Minggu, 18 Januari 2026

Artikel Historis-Reflektif untuk Perayaan Pesta St. Angela

 


Tak Lekang Dimakan Zaman

Di tengah dunia yang bergerak cepat, serba digital, dan sering kali kehilangan arah batin, manusia modern terus mencari sosok-sosok rujukan yang mampu memberi kedalaman, bukan sekadar kecepatan. Kita membutuhkan figur yang tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga mampu menembus batas waktu dan konteks. Dalam pencarian itulah, nama St. Angela Merici, seorang perempuan abad ke-16, justru terasa semakin dekat dan aktual. Ia tidak hidup di zaman teknologi, demokrasi modern, atau wacana kesetaraan gender seperti hari ini. Namun, nilai-nilai yang ia hidupi dan wariskan menunjukkan daya tahan yang luar biasa: tak lekang dimakan zaman.

 

Jejak Sejarah Seorang Perempuan Awam

Angela Merici lahir pada tahun 1474 di Desenzano del Garda, Italia Utara, dalam sebuah keluarga petani sederhana. Sejak usia muda ia telah mengalami kehilangan: orang tua dan saudara-saudaranya wafat ketika ia masih belia. Dari pengalaman luka inilah tumbuh kedalaman spiritual yang kelak menjadi ciri khas hidupnya. Angela tidak memilih jalan religius yang lazim pada masanya. Ia tidak masuk biara, tidak mengenakan jubah khusus, dan tidak mengucapkan kaul publik. Sebaliknya, ia tetap hidup sebagai perempuan awam di tengah dunia, menyatu dengan realitas masyarakat sekitarnya.

Pada tahun 1535, di Brescia, Angela mendirikan Compagnia di Sant’Orsola, sebuah komunitas perempuan yang revolusioner untuk zamannya. Para anggota tidak hidup terpisah dari dunia, melainkan tinggal di rumah masing-masing, bekerja, dan hadir dalam masyarakat. Fokus utama mereka adalah pendidikan dan pendampingan kaum muda, khususnya anak-anak perempuan, sebuah perhatian yang pada abad ke-16 masih dianggap pinggiran.

Keberanian Angela bukan terletak pada sikap konfrontatif, melainkan pada kebijaksanaan yang jernih. Ia membaca tanda-tanda zaman dengan kepekaan rohani. Ia tidak menentang struktur secara frontal, tetapi menghadirkan alternatif cara hidup yang perlahan mengubah wajah Gereja dan masyarakat. Angela wafat pada tahun 1540, namun benih yang ia taburkan tumbuh lintas abad dan benua, hingga hari ini hidup dalam karya pendidikan Ursulin di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

 

Spiritualitas yang Mengakar pada Kemanusiaan

Salah satu alasan mengapa St. Angela Merici tetap relevan adalah karena  spiritualitasnya berakar kuat pada kemanusiaan konkret. Ia tidak membangun spiritualitas yang melangit dan terpisah dari realitas, melainkan spiritualitas yang berjalan kaki di tanah kehidupan sehari-hari. Dalam Spiritual Testament-nya, Angela menulis dengan nada seorang ibu, pendamping, dan pendidik, bukan sebagai penguasa rohani.

 Ia mengingatkan para pemimpin komunitasnya:

“Jagalah agar setiap orang merasa diperhatikan dan dikasihi.”

 

Kalimat sederhana ini menyimpan kebijaksanaan mendalam. Angela memahami bahwa pendidikan, komunitas, dan kepemimpinan hanya akan bertahan bila dilandasi relasi yang manusiawi. Di zaman modern, ketika pendidikan sering terjebak dalam target, angka, dan capaian administratif, pesan ini menjadi cermin kritis. Pendidikan sejati bukan pertama-tama soal kurikulum, melainkan soal perhatian dan kasih.

 

Pendidikan sebagai Jalan Kasih

 Bagi Angela, pendidikan adalah jalan kasih. Ia melihat setiap pribadi sebagai ciptaan Allah yang unik dan berharga. Maka, tugas pendidik bukan membentuk manusia seragam, melainkan membantu setiap orang bertumbuh sesuai panggilannya. Dalam salah satu nasihatnya, Angela berkata:

“Perhatikanlah dengan bijaksana tabiat dan keinginan masing-masing.”

Prinsip ini terasa sangat selaras dengan semangat pendidikan masa kini, pendidikan yang  menekankan diferensiasi dan penghargaan terhadap potensi peserta didik. Namun, Angela telah menghidupi prinsip itu berabad-abad sebelumnya, bukan sebagai konsep pedagogis, melainkan sebagai sikap hati.

 Dalam konteks Ursulin Indonesia, nilai ini hidup dalam ruang-ruang kelas, perpustakaan, dan komunitas belajar. Sebagai pendidik, kita sering berjumpa dengan anak-anak yang tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga pengakuan, pendampingan, dan harapan. Spirit Angela mengajak pendidik untuk hadir sepenuhnya dengan mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang terbuka.

 

Kepemimpinan yang Membesarkan

 Angela Merici menawarkan model kepemimpinan yang jauh dari dominasi. Ia menulis kepada para pemimpin komunitasnya:

“Pimpinlah bukan dengan kekerasan atau keangkuhan, melainkan dengan kelembutan dan kasih.”

 Kepemimpinan, bagi Angela, adalah tugas membesarkan kehidupan, bukan menguasai. Ia percaya bahwa otoritas sejati lahir dari keteladanan dan kepercayaan. Dalam dunia modern yang sering memuja kepemimpinan keras dan cepat, pendekatan Angela terasa kontra-arus, tetapi justru itulah kekuatannya.

 Di lingkungan sekolah, gereja, dan komunitas, kepemimpinan ala Angela mengingatkan kita bahwa keputusan yang bijaksana lahir dari proses mendengarkan. Bahwa perubahan yang bertahan lama tidak dipaksakan, melainkan ditumbuhkan. Kepemimpinan semacam ini memang tidak spektakuler, tetapi menciptakan ruang aman bagi pertumbuhan.

 Perempuan, Dunia, dan Kebebasan Batin

 Sebagai perempuan abad ke-16, Angela Merici mengambil posisi yang unik. Ia tidak melawan dunia, tetapi juga tidak larut di dalamnya. Ia memilih kebebasan batin: bebas untuk mengasihi, bebas untuk melayani, bebas untuk setia pada suara Tuhan. Dengan membiarkan para anggotanya tetap hidup di tengah masyarakat, Angela seakan berkata bahwa kekudusan tidak harus menjauh dari dunia, melainkan justru hadir di dalamnya.

 Pesan ini sangat relevan bagi perempuan masa kini: ibu rumah tangga, guru, pekerja, pengusaha, atau aktivis yang sering bergumul antara panggilan iman dan tuntutan realitas. Angela menunjukkan bahwa keseharian bukan penghalang bagi kekudusan, melainkan medan perjumpaan dengan Allah.

 

Kelembutan sebagai Kekuatan

 Salah satu ciri paling menonjol dari spiritualitas Angela adalah penekanannya pada kelembutan. Ia menasihati:

“Dalam segala hal, bertindaklah dengan kelembutan.”

 Kelembutan, dalam pemahaman Angela, bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan yang mampu bertahan, menyembuhkan, dan membangun. Di tengah dunia yang keras, penuh polarisasi, dan mudah tersulut emosi, kelembutan menjadi tindakan profetis-kenabian. Ia menuntut keberanian untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi ketergesaan dengan kesabaran.

 Bagi pendidik dan pelayan Gereja, kelembutan ini menjadi napas panjang dalam menghadapi keletihan, konflik, dan kerapuhan manusia. Ia menjaga agar pelayanan tidak berubah menjadi rutinitas kering, tetapi tetap menjadi ruang kasih yang hidup.

 

Warisan yang Terus Menyala

St. Angela Merici tidak meninggalkan warisan  bangunan megah atau sistem besar yang kaku. Ia meninggalkan cara hidup. Warisannya hidup dalam setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih: ketika seorang guru memilih mendengarkan muridnya, ketika seorang pemimpin memberi ruang bagi pertumbuhan, ketika sebuah komunitas bertahan dalam kesetiaan sehari-hari.

 Itulah sebabnya Angela tidak lekang dimakan zaman. Ia tidak terikat pada konteks tertentu, karena ia menyentuh inti kemanusiaan. Dalam dunia yang terus berubah, spirit St. Angela Merici tetap menjadi kompas batin: mengingatkan bahwa kesetiaan kecil, bila dijalani dengan cinta dan kebijaksanaan, akan terus menyala melampaui waktu. (Perayaan Pesta St. Angela Merici Tahun 2026-Christina Enung Martina)

 

# # #

Daftar Pustaka

Buser, M. (2007). Angela Merici: A biography. Rome: Institutum Historicum Societatis Iesu.

Cooman, D. L. (2010). Angela Merici: Selected writings. Chicago, IL: Ursuline Institute.

Graham, E. (2002). Women, spirituality and leadership: The legacy of Angela Merici. London: Continuum.

McNeil, B. (1996). The Ursulines: A women’s history. Collegeville, MN: Liturgical Press.

Merici, A. (1993). The complete spiritual writings of Angela Merici (D. L. Cooman, Trans.). New York, NY: Paulist Press.


# # #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar