Senin, 16 September 2019

JEJAK LANGKAH 15


JEJAK MESIAS DI TIBERIAS



Kami bergerak menuju Kota Tiberias, tempat kami bermalam selama dua malam untuk mengunjungi situs-situs sejarah penting tempat Yesus  berkarya dan banyak melakukan mujizat di tempat ini, seperti Kapernaum yang pada Jejak Langkah 14 (https://ursaminorblog.blogspot.com/2019/09/jejak-langkah-14.html)  yang  sudah diceritakan.


Tiberias ialah sebuah kota di utara Israel, di bantaran Laut Galilea. Penduduknya kebanyakan orang Yahudi dan berpenduduk seitar 39.900 jiwa. Kota ini dinamai demikian untuk menghormati Kaisar Tiberius dari Romawi dan didirikan pada tahun 20 Masehi.

Saat ini Tiberias adalah sebuah kota pariwisata di Utara Israel. Hampir setiap hari Shabat kota ini dipenuhi oleh penduduk Israel Yahudi untuk menikmati keindahan dan beristirahat di sana. Pada musim panas tempat ini menjadi jauh lebih ramai akan kunjungan wisatawan baik domestik maupun dari luar negeri.


Pusat Kota Tiberias dipenuhi dengan hotel, pusat perbelanjaan, dan restoran/kafe. Hotel tersebar di sepanjang pantai danau Tiberias. Terdapat berbagai nama besar grup perhotelan yang mendirikan hotel di sana, semacam Hilton, Accor, Golden Tulip, dan lain-lainnya.

Di sekitar kota Tiberias pun terdapat berbagai objek wisata penting yang umumnya berhubungan dengan wisata rohani umat Kristiani. Objek semacam Kapernaum, Tabgha, dan Bukit Sabda Bahagia maupun Gunung Tabor berada dalam jangkauan untuk dikunjungi selama berada di Tiberias. Banyak wisatawan dari Indonesia mengunjungi objek-objek tersebut sepanjang tahun. (Wikipedia.com)

Tiberias masuk ke wilayah Galilea. Di tempat ini ada sebuah danau yang sangat terkenal dan sering sekali disebut dalam Injil, yaitu Danau Tiberias atau Genesareth atau juga Danau Galilea. Saking besarnya ukuran danau ini maka sering disebut juga laut. Danau Tiberias atau yang lebih populer dengan sebutan Sea of Galilee (Laut Galilea) adalah danau yang berada di bagian utara Israel, di dekat dataran tinggi Golan dan 30 kilometer di sebelah timur kota Nazaret. Luasnya 166 kilometer persegi dengan kedalaman 43 meter. Terletak 211,315 m di bawah permukaan laut, danau ini merupakan danau air tawar terendah di dunia dan danau terendah kedua setelah Laut Mati (yang merupakan danau air asin). Danau ini diairi sebagian dari mata air di bawah tanah, meskipun sumber utamanya adalah sungai Yordan yang mengalir melaluinya dari utara ke selatan.

Danau ini bila tampak dari udara bentuknya seperti alat musik lira.


Selain penting sebagai sumber air minum bagi warga Israel, danau ini juga memiliki sejarah yang penting bagi kaum Yahudi dan juga Keristen. Bagi penganut agama Nasrani atau Kristen, danau ini juga memiliki sejarah yang sangat penting karena di sekitar danau inilah dahulu Yesus Kristus menghabiskan paling banyak waktunya untuk memberikan pelayanan atau mewartakan kabar gembira. Empat orang dari 12 murid utamanya adalah nelayan yang tinggal di sekitar danau ini.



Di Tiberias dan di sekitar  danau ini pula, Tuhan Yesus menunjukkan mukjizat-Nya, antara lain berjalan di atas air, menghentikan angin ribut dan memberi makan 5.000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ekor ikan. Oleh karenanya mayoritas peziarah yang datang ke danau ini adalah peziarah agama Kristen yang datang dari berbagai penjuru dunia.  


Ternyata bagi umat Muslim pun danau Tiberias mempunyai makna. Bagi Muslim Danau Galilea adalah danau yang akan menjadi tanda akhir zaman, karena danau inilah yang dimaksudkan dalam Hadis akan habis airnya diminum oleh Ya’juj dan Ma’juj jadi ketika airnya mulai berkurang dan semakin berkurang sampai kering, maka itulah pertanda akhir zaman telah tiba.  Salah satu hadits Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Muslim menyebutkan bahwa salah satu tanda-tanda akhir zaman adalah mengeringnya Danau Tiberias yang diikuti dengan kemunculan Dajjal.

Ketika kami berkunjung ke danau ini,  kami sempat berlayar dengan kapal untuk menuju restaurant tempat kami makan di sebrang danau yang lain. Kami berangkat dari dermaga yang ada di Yigal Allon Center, Tiberias. Selama dalam pelayaran, kami diperbolehkan oleh awak kapal untuk mengibarkan bendera Indonesia, Sang Merah-putih  yang diiringi lagu Indonesia raya yang kami nyanyikan disertai dengan musik dari rekaman yang tersedia di kapal itu. Setelah bendera Merah Putih berkibar, kami dengan serentak juga menyanyikan lagu mars Ursulin Indonesia yaitu lagu Serviam.



Terharu rasanya dapat menyanyikan lagu kebangsaan di tanah Israel yang notabene tak ada hubungan diplomatik dengan Indonesia. Itulah keajaiban paket pariwisata bisa mengalahkan politik. 

Kami masih berdiri. Maka crew mengajari kami tarian Israel dengan diiringi lagu mereka. Menarilah kami. Masih kurang rasanya kalau kami belum menarikan tarian tanah air. Maka berkumandanglah  lagu Gemufamire dengan musiknya yang rancak dan menghentak mengajak semua orang bergoyang. Bergoyanglah kami di atas danau Galilea. Untung tak ada angin ribut seperti dalam cerita Al Kitab.

Sea of Galilee adalah danau sumber air tawar utama bagi Israel. Percaya atau tidak, danau ini merupakan danau air tawar yang paling rendah posisinya di permukaan bumi.  Saya lihat danau ini sangat besar, tetapi kalau dilihat dari ukurannya masih lebih besar Danau Toba (meski saya belum ke sana. Saya pasti ke sana).



Di danau besar ini sudah pasti banyak ikannya. Danau dengan lebar 13 kilometer dan panjang 21 kilometer itu memang sangat kaya ikan. ”Ada tujuh mata air panas yang mengalir ke Danau Tiberias. Maka, ada banyak ikan di sana”  begitu penjelasan Bishara ( guide kami yang lain). Menurut perkiraan, dari hampir 20 spesies ikan yang ada di Laut Galilea, hanya sekitar 10 spesies yang mungkin adalah jenis ikan yang Petrus tangkap. Salah satu ikan yang terkenal disebut dengan ‘ikan petrus’. Nama Petrus tentu tak asing lagi bagi orang Nasrani. Murid Yesus yang sangat terkenal dengan julukan  ‘ si Batu Karang’  itu adalah seorang nelayan yang mencari nafkah di danau ini. ‘Si Batu Karang’  itu adalah Petrus yang saat ini tahtanya dilanjutkan oleh para Paus. 



Sebetulnya ‘ikan petrus’ ini terhubung dengan peristiwa yang diuraikan dalam Alkitab di Matius 17:24-27. Di situ kita membaca bahwa sewaktu berkunjung ke kota Kapernaum di tepi Laut Galilea, Petrus ditanya apakah Yesus membayar pajak bait Allah. Belakangan, Yesus menjelaskan bahwa sebagai Putra Allah, ia tidak berkewajiban membayar pajak itu. Namun, agar tidak memberi sandungan bagi orang lain, ia menyuruh Petrus pergi ke laut, melemparkan pancing, mengambil ikan pertama yang muncul, dan membayar pajak bait dengan uang logam yang terdapat di mulut ikan itu. Nah ikan yang didapat oleh Petrus adalah jenis ‘ikan petrus’ yang dikenal sekarang.

Petrus sang nelayan,  murid Yesus memang sudah tiada sekarang, tapi ‘ikan petrus’  yang dipercaya juga dijala oleh Petrus sang nelayan dan disantap oleh Yesus dan para murid-Nya hampir 2000 tahun silam juga adalah jenis ikan yang kami santap siang itu di restoran  di tepi Laut Galilea. Itulah keajaiban paket wisata. 


Sebetulnya kalau di Indonesia ikan ini dikenal dengan ikan nila yang mirip dengan ikan mujair. Menu ikan Petrus disajikan bersama dengan kentang goreng yang renyah, roti tanpa ragi, nasi, irisan lemon,   dan salad khas Timur Tengah. Biasanya para wisatawan Indonesia akan  mengeluarkan ramuan ajaib khas Indonesia berupa kecap manis, sambal botol,  atau  saus untuk menambah kelezatan ikan Petrus. Dahulu ketika pertama kali ke Israel saya belum terbiasa dengan makanan sana. Namun, kali ini saya sudah terbiasa dengan rasa dan aromanya. Jadi tanpa tambahan apa pun saya sudah ‘ponyo’ sekarang. 


Puji Tuhan atas semua kenikmatan dan keindahan yang boleh disaksikan dan dirasakan.

(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)



Selasa, 03 September 2019

JEJAK LANGKAH 14



KAPERNAUM, KOTA KEDUA YESUS


Kota Kapernaum, Capharnaum atau Kfar Nahum, artinya Kota Nahum, terletak tidak jauh dari Sungai Yordan dan Danau Gennesaret (sekarang dikenal sebagai Danau Kinneret). Kota ini didirikan tahun 150 SM, sebuah kota istimewa dalam kehidupan dan pelayanan Yesus. Setiap hari Sabat Yesus sering mengajar di kota ini (Lukas 4:31).

Di Kapernaum Yesus telah melakukan banyak mukjizat. Anak perempuan Jairus, kepala rumah ibadah, yang telah mati Ia bangkitkan (Markus 5:22; Lukas 8:41). Yesus melepaskan orang yang kerasukan setan di sinagoga (Markus 1:21-28). Orang lumpuh yang diturunkan dari atap dan sembuh juga terjadi di kota ini (Markus 2:1-12). Ia membuat empat murid menangkap ikan dengan cara yang ajaib (Lukas 5:1-11). Yesus juga menyediakan uang empat dirham dalam mulut ikan untuk pajak yang harus dibayar Petrus (Matius 17:24-27). Ia menyembuhkan hamba seorang panglima Romawi yang lumpuh (Matius 8:5-13). Ia menyembuhkan anak seorang pegawai istana Raja Herod Antipas (Yohanes 4:46-54).
Di Kota Kapernaum inilah Yesus telah menyembuhkan banyak orang dan mengusir setan. Namun, seperti halnya Khorazim dan Betsaida, kota ini justru dikecam Yesus: “Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu” (Matius 11:23-24).
Mengapa Yesus mengecam? Kapernaum telah mendapat “kemewahan” bisa mendengar Yesus mengajar dan mengadakan mukjizat. Namun ada banyak penduduk di kota ini yang tidak bertobat dan percaya. Apa yang dikatakan Yesus terbukti. Tahun 750 kota ini hancur, dan hari ini Kapernaum hanyalah sebuah situs arkeologi, tinggal reruntuhan saja.
Yesus selalu kembali ke Kapernaum dan mengajar di kota tersebut. Sebagai pusat kegiatannya, maka wajar jika kita melihat banyak pekerjaan yang Yesus lakukan di kota ini. Kapernaum menjadi kota tempat mujizat selalu terjadi. Semua orang tahu siapa Yesus, di mana Ia tinggal dan semua pekerjaan yang dilakukan-Nya di sana. Orang-orang yang memasuki kota ini, selalu mengejar Yesus untuk mengalami mujizat-Nya. Dengan demikian, kota ini menjadi sebuah kota yang sangat diberkati karena keberadaan Yesus.

Kapernaum yang sekarang mejadi salah satu situs peninggalan masa lalu berada dalam jalur Kineret. Kapernaum saat ini menjadi situs arkeologis. Inilah desa nelayan   yang pernah terkenal  karena kesuburannya dan hasil pertaniannya serta hasil perikanannya pada masa Yesus.  Inilah desa yang merupakan kampung halaman kedua Yesus setelah Nazareth. Kapernaum sekarang  menjadi lebih terkenal lagi karena tradisi Kristen menempatkannya sebagai “kota” di mana Yesus memusatkan aktivitas pengajaran di sinagoga setempat dan melakukan perbuatan-perbuatan ajaib serta menyembuhkan orang yang sakit.

KAPERNAUM tidak disebut dalam Perjanjian Lama (PL), tetapi ini merupakan kota penting dalam zaman Kristus. Kota itu menjadi tempat kediaman pemungut cukai (Lewi); dan kehadiran seorang perwira (Matius 8:5), yang mungkin berarti bahwa disitu ada pos Militer Romawi untuk beberapa waktu. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Perwira Roma membangun sebuah synagogue disini untuk Orang Yahudi (Lukas 7:1-5). Pembantunya disembuhkan oleh Yesus dari sakit lumpuh yang parah (Matt. 8:5-13; Lukas 7:1-10). Sisa-sisanya adalah sebuah basal/taing yang indah dari synagogue yang telah ditemukan oleh arkeolog. Seperti yang telah diduga dari sebuah bangunan suci, ia ditemukan di tempat tertinggi di kota. Synagogue ini pula tempat  Tuhan Yesus biasa mengajar (Johanes 6:59; Mark 1:21; Luk. 4:33). Di sini pula, Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan (Mark 1:21-28) dan menyampaikan pelayanan tentang roti kehidupan (John 6:25-59). Dia juga menghidupkan lagi anak dari salah seorang pemimpin Synagogue (Mark 5:22; Luke 8:41).
RUMAH PETRUS 
Beberapa kaki dari synagogue, ada sebuah rumah batu milik dari salah seorang murid yaitu Petrus,  juga ditemukan di Kapernaum. Ini adalah tempat Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan yang lainnya (Matthew 8:14-16). Yesus mungkin tinggal bersama Petrus sewaktu berada di Kapernaum. Di tahun-tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus, rumah ini telah menjadi rumah tempat berkumpul para murid ( sebagai gereja). Itulah sebabnya kota Kapernaum dikenal dengan ‘kota-Nya sendiri’.  Beberapa abad kemudian, Orang Kristen membangun gereja di sini untuk peringatan akan peristiwa di masa lalu. Akeolog telah menggali gereja dan rumah awalnya pada saat bersamaan. 

Rumah itu dibangun pada akhir jaman Hellenistic (Abad pertama SM). Di abad kedua pertengahan Masehi, beberapa bagian istimewa dari rumah ini terpisah sangat jauh dari penggalian di Kapernaum. Pada faktanya, jalan aspal telah dilapisi lantai kapur beberapa kali. Yang menariknya adalah seratus tiga puluh satu gulungan tulisan kuno ditemukan. Gulungan kuno tersebut tertulis dalam empat bahasa, yaitu: in Yunani (110), Bahasa Aram (10), Estrangelo (9), dan Latin (2). Nama Yesus disebutkan beberapa kali. Ia disebut Kristus, Tuhan, dan Allah Yang Maha Tinggi. Sebuah gulungan dalam bahasa Estrangelo menyebutkan tentang Ekaristi.

Kisah masa lalu lebih dari 2000 tahun yang lalu masih dapat kita lihat keberadaannya. Kapernaum adalah sebuah desa nelayan di saat zamannya Hasmoneans (sebuah dinasti Yahudi yang merupakan keturunan Matatias (166 sM) yang biasa dikenal sebagai orang Makabe). Penggalian arkeologi telah mengungkapkan dua sinagog kuno yang dibangun satu diatas yang satu lainnya. Sebuah gereja di dekat Kapernaum dikatakan dulunya adalah rumah Santo Petrus (salah satu dari 12 murid Yesus). Bukti arkeologi menunjukkan bahwa kota itu didirikan pada abad ke 2 SM selama periode Hasmonean. Zona pemakaman ditemukan 200 meter di utara  rumah ibadat.
Kapernaum sebagai desa nelayan besar bagi orang Galilea dan tempat berjualan yang ramai. Tempat ini menarik bagi orang Kristen karena sering disebut-sebut dalam sejarah Yesus Kristus. Petrus, Andreas, Yakobus and Yohanes juga tinggal disini. Tempat ini memainkan peranan penting dalam kehidupan dan pelayanan Kristus, dan dalam usaha-Nya menjangkau bangsa Israel.
Penduduk Kapernaum, termasuk warga yang beruntung karena  diberikan kesempatan yang unik dan berlimpah untuk mendengar Firman Yesus Kristus secara langsung dan menyaksikan kuasa dan kasih-Nya.
Galilea sering pula disebut Genesareth. Daerah Gennesaret tadinya adalah daerah makmur dan ramai di Palestina . Kapernaum dilalui oleh jalan utama Via Maris highway diantara Damascus (Syria) dan Caesarea Maritima di Laut mediterania, dan di antara Tyre dan Mesir. Bea Cukai Pajak diambil dari pelancong yang melewati jalan ini (Matthew 9:9). Ini adalah pekerjaan dari Levi (Lewi), pengumpul pajak, yang kemudian menjadi murid Kristus yang kemudian diberi nama Matius. Orang Yahudi mengkritik Yesus karena berteman dengan dia dan para pemungut pajak yang lain.

Kota yang telah dibangun sekitar abad ke 2 SM pada periode dinasti Hasmonean ini, meninggalkan banyak bukti sejarah dan sekaligus menjadi saksi kemahakuasaan Tuhan Yesus dimana banyak mujizat telah dilakukan oleh Yesus di Kapernaum.
Beberapa mujizat dari Kristus yang terjadi di Kapernaum adalah:
Daughter of Jairus, restored to life by Jesus.
Yesus menghidupkan kembali anak dari pengurus synagogue
Anak perempuan dari Jairus yang telah mati dibangkitkan (Mark 5:22; Luke 8:41)
Melepaskan orang yang kerasukan setan di synagogue (Mark 1:21-28)
Orang lumpuh yang diturunkan dari atap dan sembuh (Mark 2:1-12)
Yesus membuat empat murid menangkap ikan dengan cara yang ajaib (Luke 5:1-11)
Dengan ikan, Yesus menyediakan uang pajak yang harus dibayar Petrus (Matthew 17:24-27)

Menyembuhkan pegawai panglima Roma yang sakit parah (Matt. 8:5-13)
Menyembuhkan anak seorang pegawai raja di pengadilan raja (Herod Antipas) (John 4:46-54)
Menyembuhkan banyak orang dan mengusir setan, maka "berkerumunlah orang-orang di kota itu didepan pintu" (Mark 1:29-34)

Meskipun ada banyak mujizat yang Tuhan kerjakan bagi mereka, banyak penduduk Kapernaum tetap tidak bertobat dan percaya. Karena mereka berpaling dari terang karunia yang telah diberikan, mereka juga akan lebih ditutuntut. "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut…" (Luk. 12:48). Bersama dengan Chorazin dan Bethsaida , Kapernaum menerima peringatan keras dari Yesus (Matt. 11:21-24). "Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu."

Demikianlah kisah sebuah kota ang sekarang tinggal puing-puing sisa kejayaannya. Pada batu-batu yang tersisa dan tunggul tiang yang masih ada, kita bisa belajar tentang hikmat dari peristiwa kehidupan di masa silam. Semua unsur alam yang ada di sekitarnya: angin, air Danau Tiberias, bebatuan, sang surya, langit, dan pasir di pantai danau, serta tanah dan perbukitan di sekitarnya menyimpan cerita tentang kisah seorang Lelaki pada masa itu. Lelaki yang hidup-Nya diserahkan bagi sahabat-sahabat-Nya. Juga bagi saya serta Anda yang percaya atau pun tak percaya kepada-Nya.  Dengan segala takzim saya mengenangkan Dia. 


(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)



Selasa, 27 Agustus 2019

JEJAK LANGKAH 13



Jericho, Kota Tertua di Bumi

Terbentuknya sebuah kota adalah bagian dari peradaban manusia di dunia. Jika hari ini mulai terbentuk kota-kota baru, maka sejatinya sejarah mencatat bahwa sejak ribuan tahun lalu telah ada sejumlah kota tua sebagai pusat-pusat peradaban pada masa itu.

Dipercaya bahwa Yerikho merupakan kota tertua di dunia, Arkeolog telah menggali puing-puing lebih dari 20 penghunian berurutan di Yerikho. Desa pertama di tempat ini ditemukan oleh arkeolog di Yerkiho yang berusia 200 tahun lebih tua daripada di daerah lainnya. Tiga pemukiman berbeda telah ada di dekat lokasi itu selama lebih dari 11.000 tahun (sekitar tahun 9000 SM), hampir pada permulaan era Holocene dalam sejarah dunia. Posisi itu sekitar rute utara dari Laut Mati. (https://id.wikipedia.org/wiki/Yerikho)

Asal nama Yerikho. Nama Yerikho dalam bahasa Ibrani, Yeriẖo, diyakini diturunkan kata bahasa Kanaan Reaẖ ("wangi-wangian"), meskipun ada teori alternatif bahwa kata itu diturunkan dari kata yang berarti "bulan" (Yareaẖ), karena kota itu merupakan pusat penyembahan mula-mula dewa-dewa bulan. Nama Yerikho dalam bahasa Arab, ʼArīḥā, berarti "wangi-wangian" dan diturunkan dari kata Kanaan yang sama Reaẖ, dengan makna yang sama dengan bahasa Ibrani.

Kota yang relatif kecil ini berada di dekat Sungai Yordan di tepi barat. Menurut beberapa sumber arkeolog telah ditemukan pemukiman tempat tinggal manusia sejak 11.000 tahun yang lalu. Berdasarkan penggalian yang dilakukan arkeolog bernama Miss Kathleen Kenyon pada tahun 1956, usia Jericho diperkirakan lebih dari 10000 tahun.  
Di beberapa titik lokasi di Jericho terdapat tulisan 'The Oldest City of The World'. Beberapa runtuhan bangunan ribuan tahun lalu, juga dapat kita lihat di kota ini. 
Secara geografis, Jericho adalah kota yang unik karena berada 244 meter di bawah permukaan laut. Hal itu membuat Jericho selain sebagai kota tertua juga menjadi kota yang terletak paling rendah di dunia. 
Untuk menuju ke sana harus melewati otoritas imigrasi Israel di Allenby Bridge. Bus yang kami tumpangi melewati jalan panjang yang dikelilingi tembok dengan pagar berduri dan dialiri listrik. Tembok itu menjadi batas antara wilayah otoritas negara Palestina dan Israel. Kota Jericho adalah kota yang masuk dalam kekuasaan otoritas Palestina, sebe­lumnya berada dalam kekuasaan Israel. Masuknya kota Jericho sebagai bagian dari otoritas Palestina berdasarkan pada perjanjian tentang Jalur Gaza dan Jericho. Perjanjian ini  telah di sepakati pada tanggal 4 Mei 1994 di Kairo, Mesir antara Pemerintahanan Israel dengan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina).


Jericho dibangun sejak 9.500 tahun sebelum masehi dengan periode yang dinamakan Pre-Pottery Neolithic A. Setelah itu masuk ke jaman Pre-Pottery Neolithic B. Kota ini mengalami perkembangan yang pesat pada era Bronze atau perunggu yakni pada tahun 4.500 SM hingga 2.000-an SM.
Kota ini pernah dikuasai oleh berbagai bangsa, diantaranya adalah bangsa Persia, bangsa Romawi, bangsa Arab, bangsa Yahudi, Otoritas Kristen, Otoritas Islam dan Inggris pada masa kolonial.
Periode selanjutnya, kota ini sempat jatuh ke tangan Persia dan Yunani yang dikenal dengan sebutan Persian and Early Hellenistic periods. Usai periode ini, barulah Jericho jatuh ke tangan kekuasaan Kaisar Romawi di bahwa Raja Herodes. Selanjutnya, kekuasaan Yahudi masuk ke wilayah ini sebelum akhirnya pada tahun 700-an, kota ini berada di bawah kekuasaan Islam. Dalam perjalanan selanjutnya, kota ini sempat juga menjadi bagian dari kekuasaan Inggris, sekitar tahun 1922.
Panorama Kota Jericho
Secara geografis kota Jericho yaitu kota yg dikelilingi bukit-bukit yang gersang. Namun,  di bagian lembah kota Jericho, terbentang tanah yang subur dan kota yang hijau, yang menandakan Jericho merupakan kawasan yang memiliki tingkat kesuburan yang baik. Dari hasil pertaniannya Yerikho telah menghasilkan pisang, jeruk, mangga dan kurma serta sayuran dalam kualitas baik.
Sebelah barat laut pusat Jericho, sisi bukit Qarantal (sudah dibahas pada Jejak Langkah 12) memainkan peran penting dalam tradisi Kristen. Ini adalah poin utama yang menarik bagi pengunjung Kristen yang tahu bukit sebagai Gunung Pencobaan, di mana Yesus Kristus berpuasa setelah dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis. 
Bukit Pencobaan
Beberapa objek lain yang terkenal di Jericho selain Bukit Pencobaan antara lain:  Tel e-Sultan yang merupakan daya tarik utama  Kota Jericho  berupa situs kuno Jericho. Selain itu daya tarik lainnya dari kota Yerikho, adalah Oasis Casino, sebuah lokasi tempat perjudian yang diberi izin resmi oleh otoritas Palestina. Kasino ini satu-satunya di Negara Palestina. Lokasi Oasis Casino yang berada di jalur akses menuju Laut Mati dan kota Jerusalem. Kami tidak melewati kedua tempat ini karena tujuan kami ke Jericho hanya ke Bukit pencobaan.
Tempat wisata yang banyak diminati para wisatawan adalah objek penggalian situs kuno masa neolitikum. Hasil penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Miss Kathleen Kenyon yang dilakukan pada tahun 1952-1956, telah menemukan lapisan-lapisan terawal kota yang kemudian diketahui berasal dari masa 8.000 SM. Berdasarkan penemuan ini, para arkeolog telah meyakini bahwa Yerikho ada­lah “kota tertua di dunia” mengalahkan Gaziantep, Turki (3650 SM) maupun Pavlopetri di Yunani (7000 SM). Hasil penggalian tersebut memperlihatkan, beberapa bangunan monumental yang ada membuktikan  adanya kehidupan sosial yang telah dimulai sejak dari 8.000 - 10.000 SM.
Sudut Kota Jericho
Kota kuno Jericho merupakan  salah satu kota dari kota kuno yang  masih sedikit ada dengan peninggalan yang masih bisa disaksikan. Kota kuno ini adalah wilayah dengan sejarah milenium yang dapat menawarkan lebih dari sekadar arsitektur indah dan artefak unik. Kota ini memperlihatkan tanda-tanda zaman dan peradaban sebelumnya, menampilkan perkembangan umat manusia.
sudut Kota Jericho
Tentunya para wisatawan  ingin berwisata ke kota tertua dan terendah di dunia ini, juga ingin menikmati produk pertanian dari negri ini dan juga menikmati makanan lezat yang tersaji di kafe-kafe dan restaurant.  Produk pertanian yang terkenal Antara lain buah kurma. Kurma Jericho memiliki tekstur yang berbeda dengan kurma dari tempat lain, rasanya lebih legit, tidak terlalu manis, lebih empuk dan bentuknya lebih besar, harga kurma terbaik di sini sekitar USD 12  atau ntuk berat 2 kilogram. Selain itu juga ada aneka macam kacang tanah  yang ukurannya lebih besar dari kacang tanah di Indonesia. Manisan buah ara juga termasuk yang dicari oleh wisatawan Indonesia.

Jericho dalam Kitab Suci
Bila kita menghubungkan dengan Al Kitab, beberapa nama tokoh Al Kitab muncul berkaitan dengan daerah ini yang tentunya bersamaan dengan itu juga ada peristiwa yang menyertainya. Mari kita runut beberpa di antaranya:
Yericho digambarkan dalam Alkitab (Ibrani) sebagai "Kota Pohon Palem". Banyak sumber-sumber air di dalam dan sekitar kota ini menarik orang-orang untuk menghuninya selama ribuan tahun. Dikenal dalam tradisi Yudeo-Kristen sebagai tempat terjadinya Pertempuran Yerikho yang memastikan penghunian orang Israel di tanah Kanaan ketika sampai di sana setelah keluar dari Mesir, di bawah pimpinan Yosua bin Nun, pengganti Musa.

Membaca perjanjian Baru, kita mengetahui ada cerita Orang Samaria yang baik hati. Di jalan antara Jericho dan Yerusalem, seorang Yahudi yang terluka karena dirampok, ditolong orang Samaria yang membawanya ke penginapan dan merawatnya di sana. 



Kunjungan Yesus ke Yerikho dan kota-kota tetangganya tercatatdalam Al Kitab. Yesus menyembuhkan Bartimeus, orang buta itu, ketika Ia meninggalkan kota tersebut (Mrk. 10:46). Di kota ini Yesus  berjumpa dengan Zakheus, si pemungut cukai (Luk. 19:1-11) yang bertobat. Selain itu, Yesus  menyampaikan perumpamaan tentang uang mina (Luk. 19:12-28) juga di kota ini.
Pada Perjanjian Lama kita mengetahui adanya serbuan Yosua ke kota itu. Sesudah kurang  1600 SM Yerikho hancur total, kemungkinan dihancurkan oleh para firaun (raja-penguasa) imperialis Mesir dinasti ke-18. Sesudah masa ini (Zaman Perunggu Akhir) permukiman yg ditemukan di Yerikho adalah terutama bertarikh antara kr 1400 dan 1325 SM; dari abad 13 SM, yaitu tarikhnya Israel menaklukkan daerah ini. 

Dari zaman Yosua sampai Nehemia:  Selama beberapa abad tidak ada yang tampil membangun kembali kota di atas bukit Yerikho karena takut akan kutuk Yosua (Yos 6:26). Akan tetapi,  mata air dan oase yang ada di sana sering dikunjungi, mungkin untuk mempertahankan desa kecil yang ada di sana tetap lestari. Pada zaman Hakim-hakim, daerah sekitar oase ini diduduki oleh Eglon, Raja Moab (Hak 3:13Utusan Daud tinggal di sana sesudah dipermalukan oleh Hanun, orang Amon (2 Sam 10:5; 1 Taw 19:5). 
Penggalian reruntuhan tembok lama Jericho

Dalam pemerintahan Raja Ahab (kira 874/873-853 SM) Hiel orang Betel membangun kembali Yerikho, dengan mengorbankan anaknya yang sulung dan yang bungsu. Demikianlah digenapi kutuk yg dulu diucapkan oleh Yosua (1 Raj 16:34).
1Raj 16:34
Pada zamannya itu Hiel, orang Betel, membangun kembali Yerikho. Dengan membayarkan nyawa Abiram, anaknya yang sulung, ia meletakkan dasar kota itu, dan dengan membayarkan nyawa Segub, anaknya yang bungsu, ia memasang pintu gerbangnya, sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Yosua bin Nun.
 Kota Yerikho yang dibangun pada Zaman Besi inilah Yerikho pada zaman Nabi Elia dan Elisa (2 Raj 2:4-5, 18-22). Di dataran kota inilah Zedekia, raja terakhir Yehuda, ditangkap oleh tentara Babel (2 Raj 25:5; 2 Taw 28:15; Yer 39:5; 52:8).
Hingga sekarang orang datang dan pergi malalului dan menuju Jericho dengan aneka tujuan dan alasan. Sama seperti zaman dahulu kala, Jericho adalah kota transit sebelum orang-orang menuju dan pulang dari Jerusalem. Di sni kisah Kitab Suci bercerita ada keselamatan dan harapan. Ada para tokoh yang tercatat dalam Al itab seperti: Rahab, Zakeus, Bartolomeus, orang Samaria yang baik hati, dan tokoh-tokoh lain yang tercatat atau tak tercata, mereka memeberi peran dalam degup jantung kota Jericho. Juga kini dan masa mendatang Jericho akan tetap menjad Jericho dengan keunikan dan keanggunannya sebagai kota tertua. Puji syukur pada Sang Pencipta saya boleh pernah berada di kota ini. 
(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)





Senin, 19 Agustus 2019

JEJAK LANGKAH 12


BUKIT PENCOBAAN


Di bagian Timur Kota Yerikho terbentang bukit, yang diyakini menurut kepercayaan komunitas Kristen sebagai Bukit Percobaan. Saat ini di atas bukit Nebo terdapat   Monastery of Temptation yang di bangun oleh komunitas Ortodok Yunani, di dalam biara tersebut terdapat sebuah gua yang diyakini sebagai tempat Yesus tinggal dan berpuasa selama 40 hari 40 malam.

Menurut  penelusuran beberapa sumber, antara abad ke 4-7 Masehi sudah ada biarawan yang tinggal di tempat ini, tetapi pada saat itu mereka belum membangun biara. Tetapi pada abad VII Masehi kala bangsa Persia menduduki Tanah Perjanjian banyak biarawan yang dibunuh. Pada periode Perang Salib mulailah dibangun tempat ibadah di tempat ini.

Pada tahun 340 Santo Charition membangun sebuah Kapel di depan gua tempat Yesus berpuasa dan sebuah biara di puncak bukit ini. Sampai abad ke-14 masih terdapat rahib yang menjalani hidup di gua-gua disekitar bukit tersebut. Pada saat itu para rahib-rahib tersebut mulai menyebut bukit ini : “Mons Quarantana”, yang artinya “Gunung Empat Puluh Hari”. Dari sinilah sebutan Jabal Quruntul dalam bahasa Arab tersebut diambil. Pada tahun 1874 Gereja Yunani Ortodoks membeli bukit ini dari pemerintah Turki Usmani yang menjajah Tanah Suci saat itu, dan pada tahun 1885 mereka mendirikan Biara Quruntul pada pertengahan dinding bukit ini.

Area parkir Bukit Pencobaan

Biara Quarantal mulai dibangun antara tahun 1875 dan 1905 dengan didanai oleh pihak Rusia, posisi dari biara ini berada di lereng Bukit Pencobaan dan menghadap ke kota Jericho.

Gunung Pencobaan disebutkan terletak di bukit Gurun Yudea, tempat Yesus dicobai oleh Iblis (Matius 4:8). Tetapi kita tidak pernah tahu tempat atau posisi yang tepat di mana peristiwa itu terjadi. Secara umum gunung tersebut dikenal sebagai gunung  Quarantal atau Qarantania, sebuah gunung dengan ketinggian 366 meter dan letaknya 11 km barat laut kota Yeriko di wilayah Tepi Barat.

Ladang di bawah Bukit Pencobaan

Tempat ini dikenal juga dengan sebutan Bukit Quarantal  (dalam bahasa Arab disebut dengan Jabal Quruntul) dan tempat ini diyakini sebagai tempat dahulu Yesus dicobai oleh iblis. Bukit ini merupakan rangkaian dari kawasan perbukitan di Samaria.  Kata Quarantal berasal dari bahasa latin Quarantena yang berarti 40 untuk mengenang peristiwa pencobaan Yesus selama 40 hari.

Pencobaan Yesus tercantum dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas. Menurut teks-teks tersebut, setelah dibaptis, Yesus berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam di Gurun Yudea. Pada waktu itu, Setan menemui Yesus dan mencobainya. Yesus menolak setiap pencobaan, kemudian iblis pergi meninggalkan-Nya dan Yesus kembali ke Galilea untuk memulai pelayanan-Nya.

Pencobaan-pencobaan ini berkaitan dengan hedonisme (lapar / kepuasan), egoisme (loncatan spektakuler / kekuatan) dan materialisme (kerajaan / kekayaan). Penginjil Yohanes dalam surat-suratnya menyebut pencobaan-pencobaan "di dalam dunia" sebagai "keinginan mata" (materialisme), "keinginan daging" (hedonisme) dan "kengkuhan hidup" (egoisme). Pencobaan-pencobaan itu ditujukan untuk menyesatkan dan menyelewengkan tiga ciri utama manusia; untuk berpikir, berkeinginan, dan berperasaan yang berada di dalam pikiran, jiwa dan hati sebagaimana disebutkan oleh Yesus dalam Hukum Terutama. Semua ini terkait dengan transendental atau ideal paling utama dalam tiga area minat manusia; ilmu (kebenaran), seni (keindahan) dan agama (kebaikan).

dinding Bukit Pencobaan


Injil Matius dan Lukas menggambarkan pencobaan itu dengan memberi detail percakapan Yesus dan Setan. Pencobaan Kristus tidak secara eksplisit diceritakan dalam Injil Yohanes tetapi dalam Injil ini ditulis bahwa Yesus menyebutkan si Iblis, "penguasa dunia ini" (bahasa Inggris: "the prince of this world"), tidak mempunyai kuasa atas Dia.

Kitab-kitab Injil berbicara mengenai waktu menyendiri bagi Yesus di padang gurun segera setelah baptisannya oleh Yohanes. Dibawa ke padang gurun oleh Roh, Yesus tinggal di sana empat puluh hari tanpa makan; Ia hidup di antara binatang-binatang liar. Pada akhir waktu itu Setan mencobai-Nya tiga kali, berupaya untuk menyelewengkan sikap kepatuhan-Nya terhadap Allah. Yesus menangkis serangan-serangan itu, yang membalas pencobaan Adam di Firdaus dan (bangsa) Israel di padang gurun, dan iblis meninggalkan-Nya "sampai waktu yang tepat". Pencobaan di padang gurun menunjujkkan Yesus, Mesias yang rendah hati, menang terhadap Setan dengan pengikatan kuat-Nya akan rencana keselamatan yang dikehendaki oleh Sang Bapa.

Panorama Desa dari cabelcar

Bacaan Injil tentang  Bukit Pencobaan diambil dari  Injil Lukas 4. Manusia mempunyai kodrat Ilahi tidak hanya hanyut pada hal yang ragawi saja (makan-minum). Martabat Ilahi mansia tidak bergantung pada kemuliaan luar saja.

Hidup berfokus pada Yesus. Karena ada tertulis bahwa Tuhan menjadi pedoman, sabda Allah jadi kekuatan. Kita perlu menyimpan kebenaran Sabda dalam diri kita. 

Dinding Bukit Pencobaan

Saat kami sampai di tempat itu, siang hari setelah makan siang. Suhu udara berkisar Antara 38 derajat Celsius.

Untuk dapat mengunjungi bukit ini telah tersedia Cable Car. Di sekitar Lokasi stasiun Cable Car, terdapat hotel, pertokoan, dan Jericho Temptation Restoran yang menjadi tempat perhentian bus wisata untuk naik ke Bukit Percobaan atau mengunjungi situs kuno Yerikho sebagai tempat temuan arkeologi masa neolitikum Tel el-Sultan.

(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)



Sabtu, 17 Agustus 2019

TAHBISAN IMAMAT KAJ 2019


TAHBISAN DI SASONO UTOMO TAMAN MINI INDONESIA INDAH

Hasil gambar untuk tahbisan imamat kaj 2019

Hidup di zaman ini dengan segala tantangannya  memerlukan kecerdasan. Kecerdasan adalah menemukan ketidakwajaran dan kecekatan merekayayasanya untuk mengembangkan kualitas kehidupan. Setiap orang dalam hidup ini akan bertemu dengan ketidakwajaran. Untuk dunia dengan kecanggihan dan kematerilannya seperti sekarang, memilih menjadi seorang imam adalah sesuatu yang tidak wajar. Namun, justru di situ dunia melihat bahwa orang-orang yang cerdas dan pilihan akan memilih hal yang berbeda yang tak dipilih oleh dunia.

Lima pria lajang pada sore itu berbalut jubah putih bersih perlahan dan khidmat menuju altar untuk memberikan jawaban pada panggilan hati yang selama ini mereka jalani dalam proses penempaan diri. Sebuah jawaban yang tulus dan murni dari nurani terdalam. Tak ragu. Dengan pasti melangkah menuju pada panggilan yang terus mereka hidupi : menjadi IMAM.

Disaksikan oleh orang tua, saudara-saudari, sanak, dan keluarga, para rekan sekomunitas, juga para senior, para guru, para pembimbing rohani, dan seluruh umat beriman yang hadir. Mereka lima pria ini adalah Diakon Albertus Monang Rianto Sidabutar, Diakon Andreas Subekti, Diakon Joseph Biondi Mattovano, Diakon Ignasius Harianto, SDB, dan Diakon Marselinus Tanggu, SDB. Lima pria ini melangkah dalam keyakinan yang teruar auranya pada tiang-tiang kokoh bangunan Sasana Utama, Taman Mini Indonesia Indah.



Menjadi saksi dari kelimanya adalah kebahagiaan tersendiri. Saya bersyukur karena boleh menjadi saksi dari peristiwa mulia ini. Saya hadir untuk murid saya, yang juga anak teman saya, yaitu Diakon Joseph Biondi Mattovano. Kami para gurunya di SMP St. Ursula BSD memanggilnya Ovan.

Baru kemarin rasanya saya mengajar dia di Bina Iman St. Monika, BSD. Baru sekian waktu berselang rasanya saya , melihat Ovan sebagai teman anak  perempuan saya (Metta) dengan anak-anak seangkatan mereka. Melihat mereka kala bertumbuh dari anak-anak, remaja, hingga mereka mengambil langkah masing-masing pada jalan mereka sendiri, membuat saya terharu. Betapa waktu begitu cepat berlalu bila dikenangkan.



Kini saya duduk di deretan kursi belakang menyaksikan alur peristiwa ini berjalan dalam sebuah rangkaian ritus nan agung. Ada begitu banyak perjumpaan yang saya alami dengan  pribadi-pribadi yang dengan kehendak-Nya diijinkan untuk menjadi murid saya. Salah satunya Ovan atau Vano. Wow, sungguh sebuah keajaiban hidup bila saya renungkan.

Ritus dimulai dengan perarakan masuk mulai dari ceremonarius, Misdinar pembawa wiruk, Misdinar pembawa salib, Misdinar pembawa lilin/lentera, Frater pembawa microphone & buku upacara, para Diakon  dan orang taunya, pembawa Evangeliarium, para Asisten Uskup, Selebran lain, dan terakhir Bapak Uskup yang diiringkan oleh Frater pembawa tongkat dan mitra.

Sampai di kaki altar Uskup dan para petugas liturgyiberlutut. Uskup melepaskan tongkat lalu mendupai altar, kemudian melepas mitra. Semua membungkuk ke altar. Salib, evangelarium, mitra, dan tongkat Uskup diletakkan pada tempatnya. Semua petugas liturgy ke tempatnya masing-masing. Kemudian, Uskup berdiri di depan kursinya dan membuka perayaan.

Selama perarakan menuju altar, koor mengiringinya dengan lagu Panggilan Tuhan yang dilanjutkan dengan lagu Aku Abdi Tuhan.

Uskup menyampaikan salam. Lalu Imam Asisten I menyampaikan pengantar, sementara itu umat duduk. Selanjutnya Uskup melanjutkan denagn doa tobat.
Ritus berikutnya dilanjutkan pada Tuhan Kasihanilaan,  Kemuliaan, dan doa pembukaan.

Setelahnya dilanjutkan dengan Liturgi sabda. Bacaan pertama kali itu mengambil Kitab Yosua 3: 7-10a. 13-17, bacaan kedua Ibrani 2: 5-18, serta Injil dari Lukas 1: 39-56.

Tahbisan ini bertepatan dengan peringatan  Maria Diangkat ke Surga. Bukan hal yang kebetulan, bila tema tahbisan ini ada ketersambungan denagn retret agung saya di Ein Karem (Gereja Visitasi) dalam ziarah ke Tanah Suci pada bulan Juni lalu.

Setelah pembacaan Ijil, mulailah masuk pada Ritus Tahbisan Imam. Bapak Uskup duduk di kursi depan altar dengan mengenakan mitra. Para asisten berdiri di kanan dan kiri Uskup.

Mulailah Bapak Uskup memanggil para calon imam. Para calon imam yang dipanggil denagn nama lengkapnya menjawab: Saya hadir. Calon imam berdiri dan memberi hormat kepada Uskup. Kemudian calon imam menghampiri orang tuanya masing-masing untuk memohon restu.

Selanjutnya para orang tua mengantar para puteranya menghadap Uskup untuk menyerahkannya. Setelah penyerahan, calon imam mengantar orang tua ke tempat duduknya. Kemudian calon imam berdiri di depan Uskup.

Imam Asisten 1 memnyampaikan permohonan kepada Bapak Uskup untuk menahbiskan para calon imam untuk tugas pelayanan imamat. Bapak Uskup menanyakan kelayakan para calon imam untuk ditahbiskan.

Setelah jawaban dari Imam Asisten bahwa para calon imam ini layak untuk ditahbiskan, maka Bapak Uskup menerima calon imam.  Para calon imam memberi hormat kepada bapak Uskup dan kembali ke tempat duduknya.

Setelah itu Bapak Uskup memberikan homili.
Homili Mgr. Ignatius Suharyo diawalai dengan ucapan syukur dan ucapan profociat karena para calon imam berani untuk menuju pada kesempurnaan kasih yaitu menuju jalan imamat.

Jalan iamamat adalah salah satu jalan yang menuju kesucian. Bapak Uskup berdoa agar para calon imam bertumbuh dalam imamat dan gembira di dalam pelayanan.

Renungan Bapak Uskup dimulai dengan pertanyaan mengapa Bunda maria ingin mengunjungi Elizabeth? Padahal, Maria sendiri dalam keadaan gelisah, bahkan takut. Mengapa Bunda Maria gelisah dan takut? Karena mendengar salam dari Malaikat Gabriel: Tuhan menyertai engkau!

Maria gelisah dan takut menerima salam ini karena ketika Tuhan menyertai  artinya Tuhan yang memimpin hidupnya. Artinya Maria harus menanggalkan rencananya atau kehendaknya sendiri. Tidak bebas untuk melaksanakan apa yang menjadi kehendak pribadi. Allah yang akan memimpin.

Sama halnya dengan Musa dan Yosua. Musa mengalami ketakutan saat diminta untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir. Lantas Tuhan bertanya kepada Musa: Bukankah aku menyertai engkau?

Musa mengikuti rancangan Tuhan. Musa dikisahkan dalam Perjanjian Lama, ia memimpin umat Israel menuju Tanah Terjanji. Mengembara di padang gurun. Namun, saat akan masuk ke Tanah terjanji, justru Tuhan tidak mengijinkannya masuk.

Meski demikian, Musa tidak mogok, ngambek, patah arang, marah, atau protes. Musa ditampilkan sebagai pribadi yang mulia dan agung.

Dengan tenang ia memberikan tongkat kepemimpinannya pada Yosua untuk membawa umat Israel masuk ke Tanah Terjanji.

Mengapa Musa mempunyai pribadi yang agung dan semulia itu? Karena Musa tidak lagi melihat berbagai hal dan peristiwa hidupnya dari ukurannya sendiri. Musa melihat berbagai hal dari standard kacamata Allah. Ia memandang berbagai peristiwa bukan lagi tentang diri sendiri melainkan dari kaca mata Allah.

Usai homili, upacara dilanjutkan dengan penyelidikan calon imam. Bapak Uskup duduk di depan altar. Calon imam berdiri di depan uskup. Uskup menanyai mereka tentang kesediaan calon imam untuk melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya. Bertanya juga tentang kesediaan melaksanakan tugas seorang imam dengan cermat dan kerja sama yang setia kepada Uskup untuk menggembalakan umat Allah di bawah pimpinan Roh Kudus. Kesediaan yang berikutnya untuk merayakan misteri Yesus Kristus dalam Gereja dengan hormat dan setia sesuai tradisi Gereja demi kemuliaan Allah dan pengudusan umat-Nya. Kebersediaan yang keempat adalah mewartakan Sabda Allah dengan cara yang pantas dan bijaksana dalam memaklumkan Injil dan mengajarkan iman Katolik. Kebersediaan yang kelima adalah mempersatukan diri makin erat dengan Kristus Sang Imam Agung dan bersama Yesus menyerahkan diri kepada Allah demi keselamatan umat manusia.

Setelah penyelidikan, calon imam mengucapkan janji setia. Calon imam maju, berlutut di depan uskup, meletakkan kedua tangannya ke dalam tangan Uskup lalu menjawab pertanyaan seputar janji setia untuk menghormati dan menghormati Uskup dan para penggantinya.

Lantas Uskup berdiri melepas mitra dan mengajak uat berdoa agar Allah berkenan melimpahkan anugrah Ilahi-Nya kepada para hamba-Nya yang telah dipilih untuk menerima martabat imamat.

Maka Uskup, Imam asisten, dan Misdinar berlutut menghadap altar, sedangkan calon imam bertiarap di lantai sebagai ungkapan ketidakpantasannya. Litani para Kudus pun dikumandangkan oleh solis dandijawab oleh seluruh umat, calon imam,  dan para imam.

Setelah Litani Para Kudus, Uskup dan Asisten berdiri menghadap altar. Uskup berdoa agar Allah sudi mendengarkan dan mengabulkan doa-doa umat-Nya serta menyerahkan para calon imam ke dalam tangan Tuhan untuk ditahbiskan.

Ritus selanjutnya adalah penumpangan tangan. Ritus ini merupakan bagian inti Perayaan tahbisan Imam. Bagian ini terdiri dari dua yaitu penumpangan tangan dan doa oleh Bapak Uskup yang merupakan lambang pencurahan Roh Kudus yang akan menahbiskan para calon menjadi imam. Bagian kedua dari ritus ini adalah penumpangan tangan para imam lain yang menandai penerimaan mereka ke dalam kolegalitas para imam.  Para imam yang hadir dalam upacara tersebut satu persatu menumpangkan tangan mereka.

Selesai penumpangaan tangan, calon imam berdiri di hadapan Bapak Uskup. Bapak Uskup menanggalkan mitra dan merentangkan tangannya ke atas calon imam. Semua imam yang hadir mengulurkan tangan kanannya kea rah calon imam. Keudian Uskup mengucapkan doa tahbisan.

Tibalah kini pada acara pengenaan stola dan penyerahan kasula. Uskup duduk di depan altar dengan mengenakan mitra. Imam Baru maju dan berlutut di hadapan Uskup. Sementara itu, Asisten mengubah tataletak stola pada Imam Baru. Asisten menyerahkan kasula kepada Uskup lalu Uskup menyerahkan kasula tersebut pada Imam Baru. Para Imam Baru membawa kasula kepada orang tua yang membantu mengenakannya.

Setelah mengenakan kasula, Imam baru berdiri di hadapan Uskup. Uskup mengenakan Gramiale dan minyak krisma dibantu oleh Asisten. Imam Baru menghadap Uskup dan berlutut. Lalu membuka telapak tangan di atas Gramiele. Uskup pun mengurapi tangan Imam Baru.

Imam Baru dan Uskup mencuci tangan masing-masing. Uskup dibantu Asisten melepaskan Gramiele.

Setelah mencuci tangan, Imam Baru mendampingi orang tua maju ke hadapan Uskup, sambil membawa bahan persembahan. Bapak Uskup menerima bahan persembahan dari orang tua, lalu menyerahkannya kepada Imam Baru.  Uskup memeluk Imam baru. Imam baru didampingi orang tuanya membawa bahan persembahan dan meletakkannya di meja altar. Lalu Imam baru mengantarkan orang taunya kembali ke tempat duduknya. Sementara itu, dengan dibantu asisten, Imam Baru mempersiapkan altar. Para petugas persembahan mengambil persembahan lainnya dan dihantar ke depan altar. Di depan altar disambut Imam baru dan para Asisten.

Kini tibalah ritus memasuki Liturgi Ekaristi. Imam Baru mempersilakan Uskup memimpin Ekaristi. Para Imam Baru berdiri di atara Uskup dan para Asisten. Maka Ekaristi pun digelar sesuai urutan pada umumnya.

Pada saat pembagian Hosti, Imam baru menerimakan komuni kepada orang tuanya dan sanak-keluarga. Lalu juga membagikannya kepada umat lainnya. Sesudah menerimakan Komuni, dengan dibantu Ceremonarius, Imam baru membereskan altar. Lalu Imam Baru mempersilakan Uskup dan Asistenya untuk berdiri di belakang altar.
Ritus penutup pun mulai. Uskup mengenakan mitra. Sambil merentangkan tangannya, Uskup menyampaikan Berkat Allah. Sambil memegang tongkat kegembalaannya, Uskup mengakhiri penampaian Berkat Allah.

Uskup dan para Asisten duduk. Maka dimulailah sambutan-sambutan : dari Ketua Panitia tahbisan, wakil orang tua Imam baru, Pastor Kepala Paroko Lubang Biaya, dan sambutan dari wakil Imam Baru ( Romo Andreas Subekti).

Setelah sambutan, untuk pertama kalinya Imam baru menyampaikan Berkat Allah. Selanjutnya disampaikan perutusan bagi para iam baru.

Seluruh umat menyanyikan lagu penutup. Uskup, Asisten, Imam baru, Imam konselebran maju ke depan altar. Lalu pengambilan gambar. Maka semua petugas liturgy turun dari panti imam dan meninggalkan ruangan. Berakhirlah rangkaian acara pentahbisan imam KAJ 2019.

Kini telah lahir 5 Imam baru bagi Gereja KAJ dan Gereja semesta yaitu:
Romo Albertus Monang Rianto Sidabutar,PR
Romo Andreas Subekti, PR
Romo Joseph Biondi Mattovano, PR
Romo Ignasius Harianto, SDB,
Romo Marselinus Tanggu, SDB.

Proficiat, crescat et floreat – Terslah maju, bertumbuh dan berkembang!
(Ch. Enung Martina)