Minggu, 28 Juli 2019

JEJAK LANGKAH 9



GEREJA VISITASI (EIN KAREM)

Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. —Lukas 1:46-47
Tatkala duduk kita di halaman Gereja Visitasi di Ein Karem, Israel, kita melihat enam puluh tujuh mosaik bertuliskan perkataan dari Lukas 1:46-55 dalam berbagai bahasa. Bagian Alkitab tersebut umumnya dikenal sebagai Magnificat, bahasa Latin yang artinya “memuliakan”, dan merupakan ungkapan sukacita Maria menanggapi berita bahwa ia akan menjadi ibu dari Sang Mesias.

Setiap plakat berisi pujian Maria tersebut, termasuk: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, . . . karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (ay.46-49). Nyanyian Alkitab yang terukir pada potongan mosaik itu adalah lagu pujian Maria yang menceritakan kesetiaan Allah kepadanya dan kepada bangsa Israel.

Sebagai seorang legioner (anggota Legio Maria) saya hafal ayat ini karena ayat ini menjadi doa Katena para legioner di seluruh dunia yang harus kami ucapkan setiap hari sebagai doa wajib legioner. Karena itu, saya agak melo ketika tiba di Gereja Visitasi ini. Bagi saya gereja ini mengingatkan pada dua orang perempuan yang dianugrahi Tuhan untuk mendapatkan buah hati dengan keajaaibannya masing-masing. Saya pun perempuan yang dianugrahi Tuhan dengan sukacita karena saya mempunyai 3 orang buah hati. Buah hati saya yang bungsu didapatkan nyaris usia saya seperti Elisabeth, kala usia senja. Saya mendapatkan anak bungsu saat saya 46 tahun. Jadi tentu saja hati saya tambah melo saat mengunjungi gereja ini. 

Setelah menerima anugerah Allah, Maria bersyukur dan bersukaria karena keselamatannya (ay.47). Ia mengakui bahwa rahmat Tuhan telah diberikan kepada bangsa Israel turun-temurun (ay.50). Sembari mengingat kembali pemeliharaan Allah bagi bangsa Israel, Maria memuji Allah atas perbuatan tangan-Nya yang penuh kuasa bagi umat-Nya (ay.51). Ia juga bersyukur kepada Allah, karena menyadari bahwa pemeliharaan yang ia alami setiap hari itu berasal dari Tuhan (ay.53).

Maria menunjukkan bahwa mengingat-ingat perbuatan besar Allah bagi kita adalah satu cara untuk mengungkapkan pujian dan dapat membuat kita bersukacita. Pada setiap peristiwa  ingatlah kebaikan Allah yang telah dialami sepanjang tahun. Keping-keping kenangan itu akan menghasilkan bagi kita mosaik pujian yang sangat indah.
Gereja ini terdiri dari dua bagian : bawah dan atas. Di bagian atas terdapat banyak lukisan dinding yang indah yang dibuat oleh C. Vagarini dan F. Manetti. Gereja ini mengenangkan perjumpaan Maria dengan Elizabeth yang sudah mengandung Yohanes Pembaptis. Pada saat itu, Elizabeth berkata, Siapa saya, sehingga ibu Tuhan datang kepada saya ? (Luk 1 : 43). Maria menanggapinya dengan sebuah madah indah yang kini dikenal sebagai  MAGNIFICAT. 

Teks Magnificat dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dapat dibaca pada tembok di halaman Basilika. Basilika sendiri didirikan pada tahun 1935 menurut rancangan A. Berluzzi di atas puing-puing gereja-gereja terdahulu. Gereja yang pertama didirikan pada abad IV. Dalam kapel di bagian bawah basilika, kunjungan Maria kepada Elizabeth diabadikan dalam sebuah lukisan pada tembok di belakang altar. Lukisan itu dibuat oleh A. Minghetti. Di sebelah altar, agak di bawah, terdapat sebuah sumur kuno. Sampai sekarang di situ terpelihara gua, tempat persembunyian Elizabeth terhadap kekejaman para algojo Raja Herodes yang menyuruh membantai semua anak berusia 2 tahun ke bawah di sekitar Bethlehem.

Bila kita mempelajari secata tekstual tentang peristiwa Maria mengunjungi kerabatnya Elisabet; keduanya sedang mengandung. Maria sedang mengandung Yesus dan Elisabet sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Maria meninggalkan setelah Pemberitaan Kabar Sukacita dan "berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda" (Lukas 1:39) untuk menemui sepupunya Elizabeth. Terdapat beberapa kota yang diyakini menjadi tempat kunjungan tersebut, yakni Hebron yang berada di selatan Yerusalem, dan Ein Karem. Perjalanan dari Nazareth ke Hebron berjarak sekitar 130 km (81 mi) dalam jalur langsung. Elisabet telah mengandung selama enam bulan sebelum Maria datang (Lukas 1:36). Maria tinggal di sana selama tiga bulan, dan sebagian besar akademisi sepakat bahwa ia tetap tinggal untuk melihat kelahiran Yohanes.
Dalam Gereja Katolik Roma dan Ritus Latin, Maria Mengunjungi Elisabet merupakan Peristiwa Gembira kedua dalam Doa Rosario.

Gereja Visitasi terletak di bagian barat-daya Yerusalem . Diceritakan bahwa untuk berjumpa dengan sepupunya Elisabeth,  Maria melintasi perjalanan panjang dari pegunungan Yehuda menuju kediaman Elisabeth.
Orang yang berziarah ke kompleks basilika ini akan langsung disambut dua patung baja yang berdiri kokoh di depan bangunan, yakni patung Maria dan Elisabet yang sedang mengandung. Patung itu menggambarkan keduanya yang sedang memberi salam satu sama lain seraya memegang dan menunjukkan kandungan masing-masing. Itu seolah-olah memberitahukan bahwa keajaiban besar sedang terjadi dalam hidup mereka. Allah mengunjungi Maria dan Elisabeth sehingga status mereka sebagai 'perempuan' yang terberkati lewat kehamilan itu.

Merujuk pada patung baja di basilika Ein Karem:  di atas kedua patung itu ada kata-kata yang patut kita dalami,  ada tertulis kata: FIDES dan di atas patung Elisabeth tertulis kata: SPES. Kedua kata ini sungguh simpel tetapi penuh makna untuk menerangkan siapakah mereka berdua dalam hidup keberimanan. Saya penasaran dengan kedua kata ini. Maka saya cari artinya. Ternyata FIDES artinya FAITH (iman) dan SPES artinya HOPE (harapan). Ini sungguh mengagumkan dan menarik bahwa Maria memang benar sebagai teladan IMAN dan Elisabeth sebagai teladan PENGHARAPAN. Kedua perempuan ini di dalam hidup mereka selalu ada iman, harapan, dan juga kasih yang melingkupi mereka.

Wikipedia melansir bahwa Satu tradisi mengaitkan pembangunan gereja pertama Ein Karem dengan permaisuri Helena dari Konstantinopel , ibu Kaisar Konstantinus , yang mengidentifikasi situs itu sebagai rumah ayah Yohanes, Zakaria,  dan merupakan tempat Elizabeth dan bayinya bersembunyi dari tentara Herodes . Di situs Gereja Visitasi, Tentara Salib mendirikan sebuah gereja berlantai dua yang didedikasikan untuk pertemuan antara Elizabeth dan Maria. Gereja tersebut didirikan di atas reruntuhan kuno yang mereka temukan di sini.

Ketika Tentara Salib diusir dari Tanah Suci, gereja berangsur-angsur rusak. Pada abad ke-14 itu untuk sementara waktu di bawah perawatan para biarawan Armenia.  Pada tahun 1480 Felix Fabri (seorang peziarah yang mempunyai catatan lengkap tentang perjalanan ziarahnya) melaporkan: "Di kapel ini ada altar yang rusak dan kubah yang hancur; di dinding adalah lukisan kuno, dan keduanya di bagian atas dan bawah. Keadaan tempat ini  ditumbuhi  semak-semak dan rerumputan yang bahkan tumbuh tumbuh di atas lemari besi. Di sini pernah ada sebuah gereja yang bagus dan megah, dan para pendeta/rabi  berdiam di sel-sel (kamar-kamar) di sampingnya. Namun,  sekarang sayang! Tempat itu telah menjadi bangunan yang hancur dan  menyedihkan.”

 Kini bangunan yang dideskripsikan dalam catatan Felix Fabri sudah berdiri dengan megah dan indah. Para peziarah dari seluruh dunia datang ke tempat ini untuk mengenangkan kembali peristiwa iman yang terjadi ribuan tahun lalu.

(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)


Selasa, 23 Juli 2019

JEJAK LANGKAH 8


GEREJA SANTO YOSEF NAZARETH



Bertumbuhnya Yesus dalam “hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk 2:52) terjadi dalam Keluarga Kudus di bawah pengawasan Yosef, yang mempunyai tugas penting “membesarkan” Yesus, yaitu memberinya makanan, pakaian, serta pendidikan dalam hukum agama, dan dalam ketrampilan, sehubungan dengan kewajibannya sebagai seorang ayah. Dalam Kurban Ekaristi, Gereja menghormati kenangan akan Maria, Bunda Allah yang tetap Perawan selamanya, dan kenangan akan St Yosef, ) sebab “ia (Yosef) memberi makan Dia (Yesus) yang harus disantap umat beriman sebagai Roti Hidup yang kekal.” * catatan: Ingat kembali tentang pengajaran Romo Hendra di G. Bapak Kami tentang  Roti Hidup.* Dari pihak-Nya, Yesus “taat kepada mereka –kedua orang tua-Nya” (bdk Luk 2:51), membalas dengan penuh hormat kasih sayang “orangtua”-Nya. Dengan cara ini Ia bermaksud menguduskan kewajiban keluarga dan kerja, yang Ia lakukan di sisi Yosef, ayah asuh-Nya.

Jasa St. Yosef  tentu tidak terhingga. Karena itu untuk mengenang atas jasa dan hidupnya yang kudus, dibangunlah Gereja Santo Yosef (Saint Joseph's Carpentry). Gereja Santo Yosef ini diyakini dibangun di lokasi rumah Keluarga Kudus, di mana Yesus kecil bersama kedua orang tua- Nya tinggal bersama di sini. Tepatnya lokasi bengkel Yosef, Pekerja. Lokasi Gereja ini berada di samping gereja Kabar Gembira. Di bagian bawah gereja ini terdapat bekas rumah Keluarga Kudus. Mengunjungi Gereja ini, kita diingatkan kembali akan peranan dan kemuliaan hati Santo Yosef.


Sebagai pelindung dari misteri “ yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah,” yang mulai disingkapkan di hadapan matanya “dalam kegenapan waktu,” Yosef, bersama Maria, merupakan saksi istimewa akan kelahiran Putra Allah ke dalam dunia pada malam Natal di Betlehem. Lukas menulis, “Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:6-7).- 

Gereja St Joseph dibangun pada tahun 1914 di atas sisa-sisa gereja zaman Tentara Salib yang terletak  di atas  gua. Penyebutan pertama situs tersebut terjadi dalam karya seorang penulis dan orientalis Italia abad ke-17, Franciscus Quaresmius, yang menggambarkannya sebagai "rumah dan bengkel Joseph”.



Tangga di gereja turun ke ruang bawah tanah tempat gua-gua yang dapat dilihat melalui kisi-kisi di lantai. Tujuh langkah berikutnya mengarah ke bak (kolam) atau lubang persegi 2 meter dengan lantai mosaik hitam-putih. Bak ini diyakini sebagai tempat pembaptisan Kristen pra-Konstantinus, kemungkinan digunakan pada awal abad ke-1. Mosaik lantai menggambarkan apa yang tampak sebagai tangga yang melambangkan peningkatan spiritual dari orang yang baru bertobat menjadi Kristen. Ini menunjukkan bahwa orang Kristen berkumpul di sini pada zaman awal (Keristen perdana)  bahkan sebelum kota itu memiliki gereja resmi. Tampaknya rumah itu, yang telah diidentifikasi sebagai rumah Keluarga Kudus, digunakan untuk ibadat Kristen selama era Bizantium.

Gua di bawah gereja digunakan oleh penduduk awal pada masa Romawi sebagai tempat penyimpanan air dan makanan di bawah rumah, yang merupakan ciri khas rumah-rumah tempat tinggal pada zaman itu.


Tempat itu diubah menjadi tempat ibadah pada periode Bizantium, karena tradisi mengidentifikasi tempat itu sebagai bengkel dan rumah bagi Keluarga Kudus. Selama periode Tentara Salib, pada abad ke-12, sebuah gereja dibangun di atas situs gereja Bizantium. Ini Rumah St Joseph. Bangunan itu dihancurkan oleh Arab (1263) setelah kekalahan Tentara Salib. Selama periode Ottoman, reruntuhan gereja Tentara Salib diakuisisi oleh Fransiskan (tahun 1745), dan kapel pertama dibangun pada 1754. Gereja baru dibangun kembali oleh para Fransiskan pada tahun 1914 di atas gereja-gereja dan gua sebelumnya.

Di dalam gereja yang sekarang berdiri ada beberapa jendela kaca patri yang menarik dan lukisan yang menggambarkan pemandangan yang melibatkan Yusuf. Gereja ini memiliki tiga lukisan penting dan berharga: Keluarga Kudus, Impian Yusuf, dan Kematian Yusuf di Lengan Yesus dan Maria. Ada adegan pernikahan Joseph dan Mary, lukisan lain sebuah adegan Joseph menunjukkan kepada Yesus bagaimana bekerja di pertukangan yang dilihat Maria,  dan The Dream of Joseph.



Meskipun tidak semegah Basilika Maria Diangkat ke Surga, Gereja St. Joseph patut dikunjungi kala berziarah ke Nazareth. Sejak dari saat Kabar Sukacita, baik Yosef maupun Maria mendapati  diri mereka, dalam arti tertentu yaitu pada pusat misteri yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah. Misteri yang telah menjadi daging, “Sabda itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,” (Yoh 1:14). Ia tinggal di antara manusia, dalam lingkungan Keluarga Kudus dari Nazaret, -satu dari sekian banyak keluarga di kota kecil  di Galilea, satu dari sekian banyak keluarga di tanah Israel. Di sanalah Yesus “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk 2:40). Sungguh tak terbayangkan oleh kita sekarang masa itu.



Injil meringkas hanya dalam beberapa patah kata, periode panjang dari kehidupan “yang tersembunyi”, masa di mana Yesus mempersiapkan DiriNya untuk misi mesianik-Nya. Hanya satu episode dari “masa yang tersembunyi” ini dikisahkan dalam Injil Lukas: Paskah di Yerusalem ketika Yesus berusia duabelas tahun. Periode panjang kehidupan Yesus yang tak dirulis itu, tentunya bersama dengan seorang laki-laki sederhana dan saleh. Yosef memelihara Yesus layaknya seorang ayah Yahudi yang harus mendidik dan membesarkan anaknya.

Ada kisah yang sungguh menyentuh tentang Santo Yosef dan Bunda Maria manakala Yesus berusia 12 tahun:

Bersama Maria dan Yosef, Yesus ikut ambil bagian dalam perayaan sebagai seorang peziarah muda.“Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya” (Luk 2:43). Setelah sehari perjalanan jauhnya, orangtua-Nya menyadari ketidakhadiran-Nya dan mulai mencari “di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.” “Sesudah tiga hari mencari,  mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya” (Luk 2:46-47).

Maria bertanya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Luk 2:48). Jawaban yang diberikan Yesus sedemikian rupa hingga “mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.” Ia mengatakan, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49-50). Yosef, yang baru saja disebut Maria sebagai “bapa-Mu,” mendengar jawaban ini. Bagaimanapun, itulah yang dikatakan dan dipikirkan semua orang: Yesus adalah (dianggap sebagai) Putra Yosef” (Luk 3:23).

Namun demikian, jawaban Yesus di Bait Allah sekali lagi membangkitkan dalam benak dia  (St. Yosef) “yang dianggap bapa-Nya” apa yang telah ia dengar pada malam itu duabelas tahun silam dari Malaikat Gabriel, “Yosef, … janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” Sejak dari saat itu, ia tahu bahwa ia adalah pelindung dari misteri Allah, dan tepat misteri inilah yang oleh Yesus yang berumur duabelas tahun dibangkitkan kembali dalam benaknya, “Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku.”

Saya membaca kisah di atas menjadi terharu sekali. Betapa Santo Yosef seorang yang sederhana dan beriman. Dia taat pada perintah Allah. Dia menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dan seorang ayah bagi DIA yang menjadi putranya. Dia melakukannya dalam keiklasan dan diam yang bermakna.



Saya sungguh tersentuh dengan hikmat ini. Perasaan ini baru aya rasakan. Saya tahu St. Yosef. Namun, perasaan saya sebelumnya tak sedalam ini. Itulah yang saya dapatkan di Gereja St. Yosef Nazareth.

(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)


Rabu, 17 Juli 2019

JEJAK LANGKAH 7


Annunciation Church (Gereja Kabar Baik)



Gereja Maria Menerima Kabar Sukacita   terletak di jantung Kota Nazareth. Gereja ini merupakan terbesar di Israel dan Palestina. Kami berkunjung saat masih pagi sehingga belum banyak wisatawan dan para peziarah. Dengan leluasa kami bisa mengunjungi, berkeliling di dalam maupun di kompleks gereja. Saya berkunjung di Gereja ini yang kedua kalinya.  Persaan saat saya di tempat ini masih sama: kagum, damai, terharu, dan merasa diri kecil.

Gereja ini diketemukan bersamaan dengan ditemukannya Church of the Nativity (tempat kelahiran Yesus) dan  Church of the Holy Sepulchre (Makam Yesus). Gereja ini didirikan di lokasi, yang menurut tradisi Katolik Roma merupakan tempat Bunda Maria menerima  kabar baik diberitakan oleh Malaikat Gabriel. Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh Malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.  (Lukas 1:26-31)

Pada tahun 1877, Annunciation Church diperbesar, lalu dihancurkan pada 1954 untuk kemudian didirikan basilika baru yang selesai pada tahun 1969. Basilika ini didesain oleh arsitek Italia bernama Giovanni Muzio, dan dibangun oleh sebuah perusahaan konstruksi di Israel bernama Solel Boneh selama 1960-1969. Saat ini Gereja Kabar Sukacita  berada di bawah Ordo Fransiskan. Kini menjadi gereja Kristen terbesar di Timur Tengah, serta didedikasikan untuk Paus Paulus VI pada 1964.



Sekarang gereja ini merupakan bangunan 2 lantai yang didirikan pada tahun 1969, di antara era Bizantinum dan Perang Salib. Di bagian dalam lantai bawahnya, terdapat Gua Kabar Baik/Grotto of the Annunciation, yang dipercaya oleh umat Kristiani sebagai sisa-sisa reruntuhan rumah masa kecil Maria. Bagian gereja lantai atas yang luas, didekor dengan mozaik-mozaik Maria yang didapatkan dari donasi beberapa komunitas dari seluruh dunia.

Pada lantai kedua merupakan gereja Paroki Nasareth, tempat menampung  sekitar tujuh ribu umat dari daerah Nasareth ini menghadiri misa setiap minggu. Pada keempat dindingnya bisa ditemukan berbagai gambar Maria perawan tak bernoda yang datangnya dari berbagai belahan bumi. Gambar yang berasal dari Indonesia bisa ditemukan di luar gereja ini di pelataran bagian kanan ketika memasuki gerbang utama.

Bagian bawah gereja dipusatkan di Gua/Grotto, dimana malaikat pada waktu itu mengumumkan kabar baik kepada Maria. Di bagian bawah ini juga dapat terlihat beberapa reruntuhan gereja terdahulu dari jaman Bizantinum dan Perang Salib.



Sejak tahun 1620 Fransiskan mendapat mandat dari Vatikan untuk membuat penelitian arkeologi di tempat ini, dan syukur atas usaha mereka, kini kita bisa melihat lagi gua kehidupan Maria sebagaimana dua ribu tahun yang lalu. Gua kediaman mereka masa iti tidak hanya dipergunakan sebagai tempat perlindungan bagi manusia, tetapi juga hewan peliharaan. Keledai juga memiliki kamar khusus dalam gua. Betapa pintarnya mereka saat itu! Karena udara padang gurun yang begitu panas, maka digalilah lubang bawah tanah sebagai "lemari es" tempat penyimpanan makanan. Untuk mempertahankan kesegaran dan kelembapan lemari es ini, maka digali juga lubang untuk menampung air hujan di sampingnya. Air tampungan ini bisa juga dipakai untuk keperluan harian lainnya. Lubang-lubang ini dapat kita temukan di lokasi rumah Maria ini.

Gereja modern Annunciation beratapkan kubah beton berbentuk unik setinggi 55 meter, seperti bentuk bunga lili, sebagai symbol dari Santa Perawan Maria. Di halamannya  ada lukisan  Bunda Maria  dari negara-negara di seluruh dunia.

Gereja ini terletak di ujung bagian selatan dari Nazaret. Dewasa ini basilika Anunsiasi yang dibangun diatas tempat kediaman perawan Maria ini telah menjadi simbol kota Nazareth. Kediaman Maria merupakan sebuah gua alam dengan luas sekitar lima meter persegi. Sejak awal abad pertama, gua ini telah menjadi tempat ziarah para pengikut Kristus. Pada abad ke enam, di tempat ini telah dibangun sebuah gereja kecil. Setelah hancur, gereja kecil ini diganti dengan sebuah basilika besar yang dibangun pada abad ke sebelas oleh Tentara Salib Suci (pada masa Binzantium). Altar basilika ini dibangun persis di atas gua rumah Maria. Dalam gua ini, yang kini berada di lantai dasar basilika, terdapat sebuah altar kecil dengan sebuah tulisan dalam bahasa Latin: “Verbum Caro Hic Factum Est” (Di tempat ini Sabda telah menjadi daging).


Wanita dengan bahu terbuka atau celana terlalu pendek bisa mendapatkan syal dengan mengirimkan kartu identitas untuk ditukar di kantor masuk.

Saat kami keluarga besar St. Ursula BSD berziarah bulan Juni 2019, kami mendapat kesempatan menyelenggarakan Perayaan Ekaristi sendiri di Gereja lsntsi 2. Saat itu hari amsih pagi sehingga belum banyak pengunjung yang datang ke sini. Usai Misa kami masih mendapatkan kesempatan untuk berdoa pribadi. Maka saya memutuskan untuk pergi lagi ke lantai bawah (grotto) untuk berdoa pribadi di sana. Rupanya saya tidak sendiri ada 2 teman yang juga mempunyai niat yang sama dengan saya.

Berdoa sendiri dengan bergabung dengan rombongan memang beda. Kami bertiga sekitar 15 menit merasakan keheningan di depan gua yang diyakini di sini Bunda Maria bertemu dengan Malaikat Gabriel. Ada keheningan yang sangat nikmat dirasakan kala saya berdoa di tempat ini.
Saran saya, jangan lewatkan untuk berdoa di "gua" tempat Santa Maria menerima Malaikat Gabriel yang membawa kabar sukacita bila Anda ke Nazareth.

(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)

Baca juga:
https://ursaminorblog.blogspot.com/2019/07/jejak-langkah-1.html
https://ursaminorblog.blogspot.com/2019/07/jejak-langkah-2.html
https://ursaminorblog.blogspot.com/2019/07/jejak-langkah-3.html
https://ursaminorblog.blogspot.com/2019/07/jejak-langkah-4.html
https://ursaminorblog.blogspot.com/2019/07/jejak-langkah-5.html
https://ursaminorblog.blogspot.com/2019/07/jejak-langkah-6.html




Jumat, 12 Juli 2019

JEJAK LALNGKAH 6

KOTA NAZARETH 



Jejak langkah kita kini tiba di sebuah kota yang menjadi titik tolak pengikut Kristus disebut orang Nasrani. Ya, tiada lain adalah Kota Nazareth. Ayo kita mengingat lagi perjalanan kita di sini sambil membayangkan bagaimana hotelnya, makananannya, suasana kotanya, panoramanya, juga perasaan yang muncul saat berada di kota ini.

Tentang kota ini Wikipedia (ensiklopedi bebas) menulis: Nazaret (Ibrani: נָצְרַת, Natzrat; Arab: النَّاصِرَة‎, an-Nāṣira; bahasa Aram: ܢܨܪܬ‎, Naṣrath; bahasa Inggris: Nazareth) adalah sebuah kota kuno di utara Israel. Saat ini kota ini merupakan kota Arab terbesar di Israel dan dikenal sebagai "Ibukota Arab di Israel" ("the Arab capital of Israel").Merupakan ibukota dan kota terbesar di Distrik Utara Israel. Pada tahun 2016, jumlah penduduknya adalah 75,922,, yang terutama adalah warga Arab Israel, di antaranya 69% beragama Islam dan 30,9% beragama Kristen.

Nama Nazaret diyakini berasal dari akar kata Ibrani (netzer; ="Tunas" atau "taruk yang tumbuh"). Sering juga diartikan sebagai  "kembang bunga yang sedang mekar".  Huruf "z" pada "Nazaret" dalam bahasa Ibrani ditulis dengan huruf "צ" (tsade [TS atau TZ]), seperti pada "netzer" (= bahasa Indonesia "tunas; taruk"). Dalam Qur'an, orang Kristen dirujuk sebagai naṣārā, artinya "para pengikut an-Nāṣirī", atau "mereka yang mengikuti Yesus orang Nazaret".

Nazaret terletak di antara celah selatan di Pegunungan Libanon, di kaki bukit yang terjal, sekitar 23 kilometer dari Laut Galilea dan sekitar 6 km barat Gunung Tabor.Kota modern  terletak lebih rendah di kaki bukit di banding zaman kuno. Letaknya di suatu lembah yang curam diantara bukit-bukit batu gamping yang paling selatan dari barisan Lebanon; barisan ini membentang dari selatan baratdaya ke utara timur laut. Ke arah selatan terdapat turunan tajam ke daratan Esdraelon. Dasar lembah itu berada 370 m diatas permukaan laut. Bukit-bukit curam menonjol di bagian utara dan timur, sedangkan di bagian barat tinggi bukit mencapai 500 m.  tebing dan lembah-lembahnya menampilkan  pemandangan yang mengesankan.


Kota ini memiliki populasi sekitar 75.000 orang. Menurut Mr. Shadi (tour guide), mayoritas penduduk Nazaret adalah Arab Israel, sekita 35-40% adalah Kristen dan sisanya Muslim. Pemerintah Israel membuat sebuah kota baru sejak 1950-an disebut Natzrat Illit (נצרת עילית "Nazareth Atas", (Ibrani Baku) Náẓərat ʿIllit) dan mengisinya dengan komunitas Yahudi.

Kota ini dipercaya sebagai lokasi di mana Malaikat Jibril mengumumkan kelahiran Yesus kepada Maria. Juga di kota ini pula merupakan rumah masa kecil Yesus hingga Dia dewasa dan siap untuk berkarya (30 tahun). Tak aneh jika Nazareth  setiap tahun selalu menyambut kerumunan peziarah yang ingin berwisata religi.

Di masa purba, kota Nazareth tak pernah disebut-sebut baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam literature-literatur kuno. Namun demikian, menurut penelitian para ahli arkeologi, sejak abad ke sepuluh sebelum Masehi telah ditemukan jejak-jejak sejarah kehidupan manusia di kota kecil ini. Mereka menemukan banyak gudang yang digali di bawah tanah dengan kedalaman sekitar dua meter dan lebar sekitar 34 meter persegi. Di samping itu ditemukan juga sumur penyimpanan air hujan, serta batu penggilingan gandum yang diperkirakan telah digunakan sekitar tiga ribu tahun lalu.

Setelah Yesus naik ke surga, kota kecil Nazareth ini menjadi terkenal di Tanah Suci. Di masa Yesus Nazareth merupakan sebuah desa kecil. Panjang dari utara ke selatan hanya sekitar 2700 meter dan lebarnya kira-kira 200 meter. Para penginjil berulang kali menyebut Nazaret sebagai “kota” (Mat 2: 23; Luk 2: 29 dan 51). Kita tentu tidak bisa menyamakan kata ‘kota’ Nazareth dengan kota-kota besar di zaman kita sekarang.

Ketika tiba saatnya Allah menggenapi janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya, Ia mengutus malaikat Gabriel ke Nazaret, mengunjungi seorang dara, Maria, dan membawa warta bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang putra, sang penebus Israel (Lukas 1 :26-38). Oleh karena itu, Nazaret juga dikenal sebagai kota kediaman Perawan Maria. Setelah kematian Herodes, Keluarga Kudus yang melarikan diri selama dua tahun ke Mesir, kembali ke kota ini dan menetap di sini. Sang Sabda yang menjadi daging dan berdiam di tengah manusia dalam diri Yesus tinggal di kota ini dan bertumbuh dewasa selama kurang lebih tiga puluh tahun.

Pada masa Yesus hidup, di Yudea ada anggapan bahwa tidak ada sesuatu yang baik dapat datang dari wilayah Yunani -- Yahudi yang disebut Galilea (Yoh. 1:46). Nazareth termasuk wilayah Galilea. Penggalian purbakala dari 1955 menunjukkan bahwa kota Nazareth  sudah didiami orang sebelum Masehi.  Pada tahun 1961 ada ditemukan prasasti di *Kaisarea yang menyebut nama Nazaret. Kota ini adalah kota satelit dari kota Seforis, berjarak 6,5 km, dan pada waktu Yesus tinggal di situ berpenduduk kira-kira 500 orang.  Penemuan-penemuan itu menunjukkan Nazaret memang ada, tapi itu pasti merupakan tempat yang sangat kecil dan tak signifikan. Kemungkinan juga penduduknya yang memperlihatkan sifat tertentu sebagai orang Yahudi udik dan totok.  Karena sifat itu, orang Nazaret dipandang rendah/ tidak penting, sehingga pemikiran Natanael dalam Yohanes 1:46 kini semakin masuk akal: "Nazaret!" katanya. "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari sana?"


Kami menginap di Hotel Plaza Nazareth yang berada di dataran tinggi. Ketika malam tiba, suasana kota itu begitu damai dan sepi, tidak seperti kota pada umumnya yang bising.  Setelah makan malam di hotel, penulis dan teman sekamar (Ibu Monika Dwi Eskayanti) menyempatkan diri untuk memantau dan menikmati kota Nazareth kala malam. Jadilah kami berdua keluar hotel dan berjalan-jalan seputar hotel: ke arah atas  yang merupakan pemukiman warga yang ditandai adanya anak-anak, keluarga, para remaja, dan orang dewasa yang berjalan-jalan sekitar area yang kami lewati. Meski itu pemukiman suasananya tidak terlalu berisik. Seperti di komplek perumahan elite, begitu suasananya. Lalu kami melanjutakan pelancongan kami berjalan ke arah bawah hotel ke sebelah kanan. Ternyata pemandangan sangat mempesona. Panorama pemukiman kala malam dengan lampu aneka warna bak permata mutu manikam dari bukit, lembah, dan bukit lain terhampar di depan mata kami.  Indah sekali!
Hari sudah terasa semakin malam. Suasana sekitar kami juga makin sepi. Maka kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami berjalan sekitar 300 m menuju ke arah hotel. Terlebih dahulu mampir di sebauh toko untuk memberi beberapa makanan kecil dan minuman (cocacola).  Harga barang-barang di toko itu rupanya mahal. Kami menghabiskan 30 $. Ya sudah, memang begitulah kenyataannya. Sampai di kamar kami menikmati cocacola yang rasanya lebih manis dan beraroma   buah sehingga lebih segar.
Kota Nazaret ditulis dalam ke-4 Injil, sbb :
* Matius 2:23
Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret
* Lukas 2:39
…. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
Lukas 4:16
Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
Yohanes 1:45
Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret."
* Markus 16:6
…. tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: "Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.
(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)





Rabu, 10 Juli 2019

JEJAK LANGKAH 5


GEREJA BINTANG SAMUDRA, GUNUNG KARMEL



Stella Maris adalah gelar kuno bagi Santa Perawan Maria, dalam bahasa Latin, yang bermakna Bintang Samudra. Gelar kuno ini dikenakan untuk Santa Perawan Maria, Bunda Yesus Kristus. Kata “Bintang Samudera” merupakan terjemahan dari istilah dalam bahasa Latin “Stella Maris”, yaitu suatu gelar yang diberikan oleh Gereja untuk Bunda Maria pada abad ke-9. Sudah lebih dari seribu tahun, gelar itu dipakai untuk menekankan peran Bunda Maria sebagai tanda harapan dan sebagai bintang pembimbing bagi orang Kristiani.

Saya mendapatkan sumber lengkap menjelaskan Stella Maris dari http://villadulcis.blogspot.com yang menuliskan:

Landasan dasar teologis dari gelar Bintang Samudera untuk Bunda Maria ditemukan di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, yaitu: Kitab Raja-raja (1Raj 18: 41-45). Teks dari Kitab Raja-raja ini menunjuk pada segumpal awan kecil yang nampak di laut sebagai tanda harapan bahwa hujan akan turun dan tanah-tanah segera akan dibebaskan dari bahaya kekeringan. Segumpal awan kecil (sebesar kepalan tangan manusia) yang nampak dari Gunung Karmel itu dipercaya sebagai Bintang Samudera, dan Bunda Maria seperti hujan yang turun lebat merupakan tanda harapan yang mewartakan pembebasan dan pembaruan.

Stella Maris
Dalam teks Kitab Raja-raja itu, dikatakan bahwa awan kecil tampak di atas laut. Awan itu ditafsirkan sebagai sebuah tanda yang memberikan harapan bagi orang-orang yang sedang dalam penderitaan karena kekeringan. Melihat awan itu, mereka menjadi tahu bahwa hujan akan segera datang dan kekeringan pun segera berakhir. Gambaran dalam Kitab Suci ini merupakan peristiwa yang sangat sempurna dapat melukiskan gelar “Bintang Samudera” untuk Bunda Maria, yang membantu siapa saja yang terkena bahaya badai di laut. Di sini Bunda Maria memberikan harapan hujan, dan bukan menghentikan badai. Maka, kerapkali Bunda Maria dipandang sebagai pribadi yang memberikan harapan kepada mereka yang tak berpengharapan dan membantu mereka yang dalam keadaan putus-asa.

Kita menjadi tahu lebih lanjut tentang betapa pentingnya Bintang Samudera itu bagi hidup kita, ketika kita membaca kembali sebuah madah doa yang pernah ditulis oleh Santo Bernardus dari Clairvaux, Pada abad ke-12, yang menyatakan demikian: “Jangan lepaskan pandangan matamu dari terang bintang ini, supaya kamu tidak tergulung oleh ombak, jika badai pencobaan muncul. Jika kamu terhempas ke dinding batu karang penderitaan, karena angin taufan, lihatlah bintang samudera, teriaklah kepada Bunda Maria. Jika kamu tergulung oleh ombak kesombongan, ambisi, kecemburuan, dan persaingan, lihatlah bintang itu, dan panggillah Bunda Maria. Jika kemarahan, keserakahan, atau nafsu kedagingan, secara paksa menyerang bejana jiwamu yang rapuh, lihatlah bintang itu, dan panggillah Bunda Maria.”


“Dalam bahaya, dalam keputus-asaan, dan dalam keraguan, panggillah Bunda Maria. Dia tidak akan pergi dari bibirmu atau hilang dari hatimu, dan kamu akan memperoleh pengantaraannya, tirulah sikap dan perilakunya. Ketika kamu mengikuti dia, kamu tidak akan tersesat. Ketika ia membimbingmu, kamu akan yakin sampai kepada kehidupan kekal. Dan dengan pengalamanmu itu, kamu akan menemukan dia yang disebut dengan nama “Maria Bintang Samudera.”

Paus Pius XII dalam ensiklik Doctor Mellifluus, juga mengutip Santo Bernardus dari Clairvaux yang mengatakan: “Maria … dipanggil dengan julukan “Bintang Samudera”, suatu gelar yang memang cocok untuk Santa Perawan Maria yang sinar terangnya sama seperti sinar terang Bintang Samudera”. Dengan gelar ini, Santa Perawan Maria dipercayai untuk menjadi pembimbing, pengarah, dan pelindung bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan mencari kehidupan.

“Hidup manusia adalah sebuah perjalanan”, kata Paus Benediktus XVI, dalam ensiklik Spe Salvi. “Hidup itu serupa dengan sebuah perjalanan sejarah di laut, kadang gelap dan berbadai, sebuah perjalanan di mana kita menantikan bintang yang dapat menunjukkan arah jalan. Bintang sejati dari hidup kita adalah orang-orang yang menghayati hidupnya secara baik. Mereka itulah terang pengharapan. Tentu saja, Yesus Kristus adalah terang sejati, matahari yang memberikan sinar di atas segala bangsa dalam sejarah. Tetapi untuk menjangkau Dia, kita juga membutuhkan terang-terang yang dekat dengan orang-orang yang membawa sinarnya dan membimbing kita sepanjang perjalanan hidup kita.”

Gereja Stella Maris memang berada dekat Laut Mediterania, tepatnya di Bukit Karmel yang menghadap Pelabuhan Haifa. Seperti yang telah disinggung dalam tulisan JejakLangkah 4, Haifa, kota ketiga terbesar dan merupakan ibu kota daerah utara adalah jantung dari Israel.  Seperti yang kita ketahui bahwa kota ini terletak di teluk antara Laut Mediterania dan Gunung Karmel. Pemandangan daerah yang bertingkat-tingkat di kota ini memberikan panorama yang menakjubkan, memberikan sensasi bagi para pengunjungnya seakan-akan berada di alam surga. Ke arah timur laut, menyeberangi air yang berkilauan di pelabuhan terdapat kota benteng abad pertengahan. Di sebelah utara, bila cuaca bagus, tampaklah Rosh Hanikra, jurang putih, di perbatasan Israel – Libanon. Bila ke timur menjulang Gunung Hermon dengan puncak saljunya.

Gereja Stella Maris (Stella Maris Church) atau dikenal juga sebagai Biara Karmelit – Muhraka. Menurut  http://bit.ly/money_crypto     Gereja Stella Maris dibangun pada tahun 1836 di atas bekas gereja pertama dari zaman Byzantium. Dahulu gereja ini pernah digunakan sebagai rumah sakit pada zaman Napoleon Bonaparte pada tahun 1799. Gereja ini dikelola oleh imam dari ordo Karmelit. Di bagian dalam gereja ini terdapat sebuah gua kecil yang berada di bawah altar. Gua ini diyakini pernah digunakan oleh Nabi Elia untuk tinggal.

(kubah G. Stella Maris)
Selain Gereja Stella Maris, tempat ini juga merupakan sebuah biara kecil dari ordo Karmelit yang letaknya berada di puncak bukit Karmel. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertarungan Nabi Elia dengan para Nabi Baal yang kemudian dimenangkan oleh Nabi Elia. Di tempat ini terdapat sebuah patung yang melukiskan Nabi Elia menginjak Nabi Baal.

(Nabi Elia)
Biara Stella Maris atau Biara Our Lady of Mount Carmel adalah biara Karmelit yaitu para biarawan yang mengambil spiritualitas dari Nabi Elia. Pada abad ke-12, selama pemerintahan Tentara Salib di wilayah itu, kelompok-kelompok pertapa agama mulai menghuni gua-gua di daerah ini dengan meniru cara hidup Elia, sang nabi. Pada awal abad ke-13, pemimpin mereka (disebut dalam buku aturan mereka hanya sebagai 'Saudara B’) kadang-kadang disebut oleh para pendukung menjadi Santo Brocard atau Santo Bertold,  meminta kepada pemimpin agama di Yerusalem, Santo Albert, untuk memberi kelompok mereka aturan hidup yang tertulis.


St. Bertold
Ini adalah awal mula munculnya Ordo Karmelit, yang mengambil nama 'Ordo Para Bruder Bunda Maria dari Gunung Karmel' atau Karmelit. Hidup karya mereka didedikasikan untuk Perawan Maria dalam gelar Bunda Maria Bintang Laut, (Latin: Stella Maris). Dalam beberapa dekade, para pertapa biarawan ini ke luar dari Tanah Suci yang sedang berkonflik sehingga Ordo Karmelit menyebar ke seluruh Eropa dan seluruh dunia.
(Karmelit)
Ketika Tanah Suci jatuh pada tahun 1291 ke tangan Mamluk, orang-orang Karmelit terpaksa menarik diri dari Tanah Suci. Pada tahun 1631 cabang ari Ordo Karmel kembali ke Tanah Suci, dipimpin oleh Pastor Prosper. Dia memiliki sebuah biara kecil yang dibangun di sebuah tanjung dekat Gunung Karmel, berdekatan dengan mercusuar.  Para biarawan tinggal di sana sampai tahun 1761.  Ketika Zahir al-Umar, penguasa Galilea yang saat itu secara efektif merdeka, memerintahkan mereka untuk mengosongkan situs dan menghancurkan biara tersebut.

Ordo Karmel kemudian pindah ke lokasi saat ini, menempati tepat di atas gua tempat Nabi Elia dikatakan pernah hidup. Di sini mereka membangun sebuah gereja besar dan biara. Pertama-tama mereka membersihkan situs reruntuhan gereja Yunani abad pertengahan, yang dikenal sebagai "Biara St. Margaret" dan sebuah kapel, diperkirakan berasal dari zaman Kekaisaran Bizantium.
Gereja baru yang mereka bangun,  rusak parah dalam kampanye Napoleon pada tahun 1799. Prajurit Prancis yang sakit dan terluka ditampung di biara, dan ketika Napoleon mundur, orang-orang Turki membantai para tentara dan mengusir para biarawan.

Pada tahun 1821, Abdullah Pasha dari Acre memerintahkan agar gereja yang rusak  dihancurkan  total, sehingga tidak dapat berfungsi sebagai benteng bagi musuh-musuhnya ketika ia menyerang Yerusalem. Batu-batu dari banguan lama digunakan untuk membangun istana musim panas Abdullah Pasha dan mercusuar,  yang akhirnya dijual kembali ke ordo Karmelit pada tahun 1846.
Gereja dan biara saat ini, dibangun di bawah perintah Bruder Cassini, dibuka pada tahun 1836. Tiga tahun kemudian Paus Gregorius XVI menganugerahkan gelar Basilika Kecil di tempat kudus tersebut, dan sekarang dikenal sebagai "Stella Maris".

Gereja utama menyerupai bentuk salib. Kubahnya dihiasi oleh lukisan berwarna-warni berdasarkan motif dari Perjanjian Lama dan Baru: Elia naik ke surga, Daud memetik harpa-nya, ada Nabi Yesaya, Keluarga Suci Nazareth dan Empat Penginjil. Prasasti dalam bahasa Latin dari ayat-ayat Alkitab ditulis di sekitar kubah. Biara berfungsi sebagai pusat kerohanian Karmelit di seluruh dunia. Simbol Ordo dipasang tepat di atas pintu masuk.

Altar berdiri di atas platform tinggi yang terletak di atas sebuah gua kecil yang terkait dengan Elia. Altar di atas gua didominasi oleh patung Perawan Maria yang membawa Yesus di pangkuannya, yang dikenal sebagai "Our Lady of Mount Carmel".


Demikian keindahan dari tempat itu begitu nyata di hadapan mata. Dikarenakan tempat  ini berada di puncak Bukit Karmel, maka pemandangan dari tempat ini elok sejauh mata ke lembah dan pantai yang ada di bawahnya. Kala memandang kita dapat melihat lembah Jezreel yang hijau, kawasan Galilea, dan bahkan Gunung Hermon. Betapa saya diberkati-Nya dapat menyaksikan keindahan ini dan dapat kembali menginjakkan kaki saya di tempat kudus ini.



(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)