Senin, 02 Februari 2026

Catatan Refleksi

 


Ketika Hidup Terasa Kering

Ada saat-saat ketika hidup terasa kering.

Hati lelah, doa terasa hambar, dan semangat perlahan memudar. Kita tetap menjalani hari, tetapi tanpa gairah. Bukan karena kita kehilangan iman, melainkan karena kita sedang letih menjadi kuat.

Kitab Suci berkata,

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.”
(Mazmur 23:1–2)

Namun sebelum sampai ke padang rumput yang hijau, kita sering harus melewati tanah yang gersang. Kekeringan bukan tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari perjalanan. Seperti tanah yang merekah karena kemarau, hati pun kadang perlu terbuka agar dapat menerima kehidupan kembali.

Dalam keadaan seperti itu, kita belajar berserah kepada Tuhan. Bukan menyerah, melainkan mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya. Kita tetap bangun pagi, bekerja, melayani, dan menjalani rutinitas sederhana seperti biasa—sambil membawa hati yang apa adanya. Dalam kesetiaan pada hal-hal kecil itulah, harapan perlahan dirawat.

Filsafat hidup mengajarkan bahwa hidup memiliki irama. Ada waktu bergerak, ada waktu melambat. Ada masa berbicara, ada masa diam. Mengikuti irama hidup apa adanya bukan tanda pasrah yang lemah, melainkan kebijaksanaan untuk berjalan setia pada hari ini, tanpa memaksa diri melompat terlalu jauh.

Kitab Suci kembali meneguhkan,

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu… rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
(Yeremia 29:11)

Maka ketika hidup terasa kering, jangan terburu-buru menyalahkan diri sendiri. Berserahlah kepada Tuhan dan tetaplah melangkah dalam irama hidup sehari-hari. Percayalah, hujan akan datang pada waktunya. Dan saat itu tiba, kita akan mengerti: kekeringan bukan akhir, melainkan jeda sebelum kehidupan kembali bersemi. (Ch. Enung Martina)

Minggu, 18 Januari 2026

Artikel Historis-Reflektif untuk Perayaan Pesta St. Angela

 


Tak Lekang Dimakan Zaman

Di tengah dunia yang bergerak cepat, serba digital, dan sering kali kehilangan arah batin, manusia modern terus mencari sosok-sosok rujukan yang mampu memberi kedalaman, bukan sekadar kecepatan. Kita membutuhkan figur yang tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga mampu menembus batas waktu dan konteks. Dalam pencarian itulah, nama St. Angela Merici, seorang perempuan abad ke-16, justru terasa semakin dekat dan aktual. Ia tidak hidup di zaman teknologi, demokrasi modern, atau wacana kesetaraan gender seperti hari ini. Namun, nilai-nilai yang ia hidupi dan wariskan menunjukkan daya tahan yang luar biasa: tak lekang dimakan zaman.

 

Jejak Sejarah Seorang Perempuan Awam

Angela Merici lahir pada tahun 1474 di Desenzano del Garda, Italia Utara, dalam sebuah keluarga petani sederhana. Sejak usia muda ia telah mengalami kehilangan: orang tua dan saudara-saudaranya wafat ketika ia masih belia. Dari pengalaman luka inilah tumbuh kedalaman spiritual yang kelak menjadi ciri khas hidupnya. Angela tidak memilih jalan religius yang lazim pada masanya. Ia tidak masuk biara, tidak mengenakan jubah khusus, dan tidak mengucapkan kaul publik. Sebaliknya, ia tetap hidup sebagai perempuan awam di tengah dunia, menyatu dengan realitas masyarakat sekitarnya.

Pada tahun 1535, di Brescia, Angela mendirikan Compagnia di Sant’Orsola, sebuah komunitas perempuan yang revolusioner untuk zamannya. Para anggota tidak hidup terpisah dari dunia, melainkan tinggal di rumah masing-masing, bekerja, dan hadir dalam masyarakat. Fokus utama mereka adalah pendidikan dan pendampingan kaum muda, khususnya anak-anak perempuan, sebuah perhatian yang pada abad ke-16 masih dianggap pinggiran.

Keberanian Angela bukan terletak pada sikap konfrontatif, melainkan pada kebijaksanaan yang jernih. Ia membaca tanda-tanda zaman dengan kepekaan rohani. Ia tidak menentang struktur secara frontal, tetapi menghadirkan alternatif cara hidup yang perlahan mengubah wajah Gereja dan masyarakat. Angela wafat pada tahun 1540, namun benih yang ia taburkan tumbuh lintas abad dan benua, hingga hari ini hidup dalam karya pendidikan Ursulin di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

 

Spiritualitas yang Mengakar pada Kemanusiaan

Salah satu alasan mengapa St. Angela Merici tetap relevan adalah karena  spiritualitasnya berakar kuat pada kemanusiaan konkret. Ia tidak membangun spiritualitas yang melangit dan terpisah dari realitas, melainkan spiritualitas yang berjalan kaki di tanah kehidupan sehari-hari. Dalam Spiritual Testament-nya, Angela menulis dengan nada seorang ibu, pendamping, dan pendidik, bukan sebagai penguasa rohani.

 Ia mengingatkan para pemimpin komunitasnya:

“Jagalah agar setiap orang merasa diperhatikan dan dikasihi.”

 

Kalimat sederhana ini menyimpan kebijaksanaan mendalam. Angela memahami bahwa pendidikan, komunitas, dan kepemimpinan hanya akan bertahan bila dilandasi relasi yang manusiawi. Di zaman modern, ketika pendidikan sering terjebak dalam target, angka, dan capaian administratif, pesan ini menjadi cermin kritis. Pendidikan sejati bukan pertama-tama soal kurikulum, melainkan soal perhatian dan kasih.

 

Pendidikan sebagai Jalan Kasih

 Bagi Angela, pendidikan adalah jalan kasih. Ia melihat setiap pribadi sebagai ciptaan Allah yang unik dan berharga. Maka, tugas pendidik bukan membentuk manusia seragam, melainkan membantu setiap orang bertumbuh sesuai panggilannya. Dalam salah satu nasihatnya, Angela berkata:

“Perhatikanlah dengan bijaksana tabiat dan keinginan masing-masing.”

Prinsip ini terasa sangat selaras dengan semangat pendidikan masa kini, pendidikan yang  menekankan diferensiasi dan penghargaan terhadap potensi peserta didik. Namun, Angela telah menghidupi prinsip itu berabad-abad sebelumnya, bukan sebagai konsep pedagogis, melainkan sebagai sikap hati.

 Dalam konteks Ursulin Indonesia, nilai ini hidup dalam ruang-ruang kelas, perpustakaan, dan komunitas belajar. Sebagai pendidik, kita sering berjumpa dengan anak-anak yang tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga pengakuan, pendampingan, dan harapan. Spirit Angela mengajak pendidik untuk hadir sepenuhnya dengan mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang terbuka.

 

Kepemimpinan yang Membesarkan

 Angela Merici menawarkan model kepemimpinan yang jauh dari dominasi. Ia menulis kepada para pemimpin komunitasnya:

“Pimpinlah bukan dengan kekerasan atau keangkuhan, melainkan dengan kelembutan dan kasih.”

 Kepemimpinan, bagi Angela, adalah tugas membesarkan kehidupan, bukan menguasai. Ia percaya bahwa otoritas sejati lahir dari keteladanan dan kepercayaan. Dalam dunia modern yang sering memuja kepemimpinan keras dan cepat, pendekatan Angela terasa kontra-arus, tetapi justru itulah kekuatannya.

 Di lingkungan sekolah, gereja, dan komunitas, kepemimpinan ala Angela mengingatkan kita bahwa keputusan yang bijaksana lahir dari proses mendengarkan. Bahwa perubahan yang bertahan lama tidak dipaksakan, melainkan ditumbuhkan. Kepemimpinan semacam ini memang tidak spektakuler, tetapi menciptakan ruang aman bagi pertumbuhan.

 Perempuan, Dunia, dan Kebebasan Batin

 Sebagai perempuan abad ke-16, Angela Merici mengambil posisi yang unik. Ia tidak melawan dunia, tetapi juga tidak larut di dalamnya. Ia memilih kebebasan batin: bebas untuk mengasihi, bebas untuk melayani, bebas untuk setia pada suara Tuhan. Dengan membiarkan para anggotanya tetap hidup di tengah masyarakat, Angela seakan berkata bahwa kekudusan tidak harus menjauh dari dunia, melainkan justru hadir di dalamnya.

 Pesan ini sangat relevan bagi perempuan masa kini: ibu rumah tangga, guru, pekerja, pengusaha, atau aktivis yang sering bergumul antara panggilan iman dan tuntutan realitas. Angela menunjukkan bahwa keseharian bukan penghalang bagi kekudusan, melainkan medan perjumpaan dengan Allah.

 

Kelembutan sebagai Kekuatan

 Salah satu ciri paling menonjol dari spiritualitas Angela adalah penekanannya pada kelembutan. Ia menasihati:

“Dalam segala hal, bertindaklah dengan kelembutan.”

 Kelembutan, dalam pemahaman Angela, bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan yang mampu bertahan, menyembuhkan, dan membangun. Di tengah dunia yang keras, penuh polarisasi, dan mudah tersulut emosi, kelembutan menjadi tindakan profetis-kenabian. Ia menuntut keberanian untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi ketergesaan dengan kesabaran.

 Bagi pendidik dan pelayan Gereja, kelembutan ini menjadi napas panjang dalam menghadapi keletihan, konflik, dan kerapuhan manusia. Ia menjaga agar pelayanan tidak berubah menjadi rutinitas kering, tetapi tetap menjadi ruang kasih yang hidup.

 

Warisan yang Terus Menyala

St. Angela Merici tidak meninggalkan warisan  bangunan megah atau sistem besar yang kaku. Ia meninggalkan cara hidup. Warisannya hidup dalam setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih: ketika seorang guru memilih mendengarkan muridnya, ketika seorang pemimpin memberi ruang bagi pertumbuhan, ketika sebuah komunitas bertahan dalam kesetiaan sehari-hari.

 Itulah sebabnya Angela tidak lekang dimakan zaman. Ia tidak terikat pada konteks tertentu, karena ia menyentuh inti kemanusiaan. Dalam dunia yang terus berubah, spirit St. Angela Merici tetap menjadi kompas batin: mengingatkan bahwa kesetiaan kecil, bila dijalani dengan cinta dan kebijaksanaan, akan terus menyala melampaui waktu. (Perayaan Pesta St. Angela Merici Tahun 2026-Christina Enung Martina)

 

# # #

Daftar Pustaka

Buser, M. (2007). Angela Merici: A biography. Rome: Institutum Historicum Societatis Iesu.

Cooman, D. L. (2010). Angela Merici: Selected writings. Chicago, IL: Ursuline Institute.

Graham, E. (2002). Women, spirituality and leadership: The legacy of Angela Merici. London: Continuum.

McNeil, B. (1996). The Ursulines: A women’s history. Collegeville, MN: Liturgical Press.

Merici, A. (1993). The complete spiritual writings of Angela Merici (D. L. Cooman, Trans.). New York, NY: Paulist Press.


# # #

Jumat, 02 Januari 2026

Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga

 


Refleksi Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Natal selalu datang dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah bertanya apakah dunia sedang baik-baik saja. Ia hadir justru ketika keadaan rapuh, hati lelah, dan banyak hal terasa tidak pasti. Natal 2025 pun demikian. Ia hadir setelah setahun yang berat, tahun yang dipenuhi bencana, kehilangan, kecemasan akan masa depan, dan pergulatan hidup di banyak keluarga, termasuk keluarga kami sendiri.

Kali ini keluarga kami merayakan Misa Natal di Gereja Maria Putri Murni Sejati, Cisantana, Kuningan, Jawa Barat. Misa yang sederhana, tetapi khidmat. Sesuai dengan tema Natal tahun ini, kami merayakan Natal bersama keluarga. Natal 2025 hadir di tengah dunia yang belum sepenuhnya pulih dan keluarga-keluarga yang masih berjuang dalam berbagai bentuk kerapuhan. Tahun yang kita lalui menyisakan kelelahan, kecemasan, dan banyak pertanyaan tentang masa depan. Namun justru di situlah kabar Natal menemukan maknanya yang paling dalam: Allah tidak menjauh dari keluarga yang terluka dan tidak sempurna, melainkan hadir di tengahnya. Dengan merayakan Natal, kita diingatkan bahwa keselamatan Allah bermula dari ruang paling dekat dengan hidup kita, keluarga, tempat kasih diuji, pengharapan dipelihara, dan iman dijalani dalam keseharian yang sederhana namun nyata.

Tema Natal tahun ini, “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga,” terasa begitu dekat dan personal. Bukan karena keluarga kami sempurna, melainkan justru karena kami menyadari betapa rapuhnya kami sebagai keluarga. Ada kekhawatiran, kelelahan, luka yang belum sepenuhnya sembuh, serta doa-doa yang belum menemukan jawabannya. Namun, di situlah Natal menemukan maknanya yang terdalam.

Allah tidak hadir dalam keluarga yang ideal, rapi, dan tanpa masalah. Ia hadir dalam keluarga yang sederhana, bahkan rentan. Kelahiran Yesus sendiri terjadi di tengah keterbatasan. Maria dan Yusuf bukan keluarga yang aman dan mapan. Mereka keluarga yang cemas, terancam, dan harus mengungsi demi menyelamatkan Anak mereka.

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.”
(Lukas 1:31)

Nama Yesus berarti Allah menyelamatkan. Sejak awal, keselamatan itu bukan konsep besar yang jauh, melainkan nyata dan dekat—hadir dalam sebuah keluarga kecil di Nazaret, dalam pelukan seorang ibu, dalam tanggung jawab seorang ayah.

Sepanjang tahun 2025, kita melihat begitu banyak keluarga diuji: kehilangan rumah karena bencana, kehilangan pekerjaan, kehilangan anggota keluarga, atau sekadar kehilangan rasa aman. Dalam pengalaman-pengalaman itu, saya belajar bahwa keluarga bukan hanya tempat berbagi sukacita, tetapi juga ruang paling jujur untuk menangis dan berharap. Dan di sanalah Allah memilih untuk hadir.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”
(Yohanes 1:14)

Allah tidak menyelamatkan dari kejauhan. Ia “diam di antara kita.” Ia tinggal di tengah meja makan yang sederhana, di percakapan yang kadang sunyi, di doa-doa yang terbata-bata, bahkan di keheningan ketika kata-kata tak lagi cukup. Natal mengingatkan saya bahwa kehadiran Allah sering kali tidak spektakuler, tetapi setia.

Sebagai orang tua, sebagai pasangan, sebagai anggota keluarga, saya menyadari bahwa menyelamatkan keluarga bukan berarti menghilangkan semua masalah. Keselamatan sering kali berarti diberi kekuatan untuk tetap saling mengasihi meski tidak selalu saling memahami. Diberi kesabaran untuk bertahan ketika ingin menyerah. Diberi harapan ketika masa depan terasa kabur.

“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
(Mazmur 34:19)

Ayat ini menjadi penghiburan yang nyata. Allah hadir bukan hanya dalam keluarga yang kuat, tetapi justru dalam keluarga yang sedang berjuang. Ia menyelamatkan bukan dengan menghapus luka seketika, melainkan dengan menemani proses penyembuhan.

Memasuki Tahun Baru 2026, harapan saya sederhana: semoga keluarga kami—dan keluarga-keluarga di Indonesia tetap menjadi tempat pulang yang aman. Tempat belajar mengampuni, bertumbuh, dan saling menopang. Dunia boleh semakin keras, tetapi keluarga harus tetap menjadi ruang di mana kasih Allah dapat dialami secara konkret.

Tahun baru sering identik dengan resolusi dan rencana besar. Namun, Natal mengajarkan bahwa hal-hal besar sering bertumbuh dari kesetiaan pada yang kecil: doa bersama, mendengarkan dengan sungguh, hadir sepenuhnya bagi satu sama lain. Jika Allah memilih keluarga sebagai jalan keselamatan-Nya, maka merawat keluarga berarti ikut ambil bagian dalam karya keselamatan itu sendiri.

“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”
(Lukas 2:19)

Seperti Maria, kita diajak menyimpan dan merenungkan kehadiran Allah dalam keseharian keluarga kita dalam suka dan duka, dalam tawa dan air mata. Natal 2025 menjadi undangan untuk percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan rumah-rumah kita.

Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Semoga di setiap keluarga, Allah sungguh hadir: menyembuhkan, menguatkan, dan menyelamatkan.

Ch. Enung Martina


Jumat, 12 Desember 2025

Cerpen Perjuangan Perempuan 3

 



Api yang Tidak Memilih


Ratna sudah terbiasa pulang dalam gelap. Bukan karena ia lembur setiap hari, melainkan karena hidupnya memang berjalan dalam irama yang jarang ramah pada cahaya. Pukul tujuh malam, gedung-gedung perkantoran di Sudirman masih menyala terang, seolah siang enggan menyerah. Ratna melangkah cepat menuju halte, menenteng tas kerja yang mulai aus di sudutnya, seperti dirinya, dipakai terus-menerus tanpa pernah benar-benar diperhatikan.

Ia perempuan lajang, empat puluh dua tahun, bekerja di perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang distribusi alat kesehatan. Jabatan supervisor administrasi, posisi yang cukup aman tetapi tidak cukup bergengsi untuk diperjuangkan dalam rapat-rapat strategis. Dua belas tahun bekerja, tiga kali pergantian manajemen, dan tak satu pun promosi berarti.

“Belum menikah?”
Pertanyaan itu selalu muncul, entah dari rekan baru, klien, atau bahkan HR saat evaluasi tahunan, seolah status hidupnya adalah kolom kosong yang harus segera diisi agar ia sah sepenuhnya sebagai manusia dewasa.

Ratna menjawab dengan senyum kecil. Senyum yang tidak menuntut penjelasan.

Di kantor, ia dikenal rapi, teliti, dan bisa diandalkan. Ia tidak banyak bicara, tidak ikut gosip, tidak bermain politik. Ia percaya bahwa bekerja dengan benar sudah cukup. Ia baru menyadari betapa naif keyakinan itu ketika intrik mulai menyentuh mejanya sendiri.

Pagi itu, Pak Arman, manajer divisi yang baru enam bulan menjabat, memanggilnya ke ruangannya. Ruang kaca dengan pendingin udara yang terlalu dingin, meja besar, dan kursi empuk yang membuat orang mudah lupa bahwa keputusan diambil tentang hidup banyak orang.

“Kita akan diaudit,” kata Pak Arman sambil mengetuk-ngetuk pena. “Data pengadaan tahun lalu ada beberapa catatan. Saya butuh kamu bantu merapikan.”

Ratna mengangguk. “Merapikan bagaimana, Pak?”

Pak Arman tersenyum tipis. “Kamu kan paham. Angka-angka itu tidak salah, hanya… perlu ditampilkan dengan lebih strategis.”

Ratna pulang ke mejanya dengan perasaan seperti membawa bara di telapak tangan. Ia membuka folder lama. Laporan pengadaan. Invoice. Tanda tangan. Semua rapi, semua sah, tetapi ada bagian yang memang sengaja ditutup-tutupi sejak dulu. Selisih kecil, potongan tak tercatat, keputusan cepat demi target.

Ia tahu permainan ini. Ia tidak buta. Selama ini ia memilih diam, bekerja sesuai tugas, tidak bertanya lebih jauh. Namun kali ini, tangannya sendiri diminta ikut menyentuh api.

Di pantry, Livia, rekan kerja yang sepuluh tahun lebih muda, berdiri di sampingnya.

“Ratna, Pak Arman percaya banget sama kamu,” katanya sambil mengaduk kopi. “Kesempatan langka, tahu.”

Ratna menatap wajah Livia yang licin oleh percaya diri. Perempuan itu pintar, cepat, dan tahu cara bertahan. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pelajari.

“Maksudnya?” tanya Ratna.

“Kalau laporan ini beres, kita semua aman. Kalau tidak…” Livia mengangkat bahu. “Kamu tahu sendiri.”

Ratna tahu. Di perusahaan swasta, aman berarti bertahan. Bertahan berarti diam. Diam berarti ikut.

Malam itu, di kamar kontrakannya yang sunyi, Ratna duduk di tepi ranjang. Tidak ada suara televisi. Tidak ada pesan masuk. Hidupnya sering terasa seperti ruang tunggu tanpa panggilan.

Ia membuka Alkitab kecil yang selalu dibawanya sejak muda. Tidak setiap hari dibaca, tetapi selalu ada, seperti jangkar. Matanya jatuh pada ayat yang entah bagaimana selalu kembali menghampirinya:

“…imanmu, yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api.”

Ratna menutup mata. Api. Kata itu tidak terdengar romantis. Api membakar, panas, menyakitkan, dan tidak memilih siapa yang siap atau tidak. Ia sadar, menjadi perempuan lajang membuatnya lebih rentan. Tidak ada pasangan untuk berbagi beban, tidak ada tameng sosial. Jika ia jatuh, ia jatuh sendirian.

Keesokan harinya, ia mulai mengerjakan laporan. Jemarinya bergerak lambat. Ia tahu persis bagian mana yang diminta “dirapikan”. Ia juga tahu konsekuensi jika ia tidak melakukannya.

Dalam rapat kecil, Pak Arman bertanya, “Sudah hampir selesai?”

“Hampir,” jawab Ratna.

“Pastikan tidak ada yang aneh,” tambahnya, menatap tajam.

Ratna mengangguk. Dadanya terasa sesak. Ia teringat ibunya yang sudah meninggal lima tahun lalu. Seorang perempuan sederhana yang membesarkannya sendiri setelah ayahnya pergi. Ibunya selalu berkata, “Hidup mungkin tidak adil, tapi jangan sampai kamu ikut tidak adil.”

Kalimat itu terasa seperti nyala kecil di tengah ruang gelap.

Ratna mengambil keputusan yang sunyi. Ia menyelesaikan laporan versi yang diminta, tetapi ia juga menyimpan versi asli, lengkap dengan catatan perbedaan, dan mengunggahnya ke sistem pusat yang terhubung langsung dengan auditor eksternal. Tidak ada drama. Tidak ada pemberitahuan. Hanya satu klik yang mengubah arah hidupnya.

Dua hari kemudian, suasana kantor berubah. Orang-orang bicara lebih pelan. Pintu ruang manajer sering tertutup. Nama Ratna disebut-sebut dengan nada yang tidak ramah.

Ia dipanggil.

“Kenapa ada dua versi laporan?” tanya Pak Arman dengan suara tertahan.

Ratna duduk tegak. Tangannya dingin. “Karena yang satu adalah data sebenarnya, Pak.”

“Kamu sadar apa akibatnya?”

Ratna mengangguk. “Saya sadar.”

“Kamu perempuan lajang,” kata Pak Arman tiba-tiba, nadanya merendah namun menusuk. “Kamu butuh stabilitas. Jangan idealis.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada ancaman. Ratna tersenyum pahit. “Justru karena saya sendirian, Pak, saya harus tahu apa yang saya pegang.”

Hari-hari setelah itu menjadi ujian yang nyata. Ia dikeluarkan dari beberapa proyek. Undangan rapat tak lagi datang. Beberapa rekan menghindar. Ada yang berbisik bahwa Ratna terlalu kaku, terlalu sok suci.

Ia pulang ke kamar dengan tubuh lelah dan hati retak. Ada malam-malam ketika ia bertanya, apakah pilihannya bodoh. Tidak ada pujian. Tidak ada kepastian. Hanya kesepian yang kian terasa.

Namun anehnya, di tengah semua itu, ia tidak kehilangan dirinya. Ada luka, tetapi tidak ada kebohongan yang menempel di dada.

Sebulan kemudian, hasil audit keluar. Perusahaan dikenai sanksi administratif. Beberapa kebijakan diubah. Pak Arman dipindahkan. Tidak ada pengakuan resmi atas peran Ratna. Dunia kerja tidak tiba-tiba menjadi adil.

Namun suatu pagi, ia dipanggil direktur utama.

“Kami membutuhkan orang yang berani berdiri di tempat yang tidak nyaman,” katanya singkat. “Kamu akan bergabung dengan tim kepatuhan internal.”

Ratna keluar dari ruangan itu dengan langkah tenang. Ia tahu, ini bukan kemenangan besar. Ini hanya satu bab kecil dalam perjalanan panjang. Intrik akan selalu ada. Api akan selalu menyala di berbagai bentuk.

Di halte bus sore itu, Ratna berdiri sendirian seperti biasa. Lampu kota mulai menyala. Ia menghela napas, menatap langit yang kelabu.

Ia mengerti kini: iman bukan pelindung dari api. Iman justru sering menempatkan seseorang tepat di tengah nyala. Tetapi seperti emas yang diuji, bukan api yang menentukan nilai, melainkan apa yang tidak hancur setelahnya.

Ratna melangkah naik ke bus. Ia tetap lajang. Tetap bekerja. Tetap berjuang. Namun ia tahu, di dalam dirinya ada sesuatu yang telah dimurnikan, dan itu cukup untuk membuatnya terus berdiri. (Ch. Enung Martina)


Selasa, 09 Desember 2025

Puisi Bancana Alam

 


Luka yang Kita Genggam

Di tanah yang dulu bening seperti doa,
mata air mengalir tanpa nama,
hutan berdiri seperti para tetua
yang diam-diam menjaga langkah manusia.

Namun kita datang dengan gergaji dan perintah,
membelah batang waktu,
mengoyak akar ingatan,
menyulut bara di dada bumi
seakan ia budak
yang wajib menyerahkan segalanya.

Di perut gunung, kita gali rakus:
emas, nikel, batu, dan janji-janji palsu;
kita kikis kulit bumi
tanpa ampun,
tanpa jeda,
tanpa malu.

Kita lupa,
bahwa langit bukan atap milik satu bangsa,
dan sungai bukan lorong kekuasaan.
Hegemoni mengalir seperti minyak panas,
mengolesi tangan yang ingin berkuasa
hingga lupa pada wajah sendiri.

Lalu datanglah bencana:
angin menjerit,
banjir meranggas,
tanah merosot dari tubuhnya sendiri,
dan laut mengirim gelombang
sebagai surat peringatan
yang kita enggan baca.

Alam tidak marah—
ia hanya mengembalikan
apa yang kita lemparkan:
keserakahan yang tumbuh jadi badai,
eksploitasi yang mekar jadi runtuhan,
lupa diri yang menjelma
menjadi kabar duka di layar pagi.

Kini kita berdiri
di reruntuhan suara sendiri,
bertanya-tanya
kapan terakhir kita menyapa pohon
tanpa niat menebang,
kapan terakhir kita mencium tanah
tanpa ingin memilikinya.

Alam semestinya lestari,
namun ia bukan penjaga tunggal.
Kitalah yang harus pulang
ke ruang kesadaran,
menautkan kembali nadi kita
dengan nadi bumi.

Sebab bila tidak,
kita akan terus menggenggam
luka yang kita ciptakan sendiri
dan bumi,
dengan kesabaran tak bertepi,
akan tetap mengingat
meski kita memilih lupa.

( Ditulis ketika bencana marak, sementara ada orang yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi)

Senin, 08 Desember 2025

Cerpen Perjuangan Perempuan (2)

 


Hari yang Tidak Pernah Selesai

Jam dinding di ruang admisi RS Melati Raya berdetak pelan, seperti menghitung mundur kesabaran yang setiap hari terkikis. Ratna Kusumawati menyalakan laptop tuanya. Mesinnya mendengung, nyaris merintih. Sama seperti dirinya yang sudah dua puluh tahun duduk di meja itu, merapikan data yang tak pernah selesai, menambal kesalahan orang lain, dan menahan perasaan yang tak pernah punya ruang untuk diucapkan.

Hujan pagi itu turun seperti air mata yang tak ditumpahkan. Jakarta masih gelap meski jam sudah menunjukkan 06.10. Ratna tiba paling pertama, seperti biasa. Ia tidak berusaha datang pertama; ia hanya tidak punya pilihan. Terlambat sedikit saja, semua orang menudingnya. Mereka tidak pernah terlambat, hanya “terkendala.” Sedangkan Ratna? Ia teledor.

Ia menyalakan lampu meja. Cahaya kecil itu menyingkap tumpukan berkas yang sudah lama menunggu. Pekerjaan hari ini sudah terlihat menumpuk sejak kemarin. Data pasien baru, validasi BPJS, rekonsiliasi klaim bulan lalu, dan entah apa lagi yang akan datang menjelang siang. Ratna meraih termos kecil berisi kopi hitam yang dibuatnya sebelum subuh. Kopi itu tidak panas lagi, tetapi cukup untuk menyadarkannya bahwa hari akan kembali panjang.

Rekan-rekannya mulai berdatangan pukul tujuh lewat. Suara sandal, suara tertawa, suara keluhan tentang proyek suami atau anak-anak yang malas sekolah. Ratna menatap layar, mencoba tidak mendengar. Mereka tidak jahat, hanya… tidak peduli.

Kemarin, ia mendengar dua rekan mudanya bergosip:

“Bu Ratna itu ya, kayak bayangan. Ada, tapi nggak berpengaruh.”
“Iya. Kerjanya cuma input doang. Untung gajinya kecil.”

Ia masih bisa merasakan tusukan kata itu di dadanya.

Bagas, atasan mudanya, datang sambil menenteng kopi mahal. Ia hanya melirik Ratna, lalu langsung ke ruangan. Lima menit kemudian, keluar email:

Bu Ratna, tolong segera sinkronkan data klaim Maret–April. Ada temuan selisih cukup besar. Hari ini harus selesai. — Bagas.

Ratna menarik napas panjang. Hari ini baru mulai, tetapi ancaman sudah terasa.


Pada pukul sembilan, kantor pusat mengirim notifikasi lain—lebih tajam, lebih dingin:

Jika tidak diselesaikan, bagian admisi akan dikenakan pemeriksaan internal.

Ada kata-kata yang tidak dituliskan tetapi terasa jelas: pecat, sangsi, kesalahan administratif, kelalaian staf.

Dan staf itu, seperti biasa, adalah Ratna.

Ia membuka folder lama. Maret–April adalah periode yang kacau. Berkas masih sebagian manual, sebagian digital. Ada pergantian shift mendadak. Ada hari ketika jaringan mati selama tiga jam. Semua orang mengeluh, tetapi akhirnya Ratna yang harus membereskan.

“Bu Ratna,” suara Bagas muncul dari belakangnya. “Temuan pusat cukup parah. Saya perlu Ibu fokus. Jangan salah lagi, ya. Teknisnya sudah jelas, kan?”

Kalimat itu seperti cambuk. Ratna memaksakan anggukan.

Padahal, dialah yang paling mengerti teknis itu.

Setelah Bagas pergi, Ratna menunduk lama. Tangannya gemetar sedikit. Sudah berapa lama ia menahan semuanya? Dua puluh tahun? Ia nyaris lupa kapan terakhir kali merasa dihargai. Ia hanya ingat wajah Aldi kecil, anaknya di rumah, yang setiap hari menunggu kepulangannya sambil menggenggam mainan favorit.

Anaknya tidak bisa membaca cepat, tidak bisa memahami instruksi rumit, tidak bisa bersosialisasi seperti anak lain. Tapi ia bisa tersenyum kepada Ratna seolah dunia tidak pernah menyakitinya. Senyum itu yang membuat Ratna bertahan.

Keluarganya baik-baik saja, suaminya sabar, tetapi gaji mereka tidak cukup tanpa penghasilan Ratna. Jika ia dipecat, terapi anaknya akan berhenti. Itu saja sudah cukup membuat Ratna berjuang mati-matian mempertahankan pekerjaan yang tidak pernah mau mengakui keberadaannya.


Siang itu, Ratna mendapati keganjilan pada data Maret:
Jumlah klaim yang tertera tidak sesuai dengan laporan harian.

Ratna membuka arsip manual, kebiasaannya yang sering diejek sebagai “cara orang tua.” Begitu ia bandingkan dengan file digital, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti bernapas.

Ada edit log dari user lain.
Seseorang telah mengubah datanya.

Tanggal edit itu adalah hari ketika Ratna sedang mengurus anaknya yang demam dan pulang dua jam lebih awal. Data itu seharusnya aman, tetapi ternyata tidak.

Edit itu menyebabkan selisih besar dalam laporan. Dan karena pengguna lain tidak mau bertanggung jawab, kesalahan mengalir begitu saja ke bawah. Ke Ratna.

Ia menutup mata. Kepala berat. Ada kemarahan, ketakutan, dan kelelahan yang menyatu jadi satu beban. Rasanya ingin menangis tapi tidak ada waktu.

Ia harus memperbaikinya, dan cepat.

Ratna bekerja tanpa makan siang. Tangan yang sejak pagi gemetar kini bergerak otomatis. Ia menelusuri jejak file sampai ke akar. Satu demi satu, ia salin dan rekap ulang. Jam berganti, hujan berhenti, langit memucat, dan ruangan mulai kosong.

Pada pukul lima, karyawan lain sudah pulang.

Pada pukul enam, cahaya lampu putih membuat matanya pedih.

Pada pukul tujuh, hanya suara AC dan napasnya sendiri yang terdengar.

Ia menatap layar:
semuanya sudah ia perbaiki.

Laporan telah rapi. Selisih telah ditutup. Data telah benar.

Tapi tangannya tetap gemetar. Karena ia tahu—di kantor ini, kebenaran tidak selalu menyelamatkan.

Ratna menyimpan file dalam satu folder khusus. Ia berniat mengirimkan laporan itu besok, agar pikirannya lebih jernih.

Lalu, ia mematikan komputer.

Dan saat itulah, pesan WhatsApp masuk:

Bu Ratna, pusat minta laporan FINAL malam ini. Kirim sebelum jam 21.00. — Bagas.

Ia menatap layar ponselnya, gemas, lelah, marah, frustasi… tapi ia tidak punya pilihan.

Ratna menyalakan kembali komputer. Matanya terasa terbakar.

Di rumah, suaminya menunggu. “Sayang, sudah jam setengah sembilan. Kamu di mana?”

Ratna hanya menjawab singkat: “Sebentar lagi selesai.”

Bagas kecil sudah tidur. Ratna menahan isak kecil.

Ia mengirim laporan itu pukul 20.52. Tepat waktu.


Tidak ada balasan. Tidak ada “terima kasih.” Tidak ada pujian. Yang ada hanya keheningan.

Ketika ia hendak mematikan komputer, pintu ruang admisi terbuka sedikit. Satpam mengintip.

“Bu… nggak pulang?”

Ratna tersenyum lelah. “Sebentar lagi.”

Ia memaksakan diri berdiri. Tubuhnya terasa kosong. Kakinya lunglai.

Lampu-lampu lorong terlihat berkedip. Entah karena listrik, atau karena matanya yang terlalu lelah.

Ia keluar gedung dengan langkah berat. Di halte, bus terakhir sudah pergi.

Ia menunggu lama. Angin malam mengiris kulitnya. Kota terasa jauh, asing, dan penuh bayangan.

Pukul 22.15 sebuah bus datang. Ratna naik. Kursinya keras, lampunya redup. Ia menempelkan kepala pada jendela yang dingin.

Lalu ia menangis tanpa suara.


Di rumah, Ratna membuka pintu perlahan. Suaminya tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Ratna mematikan televisi. Ia masuk ke kamar anaknya dan membelai rambut Aldi yang tidur pulas.

“Maaf ya, Nak…” bisiknya. “Mama selalu pulang terlambat.”

Tidak ada jawaban. Tapi melihat anaknya saja membuat Ratna merasa sedikit hidup.

Ratna duduk di sisi ranjang. Bahunya terasa berat. Ia memejamkan mata sejenak.

Lalu ponselnya berbunyi.

Email masuk.

Dari: Kantor Pusat
cc: Manajemen RS, Bagian Admisi

Ratna menahan napas.

Setelah meninjau laporan yang dikirimkan, kami menemukan beberapa ketidaksesuaian lain pada data bulan sebelumnya. Bagian admisi diminta hadir dalam rapat klarifikasi besok pagi pukul 08.00.

Ratna membaca ulang.

Beberapa ketidaksesuaian lain.
Bulan sebelumnya.
Besok pagi.

Tubuhnya dingin.

Ratna tahu.
Ini tidak akan pernah selesai.

Data itu memang bisa ia rapikan. Kesalahan orang lain bisa ia tanggung. Pengabaian atasan bisa ia telan. Tetapi sistem ini, struktur yang membuat orang kecil memikul beban kesalahan tanpa suara. Semua tidak akan berhenti.

Ratna duduk lama. Nafasnya pendek. Ia memikirkan dua puluh tahun yang ia berikan.
Dua puluh tahun yang hilang dalam lorong-lorong rumah sakit.
Dua puluh tahun yang tidak pernah dianggap.

Besok ia harus kembali. Ia tahu itu. Karena hidup tidak memberi pilihan lain.

Ia mematikan lampu kamar Aldi, keluar pelan, dan merapatkan pintu.

Malam sudah larut.
Ratna berbaring di ranjang, menatap langit-langit yang kosong.
Air matanya jatuh tanpa suara.

Dalam gelap, hanya satu kalimat yang berulang-ulang terputar di pikirannya:

"Hidup ini… tidak pernah selesai."

Dan ia tahu, esok pagi ia akan bangun lagi,
menjalani hari yang sama,
yang tak pernah mengerti arti perjuangan seorang perempuan
yang bekerja dalam bayang-bayang.

(Ch. Enung Martina Terinspirasi oleh seorang perempuan, admisi di sebuah sekolah swasta di Serpong)