Minggu, 16 Februari 2020

JEJAK LANGKAH 32


St. Peter Gallicantu

Kata Gallicantu berasal dari Bahasa Yunani yang artinya “kokok ayam”. Sehingga St. Peter Gallicantu mendekatkan pada peristiwa kisah dalam Al Kitab saat St. Petrus menyangkal Yesus. Pada penyangkalannya yang ketiga, terdengar kokok ayam jantan. Gereja ini sering pula disebut Gereja Ayam Berkokok.  

Gereja St. Peter Gallicantu adalah salah satu diantara Gereja-gereja di Holyland yang mengandung kisah tersendiri. Gereja ini dulunya merupakan Istana Imam Besar Kayafas dan juga dikenal karena merupakan tempat peristiwa Petrus menyangkal Yesus.


Setelah peristiwa penangkapan yang dramatis diselingi peristiwa putusnya telinga Malkhus, hamba Imam Besar karena tebasan pedang Simon Petrus (Yoh. 18:10)– di taman Getsemani, Yesus dibawa kepada Hanas, mertua Imam Besar Kayafas. Setelah itu barulah Yesus dibawa ke rumah Imam Besar Kayafas dengan keadaan terbelenggu untuk diadili dengan pengadilan yang telah direkayasa para pemimpin agama.

Pada saat itulah terjadi peristiwa yang begitu menyesakkan. Petrus menyangkal bahwa ia mengenal Yesus. Padahal belum lama berselang, ia menyatakan tekadnya untuk membela Yesus (Mat. 26:33, Mrk. 14:29). Tidak heran penyangkalan ini membuatnya menangis dengan sedih.

Jauh sebelumnya Yesus telah memperingatkan murid-muridNya di bukit Zaitun mengenai rencana penangkapan-Nya. Demikian hebatnya peristiwa itu sehingga Yesus menggunakan kalimat, “Malam ini kamu semua tergoncang imannya karena Aku.” Tentu saja para murid kaget termasuk Petrus. Serta-merta murid Yesus yang temperamental ini menimpali, “Sekalipun mereka semua tergoncang iman-Nya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Sungguh gagah perkasa perkataan itu. Entah lahir dari hati nurani yang murni atau emosi belaka, sang murid mencoba meyakinkan gurunya bahwa apapun yang terjadi, bahkan sekalipun taruhannya nyawa, dirinya tidak akan tergoncang dan tidak akan meninggalkan gurunya. Seakan menyampaikan pesan profetik, Yesus mengatakan kepada Petrus, bahwa, “Malam ini sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Setelah dikhianati dan ditangkap di Taman Getsemani, Yesus di bawa ke istana Imam Besar Kayafas. Disitulah Dia tinggal sisa malam itu dan di situ pulalah Dia diadili untuk pertama kalinya (Matius 26,57-63 ; Markus 14,53-65 ; Lukas 22,63-71 ; Yohanes 18,12-14). Berdasarkan hasil penggalian arkeologis & cerita tradisi tersebut di atas, yaitu bahwa gereja itu berdiri di tempat di mana dulu istana Kayafas berdiri, dapat dipastikan kebenarannya.


Maka tidak heran, di puncak atap kubah gereja ini, dipasang patung ayam jantan yang melambangkan peristiwa tersebut. Petrus pada akhirnya menyangkal sang guru ketika orang-orang yang berkerumun di tempat itu mengenalinya sebagai salah seorang pengikut-Nya. Takut ikut ditangkap dan dihukum, keluarlah perkataan penyangkalan dari mulut Petrus, “Aku tidak mengenal orang itu.” Tiga kali maksud itu diutarakan pada orang yang berbeda menjelang pagi waktu setempat. Ayam jantan berkokok ! Sesaat setelah menyadari suara kokok ayam jantan itu, Petrus sadar bahwa apa yang dikatakan gurunya, tidak meleset.

Ayam jantan itu bukan sekedar patung hiasan demi mengenang penyangkalan Petrus semata. Patung itu adalah momumen yang mengingatkan setiap gerenasi di dalam kekristenan bahwa di manapun dan kapanpun seseorang diperhadapkan pada kepentingan dan keegoisan, atau keselamatan dirinya, takbiat Petrus akan terulang di dalam diri seseorang. Penyangkalan adalah sebuah usaha dengan sengaja mengingkari kebenaran demi menyelamatkan diri dan kepentingan pribadi. Usaha ini tentu saja menyudutkan atau mengorbankan orang lain dan membiarkannya menanggung sendiri hukuman yang ada.

Gereja ini letaknya di sebelah timur lereng Gunung Zion, di luar kota lama Yerusalem. Gereja ayam berkokok ini dibangun pada zaman Bizantium sekitar tahun 457 SM. Seperti pada umumnya, Gereja di tanah suci (Holyland) memiliki identitas khas di pintu dan atapnya. Di pintu gerbang masuk gereja St. Peter Gallicantu tertulis Ecclesia Catholica Sancti Petri in Gallicantu. Di bagian puncak atap kubahnya ada salib yang di atasnya dipasang patung ayam jantan.


Kedua ciri itu menegaskan bahwa tempat tersebut berkaitan dengan Petrus, seorang murid Yesus, yang pernah tiga kali menyangkal gurunya, demi menyelematkan dirinya sendiri. Gereja itu diyakini sebagai bekas rumah Kayafas yang ditandai dengan sejumlah bukti arkeologis berupa kamar bawah tanah tempat tahanan, lapangan, satu set takaran Ibrani yang hampir lengkap, kamar tidur para budak dan di atasnya sisa sisa bangunan bangunan gereja Byzantine. Di kiri bangunan itu juga ditemukan tangga kuno dari batu yang diyakini seumur dengan masa Kristus melayani di dunia. Sebagaimana kesaksian Alkitab, di tempat itulah, Yesus pertama kali dihakimi.

Setelah sempat hancur karena invasi pasukan Islam pada tahun 1010, Gereja Ayam Berkokok ini direnovasi oleh para Ksatria Perang Salib pada tahun 1102. Namun sayang, bangunan ini kembali hancur pada tahun 1320, dan baru pada tahun 1931 para Biarawan Asumsion membangun ulang tempat ini.

Dari gereja ayam berkokok ini para peziarah dapat melihat seluruh Lembah Kidron, Kota Daud, dan Siloam. Di halaman gereja terdapat sebuah patung yang menggambarkan peristiwa penyangkalan Petrus dengan sebuah prasasti yang berisi kutipan dari Lukas 22:57, “But he denied him, saying: ‘Woman, I know Him not.’” Tak jauh dari situ terdapat dua mozaik dari zaman Bizantium yang ditemukan saat dilakukan penggalian oleh para arkeolog.



Di halaman Gereja terdapat patung Petrus dengan prajurit Romawi dan wanita. Ada tulisan "Non Novi Illum" yang berarti "saya tidak kenal dia". Diyakini di tempat inilah Petrus pernah menyangkal Yesus 3 kali sebelum ayam berkokok.

Sebelum memasuki gedung, kita akan mendapati gambar mozaik Yesus yang sedang diinterogasi di Istana Kayafas. Di sebelah kanannya ada mozaik Perjamuan Makan Malam Terakhir (The Last Supper), dan mozaik Petrus dalam pakaian Paus kuno di sebelah kirinya.

Yang paling mengesankan adalah hiasan di langit-langit ruangan yang didominasi sebuah salib besar berbentuk jendela dirancang dalam berbagai warna. Ini tidaklah mengherankan, sebab bangunan ini menggabungkan beberapa macam model struktur sehingga menghasilkan kombinasi yang unik.

Di sebelah gereja terdapat tangga batu (holy stairs) yang telah berumur lebih dari 2.000 tahun. Jalur tangga ini mengarah ke lembah Kidron. Karena Istana Kayafas terletak di dalam tembok kota, sangat mungkin bahwa Yesus telah berjalan di atas tangga batu itu dalam perjalanan menuju kediaman Kayafas. Jalanan tangga batu pada saat ziarah saya yang pertama masih boleh dipakai jalan. Namun, kini ditutup. Hal ini bertujuan untuk mememlihara situs berharga ini. 

Pada bagian bawah Gereja Ayam Berkokok ini terdapat sebuah ruang bawah tanah yang menurut tradisi adalah penjara Yesus selama satu malam dimana Yesus dipenjarakan sementara untuk dibawa ke Mahkamah Agama esok harinya dengan cara dimasukkan melalui lubang sempit menggunakan tali. Para peziarah biasanya melakukan doa dan pujian pada ruangan bawah tanah ini.



Ruang bawah tanah  dipercaya sebagai ruang di mana Yesus ditahan sebelum diadili. Ruang tersebut ramai dikunjungi, dan sering dipakai untuk doa bersama oleh para peziarah. Terasa sangat sakral dan ada keheningan bawah tanah yang terasa di ruangan itu.

St. Peter Gallicantu merupakan bangunan gereja yang menyimpan tradisi tentang awal penderitaan Yesus seperti pada kisah Injil.   Ruang bawah tanah ini menurut tradisi merupakan  tempat Yesus menunggu ketika para dewan agung bersidang. Tempat itu dulu adalah semacam tempat penampungan air atau seperti sumur kering. Saya pribadi membayangkan kegelapan, kedinginan, perasaan kesepian, ketakutan, dan perasaan sedih Yesus yang ditahan sendiri manakala murid-muridNya kabur entah ke mana.  Ruangan bawah tanah ini suasananya sungguh membuat kita menjadi sangat terharu. Sungguh suatu pengalaman sangat berkesan untuk mengenangkan penderitaan fisik dan batin Yesus sebelum dihukum mati.

Di sini banyak petunjuk yang  menunjukkan keaslian tempat ini sebagai situs rumah Kayafas. Jalan tangga batu yang tadi disebutkan di atas  merupakan salah satu jalan penghubung dari Lembah Kidron menuju Kota Lama, Yerusalem. Lembah Kidron sendiri merupakan lembah yang menghubungkan dengan Taman Getseani dan Bukit Zaitun.  Jalur perjalanan  ini merupakan alur kisah Minggu Palem yang Yesus  alami pada hari sebelum Ia ditangkap di Taman Getsemani. Dari Getsemani ia dibawa ke Rumah Imam Kayafas. Ya bila membaca kisah Injil jalan yang dilalui untuk ke rumah Kayafas ya ke jalan tanjakan berbatu di samping gereja ini.

Pintu masuk gereja ini diapit oleh pintu-pintu besi tempa yang dilapisi dengan relief-relief dasar alkitabiah. Di sebelah kanan adalah dua mosaik era Bizantium yang ditemukan selama penggalian, ini kemungkinan besar adalah bagian dari lantai kuil abad ke-5. Tempat kudus utama berisi mosaik-mosaik besar berwarna-warni yang menggambarkan angka-angka dari Perjanjian Baru.


Di tempat ini  fitur yang paling mencolok dari interior adalah langit-langit, yang didominasi oleh jendela berbentuk salib besar yang dirancang dalam berbagai warna. Keempat belas Stasi Salib juga melapisi dinding dan ditandai dengan salib sederhana.

Banyak orang meyakini bahwa legenda adalah soal kemenangan. Di dunia ini, manusia berlomba menjadi legenda dengan menjadi nomor satu dalam banyak hal. Mulai dari seni, olah raga, politik dan hal-hal material lainnya. Tetapi sejatinya, Yesus menjadi legenda bukan mengejar kemenangan. Hal yang lebih esensi di dalam pengorbanan-Nya di atas salib adalah berjuang menegakkan kebenaran sekalipun menghadapi resiko terbesar, kehilangan nyawanya. Dia memberikan nyawanya bukan untuk menyakiti atau mengorbankan nyawa orang lain. Perjuangan yang dilakukan bukan dengan jalur kekerasan. Juga bukan dengan menyandera orang lain, membajak pesawat atau mengangkat senjata.


Yesus berjuang dengan kasih dan karena kasih. Itulah sebabnya gereja St. Peter Gallicantu menjadi ingatan bagi kita di generasi sekarang bahwa ada kasih terbesar yang pernah dinyatakan di tempat itu, yang berbeda dengan cara-cara dunia atau yang akhir-akhir ini kita lihat dari orang-orang yang memperjuangkan keyakinannya dengan radikal. Yesus dan perjuanganNya termasuk radikal tetapi di sudut yang berlawanan. Dia melakukannya dengan kasih ! Seharusnya, perjuangan radikal kasih  yang mewarnai kehidupan kita ini di bumi agar tercipta damai sejahtera.

 ( Sumber: www.seetheholyland.net. insighttour.id,  www.efrattour.com, Wikipedia.org)
(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar