Kamis, 28 Juni 2018

AMBON MANISE 11


WISATA KOTA


Malam terakhir di kota Ambon jatuh pada Rabu, 15 Mei 2018. Kami penumpang bis 1 janjian akan mengadakan eksplorasi malam untuk melihat dari dekat keadaan malam di Kota Ambon. Namun, tidak semua penumpang bis 1 bisa bergabung. Akhirnya kami bergabung ada 11 orang untuk bereksplorasi. Diantarlah kami oleh 3 pemuda Ambon yang jadi guide kami yaitu Martin, Ronal, dan Celo.

Kami memutuskan untuk naik angkot terlebih dahulu menuju ke Gong Perdamaian, Alun-alun Kota,   dan Balai Kota. Baru setelah itu kami makan malam. Kami mengambil 2 angkot yang memuat kami. Saya naik angkot bersama dengan beberapa teman disertai Martin dan Ronal. Di jalan angkot masih menaik turunkan penumpang. Kebetulan yang naik angkot kami gadis-gadis manis Ambon. Maka terjadilah interaksi dengan gadis manis ini. Kami menggoda para gadis tersebut dan menjodohkannya dengan Martin dan Ronal. Tak pelak, para gadis ini merah padam mukanya kaena malu.

Kami turun di gong perdamaian. Maka kami, menuju dulu untuk melihat dari dekat. Saat itu sedang ada acarapembacaan puisi digelar dalam rangka bentuk kepedulian terhadap para korban bom Surabaya. Upanya yang sedang pentas ini anak buahnya Martin, anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas  Sastra Maluku. Setelah berfoto-foto dan duduk menikmati malam di Taman Gong perdamaian ini, kami menyebrang untuk melihat alun-alaun Ambon Manise, sekalian di dekatnya kanator Pemda Ambon.

Baru berikutnya kami berjalan kaki untuk mencari makan malam kami. Kami makan di warung tenda yang menyajikan aneka lauk bakar-bakaran.Sudah pasti disertai nasi panas, sambal, dan lalabnya. Ikannya besar-besar, segar, dan rasanya manis lezat! Harga relative terjangkau.

Sejarah Kota Ambon


Kata “Ambon” dalam konteks pulau, sesungguhnya sudah dikenal lama di wilayah Nusantara. Dalam buku “Nagarakartagama” yang ditulis Prapanca dalam abad ke-14, nama Ambon diberikan pada sebuah pulau yang dibedakan dari Maluku. Disebutkan daerah-daerah di Timur yang mempunyai hubungan dengan Majapahit antara lain, Maloko, Ambwan dan Wandan. Maloko tidak lain adalah empat kerajaan yang terdapat di Maluku Utara. Sedangkan Ambwan dan Wandan diartikan dengan Ambon dan Banda dewasa ini.

Sejarah terbentuknya kota Ambon berawal dari bangsa Portugis membangun sebuah benteng di pantai Honipopu, yang kemudian benteng itu diberi nama “ Nossa Senhora da Anunciada”. Nama itu berkaitan dengan momentum peletakan batu pertama yakni pada tanggal 23 Maret 1575 bertepatan dengan hari kenaikan (Anunciada). Menurut saksi mata dari abad ke-17 dan ke-18, seperti Imam Rijali, Rumphius maupun Valentijn, menyatakan bahwa dikalangan penduduk pulau Ambon, benteng itu lebih dikenal dengan sebutan “Kota Laha” yang berarti; kota (= benteng) dan laha (= diteluk). Sampai dengan saat ini penduduk pedesaan di Maluku masih menyebut “benteng” dengan sebutan “kota”. Benteng ini pada tahun 1605, direbut oleh Belanda untuk kemudian berganti nama menjadi “Victoria” yang sekarang menjadi markas 733 Masariku.

Orang Portugis yang datang pertama di pulau ini juga menyebutkan bahwa “Ambon” adalah nama sebuah pulau seperti tampak pada istilah yang mereka gunakan “Ilhas de Amboyno” (pulau Ambon). Pada abad ke-16 Peter Marta, seorang petinggi missionaris yang dikirim ke Maluku, menulis dalam sebuah laporan, bahwa Ambon tidak sama dengan Maluku, tetapi merupakan bagian tersendiri dari sebuah kepulauan. Kepulauan itu terdiri dari Ambon, Veranula (Hoamual), Homa (Oma atau Haruku), Liacer (Uliase atau Saparua) dan Ruselao (Nusalaut) [2]). Kata “Ambon” sebagai sebuah pulau dapat ditemukan juga dalam hikayat Tanah Hitu yang ditulis oleh Imam Rijali. Dalam kaitan ini Rumphius mempertegas tulisan Rijali dengan mengatakan bahwa nama Ambon itu digunakan oleh penduduk pribumi untuk menyebut nama pulau tersebut [3]). Dengan demikian tidak benar pendapat yang selama ini mengatakan, bahwa Ambon itu nama pulau sedangkan Amboina (amboyno) nama kotanya. Sebab kata amboina atau amboyno dalam bahasa Portugis bermakna pada pulau Ambon itu sendiri, bukan kota Ambon. Istilah Portugis “Cidades de Aboyno” artinya kota di pulau Ambon. Sama halnya dengan orang dewasa ini mengatakan “Kota Ambon” sesungguhnya bermakna kota di pulau Ambon. Ini tentunya berbeda dengan Kota Tual di Pulau Kei Kecil atau Kota Masohi di Pulau Seram.

Berdasarkan cerita rakyat yang dicatat oleh Residen van Wijk (1937), diketahui bahwa luas lahan yang diserahkan Raja Soya kepada Portugis pada tahun 1575 untuk membangun sebuah kota, terbentang dari pantai Honipopu sampai dengan kaki bukit Soya. Batas sebelah Barat dengan wai (sungai) Batugajah dan batas sebelah Timur dengan wai (sungai) Tomo. Di dataran rendah yang cukup luas itulah Portugis membangun sebuah benteng lengkap dengan sebuah kota di bagian selatannya. Walaupun lahan yang diberikan sampai menjangkau kaki pegunungan Soya, namun kenyataannya luas kota Ambon pada masa Portugis hanya setengah dari luas kota Ambon pada masa VOC (Belanda).

Sampai pertengahan abad ke-20 batas-batas alamiah kota Ambon adalah Wai Batu Merah di sebelah Timur, wai Batugajah di sebelah Barat, teluk Ambon disebelah Utara dan kaki pegunungan Soya disebelah Selatan. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 tahun 1888 tanggal 16 Mei 1888 (Staatsblaad No.91 Tahun 1888), diketahui luas wilayah kota Ambon hanya 4,02 km². Dengan demikian sampai dengan awal abad ke-19 (peralihan dari VOC ke Pemerintah Belanda) wilayah-wilayah seperti wai-Haong, Tanah Lapang Kecil, Kudamati, Manggadua, serta benteng dan Karangpanjang belum terbentuk. Namun beberapa jalan utama yang ada dalam kota ini, sesungguhnya telah dibangun sejak abad ke-17.


Luas wilayah kota Ambon yang hanya 4,02 km² itu tidak mengalami perubahan sampai dengan tahun 1978. Dengan demikian dapat dikatakan sejak Indonesia Merdeka sampai dengan tahun 1978, luas wilayah kota Ambon tidak mengalami perubahan yakni hanya 4,02 km². Wilayah dengan luas 4,02 km² inilah yang kita sebut dengan istilah “Kota Ambon Lama”. Perubahan luas wilayah kota Ambon, baru terjadi pada tahun 1979 yang didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 1979 (realisasi tahun 1980) yang antara lain menyatakan, bahwa wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Ambon diperluas dari 4,02 km² menjadi seluas 377 km². Demikian pula kecamatannya berubah dari satu kecamatan menjadi tiga kecamatan sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. (Ch. Enung Martina)








Minggu, 17 Juni 2018

AMBON MANISE 10


BAMBU GILA


Ketika kami mengunjungi Liang, Hila, Maluku Tengah,  kami disuguhi tarian Tobelo dan permainan Bambu Gila. Sejak lama saya sudah mengetahui tentang permainan tradisional ini. Namun, baru kali ini saya melihat dengan langsung.

Sebetulnya apa itu bambu gila? Sebatang bambu dipegang oleh beberapa orang, lalu oleh seorang dukun /pawang bambu ini diberi mantera. Lama-kelamaan bambu ini nampak terasa berat bagi para pemainnya hingga orang-orang yang memegangnya berjatuhan ke tanah dan kewalahan memegannya. Tidak hanya berat, bambu ini bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti/mendekati asap kemenyan yang disemburkan Sang Pawang.

Permainan ini terlihat sangat sederhana. Tidak diperlukan berbagai pernak-pernik dan aksesoris. Permainan bambu gila hanya memerlukan sebatang bambu sepanjang 2,5 – 3 meter dengan diameter sekitar 8 cm. Serta 7 orang yang berani untuk mengadu kuat dengan bambu dan beberapa pawang dengan kemenyan. Tarian ini adalah warisan dari leluhur mayarakat Maluku. Biasanya tarian ini sering diadakan di pesta-pesta atau acara-acara besar. Namun, saat kami datang sengaja disuguhkan tarian ini untuk konsumsi wisata.

Sang Pawang mulai mendaraskan manteranya, lalu ia membakar kemenyan, dan mengoleskan bangle di kedua ukung bambu. Kemudian para pemain mulai mengucapkan kata “Bara Masuwen”.  Aroma kemenyan dari padupan dibawa asap pada ujung suluh bercampur dengan aroma bangle yang dioleskan tadi, mulai membuat bambu bergoncang. Tak pelak lagi, para pemegang bambu gila ini, mulai mengerahkan tenaganya mempertahankan posisi, agar tak mudah dikalahkan tujuh ruas bambu. Para pemain nampak kewalahan mempertahankan diri dengan memegangi bambu yang bergoyang ‘mengamuk’.

Sebetulnya Bambu Gila merupakan bentuk pertunjukan tertua rakyat yang bersifat ritual. Pertunjukan Bambu Gila sudah dikenal sejak lama. Konon, sebelum Inggris dan Portugis datang ke Maluku untuk mencari rempah-rempah.  Permainan ini   mencerminkan sifat kegotong royongan dan ciri keseharian rakyat di Maluku.

Informasi dari sumber Kompas.com: Kesultanan Ternate menyatakan permainan bambu gila berasal dari Maluku Utara, khususnya Ternate. Oleh karena itu kalau ada daerah di Indonesia yang mengklaim bahwa permainan bambu gila asal daerahnya, jelas itu tidak benar. “Banyak bukti yang menunjukkan bahwa permainan bambu gila asal Malut, seperti dari penggunaan bahasa dalam permainan bambu gila itu,” kata seorang perangkat Kesultanan Ternate, Arifin Djafar di Ternate, Senin (23/4/2012). Menurut Arifin, bahasa yang digunakan dalam permainan bambu gila yang di Malut dikenal dengan nama ‘bara masuen’ itu adalah bahasa Ternate, baik saat prosesi saat menyiapkan bambu maupun mantra yang dibaca saat dimainkan.

Permainan bambu gila sudah ada di Ternate sejak ratusan tahun silam dan saat itu permainan bambu gila dimanfaatkan masyarakat adat Kesultanan Ternate untuk memindahkan barang yang tidak mungkin diangkat menggunakan tenaga manusia. Bambu gila saat itu digunakan oleh masyarakat Kesultanan Ternate sebagai senjata untuk melumpuhkan musuh. Saat itu bambu gila bisa dikerahkan dengan kekuatan supranatural untuk menyerang lawan.

Ada juga sumber yang mengatakan bahwa di masa Kesultanan Ternate, penduduk menggunakan bambu gila untuk mendorong perahu kora-kora dari daratan ke laut. Beberapa orang, jumlahnya harus ganjil, mengapit bambu di lengan mereka dan berdiri di belakang kapal. Dengan jampian pawang, bambu pun memiliki kekuatan untuk mendorong kora-kora.

Kekuatan bambu tidak hanya datang dari rapalan pawang, tapi juga dipengaruhi asap. Makin banyak asap, semakin besar juga kekuatan si bambu. Asap tersebut bisa berasal dari serabut kelapa atau kemenyan. Dan si pawanglah yang mengatur kekuatan bambu. Dimana si pawang memberikan asap, di situlah kekuatan terbesar bambu. Filosofi dri permainan ini  adalah mengasah kerja sama dan kekompakan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan.

Setelah selesai para pemain dari desa membawakan tarian bamboo gila, kini giliran para tamu/pengunjung untuk mencobanya. Maka dimulailah dari para bapak Santa Ursula BSD yang bersedia membawa bamboo gila tersebut. Tampillah 7 guru pria perkasa. Mulailah pawang memberikan petunjuk kepada para pemain dadakan ini.  “Bara masuen (bambu gila),” teriak Pak Pawang sambil mengoleskan bangle di kedua ujung bamboo dan mengasapi si bambu serta tak lupa mendorong bambu yang dipegang para bapak tadi. “Dadi gogo (benar-benar jadi),” para bapak menimpali perkataan Pak Pawang menjawab serentak. Tiba-tiba, bambu warna hijau itu mulai bergerak-gerak. Bambu makin berat, terasa seperti hidup dan ingin berontak dari pelukan tangan para pria ini. Selongsong bambu itu membetot dan mengocok para pemegangnya ke kiri dan ke kanan.

Bambu gila itu memaksa para penggenggamnya mengeluarkan tenaga ekstra untuk melawan kekuatan sang bambu. Sampai akhirnya, mereka harus mengakui kekuatan bambu tersebut.  Si pawang kembali mendaraskan mantranya. Mulutnya komat kamit sambil tangannya memegang ujung bambu. Lalu, kekuatan bambu pun menghilang. Semua pria terengah-engah tampak kelelahan.

Kini tiba giliran para ibu. Satu ibu yang saya ajak mengobrol banyak yang juga penari Tobelo  selamat datang tadi, berkata bahwa biasanya kalau dipegang ibu-ibu bambunya tak jadi gila. Kenapa? Mungkin para ibu mempunyai power of emak-emak yang suka terkenal nekad tanpa perhitungan. Atau bambunya senang karena dipeluk perempuan yang hangat dan empuk. Jadi bambunya kalem tidak gila. Saya ingin membuktikan perkataan si ibu yang mengobrol dengan saya tadi. Saya benar-benar memperhatikan perbedaan teman saya yang laki-laki tadi dengan 7 orang teman saya perempuan yang tak diragukan lagi kekuatan fisiknya: ada 2 guru olah raga, ada penari, ada juga karateka tingkat ansional. Itu semua para emak-emak.

Mulailah ritual dasar dan standard yang dilakukan para pawang bambu gila. Para ibu diberi pengarahan. Mereka mengerti arahan Pak Pawang. Kemenyan mengepul, bangle dioles, teriakan ‘bara masuen’ yang harus dijawab ‘dadi gogo’ oleh pemain. Nah, anehnya teman saya yang ibu-ibu itu tidak menjawab ‘dadi gogo’ tapi ada yang teriak ‘kali jodo!’, ‘baru jodo’ dan ‘ jadi jodo’. Pokoknya taka da yang tepat ungkapannya. Penonton bersorak-sorai melihat tingkah para ibu yang berjibaku dengan bambunya. Ekspresi mereka sangat heboh dan luar biasa. Sepertinya yang gila bukan bambunya, malah para ibu ini yang gila. Kami yang menonton tak henti tertawa. Bambu itu ketika diperhatikan tak sehebat mengamuk seperti pada saat dibawa oleh pemegang ambu penduduk asli.

Mungkin ini yang disebut oleh ibu penari Tobelo bahwa bambu gila tak jadi kalau dipegang perempuan. Wong, mantrane wae salah kok. Mantara ‘dadi gogo’ malah menjadi kali jodo, jadi jodo, atau baru jodo!  Salute untuk the power of emak-emak!

(Ch. Enung Martina)








Jumat, 15 Juni 2018

AMBON MANISE 9


BENTENG AMSTERDAM

Awalnya saya mengira benteng Amsterdam pasti peninggalan penjajahan Belanda saat mereka berkuasa di tanah Maluku. Ternyata dugaan saya salah. Ternyata Benteng Amsterdam merupakan sebuah bangunan tua peninggalan Portugis yang dibangun pada saat masa penjajahan Bangsa Portugis ke Indonesia. Namun, kemudian bangunan ini diambil alih oleh Bangsa Belanda, yang saat itu menyusul datang ke Indonesia. Usia dari Benteng ini mencapai ratusan tahun yang sekaligus menjadi saksi kedatangan VOC di kota Ambon.

Bentuk dari Benteng Amsterdam Ambon ini mirip sekali dengan rumah, orang Belanda menyebut bangunan ini “Blok Huis” artinya fortifikasi (pertahanan, pencegahan terhadap serangan). Jadi benteng ini difungsikan sebagai benteng pertahahanan. 
Panorama laut lepas dari menara


Benteng Amsterdam memiliki 3 lantai yaitu  pada lantai 1 terbuat dari batu bata merah. Sedangkan lantai 2 dan lantai 3 terbuat dari kayu besi. Fungsi dari ketiga lantai tersebut berbeda beda. Lantai 1 pada masa itu, digunakan sebagai tempat tidur para serdadu. Lantai 2 digunakan untuk tempat rapat rapat penting petinggi atau perwira Kolonial Belanda. Sedangkan lantai 3 digunakan untuk pos pemantau. Bangunan ini dilengkapi dengan sebuah menara yang cukup tinggi. Menara ini oleh Bangsa Belanda digunakan untuk mengintai musuh. Dari atas menara ini, kolonial belanda dapat dengan mudah mengawasi di sekeliling Benteng jika ada pihak yang ingin menyerangnya. Dari menara ini juga kita dapat memandang ke laut lepas sehingga bila ada kapal datang dengan mudah dapat terlihat. 


Di setiap sisi bangunan terdapat jendela. Di depan benteng terdapat prasasti dengan lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Prasasti itu bertuliskan: BENTENG AMSTERDAM. Mulai Dibangun Oleh: Gerrard Demmer pada tahun 1642.

Menurut catatan sejarah, Benteng Amsterdam pertama kali didirikan oleh Bangsa Portugis pada tahun 1512. Pembangunan benteng ini dibawah kepemimpinan Fransisco Serrao. Ketika pertama kali berdiri bangunan ini dijadikan sebagai loji perdagangan. Kemudian sekitar pada tahun 1905, tempat ini diambil alih oleh penjajah Belanda. Para kolonial belanda mengubah tempat ini yang dulunya tempat loji perdagangan menjadi kubu pertahanan. Dari kejadian ini kolonial belanda memperluas area kekuasaannya hingga ke seluruh penjuru Maluku.

Lokasi Benteng Amsterdam terletak di tepi pantai dan tidak jauh dari Pusat Kota Ambon, tepatnya berada di Kec. Hila, Kota Ambon, Provinsi Maluku Tengah. Benteng ini berada di perbatasan antara Negeri Hila dan Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, sekitar 42 km dari kota Ambon. Letak benteng ini tepat di samping pantai Negeri Hila dan Negeri Kaitetu.

Sebelum menjadi benteng, tempat ini adalah loji milik Portugis untuk menyimpan rempah-rempah (pala dan cengkih). Benteng ini sangat berarti bagi Portugis karena pada masa itu, Teluk Ambon merupakan jalur keluar-masuk kapal-kapal dagang di Maluku.
(sumber :   scubadiver.co.id)

Saya menaiki benteng tua ini hingga lantai teratas. Di lantai atas saya melihat ada banyak lukisan ikan dengan aneka warna yang menarik. Ada juga beberapa lukisan yang bentuknya seperti mahluk-mahluk dalam imajinasi. Saya penasaran sekali dengan lukisan-lukisan itu. Namun, kala saya bertanya pada pemandu saya, dia kurang mengetahui mengapa ada lukisan-lukisan di sana. Saya Tanya pada beberapa pemuda-pemudi yang sedang mejeng dan bercanda di sana juga taka da yang tahu. Saya penasaran, tetapi taka da yang bisa menjawab rasa penasaran saya.

Akhirnya saya berselancar di dunia maya, maka dapatlah jawabannya. Ternyata G.E. Rumphius seorang pencinta alam dan sejarawan berkebangsaan Jerman pernah tinggal di benteng ini, menulis buku-buku tentang flora dan fauna Ambon. 
(sumber :   scubadiver.co.id)

Georg Everhard Rumphius adalah seorang naturalis dan ahli sejarah dari Jerman (1627 – 1702). Selain menulis tentang flora dan fauna Ambon, ia juga menulis tentang gempa dan tsunami yang melanda Maluku dalam bukunya yang berjudul   Waerachtigh Verhael Van de Schrickelijcke Aerdbevinge’ . Gempa dan tsunami itu terjadi pada tanggal 17 Februari 1674, mengakibatkan kerusakan parah desa-desa di pesisir utara Pulau Ambon dan bagian selatan Pulau Seram. Buku-buku karya G.E. Rumphius bisa kita lihat di Perpustakaan Rumphius yang dikelola oleh Andreas Petrus Cornelius Sol MSC di komplek Pastoran Paroki Santo Franciscus Xaverius, Ambon. Padahal saya sebelumnya pergi ke Gereja Santo Fransisikus Xaverius seperti yang saya ceritakan pada Ambon Ma nise 3 dan 4. Namun kala saya ke sana, saya tidak pergi untuk melihat buku ini karena waktu saya belum tahu tentang informasi ini. (Ch. Enung Martina)

AMBON MANISE 8


GEREJA TUA HILA


Hila adalah nama suatu daerah di bagian utara Pulau Ambon yang berhadapan dengan Pulau Seram. Desa ini sendiri memang kurang populer dikunjungi dibanding daerah Natsepa atau Liang yang terkenal dengan pantainya.  Namun beberapa bangunan tua bernilai historis ada / dekat di desa ini seperti Benteng Amsterdam, Gereja Tua Hila dan Mesjid Tua Wepue Kaitetu berada di Negri Hila. Desa Hila terletak di Kecamatan Leihitu yang sudah termasuk dalam Kabupaten Maluku Tengah. Letak gereja tua ini di sudut jalan Desa, sekitar 50 meter dari Benteng Amesterdam.

Gereja Tua di Hila bernama Gereja Immanuel dan merupakan bangunan gereja tertua di Provinsi Maluku. Bangunan sederhana ini berdinding kayu yang di cat putih dengan atap rumbia dan sebuah tiang lonceng tinggi menjulang menghiasi halamannya. Desain dalam gedungnya pun sangat sederhana dengan sebuah mimbar menghadap 2 barisan kursi yang berjajar ke belakang dan sebuah ruang kecil bagi pendeta. Gereja Tua Immanuel atau Gereja Tua Hila. 


Namun, keugaharian bangunan ini justru menyatu dengan alam pedesaan nan damai di pesisir Ambon. Ketika memasuki pelataran gereja tua ini, saya meraskan sepoi angin laut yang mengambang di udara. Jalan desa nampak lengang. Sesekali sepeda motor melewati jalanan itu. Nampak beberapa orang berlalu lalang dengan santai tanpa tergesa diburu asa. Pemandangan yang membuat suasana terasa begiti menentramkan.

Saya sengaja memisahkan diri dari rombongan yang sedang asyik dengan keramaian di halaman Benteng Amesterdam. Saya begitu tersentuh ketika bis mlewati banguann tua ini. Saya berjalan mendekati bangunan ini dengan HP siap membidik objek yang menarik ini.


Dengan kesederhanaannya, bangunan ini anggun berdiri. Ia memberi gambaran bermakna tentang Rumah Tuhan yang merakyat, ramah, dan hangat. Ini adalah Rumah Tuhan yang sangat membumi. Ini Rumah Tuhan yang begitu menyentuh hati saya. Jauh dari kemegahan, keangkuhan, dan kemewahan. Ia begitu ugahari. Hati saya begitu hangat mrlihat dan memasuki bangunan ini. Mengingatkan saya akan  balai rakyat di tengah kampung tempat berkumpul dalam persaudaraan. 


Saya mencari berabgai informasi tentang bangunan tua ini. Gereja ini dibangun pada tahun 1659 dan telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemugaran terakhir dilakukan karena gereja ini (bersama pemukiman Nasrani di daerah Hila) dibakar dan dihancurkan oleh massa pada tahun 1999 akibat kerusuhan. Tanpa dapat di cegah dan di sangka-sangka adalah sekelompok warga yang tidak dikenal menghancurkan gereja ini. Sungguh tragis. Warga setempat menangis. Menyesalkan penghancuran tersebut. Namun, mereka tidak berdaya mencegah pengrusakan tersebut.  Ketika perdamaian mulai kemabli berhembus di Negri Hila, maka gereja tua itu muali dibangun kembali oleh masyarakat secara bergotong royong tanpa melihat latar belakang agama.

Begitulah Rumah Tuhan, Gereja Imanuel, sekarang berdiri dalam kesederhanaanya dan keanggunannya menyimpan cerita bermakna tentang kebencian dan perpecahan yang dikalahkan dengan cinta kasih dan persatuan.  Karena Rumah Tuhan tetap Rumah-Nya dan tak diijinkan-Nya seorang pun untuk merusak dan menghancukannya.

Barangkali, aura itulah yang saya rasakan dari bangunan sederhana ini yang mampu membawa kaki saya menuju ke tempat ini. Saya berdoa di tempat ini untuk Dia Sang Maha Cinta. Untuk Dia yang selalu bertahta pada setiap hati yang membutuhkan-Nya. Untuk Dia yang menyatukan dan memperbaharui. Bagi-Nya segala puji dan kemuliaan sepanjang segala masa. Amin!


Gereja ini dapat dikunjungi tanpa pungutan biaya, hanya saja ketika masuk kita akan disuguhi dengan buku tamu yang harus diisi dan kotak persembahan sebagai bentuk solidaritas kita membantu perawatan gereja tertua di Maluku ini. 
(Ch. Enung martina)


Kamis, 14 Juni 2018

AMBON MANISE 7


PULAU TIGA / PULAU ELA


Dusun Nusa Ela  telah tercatat dalam sensus kependudukan yang merupakan salah satu Dusun yang bergabung  pada Desa Ureng, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Secara umum letak geografis Dusun Nusa Ela sebelah timur berbatasan dengan pulau Ambon, sebelah barat berbatasan dengan selat Manipa, sebelah utara berbatasan dengan pulau Seram dan sebelah selatan berbatasan dengan lautan bebas. Letak keberadaan Dusun Nusa Ela ini merupakan keberadaan suatu wilayah yang terbilang sangat strategis bagi masyarakat pesisir yang berada pada daratan Kecamatan Leihitu maupun masyarakat lainnya.

Cikal bakal terjadinya Dusun Nusa Ela sebagai salah satu perkampungan telah dirintis oleh mereka para pendahulu pulau ini yang terdiri satu orang, kemudian menjelma menjadi tiga orang yang berasal dari Pulau Buton yang diutus oleh Kesultanan Kerajaan Buton dengan misi agama. Tujuannya adalah untuk membawa serta menyebarluaskan agama Islam di Maluku dan sekitarnya yang diperkirakan tepatnya pada akhir abad ke 17 yang silam.

Ketiga orang tersebut masing-masing menempati ketiga pulau yang kemudian dikenal dengan nama Nusa Ela yang berarti pulau besar, Nusa Hatala yang berarti pulau tengah, dan Nusa Lain yang berarti pulau lain. Dusun Nusa Ela atau yang berarti pulau besar yang sekarang dihuni oleh masyarakat ini, lebih dikenal oleh masyarakat pesisir sekitar daratan Kecamatan Leihitu dengan sebutan sebagai Dusun Pulau Tiga. Adapun awal mula salah satu bentuk penamaan dari ketiga pulau ini dipengaruhi oleh bahasa adat/bahasa tanah (bahasa daerah) yang berasal dari negeri yang berada pada wilayah pesisir daratan Kecamatan Leihitu.

Konon katanya menurut cerita masyarakat setempat, keberadan ketiga orang tersebut yang merupakan para pendahulu ketiga pulau ini bersifat misterius sehingga identitas ketiga orang ini pun tidak diketahui secara pasti.  Menurut cerita rakyat  pada mulanya ketiga orang ini hanya terdiri dari satu orang saja yang kemudian menjelma menjadi tiga orang, dua diantaranya berwujud laki-laki yang mendiami pulau Nusa Ela dan pulau Nusa Lain, sedangkan yang satunya berwujud perempuan yang kemudian mendiami Nusa Hatala. Selanjutnya, pada akhir hayatnya, ketiga orang ini mati terbunuh yang diakibatkan oleh perebutan kekuasaan atas ketiga pulau ini oleh orang lain yang  tidak dikenal identitasnya secara jelas dan pasti.

Cerita rakyat seperti ini sangat diyakini oleh masyarakat setempat sebagai warisan leluhur yang diwariskan oleh para nenek moyang mereka yakni mereka pendahulu ketiga pulau ini kepada anak cucu keturunan mereka dari generasi ke generasi sampai sekarang, karena legenda atau cerita kuno yang dipercayai bersifat sakral dan mistis yang mencerminkan budaya, adat-istiadat, dan kehidupan masa lampau masyarakat Dusun Nusa Ela serta masyarakat Maluku.

Hasil penelusuran yang saya lakukan  orang yang pertama kali menginjakkan kakinya serta mendiami Dusun Nusa Ela adalah oleh seorang tokoh yang bernama Bapak La Salebo bersama isterinya yang bernama Ibunda Ratna yang nama akrabnya di sapa oleh masyarakat setempat dengan nama Ibu Kaminta. Bapak La Salebo berasal dari Pulau Buton serta bersuku Buton, sedangkan Ibunda Ratna berasal dari suku Jawa yang berasal dari Pulau Buton.

Mereka berdua merupakan perantauan yang berasal dari pulau Buton yang datang ke Maluku dengan tujuan untuk mencari suasana kehidupan yang baru dan menetap di Dusun Nusa Ela pada akhir abad 17 dan memasuki abad ke 18 silam. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya makam Bapak La Tapu yang terdapat di Dusun Nusa Ela, beliau merupakan anak pertama dari Bapak La Salebo yang merupakan orang pertama yang mendiami pulau ini.

Setelah beberapa tahun kemudian lahirlah seorang anak yang kedua yang merupakan adik dari Bapak La Tapu yang lahir di pulau Ambon, sehingga berdasarkan latar belakang inilah anak yang kedua ini diberi nama Bapak La Ambo. Seiring berjalannya waktu, masyarakat sekarang yang mendiami Dusun Nusa ini telah sampailah pada generasi ke lima yang merupakan keturunan anak cucu dari orang pertama yang mendiami pulau ini yakni oleh bapak La Salebo bersama isterinya yang bernama Ibunda Ratna.

Hingga sekarang Dusun Nusa Ela merupakan sebuah hunian yang merupakan salah satu bagian pulau dari ketiga pulau-pulau yang letak keberadaanya terletak pada wilayah pesisir Kecamatan Leihitu. Daerah ini secara umum dijuluki oleh masyarakat sekitar dengan julukan sebagai Dusun Pulau Tiga. Pemberian julukan ini oleh masyarakat sekitar pesisir Kecamatan Leihitu berdasarkan letak dan keberadaan pulau-pulau ini karena  terdapat tiga kepulauan yang saling berdekatan antara jarak pulau yang satu dengan pulau-pulau yang yang lainnya.

Seringkali wilayah ini dijadikan tempat persinggahan sementara bagi para nelayan yang berasal dari wilayah lain, misalnya dari Pulau Seram dan pesisir Jazirah Leihitu dan dari tempat lainnya untuk sejenak berteduh dan berlabuh dalam waktu sementara keadaan cuaca yang buruk. Namun, sekarang Nusa Ela dijadikan tempat tujuan wisata.

Pulau ini masih asli sehingga belum memiliki fasilitas lengkap sebagai sebuah wisata seperti yang kita bayangkan. Hanya ada satu resort yaitu Resost Nusa Ela. Resort ini menyediakan tempat pembilasan sesudah berenng, tempat menginap, juga makan berat dan makan ringan (kudapan) seperti pisang dan ubi yang digoreng atau pun direbus. Tak ketinggalan kelapa muda.  Karena itu, harga untuk masuk ke Nusa Ela termasuk mahal karena tak ada pembanding dan tak ada pilihan. (Ch. Enung Martina)


Rabu, 13 Juni 2018

AMBON MANISE 6


BELUT MOREA


Tepat di sebelah Desa Wakasihu kita akan menjumpai Desa Larike, Desa ini terkenal hingga mancanegara dengan habitat alami dari "Morea" atau belut raksasa, yang hidup alami di sungai. Belut ini tidak dimakan oleh masyarakat setempat karena dianggap keramat oleh mereka. Belut yang jumlahnya hingga ratusan ekor itu hidup alami di sepanjang sungai yang jernih, berkembang biak di bawah bebatuan sungai, dan diberi makan ikan oleh warga setempat maupun turis yang datang berkunjung untuk melihat dan bermain-main dengan belut raksasa tersebut. Morea ini sangatlah jinak hingga sebagian orang mencoba mengangkatnya meski tubuhnya yang licin seringkali membuat mereka yang mengangkatnya akhirnya tak bisa meengangkatnya terlalu lama.

Morea merupakan sebutan masyarakat setempat bagi belut raksasa atau sidat. Panjangnya lebih dari 1 meter. Di kepalanya tumbuh telinga (insang) di kiri dan kanan. Badannya licin, dan loreng-loreng. Jenis ikan Morea ini hidup di air tawar (sungai) di sela-sela batu-batu yang besar selama usia puluhan tahun. Saat belut morea atau yang dikenal juga dengan sebutan sidat ini akan berkembang biak, mereka akan berenang ke lautan dan kemudian menetaskan telur-telurnya di sana. Morea-morea kecil yang sudah menetas di laut tersebut pada akhirnya akan berenang kembali masuk ke area sungai air tawar dan hidup di sana hingga dewasa sampai akhirnya kembali lagi ke laut saat akan berkembang biak, demikian seterusnya siklus hidup mereka.

Belut morea yang biasanya hidup di lautan air asin, bisa-bisanya hidup di sungai air tawar gini ? Ternyata menurut info pengelola setempat, terdapat lubang atau jalur sungai yang tembus ke pantai atau lautan luas, yang membuat belut-belut dari lautan bisa masuk berenang hingga ke sungai air tawar ini dan kemudian hidup menetap di sini.

Anguilla Marmorata adalah nama latin dari ikan yang biasa di sebut moa, sidat, morea,  atau pelus. Ikan ini biasanya hidup pada perairan yang cukup dalam dan banyak lubang sebagai tempat persembunyianya. Suku ini terdiri dari empat genus dengan 20 spesies. Anggotanya adalah pantropis (ditemukan di semua wilayah tropis). Sidat (ordo Anguilliformes) atau yang biasa di sebut belut adalah kelompok ikan yang memiliki tubuh berbentuk menyerupai ular. Ikan ini masuk dalam Ordo Anguilliformes, yang terdiri atas 4 subordo, 19 famili, 110 genera, dan 400 spesies. Kebanyakan hidup di laut namun ada pula yang hidup di air tawar.

Ikan sidat, pelus, morea,  atau oleng adalah jenis ikan predator yang bentuknya mirip seperti belut, di bagian belakang kepala terdapat sepasang sirip mirip telinga sehingga banyak yang menyebutnya belut bertelinga atau moa, ikan ini hidup di dalam air sungai, rawa ataupun di muara, berbeda dengan belut yang lebih menyukai tempat berlumpur.

Lokasi kolam Morea di Desa Larike ini, masuk agak ke dalam sekitar 50 meter dari jalan raya. Desa Larike sendiri berada di Kecamatan Leihitu, Ambon, Maluku Tengah. Kalau dari Bandara Pattimura Ambon, bisa dicapai dengan kendaraan roda dua atau ojeg, dengan jarak tempuh sekitar kurang lebih 1 jam.

Aturan adat di desa ini, menyebutkan larangan bagi warga untuk mengambil atau memakan ikan morea ini. Entahlah apa alasan sesungguhnya. Tapi, aturan itu bisa dipahami. Ikan Morea terhitung langka. Di negara-negara maju, seperti Jepang, ikan sejenis ini banyak diburu. Konon karena kandungan gizinya yang melebihi ikan-ikan lainnya. Kandungan gizi/protein ikan sidat, vitamin A dalam hati ikan ini adalah sebesar 15.000 IU/100 gram. Ikan ini juga memiliki kandungan DHA dan EPA masing-masing 1.377 mg/100 gram dan 742 mg/100 gram. Omega 3 yang bagus untuk perkembangan otak juga ada di dalam ikan ini. Protein yang tinggi ini dapat membantu orang dalam hal memori otak dan mencegah kepikunan. Omega 3 juga memperkuat mental dan membantu manusia untuk berkonsentrasi. Kandungan Omega 3 dalam ikan sidat ini bahkan lebih besar dibanding ikan salmon yang di klaim kandungan gizinya paling baik. Wajar jika ikan sidat ini sangaat di gemari orang eropa dan jepang. Kalau kita ngintip kebudayaan Jepang sangat gemar sekali menyantap ikan sidat pada musim panas sekitar bulan Juli, namanya Doyo usi no gi.

Ada peraturan adat di desa ini untuk tidak memakan belut morea. Dengan demikian, keberadaan aturan adat itu, turut melestarikan kehidupan ikan morea. Penduduk setempat percaya bila memakannya dapat menimbulkan masalah besar dalam hidupnya dan akan terkena hukum adat pula. Namun ketegasan itu membuktikan bahwa kesadaran masyarakat akan kelestarian alam amatlah penting. Maka, masyarakat di sekitar pun terus melestarikan keberadaan belut-belut besar ini , juga sebagai wisata menarik di Negeri Larike.

Kisahnya, pada zaman dulu penduduk dari gunung ingin pindah ke pinggiran pantai. Kebutuhan hidup di sana dinilai lebih banyak, seperti makanan dan lain-lainnya. Lalu, dilemparlah tombak dari jauh (yang diyakini berkekuatan gaib) dan tertancaplah di tanah yang sekarang di pinggirannya kolam. Dari situ, keluarlah air dan ikan-ikan serta Morea. Pertanda ada mahluk hidup di sana dan bisa menjadi tempat tinggal. Tapi tentu, mahluk-mahluk di dalam airnya termasuk morea dilarang untuk dibunuh. Begitulah legendanya.

(Ch. Enung Martina)


Minggu, 10 Juni 2018

AMBON MANISE 5


BATU LAYAR


Batu layar itulah nama yang diberikan pada karang yang berada persis di jalan desa yang merupakan jalan utama untuk berlalu lalang. Kenapa disebut batu layar? Memang disebut demikian karena batu ini berbentuk seperti layar perahu. Karang ini terletak di desa Larike yang berada di Jasirah Leihitu.  Desa Larike masuk wilayah Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah. Perjalanan dari Kota Ambon   kurang labih  1 jam.

Kakak Jack,  pengemudi bis I mengarahkan bis kecil  ke Desa Larike. Jalan kecil, menanjak, menurun, bahkan ada yang masih berbatu, stetapi cukup mengasyikkan berpetualang di pedesaan Ambon. Ada juga jalan menurun yang cukup curam. Namun karena pengemudi sudah pernah ke sini walau tidak sering, lumayan dapat mengikis rasa takut. Bahkan, Kakak jack dengan sengaja membawa bis kami lebih cepat lagi.

 Desa Larike salah satu pusat kopra, cengkeh, yang menjadi incaran VOC pada zaman  dulu.

Dua buah batu setinggi kurang lebih 5 meter yang terletak di pinggir pantai, yang jika dilihat dari kejauhan, layaknya layar dari sebuah kapal. Sekilas pantai ini terlihat biasa saja, tetapi ada satu keunikan yang terdapat pada pantai ini, yaitu Batu Layar yang merupakan formasi dua buah karang yang memiliki bentuk yang unik dengan posisi berdiri hampir 90 derajat.  Karena bentuk yang unik ini, ketika dilihat maka formasi dua batu ini membentuk gambaran sebuah layar perahu atau kapal.

Batu Layar yang menjadi icon pantai desa Larike, Ambon, Maluku. Ketika dilihat dari jauh, formasi dua batu ini terlihat begitu menonjol karena tidak terdapat karang lain di sekitar lokasi ini yang memiliki volume yang sebanding dengan dua batu karang tersebut.

Karena merupakan objek wisata alam dan terletak di pinggir jalan raya (tidak besar, tetapi dapat dilalui mobil), untuk menikmati Batu Layar tidak memerlukan uang. Cukup turun dari mobil, naik ke atas bebatuannya, dan kita sudah bisa menikmati pemandangan lautan luas. Sama seperti objek wisata pantai lainnya, pada siang hari matahari bisa sangat terik, tetapi tidak menghalami indahnya pemandangan. Hanya saja, karena tidak ada yang mengelola tempat ini, traveler tidak akan menemukan tempat berteduh, warung makan, atau segala fasilitas wisata lainnya. Bisa dibilang tempat ini masih sangat alami. Ketika kami ke sana hanya ada warung kecil pemiliknya seorang mama setengah baya yang ramah. Jualan mama ini adalah seputar mi instan, kopi, dan cemilan.

Saya tidak mendapat informasi cerita rakyat Ambon seputar Batu layar. Namun, bila dilihat dari bentuk pantainya, pantai di sekitar batu Layar termasuk pantai yang curam. Menurut ilmu geografi, permukaan pantai terbentuk karena pengaruh gelombang, gletsyer, angin, arus dan pasang. Semua  tadi hal  merupakan tenaga pengikis, pengangkut,  dan pengendap material yang mampu mengubah bentuk suatu material. Material tersebut termasuk batu karang.

Bila dilihat dari bentuknya pantai di sekitar Batu Layar ini bisa tergolong ke dalam jenis pantai fyord, yaitu pantai yang berlekuk-lekuk panjang smepit dan tebingnya cura. Pantai ini terbentuk akrena ,kikisan gletsyer.  Atau b isa jadi juga merupakan jenis pantai sekaren, karena pantai ini tidak jauh masuk ke darat di mukanya terdapat banyak pulau – pulau kecil. Salah satu pulaunya adalah Pulau Tiga.  Atau kemungkinan adalah jenis pantai ini adalah pantai ria yang menyerupai Pantai fyord. Bedanya pada pantai Ria pada bagian muaranya dan lebih besar dan tebingnya lebih curam, pantai ini terbentuk  karena lembah sungai yang tergenang air. Saya tidak dapat memastikannya. Para ahli kepantaian yang lebih tahu. Walahu-alam.  
(Ch. Enung Martina)


Jumat, 08 Juni 2018

SUPER MOM





(Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman saya Dian Ekowati, Devota Maria Laiyan, Sabaryati, dan Margaretha Josyarti)
Sore ini terasa kudus bagi saya. Udara segar sehabis hujan deras. Dedaunan basah segar. Matahari senja bersinar menembus awan berwarna keperakan, nampak penuh misteri. Terdengar azan mulai berkumandang. Jalanan lengang karena semua orang berkumpul bersama keluarga untuk siap berbuka puasa.

Dengan laptop di hadapan. Jari-jari saya mulai asyik menari menuangkan ide gagasan yang tiba-tiba datang menyeruak. Saya merasa sangat bangga dengan diri saya saat ini. Saya merasa sudah memenangkan pertarungan dengan diri saya. Saya tahu saya sudah melalui pergumulan Taman Zaitun saya dengan elegan. Saya sungguh bangga dengan diri saya. Meski saya tahu akan ada pertarungan-pertarungan lain di hadapan saya. Namun, tak jadi masaah, karena kebanggan ini akan menjadi bekal dan kekuatan pada saat pertarungan-pertarungan mendatang. Saya berhasil mereguk cawan yang ditawarkan untuk saya. Apakah saya merasa terluka? Jujur: Ya.

Namun, luka ini menjadi goresan yang menjadi kebanggan saya karena saya tak sedetik pun menghindar dan mengelak dari cawan yang harus saya reguk. Seperti bekas luka pada tokoh Harry Potter yang menghias jidatnya. Menjadi tanda dan tak terhapuskan.

Saya berterima kasih pada Bapa Surgawi yang sudah memberikan peringatan lewat mimpi saya 3 bulan lalu. Sehingga ketika peristiwa ini terjadi, paling tidak saya tak menyalahkan siapa pun termasuk menyalahkan diri sendiri. Saya tahu bahwa ini semua akan dan harus terjadi untuk suatu kebangkitan tidak hanya saya tapi banyak orang.

Saya mendapatkan banyak sekali inspirasi untuk tulisan saya dari peristiwa yang saya alami. Salah satu inspirasi kali ini yang saya bagikan adalah tentang perjuangan para perempuan perkasa untuk anak-anaknya yang dipercayakan Tuhan. Para perempuan seperti  ini begitu banyak di dunia ini. Namun, yang jelas ril ada di hadapan saya dan bergaul serta tersentuh oleh saya adalah 4 perempuan yang saya tuliskan namanya di atas (Dian Ekowati, Devota Maria Laiyan, Sabaryati, dan Margaretha Josyarti).

Saya sangat mengagumi kawan-kawan saya tadi. Mereka bukan para perempuan yang sempurna, sama dengan perempuan lain punya kekurangan. Mereka adalah para ibu yang berjuang untuk anak-anak mereka. Dian Ekowati berjuang untuk anaknya yang mempunyai kebutuhan khusus  ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), Devota Maria Laiyan yang berjuang untuk anak laki-laki pertamanya yang dianggap kurang dalam menerima pelajaran sekolah, dengan perjuangannya akhirnya  anak ini bisa bersekolah dengan baik hingga lulus dari perguruan tinggi.  Sabaryati seorang ibu yang memeprjuangkan pengasuhan anak perempuan semata wayangnya dalam perceraian dengan mantan suaminya, dan Margaretha Josyarti yang mempunyai anak dengan keterbatasan motorik, tetapi berhasil dalam perjuangannya untuk terapi dan medidiknya menjadi anak yang sangat percaya diri.

Saya sangat mengagumi mereka. Dengan sekuat tenaga mereka memberikan diri untuk belahan jiwa mereka. Tanpa memperhitungkan biaya, tenaga, atau pun waktu, juga perasaan, mereka berjuang demi buah hati mereka. Perjuangan mereka berbuah. Nampak dari bagaimana anak-anak bertumbuh dan menjadi diri mereka sebagai pribadi yang utuh.

Saya tahu mereka tak mengejar harta atau jabatan. Mereka adalah seorang ibu pekerja yang membagi waktunya, energinya, perasaannya, dan seluruh dirinya untuk buah hati mereka. Saya tahu pengorbanan yang mereka berikan pasti tak kan ternilai. Tak ada bandingannya. Saya tahu juga pada suatau saat tertentu mereka pasti juga merasakan putus asa. Saya tahu persis bahwa  saat tertentu  mereka terpuruk. Saya tahu persis mereka mengalami sakit dan perih pada dada dan jiwa mereka. Namun, mereka tetap melakukan apa yang harus mereka lakukan. Saya tahu doa adalah senjata utama mereka. Karena sebetulnya mereka sedang menjalankan panggilan hidup mereka sebagai seorang ibu yang hebat. Sebagai SUPER MOM.

Pesan kepada Super Mom:
Saya sangat kagum pada kalian. Kekaguman saya tak bisa saya uraikan lewat kata-kata. Kekaguman saya pada kalian membuat dada saya serasa penuh. Kekaguman saya membuat saya ingin memeluk kalian dan berkata terima kasih kalian  sudah menjadi bintang  yang bersinar untuk orang-orang di sekitar. Meskipun tak ada yang memberikan penghargaan pada kalian, tetapi alat Sang Pencipta yang paling objektif, yang bernama SEMESTA, mencatat dan mengembalikan semua usaha, energi positif, doa, dan cinta kalian dalam bentuk suka cita melalui anak-anak yang kalian perjuangkan.  Aku bersumpah! Semua yang kalian perjuangkan lengkap akan dikembalikan sebagai kemenangan kalian! Itu pasti! (Ch. Enung Martina)


Sabtu, 02 Juni 2018

AMBON MANISE 4


PERTEMUAN YANG TAK TERDUGA


Saya akan berkisah tentang pengalaman rohani saya di Katedral Ambon. Tepatnya ini kisah teman saya Ibu Devota Maria Laiyan.

Begini kisahnya: Kawan saya bernama Devota Maria Laiyan. Dia seorang keturunan Ambon, tepatnya Tanimbar. Dia lahir dan besar di Jawa karena kedua orang tuanya mengembara ke Jawa dalam rangka ayahnya bertugas sebagai TNI Angkatan Darat. Karena itulah kawan saya yang Ambon ini sangat fasih berbahasa Jawa. Ditambah lagi suaminya pun orang Jawa. Jadilah dia Ambon gadungan. Orang Ambon yang sudah kehilangan perangkat dirinya sebagai orang Ambon. Keambonanya pudar karena jauh dari tanah leluhur.

Ketika sekolah kami berwisata ke Ambon. Betapa suka citanya kawan saya Ibu Maria ini. Pulang kampung diantar semua teman!

Ketika kami merayakan Ekaristi di Katedral Ambon, teman saya yang lain, Ibu Jossy sakit perut karena tragedi telat makan pada hari pertama kami tiba di Ambon, kami terlantar tidak diberi makan oleh agen perjalanan seperti yang dikisahkan pada Ambon Manise 1. Karena itu Ibu Jossy keluar gereja untuk mengurus dirinya. Namun, lebih dari 30 menit kok belum masuk juga. Saya sebagai teman dan sekaligus ketua bis 1, bertanggung jawab atas beliau. Beliau salah satu anggota bis 1. Maka keluarlah saya untuk mencarinya.

Rupanya Ibu Jossy memang parah sakitnya sehingga harus berada di luar gereja. Ketika berada di luar, ia berkenalan dengan koster gereja bernama Deny. Nah, Deny ini dari Tanimbar. Lantas, Bu Jossy ingat Ibu Maria. Akhirnya selesai Ekaristi, Ibu Maria diperkenalkan kepada Deny ini. Jadilah mengobrol. Dalam obrolan diberitahukan Deny bahwa ada Romo yang juga marganya Laiyan bertugas di Katedral Ambon. Penasaranlah Ibu Maria.

Saya yang menyaksikan juga ikut penasaran. Jadilah saya mengantar Ibu Maria untuk mencari pastor saudaranya itu. Kami bertanya pada beberapa orang yang berpapasan dengan kami. Mereka tidak menunjukkan dengan pasti di mana Romo Laiyan berada. Akhirnya kami mengetuk sekretariat pastoran. Petugas di sana memberitahukan bahwa ruangan Pastor Damianus Laiyan itu ada di samping.

Bergegaslah kami menuju ruangan yang ditunjukkan. Nampaknya tertutup. Namun kami ketuk sambil mengucapkan permisi. Taka da jawaban dan tanda-tanda pintu akan dibuka. Kami mencoba memutar gerendel pintu ruangan itu. Rupanya terkunci.

Lantas Ibu Maria berkata, “Ya sudah, mungkin aku belum jodoh ketemu bagian dari keluargaku.”  Lantas kami melangkah untuk menuju bis yang diparkir di jalan depan Katedral. Lima langkah kami berjalan. Mendadak terhenti karena terdengar suara pintu terbuka dan sebuah suara berlogat Ambon membentak kami, “ Siapa itu!”

Kami berdua terpana. Terutama Ibu Maria. Mendadak matanya yang menyuram berbinar penuh harapan. Kami membalik badan. Di lawang pintu berdiri seorang lelaki Ambon berbadan tegap, kira-kira berusia setengah baya lebih. Kami pun segera menghampiri sosok lelaki itu.

Ibu Maria segera mengulurkan tangannya.

 “ Halo, Pastor saya Devota Maria Laiyan. Apakah Pastor, Dammy Laiyan?”

“Ya. Kamu siapa?”

Dengan segera Ibu Maria mengulurkan kembali tangan yang sudah dilepaskan saat bersalaman tadi. Ia mencium tangan pria itu.

Saya memandang dengan penuh takjub adegan di hadapan saya. Saya melihat ada dua pribadi yang mereka satu darah, tak pernah bertemu sebelumnya. Sekarang mereka berhadapan dan saling memandang siapa diri lawan bicaranya.

Lantas Ibu Maria menjelaskan bahwa dia adalah anak dari Kakak Natalis Laiyan yang pergi mengembara ke Jawa 50 tahun lebih. Kemudian mengalirlah dari mulut mereka berdua pohon keluarga. Bagaimana hubungan kekerabatan mereka. Sama-sama bersemangat, sama-sama takjub. Bahwa ternyata ada orang lain yang juga marganya sama dan sekarang berhadapan.

Tiba-tiba Ibu Maria berkata,” Kenapa Pastor bisa Laiyan?”

Saya tertawa mendengar ucapan Bu Maria.

Rupanya Santo Fransiskus Xaverius mempertemukan dua saudara yang sebelumnya tak saling mengenal dan tak terbayangkan bisa bertemu. Bahkan, saya yakin Ibu Maria pun tak membayangkan akan mendapat rahmat pertemuan dengan saudara satu nama.

Ini sebuah keajaiban yang tentu saja tidak kebetulan. Pertemuan yang tidak sengaja. Tuhan membuat kita bertemu dengan orang-orang yang tidak ingin kita temui, tapi sebaliknya malah tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang ingin kita temui, juga bertemu dengan orang yang tak pernah disangka-sangka bisa bertemu.

Tuhan selalu memberi arti di setiap pertemuan kita dengan orang lain. Demikian pula pertemuan Ibu Maria dengan saudara semarganya Romo Damianus Laiyan, MSC, membawa arti bagi persaudaraan Ibu Maria. Ibu Maria menemukan jejak keluarga di tanah leluhurnya.

Sering kali di dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak bertemu dengan orang lain di sekitar kita. Entah hanya bertemu, berpapasan, atau mungkin berada di suatu tempat yang sama, tetapi tidak saling menyadari. Namun, dalam sekejap semua itu hilang. Namun, yang Ibu Maria alami jelas berbeda.

Orang-orang datang dan pergi di kehidupan kita. Saya percaya, itu semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.  Entah untuk belajar atau mengajarkan, entah hanya untuk sesaat atau selamanya, entah nantinya akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya.  Namun, saya percaya bahwa Yang Maha Kuasa mempunyai  tujuan memberikan makna di balik itu semua.

Makna pertemuan Ibu Maria dengan Romo Dammy, juga membawa rahmat suka cita bagi saya. Ketika kami pamit pada Romo Dammy, Romo memberikan berkat panjangnya untuk kami berdua. Beliau mengenakan stola dan menumpangkan kedua tangannya di atas kepala kami. Saya kebagian tangan kanan, Ibu Maria tangan kiri.

Saat memberikan berkat stola dikenakan Romo, ternyata ada maknanya pasti. Stola merupakan simbol pemimpin liturgi. Maka tidak boleh dikenakan oleh orang yang tidak ditahbiskan. Stola biasa dipakai saat memberikan Sakramen Pengampunan dosa, saat memberikan Sakramen Minyak Suci, dan saat memimpin ibadat lainnya. Atau saat memberikan berkat.  

Saat Romo Dommy menumpangkan dan memberkati kami, saya merasa sangat terharu. Begitu banyak doa berkat yang diungkapkan untuk kami berdua. Saya merasakan sukacita mengalir pada diri saya. Air mata saya merembes di pelupuk. Merasakan betapa kasih Tuhan tak terhingga sehingga saya diberikan berkat khusus dari seorang Romo yang tak pernah saya ketahui.

Terima kasih Romo Damianus Laiyan. Terima kasih Devota Maria Laiyan. Berkat nama kalian yang sama maka kalian bertemu. Berkat nama marga kalian, maka saya kecipratan sukacita dan berkat tumpangan tangan. Saya sungguh penuh oleh sukacita.

Saya sangat terharu. Hingga sampai bis saya masih menangis sesenggukan karena suka cita saya. Semua teman di bis bingung mengapa saya menangis. Saya bilang karena saya punya suka cita.

Saya merasa pengalaman di Ambon ini sangat berarti bagi saya. (Ch. Enung Martina)


AMBON MANISE 3


Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Ambon

Hari kedua kami berada di Kota Ambon. Hari ini, Minggu 13 mei 2018. Acara kami setelah sarapan di Hotel, kami mengikuti Ekaristi di Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Ambon.
Seperti pada umumnya banguna gereja besar seperti katedral , selalu mempunyai aura keagungan tersendiri. Demikian pua dengan Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Ambon ini.  Bangunan ini terletak di  Jalan Patimura, Kota Ambon. Bangunan ini klasik dan  masih terawat serta megah, tepatnya agung. Di halaman samping gereja ada relief yang mengisahkan tentang awal mula misionaris tiba di Ambon, termasuk para misionaris yang tewas terbunuh oleh tentara Jepang pada Perang Dunia II, hingga siapa Uskup Ambon sekarang ini.
Katedral adalah pusat dari suatu Keuskupan dan tempat Bapa Uskup di setiap kesukupan tinggal. Karena itu, b iasanya katedral akan dibangun lebih besar dan lebih egah daripada gereja-gereja setingkat paroki atau stasi.
Demikian pula dengan Katedral Ambon. Katedral Ambon menjadi salah satu bangunan indah dan artistic di Antara bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Keindahan ini nampak mulai dari gaya bangunannya, ketiga menaranya yang tinggi menjulang, dan dekorasi patung yang menjadi ciri khas gereja ini. Tak hanya eksteriornya yang indah, interiornya pun tak kalah indahnya, hampir semua yang ada di gereja ini menjadi daya tarik. 

Gereja Katedral St Fransiskus Xaverius Ambon mengambil spiritualitas St Fransiskus Xaverius, mengingat jasanya sebagai pewarta iman Katolik di Keuskupan Amboina. Moto beliau  yang terkenal Da mihi animas (Berilah-bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa), menjadi semangat dasar pembinaan yang berorientasi pada penyelamatan jiwa-jiwa di keuskupan kepualauan ini. Gereja menghormati imam Spanyol Francisco Javier atau Fransiskus Xaverius,  berkat kerja pelayanan dari penginjilan dalam menyebarkan kekeristenan di  Maluku.
Keuskupan Amboina merupakan keuskupan sufragan (beberapa Keuskupan yang menyatukan diri dalam suatu Provinsi Gerejani sebagai mitra kerja Keuskupan Agung)   dari Keuskupan Agung Makassar. Wilayahnya meliputi seluruh provinsi Maluku dengan luas wilayah 83.778 km² dan berpusat di Ambon. Keuskupan Amboina didirikan sebagai Prefektur Apostolik Nugini Belanda pada tanggal 22 Desember 1902, memisahkan diri dari Vikariat Apostolik Batavia. Lalu ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Nugini Belanda pada tanggal 29 Agustus 1920. Setelah itu, berganti nama menjadi Vikariat Apostolik Amboina pada tanggal 12 Mei 1949. Kemudian ditingkatkan menjadi Keuskupan Amboina pada tanggal 3 Januari 1961 hingga sekarang.
Mula-mula didirikan sebagai Prefektur Apostolik Guinea Baru (Nouva Guinea Olandese) pada 22 Desember 1902, dipisahkan dari Vikariat Apostolik Batavia (Jakarta). Kemudian statusnya ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Nouva Guinea Olandese pada 29 Agustus 1920. Namanya diubah menjadi Vikariat Apostolik Amboina pada tahun 1949. Ketika hierarki Gereja Katolik di Indonesia didirikan Paus Yohanes XXIII dengan konstitusi apostolik Quod Christus pada 3 Januari 1961, statusnya meningkat lagi menjadi diosis (keuskupan).
Siapakah di balik nama Katedral Ambon ini? Xaverius terlahir bernama Francisco de Jaso  Azpilcueta di Kastil Xavier (dalam bahasa Spanyol modern Javier, bahasa Basque Xabier, bahasa Katalan Xavier) dekat Sangüesa dan Pamplona, di Navarro, Spanyol. Lahir sebagai putera bangsawan Basque di Navarro. Pada tahun 1512, Kastilla menginvasi Navarro. Banyak benteng yang dihancurkan, termasuk kastil keluarga, dan tanah-tanah disita. Ayah Fransiskus meninggal dunia pada tahun 1515.
Rupanya sejarah Katolik di Ambon, Maluku, Kalimantan, India, Malaka, serta Jepang tak bisa dilepaskan dari tokoh Fransiskus Xaverius. Dia mencintai Asia dan menghabiskan seluruh karya penyebaran agama ke kawasan Asia Timur dan Tenggara. Dialah pelopor misionaris Katolik dan menjadi co-founder serikat Jesus (SJ) bersama Ignatius Loyola.
Sejarah Ambon dan Maluku berubah karena kehadiran Fransisxus Xaverius di tahun 1546-1547. Dia bekerja tanpa lelah di Ambon, Maluku, Ternate, Moro, Borneo, dan meletakkan fondasi Katolik yang kuat di daerah ini. Kemungkinan besar dia membaptis sekitar 60.000 orang selama berkarya di derah itu.
Setelah berhasil berkarya di Asia Tenggara, Fransiskus berhasrat menyebarkan injil di Jepang. Namun karena menyadari bahwa budaya dan bahasa Jepang yang sulit, dia ingin belajar dulu bahasa dan budaya Cina sebelum berkarya di Jepang. Dia berlayar ke pulau Sancian, dekat Cina daratan. Namun sakit yang berat menghapus impiannya, di Sancian Fransiskus meninggal di usia 46,  3 Desember 1552. Impian untuk sampai ke Cina tak pernah terwujud. Itulah nama besar di balik Katedral Ambon.
Saya mempunyai pengalaman rohani yang berkesan di katedral ini. Kisahnya ikuti pada Ambon Manise 4. (Ch. Enung Martina)


Jumat, 01 Juni 2018

AMBON MANISE 2

PULAU ELO

'Goyang patah-patah' mengalun rancak
hamparan pasir putih pantaimu
mengingatkanku akan putih murni cinta pertamaku

Membentang gagah Maluku nan hijau
dengan noktah putih merah
tanda kehidupan tertoreh

Kabut perlahan turun menutupi pucuk-pucuk
ombak perlahan pasang
biru air lautmu, Elo,  membayang
di kilau matahari senja

Hening yang membentang pada bening airmu
mendamparkanku pada sebuah tanya
Adakah damai di negriku?

Dalam gurat-gurat di pasir pantaimu, Elo
Aku mengukur standard kedamaian
Kedamaian duniawi yang didamba tiap hati

Elo, pada bening airmu aku berkaca
Betapa carut marut negriku
Nampak pada kerut-kerut kelopak mataku
Karena ada duka di dalamnya

( Enung Martina: Pulau Tiga, Ambon, beberapa jam setelah mendengar berita pengeboman berantai di Surabaya)