Selasa, 03 Februari 2026

Jejak Membaca

 


Menangis di Bawah Bulan yang Sama


DATA BUKU: 

Judul Indonesia: Weeping Under This Same Moon (terjemahan tetap mempertahankan judul asli bahasa Inggris)

Penulis: Jana Laiz

Penerjemah: Utti Setiawati

Penerbit (Indonesia): Elex Media Komputindo

Tahun Terbit (Indonesia):  2011

ISBN (Indonesia): 978-979-27-9353-6

Genre: Kisah inspiratif


Novel Weeping Under This Same Moon karya Jana Laiz mengisahkan perjumpaan dua remaja perempuan dari latar budaya dan pengalaman hidup yang sangat berbeda. Mai, seorang gadis Vietnam, adalah pengungsi perang yang melarikan diri dari negaranya dengan perahu bersama keluarganya demi mencari keselamatan. Pengalaman pahit sebagai “manusia perahu” membekas kuat dalam diri Mai yaitu trauma, kehilangan, dan kerinduan akan tanah air yang tak lagi bisa ia rengkuh.


Sementara itu, Hannah adalah remaja Amerika yang berasal dari keluarga yang baik-baik dan relatif harmonis. Namun, di lingkungan sekolahnya, Hannah merasa tidak sepenuhnya diterima oleh teman-temannya. Ia bergumul dengan gaya hidup remaja Amerika yang cenderung individualistis, pergaulan yang bebas dan umum di sekitarnya, serta tekanan untuk menyesuaikan diri agar dianggap “normal” dan diterima dalam kelompok sosialnya.


Melalui keterlibatannya sebagai relawan bagi lima keluarga pengungsi Vietnam, Hannah perlahan memasuki dunia yang sama sekali baru baginya. Dalam kerja sosial ini, ia tidak hanya membantu secara praktis, tetapi juga mengalami perjumpaan-perjumpaan manusiawi yang mengubah cara pandangnya tentang hidup, penderitaan, dan empati. Dari kisah-kisah para pengungsi, termasuk Mai, Hannah justru menemukan dirinya sendiri: nilai-nilai yang selama ini terpendam, kepekaan yang tumbuh, dan makna kehadiran yang lahir dari kesediaan untuk peduli dan berjalan bersama sesama.


Pertemuan dan persahabatan antara Mai dan Hannah membuka ruang refleksi bagi keduanya. Mai menemukan sahabat yang mau mendengarkan tanpa menghakimi, sementara Hannah belajar memaknai hidup secara lebih mendalam melalui kisah ketahanan dan kesederhanaan Mai. Weeping Under This Same Moon menegaskan bahwa meskipun manusia hidup dalam situasi yang berbeda baik saat perang ataupun  damai, serta  kehilangan atau  kelimpahan, mereka tetap mempunyai  pergulatan batin masing-masing.  Di  bawah bulan yang sama, setiap air mata memiliki arti kemanusiaan yang universal.


Penilaian terhadap Weeping Under This Same Moon,   novel ini kuat justru karena tidak menempatkan kemanusiaan dalam retorika besar, melainkan dalam perjumpaan-perjumpaan kecil yang sunyi. Jana Laiz tidak menjadikan penderitaan pengungsi Vietnam sebagai objek iba, tetapi sebagai realitas manusia yang utuh, penuh luka, diam, ketakutan, dan bermartabat. Mai tidak diglorifikasi sebagai korban heroik; ia hadir sebagai manusia yang terluka namun tetap hidup, dan di situlah kemanusiaannya terasa nyata.


Dari sisi Hannah, kemanusiaan ditampilkan secara subtil melalui kegelisahan seorang remaja yang hidup dalam kelimpahan, tetapi mengalami kekosongan relasi. Novel ini tajam dalam mengkritik individualisme masyarakat modern, khususnya budaya remaja Amerika, tanpa menghakimi. Hannah tidak digambarkan sebagai tokoh “penolong” yang superior, melainkan sebagai pribadi yang justru sedang mencari makna dirinya sendiri. Kerja relawan yang ia jalani bukan aksi heroik, melainkan ruang pembelajaran, bahkan mungkin pelariannya. Namun dari situ ia belajar   bahwa empati tidak lahir dari niat baik semata, tetapi dari kesediaan untuk mendengarkan dan hadir.


Secara kemanusiaan, kekuatan utama novel ini terletak pada gagasannya bahwa penyembuhan lahir dari relasi, bukan dari solusi instan. Perjumpaan Hannah dengan para pengungsi Vietnam, terutama Mai, menjadi cermin yang memperlihatkan luka bersama umat manusia: kehilangan, keterasingan, dan kerinduan akan rumah. Weeping Under This Same Moon dengan tenang menyatakan bahwa kemanusiaan tidak diukur dari asal-usul, status, atau kenyamanan hidup, melainkan dari kemampuan untuk saling melihat sebagai sesama yang rapuh dan layak dicintai.


Weeping Under This Same Moon kisah yang mengingatkan kita bahwa jarak geografis, perbedaan budaya, bahkan ketimpangan pengalaman hidup tidak pernah benar-benar memisahkan kemanusiaan. Di bawah bulan yang sama, air mata Mai dan Hannah jatuh dari sebab yang berbeda, tetapi berakar pada kerinduan yang serupa: diterima, dimengerti, dan diakui sebagai manusia seutuhnya. Novel ini mengajak pembaca untuk berhenti melihat penderitaan sebagai milik “yang lain”, dan mulai memahaminya sebagai cermin bagi luka kita sendiri, bahwa dalam perjumpaan yang tulus, tangisan tidak lagi menjadi tanda kelemahan, melainkan jalan menuju empati, kesadaran, dan pemulihan bersama. (Ch. Enung Martina)


Senin, 02 Februari 2026

Catatan Refleksi Kering

 


Ketika Hidup Terasa Kering

Ada saat-saat ketika hidup terasa kering.

Hati lelah, doa terasa hambar, dan semangat perlahan memudar. Kita tetap menjalani hari, tetapi tanpa gairah. Bukan karena kita kehilangan iman, melainkan karena kita sedang letih menjadi kuat.

Kitab Suci berkata,

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.”
(Mazmur 23:1–2)

Namun sebelum sampai ke padang rumput yang hijau, kita sering harus melewati tanah yang gersang. Kekeringan bukan tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari perjalanan. Seperti tanah yang merekah karena kemarau, hati pun kadang perlu terbuka agar dapat menerima kehidupan kembali.

Dalam keadaan seperti itu, kita belajar berserah kepada Tuhan. Bukan menyerah, melainkan mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya. Kita tetap bangun pagi, bekerja, melayani, dan menjalani rutinitas sederhana seperti biasa—sambil membawa hati yang apa adanya. Dalam kesetiaan pada hal-hal kecil itulah, harapan perlahan dirawat.

Filsafat hidup mengajarkan bahwa hidup memiliki irama. Ada waktu bergerak, ada waktu melambat. Ada masa berbicara, ada masa diam. Mengikuti irama hidup apa adanya bukan tanda pasrah yang lemah, melainkan kebijaksanaan untuk berjalan setia pada hari ini, tanpa memaksa diri melompat terlalu jauh.

Kitab Suci kembali meneguhkan,

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu… rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
(Yeremia 29:11)

Maka ketika hidup terasa kering, jangan terburu-buru menyalahkan diri sendiri. Berserahlah kepada Tuhan dan tetaplah melangkah dalam irama hidup sehari-hari. Percayalah, hujan akan datang pada waktunya. Dan saat itu tiba, kita akan mengerti: kekeringan bukan akhir, melainkan jeda sebelum kehidupan kembali bersemi. (Ch. Enung Martina)

Minggu, 18 Januari 2026

Artikel Historis-Reflektif untuk Perayaan Pesta St. Angela

 


Tak Lekang Dimakan Zaman

Di tengah dunia yang bergerak cepat, serba digital, dan sering kali kehilangan arah batin, manusia modern terus mencari sosok-sosok rujukan yang mampu memberi kedalaman, bukan sekadar kecepatan. Kita membutuhkan figur yang tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga mampu menembus batas waktu dan konteks. Dalam pencarian itulah, nama St. Angela Merici, seorang perempuan abad ke-16, justru terasa semakin dekat dan aktual. Ia tidak hidup di zaman teknologi, demokrasi modern, atau wacana kesetaraan gender seperti hari ini. Namun, nilai-nilai yang ia hidupi dan wariskan menunjukkan daya tahan yang luar biasa: tak lekang dimakan zaman.

 

Jejak Sejarah Seorang Perempuan Awam

Angela Merici lahir pada tahun 1474 di Desenzano del Garda, Italia Utara, dalam sebuah keluarga petani sederhana. Sejak usia muda ia telah mengalami kehilangan: orang tua dan saudara-saudaranya wafat ketika ia masih belia. Dari pengalaman luka inilah tumbuh kedalaman spiritual yang kelak menjadi ciri khas hidupnya. Angela tidak memilih jalan religius yang lazim pada masanya. Ia tidak masuk biara, tidak mengenakan jubah khusus, dan tidak mengucapkan kaul publik. Sebaliknya, ia tetap hidup sebagai perempuan awam di tengah dunia, menyatu dengan realitas masyarakat sekitarnya.

Pada tahun 1535, di Brescia, Angela mendirikan Compagnia di Sant’Orsola, sebuah komunitas perempuan yang revolusioner untuk zamannya. Para anggota tidak hidup terpisah dari dunia, melainkan tinggal di rumah masing-masing, bekerja, dan hadir dalam masyarakat. Fokus utama mereka adalah pendidikan dan pendampingan kaum muda, khususnya anak-anak perempuan, sebuah perhatian yang pada abad ke-16 masih dianggap pinggiran.

Keberanian Angela bukan terletak pada sikap konfrontatif, melainkan pada kebijaksanaan yang jernih. Ia membaca tanda-tanda zaman dengan kepekaan rohani. Ia tidak menentang struktur secara frontal, tetapi menghadirkan alternatif cara hidup yang perlahan mengubah wajah Gereja dan masyarakat. Angela wafat pada tahun 1540, namun benih yang ia taburkan tumbuh lintas abad dan benua, hingga hari ini hidup dalam karya pendidikan Ursulin di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

 

Spiritualitas yang Mengakar pada Kemanusiaan

Salah satu alasan mengapa St. Angela Merici tetap relevan adalah karena  spiritualitasnya berakar kuat pada kemanusiaan konkret. Ia tidak membangun spiritualitas yang melangit dan terpisah dari realitas, melainkan spiritualitas yang berjalan kaki di tanah kehidupan sehari-hari. Dalam Spiritual Testament-nya, Angela menulis dengan nada seorang ibu, pendamping, dan pendidik, bukan sebagai penguasa rohani.

 Ia mengingatkan para pemimpin komunitasnya:

“Jagalah agar setiap orang merasa diperhatikan dan dikasihi.”

 

Kalimat sederhana ini menyimpan kebijaksanaan mendalam. Angela memahami bahwa pendidikan, komunitas, dan kepemimpinan hanya akan bertahan bila dilandasi relasi yang manusiawi. Di zaman modern, ketika pendidikan sering terjebak dalam target, angka, dan capaian administratif, pesan ini menjadi cermin kritis. Pendidikan sejati bukan pertama-tama soal kurikulum, melainkan soal perhatian dan kasih.

 

Pendidikan sebagai Jalan Kasih

 Bagi Angela, pendidikan adalah jalan kasih. Ia melihat setiap pribadi sebagai ciptaan Allah yang unik dan berharga. Maka, tugas pendidik bukan membentuk manusia seragam, melainkan membantu setiap orang bertumbuh sesuai panggilannya. Dalam salah satu nasihatnya, Angela berkata:

“Perhatikanlah dengan bijaksana tabiat dan keinginan masing-masing.”

Prinsip ini terasa sangat selaras dengan semangat pendidikan masa kini, pendidikan yang  menekankan diferensiasi dan penghargaan terhadap potensi peserta didik. Namun, Angela telah menghidupi prinsip itu berabad-abad sebelumnya, bukan sebagai konsep pedagogis, melainkan sebagai sikap hati.

 Dalam konteks Ursulin Indonesia, nilai ini hidup dalam ruang-ruang kelas, perpustakaan, dan komunitas belajar. Sebagai pendidik, kita sering berjumpa dengan anak-anak yang tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga pengakuan, pendampingan, dan harapan. Spirit Angela mengajak pendidik untuk hadir sepenuhnya dengan mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang terbuka.

 

Kepemimpinan yang Membesarkan

 Angela Merici menawarkan model kepemimpinan yang jauh dari dominasi. Ia menulis kepada para pemimpin komunitasnya:

“Pimpinlah bukan dengan kekerasan atau keangkuhan, melainkan dengan kelembutan dan kasih.”

 Kepemimpinan, bagi Angela, adalah tugas membesarkan kehidupan, bukan menguasai. Ia percaya bahwa otoritas sejati lahir dari keteladanan dan kepercayaan. Dalam dunia modern yang sering memuja kepemimpinan keras dan cepat, pendekatan Angela terasa kontra-arus, tetapi justru itulah kekuatannya.

 Di lingkungan sekolah, gereja, dan komunitas, kepemimpinan ala Angela mengingatkan kita bahwa keputusan yang bijaksana lahir dari proses mendengarkan. Bahwa perubahan yang bertahan lama tidak dipaksakan, melainkan ditumbuhkan. Kepemimpinan semacam ini memang tidak spektakuler, tetapi menciptakan ruang aman bagi pertumbuhan.

 Perempuan, Dunia, dan Kebebasan Batin

 Sebagai perempuan abad ke-16, Angela Merici mengambil posisi yang unik. Ia tidak melawan dunia, tetapi juga tidak larut di dalamnya. Ia memilih kebebasan batin: bebas untuk mengasihi, bebas untuk melayani, bebas untuk setia pada suara Tuhan. Dengan membiarkan para anggotanya tetap hidup di tengah masyarakat, Angela seakan berkata bahwa kekudusan tidak harus menjauh dari dunia, melainkan justru hadir di dalamnya.

 Pesan ini sangat relevan bagi perempuan masa kini: ibu rumah tangga, guru, pekerja, pengusaha, atau aktivis yang sering bergumul antara panggilan iman dan tuntutan realitas. Angela menunjukkan bahwa keseharian bukan penghalang bagi kekudusan, melainkan medan perjumpaan dengan Allah.

 

Kelembutan sebagai Kekuatan

 Salah satu ciri paling menonjol dari spiritualitas Angela adalah penekanannya pada kelembutan. Ia menasihati:

“Dalam segala hal, bertindaklah dengan kelembutan.”

 Kelembutan, dalam pemahaman Angela, bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan yang mampu bertahan, menyembuhkan, dan membangun. Di tengah dunia yang keras, penuh polarisasi, dan mudah tersulut emosi, kelembutan menjadi tindakan profetis-kenabian. Ia menuntut keberanian untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi ketergesaan dengan kesabaran.

 Bagi pendidik dan pelayan Gereja, kelembutan ini menjadi napas panjang dalam menghadapi keletihan, konflik, dan kerapuhan manusia. Ia menjaga agar pelayanan tidak berubah menjadi rutinitas kering, tetapi tetap menjadi ruang kasih yang hidup.

 

Warisan yang Terus Menyala

St. Angela Merici tidak meninggalkan warisan  bangunan megah atau sistem besar yang kaku. Ia meninggalkan cara hidup. Warisannya hidup dalam setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih: ketika seorang guru memilih mendengarkan muridnya, ketika seorang pemimpin memberi ruang bagi pertumbuhan, ketika sebuah komunitas bertahan dalam kesetiaan sehari-hari.

 Itulah sebabnya Angela tidak lekang dimakan zaman. Ia tidak terikat pada konteks tertentu, karena ia menyentuh inti kemanusiaan. Dalam dunia yang terus berubah, spirit St. Angela Merici tetap menjadi kompas batin: mengingatkan bahwa kesetiaan kecil, bila dijalani dengan cinta dan kebijaksanaan, akan terus menyala melampaui waktu. (Perayaan Pesta St. Angela Merici Tahun 2026-Christina Enung Martina)

 

# # #

Daftar Pustaka

Buser, M. (2007). Angela Merici: A biography. Rome: Institutum Historicum Societatis Iesu.

Cooman, D. L. (2010). Angela Merici: Selected writings. Chicago, IL: Ursuline Institute.

Graham, E. (2002). Women, spirituality and leadership: The legacy of Angela Merici. London: Continuum.

McNeil, B. (1996). The Ursulines: A women’s history. Collegeville, MN: Liturgical Press.

Merici, A. (1993). The complete spiritual writings of Angela Merici (D. L. Cooman, Trans.). New York, NY: Paulist Press.


# # #

Jumat, 02 Januari 2026

Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga

 


Refleksi Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Natal selalu datang dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah bertanya apakah dunia sedang baik-baik saja. Ia hadir justru ketika keadaan rapuh, hati lelah, dan banyak hal terasa tidak pasti. Natal 2025 pun demikian. Ia hadir setelah setahun yang berat, tahun yang dipenuhi bencana, kehilangan, kecemasan akan masa depan, dan pergulatan hidup di banyak keluarga, termasuk keluarga kami sendiri.

Kali ini keluarga kami merayakan Misa Natal di Gereja Maria Putri Murni Sejati, Cisantana, Kuningan, Jawa Barat. Misa yang sederhana, tetapi khidmat. Sesuai dengan tema Natal tahun ini, kami merayakan Natal bersama keluarga. Natal 2025 hadir di tengah dunia yang belum sepenuhnya pulih dan keluarga-keluarga yang masih berjuang dalam berbagai bentuk kerapuhan. Tahun yang kita lalui menyisakan kelelahan, kecemasan, dan banyak pertanyaan tentang masa depan. Namun justru di situlah kabar Natal menemukan maknanya yang paling dalam: Allah tidak menjauh dari keluarga yang terluka dan tidak sempurna, melainkan hadir di tengahnya. Dengan merayakan Natal, kita diingatkan bahwa keselamatan Allah bermula dari ruang paling dekat dengan hidup kita, keluarga, tempat kasih diuji, pengharapan dipelihara, dan iman dijalani dalam keseharian yang sederhana namun nyata.

Tema Natal tahun ini, “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga,” terasa begitu dekat dan personal. Bukan karena keluarga kami sempurna, melainkan justru karena kami menyadari betapa rapuhnya kami sebagai keluarga. Ada kekhawatiran, kelelahan, luka yang belum sepenuhnya sembuh, serta doa-doa yang belum menemukan jawabannya. Namun, di situlah Natal menemukan maknanya yang terdalam.

Allah tidak hadir dalam keluarga yang ideal, rapi, dan tanpa masalah. Ia hadir dalam keluarga yang sederhana, bahkan rentan. Kelahiran Yesus sendiri terjadi di tengah keterbatasan. Maria dan Yusuf bukan keluarga yang aman dan mapan. Mereka keluarga yang cemas, terancam, dan harus mengungsi demi menyelamatkan Anak mereka.

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.”
(Lukas 1:31)

Nama Yesus berarti Allah menyelamatkan. Sejak awal, keselamatan itu bukan konsep besar yang jauh, melainkan nyata dan dekat—hadir dalam sebuah keluarga kecil di Nazaret, dalam pelukan seorang ibu, dalam tanggung jawab seorang ayah.

Sepanjang tahun 2025, kita melihat begitu banyak keluarga diuji: kehilangan rumah karena bencana, kehilangan pekerjaan, kehilangan anggota keluarga, atau sekadar kehilangan rasa aman. Dalam pengalaman-pengalaman itu, saya belajar bahwa keluarga bukan hanya tempat berbagi sukacita, tetapi juga ruang paling jujur untuk menangis dan berharap. Dan di sanalah Allah memilih untuk hadir.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”
(Yohanes 1:14)

Allah tidak menyelamatkan dari kejauhan. Ia “diam di antara kita.” Ia tinggal di tengah meja makan yang sederhana, di percakapan yang kadang sunyi, di doa-doa yang terbata-bata, bahkan di keheningan ketika kata-kata tak lagi cukup. Natal mengingatkan saya bahwa kehadiran Allah sering kali tidak spektakuler, tetapi setia.

Sebagai orang tua, sebagai pasangan, sebagai anggota keluarga, saya menyadari bahwa menyelamatkan keluarga bukan berarti menghilangkan semua masalah. Keselamatan sering kali berarti diberi kekuatan untuk tetap saling mengasihi meski tidak selalu saling memahami. Diberi kesabaran untuk bertahan ketika ingin menyerah. Diberi harapan ketika masa depan terasa kabur.

“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
(Mazmur 34:19)

Ayat ini menjadi penghiburan yang nyata. Allah hadir bukan hanya dalam keluarga yang kuat, tetapi justru dalam keluarga yang sedang berjuang. Ia menyelamatkan bukan dengan menghapus luka seketika, melainkan dengan menemani proses penyembuhan.

Memasuki Tahun Baru 2026, harapan saya sederhana: semoga keluarga kami—dan keluarga-keluarga di Indonesia tetap menjadi tempat pulang yang aman. Tempat belajar mengampuni, bertumbuh, dan saling menopang. Dunia boleh semakin keras, tetapi keluarga harus tetap menjadi ruang di mana kasih Allah dapat dialami secara konkret.

Tahun baru sering identik dengan resolusi dan rencana besar. Namun, Natal mengajarkan bahwa hal-hal besar sering bertumbuh dari kesetiaan pada yang kecil: doa bersama, mendengarkan dengan sungguh, hadir sepenuhnya bagi satu sama lain. Jika Allah memilih keluarga sebagai jalan keselamatan-Nya, maka merawat keluarga berarti ikut ambil bagian dalam karya keselamatan itu sendiri.

“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”
(Lukas 2:19)

Seperti Maria, kita diajak menyimpan dan merenungkan kehadiran Allah dalam keseharian keluarga kita dalam suka dan duka, dalam tawa dan air mata. Natal 2025 menjadi undangan untuk percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan rumah-rumah kita.

Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Semoga di setiap keluarga, Allah sungguh hadir: menyembuhkan, menguatkan, dan menyelamatkan.

Ch. Enung Martina