Senin, 28 Agustus 2017

SAIGON DALAM SEPASAR (BAGIAN IV)




MUSIUM  PENDERITAAN

Jumat, 21 Juni 2013

War Remnants Museum adalah yang terpopuler di Ho Chi Minh City. Museum yang dibuka sejak 1975 ini memamerkan masa-masa Perang Vietnam. Musium ini tepatnya di antara Jalan Ly Tu Trong, Pasteur, Le Thanh Ton dan Nam Ky Khoi Nghia. Museum ini mengilustrasikan sejarah kelam Vietnam dan Amerika pada masa Perang Vietnam yang terjadi pada 1961-1975. Dengan begitu  memberitahu para pengunjung  tentang hal yang mungkin belum mereka ketahui mengenai perang tersebut.

Terlihat banyak sekali turis yang termenung saat melihat foto-foto di museum ini. Termasuk saya di dalamnya. Bukan hanya merenung saya melihat diorama, foto, gambar tentang perang, bahkan air mata saya tak kuasa untuk dibendung. Ketika saya  melihat koleksi dalam museum ini, rasanya saya menyaksikan kekejaman di luar batas kemanusiaan. Namun, ketika saya lihat lagi beberapa kekejaman hingga dunia dengan era digital sekali pun keejaman yang dibuat oleh mahluk yang menamakan dirinya manusia yang berakal budi pun masih tetap ada.

Bagi Anda yang menggemari film perang tentu cukup akrab dengan film-film berlatar belakang perang Vietnam, seperti Platoon, Full Metal Jacket, Born on the Fourth of July dan serial TV Tour

of Duty. Saya hanya menonton serial TV Tour of Duty saja.




Perang dingin yang berlangsung selama 18 tahun (1957 – 1975) antara Republik Vietnam (Vietnam Selatan) – yang didukung Amerika Serikat – dan Republik  Demokratik Vietnam (Vietnam Utara) – yang didukung USSR dan Tiongkok – itu memang banyak dijadikan sumber insprirasi dalam dunia perfilman Amerika.


Dan jika kita berkunjung ke Ho Chi Minh City – dahulu disebut Saigon, Anda akan bisa menemukan perang sebagai tema yang kental mewarnai sejumlah museum di kota itu. Namun perang ternyata bukan sekadar cerita getir tentang pertumpahan darah, melainkan juga kisah tentang kemerdekaan, kebebasan dan kebahagiaan rakyat Vietnam. Rupanya pemerintah Vietnam telah berhasil mengubah sisa peninggalan perang Vietnam menjadi obyek wisata yang menarik buat turis untuk berkunjung. Sisa-sisa peninggalan perang dengan Perancis dan Amerika, termasuk kekejaman yang terjadi pada saat itu tergambar di War Remnants Museum, yang rupanya cukup berhasil sebagai museum yang popular di Vietnam karena berhasil menarik minat wisatawan sebanyak 500 ribu orang lebih setiap tahunnya.



Menurut Miss Mila, Museum ini menempati area seluas dua hektar persegi, sebelum menjadi gedung berarsitektur Prancis ini dulu sempat beberapa kali beralih fungsi, mulai dari istana gubernur Indochina, markas besar administratif sementara, kantor komisaris tinggi Prancis, hingga tempat tinggal sementara Presiden Diem saat pembangunan Independence Palace – disebut Gia Long Palace – dan mahkamah agung. Konon Presiden Diem memerintahkan pembangunan tiga terowongan bawah tanah di tempat ini, yang terhubung dengan sejumlah bagian lain dari Saigon, seperti Cholon. Tujuannya agar dia dapat melarikan diri saat terjadi kudeta.Sayang, usaha melarikan diri dari kudeta itu gagal sehingga dia tertangkap dan dibunuh.


Di museum yang terdiri dari dua lantai ini, kita bisa melihat perjalanan sejarah Ho Chi Minh City selama 300 tahun, dari kota pelabuhan biasa hingga menjadi kota terpadat dan terbesar di Vietnam. Ada tujuh ruangan besar dengan tema yang berbeda-beda di sana, antara lain yang terkait dengan arkeologi, sejarah pembentukan dan perkembangan, kebudayaan, industri kerajinan tangan dan tentu saja perang revolusi hingga menjadi Vietnam saat ini. Kalau Anda ingin tahu sejarah lengkap Ho Chi Minh City, museum ini harus Anda kunjungi. Informasi yang terpampang dalam bahasa Prancis, Inggris dan Vietnam pun cukup lengkap, dengan display yang menarik.Bahkan ada juga boneka-boneka yang sengaja dipajang untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Saigon, seperti upacara perkawinan lengkap dengan pakaian pengantin tradisional.
Museum itu seolah ingin menunjukkan kepada dunia kekejaman yang dilakukan pasukan Amerika kepada rakyat Vietnam, lewat foto-foto dokumentasi hitam putih dan berwarna. Potret rakyat Vietnam, dari orang dewasa hingga anak-anak balita, yang menjadi korban ledakan bom dan ranjau darat, terjangan peluru, maupun semprotan cairan kimia beracun dari pesawat terbang yang disebut Agen Oranye, secara terbuka dipajang di setiap dinding. Bahkan ada juga kotak-kotak kaca berisi mayat bayi yang mengalami malformasi akibat Agen Oranye, dan kemudian diawetkan. Saya menyarankan bagi  pengunjung yang termasuk orang yang tak tahan melihat kekerasan, sebaiknya jangan mengunjungi museum ini.

Karena saya seorang turis asing di negri ini yang tak tahu kejadian persisnya, memanng aura kebencian rakyat Vietnam terhadap pasukan Amerika Serikat begitu kental menyelimuti museum. Tak heran jika sejumlah review di Internet menyebut museum ini sebagai tempat yang penuh propaganda pemerintah Vietnam untuk memojokkan Amerika Serikat telah melakukan kejahatan perang di negara itu.

Saya melihat hal yang positifnya dari museum ini yaitu tempat ini menjadi tempat wisata yang ramai dikunjungi para turis. Sudah pasti itu akan membawa dampak ekonomi yang bagus bagi rakyat Vietnam. Selain itu, bagi para kaum muda Vietnam, juga mengobarkan semangat nasionalisme yang tinggi dan menumbuhkan rasa cinta tanah air yang kuat.

Dari semua hal yang saya rasakan, saya saksikan, dan saya pelajari di museum ini
bisa menjadi pengingat kuat bahwa perang untuk alasan apa pun hanya membawa kerugian dan kesedihan, serta menimbulkan luka mendalam.  Tak ada sedikitpun keuntungan dari berperang.

(Ch. Enung Martina)











Jumat, 18 Agustus 2017

SAIGON DALAM SEPASAR (BAGIAN III) : Sungai Mekong


Kamis, 20 Juni 2013

Sungai Mekong


Sejak sekolah di SD, saya sering mendengar tentang nama sungai ini. Saya tidak membayangkan seperti apa gerangan sungai ini. Dalam benak saya kecil dulu ya seperti sungai di sekitar kampung kami. Namun, bayangan kanak-kanak jauh melesetnya. Dari penginapan, Sungai Mekong kami tempuh dalam waktu 2 jam.

Sungai Mekong merupakan salah satu dari sungai-sungai utama yang ada di dunia. Sungai Mekong menjadi sungai terpanjang ke-12 di dunia, dan sungai ke-10 terbesar di dunia dengan volume dalam melepas air sekitar 475km³ air setiap tahunnya. Sungai ini mempunyai kedalaman hingga 100 meter. Sungai Mekong berasal dari daerah pegunungan Kwen Lun di Asia Tengah, mengalir melalui daerah Cina Selatan, menjadi perbatasan Thailand dan Indo Cina dan membangun tanjung Kamboja.  Karena ukurannya yang besar dan panjang itulah maka tak heran jika sungai Mekong mengaliri banyak negara di kawasan Asia Timur, yaitu China melalui provinsi Yunan, serta Asia Tenggara, yaitu Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam sebelum mengalir ke Laut Cina Selatan.

Dalam bahasa Vietnam, nama sungai Mekong sering disebut juga dengan ‘Cuu Long‘ yang bermakna ‘9 Naga untuk 9 mulut yang menghentikan aliran sungai besar ini seperti yang diserap oleh laut‘. Menurut cerita pemandu,  ada sebuah fenomena yang tidak biasa, yang terkadang terjadi di sungai Mekong, yaitu kemunculan bola-bola lampu yang sering kali terlihat dari waktu ke waktu naik dari permukaan air di bagian sungai dekat Vientiane, Laos atau Nong Khai. Sehingga hal ini seringkali diduga sebagai ‘bola api naga‘. Oleh penduduk setempat , mereka pun mengaitkan fenomena ini dengan ‘Phaya Naga‘ atau ‘Naga Mekong‘. Adanya cerita tentang naga menambah popularitas sungai sepanjang 4.350 km ini. Seperti yang dilansir dari CNN pada Kamis (6/10/2016) Sungai Mekong sepanjang 4.350 km menjadi habitat ikan air tawar dengan ukuran jumbo, yang rupanya bernama ikan giant oarfish.

Kawasan delta sungai Mekong merupakan pemasok beras Vietnam yang terbesar, disusul dengan kawasan delta sungai merah yang terletak di utara. Delta sungai Mekong terbentuk oleh pengendapan dari beberapa tentakel dan anak sungai dari Sungai Mekong yang besar yang berasal dari daratan dataran tinggi Tibet sekitar 2.800 mil jauhnya.

Karena delta Sungai Mekong, maka Vietnam menjadi salah satu eksportir beras terbesar di dunia selain Thailand. Dalam hal ini, Vietnam memiliki persentasi tertinggi atas penggunaan lahan untuk kepentingan cocok tanam permanen, yaitu sekitar 6,93%, daripada negara-negara lain yang dilewati oleh aliran Sungai  Mekong. Selain beras, kopi, teh, dan karet telah menjadi komoditas ekspor yang utama bagi Vietnam. Namun seiring berjalannya waktu, peranan pertanian terhadap pemasukan ekonomi Vietnam telah berkurang.

Selain padi, saat ini, wilayah delta sungai Mekong merupakan salah satu produsen tertinggi untuk tanaman  sayuran dan buah-buahan di Vietnam. Menurut data riset, sungai Mekong juga telah menjadi rumah dari sebagian besar jenis ikan raksasa dari sungai dunia lainnya. Sungai ini merupakan salah satu dari daerah yang memiliki biodiversitas terbanyak di dunia. Sungai Mekong merupakan daerah keanekaragaman geogafi dan keanekaragaman iklim mendukung biodiversitas yang penting, dengan ditemukan lebih dari sekitar 1068 spesies baru dalam kurun waktu 10 tahun. Hingga saat ini diperkirakan ada sekitar 2000 spesies tanaman, 1300 spesies ikan, 1200 spesies burung, 800 spesies reptil dan amphibi, dan 430 spesies mamalia. Lebih dari 1200 spesies ikan telah teridentifikasi dan masih ada lebih dari 1700 yang belum teridentifikasi

Bisa kita lihat Mekong memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan perekonomian warga Vietnam sebagai negara yang awalnya dikategorikan sebagai negara miskin akibat dari perang Vietnam yang sangat menghancurkan perekonomian negara itu.


Sampailah kami di delta pertama, lalu kapal kayu merapat di dermaga. Semua penumpang turun dan kami menuju ke sebuah peternakan madu sekaligus tempat mencicipi madu. Di sana kami disuguhi teh madu dan ramuan dari akar-akaran herba yang berkhasiat untuk kesehatan dan stamina tubuh. Saya mencicipi teh madu yang wangi dan sedap. Saya juga mencicipi minuman berkhasiat. Rasanya sangat pahit dan hangat di tenggorokan yang merembet ke dada dan perut.

Setelah itu, peserta tur diajak untuk duduk manja dan bersantai sambil menikmati sajian aneka buah tropis. Selagi peserta tur makan buah-buahan yang dicocol cabe garam kami dihibur dengan nyanyian gadis-gadis Vietnam yang berbaju tradisional Ao Dai yang berwarna cerah, panjang namun ketat. Sangat cantik mbak-mbak ini. Mereka menyanyikan lagu berbahasa Vietnam, berbahasa Inggris, dan juga lagu Inndonesia yang berjudul Madu dan Racun. Sepanjang perjalanan saya di Vietnam rupanya lagu Madu dan Racun sangat terkenal di sana. Selesai lantunan lagu, adik-adik kecil yang lucu dan imut-imut serta cabi dengan baju ao dai-nya, mengedarkan kantong kolekte untuk saweran.



Tur Mekong Delta pun dilanjutkan. Pemandu meminta  peserta membagi diri menjadi 5 orang untuk tiap perahu. Perahu kecil dengan penumpang 5 orang ditambah 2 pendayung  ini menyusuri  sungai Mekong. Masing-masing tim menyeimbangkan perahu agar tak oleng, campuran antara yang berbadan kecil dan besar dalam satu perahu.

Sebelum naik perahu pemandu berpesan kepada semua peserta tur untuk tidak mengeluarkan tangan ke dalam sungai nanti tangannya hilang. Semua peserta tur  ada yang bertanya mengapa, pokoknya tangan tidak boleh keluar dari perahu dan dicelupkan ke sungai. Namun, ketika saya kaji, karena di sungai hidup juga hewan-hewan air buas yang bisa menerkam tangan yang menjulur.


Peserta tur mulai menikmati kanal-kanal Mekong dengan  pepohonan yang tumbuh di sela-sela anak-anak Sungai Mekong. Pendayung kami seorang perempuan Vietnam dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Dia perempuan yang cukup ramah jika dibandingkan dengan orang Vietnam yang jarang senyum pada umumnya. Perempuan ini berbadan sedang dan berkuning langsat seperti pada umumnya orang sana. Parasnya cantik  dengan badan yang kuat ia mampu membawa perahu kami melalui kanal-kanal dan anak-anak sungai yang rimbun. Seperti biasa saya orang yang bawel dan suka mengobrol, maka mengobrollah kami di sela-sela dia mengayuh perahunya. Dia bercerita tentang keluarganya yang juga kena korban perang pada masa itu. Sekarang dia berkeluarga dengan suaminya yang juga bekerja di dermaga Mekong. Ketika kami melewati perkampungan di pinggir sungai, ia menunjukkan salah satu rumah sederhana yang merupakan rumahnya.  Rasanya saya sangat bangga melihat kaum perempuan ikut andil dalam perekonomian keluarga. Juga saya bangga pada diri saya yang ikut andil dalam perekonomian keluarga saya.


Selesai kami menyusuri Mekong, kami naik kembali ke kapal dan menyusuri sungai Mekong kembali lalu berhenti di sebuah delta/daratan yang cukup luas untuk beristirahat makan siang. Dalam kapal sudah tersedia untuk kami minuman kelapa muda yang segar dan manis.  

Sambil menyeruput air kelapa yang manis segar saya mengingat sebuah puisi tentang Mekong yang ditulis oleh Latiff Mohidin.

 SUNGAI MEKONG

1

Sungai Mekong

kupilih namamu

kerana aku begitu sepi

kan kubenamkan dadaku

ke dadamu

kaki kananku ke bulan

kaki kiriku ke matahari

kan kuhanyutkan hatiku

ke kalimu

namaku ke muara

suaraku ke gunung.



2

Sungai Mekong

nafasmu begitu tenang

lenggangmu begitu lapang

di tebingmu

ada ibu bersuara sayu

mencari suara puteranya yang hilang

waktu ia merebahkan wajahnya

ke wajahmu

kau masih bisa senyum senang.



3

Sungai Mekong

akhirilah tari siang riakmu

kulihat di dasarmu

kuntum-kuntuman berdarah

batu-batu luka

malam ini

ribut dari utara akan tiba

tebingmu akan pecah

airmu akan merah

dan arusmu akan lebih keras

dari Niagara

(Vientienne, 1 Februari 1966, Latiff Mohidin}



Sungai Mekong menjadi  berkat untuk semua mahluk sekaligus menjadi saksi sejarah berdarah negri yang kukunjungi kali ini.

(Ch. Enung Martina, Ho Chi Min City, malam Jumat, 20 Juni 2013)


















Jumat, 11 Agustus 2017

SAIGON DALAM SEPASAR (BAGIAN II) : Chu Chi Tunnel


Rabu, 19 Juni 2013



Terowongan Cu Chi, 75 kilometer barat laut, atau dua jam perjalanan dari Ho Chi Minh City (HCMC)  adalah  terowongan bawah tanah yang terkenal yang digunakan oleh Vietkong untuk menyerang sasaran di sekitar Saigon selama Perang Vietnam. Terowongan ini dibangun di bawah desa-desa  tempat para petani dipindahkan secara paksa.  Cu Chi adalah jaringan sepanjang 200 mil  dengan rumah sakit bawah tanah, ruang pertemuan, tempat tidur multi level, pintu perangkap, dapur tanpa asap, tempat penampungan serangan udara, pabrik senjata , ruang strategi, dan bahkan seluruh desa bawah tanah dengan semacam bioskop dan aula besar untuk pertunjukan.

Terowongan Chu Chi yang terletak 2 jam dari jantung kota HCMC ini memang sangat terkenal di kalanagn para wisatawan. Terowongan Cu Chi atau lebih kerennya dengan sebutan  Cu Chi Tunnel adalah terowongan yang digunakan tentara Vietkong untuk bertempur dan berlindung bagi keluarganya dari gempuran bom zaman perang dulu. Sebagian besar pintu masuk terowongan berukuran kecil, hanya bisa dimasuki oleh orang Vietnam yang ramping.

Inilah yang membuat bangsa Amerika kecolongan tidak mengetahui keberadaan terowongan ini. Karena begitu rapihnya bunker ini, orang Amerika tidak menduga ada tempat persembunyian di sana. Terowongan ini berada di tengah hutan jauh dari ibukota. Keberadaan terowongan ini tidak nampak. Jejak pintu masuk ditutup rumput atau pohon sehingga seolah-olah di bawah tanah tidak ada apa-apa. Benar-benar keadaan alam bisa mengelabui musuh.


Melihat langsung terowongan bekas perang ini, kita bisa membayangkan bagaimana tentara Vietkong ini bergerak di bawah tanah, meskipun hanya beberapa ratus meter yang bisa kita masuki.

Cu Chi bukan hanya lorong seperti jalur gua saja, tapi lengkap dengan ruang rapat, dapur dan tempat untuk tidur. Di atas pintu masuk terowongan selalu ditutup daun-daun rontok dari pohon jadi seolah seperti tanah yang tidak pernah diinjak.

Terowongan ini tak hanya panjang, tetapi juga dirancang sangat bagus dan strategis. Berpusat di daerah Cu Chi, Hoj Non, sekitar 70 kilometer di luar Kota Ho Chi Minh (Saigon), Cu Chi memiliki tiga saf. Saf pertama bertinggi 3 meter, saf kedua 6 meter, dan saf ketiga 10 meter. Banyak area yang menjadi tempat tinggal. Untuk menghubungkannya, dibuat terowongan kecil yang hanya bisa dilewati secara jongkok oleh orang-orang kecil seperti orang Vietnam. Bagi tentara AS yang besar dan tinggi, mereka jelas kesulitan, bahkan tak bisa masuk.

Terowongan ini dibuat dengan pertimbangan dan desain yang bagus. Mungkin AS bisa mengebom, tapi hanya bisa merusak lapisan atas. Lapisan lainnya tetap aman. Bahkan, AS pernah memasukkan zat kimia, tapi tetap saja gagal masuk ke bagian paling vital. Begitu penjelasan yang saya terima dari pemandu.

Terowongan itu awalnya dibuat pada masa penjajahan Perancis. Perancis sendiri mulai menjajah Vietnam pada 1859. Pada 1941, mereka sempat menyingkir karena diusir Jepang. Namun, setelah kekalahan Jepang, Perancis kembali lagi. Sementara itu, Viet Minh (gerakan kemerdekaan) pimpinan Ho Chi Minh sudah menguasai Vietnam Utara dan melakukan perlawanan.

Perang ini sampai 1954. Semasa itu, Perancis yang menguasai Vietnam Selatan melakukan kerja paksa. "Rakyat Vietnam seperti menghadapi buah simalakama. Menuruti kerja paksa akhirnya mati, menolak juga mati. Tapi, mereka sebagian besar akhirnya memilih menolak dan sembunyi. Maka, dibuatlah terowongan untuk bersembunyi dari Perancis dan kerja paksa," ungkap guide Miss Mila, guide orang Vietnam, yang pintar berbahasa Indonesia dan bahaas Jawa. Dahulu Miss Mila kuliah di Universitas Gajah mada atas biaya beasiswa dari Negara Indonesia.

Setelah perang Viet Minh dan Perancis berakhir pada 1954, Amerika Serikat (AS) muncul. Mereka mendukung Perancis dan Pemerintah Vietnam Selatan yang republik. Maka, terowongan itu diperluas lagi oleh orang Vietnam, terutama yang prokomunis atau pemerintahan Vietnam Utara.

Perang melawan AS semakin panas. Terowongan itu pun terus diperpanjang sebagai markas dan benteng Vietnam pro-Hanoi (Viet Minh). Karena perang terus berlangsung, maka terowongan juga terus diperluas dan diperpanjang, terutama pada 1966-1968, sampai akhirnya mencapai 250 kilometer. Sungguh luar biasa. Apalagi, di dalamnya hidup sekitar 10.000 orang Vietnam, tentara, dan keluarganya. Sebab, hanya dengan demikian, mereka lebih aman dari kejaran AS.

Terowongan itu juga dilengkapi lubang udara yang rapi dan bisa masuk secara menyeluruh. Sebagian lubang udara terdapat di gundukan tanah yang dibuat menyerupai sarang semut. Selain itu, lubang juga ada di bawah pohon-pohon yang tertutup akar. Adapun makan-minum dan kebutuhan lain disuplai oleh para Vietkong yang menyamar. Selain itu, jika malam hari, sebagian keluar mencari makanan dan mencari senjata. Mereka juga punya tempat kerja untuk membuat senjata-senjata sederhana.


Akhirnya, pada 1975, AS menyerah dan memutuskan kembali ke negaranya. Vietnam pun merdeka, dan Vietkong yang hidup di terowongan pun keluar merayakan kemenangan itu. Baru tahun 1975 itu pula Vietkong yang tinggal di bawah tanah keluar secara bebas. Artinya, mereka hidup di bawah tanah sekitar 20 tahun. Sebuah rekor luar biasa. Ini berkat desain Cu Chi yang sangat bagus dan mengagumkan.

Maka, AS tak pernah sukses melawan Vietnam. Bahkan, beberapa kali mereka terjebak oleh senjata-senjata rahasia Vietnam yang sederhana, tetapi berdampak besar. Akhirnya,  tank-tank AS pun sering bisa dilumpuhkan.

Selama AS berada di Vietnam, Vietkong (orang Vietnam yang membela Vietnam Utara pro kemerdekaan) berada di terowongan itu, terutama Vietkong yang berada di Vietnam Selatan. Terowongan ini menjadi basis perlawanan terhadap AS. Jadi, AS harus menghadapi Vietkong dari terowongan, juga dari Vietnam Utara.

Perang Vietnam di masa lampau memang pahit. Tapi dampaknya sekarang ini malah membawa turis-turis asing untuk datang berbondong-bondong ke Ho Chi Minh City (HCMC) hanya untuk melihat bekas-bekas peninggalan masa perang Vietnam melawan Amerika Serikat.

Cu Chi amat dibanggakan orang Vietnam. Terowongan tikus ini menjadi simbol kejayaan dan kemenangan mereka atas Perancis, Pemerintah Vietnam Selatan, juga Amerika Serikat. Terowongan Cu Chi pun kini dirawat oleh Pemerintah Vietnam.

Selesai memasuki terowongan, peserta tur mendapat suguhan makanan zaman perang yaitu ubi kayu rebus ditabur sambal bawang dan cabai. Rasanya enak mengingatkan  makanan kampung saya di Ciamis. Para peserta juga diperbolehkan untuk menembak dengan senjata yang tersedia dengan dikenakan biaya tentunya. Selain itu, di situ banyak dijual jajanan seperti jagung bakar, jagung rebus, dan kelapa muda.

Di tempat ini ada begitu banyak kisah pilu yang menodai kemanusiaan. Ketika kita merenung mengapa manusia bisa memperlakukan sesamanya seperti itu? Di manakah hati nurani kala itu? Semua kekejaman perang membekas pada setiap hati orang Vietnam hingga keturunanya. Kesedihan itu masih bisa saya baca dari sikap mereka ketika bertindak sehari-hari.  Banyak wajah orang Vietnam begitu serius dan bertampang sedih. Adakah ini merupakan bekas luka masa lalu masih tersimpan jauh di dalam jiwa?

Bila memikirkan hal tersebut, refleksi yang panjang tak akan pernah ada habisnya. Karena manusia hingga kini pun masih terus saja menjadi srigala bagi manusia lain.  Terowongan Cu Chi mengingatkan kita semua bahwa perang bukan jalan untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan.  Terowongan ini memperlihatkan daya juang yang melampaui lazimnya manusia untuk bisa bertahan hidup. Terowongan ini mengingatkan kita begitu banyak orang menghormati kehidupan. Sementara itu, ada juga orang yang sangat tidak respek pada kehidupan.  Saya belajar bahwa Sang Hidup mencintai siapa pun yang menghormati kehidupan.
(Christina Enung Martina)

Kamis, 10 Agustus 2017

SOSIALISASI KEGIATAN BIMBINGAN BELAJAR DI KAMPUNG BARU


Kegiatan bimbel di Kampung  Baru, Jelupang, RT 06 dan 07, sudah berjalan satu semester. Tahun ini masuk tahun ajaran baru 2017-2018, Bimbel Kampung Baru, mulai berkegiatan lagi.  Tahun ajaran sebelumnya peserta bimbel mencapai 60 orang, mulai dari peserta didik tingkat TK sampai dengan SD kelas  VI. Namun, tahun ajaran ini peserta bertambah menjadi  146. Tahun ini peserta dimulai dari TK sampai dengan SMP kelas IX.

Untuk menggalang dukungan,  pengurus Bimbel Kampung Baru mengadakan sosialisasi kegiatan ini kepada para guru, pemerhati, dan OMK.  Kegiatan sosialisasi diadakan pada hari Sabtu, 5 Agustus 2017, pukul 18.30 sampai pukul  20.30, di Selasar St. Agustinus dekat aula Gereja St. Ambrosius Vila Melati Mas. Dalam kegiatan sosialisasi tersebut disampaikan laporan sekilas bimbel tahun ajaran lalu, rencana bimbel untuk tahun ajaran 2017-2018, kendala  yang dihadapi, dan diskusi untuk menghadapi berbagai  tantangan  yang ditemukan. Diharapkan hasil diskusi ini menjadi masukan untuk perbaikan bimbingan belajar selanjutnya.



Selasa, 08 Agustus 2017

SAIGON DALAM SEPASAR (BAGIAN I)


Sebuah Catatan Perjalanan
Ini merupakan catatan perjalanan 4 tahun yang lalu yang sempat terbengkalai karena berbagai alasan, salah satunya kesibukan. Selamat menikmati!

Selasa, 18 Juni 2013

(sumber gambar: http://airlines-airports.com)
Sebagian perasaan masih tertinggal di rumah. Keinginan  untuk menempel pada bocah imut yang egosentris bernama Abhimanyu masih menguasai perasaan. Itulah yang dinamakan kelekatan. Namun, aku juga berhak untuk pergi lepas dari kelekatan cinta dan aroma rumah yang hangat dan belajar untuk melihat dunia luar. Belajar untuk tega melepaskan kelekatan dari yang dicintai. Juga belajar menyapih anak untuk merasakan ditinggalkan induk. Tujuannya baik juga dari kecil dia harus tahu bahwa dia adalah individu bebas yang tak selamanya menempel pada sang ibu. Pribadi bebas yang akan meninggalkan kelekatannya pada suatu saat bila tiba waktunya.
Berangkat ke negri Vietnam dengan maskapai penerbangan Malaysia. Sambil duduk di kabin pesawat berkelas ekonomi itu, sudah saya siapkan sebuah bacaan untuk perjalanan kali ini sebagai camilan selama berada di pesawat: Menembus Langit karya Mgr. J. Sunarka, SJ. Judul yang sangat tepat untuk perjalanan udara, bukan? Menembus langit! Memang itu yang akan kami lakukan dengan boing   ... ini.
Beberapa kata-kata bijak dan inspirasi Mgr. J. Sunarka, SJ membawa pencerahan kala saya membacanya di atas awan. Tantangan mengandaikan tentang cita-cita. Bila orang mempunyai cita-cita setelah terumuskan secara samar orang dapat mengarahkan tantangan melihat dengan kadar kejelasan sesuai dengan orang tersebut apakah sudah mampu menggariskan cita-citanya tadi.   
Penerbangan menjadwalkan untuk singgah transit di Kuala Lumpur. Dua jam kami berada di bandara ini. Seperti biasa ketika para pengembara ini singgah yang akan dituju adalah tandas atau toilet dalam bahasa internasionalnya. Sesuai dengan bahasa Malaysia tandas untuk menandaskan-menuntaskan-menghabiskan  apa yang terdapat di perut yang merupakan sisa pembakaran  tubuh.
Turun di bandara kota Ho Cin Minh disambut oleh tour guide lokal. Udara cerah, suhu di kota saat itu tak jauh berbedara dengan di Jakrta. Bus membawa kami ke Oscar Saigon Hotel salah satu hotel berbintang empat di tengan kota Saigon. Sebelum tiba di hotel, kami mampir di Ho Cin Minh Park, sebuah taman kota yang di dalamnya terdapat patung bapak bangsa Vietnam, Ho Cin Minh. Nama beliau kemudian diabadikan dalam sebutan untuk kota Saigon: Ho Cin Minh. Selalu ada pengorbanan , air mata, dan darah dalam setiap perjuangan setiap bangsa. Demikian pula Vietnam mempunyai sejarah yang berdarah.
Selesai berfoto dan menikmati keindahan Ho Cin Minh Park, bis membawa kami ke hotel. Sebetulnya dari taman ke hotel berjalan kaki sangat dekat, tetapi karena terikat dengan rombongan dengan peraturannya, tentunya tak bisa sembarangan berjalan-jalan sendiri.
Makan malam kami diselenggarakan di sebuah restauran yang tak jauh dari hotel. Menu yang terhidang masakan ala vietnam dengan makanan laut yang mendominasi. Ada sup ikan yang panas dan segar mampu menghilangkan penat perjalanan udara yang seharian dialami. Hidangan penutup dengan buah tropis segar: pepaya dan semangka. Makan malam yang lezat dan sehat.
(Christina Enung Martina)
***********************************