Senin, 02 Februari 2026

Catatan Refleksi

 


Ketika Hidup Terasa Kering

Ada saat-saat ketika hidup terasa kering.

Hati lelah, doa terasa hambar, dan semangat perlahan memudar. Kita tetap menjalani hari, tetapi tanpa gairah. Bukan karena kita kehilangan iman, melainkan karena kita sedang letih menjadi kuat.

Kitab Suci berkata,

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.”
(Mazmur 23:1–2)

Namun sebelum sampai ke padang rumput yang hijau, kita sering harus melewati tanah yang gersang. Kekeringan bukan tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari perjalanan. Seperti tanah yang merekah karena kemarau, hati pun kadang perlu terbuka agar dapat menerima kehidupan kembali.

Dalam keadaan seperti itu, kita belajar berserah kepada Tuhan. Bukan menyerah, melainkan mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya. Kita tetap bangun pagi, bekerja, melayani, dan menjalani rutinitas sederhana seperti biasa—sambil membawa hati yang apa adanya. Dalam kesetiaan pada hal-hal kecil itulah, harapan perlahan dirawat.

Filsafat hidup mengajarkan bahwa hidup memiliki irama. Ada waktu bergerak, ada waktu melambat. Ada masa berbicara, ada masa diam. Mengikuti irama hidup apa adanya bukan tanda pasrah yang lemah, melainkan kebijaksanaan untuk berjalan setia pada hari ini, tanpa memaksa diri melompat terlalu jauh.

Kitab Suci kembali meneguhkan,

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu… rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
(Yeremia 29:11)

Maka ketika hidup terasa kering, jangan terburu-buru menyalahkan diri sendiri. Berserahlah kepada Tuhan dan tetaplah melangkah dalam irama hidup sehari-hari. Percayalah, hujan akan datang pada waktunya. Dan saat itu tiba, kita akan mengerti: kekeringan bukan akhir, melainkan jeda sebelum kehidupan kembali bersemi. (Ch. Enung Martina)