Kamis, 12 Maret 2026

Pengalaman Reflektif tentang Masa Tua

 



Menjalani Masa Senja

Usia perlahan meninggi. Tubuh yang dahulu terasa kuat kini mulai memberi tanda-tanda kelelahan. Bangun pagi tidak selalu segar seperti dulu. Lutut kadang terasa berat, tenaga cepat habis, dan ada kesadaran baru bahwa tubuh manusia memang tidak dirancang untuk selamanya kuat. Ada musim dalam hidup, dan rupanya kami sedang memasuki musim yang berbeda.

Belakangan ini kenyataan itu terasa semakin nyata ketika melihat suami yang mulai mengalami gangguan serius pada pankreasnya. Penyakit itu datang seperti tamu yang tidak diundang. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, fisiknya berubah. Tubuhnya yang dulu tegap kini tampak lebih kurus, lebih lemah. Ada keheningan yang kadang muncul saat saya memandangnya: sebuah keheningan yang penuh pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

Perasaan galau dan khawatir pun datang silih berganti. Kadang saya bertanya dalam hati: sampai kapan kebersamaan ini akan berjalan seperti sekarang? Apakah kami masih memiliki waktu yang panjang bersama, ataukah Tuhan sedang mengajak kami mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lain? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu menemukan jawaban, tetapi ia hadir seperti gelombang yang datang dan pergi.

Namun di tengah kegelisahan itu, ada juga kesadaran yang perlahan tumbuh. Masa senja ternyata bukan hanya tentang melemahnya tubuh, tetapi juga tentang belajar menerima kenyataan hidup dengan lebih jernih. Kami belajar menghargai hal-hal kecil: percakapan sederhana di rumah, makan bersama, atau sekadar duduk berdampingan dalam keheningan.

Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar dari masa senja: hidup tidak lagi diukur dari banyaknya rencana besar, melainkan dari kemampuan mensyukuri hari yang masih diberikan. Setiap hari menjadi hadiah. Setiap kebersamaan menjadi anugerah yang tidak boleh dianggap biasa. Setiap hari adalah kesempatan untuk mengasihi, untuk menemani, dan untuk bersyukur.

Dan di dalam hati saya mencoba berdoa dengan sederhana: semoga Tuhan memberi kekuatan untuk menjalani hari-hari ini dengan sabar dan setia. Apa pun yang akan datang di depan, kiranya kami diberi keberanian untuk menjalaninya bersama, selama waktu itu masih dipercayakan kepada kami. Bahkan ketika tubuh melemah dan hari-hari terasa tidak pasti, Tuhan tetap setia berjalan bersama kami. Seperti yang dikatakan dalam Kitab Yesaya:

“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.” (Yesaya 46:4).

Ayat ini sering menjadi penghiburan bagi saya. Tuhan tidak hanya menyertai manusia ketika kuat dan sehat, tetapi juga ketika kita memasuki masa rapuh kehidupan.

Yesus pernah berkata kepada para murid-Nya:

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1).

Sabda itu seperti menjadi pegangan di dalam hati saya. Ketika masa depan terasa tidak pasti, iman mengajak kita untuk tetap berjalan dengan percaya.

Dan dalam doa yang sederhana saya sering berkata kepada Tuhan:

Tuhan, jika Engkau masih memberi waktu kebersamaan kepada kami, kami akan menjalaninya dengan penuh syukur. Jika Engkau mengajak kami melewati jalan yang tidak mudah, berilah kami kekuatan untuk tetap setia menjalani janji perkawinan kami. (Ch. Enung Martina)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar