Senin, 18 Mei 2026

Slice of Life: Promo Emas

 

Jumat itu hp saya  ketinggalan di rumah. Gara-garanya sepele, pagi-pagi setelah beres urusan dapur mau lihat notifikasi di wa, tapi keseling karena anak bontot, Abhimanyu, minta tanda tangan untuk surat pernyataan pemilihan penjurusan kelas. Dalam waktu yang sama, saya  harus mengecek ke lantai 2, maka kubawa naik ke lantai 2. Sepertinya saat saya  membuka jendela di atas, hp kuletakkan di rak buku samping jendela.Setelah itu urusan lain-lain menyusul, lalu berangkatlah ke sekolah untuk bekerja.  

Siang itu telepon di wa yang terpampang di layar laptop bergetar-getar, berbunyi pelan di atas meja kerja di perpustakaan. Nomor baru, tak ada di kontak karena tak ada nama. Foto profil gambar boneka beruang coklat dengan topi warna pink. Namun, di bawah nomor baru itu ada nama, +62-856-4395-8407, Abhimnayu. 

Komunikasi dimulai dengan kata ‘Test’. Kemudian menelepon yang bergetar-getar tadi. Missed call. Lalu ada chat lagi: hallo dimana ma? Khas ketikan di medsos, tanpa tanda baca, salah ejaan. 

Saya  langsung tahu bahwa itu penipu. Ragu-ragu untuk menjawab. Langsung aku blocked. Namun, tiba-tiba muncul rasa isengku untuk mengerjakan penipu itu. Jadi nomor tadi diubah menjadi unblock. Kubalaslah chatnya…: hallo ngapain? Segera di seberang sana mengetik balasannya: Kebetulan aku sedang mampir di acara pameran LM saat ini Ma. Lantas kujawab wah... keren dong. Logam mulia banget ya. Muncul balasan: Harga LM disini lagi promo Ma. Jauh lebih murah dari pada harga Emas di pasaran. Saya  jawab: Alhamdulilah. 

Segera dia membalasnya dengan gambar poster yang berisi deretan harga dan foto-foto emas batangan. 






Disusulnya pula dengan kata-kata tawaran: Mumpung aku masih disini Mama mau nitip gak? Segera pula saya balas: Gak  lah duitnya cekak. Muncul pernyataan darinya: Mama coba ambil yang kecil aja dulu ma. Lalu disusul dengan dengan tambahannya: Sayang kalau sampai terlewat kan. Kubalas pernyataannya: Ya... biarlah yang terlewat. yang lewat dan berlalu. Namun, segera dia mengarahkan ke tujuannya: Maksud nya tadi siapa tau mama mau invest kan lumayan ma kalau besok kita jual kembali hasil dari ke untungan nya. 

Segera pula dia mengirimkan foto berikutnya. 

Saya pun tak mau kalah membalasnya: Sok atuh kamu beli. untuk calon istrimu kelak. Tampak dia menulis responnya: Ini aku lagi urus pengajuan pembelian yg 25grm 2 keping. Dia juga memberikan komentar atas saranku membelikan calon istri: Iya ma. Padahal, anak-anak saya tak ada yang memanggil saya Mama.

Nah, kisah berikutnya kerjaan saya banyak di perpustakaan, jadi saya gak bisa terus-terusan meladeni drama penipuan ini. Maka saya  putuskan untuk mengakhirinya. Jadi pamitlah saya: ya... udah aku mau lanjut merajut ya le. Padahal aslinya saya gak hobi dan gak bisa merajut.

Penipuan serupa sebelumnya terjadi juga pada teman saya, Ibu Rini. Dia menerima pesan melalui calling wa, dan berkomunikasi disitu.  Malah penipunya lebih berani lagi, langsung membelikan teman saya 50gr emas. Kekurangan uang, maka minta 91 juta untuk menambahkan kekurangannya dengan mentransfernya ke rekening tertentu. 

Tapi… saya kurang sabaran, maka saya langsung lempar pertanyaan: Omong2 namamu asli siapa sih mas kok pinter banget main dramanya. Lalu saya tambahkan : Ini sinetron Indonesia ya..

Tiba-tiba orang itu mencabut nomornya dan left begitu saja. Saya ditinggalkan. Ketika mencoba tulis chat lagi, sudah centang satu.

Diam-diam saya  kagum juga pada para penipu ini. Orang ini bahkan lebih niat membangun karakter dibanding beberapa sinetron di televisi. Ia menciptakan identitas, menyusun dialog, memilih emosi, bahkan membangun latar: pameran logam mulia dengan promo terbatas. Sayangnya, kreativitas itu dipakai untuk menipu orang. Mungkin mereka lebih baik jadi para pemain sinetron atau penulis skenario ya. 

Itu memang sisi yang menarik sekaligus ironis. Banyak penipu punya kemampuan observasi sosial dan improvisasi yang sebenarnya tinggi. Mereka tahu: bagaimana membangun rasa panik atau kedekatan, memilih kata yang terdengar akrab, membaca emosi, menciptakan urgensi, bahkan memainkan peran seperti aktor improvisasi.

Dalam kasus saya dan teman saya, si penipu mencoba menjadi “anak baik” yang perhatian pada masa depan keluarga lewat investasi emas. Itu sebenarnya semacam naskah karakter. Ia sedang memainkan peran tokoh anak baik. Yang membuatnya menarik untuk cerita adalah ambiguitasnya: di satu sisi menjengkelkan, di sisi lain ada semacam “kreativitas liar” di baliknya.

Kalau kemampuan akting itu dipakai dengan benar, mungkin ia sudah jadi penulis skenario atau sales properti yang sukses. Namun justru di situlah tragedinya: kecerdasan dipakai untuk manipulasi, kemampuan membaca manusia dipakai untuk mengecoh, kreativitas dipakai membangun kebohongan. 

Dalam pengalaman dan kisah saya di atas, saya memandang si penipu tidak sekadar “jahat”, tetapi juga sebagai manusia anonim yang mungkin setiap hari harus berganti peran: pagi jadi anak, siang jadi polisi, malam jadi petugas bank.

Dan semua dilakukan hanya lewat layar ponsel.

Fenomena penipuan digital seperti yang dialami tokoh dalam pengalaman tadi menunjukkan bahwa kejahatan modern tidak lagi hanya mengandalkan ancaman atau kekerasan, melainkan kemampuan memainkan peran dan membangun drama psikologis. Penipu memanfaatkan kedekatan emosional, bahasa sehari-hari, serta detail kehidupan keluarga untuk menciptakan ilusi kepercayaan, layaknya seorang aktor yang sedang memainkan tokoh tertentu. Ironisnya, di balik tindakan kriminal tersebut tersimpan kreativitas, kemampuan observasi, dan kecakapan improvisasi yang sebenarnya cukup tinggi. Namun, topeng itu runtuh justru oleh hal-hal kecil yang tidak dapat dipalsukan, seperti kebiasaan seorang anak memanggil ibunya dengan sebutan “Ibu”, bukan “Mama”. Dari sini terlihat bahwa hubungan manusia yang nyata memiliki detail emosional yang jauh lebih kuat daripada identitas buatan di dunia digital.

Penipuan digital semacam ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial sering menjadi sumber “riset” bagi para pelaku kejahatan. Penipu tidak lagi bergerak secara acak, melainkan melakukan semacam survei kecil terhadap kehidupan calon korbannya: nama anak, hubungan keluarga, gaya komunikasi, bahkan aktivitas sehari-hari yang terbuka di internet. Dengan informasi tersebut, mereka membangun tokoh yang tampak meyakinkan dan akrab, seolah benar-benar berasal dari lingkungan terdekat korban. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya ruang berbagi kehidupan, tetapi juga dapat menjadi ladang data bagi manipulasi psikologis. Meskipun demikian, kepalsuan itu sering terbongkar oleh detail emosional yang tidak tertangkap dalam survei digital, seperti kebiasaan khas dalam keluarga, cara memanggil orang tua, atau karakter asli seseorang yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya.

Pada akhirnya, penipuan digital seperti ini mengingatkan kita bahwa di era media sosial, identitas dapat dengan mudah dipalsukan dan kedekatan emosional dapat dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Karena itu, setiap orang perlu lebih berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi di internet, sekecil apa pun detailnya. Jangan mudah percaya pada pesan mendadak yang mengatasnamakan anggota keluarga, apalagi jika disertai permintaan uang, investasi, atau situasi yang dibuat mendesak. Selalu lakukan verifikasi langsung melalui telepon atau jalur komunikasi lain yang terpercaya. Kewaspadaan, ketenangan, dan kemampuan mengenali hal-hal kecil yang khas dalam hubungan keluarga sering kali menjadi perlindungan paling sederhana namun paling ampuh terhadap berbagai bentuk penipuan digital. (Ch. Enung Martina)