Selasa, 02 Maret 2021

CATATAN SETELAH MEMBACA: BUKU MUKJIZAT SETIAP SAAT ( J. Sudrijanta, S.J.)

 Titik  Hening


                                                                           Pagi Bening

Puji Tuhan saya bisa membaca dengan nikmat lagi. Allah memberikan semua pada waktunya yang pas. 


“ Kegaduhan seperti kapal yang mengarungi samudra tanpa arah, sedangkan keheningan seperti kapal yang mengarungi samudra dengan arah tujuan yang pasti. Keheningan akan membantu kita menemukan arah tujuan perjalanan hidup kita, dan membimbing kita pada kepenuhan hidup dari saat ke saat.” 


Eckhart Tolle seorang penulis dan guru spiritual kelahiran Jerman menyatakan: To know yourself as the Being underneath the thinker, the stillness underneath the mental noise, the love and joy underneath the pain, is freedom, salvation, enlightenment. 

Perkataan Eckhart Tolle di atas sangat cocok untuk situasi dunia pada masa pandemic yang tetap hingar bingar di dunia maya dengan berbagai macam konten yang disuguhkan dalam media dengan berbagai aplikasinya. 

Orang yang ingin menimba kedalaman hidup (duc in altum) menjadikan seluruh aktivitas dan kesibukan sehari-hari  menjadi sebuah praktik spiritual. Dalam keseharian,  kita berjumpa  dengan berbagai peristiwa yang membuat emosi menjadi negatif dan juga yang membuat emosi positif. Semua peristiwa tersebut bermakna bagi kita dengan pengolahan yang baik dan pemberian makna yang sesuai di dalamnya.  

Untuk pemberian makna tersebut kita perlu waktu diam, hening, atau saat teduh.  Para  spiritualis mengatakan bahwa : Jalan yang benar menuju pembebasan haruslah mulai dari titik diam dan berakhir pada titik diam.  Pertanyaan yang kritis adalah: Bagaimana menemukan titik diam dalam gerak atau kesibukan harian?

Diam adalah diam dan gerak adalah gerak. Namun, kita akan belajar dan berlatih  untuk menemukan diam di dalam gerak dan gerak di dalam diam. Laksana Bumi. Apakah bumi diam atau bergerak? Bumi terus bergerak mengitari Matahari, tetapi juga sekaligus dia diam secara sempurna. 

Diam dan gerak adalah dua dimensi yang tak terpisahkan dalam hidup kita. Banyak hal dalam hidup kita yang bisa kita pahami dan hayati saat kita diam. Hidup yang merupakan relasi dan terdiri dari aneka relasi, akan berjalan pada kedalaman dan ketertibannya apabila kita bisa diam.  Orang tercerahkan juga karena diam.    Hening. Meneng.

Meditasi adalah salah satu jalan atau sikap untuk hening. dalam keseharian kita sudah terlalu disibukakn dengan berbagai macam kegiatan yang menyita pikiran, tenaga, ruang, dan waktu. Dalam keheningan meditasi terdapat banyak moment kala pikiran berhenti. Pikiran tak lagi fokus pada permasalahan kehidupan. Di situ para ahli bilang terjadilah mutasi atau transformasi kesadaran. Kita menyadari kita sedang bernafas. Kita menyadari bahwa kita mengikuti istruksi instruktur atau guru kita. Guru kita mengatakan fokus pada hembusan nafas. Guru Iwan Sugiarto mengatakan perhatian pusatkan pada tantien bawah (3 jari di bawah pusar). Semua kita menyadari apa yang terjadi saat itu. Pikiran kita tidak lagi berada dalam masalah kita yang rumit dan ribet. Kita menikmati panas tubuh kita, otot-otot yang sebentar tegang lalu mengendur, kita menikmati baalnya kaki tangan kita, kita menikmati pegalnya tubuh kita. Semua kita sadari. Meditasi adalah sadar. Bangun!

Hanya apabila terjadi transformasi total dalam kesadaran, maka hidup dengan batin yang baru dan fresh, segar, akan menjadi mungkin. Tanpa kesadaran saat kita bermeditasi, maka batin kita berfungsi dalam keterbatasan. Itulah yang Suhu Frans katakan bahwa dengan meditasi kita akan mendapatkan pencerahan, gerak batin yang bening, bersih, clear. Bahkan mendapatakn inspirasi dan kebijaksanaan serta kebaahgiaan dan sukacita mendalam.

Prinsip kerjanya batin itu menurut buku Romo J. Sudrijatna, S.J. adalah tidak mungkin terdapat perubahan fundamental (mendasar) dalam diri kita, apabila tidak terdapat transformasi kesadaran. Kesadaran baru terlahir hanya apabila kesadaran lama berakhir. Kesadaran lama adalah kesadaran yang bertumpu pada pikiran yang ribet, yang egois, yang jauh dari KASIH. Sedangkan kesadaran baru adalah kesaadran yang melampaui pikiran. Jauh ke dalam. Meamahami. Mengerti. Menerima. Iklas. Bersyukur. Bahasa Jawanya lila legawa.

Bagi para Sedhulur, para Saderek sadaya, para Kadang, dan teman-teman yang sedang menjalani masa Pra-Paskah, jalan hening adalah jalan yang tepat untuk masa ini. Bagi para Sedulur yang sedang belajar meditasi Zen Qi, Anda semua sedang menapaki jalan sunyi untuk masuk pada diri sendiri. Akan ada rintangan itu pasti. Namun, akan ada bahagia, sehat, dan suka cita menanti di hadapan kita semua. Rahayu3x. Ning. Hening. Bening.

 (Perpustakaan St. Ursula BSD, 3 Maret 2021: Ch. Enung Martina) 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar