Senin, 05 Desember 2016

RETRET BERSAMA ST. IGNATIUS ( Hari Pertama)

(Danau Garda, Italia)

Kita manusia ciptaan Allah yang memiliki tubuh yang dibatasi ruang dan waktu. Manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa yang memberi hidup. Arah tujuan hidup kita digerakkan oleh dorongan roh. Roh baik membimbing kita pada Allah sebagai tujuan akhir, sedangkan roh jahat membelokkan arah tujuan hidup kita.  Untuk mengenali roh baik dan jahat itulah kita memerlukan waktu menyendiri dan mengheningkan diri. Retret merupakan salah satu latihan rohani untuk mengenali kedua roh tersebut.

Pada saat retret kita memerlukan keheningan diri, keterbukaan akan Kasih Allah, kerja sama dengan manusia juga Allah, serta juga memerlukan kedisipilan diri dalam melakuakan berbagai latihan di bawah bimbingan.

Situasi yang harus kita bangun   pada saat retret adalah sikap batin berjiwa besar untuk mengakui beberapa kekurangan dan kelemahan,  serta rela berkorban untuk membuang hal-hal yang selama ini sudah melekat ternyata tidak membawa pada kebaikan. Keterbukaan hati diperlukan untuk membiarkan Allah membimbing kita seperti seorang guru yang membimbing muridnya. membiarkan diri mempunyai kesadaran akan kegiatan yang dilakukan dengan meninggalkan rutinitas, membiarkan diri tenang dan dalam suasana istirahat. beretret merupakan situasi liburan. Berlibur bersama Tuhan.

Bukan seberapa banyak berlimpahnya pengetahuan yang diperoleh dalam retret, melainkan lebih penting merasakan dan mencecap kebenaran yang memperkaya jiwa.  Tidak dalam rangka mengejar banyaknya materi yang sudah dirancang, melainkan kedalaman refleksi yang utama. Karena itu untuk masuk ke kedalaman memerlukan silensium. Diam. Hening agar kita berjumpa dengan diri kita dan Tuhan.

Salah satu latihan dal;am retret adalah meditasi. Latihan meditasi merupakan proses untuk masuk pada keheningan menuju kedalaman.  Latihan yang digunakan dengan meditasi cara Ignatius dari Loyola yang mempunyai  4 tahapan. Meditasi ini dibawa pada satu fokus dari teks Kitab Suci.

Tahapan pertama kita mengenali dahulu pokok-pokok bacaan yang biasanya ada 3 pokok. Pokok pertama pada pengenalan-pengantar, pokok kedua ada permasalahan atau pergumulan, pokok ketiga ada situasi ideal yang dikehendaki Allah.  Tahapan yang kedua ada percakapan imajinatif antara diriku dengan Tuhan melalui kata-kata / ayat dalam pokok-pokok-pokok di atas. dalam pokok ini ada perjumpaan antara diriku dengan Tuhan. Tahapan ketiga adalah memahami dan merefleksikan perjumpaan tadi dengan hidupku. tahapan yang keempat mencacatkan buah-buah yang kudapatkan dalam proses bermeditasi.


Permenungan dari Kejadian 6: 9-22 (Riwayat Nuh)
Hasil Meditasi Diriku:
Tahap I: Menghidupkan kembali teks Kitab Suci dalam 3 pkok. Pokok 1, Kejadian 6: 9: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan  Allah.  Pokok 2, Kejadian 6: 13: Aku (Allah)telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Pokok 3 Kejadian 6: 18: tetapi dengan engkau (Nuh) Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan istrimu dan istri anak-anakmu.

Tahap II Percakapan imajinatif: Dalam tahap ini saya mengalami imajinasi tentang sebuah kapal pesiar besar bercat putih yang sedang berlabuh. Imajinasi   saya hanya sebatas bentuk luar kapal tersebut. Saya tidak melihat dalamnya. Gambaran berikutnya muncul di dalam kapal Tanjung Kambani. Sekedar tahu, Tanjung Kambani itu sebuah kapal perang milik TNI ALRI. Gambaran ini muncul karena saya pernah menginap di dalam kapal ini dan berjalan di seluruh bagian kapal ini, kecuali gudang senjatanya. Lalu gamabaran berikutnya  muncul seorang laki-laki Yahudi berusia anatara 50-60 tahun dengan janggut rapi yang di antara janggut itu sudah muncul beberapa uban. Ia berperawakan tinggi, besar, tidak gemuk, tetpi tegap, berkulit agak kemerahan seperti pada umumnya orang Yahudi. Rupanya itu gambaran Nuh.  

Dalam tahapan ini saya mengingat bahwa sebetulnya saya pernah membayangkan kalau saya hidup pada zaman Nuh atau kebalikannya, Nuh hidup di zaman saya,  saya merasa jatuh cinta dengan Nuh. Lantas saya mengingat ada sebuah cerpen yang saya buat terinspirasi karena kisah Nuh. Cerpen ini mendapatkan juara harapan II ketika saya lombakan dalam sebuah perlombaan menulis cerpen tingkat dewasa. 

Persepsi yang terhubung dalam otak kanan saya saat tahapan ini adalah: Nuh orang yang dekat dengan Allah, sudah pasti hidupnya selaras/seimabng secara horisontal (sesama) dan vertikal (Tuhan). Saya melihat Nuh adalah seorang yang kaya. Ia mempunyai banyak teman dan kolega. Meskipun teman dan koleganya berbeda gaya hidupnya dengan Nuh, tetapi ia tetap bekerja sama dalam hal bisnis dengan mereka. Saya membayangkan Nuh orang kaya karena ketika Tuhan menyuruh dia membangun bahtera bertingkat 3 yang itu artinya bahtera besar dan pastinya perlu biaya banyak, Nuh melakukannya dan selesai membangunnya.  Imajinasi saya berlanjut bahwa saat pembuatan bahtera itu, Nuh mendapat  pertanyaan dan cemoohan dari orang-orang sekitarnya. Nuh seorang yang bermental baja. Ia lelaki yang kuat mental. Ia percaya pada janji Allah yang akan menyelamatkan dia dan keluarganya. Nuh yakin Allah mempunyai proyek besar dalam hidupnya dan pasti akan menggenapi.

Tahap III, kontekstual dengan hidup saya: Allah juga mempunyai janji kepada saya. Allah menjanjikan rancangan damai sejahtera dan keselamatan un tuk saya. Allah juga memberikan proyek besar dalam hidup saya. Proyek itu adalah panggilan hidup saya sebagai seorang guru di St. Ursula BSD, sebagai seorang ibu dari 3 orang anak, dan memilih saya menjadi seorang Katolik yang hidup di Indonesia.

Proyek ini dirasa penting bagi saya. Menjadi seorang guru merupakan tantangan karena saya harus terus belajar dan harus menjadi model bagi anak didik saya. Saya sudah 20 tahun menjadi guru di St. Ursula. Saya mengalami refleksi yang panjang untuk sampai pada kesadaran bahwa menjadi guru itu adalah proyek besar dalam hidup saya.

Demikian pula proyek menjadi ibu bagi 3 orang anak. Saya sebagai seorang ibu tak pernah bersekolah bagaimana menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anak saya. Saya merasa terkadang saya menjadi ibu yang buruk. Untuk mendidik anak menjadi anak-anak yang berkareakter.

Tahapan keempat saya bertanya pada diri saya: Apa yang akan saya lakukan untuk ke depan berkaitan dengan proyek Tuhan dalam hidup saya?

Pastinya saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan proyek Tuhan dalam hidup saya dan menyelesaikannya sampai dengan ketsudahannya. Tuntas. Berhasil. 

Sebagai guru saya benar-benar akan menikmati pekerjaan saya sebagai pendidik. Lima tahun ke depan saya sudah pensiun menurut aturan kepegawaian yang berlaku di yayasan tempat saya bekerja. Dengan begitu saya benar-benar akan menikmati menjadi guru ini dengan penuh gairah.

Proyek kedua saya sebgai ibu dari tiga anak. Kedua anak saya sudah bekerja, sudah besar. Namun, perjuangan mereka untuk meraih harapan, cita-cita, dan panggilan hidup mereka, tetap membutuhkan saya sebagai ibunya untuk menjadi pendukung meraka. Untuk anak bontot yang sekarang berada di kelas 1 SD, sudah jelas bahwa perjuangan saya masih panjang. Itulah alasan Tuhan membuat saya tetap sehat dan membuat saya tetap bersemangat. 

Karena saya orang Katolik yang hidup di Indonesia tentunya bukan secara kebetulan. Saya dipanggil untuk menjadi seorang Katolik yang minoritas di negri saya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa menjadi minoritas itu bukan hal mudah. Namun, saya tetap akan setia pada panggilan saya sebagai orang Katolik dengan tantangan iman yang saya hadapi. Saya berusaha untuk bisa menggereja semampu saya.  (Ch. Enung Martina)



Jumat, 25 November 2016

HARI GURU: MENJAGA INTEGRITAS DIRI GURU SEBAGAI PENDIDIK


Guru diberikan kehormatan dengan cara  negara memberikan  setiap tanggal 25 November sebagai hari untuk menghormati profesi ini. Ini menunjukkan bahwa profesi guru dihargai dan dihormati sebagai sebuah profesi yang membawa dampak baik bagi bangsa ini. Anak bangsa akan menjadi cerdas dengan bimbingan para guru. Berkat pendampingan dan pengajaran mereka para anak bangsa mempunyai harkat yang baik karena mereka mempunyai pendidikan. Pendidikan yang mengngkat seseorang menjadi lebih berharkat.

Guru dengan pendidikan tak bisa dipisahkan. Ibarat cabai denagn pedasnya, gula dengan manisnya, dan garam dengan asinnya. Menjadi senyawa yang tak terpisahkan. Ketika garam tak lagi asin maka dia tak lagi disebut garam. Demikian juga guru. Bila guru tak lagi mendidik dia bukan lagi sebagai seorang guru yang layak digugu atau ditiru.

Guru bukan lagi sebagai sebuah profesi dengan ijasah dan pendidikan keguruan di belakangnya  belaka. Profesi guru bersenyawa dengan kepribadian guru tersebut. Profesi guru menuntut seseorang menghayati profesinya dan sekaligus menjadikan kepribadiannya juga layak disebut guru. Ada sejumlah persyaratan tak tertulis yang harus dipenuhi seseorang  ketika dia memutuskan untuk menjadi guru. Ada integritas yang harus dipenuhi ketika seseorang menjadi guru.

Dalam fase kehidupan manusia seorang pendidik mempunyai andil pada proses pembentukan karakter. Guru yang memiliki makna “digugu lan ditiru” (dipercaya dan dicontoh) secara tidak langsung juga memberikan pendidikan karakter pada peserta didiknya. Oleh karena itu, profil dan penampilan guru seharusnya memiliki sifat-sifat yang dapat membawa peseta didiknya ke arah pembentukan karakter yang kuat. (M.Furqon Hidayatullah, 2009).

Dari  pendapat diatas, kita dapat memberikan persepsi mengenai makna dari guru itu sendiri. Sebagai guru yang dituntut untuk profesional, memberikan makna bagi sarjana pendidikan yang akan menjadi penopang estafet mendidik anak bangsa untuk memberikan suatu realita contoh dari diri mereka. Sikap yang ditunjukkan didalam diri mereka kepada anak didik merupakan suatu bukti nyata dari hasil kombinasi etika dan moral yang dimiliki oleh seorang guru. Jika rusak etika dan moral mereka sebagai guru, maka rusaklah sikap mereka kepada anak didik dan tidak patut dijadikan sebagai contoh dan panutan. Namun pertanyaannya adalah bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh seorang sarjana pendidikan sebagai guru dan penerus estafet didalam mendidik anak didik? Inilah yang perlu dikaji secara mendalam dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan saat ini dengan kesejahteraan guru yang semakin meningkat.

Moral dan Etika merupakan bentuk kontributif dari sikap yang ditunjukan oleh guru kepada anak didiknya. Jika Moral dan Etika buruk, maka buruk juga sikap guru dimata anak didiknya, dan terkadang anak didik menjadikan panutan didalam kehidupan sehari-hari mereka. Untuk mencapai moral dan etika yang baik kepada siswa, sudah selayaknya sebagai guru yang profesional, mampu mengkonstruksi kembali perencanaan pendidikan yang akan dilakukan kepada anak didik. Untuk mendapatkan apresiasi yang baik dari anak didik, maka terlebih dahulu guru membenahi moral dan etika mereka dihadapan anak didik dan bukan menjadikan moral sebagai topeng. Karena jika moral dan etika hanya dijadikan sebagai topeng, maka suatu saat moral buruk akan kembali dan merusak tatanan sebelumnya sehingga menjadikan topeng baik menjadi topeng buruk.

Sudah selayaknya moral dan etika guru sebagai wajah yang selalu tertanam didalam diri manusia. Bukan sebagai topeng yang sekali waktu bisa tergantikan denagn topeng yang lainnya.
Kurangnya respon guru terhadap anak didik didalam pembelajaran atau sebaliknya memberikan andil didalam menurunkan moral dan etika seorang guru. Terkadang ketika didalam proses belajar mengajar siswa kurang memberikan apresiatif terhadap guru yang sedang mengajar didepan kelas, misalnya ribut. Jika siswa ribut, terkadang guru sering lepas emosi, alhasil memberikan citra buruk kepada guru tersebut dihadapan peserta didik. Siswa menganggap guru killer, dan tidak mustahil dapat berimbas pada minat maupun motivasi siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. Oleh karena itu, selayaknya seorang guru mampu mengontrol emosinya pada saat keadaan yang tidak terkendali.

Sebagai seorang pengajar yang akan memberikan materi penlajaran kepada siswanya seharusnya seorang guu memberikan inovasi-inovasi didalam pengajarannya dengan model-model pembelajaran dan pemanfaatan teknologi yang menarik bagi siswa, tetapi tetap disesuaikan dengan kondisi sekolah dan permasalahan siswa. Selain itu, sudah selayaknya seorang guru memberikan apresiasi besar kepada siswa dengan apa yang dilakukan oleh mereka didalam proses belajar mengajar serta menjadikan anak didik sebagai mitra didalam proses pembelajaran bukan menjadikan anak didik sebagai pesuruh ataupun lainnya yang bersifat memberikan kesenjangan dengan siswa. Peserta didik sebagai subjek, bukan sebagai objek.

Menurunnya moral seorang guru juga dapat disebabkan oleh kurangnya komunikasi antar guru. Dengan kurangnya komunikasi antar guru, terkadang sesama guru tidak dapat mengembangkan inovasi pembelajaran yang efektif dan efisien. Kurangnya komunikasi antar guru juga dapat berakibat pada tidak terselesaikannya permasalahan yang terjadi pada anak didik, misalnya prestasi belajar, dan permasalahan administratif. Terkadang juga dengan kurangnya komunikasi antar guru memberikan sikap kaku didalam sekolah.

Dengan demikian, sangatlah penting seorang guru memberikan sikap saling pengertian dengan guru lainnya, saling komunikatif, dan menciptakan suasana yang kondusif didalam sekolah itu sendiri. Dengan semakin komunikatifnya guru didalam sekolah dapat menguntungkan satu sama lain, yaitu dapat melakukan penelitian terhadap permasalahan didalam pembelajaran kepada anak didik. Sesama guru dapat saling membantu untuk memecahkan permasalahan didalam pembelajaran.  

Permasalahan internal dari guru itu sendiri juga memberikan andil didalam mempengaruhi moral seorang guru. Kita tidak dapat memungkiri, terkadang beberapa guru mencampuradukan permasalahan internal, baik itu permasalahan keluarga maupun lainnya ke dalam kewajibannya didalam mengajar. Sehingga terkadang membuat guru tersebut malas mengajar atau tidak respek dengan apa yang dilakukan siswa didalam proses belajar mengajar. Alhasil guru bersifat masa bodoh dan acuh tak acuh sehingga mengesampingkan makna pendidikan itu sendiri. Sudah seharusnya seorang guru bersifat profesional dan mampu memilah antara permasalahan internal dan proses belajar mengajar.

Kurangnya religiusitas yang berdampak pada kurangnya kecerdasan spiritual seorang guru  juga turut member andil didalam penurunan moral dan etika dari seorang guru. Dengan kurangnya kecerdasan spiritual, guru terkadang cepat emosi dan keluar dari koridor-koridor yang semestinya. Namun sebaliknya, dengan adanya pendidikan religi batasan-batasan yang perlu dilakukan oleh seorang guru dapat terwujud dan meningkatkan moral dan etika pendidik.

Oleh karenanya, pihak sekolah dan dinas kementrian pendidikan nasional perlu mengevaluasi tingkat moral dan etika dari seorang guru yang menjadi tanggung jawab mereka. Dengan adanya evaluasi, diharapkan dapat meminimalisir permasalahan yang mengakibatkan penurunan moral dan etika yang dapat berakibat pada permasalahan-permasalahan krusial, seperti tindak asusila, korupsi, dan tindak lainnya. Perlunya pemahaman moral-sosial dengan pelatihan-pelatihan dan menejemen konflik juga diharapkan dapat meminimalisir dekadensi moral dari para guru.

Guru  sebagai seorang pendidik yang memang lahir dan berkarya untuk pendidikan sudah selayaknya menjadi seseorang  yang memiliki integritas yang tinggi. Integritas artinya selarasnya   moral dan etika dengan tidakan nyata  yang dilakukannya dalam kehidupan kesehariannya.  

Peningkatan kualitas prestasi anak didik merupakan tanggung jawab dari seorang pendidik. Pendidikan tidak hanya mencakup pada tersampainya materi pembelajaran, tetapi juga tercapainya pendidikan karakter pada siswa yang dapat dilihat dari kepribadian siswa keseharian. Moral peserta didik  menjadi bagian dari tanggung jawab guru sebagai pendidik. Jangan salahkan anak didik jika mereka sering mencontek, karena pendidiknya pun acuh tak acuh dan tidak respon dengan baik atau buruknya kegiatan yang mereka lakukan. Sudah selayaknya guru sebagai pendidik menjadi model bagi peserta didik.  Baik atau buruknya moral seorang pendidik berpengaruh besar kepada anak murid yang dididiknya. Pendidik adalah panutan untuk memunculkan potensi positif didalam diri anak didik bukan sebaliknya.

 (Ch. Enung Martina)

Senin, 07 November 2016

Cerpen tentang Kematian

TABIR TIPIS KEMATIAN

Masih ingatkah akan cerpen saya tentang alam yang berjudul Cerita Sebuah Pohon Tanjung? Cerpen ini diunggah 10 Februari 2013 sehari sebelum saya ulang tahun ke-49. Cerpen itu berkisah tentang hati saya yang biru dan lebam karena 2 pohon tanjung besar di rumah saya ditebang karena lahan di dekatnya akan dibangun rumah, padahal pohon tanjung itu pohon peneduh di pinggir jalan.  Pohon tanjung itu sudah berusia sekitar 18 tahun kala ia ditebang. Hati saya merana sampai rasanya sakit saat saya bernafas. Kala itu saya benci terhadap orang yang akan jadi calon tetangga saya yang membangun rumahnya disamping rumah saya denagn mengorbankan pohon tanjung besar yang saya cintai.

Ini adalah lanjutan kisah sesudah 3 tahun lebih peristiwa itu berlalu.  Kami dengan penebang pohon tanjung ini menjadi tetangga. Ada asam dan manis menjadi tetangga. Awalnya saya agak canggung ketika bertegur sapa denagn keluarga ini. Apalagi saat saya mengingat dua pohon tanjung, hati saya teriris lagi. Namun, dengan bergeraknya waktu yang ajaib, kami menjadi tetangga yang baik. Anak-anaknya 3 orang anak laki-laki mulai bermain ke rumah kami. Main bersama si bungsu, Abhimanyu. Terutama anak nomor dua yang usianya selisih 1 tahun dengan bungsu saya.  Nonton yutube bersama, main game bersama, naik sepeda bersama, makan bareng, jatuh bareng, nakal bareng. Pokoknya menjadi sahabat baik. Alvin, nama anak kedua tetangga baru ini hampir setiap hari main ke rumah saya. Mungkin karena di rumah ada vasilitas internet dan laptop yang bisa dijadikan dua anak generasi Z ini bermain. Jadilah kedua anak ini menjadikan rumah saya jadi amrkas mereka.

Saya sendiri sudah jatuh cinta dengan Alvin. Anak laki-laki yang rambutnya selalu dipotong plontos itu sangat pandai membawakan diri saat bermain dengan Abhimanyu. Demikian pula kami orang tua, akhirnya mulai berperilaku layaknya tetangga,  saling mencicipi oleh-pleh bila habis bepergian, berbagi masakan yang kami masak. Hati saya sudah tidak biru lagi. Pohon tanjung masih ada dalam ingatan saya, tetapi sakit hati mulai terkikis. Itu keajaiban waktu.

Kebetulan pula bahwa saya orang Sunda dan keluarga ini suami istri dari kabupaten yang sama denagn saya. Bahkan, sang istri satu kecamatan dengan saya. Jadilah kami sering mengobrol dengan bahasa Sunda yang sangat langka saya gunakan di sini karena tak ada lawan.  Begitulah kami akhirnya menjadi tetangga yang baik.

Memang ada beberapa hal dari keluarga ini yang tak cocok denagn prinsip saya, contohnya  dalam hal lingkungan dan pola pengasuhan anak. Namun itu hal lumrah karena tidak tiap orang harus sama dengan apa yang saya mau. Dalam hal lingkungan keluarga ini saat membangun  rumah memindahkan batas jalan umum untuk memperlebar batas tanahnya. Waktu itu salah satu dari warga blok kami sudah ada yang mengingatkan, tetapi tetangga baru saya tak menggubriusnya.  Masih dalam hal lingkungan, keluarga ini tidak membuat bak sampah dekat rumahnya, melainkan menempatkan pot besar sebagai pengganti tempat sampah di samping bak sampah saya yang dibangun permanen. Dalam pola pengasuhan anak, tak ada batasan waktu anak bermain di luar atau ke rumah tetangga. Anak akan dibiarkan pulang sendiri. Terkadang saya harus mengusir Alvin pulang karena sudah kelamaan di rumah saya.

Hal-hal demikian bukan menjadi pengahalang dalam bertetangga itu pikir saya. Namun, untuk melebarkan batas tanah sempat menjadi bahan pemikiran saya. Itu karena saya dibesarkan dalam budaya pertanian yang sangat menghargai tanah, tanaman, dan air. Ayah saya almarhum pernah memberikan petuahnya bahwa jangan pernah kita melebihkan batas tanah kita dengan mengambil batas tanah orang lain. Itu pamali. Saya masih ingat karena saat itu tidak puas dengan pernyataan pamali. Lantas saya bertanya : Kenapa? Ayah saya bilang tanah itu menyangkut ‘hurip’ kehidupan. Semua mahluk bumi hidup dari tanah dan air. Karena itu kalau kamu memindahkan batas,  kamu sudah mencurangi kehidupan. begitu penjelasan ayah saya. Pasti ada akibatnya. Waktu saya bertanya apa akibatnya? Tapi Emak (ibu saya) bilang kalau pamali itu  tak usah dipertanyakan karena itu aturan leluhur yang juga diturunkan dari sononya. Mereka membuat aturan itu berdasarkan pengalaman mereka. Jadi saya tidak bertanya lagi.

Nah, kata-kata ayah saya jadi terngiang lagi ketika tetangga baru saya memindahkan batas itu. Tapi karena banyak perkara lain yang  menyita pikiran saya, hal tersebut tidak berkepanjangan, dengan sendirinya hilang begitu saja.

Hingga pada suatu hari Kamis tanggal 18 Agustus 2018, saya pulang dari tempat kerja melewati rumah tetangga baru saya sebelum masuk ke pintu pagar saya. Saya melihat di gang sudah dipasang tenda. Saya lewat saja karena pikir saya mungkin Papa Alvin mau menyelenggarakan pesta. Ketika saya masuk, Abhimanyu sedang menonton chanel yutube kesukaannya, tiba-tiba mengatakan, “Ibu, Alvin meninggal tadi pagi.”

Saya sontak melepaskan barang bawaannya saya dari tangan saya, seolah petir di siang bolong berita itu masuk ke kepala saya. “Kenapa Alvin, Abhi?”
“Alvin sudah dipanggil Tuhan. Tapi kamu gak usah sedih.”

Sudah pasti sedih dan kaget. Meskipun Abhimanyu berpesan begitu. Masih terlihat di sudut mata saya, Alvin duduk berdua dengan Abhimanyu di kursi yang sekarng diduduki Abhimanyu saat melihat chanel yutube atau bermain game bersama. Masih terbayang di pelupuk mata kaus – celana setelan hijau ada strip kuning di lengannya dengan gambar pahlawan power ranger di depannya. Di halaman rumah, tepatnya jalan gang blok kami, Alvin akan main bola atau main kayu bersama adiknya. Semuanya nyata di mata saya yang sekarang basah bersimabha air mata.

Tanpa mengganti seragam kerja berwarna biru ngejreng yang melekat di tubuh saya, saya langsung menyambangi tetangga baru saya. Keluarga inti Alvin tak ada di rumah. Mereka membawa jenazah Alvin ke kampung ibunya, berarti ke daerah saya, untuk memakamkannya di sana. Yang menyambut saya adalah paman dan bibinya yang dipercaya menjaga rumah.

Saya bertanya pada mereka penyebab Alvin meninggal. Mereka mengatakan Alvin panas 3 hari, ini hari keempat ia meninggal. Tubuh Alvin membiru saat meninggal, terutama di bagian kuku dan lidahnya. Saya kaget sekali. Saya penasaran apa yang menyebkan kematian bocah ini. Namun, mereka menjelaskan saat dibawa ke RS Medika, Alvin sudah meninggal sehingga tak bisa diketahui apa penyebabnya.

Saat saya berbincang dengan teman sekerja saya yang sekaligus tetangga saya selang satu rumah, topik kami  masih pertanyaan seputar penyebab kematian Alvin. Pak Jaka kawan saya akhirnya menelepon adiknya yang seorang dokter. Adik Pak Jaka menyatakan kalau dengan tanda seperti itu, kematian itu disebabkan kekurangan oksigen. Apakah Alvin mempunyai penyakit asma? Saya tak berani menanyakan pada orang tuanya hingga saat ini. Saya bertemu dengan mereka tak pernah menyinggung Alvin. Saya tahu hal itu akan melukai mereka.

Saya dan Abhimanyu khususnya mendoakan Alvin saat doa malam kami. Dua hari setelah kematian Alvin, berarti itu hari ketiganya Alvin tiada, Abhimanyu minta sendiri untuk mendoakan Alvin. Kami berdoa dimualai dengan doa Abhimanyu untu Alvin dan untuk supaya tidak mimpi buruk, melainkan mimpi indah. Lalu doa saya lanjutkan juga masih untuk Alvin. Selesai kami membuat tanda salib tanda doa berakhir, Abhimanyu tiba-tiba berkata, “Bu, kok kamar kita wangi sekali. Apa ada minyak wangi yang tumpah? Coba Ibu cium!” Tapi saya tak mencium apa pun. Sampai saya cari di seputar kamar bahkan ke luar dekat jendela, saya tak menemukan apa-apa. Namun, Abhimanyu tetap ‘keukeuh’ menyatakan bahwa kamarnya wangi sekali, wangi parfum dengan aroma manis, begitu ia mendeskripsikan.

Saya tidak diberi berkat untuk mencium wangi itu. Wangi itu hanya khusus UNTUK ABHIMANYU SAJA. Ketika ia bertanya itu wangi apa, saya agak sukar untuk menjawab pertanyaan itu. Saya ngarang bahwa mungkin itu wangi yang dibawa angin ke rumah kita lalu mampir di kamarmu. Begitu saya menjelaskan. Untung dia mengantuk sehingga pertanyaan tidak bersambung.
Setiap malam acara rutin saya bermeditasi (Zen Qi Sirkulasi) untuk tujuan kebugaran tubuh. Biasanya dilakukan sesudah doa malam atau sebelum rutinitas pagi. Pukul 3 .30 pagi saya bangun, lalu doa dilanjutkan meditasi. Lumayan kalau ada masalah tidak langsung nyamber ke titik emosi negatif saya, kepala jadi agak adem.

Penyebab kematian Alvin masih bersarang di otak saya. Karena itu akhirnya saya bawa dalam meditasi pernafasan saya. Apa yang didapat saudara? Ingatan kembali ke tahun 2013 saat tetangga baru saya membabat habis pohon tanjung dan membuat hati saya biru lebam. Otak saya menghubungkan pohon tanjung itu adalah sumber oksigen untuk tiap mahluk yang ada di sekitarnya. Pohon adalah pabrik oksigen. Pohon ditebang artinya kita menghancurkan pabrik oksigen. Artinya merampas oksigen dari mahluk  yang membutuhkannya. Alvin mati kekurangan oksigen. Bapaknya Alvin 3 tahun lalu menghilangkan sumber oksigen.  Bapak Alvin mengubah batas tanah yang merupakan jalan umum- hajat hidup orang banyak untuk memperluas tanahnya sendiri. Sekarang hidup Alvin terenggut?

Dalam meditasi itu air mata saya menetes deras. Saat itu saya sangat takut dengan hukum alam. Atau huku karma. Atau hukum sebab akibat. Atau hukum pamali yang ayah saya katakan. Saya sangat takut. Otak neokortek saya yang merupakan otak akal budi menepis hasil analisis otak reptilia dan otak mamalia saya. Saya bertanya apakah pamali yang Ayah saya ajarkan itu benar terjadi? Apakah benar ketika kita melakukan tindakan gegabah pada alam bisa berdampak langsung seperti itu? Tapi kenapa kalau itu  benar terjadi apda anak kecil yang tak mengerti apa-apa?

Itu semua analisis di otak reptilia dan otak mamalia saya saat meditasi.  Salah satu Suhu pernah menyatakan bermeditasi itu adalah proses otak untuk menganalisis, memilah, mengungakp, menimbang, membangun,  dan akhirnya memaparkan. Namun, benar atau tidaknya, Walallahu Alam.
(Ch. Enung Martina)


Minggu, 09 Oktober 2016

RUMAH ANYO

Anyo, adalah sebuah nama yang tak asing bagi telinga saya. Nama ini membawa saya pada satu perasaan sendu, cinta, dan kagum. Rasa sendu karena mengingatkan pada peristiwa duka yang menimpa keluarga dan orang-orang yang mencintai Anyo atas kepulangannya ke Rumah Bapa. Cinta karena menghubungkan rasa kasih yang mengalir antara saya sebagai gurunya dan Anyo sebagai murid. Kagum karena perjuangannya untuk hidup.

Andrew Manulang, begitu ia dikenal di kalangan sekolah kami Santa Ursula BSD. Seorang anak yang terbit dalam ingatan saya adalah anak remaja dengan badan tinggi besar dan kepala gundul pelontos karena akibat kemoterapi yang dijalaninya. Anyo begitu nama panggilan untuk pemuda yang mengagumkan itu.

Anyo divonis terkena lekemia pada saat duduk di kelas IV SD. Dokter menyatakan bahwa saat lulus SD anak ini akan meninggal dunia. Namun, kenyataan berbicara lain, anak ini masih diberi kesempatan untuk memberikan inspirasi untuk banyak orang, termasuk saya. Saya mengenalnya saat dia berada di SMP. Akhirnya dia berpulang pada saat dia menjadi mahasiswa.

Hari Selasa, 6 September 2016, kami 4 orang guru pergi berkunjung ke rumah singgah untuk anak penderita kanker di bilangan Slipi, jakarta Barat. Rumah singgah itu bernama Rumah Anyo. Rumah Anyo memang mengacu pada satu nama yang saya sebutkan di atas. Andrew Manulang.

Orang tua Andrew Manulang mendirikan Rumah Anyo ini yang didedikasikan untuk putra mereka. Rumah ini diperuntukkan bagi pasien penderita kanker dan  keluarga  yang sedang berobat serta tidak punya tempat tinggal. Terutama dari kalangan prasejahtera.  Di rumah singgah inilah penderita kanker dan orang tuanya bisa tinggal selama berobat di Jakarta (RS Dharmais).

Ketika kami berkunjung ke sana, ada 13 anak dari rentang usia 3 tahun sampai 16 tahun yang menjadi penghuni di rumah ini. Ingatan saya menerobos pada sosok Andrew Manulang. Melihat mereka, para penghuni Rumah Anyo, kita melihat ada persamaan di antara mereka, yaitu kepala gundul. Rambut rontok akibat kemoterapi yang mereka jalani.

Ada beberapa nama yang masih saya ingat ketika saya berkenalan dengan mereka. Satu nama yang saya ingat dengan jernih,  yaitu Gibran. Nama ini saya ingat betul mungkin karena namanya yang mengingatkan pada seorang tokoh dunia, Khalil Ghibran.  Selain itu juga karena pembawaannya yang lucu, ceriwis, dan berani. Bocah berusia 3 tahun ini menderita leukemia. Namun, bila dilihat dari keceriaannya, tak ada yang menyangka bila anak ini sakit.

Dengan semangat Gibran bernyanyi bersama teman-temannya:
Satu-satu, daun-daun berguguran, tinggalkan tangkainya
Satu-satu burung kecil beterbangan, tinggalkan sarangnya
Jauh, jauh, tinggi ke langit yang biru

Andaikan aku punya sayap, ku kan terbang jauh mengelilingi angkasa
Kan ku ajak ayah bundaku terbang bersamaku melihat indahnya dunia

Suara mereka mengambang di udara Jakarta  yang basah sore itu. Suara beningnya menembus langsung ke jantung saya.Saya perempuan paruh baya yang cengeng. Namun, saya berusaha untuk tidak menangis mendengar nyanyian mereka.

Dalam kepala saya berkecamuk mempertanyakan yang sehararusnya tidak perlu saya tanyakan. Mengapa ada penderitaan? Mengapa anak-anak polos itu harus menderita? Dan banyak lagi pertanyaan yang menandakan keegoisan saya dan kedunguan hati yang  saya lontarkan.


Namun semua jawabannya ada pada kata-kata Sang Maestro. Karena : Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tidak memiliki, pun tidak ingin dimiliki. Karena cinta telah cukup bagi cinta (Khalil Gibran)
Ch. Enung Martina

Jumat, 19 Agustus 2016

BEKERJA SINERGI


BERSINERGI DALAM MERAIH PRESTASI



Sinergi berasal dari bahasa Yunani synergos yang berarti bekerja bersama-sama. Sinergi adalah suatu bentuk dari sebuah proses atau interaksi yang menghasilkan suatu keseimbangan yang harmonis sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang optimum. Ada beberapa syarat utama penciptaan sinergi yakni kepercayaan, komunikasi yang efektif, feedback yang cepat, dan kreativitas.



Apa yang kita lihat pada gambar di atas? Beberapa orang melihat itu gambar kepala bebek. Sementara orang lain melihatnya itu adalah kepala kelinci. Kedua pihak melihat gambar yang sama, tetapi bisa menafsirkan berbeda. Jawaban keduanya benar.    Kita melihat garis-garis hitam dan putih yang sama tapi kita menafsirkannya berbeda karena kita telah dikondisikan untuk menafsirkan secara berbeda.

Bila kita menghargai perbedaan persepsi kita, karena  kita menghargai satu sama lain dan memberikan kepercayaan terhadap kemungkinan bahwa kita kedua belah pihak benar.  Bahwa ternyata hidup tidak selalu dikotomis baik / buruk, karena ada alternatif ketiga yang disebut jalan tengah. Alternatif yang kreatif memandang sesuatu dari cara yang berbeda  yang melampaui batas-batas  yang  ada.

Alterrnatif ketiga itu adalah bersinergi. Alternatif ini didasari oleh habit ke-4  dalam 7 kebiasaan yaitu berpikir menang-menang dan habit ke-5 berusaha memahami orang lain sebelum dipahami. 


Sinergi berarti menggabungkan bagian-bagian sehingga menjadi  keseluruhan  yang lebih besar daripada jumlah yang seharusnya. Secara matematis 2+2=4. Namun, dalam sinergi bisa menjadi 6, 8, 10, 25, dst. 

Sinergi adalah aktivitas tertinggi dalam kehidupan. Dia menarik paralel dengan alam yang terdapat sinergi di mana-mana. Jika Anda menanam dua tanaman berdekatan, akar bersimbiosis dan meningkatkan kualitas tanah sehingga kedua tanaman akan tumbuh lebih baik daripada jika mereka dipisahkan (Steven Covey).

Inti dari sinergi adalah menghargai dan menghormati perbedaan, membangun kekuatan, serta
mengimbangi kelemahan. Dengan bergabungnya beberapa orang akan sekian banyak perbedaan. Namun perbedaan itu bukan menjadi masalah karena setiap individu menghormati perbedaan, bahkan merayakannya. Kelemhan setiap individu akan terimabngi dengan kekuatan dari tiap-tiap pribadi yang menyatu. Maka ketika kekuatan menyatu, kelemahan bukan lagi menjadi penghalang. Yang ada hanyalah kekuatan untuk bisa bekerja sama untuk mencapai tujuan  dan menghasilkan buah-buah yang berlimpah.


Hal ini terjadi pada kelas yang dipercayakan sebagai kelas asuhan saya sebagai wali kelas. Saya mendapatkan kelas yang luar biasa. Kelas ini dipercayakan kepada saya mulai dari kelas VII hingga sekarang kelas IXA. Saya mengikuti mereka sebagai walinya dengan terkadang menguras energi untuk bisa mencapai tujuan memajukan mereka baik secara individu maupun kelas secara bersama. Perbedaan latar belakang mereka membentuk karakter yang rupanya tidak mudah untuk disatukan dalam satu wadah yang harus ada kerja sama di dalamnya.

Karakter kelas ini luar biasa sukarnya untuk menyatu. Satu dengan yang lain saling mencurigai. Mulai terbentuk satu anak cocok dengan yang lain. Sementara anak lain tidak menyukai yang lainnya. Namun, dengan berbagai strategi dan trik, mulai dari yang halus hingga yang keras dicoba untuk bisa membawa mereka pada kesadaran bahwa mereka itu ditakdirkan bersama dalam satu kelas untuk saling berbagi demi mencapai tujuan menjadi manusia yang cerdas, utuh, dan melayani.

Pekerjaan yang tidak mudah memang. Wali kelas harus kreatif menciptakan cara untuk membuat kelas ini menyadari bahwa mereka saling membutuhkan. Menyadari bahwa dengan kerja sama maka tujuan akan lebih ringan untuk dicapai. Menyadari bahwa manusia itu butuh orang lain. Saya sebagai wali kelas berusaha sedikit-demi sedikit melalui berbagai pengalaman yang mereka lalui memberi penyadaran akan hal itu. 



Sesudah 2 tahun mereka bersama dalam gontok-gontokan, pertengkaran, dan kesemerawutan dalam rangka mencapai kesadaran bahwa kelas ini adalah milik bersama,
akhirnya pada tanggal 17 Agustus 2016, usaha di atas ada hasilnya. Ceritanya agak dramatis memang.

Hari itu sekolah kami mengadakan upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-71. Sesudah upacara berlangsung, OSIS SMP/SMA menggelar aneka lomba. Perlombaan itu diikuti oleh setiap kelas SMP dan SMA. Hari itu saya tidak utuh mengikuti kegiatan ini karena saya ijin untuk menunggu anak kedua saya yang dirawat di rumah sakit. Hari itu merupakan hari yang sangat sibuk untuk saya sehingga tidak sempat membuka HP dengan media sosialnya. Rupanya kelas IXA di grup line mereka sudah ramai membicarakan kemenangan mereka. Siang itu mereka mencari saya ke setiap penjuru sekolah karena ingin mempersembahkan medali mereka yang diraih dengan kerja keras mereka. Mereka meraih juara II dalam perlombaan tersebut. 



Keesokan harinya, Kamis, 18 Agustus, saya masuk kelas mereka. Mereka menyampaikan medali tersebut. Satu anak sebagai wakil kelas berkata: “u, sesudah 2 tahun akhirnya kami berhasil. Terima kasih, Bu.“ Mereka mengucapkan terima kasih pada saya, padahal saya tidak melakukan apa – apa untuk perlombaan mereka. Rupanya mereka menyadari bahwa prestasi tersebut tercapai karena adanya sinergi di antara mereka yang selama ini saya upayakan dengan berbagai cara. Begitulah sinergi. Ketika itu terwujud, maka akan ada kemenangan bersama yang dirasakan.

 Ch. Enung Martina




Selasa, 12 Juli 2016

Liburan 5: PAGODA EKAYANA


Pagoda setinggi 9 lantai membawa imajinasi ke film Sun Go Kong, kisah legenda Kera Sakti dari China. Pagoda ini merupakan  Vihara Buddhayana, sebuah tempat beribadah bagi Umat Budha. Suatu hal unik ditemukan, di tempat yang penduduknya kebanyakan beragama Kristen ada sebuah vihara yang megah. Keberadaan Vihara ini menggambarkan kerukunan antar umat beragama di Kota Tomohon.

Kami tiba di tempat ini pada saat hari masih pagi. Sejuknya Kota Bunga Tomohon menambah semarak pagi itu. Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan panorama alam yang indah dan asri.

Di hadapan kami berdiri megah dan anggun  Vihara Buddhayana yang sering disebut juga Pagoda Ekayana. Dari kompleks ini kita bisa melihat pemandangan Gunung Lokon. Om Boy menjelaskan bahwa Kota Tomohon memiliki empat buah gunung, dua di antaranya masih aktif, yaitu Gunung Lokon dan Gunung Mahawu. Gunung Lokon adalah gunung tertinggi di Kota Tomohon dengan ketinggian 1580 mdpl. Selain panorama gunung, hamparan hijau tanaman dan bunga-bunga juga melengkapi keindahan vihara ini.

Memasuki gerbang vihara, kami disambut dengan jejeran 18 patung Lohan atau Arhats, yaitu pengikut “delapan belas jalan” Buddha. Mereka adalah Pindola, Nantimitolo, Pantha the Elder, Angida, Asita, Rahula, Nagasena, Gobaka, Pantha the Younger, Fajraputra, Nakula, Bodhidarma, Vanavasa, Kanaka The Bharadavaja, Katika, The Vatsa, Nandimitra, dan Pindola the Bharadvaja. Begitu tulisan yang saya baca dari setiap patung yang ada di sana. Penjelasannya panjang. Kalau saya jelaskan nanti jadi pelajaran Agama Budha.

Nampaknya pengurus vihara memelihara seluruh bangunan dengan sangat baik. Mereka memahami bahwa selain untuk tempat ibadah, Vihara Buddhayana juga merupakan salah satu daya tarik pariwisata Kota Tomohon. Para wisatawan  yang datang bisa menikmati keindahan arsitektur seluruh bagian vihara dengan tetap menghormati keberadaan Vihara Buddhayana sebagai tempat ibadah.

Pengunjung diperbolehkan untuk memasuki beberapa ruangan. Saya memasuki 3 bangunan yang setiap ruangan tersebut menampilkan keindahan arsitektur Cina yang nenawan. Setiap ruangan yang saya masuki terasa hawanya adem, mak nyus. Selain karena udara sekitarnya sejuk, juga karena itu tempat berdoa sehingga menimbulkan aura doa. Setiap masuk ruangan saya berdoa sesuai denan iman saya. Saya beranggapan bahwa ketika masuk di tempat doa, ya pantaslah kalau kita berdoa.

Ketika memasuki bangunan pagoda utama yang bertingkat 9 itu, saya sangat terkesan. Pengunjung diperbolehkan menaiki setiap tingkatnya. Saya menaikinya hingga ke tingkat 9. Perlu dicatat tidak ada eskalator atau lift untuk menaiki tangga-tangga itu. Ya, rada ngos-ngosan juga pada usia oversek seperti ini. Bukan masalah capenya, tetapi kepalanya yang mumet lihat ke bawah, apa lagi saya fobia ketinggian. Namun, saya berperinsip kalau saya masih bisa saya harus mencobanya karena pasti ada makna yang saya dapatkan ketika melakukan itu. Pada tingkat ke-9, saya terpana melihat panorama dari ketinggian. Gunung Lokon yang menjulang dengan hamparan biru kehijauan di bawahnya. Luar biasa indahnya.
Saat berada di tingkat terakhir ini saya jadi ingat Legenda Ular Putih yang saya tonton beberapa puluh tahun lalu. Bai Su Zhen (Pai Su Chen) yang diperankan Angie Chiu, berusaha menaiki Menara Petir yang bertingkat sembilan untuk memenuhi persyaratan agar terjadi keseimbangan di dunia yang selama ini terjadi bencana (tidak seimbang) karena ulahnya menikah denagn manusia yang bernama Xu Xian (Shi Han Wen). Sambil tenguk-tenguk melihat keindahan alam dari tingkat 9 menara ini, saya membayangkan Mbak Pai Su Chen yang ayu itu.

Setelah puas menikmati keindahan dari puncak menara, saya turun. Di bawah saya lebih jeli memperhatikan deretan 18 patung yang saya sebut di atas. Ketika diperhatikan ada sesuatu yang menurut saya aneh. Semua patung dalam ruangan vihara itu patung berwajah Tionghoa, tetapi 18 patung di luar wajahnya bukan wajah China. Itulah keunukannya,  patung-patung Budha tadi berwajah  India. Patung Bodhidharma tersebut mengambarkan Buddha dengan jenggot yang sebenarnya khas India, bukan China.



Saya juga memasuki bangunan lain di samping pagoda, yaitu Istana Kwam Im. Di sini, bisa melakukan ramalan kuno Ciam Si. Ciam Si merupakan ramalan yang berdasarkan syair-syair kuno China. Beberapa batang bambu seperti sumpit lebar diletakkan dalam wadah bambu bulat. Masing-masing batang bambu berisikan nomor. Wadah bambu kemudian dikocok hingga mengeluarkan satu batang bambu. Dari nomor yang tertera di batang bambu, tinggal mencocokannya dengan kotak yang berada di sisi kiri dinding. Nah, di kotak tersebut kertas berisikan ramalan. Ramalan tertera dalam kanji-kanji khas tulisan China. Tetapi ada terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Saya tidak melakukan ritual meramal ini. Bagi saya itu tidak penting. Saya lebih tertarik pada keindahan arsitektur bangunan dan patung-patungnya.

Bagi yang suka ramal-meramal, masih bisa melanjutkan ramalannya di bangunan samping Istana Kwan Im. Kita bisa berjalan  terus ke belakang vihara. Di sini kita bisa  berkenalan dengan kodok yang membawa koin, simbol dari keberuntungan. Di depan patung kodok raksasa terdapat kolam air. Di tengah kolam tersebut terdapat lonceng. Pengunjung dipersilahkan melempar koin ke lonceng. Jika lonceng terkena koin, konon doanya akan terkabul. Terdengar mudah? Nyatanya, terdapat replika koin China, koin kuno yang memiliki lubang di tengah, menghalangi lonceng ini. Koin replica raksasa tersebut berputar-putar mengelilingi lonceng. Sementara lonceng berada di tengah-tengah lubang koin. Di tepi kolam terdapat 5 bagian, yaitu “Bahagia”, “Harta”, “Panjang Umur”, “Kedudukan atau Pangkat”, dan “Keberuntungan”. Pengunjung tinggal mengambil posisi sesuai permohonan yang  dinginkan, lalu lempar koin ke arah lonceng. O, ya beberap teman berhasil, salah satunya Mama Tua: Ibu Maria!!!!

Begitulah perjalanan kami ke Pagoda nan menjulang itu! (Ch. Enung Martina)

https://www.youtube.com/watch?v=pT5bA6W1DJE



Jumat, 08 Juli 2016

Liburan 4: Menikmati Surga Bunaken


Tak lengkap bila pergi ke Manado tidak pergi ke Bunaken. Maka pada hari kedua, kami keluarga besar St. Ursula BSD, pagi-pagi buta sudah mengantri di depan ruang makan hotel. Para pegawai hotel sepertinya agak risih juga dengan para tamu rombongan besar yang sangat siap untuk menyerbu makanan. Peserta bukan karena sudah sangat kelaparan menantikan makan, melainkan karena ada komando yang mengatakan pukul 7.00 WITA makan dan bersiap-siap untuk wisata bahari kami pada hari ini. Namun, peserta menanti dengan tertib. Karena kami memang warga yang baik dan taat aturan.

Dengan aneka kostum yang siap untuk berbasah-basah terciprat air, para peserta nampaknya sudah benar-benar menantikan untuk menjelajah Bunaken. Tujuan utama hari ini memang Pulau Bunaken. dari hotel kami menuju ke dermaga dengan bis. Di sana bis air sudah menanti kami. Kami naik boat berdasarkan aktivitas yang dipilih sebelumnya, yaitu snorkling dan atau submarine. Saya hanya memilih submarine. Hati saya belum berani untuk secara langsung terjun ke laut, meskipun ada alat pengaman. Saya memang fobia air dan ketinggian.

Saya naik boat dengan peserta lain yang memilih untuk kegiatan submarime dan yang memilih 2 kegiatan sekaligus: submarine dan snorkling. kami berangkat mendahului yang lain.  Ketika kami meninggalkan daratan menuju Pulau Bunaken, kami melihat pemandangan yang mirip dengan yang pernah kami lihat pada saat pergi ke Itali, yaitu di Danau Garda. Pada saat kami meninggalkan Kota Salo menuju Desenzano melalui Danau Garda dengan boat, kami melihat pemandangan yang menawan yaitu daratan yang makin lama menjauh dari kami. Hal serupa juga terjadi saat ini.

Air laut yang biru bening berbuih karena boat yang kami naiki menerobosnya. Lautnya begitu bersih. Biru dan bening. Melihat kenyataan ini, hati saya melonjak karena terpesona oleh keelokan alam. Hati siapa pun akan terpesona melihat keindahan ini. Pantas saja para turis domestik atau pun mancanegara begitu mendewakan laut Bunaken.

Untuk menunggu sampai di tempat tujuan, para peserta mengisinya dengan menikmati keindahan panorama, mengambil foto diri dan alam, mengobrol, bercanda, melamun, tidur-tidur ayam, dan beberapa orang mejeng di atas geladak dekat haluan. Matahari mulai terasa terik di badan, meski hari masih tergolong pagi. lama-lama saya tergoda juga untuk ikut bergabung dengan keriuhan teman-teman yang sedang mejeng di haluan. Akhirnya saya menggabungkan diri. Benar saja merak sedang asyik selfi, foto bersama, dan saling ribut memberi komentar dengan berbagai gaya. Jadilah saya menjadi bagian dari orang yang benar-benar menimkati laut, angin, juga matahari Minahasa nan terik.

Karena melihat kemolekan alam, mendorong kami untuk bernyanyi. Lagu yang kami bawakan adalah lagu Rayuan Pulau Kelapa kalau tidak salah karya Taufik Ismail. Betul Miss Ocha? Lagu ini  menggambarkan tentang negri yang begitu indah. Tanah airku Indonesia, Negeri elok amat kucinta, Tanah tumpah darahku yang mulia,Yang kupuja sepanjang masa. Tanah airku aman dan makmur, Pulau kelapa yang amat subur, Pulau melati pujaan bangsa, Sejak dulu kala. Saat refrein kami membawakannya lebih bersemangat. Melambai lambai, Nyiur di pantai, Berbisik bisik, Raja Kelana. Memuja pulau, Nan indah permai, Tanah Airku, Indonesia!!!. Keseseluruhan lagu itu kami bawakan sambil merem melek. Ada beberapa orang merentangkan tangannya di haluan. Menirukan adegan dalam video klip lagu India? Entahlah. Pasti pernah melihat refrensi sebelumnya.

Sebenarnya rombongan boat kami bisa langsung submarine dengan berganti boat submarine. Namun, airnya belum pasang sehingga tak memungkinkan kapalnya tenggelam jauh ke dalam. karena itu, tour guide memutuskan membawa rombongan menuju Pulau Bunaken dulu untuk menikmati keindahannya dan makanan atau minuman di pulau itu.  Jadilah kami rombongan yang pertama tiba di pulau.

Segeralah saya dan beberapa orang mencari pembuangan akhir membuang hajat kecil kami. Suster Francesco sebagai seorang yang paling kaya dalam rombongan, segeralah mentraktir kami makan pisang goreng sambal terasi, bukan sambal roa. Minumannya beli sendiri-sendiri. Saya pesan kelapa muda satu butir. Hijau dan muda. So, pasati sadap! Datanglah pisang goreng traktiran dari Suster. Pisangnya diiris  besar, tebal, digoreng kekuningan, garing, dan tepungnya renyah. Dalam keadaan mengepul panas disajikan pada setiap meja-bangku kayu di bawah pohon rindang  yang kami duduki. Tak lupa sambalnya. Pisang goreng tadi dicoelkan ke sambal yang didominasi oleh rawit dan bawang merah. Wessss, mak nyussss!!!!

Di sinilah kami sekarang sedang duduk. Tempat kami berada kali ini di Pulau Bunaken yang merupakan   sebuah pulau seluas 8,08 km² di Teluk Manado, yang terletak di utara pulau Sulawesi. Pulau ini merupakan bagian dari kota Manado, ibu kota provinsi Sulawesi Utara. Di sekitar pulau ini dikelilingi laut yang disebut sebagai Taman laut Bunaken yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken. Menurut pemandu, Taman Nasional Bunaken meliputi area seluas 75.265 hektare dengan lima pulau yang berada di dalamnya, yakni Pulau Manado Tua (Manarauw), Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage berikut beberapa anak pulaunya, dan Pulau Naen.  Lokasi penyelaman (diving) berada hanya terbatas di masing-masing pantai yang mengelilingi kelima pulau tadi.  Taman laut Bunaken memiliki 20 titik penyelaman (dive spot) dengan kedalaman bervariasi hingga 1.344 meter. Dari 20 titik selam itu, 12 titik selam di antaranya berada di sekitar Pulau Bunaken. Dua belas titik penyelaman inilah yang paling kerap dikunjungi penyelam dan pecinta keindahan pemandangan bawah laut.

Saat selesai menikmati sejuknya air kelapa muda dan hangat-legitnya pisang goreng, kami keling shoping di kios-kios sederhana untuk mencari sekedar oleh-oleh kaos bertuliskan ‘bunaken’  sebagai bukti bahwa pernah datang di pulau ini.  Mulailah belanja. Ke mana pun perginya, belanja tak pernah lupa.

Tiba saatnya kami untuk berpetualang laut. Kami naik boat untuk berganti dengan submarine. bagi teman yang akan ikut snorkling juga, mereka harus memakai baju dan peralatan yang sudah mereka sewa. Sebelum kami naik ke submarine, kami diajak dulu melihat  dunia bawah laut dengan glass bottom boat. Dari kaca yang berada di dasar perahu itu, kami bisa melihat bawah laut dengan aneka biotanya. Air Laut Bunaken yang jernih memmungkinkan kami untuk melihat aneka biota yang ada di dalam laut sana. Sungguh mempesona. Ikan, kuda laut, bintang laut, babi laut, karang, rumput laut, anemon, ubur-ubur, mahluk ini, mahluk itu, dan aneka mahluk yang ada di laut yang belum pernah saya lihat nampak dari balik kaca tersebut. Itu baru sebagian mahluk laut yang mauncul. Ada sumber yang pernah saya baca bahwa biota laut itu jauh lebih beragam daripada di darat. Saya sungguh terpana melihat kenyataan betapa indahnya dasar laut!

Tiba saatnya untuk berpindah ke submarine. Teman-teman yang akan ikut snorkling juga sudah terlebih dahulu ke submarine. Sekarang mereka dibawa ke arah laut tempat mereka akan nyebur untuk menjadi ‘mahluk laut’ sementara waktu.

Kami masuk ke submarine dan turun menuju ruangan yang dikelilingi kaca semua untuk melihat ke dasar laut. Pendingin ruangan sudah menyala, dan mesin sudah dihidupkan. Mulailah submarine ini bergerak. Perlahan membelah laut. Air semuanya  di sekeliling kami. Mulailah tampak rumput laut, lumut, ubur-ubur, ikan kecil sejenis nemo dan dori, ikan belang berkostum tahanan penjara, karang putih-ijo-kuning-ping-kebiruan. Makin jauh laut makin dalam. Air agak gelap kebiruan. Saya agak merinding melihat palung-palung laut yang airnya kehitaman menandakan betapa dalamnya dia. Saya melihat dinding-dinding seperti jurang kalau di daratan, tetapi semuanya ditumbuhi aneka karang dengan aneka warna dan bentuk. Saya hanya ngowoh saja melihat keajaiban ini. Di sekitarnya aneka ikan yang cantik dengan warna emas, perak, kuning, hitam, biru, neon, menyala, ping, totol-totol, dll berenang berkejaran. Saya seperti dalam dunia finding nemo dan finding dori. Apa yang ada dalam film itu di sini nyatanya juga ada di hadapan saya, hanya dibatasai kaca tebal saja.  Ketika melewati palung yang gelap, saya membayangkan monster laut mungkin juga bersemayam di dalamnya. Keindahan ini sepertinya berada di dunia lain, antah berantah. Laut memang dunia lain yang penuh keindahan, keajaiban, sekaligus penuh misteri.

Satu jam kami berada di submarine tak terasa. Tahu-tahu mesin pendingin mati dan mesin pun berhenti. Kami dipersilakan kembali naik ke geladak. Otak saya masih penuh dengan dunia bawah laut.  

Ternyata ketika saya mencari sumber tentang keindahan bawah laut tadi begini penjelasan wikipedia: Sebagian besar dari 12 titik penyelaman di Pulau Bunaken berjajar dari bagian tenggara hingga bagian barat laut pulau tersebut. Di wilayah inilah terdapat underwater great walls, yang disebut juga hanging walls, atau dinding-dinding karang raksasa yang berdiri vertikal dan melengkung ke atas. Dinding karang ini juga menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan di perairan sekitar Pulau Bunaken.

Taman laut Bunaken  terletak di Segitiga Terumbu Karang, menjadi habitat bagi 390 spesies terumbu karang dan juga berbagai spesies ikan, moluska, reptil dan mamalia laut. Taman ini merupakan perwakilan ekosistem laut Indonesia, meliputi padang rumput laut, terumbu karang dan ekosistem pantai.

Sumber lain mengatakan bahwa ada sekitar 13 jenis terumbu karang  yang menjulang terjal vertikal ke bawah sedalam sekitar 25 – 50 meter. Kita juga  dimanjakan dengan pemandangan yang disuguhkan oleh sekitar 91 species ikan yang ada di Taman Laut Bunaken. antara lain koi putih (Seriola rivoliana), gusimi lokal(Hippocampus), nila gasi (Scolopsis bilineatus), goropa (spilotocepsep hinephelus dan hypselosoma Pseudanthias), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), dan banyak yang lain. tidak hanya itu disini juga banyak ditemukan moluska seperti ikan kepala kambing (Cassis cornuta), nautilus (Nautilus pompillius), kima raksasa (Tridacna gigas), dan tunikates atau askidian.

Kami kembali lagi ke boat yang tadi membawa kami. Sekarang kami akan kembali ke Pulau Bunaken untuk menikmati makan siang. Tak terasa hari sudah menujukkan pukul 13.00 WITA. Beberapa teman yang tidak ikut submarine sudah mulai menikmati makian siang. Segeralah kami membereskan diri di kamar mandi yang bisa disewa untuk membilas diri.
Hidangan di hadapan kami adalah: nasi putih hangat, acar tomat dan bawang beraroma lemong cui, ikan bakar, ikan gule, ikan goreng, kari ayam, cah kangkung, cah bunga pepaya, sup ikan, sambal cabe-bawang merah, dan bakwan jagung. Segeralah kami menyerbu hidangan ini. Perut memang sudah lapar.  (Ch. Enung Martina)





Kamis, 07 Juli 2016

Liburan 3: Bereksplorasi di Kota Manado


Whiz Prime Megamas Manado yang terletak di Jl. Piere Tendean Boulevard, Manado, Sulawesi Utara merupakan hotel yang menjadi tempat penginapan kami.  Kawasan Mega Mas ini merupakan kawasan hasil reklamasi pantai yang dimulai sejak tahun 1996.  kawasan ini sekarang menjadi kawasan bisnis yang digunakan untuk pusat perbelanjaan, hotel, restoran, dan aneka tempat hiburan.

Ketika pemandu wisata menjelaskan bahwa kawasan ini merupakan hasil reklamasi, saya jadi teringat tentang pro dan kontra reklamasi pantai di Teluk Jakarta. Karena saya penasaran tentang reklamasi di Manado ini yang sekarang hasilnya sudah menjadi bagian  pusat kota ini, saya akhirnya mencari beberapa informasi tentang reklamasi ini.

Pesatnya pertumbuhan penduduk di kota Manado tentu mendorong pembangunan dan pengadaan lahan baru untuk dihuni maupun kebutuhan komersial. Namun, dengan terfokusnya pembangunan pada satu daerah dan tidak meratanya pembangunan di daerah lain pasti akan mendorong masyarakat untuk menetap dan melakukan kegiatan perniagaan pada daerah yang dianggap sudah maju dan menjanjikan. Hal inilah yang mendorong gencarnya pembangunan di daerah kota Manado. Lalu bagaimana dengan luas wilayah kota Manado sendiri? Bukankah jika pembangunan terus dilakukan justru akan berakibat pada berkurang atau bahkan tidak tersisanya lahan untuk pembangunan? Dari hal inilah muncul “konsep pembangunan ke depan” yang dinamakan reklamasi pantai.

Dilihat dari segi ekonomi mungkin reklamasi pantai adalah solusi pembangunan yang sangat menjanjikan, tetapi jika dilihat dari segi ekologi apakah reklamasi pantai cukup menjanjikan? Itulah yang menjadi pertanyaan saya yang sebenarnya itu pertanyaan retoris. Semua orang sudah tahu jawaban atas pertanyaan tadi. 

Reklamasi pantai bukanlah hal yang baru di kota Manado, pesatnya perkembangan teknologi dan pembangunan serta terus bertambahnya jumlah penduduk mendorong reklamasi pantai untuk segera dilakukan. Namun, apa  yang terlihat di kawasan Boulevard, reklamasi pantai menjadi sarana bisnis yang menjanjikan dan bukannya menjadi lahan untuk dihuni. Reklamasi memberikan keuntungan dan dapat membantu kota dalam rangka penyediaan lahan untuk berbagai keperluan, penataan daerah pantai, pengembangan wisata bahari, dan terutama untuk kawasan perbisnisan. 

Pertanyaan retoris saya tentang dampak bagi lingkungan ternyata sudah nampak di depan mata saya. Di depan hotel tempat kami menginap dibangun deretan  restoran yang aktif buka pada sore hari sampai jauh malam. Nah, deretan restoran ini agak mengganggu panorama ke laut lepas dari jalan raya di depan hotel karena pemandangan terhalang oleh bagunan restoran-restoran tadi. Selain itu, para pedagang  makanan di restoran tersebut juga membuang limbahnya sembarangan ke sela-sela tumpukan batu-batu besar yang ditumpuk di tepi laut. Aroma limbah di sekitar restoran itu agak menganggu penciuman.  Saya jadi teringat kuliner saya di Pantai Jimbaran, Bali beberapa tahun yang lalu. Kami makan di meja yang ditata pemilik restoran di pantai. Sambil menikmati laut lepas para pengunjung bisa menikmati pesanannya. Suasananya sungguh romantis. Sepertinya Menado bisa meniru ala Bali. Meskipun pantai di Jimbaran dan di Bulevard seperti langit dan bumi. Namun, laut tetaplah laut akan menampakkan keindahannya tersendiri.

Itu dampak negatif yang saya lihat. Dampak lain yang mengakibatkan rusaknya biota laut pasti terjadi. Hal itu juga berdampak bagi para nelayan tradisional di sekitar kawasan ini yang pasti hasil tangkapannya berkurang. Pembangunan ada, pasti juga ada harga yang harus dibayar, bukan?

Saya berjalan-jalan di sekitar kawasan ini bersama kawan saya, Ibu Devota Maria Layan. Kami berkeliling seputar kompleks hotel kami. Pada acara bebas, kami menikmati makan malam kami di restoran tepi pantai dengan menu bertema BABI!!!! Saya memesan miba (mi babi), bu Maria memesan babi panggang. Masalah rasa? Jangan tanya! So pasti sedap Jo!

Hari kedua, kami nekat mencari Gereja Katolik terdekat dari hotel. Kami keluar dari kamar pukul 05.15. Dengan modal bertanya pada resepsionis hotel dan beberapa orang bapak yang ada di sekitar kompleks Bolevard Mega Mas. Dari seorang bapak yang sedang menyapu di depan salah satu restoran, kami mendapat petunjuk ke arah Katedral Manado.

Akhirnya kami berjalan ke arah jalan raya. Begitu ada angkot lewat kami hentikan dan naiklah kami. Ketika kami menyebutkan tujuan kami Abang Angkot agak mengerenyitkan alis. Alur kendaraan di sini satu arah. Jadi kami melewati jalan yang sama yang kami mlewati beberapa kali dengan bis kami. Akhirnya kami diturunkan persis di depan pintu Katedral St. Joseph Manado. Persis ketika Pastur pemimpin Misa memberikan kata pengantar, kami pun masuk dari pintu samping. Umat yang mengikuti misa pagi tidak begitu banyak seperti pada umumnya misa pagi di luar misa wajib. Umat yang hadir kebanyakan para suster dan anak-anak sekolah. Kami menduga anak asrama yang ada di sekitar komplek situ.

Pulangnya kami berjalan kaki berdasarkan petunjuk dari seorang ibu, salah satu umat di misa pagi tadi. Dari Katedral kami menyebrang dan masuk jalan gang di samping komplek sekolah. Kami ikuti insting bahwa pantai tepat lurus di depan kami. Kami jalan lurus terus. Hingga akhirnya kami melihat pantai. Nah, ternyata sangat dekat jarak pantai dengan katedral. Pantas saja sopir angkot mengerenyitkan alisnya waktu kami menyebutkan tujuan kami ke Katedral.

Kami berhsil bereksplorasi di Kota manado. Keberhasilan eksplorasi kami,  Ibu Maria wartakan kepada teman-teman. hasilnya besok pagi kami mendapat teman 7 orang ikut misa pagi. Akhirnya kami misa pagi bersembilan. (Ch. Enung Martina)