Selasa, 13 Oktober 2015

MULUTMU HARIMAUMU

Ungkapan di atas bahkan ada yang memodifikasi menjadi: mulutmu harimaumu, kata-kata bumerangmu. Karena mengingat perkembangan teknologi gajet, bahkan ada yang menambahkan menjadi : mulutmu, jemari, dan jempol harimaumu.  Apa pun tambahannya yang jelas maknanya tetap sama mengacu kepada peringatan untuk berhati mengeluarkan kata-kata.

Ini sebuah kasus kematian yang bermula karena jahatnya kata-kata:
Caci Maki Berujung Maut (Kompas, 9 Februari 2009)
Tak tahan dan sakit hati karena sering dicaci maki dengan kata-kata kotor oleh isterinya, seorang suami tega mendalangi pembunuhan isterinya tersebut. Peristiwa yang terjadi di wilayah hukum Polres Cilegon ini, rupanya bukanlah peristiwa yang pertama. Sebelumnya, pada pertengahan April 2008, pernah terjadi juga seorang suami menganiaya isteri dan anak tirinya hingga tewas lalu memasukkan mayat keduanya ke dalam drum dan kemudian dikubur begitu saja di bawah lantai dapur rumah mereka. Alasannya? Si suami sudah tak tahan lagi mendengar caci maki sang isteri yang sering marah-marah karena penghasilan suaminya sebagai tukang ojek dianggap minim.

Semuanya berawal dari mulut dan lidah... Sebab dalam Al Kitab tertulis:

Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan. (Amsal 13:3).

Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya. (Amsal 18:7).

Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran. (Amsal 21:23).

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. (Amsal 18:21).

Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati. (Amsal 15:4).

Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. (Mat. 15:18).


Yakobus 3:5a:
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota yang kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara besar.”


Berapa banyak kita mengalami sakit hati karena ucapan seseorang kepada kita?
Berapa sering kita merancang pembalasan untuk membuat orang lain sakit hati atas kata-katanya kepada kita? Saya yakin semua orang mengalaminya. 


Dengan lidah (kata-kata) kita memuji Tuhan, dengan lidah kita memuji orang, dengan lidah kita bisa menjunjung tinggi nilai Kebenaran, dengan lidah kita bisa menghianati kebenaran, dengan lidah kita mampu memunculkan yang tidak ada menjadi ada dan dengan lidah pula kita mampu menciptakan kerusuhan atau perdamaian.

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia ( Efesus 4:29). Karena komunikasi verbal memanfaatkan kekuatan kata. Kata – kata membentuk realitas, sehingga mengandung kekuatan yang luar biasa. Seseorang dapat mengubah persepsi orang lain tentang realitas dengan pilihan kata – kata yang digunakan.

Mulut adalah media untuk mengartikulasikan segala yang ada dalam hati. Ucapan merupakan cerminan dari hal tersebut. Ungkapan pikiran dan hati, dengan media apapun tentu mempunyai tujuan yaitu dapat dibaca dan diketahui banyak orang. Sebab “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik , ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu” (1 Petrus 3 : 10 ).

Pepatah "mulutmu harimaumu" mengajarkan kepada kita bahwa perkataan yang keluar dari mulut ini harus kita kendalikan. Jika tidak, perkataan itu menjadi 'galak' seperti harimau yang bisa menerkam balik kita. Mulut adalah media untuk mengartikulasikan segala sesuatu yang ada di dalam pikiran dan hati. Oleh karena itu, pepatah ini ingin mengajarkan kepada kita untuk selalu mengendalikan mulut kita.

Raja Daud berkata : Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! (Mazmur 141:3).  Pemazmur mengajarkan kepada kita, bahwa untuk menyaring perkataan yang keluar dari mulut kita, tidak cukup dengan usaha sendiri, melainkan dengan berdoa. Berdoa adalah perlawanan yang paling tepat terhadap perkataan yang kotor dan jahat. Dalam doanya pada waktu petang, Daud berseru kepada Tuhan, meminta Tuhan melindungi dan memampukannya untuk hidup bagi kemuliaan-Nya. Permohonan ini begitu penting sehingga Daud berharap agar Tuhan menolongnya dalam pergumulan melawan berbagai bentuk pencobaan. Ia meminta Allah mengontrol perkataan, pikiran, dan tindakannya.

Saya membaca dari sebuah sumber yang entah apa judulnya,  bahwa Mao Tse Tung dulunya adalah seorang anak sekolah minggu, tetapi karena guru sekolah minggunya suatu kali mengatai dia sebagai ‘anjing kuning’, ia lalu meninggalkan gereja dan menjadi komunis. Ia membawa banyak orang menjadi komunis yang anti kristen. Hikmah apa yang kita pelajari dari kisah nyata ini? 

Bagi saya yang seorang guru, atau lebih kerennya pendidik, menyatakan bahwa saya harus mengendalikan kata-kata saya saat saya ucapkan kepada anak didik saya. Kata-kata seorang guru bisa membawa berkat, tetapi juga bisa membawa laknat.

Namun, hal itu tidak hanya berlaku untuk guru saja. Untuk siapa pun  ungkapan ini berlaku.
Mulut menjadi bumerang, apa yang keluar dari mulut akan kembali lagi. Baik secara interpersonal (relasi dengan orang lain)  maupun intrapersonal (relasi dengan diri sendiri). Akibat kata-kata secara interpersonal mungkin lebih mudah dirasakan dan diamati,  misalnya relasi kekeluargaan atau pertemanan  jadi renggang. Namun, akibat kata-kata untuk intrapersonal apakah benar bisa terjadi? Perhatikan saja jika kita mulai mengata-ngatai diri sendiri dengan hal-hal negatif, misalnya marah atau mengeluh.  Akibatnya bagi diri kita menjadi tidak bersemangat dan tmbah emosional. Mungkin kita pernah mendengar ada orang mengatakan: Dulu dia menghina saya, sekarang yang dia katakan pada saya (hinaan) dulu, dialaminya.  Itu contoh bahwa kata-kata menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.

Kita sudah mengetahui, betapa hebatnya dampak dari ketidak waspadaan kita terhadap ucapan-ucapan lidah yang sembrono. Marilah kita melatih diri untuk mengendalikannya. Bukan dengan kekuatan kita, tetapi dengan kekuatan Tuhan yang Agung, yang kita kenal dalam nama Tuhan Yesus, Penebus dan Penyelamat kita. (Ch. Enung Martina)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar