Pankreas yang Terlupakan
Di dalam sebuah tubuh, semua organ sedang bersiap merayakan Hari Kehidupan.
Jantung datang lebih dulu. Semua orang bertepuk tangan mendengar dentumannya yang gagah.
"Tanpaku, tak ada yang hidup," katanya bangga.
Paru-paru mengembang dengan anggun. "Aku memberi napas. Semua orang tahu betapa pentingnya aku."
Otak tersenyum tenang. "Aku mengatur semuanya."
Lambung, hati, ginjal, bahkan kulit mendapat giliran dipuji. Mereka memang sering disebut dalam pelajaran sekolah, pemeriksaan kesehatan, atau percakapan sehari-hari.
Di sudut ruangan, ada satu organ yang hanya duduk diam.
Namanya PANKREAS.
Tak seorang pun memanggilnya. Tak ada yang bertanya kabarnya. Bahkan beberapa organ muda sempat berbisik, "Sebenarnya dia itu kerjanya apa?"
Pankreas hanya tersenyum.
"Aku tidak keberatan," katanya pelan.
Hari-hari berlalu. Semua berjalan seperti biasa, sampai suatu pagi tubuh itu mulai lemas. Gula darah melonjak tak terkendali. Sel-sel tubuh kelaparan meski makanan terus masuk. Pencernaan pun mulai kacau.
Semua organ panik.
"Apa yang terjadi?"
Otak berpikir keras.
Jantung berdegup lebih cepat.
Lambung berkata, "Aku sudah mencerna makanan."
Hati berkata, "Aku sudah bekerja."
Namun tubuh tetap tidak membaik.
Barulah mereka menyadari satu kursi kosong.
"Pankreas... di mana pankreas?"
Ternyata ia sedang sakit.
Untuk pertama kalinya semua mengerti bahwa selama ini dialah yang diam-diam menghasilkan insulin agar gula dapat menjadi tenaga. Dialah yang mengirim enzim agar makanan dapat dicerna dengan baik. Selama bertahun-tahun ia bekerja tanpa tepuk tangan, tanpa pujian, bahkan tanpa dikenal.
Jantung menunduk.
"Aku sering dipuji, tetapi ternyata aku tidak bisa bekerja sendiri."
Otak mengangguk.
"Kebesaran bukanlah tentang siapa yang paling sering disebut, melainkan siapa yang setia menjalankan tugasnya."
Sejak hari itu, setiap perayaan Hari Kehidupan selalu menyisakan satu kursi kehormatan untuk pankreas.
Bukan karena ia paling hebat.
Melainkan karena semua akhirnya mengerti bahwa yang paling berharga sering kali bukan yang paling terkenal.
Dalam kehidupan pun demikian.
Ada orang-orang yang tidak pernah tampil di depan. Mereka tidak banyak bicara, tidak mencari pujian, bahkan sering terlupakan. Namun mereka menopang keluarga, sekolah, gereja, atau masyarakat dengan kesetiaan yang sunyi.
Kita baru menyadari nilainya ketika mereka tidak lagi ada.
Maka, jangan menilai pentingnya seseorang dari seberapa sering namanya disebut.
Sebab seperti pankreas, ada banyak hal yang bekerja dalam diam, tetapi menentukan hidup banyak orang.
Sumebr pustaka:
(Penanda waktu saat suamiku terdiagnosis kanker pankreas bulan Februari 2026)