Jumat, 10 September 2010

LIBURAN TELAH USAI

Sudah setahun aku terbiasa dengan ketakberadaannya secara fisik di rumah ini, ternyata ketika ia kembali ke rumah ini suasana berubah menjadi kembali ramai dan heboh. Rumah terasa lebih ribut dan sibuk. Ada saja bahan pembicaraan dari hal-hal sepele hingga hal-hal menyangkut kehidupan dan masa depannya.
Sebulan ia berada di rumah ini untuk berlibur (libur musim panas). Waktu sebulan begitu cepat berlalu, ternyata sudah tiba saatnya untuk dia kembali ke kampusnya, ke asramanya, kepada teman-temannya, ke kehidupan nyata dia yang sedang dijalaninya.
Kembali ia meninggalkan rumah ini dengan doa seluruh keluarga, dengan air mata, dengan seribu pesan, dan juga harapan. Dan hatiku masih sama : gundah dan berdarah ketika ia kembali harus meninggalkan rumah ini. Meski setahun aku sudah merasakan dan membiasakan diri untuk menyadari ketakberadaannya secara fisik di rumah ini, tetap saja aku belum terbiasa dengan kepergiannya kembali. Barangkali akan terus seperti itu.
Kala aku mengingat masa dia bocah, aku memeluk, menggendong, dan memilikinya.
Kini di tanganku sekarang ada juga orok lain yang aku peluk dan aku dekap seperti aku mendejap dan memeluknya.
Ketika aku memandang dia yang sudah tumbuh menjadi gadis berusia 19 tahun, aku tetap merasakan kasih yang mengalir dari hatiku seperti kala dia masih orok. Dengan telaten ia mengasuh adik bayinya. Setiap ada kesempatan dia akan mencium pipi montok adik bayinya dengan penuh kegemasan. Setiap saat adiknya mengencinginya, ia akan tetap berteriak. Hingga kembali ia kembali ke asramanya, ia tetap tak berani untuk membersihkan adik bayinya saat berak.
Itulah anak perempuanku, Metta, yang baru pulang berlibur dan sekarang sudah kembali ke kehidupan kampusnya yang jauh dari bau ompol dan bau bedak adiknya. Aku yakin ia akan merindukan bau khas dari adik bayinya : yaitu perpaduan antara bau minyak telon, bedak, shampoo bayi, bau asam susu, dan bau ompolnya. Itu adalah bau yang khas yang sukar ditemukan. Bau itu yang membawa dia akan selalu merindukan adik bayinya. Demikian juga hawa dan debu rumah kmi yang mungil akan tetap ia rindukan sehingga ia akan selalu pulang entah seberapa jauh ia pergi merantau.
Dan aku, ibunya, akan tetap merindukannya dari waktu ke waktu. Menunggu lagi kapan liburan akan terjadi dan dia bisa kembali pulang ke rumah ini dengan sejuta cerita yang mengisahkan hidupnya di luar sana. Aku selalu bangga menjadi ibunya. Aku selalu yakin bekal yang aku berikan selama ini cukup untuk melalui sejuta tantangan dalam hidupnya. Doa yang aku daraskan tak pernah putus akan terus menghubungkan aku, dia, dan juga Sang Pencipta. Aku tahu dari ceritanya tantangan macam apa yang dia hadapi. Aku akan lagi mengalami perasaan ditinggalkan oleh anakku yang kedua ketika tiba waktunya untuk mengembara di luar sana mendapatkan hidup yang sudah digariskan Ilahi. Demikian juga dengan anakku yang ketiga yang sekarang masih bayi berusia 52 hari. Suatu hari nanti dia akan juga pergi meninggalkan rumah untuk merenda hidupnya. Begitulah hidup, segalanya terus berubah dari waktu ke waktu. Tak ada yang abadi.

Lebaran ke-2 (11 September 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar