Jumat, 12 Maret 2021

ARTIKEL KELUARGA: MENGHADAPI MASA TUA

 

MENGHADAPI MASA TUA



Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya (Pengkhotbah 3:1)

 Pada tahun 2021 ini, Emak (ibu saya) atau Nenek (anak-anak memanggil) berusia 85 tahun. Usia yang bukan muda lagi dan ada bonus umur yang luar biasa di dalamnya yang diberikan Tuhan kepada ibu saya. 


Pada usia ini, tentunya ada tantangan yang dihadapi Nenek, terutama terkait dengan kesehatan secara fisik juga psikologis. Perempuan Sunda yang selalu tak lelah berjuang dan selalu perkasa di depan anak-anaknya, secara perlahan berangsur layu dan jompo. Pastinya kami sebagai anak-anak melihat perubahan ini merasa secara perlahan ditinggalkannya. Namun, seperti kata Pengkhotbah tadi di atas bahwa segala sesuatu ada masanya. 

Ini bukan suatu penilaian moral, mana waktu yang bagus dan mana waktu yang buruk. Melainkan penilaian yang paling buruk ialah bahwa semua itu semua tak terhindarkan. Kelahiran dan kematian, menanam dan menuai, membunuh dan menyembuhkan, itu semua terus berlangsung tanpa peduli pada apa yang kita lakukan. Akhirnya sampailah pada alternatif-alternatif  di mana kita memihak: ada waktu untuk memgasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Itu seua terjadi begitu saja. 

Pengkhotbah juga sebenarnya hendak memperlihatkan kepada pembacanya kenyataan itu apa adanya, realitas yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan ini.  Semua orang pasti mati tetapi hidup setelah kematian pun adalah sebuah misteri yang tidak terpecahkan. Manusia tidak dapat mengetahui atau mengontrol kehidupan ini.

Manusia tidak dapat mengontrol segala sesuatu di luar dirinya. Segala usaha manusia untuk dapat meraihnyanya tidak akan berhasil. Sia-sia belaka. Siapa yang dapat mengontrol segala sesuatu? Hanya Tuhan sendiri. Jika semuanya itu sia-sia karena hanya Tuhan yang dapat mengaturnya, lalu apa yang harus dilakukan manusia? Pengkhotbah mengajak pembaca untuk menjalani hidup ini saja, karena hidup ini adalah anugerah Allah. menikmati hidup.

Manusia memang tidak bisa memilih kehidupan yang lain, hanya kehidupan inilah satu-satunya yang Allah berikan. Ada orang lain mengatakan bahwa hidup itu sedang memenuhi karmanya. Oleh karena itu yang bisa dilakukan adalah menerimanya dan memahaminya dalam kesadaran bahwa hidup ini adalah karunia (anugerah) Allah. Pengkhotbah mengajak orang untuk menikmati hidup pemberian Allah. 

Pada usia seperti Nenek dengan bonus tahun - tahun yang dialaminya menjadi sebuah berkat bagi kami dan keluarga besar. Khususnya memiliki dan membangun relasi yang baik dengan keluarga, terutama anak-anak adalah satu hal yang menjadi kunci menikmati pada masa tua dengan penuh bahagia. Hal utama lainnya adalah, memiliki mental dan kehidupan spiritual yang sehat. Memiliki relasi pribadi dengan Tuhan banyak berdoa dan bersyukur membuat hati lebih tegar menghadapi masa yang sukar di usia ini.

Masa tua memang tak mudah untuk siapa pun, tetapi tetap kita hadapi dengan penuh semangat. Bagi kita anak-anaknya, menjadi sebuah kewajiban untuk mengurus orang tua kita pada asa tuanya. Mereka layak menerima hormat dan kasih kita, lepas dari kekurangan mereka. Sebab merekalah sebagai jalan kita hadir di dunia ini. Mereka yang melahirkan dan mengasuh kita. Apalagi disertai janji-Nya, ada berkat khusus bagi anak yang tahu berbakti. Kasih dan perhatian kita pada orang tua akan dilihat anak-anak, dan itu pula kelak dia tiru saat kita menjadi tua.

Mejadi tua memang tak mudah, tetapi itu pasti terjadi pada siapa pun. Masa tua bukan masa akhir dari kebahagiaan seseorang. Masa tua justru akan menjadi masa untuk membuktikan cinta kasih keluarga pada orang yang telah menjadi perantara kita hadir di dunia ini. Diskusi internal dalam keluarga akan menjadi salah satu cara untuk membicarakan bagaimana perawatan, pelayanan, biaya, waktu, giliran dll. Mungkin ada yang anak tak bisa membantu biaya, tetapi punya waktu dan tenaga untuk merawat. Kebalikannya ada yang tak bisa memberi waktu, tetapi punya uang. Nah, hal ini akan menjadi pengikat antara anak-anak untuk memberikan bakti kepada orang tua.   

Demikian kita berharap para sepuh akan menjadi sangat manis bila masa tua dinikmati dan disyukuri dalam penerimaan dan kesiapsiagaan akan waktunya tiba untuk kembali pada Sang pencipta. Sehingga kita boleh berkata seperti Pemazmur: Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib;  juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang. (Mzm. 71:17-18)

Dari sini kita bisa menyadari bahwa hidup di dunia ini fana, hanya Sang Firman-lah yang kekal. Seperti apa yang dikatakan Kitab Suci : Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur ,  tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu. (1Ptr. 1:24-25)

(Ch. Enung Martina sehari setelah menjenguk Emak)

SUMBER:

https://media.neliti.com/media/publications/275336-memahami-kesia-sian-dalam-kitab-pengkhot-b3604c0d.pdf

http://studibiblika.id/2020/11/03/ayat-ayat-alkitab-tentang-masa-tua/

https://lifestyle.kompas.com/read/2012/04/19/07161210/perilaku.orangtua.lansia.sebelum.meninggal?page=all.



Selasa, 02 Maret 2021

CATATAN SETELAH MEMBACA: BUKU MUKJIZAT SETIAP SAAT ( J. Sudrijanta, S.J.)

 Titik  Hening


                                                                           Pagi Bening

Puji Tuhan saya bisa membaca dengan nikmat lagi. Allah memberikan semua pada waktunya yang pas. 


“ Kegaduhan seperti kapal yang mengarungi samudra tanpa arah, sedangkan keheningan seperti kapal yang mengarungi samudra dengan arah tujuan yang pasti. Keheningan akan membantu kita menemukan arah tujuan perjalanan hidup kita, dan membimbing kita pada kepenuhan hidup dari saat ke saat.” 


Eckhart Tolle seorang penulis dan guru spiritual kelahiran Jerman menyatakan: To know yourself as the Being underneath the thinker, the stillness underneath the mental noise, the love and joy underneath the pain, is freedom, salvation, enlightenment. 

Perkataan Eckhart Tolle di atas sangat cocok untuk situasi dunia pada masa pandemic yang tetap hingar bingar di dunia maya dengan berbagai macam konten yang disuguhkan dalam media dengan berbagai aplikasinya. 

Orang yang ingin menimba kedalaman hidup (duc in altum) menjadikan seluruh aktivitas dan kesibukan sehari-hari  menjadi sebuah praktik spiritual. Dalam keseharian,  kita berjumpa  dengan berbagai peristiwa yang membuat emosi menjadi negatif dan juga yang membuat emosi positif. Semua peristiwa tersebut bermakna bagi kita dengan pengolahan yang baik dan pemberian makna yang sesuai di dalamnya.  

Untuk pemberian makna tersebut kita perlu waktu diam, hening, atau saat teduh.  Para  spiritualis mengatakan bahwa : Jalan yang benar menuju pembebasan haruslah mulai dari titik diam dan berakhir pada titik diam.  Pertanyaan yang kritis adalah: Bagaimana menemukan titik diam dalam gerak atau kesibukan harian?

Diam adalah diam dan gerak adalah gerak. Namun, kita akan belajar dan berlatih  untuk menemukan diam di dalam gerak dan gerak di dalam diam. Laksana Bumi. Apakah bumi diam atau bergerak? Bumi terus bergerak mengitari Matahari, tetapi juga sekaligus dia diam secara sempurna. 

Diam dan gerak adalah dua dimensi yang tak terpisahkan dalam hidup kita. Banyak hal dalam hidup kita yang bisa kita pahami dan hayati saat kita diam. Hidup yang merupakan relasi dan terdiri dari aneka relasi, akan berjalan pada kedalaman dan ketertibannya apabila kita bisa diam.  Orang tercerahkan juga karena diam.    Hening. Meneng.

Meditasi adalah salah satu jalan atau sikap untuk hening. dalam keseharian kita sudah terlalu disibukakn dengan berbagai macam kegiatan yang menyita pikiran, tenaga, ruang, dan waktu. Dalam keheningan meditasi terdapat banyak moment kala pikiran berhenti. Pikiran tak lagi fokus pada permasalahan kehidupan. Di situ para ahli bilang terjadilah mutasi atau transformasi kesadaran. Kita menyadari kita sedang bernafas. Kita menyadari bahwa kita mengikuti istruksi instruktur atau guru kita. Guru kita mengatakan fokus pada hembusan nafas. Guru Iwan Sugiarto mengatakan perhatian pusatkan pada tantien bawah (3 jari di bawah pusar). Semua kita menyadari apa yang terjadi saat itu. Pikiran kita tidak lagi berada dalam masalah kita yang rumit dan ribet. Kita menikmati panas tubuh kita, otot-otot yang sebentar tegang lalu mengendur, kita menikmati baalnya kaki tangan kita, kita menikmati pegalnya tubuh kita. Semua kita sadari. Meditasi adalah sadar. Bangun!

Hanya apabila terjadi transformasi total dalam kesadaran, maka hidup dengan batin yang baru dan fresh, segar, akan menjadi mungkin. Tanpa kesadaran saat kita bermeditasi, maka batin kita berfungsi dalam keterbatasan. Itulah yang Suhu Frans katakan bahwa dengan meditasi kita akan mendapatkan pencerahan, gerak batin yang bening, bersih, clear. Bahkan mendapatakn inspirasi dan kebijaksanaan serta kebaahgiaan dan sukacita mendalam.

Prinsip kerjanya batin itu menurut buku Romo J. Sudrijatna, S.J. adalah tidak mungkin terdapat perubahan fundamental (mendasar) dalam diri kita, apabila tidak terdapat transformasi kesadaran. Kesadaran baru terlahir hanya apabila kesadaran lama berakhir. Kesadaran lama adalah kesadaran yang bertumpu pada pikiran yang ribet, yang egois, yang jauh dari KASIH. Sedangkan kesadaran baru adalah kesaadran yang melampaui pikiran. Jauh ke dalam. Meamahami. Mengerti. Menerima. Iklas. Bersyukur. Bahasa Jawanya lila legawa.

Bagi para Sedhulur, para Saderek sadaya, para Kadang, dan teman-teman yang sedang menjalani masa Pra-Paskah, jalan hening adalah jalan yang tepat untuk masa ini. Bagi para Sedulur yang sedang belajar meditasi Zen Qi, Anda semua sedang menapaki jalan sunyi untuk masuk pada diri sendiri. Akan ada rintangan itu pasti. Namun, akan ada bahagia, sehat, dan suka cita menanti di hadapan kita semua. Rahayu3x. Ning. Hening. Bening.

 (Perpustakaan St. Ursula BSD, 3 Maret 2021: Ch. Enung Martina)