Rabu, 05 Juni 2019

Gereja Karmel OCD, Lembang




Sudah belasan tahun saya tidak misa di Gereja Karmel, Lembang. Maka pada Hari Raya Kenaikan Tuhan tahun 2019 ini, saya mengikuti misa di sana. Ada banyak perubahan yang terjadi semenjak belasan tahun saya tidak berkunjung ke sini, terutama pada penataan lokasi dan perubahan suasana. Belasan tahun lalu masih belum seindah sekarang.



Mari kita mengenal sedikit Gereja  Karmel yang ada di Lembang, Jawa Barat ini.  Yang akan saya ulas ini bukan pertapaannya, melainkan Gereja Karmel yang lokasinya memang di Pertapaan Karmel Lembang. Gereja ini sebetulnya bernama Paroki Santa Maria Fatima – Lembang. Gereja ini terletak di Jl. Karmel 2/51 Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Orang menyebutnya Gereja Karmel, Lembang. Lokasinya di Jl. Raya Lembang,   samping Hotel Pesona Bambu, Lembang, Bandung 40391, Indonesia.

Gereja Karmel Lembang bersebelahan dan ada di bawah pengawasan Biara Susteran OCD (Ordo Carmelitarum Discalceatorum atau Ordo Karmel Tak bersepatu) yang spiritualitasnya adalah pertapaan. Seperti pada umumnya Karmelit, mengambil spiritualitas dari Nabi Elia, dari Gunung Karmel, Israel (Silakan baca Kitab Raja-Raja).

Karena gereja ini berada di kawasan pertapaan, maka  para suster mengharapkan adanya ketenangan di area sekitar kapel, Gua Maria,  dan jalan salib. Itu pula yang menjadi alasan, disarankan para pengunjung datang dalam rombongan kecil.

Bagi umat Katolik,  Lembah Karmel ini adalah tempat berdoa dengan suasana  khusuk di Dataran  Tinggi Lembang yg sangat sejuk. Konon, bangunan awal di Gua Maria Karmel ialah sebuah gereja kecil (kapel)  serta asrama biarawati Karmelit. Tempat wisata religi dan sekaligus tempat beribadah ini masih berdiri dengan indah sejak zaman Belanda dulu. Kini bertambah indah sesudah dilakukan renovasi yang selesai pada tahun 1989.

Lokasinya  terletak sebelum Pasar Lembang, setelah Rumah Sosis. Posisi agak masuk gang, tertulis di sebelah Hotel Pesona Bambu : Pertapaan Karmel. Gereja Karmel ini terletak di tengah keramaian Kota Lembang, tetapi tetap memberikan kedamaian, kesejukan dan pencerahan dengan lanskap jalan salib yang bagus, taman yg indah, Gua Maria dengan patung Pieta raksasa yg sangat menyentuh. Bila keadaan hening (bukan liburan) sangat cocok utk berdialog dengan Bunda Maria dan Tuhan Yesus.

Keindahan alam yang berpadu dengan hawa sejuk pegunungan ditambah dengan tempat yang hening,  sehingga tempat ini sangat cocok untuk berdoa dan kembali mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Karena keadaan tempatnya, maka para pengunjung pun merasa  nyaman dan mendukung untuk berdoa.  Bepergian  bersama keluarga dan rombongan kecil  sangat disarankan untuk menghindari keramaian dan menjaga suasana hening di sekitar pertapaan. Namun, keheningan menjadi terganggu dengan  keramaian para  pengunjung pada saat hari minggu dan hari libur.



Suasananya hening sangat mendukung untuk doa khusyuk.  Hari biasa komplek ini  buka untuk umum sampai pukul 17.00. Misa hari Minggu dan hari besar pukul 07.30.  Pihak Gereja memberikan beberapa kebijakan yang diambil agar suasana sekitar tetap terjaga:
Ø  Ziarah tidak dilakukan dalam rombongan besar
Ø  Dapat menjaga ketenangan di area Karmel Lembang
Ø  Tidak ada misa khusus untuk rombongan tertentu
Ø  Selama dalam area Karmel Lembang tidak diperkenankan menggunakan toa atau pengeras suara lainnya
Ø  Sakramen baptis dan pernikahan diberikan hanya untuk umat paroki setempat
Ø  Misa hanya diberikan satu kali (baik masa biasa maupun masa khusus) maka perhatikan baik-baik jadwal seputar misa.

Begitu sampai di pelataran kita bisa memilih apakah akan langsung masuk ke dalam gereja atau akan masuk dulu ke taman. Terdapat dua “jalan kecil” untuk pengunjung yang akan memberikan sisi berbeda pada tempat ini. Di jalan pertama, pengunjung akan bisa melihat 14 patung di stasi dari “Via Dolorosa” yang begitu terkenal. Sedangkan jalan kedua adalah jalan kecil menuju Gua Maria Karmel. Pengunjung dapat berdoa dengan khusuk dengan pemandangan perbukitan dan lembah  di depan area.  

Setelah menyusuri jalan setapak sekitar 7 m, kita bisa menemukan pelataran besar dengan patung, lalu ke arah kiri. Di sana  ada gua Bunda Maria dengan tempat duduk disusun berundak-undak seperti stadion sepak bola. Kita bisa menyalakan lilin yang dibeli di toko barang rohani dan meletakkan bunga mawar di tempat yang sudah disediakan, lalu berdoa sejenak di sana.



Dari Gua Bunda Maria, kita bisa kembali ke pelataran, lalu menyusuri jalan setapak untuk melihat miniatur Yesus di dalam kubur. Sebelah kanan dari Gua Maria, ada Bukit Golgota. Di situ salib berdiri. Sebelumnya, kita bisa meletakkan alas kaki di tempat yang sudah disediakan, lalu turun sekitar 3 anak tangga untuk bisa melihat lebih dekat kuburan Yesus. Kamu bisa berdoa juga di undakan-undakan tersebut. Kemudian, kita ke arah Kapel Theresia untuk berdoa di sana. Sayup-sayup terdengar suara suster-suster sedang bernyanyi. Rasanya suasananya damai sekali.



Kawasan Karmel Lembang  dikelilingi dengan bunga serta pepohonan yang membuat Lembah Karmel jadi tempat yang asri, indah,  dan juga sejuk. Tempat ini begitu cocok untuk siapa pun  untuk melepas rasa jenuh serta lelah selama kegiatan sehari – hari di kota.

Untuk masuk ke area ini kita tidak dipungut biaya. Seperti pada umumnya, parkir jelas bayar dan kalau kita ingin membeli lilin untuk ditaruh di depan Gua Maria,  juga bisa membelinya di toko barang rohani yang letaknya ada di samping kanan saat memasuki taman. Saat tertentu (masa panen)  para suster menjual hasil kebun mereka.

Bila misa sudah usai dan mana kala perut mulai menagih minta diisi, Kita  bisa menikmati makanan yang dijual di samping dekat parkiran sekitar depan pertapaan ini. Aneka makanan dijual di sana mulai dari nasi rames, sate ayam dan kelinci, bakso, aneka jajan pasar, dan tak lupa roti rumahan, serta aneka buah dan sayuran segar khas Lembang. Semuanya enak dan harga terjangkau.

Keberadaan Gereja Karmel membawa berkat bagi para biarawati, umat setempat,  para karyawan, para pengunjung, dan juga masyarakat sekitar. Tempat ini membawa kita menyatu dengan alam  semesta sehingga menjadi  sebuah nilai religiusitas dalam doa dan penyembahan bagi Sang Pencipta Semesta Raya. (Ch. Enung Martina)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar