Refleksi Natal 2025 dan Tahun Baru 2026
Natal selalu datang dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah bertanya apakah dunia sedang baik-baik saja. Ia hadir justru ketika keadaan rapuh, hati lelah, dan banyak hal terasa tidak pasti. Natal 2025 pun demikian. Ia hadir setelah setahun yang berat, tahun yang dipenuhi bencana, kehilangan, kecemasan akan masa depan, dan pergulatan hidup di banyak keluarga, termasuk keluarga kami sendiri.
Kali ini keluarga kami merayakan Misa Natal di Gereja Maria Putri Murni Sejati, Cisantana, Kuningan, Jawa Barat. Misa yang sederhana, tetapi khidmat. Sesuai dengan tema Natal tahun ini, kami merayakan Natal bersama keluarga. Natal 2025 hadir di tengah dunia yang belum sepenuhnya pulih dan keluarga-keluarga yang masih berjuang dalam berbagai bentuk kerapuhan. Tahun yang kita lalui menyisakan kelelahan, kecemasan, dan banyak pertanyaan tentang masa depan. Namun justru di situlah kabar Natal menemukan maknanya yang paling dalam: Allah tidak menjauh dari keluarga yang terluka dan tidak sempurna, melainkan hadir di tengahnya. Dengan merayakan Natal, kita diingatkan bahwa keselamatan Allah bermula dari ruang paling dekat dengan hidup kita, keluarga, tempat kasih diuji, pengharapan dipelihara, dan iman dijalani dalam keseharian yang sederhana namun nyata.
Tema Natal tahun ini, “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga,” terasa begitu dekat dan personal. Bukan karena keluarga kami sempurna, melainkan justru karena kami menyadari betapa rapuhnya kami sebagai keluarga. Ada kekhawatiran, kelelahan, luka yang belum sepenuhnya sembuh, serta doa-doa yang belum menemukan jawabannya. Namun, di situlah Natal menemukan maknanya yang terdalam.
Allah tidak hadir dalam keluarga yang ideal, rapi, dan tanpa masalah. Ia hadir dalam keluarga yang sederhana, bahkan rentan. Kelahiran Yesus sendiri terjadi di tengah keterbatasan. Maria dan Yusuf bukan keluarga yang aman dan mapan. Mereka keluarga yang cemas, terancam, dan harus mengungsi demi menyelamatkan Anak mereka.
“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.”
(Lukas 1:31)
Nama Yesus berarti Allah menyelamatkan. Sejak awal, keselamatan itu bukan konsep besar yang jauh, melainkan nyata dan dekat—hadir dalam sebuah keluarga kecil di Nazaret, dalam pelukan seorang ibu, dalam tanggung jawab seorang ayah.
Sepanjang tahun 2025, kita melihat begitu banyak keluarga diuji: kehilangan rumah karena bencana, kehilangan pekerjaan, kehilangan anggota keluarga, atau sekadar kehilangan rasa aman. Dalam pengalaman-pengalaman itu, saya belajar bahwa keluarga bukan hanya tempat berbagi sukacita, tetapi juga ruang paling jujur untuk menangis dan berharap. Dan di sanalah Allah memilih untuk hadir.
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”
(Yohanes 1:14)
Allah tidak menyelamatkan dari kejauhan. Ia “diam di antara kita.” Ia tinggal di tengah meja makan yang sederhana, di percakapan yang kadang sunyi, di doa-doa yang terbata-bata, bahkan di keheningan ketika kata-kata tak lagi cukup. Natal mengingatkan saya bahwa kehadiran Allah sering kali tidak spektakuler, tetapi setia.
Sebagai orang tua, sebagai pasangan, sebagai anggota keluarga, saya menyadari bahwa menyelamatkan keluarga bukan berarti menghilangkan semua masalah. Keselamatan sering kali berarti diberi kekuatan untuk tetap saling mengasihi meski tidak selalu saling memahami. Diberi kesabaran untuk bertahan ketika ingin menyerah. Diberi harapan ketika masa depan terasa kabur.
“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
(Mazmur 34:19)
Ayat ini menjadi penghiburan yang nyata. Allah hadir bukan hanya dalam keluarga yang kuat, tetapi justru dalam keluarga yang sedang berjuang. Ia menyelamatkan bukan dengan menghapus luka seketika, melainkan dengan menemani proses penyembuhan.
Memasuki Tahun Baru 2026, harapan saya sederhana: semoga keluarga kami—dan keluarga-keluarga di Indonesia tetap menjadi tempat pulang yang aman. Tempat belajar mengampuni, bertumbuh, dan saling menopang. Dunia boleh semakin keras, tetapi keluarga harus tetap menjadi ruang di mana kasih Allah dapat dialami secara konkret.
Tahun baru sering identik dengan resolusi dan rencana besar. Namun, Natal mengajarkan bahwa hal-hal besar sering bertumbuh dari kesetiaan pada yang kecil: doa bersama, mendengarkan dengan sungguh, hadir sepenuhnya bagi satu sama lain. Jika Allah memilih keluarga sebagai jalan keselamatan-Nya, maka merawat keluarga berarti ikut ambil bagian dalam karya keselamatan itu sendiri.
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”
(Lukas 2:19)
Seperti Maria, kita diajak menyimpan dan merenungkan kehadiran Allah dalam keseharian keluarga kita dalam suka dan duka, dalam tawa dan air mata. Natal 2025 menjadi undangan untuk percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan rumah-rumah kita.
Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Semoga di setiap keluarga, Allah sungguh hadir: menyembuhkan, menguatkan, dan menyelamatkan.
Ch. Enung Martina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar