Ketika Hidup Terasa Kering
Ada saat-saat ketika hidup terasa kering.
Kitab Suci berkata,
Namun sebelum sampai ke padang rumput yang hijau, kita sering harus melewati tanah yang gersang. Kekeringan bukan tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari perjalanan. Seperti tanah yang merekah karena kemarau, hati pun kadang perlu terbuka agar dapat menerima kehidupan kembali.
Dalam keadaan seperti itu, kita belajar berserah kepada Tuhan. Bukan menyerah, melainkan mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya. Kita tetap bangun pagi, bekerja, melayani, dan menjalani rutinitas sederhana seperti biasa—sambil membawa hati yang apa adanya. Dalam kesetiaan pada hal-hal kecil itulah, harapan perlahan dirawat.
Filsafat hidup mengajarkan bahwa hidup memiliki irama. Ada waktu bergerak, ada waktu melambat. Ada masa berbicara, ada masa diam. Mengikuti irama hidup apa adanya bukan tanda pasrah yang lemah, melainkan kebijaksanaan untuk berjalan setia pada hari ini, tanpa memaksa diri melompat terlalu jauh.
Kitab Suci kembali meneguhkan,
Maka ketika hidup terasa kering, jangan terburu-buru menyalahkan diri sendiri. Berserahlah kepada Tuhan dan tetaplah melangkah dalam irama hidup sehari-hari. Percayalah, hujan akan datang pada waktunya. Dan saat itu tiba, kita akan mengerti: kekeringan bukan akhir, melainkan jeda sebelum kehidupan kembali bersemi. (Ch. Enung Martina)