Kamis, 29 Maret 2018

PUISI RENUNGNGAN


KAMIS PUTIH


See the source image




Kau tanggalkan jubbah-Mu
Kau ikat pinggang-Mu dengan kain lenan
Lantas air kau tuang ke dalam basi
Engkau  mau membasuh kakiku?
Apa yang Kau perbuat?
Melayani membasuh kaki!
Kenapa Kau merendahkan diri menjadi budak?
“engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan memahaminya kelak.
“Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."


Sebagai bukti  kasih sekaligus perintah:
Hendaknya engkau saling melayani!
Memberkati hidangan dengan penuh syukur

Bentuk roti tak beragi
yang dicelup pada secawan anggur merah
Inilah tubuh-Ku yang Kukorbankan bagimu
Inilah darah-Ku yang Kutumpahkan bagimu
Lakukanlah ini akan peringatan kepada-Ku

Dan aku tersungkur
aku dilayakkan
Ikut perajmuan-Mu

(Ch. Enung Martina: Lingk. St. Silverius, Jelupamg)


Minggu, 25 Maret 2018

VISUAL SAAT BERMEDITASI



Bagi saya mula-mula meditasi adalah coba-coba mengikuti apa yang disarankan oleh orang-orang (suami, teman, atau pembimbing retret). Pada tingkat awal, meditasi adalah sebuah alat untuk meningkatkan kesehatan. Begitu  orang yang berbicara tentang meditasi. Katanya lagi, meditasi dapat membantu memerangi stress, meningkatkan kesehatan fisik, meringankan nyeri kronis, membuat tidur lebih baik, merasa lebih bahagia dan lebih damai.

Ya, saya percaya-tidak percaya, karena saya belum membuktikannya. Ya, akhirnya saya memutuskan untuk belajar meditasi dari suami saya. Namun, sejujurnya saya agak takut. Saya takut tiba-tiba saya kesurupan atau roh saya pergi ke mana yang saya tak tahu tempatnya. Pokoknya banyak kekuatiran saya.

Saya pernah bermeditasi bersama teman  - teman  dalam suatu kegiatan kerohanian bersama seperti retret. Itu saja saya jatuh dalam rasa kantuk dan kebosanan yang tiada tara. Saya berpikir, saya tak mempunyai bakat untuk hal seperti itu, meskipun itu tujuannya rohani sekali pun.

Namun, pendapat saya berubah terhadap meditasi ketika melihat suami saya, Bob Hariyadi Martopranoto, bisa naik bukit Totombok setelah 3 bulan bermeditasi. Padahal, dia mempunyai gangguan radang lutut kanan, sementara kaki kirinya mengecil karena terserang polio saat dia kecil.

Nah, lantas berubahlah pandanan saya terhadap meditasi. Mulailah tertarik dengan meditasi. Itu dia, semangat penuh, lha ternyata meditasi itu tidak semudah yang dibayangkan. Hal yang paling sulit adalah disiplin untuk konsisten berlatih. Selain itu, juga sensasi rasa tak nyaman selama saya berlatih. Meditasi yang saya ikuti adalah meditasi kesehatan dengan pernafasan: Zhen Qi Sirkulasi.

Banyak pengalaman sensasi tubuh yang pernah saya alami dan saya bagi dalam tulisan saya: 


Yang belum saya ceritakan adalah pengalaman mengalami penglihatan – visual yang muncul saat bermeditasi.

Awal meditasi pun visual dalam otak kita sudah muncul. Mungkin ini yang yang membuktikan tentang hal yang  pernah saya dengar dan baca bahwa otak itu sangat visual. Awal meditasi, visual itu sudah muncul, tetapi tidak beraturan. Berganti-ganti tidak fokus. Makin sering berlatih meditasi, seiring waktu, visual makin terarah dan makin fokus.  Visual itu sangat berwarna dan sangat indah. Akan tetapi, terkadang juga menyeramkan.

Meditasi saya banyak dipenuhi dengan visual warna hijau tua, hijau muda, hijau kekuningan, hijau menuju biru, terkadang coklat tanah, coklat batu, keunguan, agak jingga, terkadang biru kelabu, biru langit, biru laut, bening, dan campuran antara aneka warna. Pokoknya kaya warna. Namun, yang sering muncul adalah warna hijau dengan variasinya.

Saat saya bermeditasi, otak saya memvisualkan beraneka bentuk bentang alam: laut, pantai,  hutan, ladang, padang pasir, sawah, pegunungan, bukit terjal, padang rumput, lorong-lorong gua, dasar laut. Kebanyakan tempat-tempat itu belum pernah saya kunjungi. Atau ada juga gabungan antara tempat yang pernah dikunjungi dengan visual otak yang jeleas lebih indah dari kenyataannya.

Selain itu tak jarang dalam meditasi hadir visual pribadi seseorang baik yang dikenal maupun yang tak kenal, bahkan sosok baru. Dalam meditasi saya pernah hadir Sukarno, presiden RI pertama. Sukarno tidak hanya hadir dalam meditasi juga bersambung dalam mimpi saya. Unik sekali pengalaman saya. Dalam mimpi Sukarno hadir dalam keadaan saya masih gadis, umur 20-an. Dia memaksa saya memakai kebaya merah. Saya katakan, saya mau kebaya hijau. Lantas saya dengan percaya diri tetap memakai kebaya berwarna hijau lumut. Pada meditasi-meditasi  berikutnya sosok Sukarno masih hadir beberapa kali. Mungkin sekitar 3 kali meditasi. Uniknya lagi, beliau hadir dalam visual seperti tayangan film. Beliau berjuang dan berpidato. Saya merasa saya harus mendoakan beliau. Jadi saya mendoakan beliau untuk kebahagiaannya bersama Sang Pencipta. Saya mendoakan agar Pencipta  juga mengampuni beliau. Sesudah itu visual itu memudar.

Sososk lain yang unuik saya ceritakan adalah kakak ipar saya, Mas Rudy. Beliau sakit kanker paru-paru. Beberapa kali dia hadir dalam meditasi saya. Lantas saya bilang dengan suami untuk menjenguk beliau. Rupanya beliau dibawa ke RS. Dua minggu kemudian visual itu muncul lagi. Lantas saya berdoa untuk kesehatan beliu. Tiga hari kemudian beliau dikabarkan sudah pulang pada Sang Pencipta. Dalam meditasi berikutnya visual Mas Rudy masih hadir dengan badannya yang kurus. Saya terus berdoa. Karena saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Sekitar seminggu visual it u terus ada. Lantas setelah itu visual beliau hadir lagi. Namun, berbeda penampilan dengan sebelumnya. Yang ini beliau nampak di usia prima belia (40 thn). Tampak prima, sehat, tampan, ceria, bersih, dan bahagia. Mengenakan baju batik warna kemerahan. Beliau tersenyum. Saya merasa ikut bahagia melihat visual yang hadir dalam meditasi saya. Saya berdoa dan bersyukur atas cinta Tuhan melalui Mas Rudy yang telah diberikan untuk keluarga selama belua hidup.

Ada banyak sosok-sosok yang sekilas muncul. Namun, kalau saya bertemu visual sosok yang terus-terusan muncul, biasanya saya berdoa saja. Saya  lebih merasa nyaman dan merasa baik adanya kalau saya berdoa.

Selain itu juga saya bertemu dengan visual-visual lain. Beberapa visual unik yang saya temukan  lain adalah saya pernah melihat naga  sebesar pohon kelapa dan panjangnya tak bisa saya tangkap oleh mata. Naga itu merayap. Saya melihat dengan sangat jelas sisiknya yang lembut dan berkilau, warnanya kecoklatan, dan dia mempunyai gerigi seperti gergaji di atas punggungnya. Geriginya itu bergurat kemerahan sampai di ujung ekornya.  

Visual unik lain. Saya pernah berada di suatu tempat. Berjalan di lorong sebuah bangunan seperti sekolah atau rumah sakit. Bangunan itu banyak pintu-pintunya yang tertutup. Bangunan itu namapak tua, tetapi bersih. Ternyata tempat itu saya temukan pada saat saya menengok Mas Rudy di rumah sakit sebelum beliau meninggal. Unik bukan? Itulah keajaiban otak. Kenapa bisa terhubung?

Saya belum menemukan jawaban yang memuaskan untuk pengalaman berbagai visual ini. Bila saya sudah menemukan jawaban yang masuk akal menurut saya, baru nanti saya  bagikan. (Ch. Enung Martina)


Jumat, 23 Maret 2018

Puisi untuk Teman Yang Berulang Tahun



Untuk Perempuan 23 Maret

Selamat ulang tahun untukmu perempuan
Yang bersamaku mengarungi birunya Laut Flores
Yang bersamaku mendaki Bukit Padar
Dengan sadar kita menaklukan  puncaknya yang terjal

Karena kutahu di bahumu
Tanggung jawab kehidupan ada
Di pundakmu  kewajiban tersandang
Dan di dadamu harapan terhampar

Bila fajar ini  terbit dan kembali dalam genggaman waktu
Doamu – doamu tak pernah pudar
Karena yang kau imani adalah hari ini
Yang membawamu pada  esok
Sementara masa lalumu  dengan manis kaukecup dalam kenanganmu.

Mataharimu kuharap tetap bersinar
Masih banyak puncak bukit
Dan birunya langit serta luasnya angakasa
Belum kita taklukkan!
(Ch. Enung Martina, Jelupang 23 Maret 208: teruntuk Mss Margareth  )

Rabu, 21 Maret 2018

PUISI TENTANG SANTA ANGELA


SATU SENJA DI SUKABUMI

( sanjak catatan tentang Santa Angela Merici)



Ketika aroma senja menguar tertiup angin gunung
Membawaku pada renung yang dalam
Pada seorang perempuan dari 500 tahun silam
Dengan pribadi berani, ugahari
Menantang gelombang pada zamannya

            Ketika desau angin di antara daun-daun
            Bak bisikan mesra kekasih
            Memimpinku untuk mempelajari
            sekelumit kisah lama
            Tentang perempuan yang mempercayakan
            seluruh denyut hidupnya
            Pada Sang Pencipta

Hawa sejuk Sukabumi memanduku
Untuk mempelajari riwayatnya
yang tak lekang dimakan usia
Tentang duka yang membenihkan litani
yang tak pernah henti

            Cahaya mentari senja menerobos
            sela-sela hanjuang merah
            Yang bergairah mereguk tetes cahaya
            Kehangatannya mengingatkan
            pada mesranya keluarga kecil
            Di satu sudut bumi, dezenzano
            Yang menyimpan cerita tentang
            kasih seorang ayah,
            Giovani Merici

Awan putih berarak di kelengangan
langit senja Sukabumi
Membantuku melihat pribadi memikat
Dari perempuan sederhana Santa Angela
Pribadi tegas, namun lembut
Pendamai bagi yang berselisih

            Cericit burung berkicau menyambut senja
            Di atas dahan-dahan mahoni tua
            Riuh dan bebas
            Mengingatkanku pada pribadi Angela
            Lepas, bebas menanggapi panggilan Tuhan

Pada suatau senja di sukabumi
Angin November berhembus percaya diri
memutari ujung bumi
Seperti Angela merici
Karyanya hingga di bumi Pertiwi
Menancap kuat pada putra-putri pemilik masa depan



           

            (Ch. Enung Martina- Sukabumi, medio November 2014)

Kamis, 15 Maret 2018

Pribadi yang Bertumbuh



Pribadi yang bertumbuh menjadi dewasa mengalami perkembangan menuju kesempurnaan. Seorang dikatakan dewasa apabila ia dapat bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang telah dipilihnya. Ia bertanggung jawab dan berkomitmen atas segala hal yang telah dipilihnya.

Chili Davis, seorang pelatih bisbol Amerika Serikat, pernah mengatakan, “Growing old is mandatory; growing up is optional.” Dalam bahasa Indonesia ungkapan ini dapat diterjemahkan demikian, “Bertambah umur sudah seharusnya terjadi. Namun menjadi dewasa adalah pilihan.” Maksudnya, setiap orang pasti bertambah usianya. Namun, kedewasaan belum tentu bertumbuh seiring usia.  Ada orang juga mengatakan bahwa bertumbuh menjadi seorang pribadi yang dewasa itu adalah sebuah pilihan. Menjadi tua itu apsti, menjadi dewasa itu pilihan.



Setiap hari satu langkah menuju pertumbuhan, satu langkah membawa berkat.  Kita menjalani hari-hari dalam suka-duka, susah-senang. Sementara hari terus berjalan, kita menjalaninya dengan terseok-seok, tertatih, kadang-kadang jalan cepat, tak jarang pula jalan di tempat, atau bahkan diam tak bergeming karena bingung langkah apa yang harus diambil. Namun, kita tetap berusaha berdiri tegar untuk melaluinya, mencoba untuk mewujudkan impian kita,



Kita mencoba mencari dukungan dari orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita: sahabat, teman, saudara, pasangan kita, anak, orang tua kita, bahkan terkadang orang yang tak dikenal-tapi kita mengenalnya karena mereka ada di dunia (maya), lewat media massa yang terkadang banyak bombastisnya, mungkin juga binatang peliharaan, juga burung-burung yang bercicit di pagi hari,  bintang gemintang, langit yang biru, lautan, dari gerimis yang perlahan turun, pelangi yang tiba-tiba terlukis, matahari, langit senja, rumput liar, buih-biuh ombak yang hadir dalam ingatan kita, entahlah, pokoknya kita mencari dukungan.



Dari waktu ke waktu kita belajr bahwa hidup memang sebuah perjuangan dan memang layak diperjuangkan.



Pada saat kita terpuruk dan benar-benar kacau, disorientasi, rasanya Tuhan tak bergeming meski diseru  sampai putus urat leher. Kita berkeluh kesah, menjerit sampai ke lapis  langit yang terujung, bahkan lorong surga yang entah di mana, rasanya semuanya sia-sia. Kita berkata:  aku sudah kalah. Tapi hati kita mengatakan: aku tak ingin menyerah. Akhirnya kita berhenti dalam kelelahan fisik dan mental. Kita sumeleh. Berpasrah. Bukan menyerah. Dan apa yang terjadi? Percaya, pasti ada hal yang tak terduga datang, yang tak mungkin kita pikirkan, rencanakan, atau bayangkan. Kita mengatakan kebetulan.



Kebetulan itu bentuknya dimulai dari hal yang remeh temeh sampai hal yang tak masuk akal. Akhirnya hal itu menghentikan kita pada sepersekian kesadaran kita bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur dan merencanakan. Asal kita kita mempercayai dan meyakini keajaiban, maka akhirnya hidup merupakan rangakaian kejadian yang sungguh ajaib.



Seseorang bisa bertahan dalam kerasnya kehidupan karena mempunyai keyakinan akan satu harapan untuk menjadi lebih baik. Karena di balik air mata pasti ada senyuman. Kita belajar untuk memahami tak ada sesuatu pun yang abadi. Segalanya akan berlalu. Bila suatu waktu kita tak tahan lagi dengan beban yang harus kita pikul, lepaskan saja, biarkan malaikat-malaikat yang menanggung bebanmu untuk sementara. Pada saatnya dan waktunya yang tepat semuanya akan beres.



Kita belajar bahwa kita menghadapi banyak masalah, penderitaan, dan air mata. Semuanya itu terjadi dalam hidup seseorang. Orang perlahan mampu melihat dan bahwa semua penderitaan itu akan membawa pertumbuhan pada pribadinya. Membuat pribadinya makin kuat, tegar, liat, dan bersinar. Namun, percayalah bahwa di balik air mata selalu ada senyuman. Kadang-kadang kita memerlukan waktu lama untuk menunggu senyuman itu, tetapi akhirnya ia datang juga.



Lihatlah sekarang kita bisa berdiri dan memandang ke belakang dan berkata: Puji Tuhan! Aku sudah lewati masa-masa sulit itu. Meski sekian rintangan dan sekian beban yang harus kita pikul, ternyata hingga kini kita baik-baik saja. Bahkan sepertinya teramat baik.Lantas kita boleh merasa : benarlah adanya bahwa sedetik pun Tuhan tak pernah beranjak dari hidupku. Justru terkadang kita yang beranjak dan terlalu jauh melangkah meninggalkannya.



Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat yang terkenal itu, pernah mengatakan, “Yang penting bukanlah tahun-tahun di dalam hidupmu, melainkan hidup yang kamu jalani di dalam tahun-tahun usiamu itu.” Di sini kembali kita melihat bahwa bukan panjangnya usia, atau sejauh mana umur kita sekarang, melainkan bagaimana kita mengisi tahun-tahun usia itu dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.



Mari kita belajar berjalan di jalan yang terjal dan bersyukur kala mendapat jalan yang mulus. Mari kita menikmati setiap detik hidup kita meski terkadang rongga dada terasa sesak dan bebanmu begitu mencekung pundak. Toh satu waktu hari ini yang terasa berat akan menjadi masa lalu. (Ch. Enung Martina)




Selasa, 13 Maret 2018

Kiat Menghadapi Yang Tak Terhindarkan



Akhir-akhir ini saya melayat beberapa orang yang saya kenal. Ada murid, ada teman gereja, dan ada teman di Pramuka. Natal tahun 2017 lalu, seorang teman meninggal, ketika saya berada di Yogya sehingga tidak sempat melayat. Dua tahun lalu, saya menghadiri pemakaman salah satu teman yang usianya 10 tahun di atas saya.  Mbak Naning, begitu saya memanggil beliau. Ia sosok yang sederhana. Ia seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah negri di bilangan Jakarta.

Saya mengenalnya sudah lama. Paskah 2015 dia mengalami kecelakaan terkena semburan api saat dia menyalakan kompor ketika akan menghanagatkan sup untuk adiknya, Mbak Anik, yang tinggal serumah dengannya. Sabtu, 4 Juni 2016 beliau dikabarkan meninggal.

Hari itu saya sedang sangat sibuk karena kegiatan penjualan seragam dan buku di sekolah yang berlangsung hingga pukul 16.00. Sepulang dari penjualan saya langsung ke gereja untuk mengikuti Ekaristi karena hari minggunya saya bertugas bakti sosial di Jelupang. Sungguh padat jadwal yang saya punyai. Saya memutuskan untuk hadir di pemakamannya di Jelupang pada hari Minggu tanggal 5 Juni sesudah saya pulang baksos.

Pertemuan saya yang terakhir dengan beliau pada bulan Maret 2016. Ia masih sehat. Kami mengobrol, makan siang dengan lauk tempe goreng,  sayur bening, rebus pete, sambal ikan, sosis sapi goreng, dan kerupuk.  Kami saling bercanda. Ada perasaan bahagia bertemu dengan sahabat yang dipertemukan Tuhan sedemikian rupa. Relasi yang indah yang memperkaya jiwa saya.

Kematian adalah salah satu episode hidup seseorang yang tak bisa dihindari. Ketika itu tiba waktunya, tak satu pun dapat mengelak. Namun, kala kita ditinggalkan mereka yang saatnya tiba untuk menyongsong kematiannya, kita merasa berat. Ada beberapa penyesalan mungkin. Seperti dengan Mbak Ning ini, saya juga mempunyai penyesalan karena saya belum menengok lagi sesudah 3 bulan berlalu. Saya menyesali kenapa saya tidak menyempatkan diri dari kesibukkan saya untuk barang sebentar menenegoknya.

Saya juga menyesalkan karena saya tidak sempat bertemu dengan si A, si B, yang saya kenal dan akhirnya terkabarkan meninggal. Penyesalan itu hal yang manusiawi. Namun, kita tahu bahwa kematian tak bisa ditunda.

Penyesalan tak akan berujung dengan kepuasan batin memang. Tiba saatnya saya sekarang melakukan untuk memberikan perhatian saya dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk mendoakan mereka. Doa mengirimkan cinta saya melalui kata-kata yang saya bisikkan untuk para sahabat, anak didik, atau para saudara yang telah mendahului saya.  

Sesudahnya saya berjanji pada diri saya sendiri, saat hati saya menmanggil untuk datang menengok seseorang, lakukan, tak usah tunggu waktu luang, tak usah tunggu hari baik, tak usah berkilah sibuk, dan aneka alasan lain. Karena waktu ada yang memilikinya dan ada yang merngaturnya dengan cara tersendiri yang tak pernah diberitahukan kepada siapa pun.

Selain kematian, ada hal lain yang tak bisa kita hindarkan dalam hidup kita, misalnya kecelakaan atau situasi tertentu yang membuat tidak nyaman.  Pada dasarnya hal tak terelakkan itu akan kita temukan kapan saja. Tentunya hal tersebut ada yang bisa diprediksi, tetapi juga ada yang jauh dari prediksi.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam menghadapi hal yang tak bisa dihindarkan.

Pertama, mengatur waktu Anda secara efektif dan belajar untuk fokus pada satu hal pada suatu waktu. Jika hal yang tak kita duga terjadi,  kita tidak terkejut berkepanjangan. Dengan begitu kita bisa langsung menemukan cara apa yang harus kita lakukan segera.

Kedua, Tidak khawatir tentang hal-hal yang tak dapat kita ubah.  Kita tak mampu mengubah sesuatu yang memang harus terjadi. Sesuatu terjadi, meskipun itu buruk, pasti ada ujungnya, atau ada akhirnya. Pada akhirnya kita bisa melihat ada kebaikan yang bisa dipetik.

Ketiga, tidak bersembunyi dari yang tak terhindarkan. Hadapilah dengan gagah. Belajar untuk memahami dan menemukan kebaikan di balik semuanya.

Keempat, berbicara dengan seseorang. Masalah yang dibagi adalah masalah dibelah dua, tiga, atau sekian. Berbicara dengan seseorang yang dipercayai akan membuat ringan perasaan. Bahkan, bisa ditemukan solusi dari suatu masalah.

Kelima, Buat batas-batas hidup kita. Kita mahluk yang terbatas. Mempunyai kekurangan, sekaligus juga kelebihan. Baik, bila kita menyadari keterbatasan kita untuk mengetahui bahwa kita memerlukan orang lain, juga sekaligus menggantungkan pada kekuatan di luar diri kita, yaitu Sang Pencipta.

Dengan demikian, hal-hal yang tak kita duga tiba-tiba datang, kita senantiasa mampu untuk menerima, menghadapi, menjalani, dan menemukan makna dari semu itu.

Saya tahu, berbicara itu mudah. Namun, menjalani? Itu perkara yang perlu keberanian. Saya dan Anda adalah pembelajar dalam sekolah kehidupan ini. Maka, kita sebagai murid senantiasa siap belajar.
(Ch. Enung Martina)