Jumat, 25 Maret 2022

JURNAL EMAUS JURNEY

 




Sekilas mengenai Emmaus Journey  
Kelompok Spiritualitas Kitab Suci Emmaus Journey (“Emmaus Journey”) adalah kegiatan yang diprakarsai oleh Pastor Yan Sunyata OSC, saat beliau bertugas di paroki St. Monika Serpong. Kegiatan ini pada mulanya diberikan untuk pengembangan kemampuan anggota Seksi Kerasulan Kitab Suci (dahulu Seksi Pewartaan Iman), kemudian dikembangkan menjadi kegiatan umat—dalam program kerja Seksi Kerasulan Kitab Suci untuk menggiatkan pembacaan dan penghayatan Kitab Suci oleh umat.

Dalam kegiatan sharing kelompok peserta diminta untuk menuliskan jurnal bacaan Kitab Suci beserta renungan dan doa singkat.

Di bawah ini ada kumpulan jurnal yang penulis tulis. Lumayan untuk berbagi. 

Selamat membaca.

Link buku digital

https://online.fliphtml5.com/sudrn/aeou/

Jumat, 11 Maret 2022

Tolong CT Value Saya Masih Rendah!



Pada hari ke-12 terkena Omikron, saya melakukan PCR. ternyata hasilnya menunjukkan CT value saya 27.7. Saya bertanya pada teman yang pernah terkena covid. Dia menyatakan bahwa CT saya rendah, berarti saya masih positif.

Terus terang saya panik juga. Tapi, saya ini kan jenis orang seperti Thomas Didimus, yang gak pernah setuju dan menerima begitu saja kata-kata orang. Jelaslah pasti saya akan berliterasi untuk membuktikannya. Nah, di sinilah saya sampaikan hasil literasi saya. 

CT Value adalah singkatan dari Cycle Threshold Value. Angka yang ditunjukkan adalah putaran pada mesin ke sekian (sesuai angka), terdeteksi virus Sars Cov-2 pada pemeriksaan PCR Swab. Semakin tinggi angka CT, semakin pula virus terdeteksi.

Nilai CT dibutuhkan oleh dokter untuk memutuskan diagnosis dan langkah perawatan atau pengobatan selanjutnya.  Nilai CT tidak digunakan untuk menentukan seberapa parah penyakit seseorang. Seberapa menularnya seseorang atau kapan seseorang dapat dibebaskan dari isolasi/karantina. 

Di masyarakat awam beredar kepercayaan seperti ini: Jika CT Value saya rendah, saya sangat menularkan. Jika CT Value saya sangat tinggi, tandanya sudah sembuh, donk. 

Pertanyaannya: Apa benar seperti itu?

Untuk mengetahui seseorang masih menularkan virus Covid-19 adalah dengan pemeriksaan kultur virus serta gejala klinis yang harus diagnosis oleh dokter. 

Menurut penelusuran yang saya lakukan standar angka pada mesin PCR bisa berbeda tiap rumah sakit, karena merek dan standar yang digunakan juga berbeda. PCR hasil NEGATIF rata-rata menggunakan standar 35-40, tergantung pada alat yang digunakan saat melakukan RT-PCR (Reverse transcription-Polymerase Chain Reaction).

Nah, menurut pendapat ahli medis mengutip dari pernyataan dr. Jaka Pradipta, Sp.P dari website https://mayapadahospital.com/  “Daripada menghitung angka CT Value, pahami definisi SEMBUH dari Covid-19,” “Sembuh adalah apabila pasien tersebut dari yang bergejala, kemudian menjadi tidak bergejala lagi selama 3 hari. Sembuh adalah dari orang yang tidak bisa beraktivitas, kemudian bisa beraktivitas lagi,” demikian  dr. Jaka Pradipta, Sp.P, melanjutkan.

Mengapa seorang dokter bisa mentakan demikian?

Ternyata berdasarkan penelususran  PCR Swab Test tidak dapat membedakan virus yang masih hidup/aktif dan virus yang sudah mati/tidak aktif (sudah menjadi bangkai). Selama masih ada materi genetik virus Corona di dalam tubuh, maka hasil PCR akan tetap positif.

Ternyata Saudaraku, proses penghancuran sisa-sisa bangkai virus oleh tubuh memakan waktu hingga 83 hari, sehingga masih memungkinkan terdeteksi oleh PCR sampai 3 bulan ke depan. Nah, lo panjang dan lama kan!

WHO sendiri menyebutkan bahwa kini pasien positif COVID-19 sudah bisa dinyatakan sembuh ketika ia tidak lagi menunjukkan gejala COVID-19, tanpa memerlukan konfirmasi tes PCR. Namun, untuk lebih amannya, tes PCR masih digunakan pada beberapa kasus.

Sedangkan kriteria sembuh bagi pasien positif COVID-19 yang berlaku di Indonesia:

  • Pasien tanpa gejala: Sudah melewati masa isolasi selama 10 hari.
  • Pasien dengan gejala ringan hingga sedang: Sudah melewati masa isolasi selama minimal 10 hari, ditambah 3 hari tanpa gejala.
  • Pasien dengan gejala berat: Sudah melewati masa isolasi selama minimal 10 hari, ditambah 3 hari tanpa gejala dan 1 kali hasil negatif pada tes PCR.

Nah saudara-saudara, saya mendapat beberapa kesimpulan dari sumber-sumber yang saya baca;

  • WHO menyebutkan bahwa kini pasien positif Covid-19 sudah bisa dinyatakan sembuh ketika ia tidak lagi menunjukkan gejala Covid-19, tanpa memerlukan konfirmasi tes PCR.
  • CT Value tidak menentukan tingkat kegawatdaruratan seseorang dalam mencari rumah sakit ataupun menimbulkan kepanikan.
  • Yang harus dilihat adalah gejala klinisnya, hasil lab darah serta saturasi oksigen. Yang bisa menilai kegawatdaruratan pasien adalah seorang dokter.
  • CT Value tidak bisa menentukan apakah pasien Covid-19 tersebut tanpa gejala, gejala ringan-sedang, dan gejala berat.
  • Kegunaan CT Value untuk medis adalah untuk keperluan diagnostic seorang dokter dan menilai perjalanan membaiknya imunitas seorang pasien selama melawan virus.
  • PCR Swab Test tidak dapat membedakan virus yang masih hidup/aktif dan virus yang sudah mati/tidak aktif (sudah menjadi bangkai).
  • Sembuh adalah dari orang yang tidak bisa beraktivitas, kemudian bisa beraktivitas lagi
  • Sembuh adalah apabila pasien tersebut dari yang bergejala, kemudian menjadi tidak bergejala lagi selama 3 hari.

 Sumber: 
https://mayapadahospital.com/news/salah-kaprah-tentang-ct-value

https://www.alodokter.com/komunitas/topic/mengapa-ct-velue-masih-rendah-padahal-sudah-insoman-10-hari

https://www.alomedika.com/perlukah-pcr-pasien-telah-sembuh-covid19

https://covid19.go.id/p/hoax-buster/salah-nilai-ct-pada-tes-pcr-menentukan-kesembuhan-pasien-covid-19




Rabu, 02 Maret 2022

BERMEDITASI SAAT TERKENA OMIKRON


Berdasarkan gejala dan tes kesehatan pada tanggal 24 februari 2022, saya  terbukti terinfeksi Omicron. Sebetulnya gejala dalam tubuh saya yang berbeda sudah saya rasakan sejak sabtu, 19 Februari 2022. Saat itu saya menganggap flu biasa. Karena itu, saya menunggunya sampai  beberapa hari. Dalam keadaan itu, saya sudah memakai masker di rumah dan tidak berdekatan dengan anggota keluarga.


Akhirnya  hari keempat, saya pergi untuk tes pcr di St. Carolus Gading Serpong. Ternyata saya dinyatakan positif. Untuk pengalaman ini sudah saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya. (https://ursaminorblog.blogspot.com/2022/02/disambangi-omikron.html) Hati ketar-ketir dan galau pasti ada lah. Masa terkena covid saya tenang-tenang saja. Pastinya ya tidak baik-baik saja. 


Namun, saya berhasil melewati pengalaman buruk tersebut dan kini membagikan pengalaman saya saat menghadapi Omikron. 


Selain saya makan dan minum makanan sangat bergizi, juga minum obat, saya juga melakukan ritual jemuran di meja kerja saya yang jendelanya saya buka lebar-lebar sehingga matahari dan udara segar masuk menampar ke diri saya. Setiap hari saya kena paparan matahari langsung dari jendela tersebut. 


Satu hal lagi yang saya lakukan adalah saya berdoa dan bermeditasi. Kalo berdoa mah pasti lah semua orang juga berdoa (yang percaya pastinya). Namun, selain berdoa saya melakukan ritual harian saya yaitu meditasi. Meditasi saya tiap hari dilakukan minimal 15 -30 menit, waktunya bebas sesuai luangnya, biasanya sore atau malam. O, ya meditasi yang saya jalani adalah Meditasi Zhen Qi. 


Meditasi itu sebetulnya kan kegiatan diam, hening, untuk merasa-rasa tubuh kita. Kuncinya adalah “merasakan” apa yang kita rasakan dan menyadari apa yang kita rasakan. 


Jadi, itulah yang saya lakukan : meditasi. Saat saya bermeditasi pada hari pertama saya terkena Omikron (kala itu belum yakin kalau itu Omikron), hal yang saya rasakan adalah terasa lebih berat daripada saat saya meditasi saat keadaan normal. Perasaan berat itu terutama pening di kepala sebelah kanan, dan di tengan kepala. Selain itu juga terasa kencang di bagian leher dan bagian pundak. 


Meditasi di hari ke-2 terkena Omikron reaksinya sangat mengenaskan karena sepanjang meditasi saya mengerang. Aduhhhh,.... emmmh…., aduhhhh. Erangan itu tidak saya rekayasa, dirancang, dan dibuat-buat. Itu benar-benar erangan yang keluar dengan sendirinya. Saat saya bermeditasi saya tetap fokus pada tantien bawah pastinya. Puji Tuhan, air liur saya banyak, sambil mengerang sambil menelan ludah.


Hari ketiga saya terkena Omikron,  bermeditasi saya lakukan seperti biasanya. reaksi tubuh saya, masih mengerang, tetapi tidak sekeras di hari kedua. sensasi tubuh saya panas di leher, kepala, dan punggung. Yang terasa panasnya sekali adalah di leher. Saat itu air liur kurang, jadi saya bantu dengan minum air hangat. 


Meditasi hari keempat saya sebagai orang yang terpapar Omikron terus berlanjut. Saat hari keempat mulut saya pahit sekali. Yang sungguh lagi saat hari keempat adalah mlut saya kembali monyong-monyong. Lidah saya bergerak sendiri seperti sedang membersihkan kotoran di sela-sela gigi. bahkan mulut saya berkumur-kumur sendiri. Hari keempat saya tambahkan porsi waktu meditasi saya lebih dari 30 menit, sekitar 40 menitan. Air liur hari keempat banyak, sampai bisa berkumur-kumur🤭🤭🤭. 


Pada hari kelima saya terkena Omikron, meditasi saya sudah lebih normal lagi sensasi tubuhnya. Hanya ada sisa pening di kepala bagian tengan dan mata sebelah kiri agak pegal. saya menduga pada hari keempat yang saya mengalami monyong-monyong dan berkumur-kumur itu mendatangkan kebaikan ke tubuh saya. hari keempat masih tersisa pahit di mulut dan batuk berdahak, tapi tidak intens. 


Hari keenam, saya terus bermeditasi, tapi agak sedikit meditasinya karena saya sore hari ada 2 pertemuan virtual untuk mengajar di pertemuan pertama katekumen di paroki saya (Vila Melati Mas). Sisa petangnya saya habiskan menyimak rapat tim bidang saya, katekese. Jadi meditasinya paling 20 menitan. 


Perlu pembaca ketahui, selama saya terkena Omikron, saya tidak cuti, libur, atau tidak bekerja. saya tetap mengajar kelas saya, saya juga tetap ikut rapat virtual. saya juga mengoreksi, menulis, membaca buku, membuat ini itu di laptop saya. Namun, saya tidak memegang makanan untuk dimasak. diiris, dicuci. Pokoknya saya menjauhi pekerjaan ibu rumah tangga di dapur.


Hari ketujuh saya terkena Omikron. masih ada sedikit batuk, sedikit sisa pahit di mulut. Namun, secara keseluruhan saya sudah membaik sekali. saya bermeditasi tetap lakukan. Masih ada sisa pening di bagian tengah kepala. karena itu hari Minggu, jadi saya tambahkan porsi meditasinya. Saya meditasi pagi dan sore. Malam saya hanya sebentar karena hari minggu saya ada 1 pertemuan online dengan anak-anak Legio Maria Junior.  


Hari kedelapan. Ini mah sudah sembuh secara keseluruhan. Ada batuk sedikit. Tubuh sudah sangat enak. Mulut sudah tidak pahit lagi. Tidur sudah sangat nyenyak. Makan sudah tidak merasa dipaksakan lagi. Pokoknya hari kedelapan itu ok sekali. Saat meditasi juga sudah tidak merasakan sensasi tubuh yang sakit atau yang aneh. sudah normal. Sebetulnya saya tinggal tunggu pcr lagi. 


Saya tinggal menunggu pcr nanati tanggal 7 Maret, sesuai dengan saya pertama pcr, 10 hari setelahnya saya baru akan dilihat lagi. Apakah negatif atau belum? saya belum tahu. Karena saya saat saya menulis ini belum tanggal 7 Maret. 


Nah, begitu para pembaca pengalaman saya terkena Omikron. bagi teman-teman yang terkena,  tak perlu terlalu panik. Kita ikuti anjuran dokter dan ikuti protokol yang berlaku. Memang bosan sih kita isolasi mandiri, apalagi seperti saya yang bulu kakinya jatuh harus terus dicari, sangat tidak nyaman harus diam berhari - hari di dalam rumah.  Tetap jaga kesehatan. Tuhan memberkati.🙏🙏 (Ch. Enung Martina)