Tampilkan postingan dengan label Khalil Gibran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khalil Gibran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Maret 2010

KEKAGUMAN


Ch. Enung Martina


Bila dilihat dari bentuk katanya ’kekaguman’ termasuk kata jadian yang disebut kata berimbuhan. Kata ini berasal dari kata dasar ’kagum’. Menurut kamus ’kagum’ artinya heran (dengan rasa memuji), takjub, tercengang. Kata ’kekaguman’ artinya perasaan kagum, ketakjuban, dan keheranan.

Dalam kehidupan kita, kita sering mengalami rasa kagum. Misalnya, saya sendiri kagum terhadap hal yang indah-indah, yang nyeni, yang cantik, yang ngganteng, yang menyentuh nubari, dll. Saya mengagumi beberapa tokoh yang menurut saya mereka itu hebat karena saya tidak bisa seperti mereka. Saya mengagumi tokoh yang ternama di dunia sampai akhirat, juga yang tidak ternama. Kekaguman saya kepada mereka karena saya tidak memiliki apa yang mereka miliki. Misalnya saya mengagumi para penulis seperti Khalil Gibran, Paulo Coelho, Andera Hirata, Dewi Lestari, dll karena karya mereka yang menginsipari. Saya juga kagum pada tokoh Kitab Suci seperti Yesus, Abraham, Nuh, Ayub, Esther, dll karena kehebatan mereka dalam kisah hidup mereka yang menginspirasi dunia. Saya juga kagum pada Soekarno juga Mbah Marijan dan Romo Widyo. Akhir-akhir ini saya kagum pada Amsi, gadis Flores yang tinggal di keluarga Ibu Rini. Ia gadis yang pandai memanjat pohon kelapa dan punya iman katolik yang kampiun. Wah, kalau saya ceritakan satu persatu kekaguman saya, banayak sekali dan tak mungkin muat untuk ditulis.

Kekaguman pada seseorang membuat kita bersemangat karena kita terinspirasi pada cara hidup mereka atau keberhasilan mereka. Kekaguman tidak semata karena ganteng dan cantik secara fisik saja. Namun, juga hal yang sifatnya rohani.Bila kita mengingat orang yang kita kagumi kita jadi ingin juga ketularan kehebatan mereka.

Pada suatu liburan Lebaran tahun 2008 kemarin, ketika gema takbir berkumandang, saya duduk berdua dengan adik ipar saya di beranda sebuah pondok di tepi pantai sambil mendengarkan deburan ombak di laut lepas. Malam itu kami duduk-duduk berdua saja sementara anak-anak dan para suami sibuk bermain kartu. Ipar saya bercurhat ria tentang banyak hal. Salah satunya tentang rasa kagum dan hormat yang berubah menjadi tidak simpatik dan cenderung meremehkan. Apa pasalnya?

Ada seseorang yang layak dihormati dan dikagumi karena ia tokoh masyarakat. Namun, dalam perjalanan waktu ipar saya jadi tahu belangnya tokoh ini. Rupanya sepak terjangnya dia selama ini ternyata menyembunyikan ’kebobrokan’ tokoh kita ini. Ipar saya kecewa karena yang layak dikagumi ini ternyata... layak juga dicaci. Pokoknya malam itu kartu tokoh kita ini terbuka di hadapan saya. Saya juga kaget awalnya meskipun tokoh ini bukan tokoh yang saya kagumi. Saya kenal baik dengan tokoh kita ini, tetapi apa yang diceritakan oleh adik ipar saya, di luar dugaan saya. Saya benar-benar kaget dengan cerita ipar saya itu. Tidak sangka ya...begitulah hidup penuh dengan misterinya.

Saya tidak akan berkisah tentang tokoh kita di atas karena itu bukan urusan saya juga bukan urusan pembaca. Urusan saya sekarang berbicara tentang kekaguman. Kekaguman memang bisa saja berakhir dengan kebencian bila ternyata tokoh yang kita kagumi menunjukkan sisi kelemahannya apalagi kalau kelemahan itu selama ini tidak muncul. Selama ini kita mengagumi tokoh karena kelebihannya.
Mengagumi juga ternyata ada seninya ada kaidahnya. Kalau kita mengagumi secara buta, akhirnya akan berakhir dengan kecewa. Saya mengagumi laki-laki yang menjadi pacar saya karena dia ... sesuai dengan harapan saya. Begitu saya tahu ternyata laki-laki tadi menampilkan hal yang berlawanan dengan harapan saya, kekaguman saya pun pudar.

Mengagumi juga harus dewasa. Ketika kita mengagumi seseorang kita juga sudah harus tahu bahwa orang itu tidak sempurna. Saya mengagumi Ir. Soekarno (presiden RI pertama) karena pemikirannya, gagasan, dan pandangannya. Sisi lain juga saya tidak suka dan tidak setuju dengan tokoh saya ini karena dia doyan kawin. Dia orang yang berpoligami. Perempuan mana yang mendukung poligami? Kecuali dalam film Ayat-Ayat Cinta atau mungkin Teh Ninih (istri Aa Gim) ketika diwawancarai wartawan tentang suaminya yang beristri lagi, dia merelakan dirinya untuk dimadu.

Kekaguman jangan membabi buta karena akan berakhir dengan kecewa bahkan kebencian. Kekaguman juga berarti kita melihat sisi lemah dari tokoh yang kita kagumi. Kehebatan tokoh ini yang membuat saya terinspirasi, tetapi kelemahannya juga membuat saya bercermin tentang arti kesempurnaan dan ketidaksempurnaan.

Saran saya tetaplah mengagumi tokoh-tokoh nyata atau tak nyata dalam hidup kita karena mengagumi itu sebuah hak. Ambillah pelajaran-pelajaran hidup dari tokoh yang kita kagumi, jangan hanya semata-mata karena keren, ganteng, cantiknya, atau kaya saja. Belajarlah dari tokoh yang kita kagumi tentang makna kasih yang ia lakoni dan daya juang yang ia miliki. Jangan mendewakan tokoh yang kita kagumi, kecuali pada tokoh dunia-akhirat kita. Kalau saya siapa lagi yang saya kagumi, tentu saja Yesus dari Nazareth itu.


* * * *

Jumat, 08 Mei 2009

SAYAP-SAYAP PEMIKIRAN KAHLIL GIBRAN 1

Panggung Politik di Balik karya Gibran

Mari sekarang kita berbicara tentang salah satu idolaku dalam dunia sastra dan sekaligus filosofi yang mendalam. Siapa lagi kalau bukan Kahlil Gibran.

Eksistensi Kahlil Gibran tak lepas dari latar belakang sejarah pada saat dia hidup dan berkarya. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Gibran berasal dari sebuah desa kecil (sama dong denganku wong ndeso) bernama Bsherri di bagian utara Lebanon, dekat hutan cedar (pada zaman Alkitab). Desa ini menghadap ke laut lepas: Laut Tengah-Mediterania. O, ya aku belum sampai di negri ini hanya melihatnya dari jauh ketika aku berada di Gunung Karmel di atas kota Haifa yang menawan. Dari jauh Lebanon nampak kebiruan dengan bebukitan yang mengelilinginya. Apakah aku bisa sampai ke sana suatu waktu kelak? Siapa tahu kaki membawaku melangkah ke sana.

Gibran dilahirkan 6 Januari 1883. Keluarganya termasuk kelas sosial ekonomi yang sederhana. Gibran seorang penganut Katolik-Maronit. Yang berperan penting dalam hidupnya dan karya-karyanya adalah ibunya yang bernama Kamilla. Gibran sangat mencintai ibunya. Kamilla seorang ibu yang cukup terpelajar dan cerdas pada zamannya.

Latar sejarah politik Lebanon pada masa kehidupan Gibran ada dua golongan yang berpengaruh dalam kancah perpolitikan di negri itu, yaitu kelompok DRUZE dan MARONIT.

Kelompok Druze yaitu orang-orang pengikut Amir Druze, Fakhrudin II, pemimpin dinasti Ma’anid dari Shuf yang memerintah Lebanon antara 16-17 abad. Pemerintahan ini cukup terbuka. Dinasti Ma’anid mengalami kejatuhan setelah amir Druze ditawan di Istanbul dan dihukum mati karena keinginannya memberontak Sultan Usmani. Sepeninggalnya Lebanon berada di bawah hegemoni Khilab (Haydar Khilab).

Nama Druz asalnya mengacu kepada Muhamad ibn Isma’il ad Darazi. Agama Druz ini bermula di Mesir ketika seseorang misionaris dari kerajaan fatimiyah-Mesir al halim (996-1021), seorang penganut ajaran Isma’illiyah (sebagai otoritas dan pelindung utama Islam). Muhamad ibn Isma’il Darazi mengumumkan dirinya sebagai inkarnasi ilai seperti Yesus Kristus bagi orang-orang Kristen.

Kitab suci agama Druze adalah al-hikmah yang benar-benar berbeda dari Al Quran. Druze dibagi dua kelompok, yaitu : Druze Qays (kebanyakan berpindah menjadi Kristen) dan Druze Yaman.

Orang-orang Maronit adalah pengikut St. maron, seorang pertapa asketis yang hidup di pegunungan wilayah Apamea, Syria. Karena disiksa oleh Khalifah Damaskus dan Baghdad, orang-orang maronit meninggalkan Syria dan mencari perlindungan di pegunungan Lebanon.

Gereja Maronit (gibran salah satu pengikutnya) masih menggunakan bahasa Syria dalam peribadatannya. Sejak tinggal di Lebanon, para jemaat mengorganisasikan sebuah system pemerintahan yang feodal dan dikombinasikan dengan model kepemimpinan kependetaan dan keningratan.

Pada masa kekhalifahan Usmani, feodalisme-kependetaan menggunakan pengaruh yang menakutkan dan menindas rakyat kecil (petani miskin) Kebanyakan karya Gibran diarahkan untuk mengeritik feodalisme lembaga Maronit.

Perkembangan berikutnya dalam perpolitkan di Lebanon (abad 19-masa Gibran hidup), Druze-maronit mengakibatkan terjadinya peristiwa besar di Lebanon yang menganggu stabilitas Negara tersebut. Saat itu Lebanon ada di bawah pendudukan tentara Ibrahim Pasya (anak muhamad Ali dari Mesir). Pada zaman pendudukan itu petani-petani Maronit yang berpindah dari wilayah Lebanon bagian utara ke selatan, melebihi jumlah orang Druze di wilayah tersebut- yang notabene wilayah itu adalah wilayah orang Druze. Tahun 1840 orang maronit dan Druze bekerjasama untuk melawan orang mesir yang berada di tanah Lebanon.

Pemerintah Ibrahim Pasya akhirnya jatuh, Lebanon dibagi menjadi dua provinsi: wilayah utara berada di bawah pengawasan gubernur Maronit dan wilayah selatan di bawah gubernur Druze. Kedua wilayah itu dikontrol oleh utusan Sultan Usmani yang memimpin di Beirut dan Sidon. Saat itu berlaku politik SUBLIME-PORTE: aplikasi prinsip devide at impera. Politik ini mengadu domba kedua golongan di Lebanon.

Sekian untuk bagian pertama, ke depan bersambung lagi (Teh Nung)

Minggu, 01 Februari 2009

KERJA - PERTEMUAN - LUKISAN

KERJA
Kerja adalah cinta yang dibuat tampak (Khalil Gibran)

Kalau kita sungguh-sungguh mencintai pekerjaan, kita tak akan terikat pada uang. Uang adalah permainan. Uang boleh kita hargai, namun dedikasi lebih penting. Dalam pekerjaan apa pun kita berkompetisi dengan orang-orang yang menyukai pekerjaan itu. Jika kita tidak suka, maka kita kalah dalam kompetisi. Selalu ada kesempatan bagi yang hebat.
Bila kita peduli pada pekerjaan maka rasa antusias akan muncul. Semangat menjadi pondasi dalam bekerja. Mengerjakan sesuatu yang disukai perlu latihan yang lama dan pengeluaran yang besar. Kesadaran seringali muncul dari musibah.

Kepuasan atau ketidakpuasan bekerja tergantung paad cara kita melayani orang. Yang penting bagaimana kita bekerja bukan pada pekerjaannya. Kegembiraan terasa ketika kita bekerja karena pekerjaan itulah yang kita pilih tanpa keterpaksaan.

Misi hidup kita bukan untuk mengenyahkan masalah, melainkan mendapat gairah. Cinta merupakan energi. Apa pun yang dikerjakan dengan cinta berarti menggunakan energi yang berkualitas.

ARBEIT MACHT FREI (kerja membuatmu bebas)


PERTEMUAN
Ketika kita bertemu seseorang, ingatlah pertemuan itu sebagai pertemuan suci. Ketika kita melihat orang itu, kita melihat diri kita. Ketika kita menanggapinya, kita menanggapi diri kita sendiri. Jangan lupakan orang itu karena dalam diri orang itu kita melihat diri kita.

Pernah terpikir dan merenungkan bahwa pertemuan kita dengan seseorang itu diatur oleh Tuhan? Kita pasti bertemu dengan banyak orang dengan kesan yang berbeda satu sama lain. Ada yang bisa-biasa saja, ada yang membuat jengkel, sebel, marah, dan perasaan negatif lain. Namun, ada juga pertemuan yang benar-benar membawa inspirasi dalam hidup kita. Aku sering bertemu dengan cara seperti itu. Bahkan, aku pernah bertemu dengan seeorang, sesudah itu orangnya meninggal. Namun, kesan yang ditinggalkan pertemuan itu masih terasa hingga sekarang.

Pertemuan yang kita anggap biasa saja ternyata kalau kita renungkan membawa makna dalam hidup kita.

LUKISAN
Setiap orang punya kisahnya sendiri. Hidup memberikan warna yang aneka, ada warna gelap, terang, norak, dan lembut. Semuanya menjadikan seseorang sempurna. Namun, terkadang kita tak menyadari bahwa Sang Pelukis Agung sedang melukis kita untuk dijadikan maha karya agung yang patut dikagumi karena kita karya seni besar yang diciptakan-Nya. Tanpa warna-warni lukisan itu tak akan menarik.