Jumat, 19 April 2019

(PUISI RENUNGAN JUMAT AGUNG 2019)



SIAPAKAH AKU DI HADAPAN SANG SABDA?



Pada mulanya adalah Firman ;
Firman itu bersama-sama dengan Allah  dan Firman itu adalah Allah.

AKU bukan dari dunia ini begitu DIA bilang
indra manusiawiku tak mampu mencerna
aku tak mampu memahami misteri
aku tak beda dengan para rasul : merasa ragu

masing-masing kita mengambil jalan sendiri

Ia dihina dan dihindari orang, hingga sekarang
Ia sangat dihina,
Dia dianiaya
Dia  tidak membuka mulut-Nya
Ia mengambil alih hukuman yang sebenarnya pantas aku terima,
Dia yang tak berdosa menderita sebagai pendosa.

Biarlah bumi sunyi-senyap pada hari ini, karena inilah hari di mana Penciptanya mati.
Namun, Ia akan membenarkan banyak orang oleh hikmat-Nya

Kematian dan kebangkitan-Nya membuka peluang surga bagiku
Namun, ampunan itu miliku
suatu realitas yang dapat kucicipi di sini dan sekarang

(Ch. Enung Martina- kala hujan sangat deras setelah penyembahan Salib, Vila Melati Mas, St. Ambrosius, 19 April 2019)



Kamis, 18 April 2019

RENUNGAN PRIBADI PADA JUMAT SUCI 2019 (Matius 20:1-16)


Orang Upahan di Kebun Anggur


Sejak dulu saya sangat penasaran dengan cerita tentang orang upahan di kebun anggur. Setiap kali saya membaca, saya melihat memang tidak adil. Mata manusia saya tidak melihat keadilan. Memang hal ini didasarkan pada pengalaman pribadi sendiri sebagai orang upahan. Ada beberapa pengalaman pribadi yang mirip denagn cerita ini. Dengan pengalaman pribadi ini saya cenderung menjadi orang yang bersungut-sungut karena merasa tak adil juga. Bila dibandingkan dengan cerita tersebut, saya merupakan orang upahan yang bekerja dari pagi buta hingga matahari terbenam. Jelaslah, bahwa saya merasa diperlalkukan tak adil oleh majikan saya.

Namun, pada Tahun Hikmat ini, saya mendapat enlightment ‘pencerahan’ tentang cerita ini. Pencerahan ini saya dapatkan ketika saya mengikuti seminar Kitab Suci yang diberikan oleh Romo Josef Sutanto, Pr. di St. Ambrosius, Vila Melati Mas.

Mari kita lihat utuhnya cerita tentang orang upahan di kebun anggur di bawah ini:

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang  pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi.

Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi.

Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama.

Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.

Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.

Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Untuk bisa memahami cerita ini kita harus lihat latar belakang pembagian waktu berdasarkan tradisi Yahudi. Pembagian waktu dalam tradisi Yahudi atau jadwal tradisional dalam tradisi Yahudi seperti berikut: Matins (12 PM) (tengah malam), Lauds (jam 3 AM/pagi), Prime (6-9 AM),  Underne (9-12AM), Sexte (12-3PM-siang), None (3-6 PM/sore), Vesper (3-6 PM – senja), Compline (9-12 PM/malam).

Dalam cerita dikatakan bahwa Pemilik Kebun Anggur pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Diperkirakan itu sekitar pembagian waktu Prime ( 6-9 PM). Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Romo Josef menjelaskan bahwa saat itu adalah zaman susah. Kalau orang mendapatkan pekerjaan itu adalah hal yang dinanti-nantikan. Mereka adalah para buruh lepas yang bukan pegawai tetap. Jadi bisa dibayangkan bahwa ketika mendapat pekerjaan pada hari itu mereka sudah sangat beruntung sehingga bisa mendapat upah untuk hari itu, 1 dinar. Jika dirupiahkan setara dengan gaji buruh harian (UMR) kira-kira Rp 125.000.

Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Ini berarti Pemilik Kebun Anggu keluar lagi mencari pekerja pada pembagian waktu Underne. Romo Josef menjelaskan bahwa  kalau golongan pertama tadi para upahan ini beruntung karena mereka mendapat pekerjaan dari pagi. Semenatra orang-orang golongan kedua adalah para lelekai yang sedang kongko di pasar menantikan orang yang menawari pekerjaan. Mereka sudah merasa kuatir, takut tidak mendapat pekerjaan untuk hari itu. Begitu mendapat tawaran dari Pemilik Kebun Anggur, pasti mereka seneng. Hati mereka ayem karena mendapat upah untuk kari ini. Artinya anak istri di rumah tidak kelaparan.

Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia (pemilik kebun anggur)  keluar dan melakukan sama seperti tadi. Ini artinya pembagian waktu pada kuadran 3- Sexte. Itu berarti hari semakin siang. Para pekerja yang mendapat pekerjaan akan mengalami deg-degannya lebih daripada golongan 1 dan 2. Mereka membayangkan bahwa sudah siang mereka belum mendapat pekerjaan. Artinya  hari ini anak-istri bakal kelaparan. Tak ada tepung untuk membuat roti atau sayuran sekedarnya atau sedikit tetelan daging. Untuk makan malam nanti. Golongan pekerja yang mendapat pekerjaan pada kurun waktu ini, rasa syukurnya lebih banyak.

Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Jam kerja di sana berakhir pukul 6 sore. Kita bisa membayangkan bahwa pekerja dari kelompok yang keempat ini adalah buruh yang nyaris tak mendapat pekerjaan. Nyaris menganggur hari itu. Anak istri nyaris kelaparan karena kepala keluarga tak mendapat uang untuk hari itu. Kita membayangkan betapa mereka sudah berdoa dari pagi hingga siang. Mungkin kala matahari tergelincir ke barat, mereka sudah melepaskan harapan mereka untuk hari itu. Kita perhatikan bahwa mereka bukan orang malas. Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Betapa mereka akan sangat bersyukur ketika Pemilik Kebun anggur menawarkan pekerjaan. Mungkin mereka akan mau ketika diminta untuk kerja lembur. Demi memberi nafkah anak istri, mereka akan sanggup melakukan pekerjaan hingga jauh malam sekali pun. Saya membayangkan kalau situasi itu diri saya, saya akan sujud syukur mendapat pekerjaan di penghujung hari.

Ketika saya mendapat pencerahan ini, rasa ketidakadilan yang selama ini saya rasakan ketika membaca cerita ini, seketika sirna. Dulu saya sebel banget ketika Si Pemilik Kebun Anggur berkata: Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Namun, ketika saya mendapatkan pengetahuan ini saya merasakan bahwa diri saya meleleh dan lumer oleh rasa yang sangat bersyukur. Saya bersyukur karena saya tergolong upahan tetap yang bekerja tanpa harus kuatir untuk tidak mendapat pekerjaan pada hari itu. Saya sangat bersyukur karena segalanya lebih dari cukup untuk saya dan keluarga. Saya berlimpah dengan berkat yang diberikan untuk saya.

Maka meneteslah air mata syukur di pelupuk mata saya.  

(Christina Enung Martina, Jelupang, Jumat Agung 2019)







Selasa, 16 April 2019

HIKMAT ADALAH .....




SIAPAKAH HIMKAT?

Hikmat  tidak hanya sekedar kata
Dia tidak bebal
Dia menggunakan pengetahuan dengan benar
Dia adalah kebajikan yang penting
Dia personifikasi Metis sang pemilik kepandaian
dan Athena putrinya yang perkasa, bijaksana, dan ringan tangan
Dia keluar dari kepala Zeus
Dia adalah kesaktian yang empunya kekuatan gaib

Hikmat adalah pemikiran sekaligus pemahaman
Dalam dan tajam persepsi dan penilaiannya
Pertimbangan dan pengetahuannya universal: tak memihak
Dia adalah kecerdasan
Kebijaksanaan
Akal budi
Akal sehat
kecerdikan

Dia  filo dan sofia
Dia meresap dalam dialog filsuf
Sekaligus yang metafisik
Dialah pemahaman sebab-akibat
Dia tahu jawaban dari mengapa
lebih dalam dari sekadar mengetahui bahwa
yang diminta Salomo
dia berlandaskan pada rasa takut akan Sang Hikmat

Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan
ia memperdengarkan suaranya
ia hadir bersama Sang Pencipta sebelum permulaan penciptaan
bahkan turut mengambil bagian dalam penciptaan itu sendiri
orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran  darinya
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta
melainkan hati yang di dalam dada
bila tak mampu mengenalinya
                                                             (pencari hikmat: Enung Martina)

Minggu, 17 Maret 2019

Gua Maria Sawer Rahmat di Desa Cisantana



Tulisan kali ini penulis mengajak umat Ambrosius berkunjung ke Tatar Pasundan.
Gua Maria Sawer Rahmat terdapat di sebuah desa di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat bernama Desa Cisantana. Cisantana terletak di lereng sebelah timur kaki Gunung Ciremai pada ketinggian lebih kurang 700 meter dari permukaan laut. Menurut data di HP, koordinat GPS : S6°56'57.9" E108°26'43.2" Akses jalan : S6°56'51" E108°26'47.5". Daerah tersebut merupakan wilayah pertanian dengan suhu udara yang cukup dingin. Menurut catatan di Gereja Cisantana, umat Katolik di daerah ini berjumlah lebih kurang 1.200 orang yang sebagian besar hidup dari pertanian dan beternak sapi perah.

Berbicara tentang awal pembangunan gua ini, mengingatkan penulis pada pengalaman penulis tahun 1989 ketika pertama kali  penulis bertugas mengajar sebagai guru SMP Yos Sudarso, Cigugur, Kuningan. Kala itu, selain sebagai guru, penulis juga menjadi asisten pimpinan rohani untuk Legio Maria Junior di Paroki Kristus Raja, Cigugur, Kuningan Jawa Barat. Sebagai legioner, anak-anak remaja yang menjadi anak asuh penulis sering mendapat tugas membantu dalam pembangunan Gua Maria Sawer Rahmat yang letaknya di Bukit Totombok. Tugas mereka mengangkut bantu dari lembah menuju ke puncak bukit (yang sekarang jadi gua dan salib)
Tugas yang berat memang. Namun, para remaja desa ini kuat dan bersemangat. Seperti pada umumnya remaja desa, mereka sudah terbiasa bekerja membantu orang tua di sawah atau di ladang. Namun, mereka juga tetap mempunayai komunitas sebagai anak remaja Katolik.

Sungguh saya merindukan masa itu. Kami berjalan kaki dari Cigugur mendaki sampai Cisantana. Tak lupa membawa bekal makan minum. Lalu mulailah kami memindahkan bongkahan batu dari lembah menuju ke bukit. Kami bekerja sambil bercanda (heureuy) dalam bahasa Sunda. Sangat seru dan akrab. Sesudahnya kami menikmati bekal kami di bawah naungan pohon – pohon rindang dan semilirnya angin gunung. Roamntis sekali bukan?

Gua Maria Sawer Rahmat dibangun atas inisiatif umat Paroki Cigugur-Cisantana. Gua ini terletak di sebuah bukit yang bernama Bukit Totombok, sebelah barat Desa Cisantana.  Menurut cerita rakyat, bukit itu diberi nama Totombok karena daerah itu hampir tidak pernah mendatangkan keberuntungan jika dijadikan areal persawahan. Dengan kata lain, Totombok adalah bukit yang selalu menombok. Dari  bukit inilah orang dapat memandang lepas kota Kuningan dan sekitarnya. Dahulu Bukit Totombok dianggap angker oleh penduduk setempat. Namun, setelah adanya Gua Maria,  Sawer Rahmat kini telah menjadi tempat wisata rohani yang  seringkali menjadi tempat prosesi keagamaan. Peresmian Gua Maria Sawer Rahmat ini dilakukan pada tanggal 21 Juli 1990.
Perjalanan dimulai dari lembah. Di sini dibangun sebuh area Taman Getseani. Dari area ini ke arah kanan dimulai dengan alur untuk prosesi jalan salib dengan 14 perhentian. Di setiap perhentian ada lukisan  sesuai dengan peristiwa sengsara Yesus menurut Injil. Selain itu ada juga altar yang digunakan umat untuk berdoa dan menyalakan lilin.

Pada perhentian kedua belas, terdapat salib besar,  letaknya di Bukit Totombok yang mengarah ke Waduk Darma. Bila pepohonan tidak menghalangi, panorama Waduk Darma bisa tampak. Salib besar ini merupakan peringatan  ketika Yesus wafat di kayu salib. Salib ini juga merupakan tanda menancap dan mengakarnya iman umat Katolik di Tatar Sunda. Setelah melalui 14 perhentian, tibalah umat di Gua Maria Sawer Rahmat. Di gua ini air alami perbukitan gemercik bagai musik alam yang mengiringi doa yang terpanjatkan dari para peziarah.

Patung Bunda Maria berdiri tegak dan anggun pada sebuah gua yang di bawahnya mengalir air yang jernih. Air ini berasal dari sebuah curug (air terjun). Curug tersebut berada di kaki sebelah selatan bukit dan penduduk mengenalnya dengan Curug Sawer (jatuhnya air seperti yang "disawerkan"). Itu sebabnya gua itu disebut Gua Maria Sawer Rahmat.

Setiap malam Jumat Kliwon, atau Jumat Agung, di Gua Maria ini berlangsung acara Misa Suci. Pada upacara Jumat Agung itu, prosesi dimulai dengan upacara pembukaan di Taman Getsemani. Acara itu kemudian dilanjutkan dengan "kisah sengsara" melalui prosesi jalan salib. Lalu, penghormatan salib di salib besar di bukit itu, tabur bunga di makam Yesus, dan upacara komuni di Gua Maria. Acara ini biasanya terbuka untuk umum.
Dalam perjalanan pulang, umat Katolik menuruni anak tangga yang terpisah dari perjalanan mendaki. Itu dimaksudkan agar umat yang telah selesai berdoa tidak mengganggu perjalanan ibadah peziarah yang baru datang.
Sesampainya di area parkiran, di salah satu pojok, kita dapat melihat area pemakaman desa. Pemakaman  sederhana ini  sebagaimana pemakaman di desa-desa yang lain. Yang menarik adalah bentuk nisan di pemakaman ini  bermacam-macam bentuknya. Kita bisa melihat terdapat nisan berbentuk salib, sebagaimana ciri makam umat Kristen, dan nisan berbentuk pipih lonjong, sebagaimana ciri nisan pada makam umat Islam. Dan yang saya ketahui tak pernah ada sengketa tentang pemakaman ini antara pemeluk Keristen atau Muslim seperti yang viral di media yang terjadi di beberapa daerah/tempat.

Sekedar informasi bagi yang ingin berziarah ini  yang bisa membantu:
GUA MARIA SAWER RAHMAT Alamat:  Cisantana, Cigugur, Kuningan.
Rute: a. Jakarta - Cirebon - Kuningan, sebelum masuk kota Kuningan, diterminal Cirendang belok kanan menuju Cigugur (3 km) dari Cigugur naik ke Cisantana
b. Jakarta - Bandung - Tasikmalaya - Kuningan - Cirebon. Sebelum masuk kota Kuningan (sesudah Waduk Darma) atau di Cigadung belok ke kiri melewati Cigugur kemudian naik ke Cisantana.
Akomodasi: Penginapan : ada penginapan di Cisantana untuk 50-60 orang atau hotel di Kuningan. Makan : Hubungi WKRI Cisantana attn. Ibu Gunawan (0233) 875234

(Ch. Enung Martina)

Rabu, 13 Maret 2019

SEBUAH MIMPI


MIMPI MENUJU STATSIUN KHERUGMA


Jam 02,48 dini hari, Kamis 14 Maret 2019. Terbagun dalam keadaan sadar=sesadar-sadarnya. Bangun dari pembaringan dan duduk perlahan menurunkn kaki untuk menapak lantai. Rupanya saya bermimpi. Mimpi yang menarik. Saya berada di suatu rumah yang entah rumah siapa. Menantikan bis yang akan membawa saya ke suatu tujuan. Saya sudah memesan bis tersebut dan memastikan bahwa saya akan menaikinya. Pemesanan melalui HP. Saya merasa sangat yakin bahwa saya pasti tak akan ditinggalkan oleh bis tersebut. Saya sudah berdandan dengan baju yang sepertinya baju kerja. Namun, saya belum memakai sepatu saya. Tiba-tiba seseorang memberitahu bahwa bis sudah dekat. Lantas bergegas saya menggunakan sepatu saya dan berlari ke pinggir jalan untuk mengahadang bis. Telat! Bis sudah menderu sekitar 10 meter di depan saya. Saya berteriak, tapi bis tetap melaju. Lantas beberapa lama kemudian ada bis lain di belakangnya. Namun, bis itu tidak lewat di jalan tempat saya berdiri. Ia langsung berbelok di tikungan sebelum menuju jalan kea rah saya. Kemabli saya berteriak-teriak. Namun, tetap bis tak melihat saya.

Saya kecewa dan jengkel sekali. Tiba-tiba teman saya Ibu Rini datang. Ia menyatakan bahwa untuk tiba di tempat yang ingin saya tuju ada alat transportasi lain yaitu kereta barang. Saya bisa mencegatnya dan menumpang kereta itu di perempatan jalan. Di sana kereta akan melambat maka biasanya orang-orang akan meloncat untuk menaikinya.

Saya merasa tersemangati karena ada harapan lain sampai di empat yang akan saya tuju. Hingga saya bangun tempat yang akan saya tuju tak jelas. Namun, saya merasa tempat tersebut tempat saya bekerja.

Akhirnya saya memutuskan diri untuk berjalan menuju perempatan tempat kereta api barang itu ada. Maka saya berjalan menyusuri jalan pedesaan itu. Benar saja saya melihat ada kereta barang yang lewat dan beberapa orang mulai menaikinya. Kereta itu berlalu. Saya jadi yakin bahwa kereta itu memang ada dan sewaktu-waktu bisa lewat.

Lantas saya berjalan lagi. Akhirnya saya menemukan ada jalan semacam rel. namun jalan itu sangat berkabut atau tepatnya penuh kepulan asap sehingga pemandangan tak begitu jelas. Saya merasakan bahwa ini memang jalan yang dimaksud. Saya mendengar akan ada satu kendaraan yang lewat di situ. Maka saya minggir ke tepi takut tertabrak.

Saya maasih melihat situasi. Tiba-tiba di antara kabut itu ada seorang perempuan yang memegang kertas. Saya mengira itu adalah tiket. Saya meminta kertas itu. Perempuan tersebut memberikannya pada saya. Dia memandang saya seolah ingin minta uang. Tapi tak terucap untuk meminta uang. Saya ragu memberi uang atau tidak. Tapi saya memutuskan tak memberinya uang.

Saya membawa kertas tersebut ke arah perempatan tempat orang-orang menghadang kereta barang. Saaya berjalan lagi. Dan tiba di sana. Benar saja banyak orang yang sudah mengantri di sana. Saya melihat mereka berbicara bukan dalam bahasa yang saya kenal. Mereka orang asing. Dugaan saya mereka turis. Saya melihat kebangsaan mereka dari sosok dan warna kulit mereka. Sepertinya mereka orang Asia (Jepang) dan perpaduan denga bule (Eropa atau Amerika).

Tiba-tiba ada seorang perempuan lain yang meminta kertas yang diberi perempuan sebelumnya. Ia menyatakan bahwa itu bukan karcis. Lantas dia menunjukkan karcis yang ada pada tangaannya. Saya meminta apakah saya boleh menukarnya. Ia mengangguk. Saya menukarkan kertas saya dengan karcis yang bentuknya seperti karcis pesawat. Saya memutuskan untuk memberi uang pada perempuan kedua. Saya menyorongkan uang selembar 20.000 yang warnanya masih sangat hijau karena itu uang baru. Perempuan itu menerimanya.

Karcis sudah ada di taangan saya. Lantas saya clingak-clinguk untuk mencari info tentang cara-cara saya naik. Kemudian saya melihat ada seorang laki-laki  petugas yang mengatur langsir kereta di sana di antara suasana temaram dan kabut sekitar saya. Dia menatap saya dan mengatakan satu kata yang tak begitu jelas. Saya membaca gerak bibirnya. Lantas saya mendengar sekilas bahwa  saya harus turun di statsiun Yoima atau Kherigma. Dua kata itu berseliweran di telinga dan otak saya.

Ketika saya bangun saya masih memikirkan 2 kata itu. Lantas saya memutuskan untuk bermeditasi karena saya tak bisa tidur lagi.

Dalam meditasi saya, impian tadi ahdir kembali. Lantas saya mengingat bahwa sore tadi saya sempat menangis di ruang cuci di alntai 2 rumah saya. Biasanya saya mencuci sore hari ketika saya selesai memasak dan membereskan lantai bawah rumah saya. Tempat cucian saya ada di lantai 2 karena sekalian ada tempat penjemuran. Biasanya saat saya menunggu mesin cuci membersihkan pakaian yang saya masukkan, saya akan duduk di sudut raunagn sambil bermeditasi sebisa saya. Tujuan meditasi saya untuk menimba energi karena dari pagi hingga sore saya pecicilan. Nah, ada kesempatan duduk sendiri di ruang cucian di antara tumpukan baju kotor dan derunya mesin cuci.

Saat meditasi sore itu, ingatan lantas tertuju pada peristiwa yang saya alami di tempat kerja. Hari itu memang sangat tidak nyaman bagi saya dan teman-teman sejawat. Perasaan itu muncul saat saya bermeditasi. Lantas saya mempertanyakan: Bapa, saya nggak ngerti dengan apa yang terjadi. Saya juga nggak ngerti tentang pribadi yang menjadi atasan/boss saya. Saya nggak ngerti kenapa cara yang diambil untuk mengingatkan seseorang dan memecahkan suatu masalah kok selalu mencari cara yang kasar dan menyinggung perasaan banyak orang. Saya merasa sangat lelah dan bosan. SAYA SUDAH TERLUKA. Saya sangat muak! Kini banyak orang yang juga terluka.  Saya mempertanyakan: Bapa adakah cara yang lebih baik dari yang selama ini digunakan. Bapa kepada siapa lagi kami harus bercerita? Kami tak punya tempat untuk mengadu. 
Senja itu, saya curhat pada Tuhan. Saya menangis dan masih dengan pernyataan: Saya tidak mengerti!

Rupanya kecamuk hati saya terbawa sampai ke mimpi. Namun, kala saya bermeditasi pada dini hari itu, saya merasakan bahwa Bapa Surgawi saya sangat mencintai saya. Saya menerjemahkan mimpi saya yang absurd itu dengan menghubungkannya dengan situasi saya dan pekerjaan saya di kantor/sekolah.

Pengertian dalam meditasi tentang mimpi saya tertuju pada 2 kata yang diucapkan laki-laki di tempat langsir kereta. Namun kata yang tertangkap yaitu kherigma. Saya teringat dengan kata itu. Kata itu saya ketik saat saya membuat laporan tahunan Legio Maria bulan Oktober tahun lalu (2018). Kherigma atau kherugma adalah salah satu bidang dari 5 hal yang harus dilakukan oleh seorang legioner. Sebenarnya itu merupakan pancatugas Gereja.  Kelima hal itu adalah: liturgia, kherugma (pewartaan), martyria (pengorbanan), koinonia (persekutuan, dan diakonia (pelayanan).  

Dalam meditasi itu, saya tercekat. Karena pengertian saya dibawa bahwa saya harus turun di Statsiun Kherigma untuk melanjutkan ke tempat tujuan saya yang berikutnya. Laki-laki di tempat langsir kereta tahu bahwa saya akan menuju suatu tempat. Tapi saya harus turun dulu di Statsiun Kherigma untuk bisa sampai di tempat yang akan saya tuju. Dari Statsiun Kherigma itu akan ada kereta lain yang membawa saya ke tempat tujuan saya.

Di pagi buta itu saya merasa betapa Bapa Surgawi mencintai saya dengan sepenuh hati. Betapa dia memberikan penghiburan dan petunjuk kepada saya. Pertanyaan dan kegalauan saya kala senja kemarin di tempat cucian itu,  jawabannya adalah permasalahan kamu harus dibawa dalam kherigma. Statsiun Kherigma adalah statsiun untuk melanjutkan ke satu tujuan yang dikehendaki oleh Bapa Surgawi.

Saya tahu bahwa saya tiap hari berdoa. Namun, Bapa Surgawi menghendaki doa saya jauh lebih intens dan lebih dalam daripada yang selama ini saya lakukan. Saya harus duc in altum melebihi dari yang saya lakukan selama ini. Selain itu saya juga diharapkan menjadi pewarta kabar sukacita. Saya diharapkan menjadi orang yang membawa suka cita di antara orang-orang yang saya temui. Bukan orang yang membawa kepanikan atau kesedihan. namun, membawa terang yang membuat orang mempunyai harapan. Jawaban dari pertanyaan saya akan ditunjukkan oleh Dia. Juga ke amna saya harus menuju akan ditunjukkan setelah saya melalui Statsiun Kherigma.

Sementara kata Yaoma ketika saaya cari maknanya di internet ini yang saya dapat:

Yaoma-Yaoma (permainan tradisional)

Cara memaninkannya: Ini merupakan permainan yang saling mengadu nyanyian. Dua kelompok anak masing-masing bergandeng dengan kelompoknya lalu secara bergantian menyanyikan semboyan Kami ini orang kaya yaoma-yaoma. Kemudian kelompok lain membalas Kami ini orang miskin yaoma-yaoma. Titik penghabisan permainan ini adalah ketika salah satu kelompok yang mengaku miskin menyanyikan semboyan bahwa mereka menginginkan anak dari kelompok yang kaya, atau sebaliknya. Di antara yang kaya dan yang miskin sama-sama boleh meminta anak ataupun memberikan anak. Hingga habislah anak mereka, permainan akan diulang kembali. (http://sayangianak.com/mainan-anak-yang-jarang-dimainkan-oleh-anak-masa-kini-dan-cara-memainkannya/)

Apa maknanya bagi saya? Saya belum merenungkannya lebih jauh. (Ch. Enung Martina)


Sabtu, 16 Februari 2019

BERLITERASI KRITIS DALAM HENING MEMBAWA MENUJU PRIBADI BERHIKMAT




Proses komunikasi pada zaman ini sangat dipicu oleh pertanyaan yang langsung ditindaklanjuti dengan pencarian berbagai jawaban. Sarana-sarana pencari di internet dan jaringan sosial telah menjadi titik awal dari komunikasi banyak orang, yang berusaha menemukan berbagai nasihat dan saran, ide-ide, informasi, dan jawaban yang dirasa sesuai.

Sesungguhnya manusia zaman sekarang secara terus menerus dibombardir dengan berbagai informasi dan jawaban  atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah mereka ajukan, dan dengan berbagai kebutuhan yang tidak mereka sadari. Seseorang belum tentu ingin mengetahui tentang satu informasi. Namun, media sosial menampilkan topik tertentu. Akhirnya, seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja, dengan niat atau tidak niat, toh informasi tersebut terbaca juga.

Dalam derasnya informasi seperti ini, diperlukan suatu hikmat untuk mampu memilah informasi yang akan dibaca. Bahkan sekali waktu seseorang perlu menolak informasi yang tak ingin ia ketahui.  Keputusan untuk memilah dan menolak suatu informasi itu adalah hak seseorang. Jika kita ingin mengenali pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar penting saja dan berfokus pada hal-hal itu, maka keheningan adalah sebuah sarana berharga yang memampukan kita untuk mempunyai ketrampilan membedakan secara baik apa yang sungguh penting itu, di tengah meningkatnya kuantitas informasi dan data yang kita terima.

Bagaimanapun, di tengah kompleks dan beragamnya dunia komunikasi, banyak orang kemudian menemukan dirinya berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan fundamental dari keberadaan umat manusia dan informasi: Siapakah aku? Apa yang dapat aku ketahui? Apa yang seharusnya aku lakukan? Apa yang dapat aku harapkan? Apakah aku memrlukan hal tersebut? Mengapa aku memrlukannya? Adakah maknanya buatku? Adakah dampaknya bagi orang lain? Bisakah membawaku pada yang kucari?

Adalah penting untuk mendukung mereka yang mempertanyakan semua itu, dan untuk membuka kemungkinan-kemungkinan terhadap sebuah permenungan yang melahirkan refleksi dan karya reflektif. Atau membawa pada dialog yang sehat, melalui sarana kata-kata dan tukar pikiran, dan juga kepada panggilan untuk mengolahnya dalam keheningan. Sesuatu yang seringkali lebih berharga daripada sebuah jawaban yang terburu-buru, dan memungkinkan si pencari jawaban menjangkau kedalaman keberadaan mereka, membuka diri mereka kepada jalan pengetahuan yang telah diukir oleh Sang Sumber di dalam hati manusia.

Pertanyaan-pertanyaan menunjukkan kegelisahan umat manusia, yang tak henti-hentinya mencari kebenaran, mulai dari yang terpenting hingga yang kurang penting, yang mampu memberikan arti dan harapan bagi hidup mereka. Kegelisahan itu membawa mereka pada ketergesaan untuk mencari data dan informasi sehingga semua yang di dapat bersifat dangkal di permukaan. Tak hanya dangkal, juga dapat mendaatangkan malapetaka bagi dirinya dan sesame. Sehingga kegelisahan bukannya sirna malah berganti dengan kemarahan dan penderitaan.

Beberapa orang tidak mau berhenti dan tidak merasa puas dengan tukar pikiran yang mengundang pertanyaan dan jawaban hanya bersifat superfisial / permukaan saja. Banyak  pendapat-pendapat yang skeptis tentang kehidupan – pada masa ini.  Karena itu meraka berada  dalam pencarian akan kebenaran dan memendam kehausan akan kebenaran yang mereka rindukan.  Di situlah letaknya mereka saling berabgi kebenaran. “Ketika manusia saling bertukar informasi, sesungguhnya mereka sedang saling berbagi diri mereka sendiri, saling berbagi pandangan mereka akan dunia, harapan-harapan mereka, dan cita-cita mereka” (Message for the 2011 World Day of Communications).

Dalam pencarian informasi inilah, diperlukan kegiatan berliterasi yang kritis. Kritis terhadap informasi yang dibaca. Kriris terhadap diri kita untuk mempertanyakakn seberapa pentingnya informasi ini untuk kita, seberapa mendesaknya informasi itu kita perlukan?

Kekritisan kita akan lebih tajam bila kita berliterasi dalam hening. Hening yang dimaksud adalah dengan pikiran jernih dan hati yang lapang. Tidak tergesa-gesa dan tertekan. Melainkan semua disadari penuh.

Perhatian harus diberikan kepada berbagai jenis situs web, aplikasi, dan jaringan sosial yang dapat membantu manusia zaman ini menemukan waktu untuk permenungan dan mempertanyakan hal-hal yang otentik, serta untuk menciptakan waktu-waktu hening sebagai kesempatan untuk saat teduh, bermeditasi, atau saling berbagi hal yang positif dan menginspirasi. Melalui kalimat-kalimat yang singkat namun padat, kata-kata yang membangkitkan motivasi.

Sebaliknya perlu diwaspadai berbagai situs, web, jejaring sosial, dan aplikasi yang isinya membawa pada perpecahan. Konten yang memanipulas, yang memalsukan dan memutar balik kenyataan bahwa yang salah jadi benar, sementara yang benar menjadi salah.

Manusia pada umumnya ingin hidup damai dan sejahtera. Namun, bila ada situasi perpecahan, itu karena ada kerakusan yang menguasai manusia sehingga mereka mencari cara untuk memuaskan kerakusan tersebut. Mereka mencari cara untuk memanipulasi berbagai macam, termasuk data dan informasi yang diputarbalikan.

Di sinilah hikmat berlaku untuk menjadikan kejernihan hati dan pikiran dalam membedakan yang benar dan yang salah. Hikmat membuat manusia berani menyatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.  Hikmat yang mampu membawa manusia kepada hakikat yang sebenarnya sebagai Citra Allah. Hikmat akan hadir pada kala hening ada dalam setiap hati.

Tidaklah mengherankan bahwa berbagai tradisi agama yang berbeda, sama-sama menghargai kesendirian dan keheningan sebagai sebuah keadaan yang berharga yang membantu manusia menemukan jati dirinya kembali dan menemukan Kebenaran yang memberi makna kepada segala hal. Dengan demikian akan membawa manusia pada hikmat yang membuat hidup mereka lebih terarah bukan hanya pada dirinya sendiri an kelompok atau golongannya (eksklusif),  melainkan membawa manusia pada sesamanya siapa saja, bahkan yang bersebrangan dengannya (inklusif). (Ch. Enung Martina)




Sabtu, 19 Januari 2019

Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran



Tanggal 25 Desember 2018, kami sekeluarga menikmati perjalanan ke Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, demikian nama lengkapnya. Sering disebut dengan Gereja Ganjuran. Gereja Ganjuran terletak di Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul, 17 kilometer di sebelah selatan kota Yogyakarta. Gereja ini dibangun di tanah seluas 2,5 hektar, termasuk tempat parkir, candi, gereja, pastoran, dan beberapa bangunan lain. Gedung gereja dibuat dengan gaya joglo dan dihiasi dengan ukiran gaya Jawa yang menutupi 600 meter per segi. Ini termasuk ukiran nanas dari kayu serta ukiran berbentuk jajar genjang yang disebut wajikan. Altarnya dihiasi dengan malaikat yang berbusana tokoh wayang.Karena gaya arsitektur ini, ilmuwan Belanda M. C. Ricklefs menyatakan bahwa gereja di Ganjuran  merupakan manifestasi penyesuaian gereja Katolik di Jawa yang paling menonjol. Ilmuwan Jan S. Aritonang dan Karel A. Steenbrink menyatakan bahwa gereja ini merupakan "produk paling spektakular  dari kesenian pribumi yang dibantu orang Eropa

Berdasarkan hasil penelusuran dari berbagai sumber,  Gereja Ganjuran  mulai dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Gereja ini merupakan salah satu bangunan yang didirikan sejak dua bersaudara itu mulai mengelola Pabrik Gula Gondang Lipuro di daerah tersebut pada tahun 1912. Bangunan lain yang didirikan adalah 12 sekolah dan sebuah klinik yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Panti Rapih.

Pembangunan gereja yang dirancang oleh arsitek Belanda J Yh van Oyen ini adalah salah satu bentuk semangat sosial gereja (Rerum Navarum) yang dimiliki Smutzer bersaudara, yaitu semangat mencintai sesama, khususnya kesejahteraan masyarakat setempat yang kebanyakan menjadi karyawan di Pabrik Gula Gondang Lipuro yang mencapai masa keemasan pada tahun 1918 - 1930.

Dalam perkembangannya, kompleks gereja ini disempurnakan dengan pembangunan candi yang dinamai Candi Hati Kudus Yesus pada tahun 1927. Candi dengan teras berhias relief bunga teratai dan patung Kristus dengan pakaian Jawa itu kemudian menjadi pilihan lain tempat melaksanakan misa dan ziarah, selain di dalam gereja, yang menawarkan kedekatan dengan budaya Jawa.

Ketika saya memandang keliling dari komplek gereja Ganjuran, saya menyadari bahwa bangunan ini dirancang dengan perpaduan gaya Eropa, Hindu, dan Jawa. Gaya Eropa dapat ditemui pada bentuk bangunan berupa salib bila dilihat dari udara, sementara gaya Jawa bisa dilihat pada atap yang berbentuk tajug, bisa digunakan sebagai atap tempat ibadah. Rupanya atap itu disokong oleh empat tiang kayu jati, melambangkan empat penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Nuansa Jawa juga terlihat pada altar, sancristi (tempat menyimpan peralatan misa), doopvont (wadah air untuk baptis) dan chatevummenen (tempat katekis). Patung Yesus dan Bunda Maria yang tengah menggendong putranya juga digambarkan tengah memakai pakaian Jawa. Demikian pula relief-relief pada tiap pemberhentian jalan salib, Yesus digambarkan memiliki rambut mirip seorang pendeta Hindu.

Kami menginap di ganjuran In, 200 meter dari Gereja Ganjuran. Pemandang sawah yang hijau dan pohon yang dibentuk cemara menyambut kami begitu memasuki Desa Ganjuran, tempat gereja ini berdiri. Mengunjungi gereja ini, kita akan merasakan suasana pedesaan Jawa pada umumnya.

Rupanya ada kisah tersendiri di balik kata Ganjuran. Dari sumber yang saya baca, perubahan nama menjadi Ganjuran sendiri berkaitan dengan kisah percintaan Ki Ageng Mangir dan Rara Pembayun yang diasingkan oleh Mataram. Kisah cinta dua orang tersebut yang kemudian mengilhami penciptaan tembang Kala Ganjur, berarti tali pengikat dasar manusia dalam mengarungi kehidupan bersama dengan dasar cinta. Nah, dari nama tembang tersebutlah desa yang dulu bernama Lipuro itu berubah menjadi Ganjuran.

Sebetulnya yang sangat berniat ke Ganjuran itu adalah Metta, anak saya yang pertama. Dia lupa lagi gereja itu seperti apa. Kami pernah mengunjungi gereja ini saat dia masih kelas V SD. Dia sangat penasaran dengan berbagai cerita tentang keunikan gereja tersebut. Maka jadilah kami berada di tempat ini.

Yang menjadikan gereja ini berbeda dengan bangunan gereja pada umumnya adalah keberadaan bangunan candi. Candi tersebut bernama Candi Hati Kudus Yesus. Candi yang diangun pada tahun 1927 ini sebagai perwujudan rasa syukur Schmutzer bersaudara atas keberhasilan mengelola pabrik gula. Seperti candi-candi pada umumnya, candi ini juga berhiaskan relief bunga teratai dan memiliki relung. Jika di relung candi terdapat patung budha atau arca lingga yoni, maka di relung Candi Hati Kudus Yesus terdapat patung Yesus mengenakan pakaian adat Jawa, dengan rambut menyerupai pendeta Hindu, dan sebuah mahkota di kepalanya.

Pelataran depan candi merupakan tempat favorit untuk berdoa. Di bawah naungan pucuk-pucuk pinus, kita bisa berkontemplasi di atas kursi kecil sambil menatap Yesus Sang Raja di hadapan kita. Halaman yang luas ini juga menjadi lokasi misa bulanan dan Prosesi Agung Sakramen Maha Kudus. Mengikuti misa malam hari di tempat terbuka beratapkan langit dan diiringi dengan alunan gamelan akan menjadi pengalaman spiritual yang baru dan tak kan pernah terlupakan.

Di kompleks Gereja Ganjuran pengunjung juga bisa melakukan prosesi jalan salib. Pada masing-masing stasi atau pemberhentian terdapat relief yang lekat dengan tradisi Jawa. Biasanya jalan salib akan diakhiri dengan berdoa di depan candi. Seusai berdoa, kita bisa mengambil air suci Tirta Perwitasari yang dialirkan melalui kran-kran di samping kiri candi. Beberapa peziarah kerap mengambil air suci dan memasukkannya ke dalam botol atau jerigen kecil kemudian membawanya pulang.

Meskipun merupakan tempat peribadatan umat Katholik, Gereja Ganjuran biasa dikunjungi oleh siapa pun. Para pengunjung bisa datang ke gereja ini sewaktu-waktu baik untuk beribadah maupun melakukan kontemplasi. Namun, pengunjung  wajib mematuhi berbagai peraturan yang berlaku untuk men jaga ketertiban. Saat tanggal 25 Desember 2018 sore, kami berkunjung ke sana, tampak beberapa pengunjung asyik berdoa. Bahkan, ada 2 orang turis asing (sepertinya India atau Pakistan)  yang juga datang berkunjung.
Gereja Ganjuran memang tempat yang teduh dan menenangkan, baik bagi tubuh maupun bagi jiwa. Deretan pepohonan yang berdiri rimbun di halaman gereja menjadikan suasana begitu sejuk dan teduh. Bangunannya yang berbentuk pendopo terbuka dengan pilar-pilar berwarna hijau dan altar dengan nuansa Jawa yang kental menjadikan tempat ini begitu menyatu dengan sekitar. Di tempat ini kita akan merasakan suasana gereja yang begitu melebur dengan sekitar, gereja yang tanpa sekat dan tanpa batasan. Konsep pendopo terbuka ini menegaskan bahwa gereja siap menyambut siapa pun yang datang dengan tangan terbuka, tak peduli suku  atau kebangsaanmu, tak peduli derajat sosialmu, tak peduli agamamu.

Bagi yang bepergian kea rah Yogyakarta, jangan lupa sempatkan mampir ke Gereja Ganjuran untuk menikmati suasana magisnya. Betapa saya bersyukur karena Gereja Katolik begitu kaya. (Ch. Enung Martina)