Betapa tidak, ini merupakan moment ketika  semuanya berkumpul untuk merayakan satu kemenangan sekaligus berpisah. Meskipun perpisahan ini bukanlah satu hal yang harus disesali, namun bila dimaknai, maka peristiwa ini akan menjadi semangat untuk menghadapi langkah berikutnya dalam kehidupan para siswa. Perpisahan mengingatkan  bahwa ada jenjang yang lebih tinggi yang dihadapi dengan meninggalkan jenjang sebelumnya dengan tujuan agar peserta didik bisa meraih pendidikan yang lebih baik. Tentunya semuanya demi masa depan yang lebih baik.

Pada perpisahan kali ini, para siswa pasti merasa senang karena sudah berhasil melalui satu tahap studi di SMP. Namun,  di lain pihak merasa sedih  karena harus berpisah dengan teman juga guru mereka. Memang setiap kali acara perpisahan, pastinya dilalui dengan suasana yang mengharu biru . Ada yang tersenyum, tertawa juga tangis bahagia. Kata beberapa orang siswa, momen salam salaman bersama guru dan teman – teman adalah adalah  yang sangat mengharukan. Inilah momen yang sangat membuat peserta  semua merasa bahwa mereka  merupakan satu keluarga besar. Seperti orang mengatakan bahwa  dengan perpisahan kita akan mengerti arti pertemuan. Memang,  berat rasanya meninggalkan semua orang yang sudah 3 tahun bersama-sama berjuang dalam suka-duka. Namun, bagaimanapun kita harus tetap melihat masa depan dengan lebih indah dan optimis.

Kegiatan perpisahan kali ini dikemas dengan kegiatan yang bernuansa alam sesuai dengan tema yang diusung: Pura Vida. Peserta terdiri dari 39 guru, TU, dan karyawan, serta 190 orang siswa. Para peserta sudah berkumpul di sekolah pada pukul 05.00 subuh. Setelah briefing dari ketua dan doa pagi, maka para peserta mulai naik bis sesuai dengan pembagian. Perjalanan relatif lancar, hanya bis 7 yang mengalami hambatan karena mesinnya panas sehingga harus beristirahat agak lama. Jalan yang relatif sempit dengan banyak kelokan serta naik turun ini, menjadi satu tantangan bagi 8 pengendara bis dan juga para penumpangnya yang sport jantung karena medan yang menantang.

Tiba di lokasi pukl 10,00. Para peserta dipersilakan untuk minum dan makan kudapan yang tersedia. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembukaan oleh Greg, Ketua Panitia, serta sekaligus sebagai pembukaan untuk acara tracking. Tracking dilakukan oleh selurus siswa, kecuali yang kurang kuat fisiknya. Lokasinya mengambil perkebunan karet di PTPN Panyidangan. Jarak yang ditempuh untuk kegiatan ini sekitar 5 Km. Para peserta mendapatkan minum, apel, dan sebatang tongkat untuk alat bantu saat berjalan. Trekking berlangsung hingga pukul 12.15.

Setibanya kembali di Resort Caldera, peserta mendapat makan siang nasi kotak dengan lauk ayam panggang bumbu jawa, sambal, dan lalapan, serta mie goreng. Makanan yang tersedia habis tandas karena peserta dalam kondisi lelah dan perut lapar.

Games yang disusun oleh panitia merupakan kegiatan sesudah istirahat makan siang. Di tengah terik matahari Cikidang, Sukabumi, tak menghalangi para peserta untuk bermain games dengan heboh dan seru. Bagi mereka kesmpatan perpisahan ini merupan momen yang tak boleh dilewatkan karena tak akan terulang lagi dalam  hidup mereka.

Acara pertunjukan tiap kelas dilakukan sesudah makan malam. dari kelas 9A sampai ke 9E dengan kompak memberikan penampilannya yang terbaik yag sudah mereka siapkan seminggu sebelumnya. Tak ketinggalan para guru juga menampilkan kebolehannya menari dan berdrama. Acara malam ditutup denagn api unggun. Pada acara api unggun ini ada penyampaian kesan dan pesan dari wakil tiap kelas serta wakil dari wali kelas IX. Acara ini mengharukan karena saat di penghujung acara ada ucapan terima kasih dan bersalaman dengan para guru. Maka terjadilah hujan air mata di sini.

Keesokan paginya adalah acara bebas. Peserta boleh memilih kegiatan outbound seperti rafting, pintball, archery, flyaing fox, dll. atau juga boel mengikuti games yang disediakan panitia. Kesegaran dan alam Cikidang yang masih natural membuat berbagai acara seolah menyatu dengan alam.

Perjuangan masih panjang untuk meraih cita-cita. Namun, pura vida menjadi semboyan yang tepat untuk melanjutkan pembelajaran pada jenjang pendidikan berikutnya. 

 (Ch. Enung Martina)



Selasa, 09 Mei 2017

PUISI UNTUK AHOK

YANG TERBANTAI DI BULAN MEI

( sumber gambar : http://karikatur-q.blogspot.co.id)

Dia terbantai di tengah kota
dalam kerumunan massa
yang memuja dan menghujat
di antara tangis prihatin dan tawa kemenangan

Mereka sesumbar:
kau layak dibantai sebab kau cermin hati nurani
kami tak punya itu
kebenaranmu berbeda dengan kebenaran kami
kami tak ingin kejujuran
kami memilih manipulasi
kami tak suka transparansi
kami memilih bersembunyi
kau bukan bagian kami
kau pantas dirajam
karena kami pemilik negri
kami suci tanpa noda

Yang lain berseru:
kau adalah harapan kami
pengejawantahan asa kami
demi terbitnya matahari
yang kami nanti sekian masa
menjadi setitik terang
pada gulitanya bangsa kami
menjadi pelayan kami
agar kota kami layak huni

Namun, mereka teatap membantainya
gaung suara ke angkasa membahana
Penjarakan dia! Penjarakan dia!
agar kami bebas dari hati nurani

Seorang berkicau di media
salam dua tahun penjara!
yang terbantai berjalan tenang tanpa kata
sementara mata dunia mengarah padanya

(Ch. Enung Martina :  kala senja, 9 Mei 2017)


Senin, 08 Mei 2017

PUSI TENTANG WAKTU

SANG WAKTU
( Jumeriah Beach, Dubai dok. pribadi)
Waktu tak ingin bersekutu
Ia menajamkan sengatnya
Melenyapkan segala perbedaan
Di bawah kepaknya semua fana

Yang arogan dikebaskan dengan jubahnya
Yang tersisih dijungkitkannya hingga menjulang
Dibuainya yang lengah hingga terlena
Ditusuknya si licik dengan durinya

Tak satu pun yang lewat dari matanya
Kecepatannya tetap dalam keabadian
Baginya ukuran adalah hampa
Dan kewaspdaan adalah mutlak

Kekusaan tak ada makna di hadapannya
Kejumawaan adalah debu di kakinya
Sementara harapan adalah benih yang yang disemainya
Dari masa ke masa janjinya tak pernah diingkarinya

Ia tak pernah berpihak
Ia algojo yang kejam
Sekaligus hakim yang adil
Jejak kakinya terkumpul pada deretan simbol
yang tersebar di seluruh jagat semesta

Kemurniannya terukir lewat gerimis
yang dibiaskan sang surya dengan sinarnya
kearifannya tertera pada lengkung pelangi
yang spektrum warnanya memaklumkan
janji Sang Empunya Waktu untuk mengasihi kepunyaan-Nya

(Ch. Enung Martina, 9 Mei 2017)