Bagaimana Pandangan para ilmuan jaman sekarang terhadapKhasiat minyak Zaitun?Manfaatapa saja dariMinyak Zaitun? Apa kata mereka tentangkhasiat Minyak Zaitun:
menyatakn para wanita mengkomsusiMinyak Zaitunlenbih sedikit terkanaKankerRahim. >Majalah DerMartdogg Times Edisi Agustus 2000 menunjukkan bahwaMinyak Zaitunmelindungi terjadinyaKankerkulit.
>Studi yang dilakukan Unversitas dan Akademi Amerika menyatakan:Minyak Zaitunmembunuh Kutu Kepala.
Kegunaan Mujarab dari Minyak Zaitun
minyak zaitun mengandung asam linolenat, berupa senyawa yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia dan dapat mencegah penguapan air pada tubuh. Gosokkan sedikit minyak zaitun pada rambut yamg kering dan kusut, akan membuat rambut lebih luwes; terutama pada musim dingin atau hari bercuaca lembab, minyak zaitun juga dapat mengurangi beberapa kerusakan pada rambut. Dapat pula menggunakan beberapa sendok minyak zaitun untuk memijat rambut, supaya minyak menyerap masuk lebih dalam ke kulit kepala serta akar rambut.
Dibandingkan dengan minyak anti kusut rambut yang terbuat dari minyak bumi, minyak zaitun mungkin lebih aman terhadap tubuh kucing.
Ketika tenggorokan gatal juga boleh minum satu sendok minyak zaitun untuk meredam gejala tersebut.
Gosokkan sedikit minyak zaitun pada perabotan rumah bisa mencegah tanda tanda belang, korosi dan bintik noda. Ia juga dapat merawat produk kulit, misalnya gunakan minyak zaitun menggosok sarung tangan baseball, selang 30 menit kemudian baru bersihkan sisa minyak zaitun.
MINYAK ZAITUN LE RICHE - (ZAITUN)
Minyak zaitun mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung dan kanker. Berdasarkan studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari Minyak Zaitun, menyimpulkan bahwa lemak tak jenuh yang terdapat pada minyak zaitun bisa menurunkan kadar kolesterol LDL (Low Density Lipoproein) yang mana LDL adalah kadar kolesterol darah jahat yang dapat menimbun di dinding-dinding arteri. - Untuk kulit muka yang berminyak, oleskan sedikit minyak zaitun pada wajah dan gunakan tissu dan tempelkan pada wajah sehingga minyak terangkat dan sedikit saja tinggal di wajah. RAHASIA LAIN DARI MINYAK ZIATUN : - Minyak zaitun dapat digunakan pada tangan, rambut, dan sebagai bahan untuk massage oil atau pijat urut.
Bintang Betlehem ( berada di bawah altar, diyakini di sini gua tempat Yesus dilahirkan)
Pada mulanya adalah firman, firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. ( Yoh. 1:1-3).
Betlehem terletak sekitar 10 km di sebelah selatanYerusalem, dengan ketinggian sekitar 765m (2.510 kaki) di atas permukaan laut.Yang paling penting, Betlehem adalah tempat kelahiranDaud, raja kedua Israel. Kota ini pun merupakan tempat ia diurapi menjadi raja oleh Samuel(1 Samuel 16:4-13). Yang tak kalah pentingnya, Kota ini adalah tempat kelahiran dari Dia "yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala" (Mikha 5:2). Di sinilah tempat kelahiran Mesias yang dinantikan.
Saat ini, setelah ada ketegangan antara Israel dan Palestina, Betlehem termasuk wilayah Palestina. Ketika saya dan rombongan menuju tempat ini, kami harus melalui palang-palang perbatasan dengan penjagaan yang sangat ketat. Philip, local guide kami tidak bisa ikut bersama rombongan karena ia seorang Yahudi. Yahudi dilarang masuk ke Palestina, kecuali ada kepentingan yang mendesak tentunya. Untungnya sopir bis kami Cholid, yang kami juluki Mr. No. One, (Julukan karena kepiawaiannya membawa bis), bukan orang Yahudi. Ia seorang bersuku Arab, dan seorang Muslim, tetapi kami tak pernah melihat ia solat selama bersama dengan kami. Selain itu Cholid juga penduduk Palestina, jadi ia bisa bebas memasuki wilayahnya. O,ya banyak warga Palestina yang mencari mata pencaharian di wilayah Israel, entah sebagai sopir, karyawan, atau pemandu wisata.
Beberapa rombongan terpaksa harus ganti bis karena sopir mereka Yahudi. Mereka berganti bis Palestina dengan sopir juga warga Palestina. Ada perbedaan antara bis kedua negara tersebut, yaitu bis Israel lebih bagus dibandingkan Palestina. Selain itu, keadaan dan fasilitas kedua negara tersebut jelas jauh berbeda. Israel kesannya lebih bagus, teratur, dan lengkap.
Karena itu, kami bisa terus dengan bisa kami bersama sopir kami yang jagoan itu, Cholid alias Mr.No. One. Sesampainya di tempat parkir bis, local guide dari Betlehem pun datang. Ia seorang Arab, bahasa Inggrisnya sangat cepat. Terkadang saat menjelaskan, kami sampai terseok-seok dibuatnya. Untungnya saya pernah membaca tentang sejarah kekristenan sehingga kata-kata yang hilang karena cepatnya berbicara bisa tersambung lagi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Topik yang ia jelaskan seputar sejarah bagaimana gereja didirikan dan berkaitan dengan materi Perang Salib dan zaman Bizantium.
Ini beberapa yang saya tangkap dari local guide di Betlehem. Tahun 325 M, Ratu Helena, ibunda Constantine, kaisar Roma yang beragama Kristen berkunjung keTanah Suci. Di sana beliau mendirikan gereja Kristen pertama.
Tahun 529 M orang Samaria dari Nublus memberontak melawan pemerintahan Kristen. Gereja tempat kelahiran Yesus di Betlehem rusak parah karena kejadian itu. Namun semuanya itu segera dibangun kembali berdasarkan perintah KaisarYustinianus.
Pada tahun 614 M terjadi invasi Persia ke Palestina. Mereka menghancurkan gereja-geraja dan biara. Namun, Gereja tempat kelahiran Yesus selamat dari penghancuran. Kisah yang diceritakan dalam sumber-sumber yang belakangan mengatakan bahwa mereka membatalkan rencana menghancurkan Gereja Kelahiran ketika mereka melihat gambarorang majusyang dilukiskan mengenakan pakaian Persia dalam salah satu mosaik di Gereja itu.
Pada masa Ksatria Perang Salib ( 1099 M) Gereja Kelahiran diperbaiki dan diperbaharui. Pada masa ini Betlehem makmur di bawah pemerintahan mereka.
Pada 1187,Saladinmerebut Betlehem dari tangan Tentara Salib, dan para rohaniwan Latin dipaksa pergi. Saladin menyetujui kembalinya dua imam dan dua diaken Latin pada 1192. Namun kota itu menderita karena hilangnya bisnis dari para peziarah. Betlehem untuk sementara waktu kembali ke tangan Tentara Salib melalui perjanjian antara 1229 dan 1244. Pada 1250, dengan berkuasanyaRukn al-Din Baibars, toleransi terhadap kekristenan menurun, para pendeta meninggalkan kota, dan pada 1263 tembok-tembok kota dihancurkan. Para agamawan Latin kembali ke kota itu selama abad berikutnya, membentuk biara yang berdampingan dengan Basilika, dan pada 1347Ordo Fransiskanmendapatkan hak milik atas Gua Kelahiran serta hak untuk menyelenggarakan dan memelihara Basilika itu. ( http://id.wikipedia.org/ )
Pada21 Desember1995, Betlehem menjadi salah satu wilayah di bawah kekuasaan penuh olehOtoritas Palestina. Ia menjadi ibukota distrik Betlehem.
Ada beberapa kutipan ayat yang berkaitan dengan Betlehem dalam kitab Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Mari kita simak kitipan di bawah ini.
Demikian Rachel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem (Kej. 35:19). Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem -Yehuda beserta istrinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Nama orang itu ialah Elimelekh, nama istrinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem –Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana (Rut 1:1-2). Dan berjalanlah keduanya (RUT dan Naomi) sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu…(Rut 1:19) Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab.dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai(Rut 1:22). Lalu datanglah Boas dari Betlehem…(Rut 2:4). … Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyur di Betlehem (Rut 4:11). “…Aku (Allah) mengutus engkau (Samuel) kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” (I Sam.16:2)
Demikian Yusuf pergi dari kota Nazareth di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernamaBetlehem…(Luk .2: 4).
Kota ini disebut kota Daud ternyata didasarkan pada kisah Perjanjian Lama, Kitab Kejadian dan Rut tentang asal-usul Daud. Daud adalah anak Isai, Isai adalah anak Obed, Obed adalah anak Boas dengan Rut. Kisah keluarga itu berlatar tempat di Betlehem. Dari Raja Daud sampai Yesus menurut Matius ( Mat.1: 17 ) ada 28 keturunan. Dengan demikian, bisa dipahami alasan mengapa Betlehem disebut Kota Daud dan jelas juga mengapa Yusuf harus membawa istrinya, Maria yang sedang hamil tua, pergi mendaftarkan diri ke Betlehem. Dengan begitu kita juga mengetahui bahwa Yesus sering disebut sebagai Putra Daud seperti yang diucapkan oleh Bartimeus anak Timeus seorang pengemis buta di kota Yeriko dalam Injil Markus 10: 47-49.
Di Betlehem ada tiga komplek gedung gereja. Kami mengadakan misa pagi di salah satu gereja yang menurut Romo Roby dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para tentara pada zaman Perang Salib. Pada zaman Persia menginvasi Tanah Suci, gereja tempat kami misa ini sudah diduduki kaum Muslim. Mereka akan merusak dan mengubah gereja itu sesuai kebutuhan mereka. Namun, niatnya itu diurungkan karena gedung tersebut sangat istimewa, yaitu tidak memerlukan alat penngeras suara bila sedang ada pertemuan.
Pada Misa pagi itu, Romo Roby berbicara tentang silsilah Yesus yang diambil dari bacaan Injil Matius 1: 1-17. Beliau berbicara tentang peran kaum perempuan untuk datangnya jalan keselamatan. Salah satu perempuan yang memegang peranan untuk perjalanan gereja dan juga keselamatn itu adalah Maria, ibunda Yesus. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa dalam silsilah itu ada juga beberapa perempuan yang agak miring ceritanya, salah satunya Betsyeba, istri Uria yang akhirnya menjadi istri Raja Daud, yang melahirkan Salomo. Beberapa cerita intrik yang terjadi dalam silsilah Yesus itu hanya mau mengatakan kepada kita bahwa Yesus itu nyata-nyata sebagai manusia biasa. Namun, kemiringan atau kesalahan itu bukan sesuatu yang memalukan atau harus ditutupi. Itu semua manusiawi sekali.
Tanpa perjalanan yang panjang dengan segala lekuk dan likunya, sabda tak akan pernah menjadi daging.Pada mulanya adalah firman, firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. ( Yoh. 1:1-3). Tanpa kemiringan yang manusiawi itu kata-kata dalam Injil di atas tidak berbunyi demikian mungkin.
Seseorang berbuat kesalahan itu sesuatu yang wajar dan manusiawi. Kesalahan akan membuat orang melihat mana yang benar. Dari kesalahan orang belajar berhati-hati dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Biasanya sesudah seseorang melakukan kesalahan, ia akan berusaha untuk memperbaiki dan menjaga agar tak jatuh pada kesalahan yang sama. Memperbaiki kesalahan itu sebuah usaha yang tak mudah. Jadi, ketika ada seseorang berusaha memperbaiki kesalahan dan berhasil, itu suatu yang luar biasa.
Namun, proses memperbaiki kesalahan ternyata bukan proses yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi seseorang dalam perbaikan tersebut. Orang bisa berhadapan dengan tantangan dari luar maupun dari dalam dirinya. Dukungan dari orang sekitar akan menjadi suatu kekuatan bagi orang tersebut melanjutkan proses hingga berhasil.
Kenyataan lain yang mungkin dihadapi seseorang ketika ia berproses memperbaiki diri dan bahkan ketika ia berhasil adalah ada orang lain yang mengungkit kembali kesalahan masa lalu. Ini dia permasalahan yang sering kita hadapi. Banyak di antara kita ketika mengalami ini merasa terpuruk dan disudutkan. Kesalahan masa lalu kembali dibeberkan, sungguh membuat kita merasa tidak aman dan tidak nyaman. Sementara itu, ada orang yang sangat suka mengungkit kesalahan orang lain. Ada beberapa alasan mengapa si pengungkit kembali membuka kesalahan orang lain. Alasan yang biasanya terjadi adalah agar si pembuat kesalahan tidak kembali terjatuh pada kesalahan yang sama. Alasan lain karena kesalahan itu sangat fatal dan tak bisa hilang begitu saja dari ingatan. Ada juga alasan hanya untuk melampiaskan perasaan kesal terhadap si pembuat kesalahan. Atau alasan yang lainya untuk kepuasan si pengungkit dan untuk menjatuhkan si pembuat kesalahan.
Kasus lain yangmungkin kita alami adalah bila ada kesalahan di masa sekarang, kita akan mencari kambing hitam ke masa lalu. Contohanak SMA tidak bisa berdoa dengan baik dalam retret di kelas XII, maka akan menyalahkan proses retret dan pendampingan pada masa SMP. Dianggap kesalahan itu karena guru SMP yang tidak becus mendampingi. Pertanyaan kita: apakah kebiasaan berdoa itu hanya mutlak tanggung jawab pendidikan semasa di SMP? Bagaimana dengan pendidikan dalam keluarga? Bagaimana proses selama dia berada di SMA dari kelas X sampai kelas XII? Apakah masa selama di SMApendampingan tidak dianggap? Apakah pendidikan hanya terjadi pada satu periode? Apakah kalau anak sudah sampai di SMA pendampingan (termasuk sikap berdoa) juga berhenti? Bukankah selama ini yang kita ketahui dan kita amini bahwa pendidikan itu merupakan sebuah proses yang berkesinambungan?
Mengungkit dan terus mengungkit, mencari dan terus mencari, membeberkan dan terus membeberkan kesalahan orang lain terasa sudah biasa bahkan menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Mencari kambing hitam untuk kesalahan sekarang dengan mencari kesalahan dan mengaitkannya denganmasa lalu apakah sebuah jalan keluar untuk memperbaiki kesalahan sekarang? Bukankah kesalah tidak akan bisa diperbaiki dengan hanya menyalahkan dan mengungkit kesalahan di masa lalu? Apakah kesalah bisa kita perbaiki dengan mencari kesalahan orang lain untuk menutupinya?
Apa pun alasan si pengungkit untuk kembali membeberkan kesalahan seseorang, itu sangat bertentangan dengan makna memaafkan atau lebih tepatnya lagi pengampunan. Mengampuni berarti benar-benar memafkan dan tak perlu lagi mengungkitnya, apalagi kalau diutarakan di depan orang banyak dan di depan si pembuat kesalahan. Bila hal ini dilakukan, orang yang mengalami ( dengan catatan si pembuat kesalahan sudah memperbaiki diri atau dalam proses perbaikan diri )akan merasa benar-benar dijatuhkan. Semangat untuk membenahi diri pada orang itu akan jatuh.
Ada yang mengatakan bahwa mengampuni bukan berarti melupakan. Betul juga pendapat itu. Kesalahan bukan untuk dilupakan karena kalau dilupakan kita tak akan bisa belajar dari kesalahan. Namun, kesalahan bukan untuk diungkit atau terus dibeberkan ke mana-mana. Bila kesalahan terus diungkit,bagaimana si pembuat kesalahan bisa mendapat ruang untuk memperbaiki diri karena terus diingatkan dan dihakimi dengan kesalahan masa lalunya.
Kesalahan mungkin saja fatal akibatnya bagi orang lain dan juga bagi si pelaku. Namun, kesalahan juga menunjukkan kepada kita bahwa manusia tidak sempurna. Dari kesalahan ada pembelajaran dan ada pengampunan. Tanpa kesalahan orang tidak bisa melihatmana yang benar. Karena itu, mari kita belajar dari kesalahan kita dan juga mari kita berani untuk tidak mengungkit kesalahan orang lain.
Ada kewajiban menjadi guru piket untuk setiap guru di tempat saya mengajar. Pengecualian terjadi pada guru yang setiap harinya mengajar penuh. Tugas guru piket bervariasi, mulai dari menggantikan guru yang tidak hadir di dalam kelas, menunggu kelas ketika ada guru yang tidak masuk, menjaga ketertiban saat istirahat, menangani kasus anak yang sakit, menangani bila ada kasus yang terjadi pada hari itu, dan yang paling penting adalah menyambut siswa di pintu gerbang untuk melihat kelengkapan dan ketertiban siswa dari ujung kaki sampai ujung rambut. Saat berdiri menyambut, guru piket harus melakukan kode etik: salam, sapa, dan senyum.
Dengan demikian guru piket harus datang lebih pagi daripada biasanya. Sekolah menetapkan guru piket maksimal datang pukul 06.30 bertepatan dengan siswa masuk ke area SMP. Bila melihat situasinya alangkah lebih baiknya seorang guru piket datang sebelum jam 06.30.
Sebetulnya saya mengalami berganti pasangan guru piket untuk setiap tahun pelajaran. Biasanya setiap harinya guru piket yang ditugaskan ada 3 orang. Saya berpasangan dengan beberapa teman guru piket dengan berbagai karakter dan kebiasaan. Saya pernah berpasangan dengan teman guru yang penuh tanggung jawab dan mudah diajak bekerja sama. Saya juga pernah berpasangan dengan guru yang agak santai , suka menghindari tugas menjaga kelas, dan lebih suka melakukan kegiatan untuk dirinya sendiri. Pernah juga saya berpasangan dengan guru yang sepanjang piket terus mengeluh tentang kelehannya menjadi guru piket, ketidaksukaannya tentang sistem piket, dan aneka keluhan lainnya. Ada juga guru piket yang sangat suka datang telat.
Nah, kali ini saya akan berbagi tentang kejadian pada saat saya suatu hari saya piket. Kejadian itu tepatnya hari Selasa, 11 September 2011. Salah satu guru yang menjadi pasangan piket kali ini adalah seorang ibu yang mempunyai hobi datang TEPAT WAKTU atau kadang telat. Dia datang seperti kalau dia tidak menjadi guru piket, yaitu jam 06.45. Selama dua bulan saya berpasangan dengan dia , belum pernah ia datang jam 06.30 atau di bawah itu. Lama- kelamaan saya kesal dan mulut saya gatal untuk mengingatkan dia. Saya berpikir cara yang paling tepat untuk menyampaikannya. Akhirnya ketika dia selesai mengantri untuk presensi, saya mulai melancarkan aksi saya.
Saya berkata dengan penuh keramahan, “ Bu, saya yakin Selasa depan, Ibu akan datang lebih pagi lagi.”
Saya sungguh tak menduga ternyata jawabannya berbeda dengan yang saya harapkan. Dia mejawab, “Aku tidak apa-apa dipecat juga. Sana laporkan saja!”
Saya ternganga dan terbata, “ ya, nggak begitu maksud saya, Bu. Saya tak akan melaporkan Ibu karena saya bukan tukang lapor.”
Dengan ketus dia berkata, “ Ibu nggak ngerti alasannya.”
“ Betul, Bu, saya nggak ngerti karena Ibu tidak bercerita. Saya menyampaikan hal ini langsung pada Ibu daripada saya gerundelan di belakang.”
Percakapan terhenti karena ada anak yang harus dilayani.
Saya merasa teguran tadi akan sampai dengan baik dan diterima dengan baik pula. Rupanya saya salah duga. Dari peristiwa ini saya belajar bahwa ketika kita memberi feedback pada seseorang harus memperhatikan berbagai faktor. Menurut Ibu Ratih Ibrahim dalam pelajaran Personal Growth feedback yang baik adalah: diberikan dengan jujur, serius, langsung, dan tulus.
Kemudian saya berpikir dan melihat feedback yang baru saya berikan kepada pasangan guru piket tadi apakah sudah sesuai dengan ciri-ciri di atas? Saya memberi feedback pada teman saya sebagai sesama guru piket dengan tulus dengan tujuan di baliknya untuk perbaikan dia agar tidak datang telat saat piket. Saya juga menyatakannya dengan jujur apa adanya tanpa mencari-cari permasalahan. Ketika saya menyampaikannya juga dengan langsung pada orangnya. Jadi letak kesalahan saya ada di mana, ya? O, rupanya saya mengatakannya tidak dengan serius. Situasi saat saya menyampaikan feedback seolah saya sedang bercanda, mungkin. Oleh karena itu, teman tadi tersinggung. Maksud hati sih saya menyampaikannya dengan cara lunak, tidak terlalu formal, dan lebih santai. Eh, ternyata cara saya dianggap meledek atau menghinanya sehingga feedback yang saya sampaikan tidak tepat sasaran malah akhirnya mental.
Rupanya, saya masih harus banyak belajar tentang cara menyampaikan feedback pada orang lain. Berkomunikasi itu ternyata tidak mudah. Ada beberapa faktor yang sering meleset dari dugaan kita sehingga tujuan tidak sampai pada sasarannya.
Tiga bulan, itu lamanya Metta, anakku sulung berlibur di rumah untuk tahun 2011 ini. Sepanjang waktu itu, dia menghabiskannya bersama teman-temannya, keluarga, dan paling banyak dihabiskannya bersama Abhimanyu, adik bungsunya.
Memang terasa lucu perbedaan usia mereka yang terpaut 19 tahun. Perbedaan tersebut membuat mereka tidak tampak sebagai kakak-adik pada umumnya, melainkan seperti ibu dan anak. Orang yang pertama melihat pasti beranggapan Abhimanyu anak metta.
Karena setiap saat waktu dihabiskan bersama adik bayinya, tugas sebagai pengasuh pun dilakukannya: menyuapi, mengganti pakaian, membedaki, membuat susu, menidurkan, bahkan menceboki. Tak disangka ternyata semua dilakukannya dengan senang meski masih heboh pada saat harus menceboki.
Saya melihat, bahwa dia banyak belajar dari setiap saat dia alami selama tiga bulan ini. Ia belajar menjadi seorang pengasuh, pembantu rumah tangga, menjadi teman bermain, merawat diri (mengobati jerawatnya), dan juga menjadi juru masak. Yang saya lihat dari semua itu, dia belajar tentang hidup. Begitulah hidup. Setingi-tingginya seseorang bersekolah, kalau dia tidak bisa membawa diri tetap saja ia tidak bisa hidup dengan baik. Mungkin itu yang dimaksud orang tua yamg mengatakan setingi apa pun pendidikan perempuan, tetap saja ia ke dapur. Mungkin maksud orang tua adalah, perempuan tetap tidak boleh melupakan tugasnya sebagai ibu dalam keluarga.
Saya juga melihat dan belajar dari pengalaman bahwa dari semua hal yang dibutuhkan dalam hidup adalah bagaimana kita berelasi. Berelasi dengan diri sendiri, dengan sesama, alam, dan Tuhan.
Saya berharap anak-anakku mampu berelasi dengan baik. Dengan begitu, mereka mampu bertahan dalam menghadapi tantangan hidup. Karena zaman akan terus berubah dan tantangan akan terus bertambah, anak-anak perlu dipersiapkan untuk menghadapinya. Mereka adalah anak-anak zaman ini. Anak zaman harus mampu menghadapi tantangan pada zamannya.
Seorang Pengkhotbah besar berkata bahwa sebetulnya tak ada yang baru di bawah langit dan di atas bumi ini. Segala permasalahan yang terjadi sekarang pernah dialami oleh para pendahulu kita. Hanya konteks yang berbeda.
Senin, 8 Agustus 2011 itulah saatnya kami diakreditasi sesudah lima tahun lebih sejak akreditasi sebelumnya. Akreditasi merupakan proses penilaian yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional terhadap sekolah-sekolah. Ada standar yang harus dipenuhi oleh sekolah sesuai dengan statusnya masing-masing (sekolah negeri, sekolah swasta nasional, sekolah internasional, dll.)
Sebuah sekolah yang akan diakreditasi tentu harus mempersiapkan diri dengan baik. Dalam menghadapinya sekolah tenu memrelukan persiapan administrasi, waktu, tenaga, dan tentunya biaya. Berbagai kesibukan untuk menghadapi akreditasi dilakukan oleh setiap sekolah dari persiapan, pelaksanaan, hingga sesudahnya.
Yang ingin saya bagikan bukan pada persaiapan administrasi atau kiat menghadapi akreditasi agar berhasil meraih standar A, tetapi kisah dibalik dapur akreditasi kami.
Sudah pasti persiapan diwarnai dengan kerja keras bahkan kerja lembur. Sebetulnya tidak perlu sampai seperti itu kalau semua tuntutan administratif sudah dilengkapi jauh-jauh tahun, bukan jauh-jauh hari lagi. Dengan begitu administrasi harus tertib! Namun, kenyataan berbeda dengan seharusnya. Ternyata banyak kekurangan yang harus dipenuhi untuk pembuktian bahwa hal yang diminta dalam buku panduan (sesuai standar) sudah kami lakukan. Semua harus ada bukti. Akan menjadi omong doang kalau hanya dikatakan sudah dilakukan tanpa disertai bukti. Nah, itu dia, bukti sering terselip, tidaik ada, atau tidak ditemukan. Kalau bukti sudah tak ada, ya.... harus mengadakan! Kreativitas mencipta!
Menarik memang proses persiapan ini karena di sini akan terlihat kinerja sekolah, yayasan, kepala sekolah, guru, tata usaha, karyawan, pokoknya semua elemen sekolah.Yang lebih menarik lagi dalam peristiwa ini akan tampak kinerja dan kepribadian setiap individu. Saya melihat teman-teman saya sangat getol, rajin, teliti, dan bekerja tanpa lelah.
Namun, di samping teman-teman yang yang ber-jibaku, ada juga teman yang kenyataannya tidak demikian. Teman-teman yang pulang sampai sore, bahkan malam, yang ini pulang tepat waktu. Yang lain berusaha sebisa mungkin membantu untuk ikut andil dan terlibat, yang ini ini melenggang entah ke mana. Ketika dia ditanya oleh kepala sekolah mengapa demikian, dia menjawab dengan enteng ‘ saya kan gak bisa komputer ‘ , ‘ saya gak bisa ngetik, jadi ya... gak bisa bantu ‘ .
Begitu saya tahu jawaban yang dikemukakan saya benar-benar meradang. Lha, memangnya akreditasi itu hanya berkaitan dengan kegiatan memakai komputer? O...alah, wong pekerjaan lain seabrek. Ya, mestinya kan bisa membantu yang lainya: menjilid, menyampul, mengangkat, membereskan, atau mijetin temen, membelikan minuman untuk temannya, bahkan cukup dengan kehadiran saja, duduk nongkrong memberi dukungan moril dengan doa, atau apa sajalah. Yang penting peduli. Ya... elah malah katanya tak bisa membantu apap pun.
Saya berpikir lagi jadinya. Apa tidak salah pribadi seorang guru yang begitu? Padahal seorang guru itu kan seorang pendidik. O, ya tambah lagi, guru ini kan pernah mendapatkan penghargaan dari yayasan karena kepeduliannya. Ya... kalo begini, jadinya mau dibawa ke mana pendidikan ini, je? Kalo saya seperti itu, kok ya... malu saya!
Ee.....ee...lha kok saya malah ikut campur urusan pribadi orang dan urusan kebijakan yayasan dalam memberi penghargaan. Siapa saya? Itu kan bukan urusan saya. Ya, betul sekali itu bukan urusan saya dalam memberi penghargaan, tetapi menjadi urusan saya berkaitan dengan relasi sebagai sesama teman di kalangan para guru. Apa alasannya? Karena saya bagian dari guru-guru dan saya merasa dirugikan juga. Keenakan sekali dia.
Ini menyoal tentang nilai hidup kerja sama, penghargaan, kepedulian, dan rasa setia kawan. Menurut apa yang dicanangkan sekolah ini, sekolah ini mengedepankan pendidikan nilai. Namun, melihat kejadian di atas, rasanya jauh dari apa yang dicanangkan. Saya memang mengakui melakukan sesuatu yang baik itu memang sangat sulit. Demikian pula dengan penerapan pendidikan nilai yang menjadi keunggulan dari sekolah ini. Memang semestinya nilai-nilai itu menjadi bagian dari gurunya juga supaya guru menjadi model untuk siswanya. Ya, itu tadi, terkadang guru seringnya jarkoni. Ming isone ngujar ning ora ngelakoni. Bisanya berkata-kata, tetapi tidak menjalankan. OD. Omong doang.
Lho.... kok saya sewot! Ya... saya akui saya memang sewot. Bagaimana tidak sewot. Sekolah ini kan bukan hanya milik yayasan dan milik ursulin saja. Sekolah ini akan menjadi baik bila menjadi milik bersama. Menjadi milik bersama artinya menjadi tanggung jawab bersama pula. Intinya menjadi keluarga besar begitu.
Ok,.... tenang..... tenang,....! Tarik nafas panjang.... pelan.... dan hembuskan. Ulang sampai tiga kali!
Meskipun kisruh dan semerawut menurut penilaian orang tertentu, akreditasi sudah berjalan dengan baik. Cukup bukan? O, tentu tidak cukup. Mengapa? Karena akreditasi bukan segalanya. Akreditasi hanya salah satu kisah dalam perjalanan sebuah sekolah. Yang lebih penting adalah pada proses berjalannya roda persekolahan ini dari waktu ke waktu.
Saya akui akreditasi adalah gengsi sekolah, apalagi untuk sekolah sebesar sekolah tempat saya bekerja. Kalau sekolah berada di bawah level A, betapa malunya kami. Bahkan, meskipun masih level A dengan scor yang turun dari akreditasi sebelumnya, itu juga masalah bagi kami. Mengapa bisa demikian. Karena itu menunjukkan bahwa sekolah kami tidak bergerak maju, malah mundur teratur. Dan tentunya itu tidak boleh terjadi seperti itu. Itu berarti kami harus berjuang sekuat tenaga mempertahankan sekolah ini dalam setiap langkah perjalanan kami.
Karena itulah, maka saya sewot mengapa ada rekan guru yang mempunyai sikap seperti yang saya ceritakan di atas.
Gengsi sekolah dipertaruhkan dalam akreditasi. Semua orang tahu itu. Akan menjadi perkara bila bila hasil akreditasi menurun. Karena itu pula mengapa kami berjuang sekuat tenaga untuk menyukseskan akreditasi. Perjuangan ini akan berlanjut untuk proses selanjutnya dalam menjalankan roda persekolahan ini.
Saya belajar banyak dari proses akreditasi ini. Belajar untuk lebih tertib administrasi, menyimpan bukti-bukti dengan baik, melakukan prosedur pengajaran dengan baik, juga nilai-nilai hidup seperti kerja sama, kepedulian, daya juang, ketekunan, ketelitian, pengorbanan, penghargaan, kesantunan, dan terlebih relasi. Saya melihat bahwa kami harus belajar banyak untuk berelasi dan berkomunikasi dengan baik. Semoga pengalaman akreditasi ini bisa menjadikan kami lebih baik untuk menghadapi tahun-tahun berikutnya.
Ayo... para guru di seluruh tanah air, tetaplah berjuang untuk bangsa dan negara kita tercintah inih!!!
Alkisah ada seorang perempuan dengan 4 orang anaknya. Anak sulung sudah duduk di bangku SMA, anak kedua berada di SMP, anak ketiga di SD, dan anak keempat di TK. Keempat anaknya bertumbuh dengan baik dan maju dalm pendidikannya. Banyak orang memuji keberhasilan ibu ini dalam mendidik anak2nya.
Namun, orang-orang tidak mengetahui persis apa yang terjadi dengan keluarga ini. Mereka menyangka bahwa keluarga ini baik-baik saja. Karena memang demikian tampaknya dari luar. Kenyataannya, perempuan ini mempunyai tempramen yang buruk. Dia mendidik anaknya dengan sangat disiplin. Terkadang segala sesuatu keinginan perempuan ini harus dituruti. Bila tak dituruti, anak-anak akan kena sasaran amukannya. Setiap hari marah. Ada saja hal yang dijadikan masalah. Hal kecil menjadi nampak besar dan akan menyulut marahnya.
Meskipun demikian perempuan ini juga terkadang bisa juga berbelas kasih. Dia tak akan membiarkan ana-anaknya terlantar. Karena bila sampai terlantar, itu akan menurunkan prestisenya di mata orang-orang. Bagi perempuan ini, prestise sangatlah penting. Ia sering melakukan tindakan amal. Namun, bila diperhatikan dengan sungguh, perbuatannya tersebut semata untuk mengibarkan namanya di depan kolega-koleganya.
Perempuan ini juga rupanya terkenal dengan pilih kasihnya. ia menganut azas like and dislike. Dia akan memberikan apa pun kepada orang yang disuakinya. Hal ini sering dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk mengeruk keuntungan darinya. Namun, perempuan ini tak menyadarinya karena orang tersebut orang yang disukainya.
Di samping itu perempuan ini dikenal sebagai orang yang sangat pandai, disiplin, dan mandiri. Dia merasa tak ada orang yang mengalahkannya. Karena sifatnya inilah banyak orang mengagumi dan segan olehnya. Dia sadar sekali akan kelebihannya itu. Terkadang nampak dia arogan dengan kemampuannya itu.
Kembali kepada sifatnya yang pilih kasih, rupanya berlaku juga kepada anak-anaknya. Mari kita melihat seperti apa sifat anak-anaknya ini. Si sulung (SMA), ia adalah anak yang sangat cerdas, sedikit licik, pandai memanfaatkan situasai, pandai membolak-balikkan fakta untuk mencari perhatian dan cinta dari ibunya. Bahkan si sulung ini tak peduli bila harus 'makan' adik-adiknya, terutama yang SMP. Dia sangat pandai untuk melakukan tipu daya dan rekayasa kenyataan demi keselamatan dari amuk ibunya. Dia akan mencari cara bagaimana agar cinta ibunya tumpah padanya. Dia sering memanfaatkan kesulugannya untuk beberapa tujuan yang berkaitan dengan relasi dengan ibunya.
Anak kedua (SMP), dia seorang anak yang lemah fisiknya, banyak mengalah, tak pernah mau pamer, tak ingin muncul, rendah hati, pemalu, namun sebenarnya dia cerdas, bahkan kecerdasannya dan kreativitasnya bisa melebihi saudara-saudaranya. Ada salah satu kolega ibunya yang ditunjuk oleh sang ibu untuk memberikan pelatihan kepada keempat anak ini. Kolega ini seorang yang objektif. Ketika dimintai laporan tentang kemajuan keempat anaknya oleh perempuan ini, ia memnyebutkan bahwa anak kedua adalah seorang anak yang beyond. Melampau saudara-saudaranya. Anak ini mampu melihat dengan jeli dan kritis serta kreatif melihat suatu masalah. Tetapi sayang, sang ibu rupanya tidak menyukai anak SMP ini. Ibunya selalu mencap bahwa anak ini tidak mencuat, lamban, malas, dan bodoh. Meskipun dilecehkan oleh ibunya sendiri, anak ini tetap dengan kemurniannya untuk terus maju melangkah meraih cita-citanya. Banyak prestasi yang diraihnya, tetapi sang ibu seolah tak melihat hal itu. Ketika mendapatkan juara di olompiade fisika saja yang keluar dari mulut ibunya adalah: saya mengeluarkan uang begitu banyak untuk kamu! Tak ada pujian, tak ada penghargaan. Yang ada hanya cacian. Anak ini hanya bisa menahan rasa sakit hatinya. Namun, ia bertekad dalam hati bahwa ia akan menunjukkan kepada ibunya, kepada saudara-saudaranya, dan kepada dunia bahwa ia bisa. Beberapa ketidakadilan yang lain contohnya adalah: laptop anak SMP diambil dan diberikan kepada anak yang SD. Ketika ada ujian/ulangan, anak-anak lain boleh libur dari tugas sehari-hari di rumah untuk persiapan ujian/ulanga, tapi anak SMP harus tetap mengerjakan tugasnya. Dengan ancaman yang tegas sang ibu mengatakan bahwa anak SMP paling tidak harus meraih angka 95! Begitulah...ia diperlakukan. Tetapi, anak ini tetap tabah menjalankan semuanya meskipun dengan tangisan dan rasa sakit hati. Justru perlakuan yang pilih kasih inilah, anak ini malah semakin bertumbuh menjadi pribadi yang alot, kuat, dan berkarakter.
Anak ketiga, duduk di SD. Dia tidak begitu dekat dengan ibunya. Namu, justru itulah dia banyak selamat dari banyak masalah. Terkadang dia suka melarikan diri dari kesalahan yang dibuatnya. Dia akan mencari alasan untuk keselamatan dari kemarahan sang ibu. Anak ini terkadang sering lari dari tanggung jawabnya. Bila ada masalah membelit dia akan menyalahkan situasi, saudaranya, alat, alam, atau apa pun yang ada di luar dirinya. Dia banyak selamat dari masalah-masalah moral yang sebetulnya sangat prinsipil. Bila dia ketahuan tak mengerjakan tugasnya, maka dia akan menyalahkan pembantunya. Akhirnya kemarahan sang ibu jatuh kepada pembantunya, dan yang harus menanggung adalah pembantunya. Sebetulnya anak ini agak lambat, tetapi karena dia pandai mencari alasan, maka selamatlah dia.
Anak bungsu, ada di TK. Ia seorang anak yang masih kecil, masih lucu, dan sangat riang. Karena kesibukan sang ibu, anak ini juga jauh dari ibunya. Tak begitu banyak kenakalan yang dilihat dari anak ini. Yang tampak adalah kenakalan kanak-kanak yang menggemaskan.
Begitulah keempat sosok anak-anak yang berbeda karakter. Pertanyaan saya, bagaimanakah nasib anak-anak ini kelak ketika sang ibu sudah tiada? Adakah keempat anak ini akan bertahan dan melanjutkan hidup mereka dengan berhasil? Adakah sifat-sifat mereka mempengaruhi mereka dalam menghadapi hidup? Adakah mereka akan akur satu sama lain? Adakah perempuan ini menyadari akan perlakuannya yang penuh dengan pilih kasih? Apakah perempuan ini menyadari bahwa ada luka-luka yang dia buat untuk anaknya mempengaruhi hidup mereka? Adakah dia juga sadar bahwa hidup tidak selalu berpihak padanya?
Seorang ibu beranak dua orang remaja dan sekarang dipercayai lagi mempunyai seorang bayi laki-laki yang lucu dan gembil, serta bersuami satu.
Ibu rumah tangga yang luar biasa gaptek ini, mencoba untuk gaul di belantara dunia maya...