Tak Lekang Dimakan Zaman
Di tengah dunia yang bergerak cepat, serba digital,
dan sering kali kehilangan arah batin, manusia modern terus mencari sosok-sosok
rujukan yang mampu memberi kedalaman, bukan sekadar kecepatan. Kita membutuhkan
figur yang tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga mampu menembus batas
waktu dan konteks. Dalam pencarian itulah, nama St. Angela Merici,
seorang perempuan abad ke-16, justru terasa semakin dekat dan aktual. Ia tidak
hidup di zaman teknologi, demokrasi modern, atau wacana kesetaraan gender seperti
hari ini. Namun, nilai-nilai yang ia hidupi dan wariskan menunjukkan daya tahan
yang luar biasa: tak lekang dimakan zaman.
Jejak Sejarah Seorang Perempuan Awam
Angela Merici lahir pada tahun 1474 di Desenzano del Garda, Italia Utara, dalam sebuah keluarga petani sederhana. Sejak usia muda ia telah mengalami kehilangan: orang tua dan saudara-saudaranya wafat ketika ia masih belia. Dari pengalaman luka inilah tumbuh kedalaman spiritual yang kelak menjadi ciri khas hidupnya. Angela tidak memilih jalan religius yang lazim pada masanya. Ia tidak masuk biara, tidak mengenakan jubah khusus, dan tidak mengucapkan kaul publik. Sebaliknya, ia tetap hidup sebagai perempuan awam di tengah dunia, menyatu dengan realitas masyarakat sekitarnya.
Pada tahun 1535, di Brescia, Angela mendirikan Compagnia di Sant’Orsola, sebuah komunitas perempuan yang revolusioner untuk zamannya. Para anggota tidak hidup terpisah dari dunia, melainkan tinggal di rumah masing-masing, bekerja, dan hadir dalam masyarakat. Fokus utama mereka adalah pendidikan dan pendampingan kaum muda, khususnya anak-anak perempuan, sebuah perhatian yang pada abad ke-16 masih dianggap pinggiran.
Keberanian Angela bukan terletak pada sikap konfrontatif, melainkan pada kebijaksanaan yang jernih. Ia membaca tanda-tanda zaman dengan kepekaan rohani. Ia tidak menentang struktur secara frontal, tetapi menghadirkan alternatif cara hidup yang perlahan mengubah wajah Gereja dan masyarakat. Angela wafat pada tahun 1540, namun benih yang ia taburkan tumbuh lintas abad dan benua, hingga hari ini hidup dalam karya pendidikan Ursulin di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Spiritualitas yang Mengakar pada
Kemanusiaan
Salah satu alasan mengapa St. Angela Merici tetap
relevan adalah karena spiritualitasnya
berakar kuat pada kemanusiaan konkret. Ia tidak membangun spiritualitas
yang melangit dan terpisah dari realitas, melainkan spiritualitas yang berjalan
kaki di tanah kehidupan sehari-hari. Dalam Spiritual Testament-nya,
Angela menulis dengan nada seorang ibu, pendamping, dan pendidik, bukan sebagai
penguasa rohani.
“Jagalah agar setiap orang
merasa diperhatikan dan dikasihi.”
Kalimat sederhana ini menyimpan kebijaksanaan
mendalam. Angela memahami bahwa pendidikan, komunitas, dan kepemimpinan hanya
akan bertahan bila dilandasi relasi yang manusiawi. Di zaman modern, ketika
pendidikan sering terjebak dalam target, angka, dan capaian administratif,
pesan ini menjadi cermin kritis. Pendidikan sejati bukan pertama-tama soal kurikulum,
melainkan soal perhatian dan kasih.
Pendidikan sebagai Jalan Kasih
“Perhatikanlah dengan
bijaksana tabiat dan keinginan masing-masing.”
Prinsip ini terasa sangat selaras dengan semangat
pendidikan masa kini, pendidikan yang
menekankan diferensiasi dan penghargaan terhadap potensi peserta didik.
Namun, Angela telah menghidupi prinsip itu berabad-abad sebelumnya, bukan
sebagai konsep pedagogis, melainkan sebagai sikap hati.
Kepemimpinan yang Membesarkan
“Pimpinlah bukan dengan
kekerasan atau keangkuhan, melainkan dengan kelembutan dan kasih.”
Perempuan, Dunia, dan Kebebasan Batin
Kelembutan sebagai Kekuatan
“Dalam segala hal,
bertindaklah dengan kelembutan.”
Warisan yang Terus Menyala
St. Angela Merici tidak meninggalkan warisan bangunan megah atau sistem besar yang kaku.
Ia meninggalkan cara hidup. Warisannya hidup dalam setiap tindakan kecil
yang dilakukan dengan kasih: ketika seorang guru memilih mendengarkan muridnya,
ketika seorang pemimpin memberi ruang bagi pertumbuhan, ketika sebuah komunitas
bertahan dalam kesetiaan sehari-hari.
# # #
Daftar Pustaka
Buser, M. (2007). Angela Merici: A biography. Rome: Institutum Historicum Societatis Iesu.
Cooman, D. L. (2010). Angela Merici: Selected writings. Chicago, IL: Ursuline Institute.
Graham, E. (2002). Women, spirituality and leadership: The legacy of Angela Merici. London: Continuum.
McNeil, B. (1996). The Ursulines: A women’s history. Collegeville, MN: Liturgical Press.
Merici, A. (1993). The complete spiritual writings of Angela Merici (D. L. Cooman, Trans.). New York, NY: Paulist Press.
# # #
Tidak ada komentar:
Posting Komentar