Rabu, 02 Maret 2022

BERMEDITASI SAAT TERKENA OMIKRON


Berdasarkan gejala dan tes kesehatan pada tanggal 24 februari 2022, saya  terbukti terinfeksi Omicron. Sebetulnya gejala dalam tubuh saya yang berbeda sudah saya rasakan sejak sabtu, 19 Februari 2022. Saat itu saya menganggap flu biasa. Karena itu, saya menunggunya sampai  beberapa hari. Dalam keadaan itu, saya sudah memakai masker di rumah dan tidak berdekatan dengan anggota keluarga.


Akhirnya  hari keempat, saya pergi untuk tes pcr di St. Carolus Gading Serpong. Ternyata saya dinyatakan positif. Untuk pengalaman ini sudah saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya. (https://ursaminorblog.blogspot.com/2022/02/disambangi-omikron.html) Hati ketar-ketir dan galau pasti ada lah. Masa terkena covid saya tenang-tenang saja. Pastinya ya tidak baik-baik saja. 


Namun, saya berhasil melewati pengalaman buruk tersebut dan kini membagikan pengalaman saya saat menghadapi Omikron. 


Selain saya makan dan minum makanan sangat bergizi, juga minum obat, saya juga melakukan ritual jemuran di meja kerja saya yang jendelanya saya buka lebar-lebar sehingga matahari dan udara segar masuk menampar ke diri saya. Setiap hari saya kena paparan matahari langsung dari jendela tersebut. 


Satu hal lagi yang saya lakukan adalah saya berdoa dan bermeditasi. Kalo berdoa mah pasti lah semua orang juga berdoa (yang percaya pastinya). Namun, selain berdoa saya melakukan ritual harian saya yaitu meditasi. Meditasi saya tiap hari dilakukan minimal 15 -30 menit, waktunya bebas sesuai luangnya, biasanya sore atau malam. O, ya meditasi yang saya jalani adalah Meditasi Zhen Qi. 


Meditasi itu sebetulnya kan kegiatan diam, hening, untuk merasa-rasa tubuh kita. Kuncinya adalah “merasakan” apa yang kita rasakan dan menyadari apa yang kita rasakan. 


Jadi, itulah yang saya lakukan : meditasi. Saat saya bermeditasi pada hari pertama saya terkena Omikron (kala itu belum yakin kalau itu Omikron), hal yang saya rasakan adalah terasa lebih berat daripada saat saya meditasi saat keadaan normal. Perasaan berat itu terutama pening di kepala sebelah kanan, dan di tengan kepala. Selain itu juga terasa kencang di bagian leher dan bagian pundak. 


Meditasi di hari ke-2 terkena Omikron reaksinya sangat mengenaskan karena sepanjang meditasi saya mengerang. Aduhhhh,.... emmmh…., aduhhhh. Erangan itu tidak saya rekayasa, dirancang, dan dibuat-buat. Itu benar-benar erangan yang keluar dengan sendirinya. Saat saya bermeditasi saya tetap fokus pada tantien bawah pastinya. Puji Tuhan, air liur saya banyak, sambil mengerang sambil menelan ludah.


Hari ketiga saya terkena Omikron,  bermeditasi saya lakukan seperti biasanya. reaksi tubuh saya, masih mengerang, tetapi tidak sekeras di hari kedua. sensasi tubuh saya panas di leher, kepala, dan punggung. Yang terasa panasnya sekali adalah di leher. Saat itu air liur kurang, jadi saya bantu dengan minum air hangat. 


Meditasi hari keempat saya sebagai orang yang terpapar Omikron terus berlanjut. Saat hari keempat mulut saya pahit sekali. Yang sungguh lagi saat hari keempat adalah mlut saya kembali monyong-monyong. Lidah saya bergerak sendiri seperti sedang membersihkan kotoran di sela-sela gigi. bahkan mulut saya berkumur-kumur sendiri. Hari keempat saya tambahkan porsi waktu meditasi saya lebih dari 30 menit, sekitar 40 menitan. Air liur hari keempat banyak, sampai bisa berkumur-kumur🤭🤭🤭. 


Pada hari kelima saya terkena Omikron, meditasi saya sudah lebih normal lagi sensasi tubuhnya. Hanya ada sisa pening di kepala bagian tengan dan mata sebelah kiri agak pegal. saya menduga pada hari keempat yang saya mengalami monyong-monyong dan berkumur-kumur itu mendatangkan kebaikan ke tubuh saya. hari keempat masih tersisa pahit di mulut dan batuk berdahak, tapi tidak intens. 


Hari keenam, saya terus bermeditasi, tapi agak sedikit meditasinya karena saya sore hari ada 2 pertemuan virtual untuk mengajar di pertemuan pertama katekumen di paroki saya (Vila Melati Mas). Sisa petangnya saya habiskan menyimak rapat tim bidang saya, katekese. Jadi meditasinya paling 20 menitan. 


Perlu pembaca ketahui, selama saya terkena Omikron, saya tidak cuti, libur, atau tidak bekerja. saya tetap mengajar kelas saya, saya juga tetap ikut rapat virtual. saya juga mengoreksi, menulis, membaca buku, membuat ini itu di laptop saya. Namun, saya tidak memegang makanan untuk dimasak. diiris, dicuci. Pokoknya saya menjauhi pekerjaan ibu rumah tangga di dapur.


Hari ketujuh saya terkena Omikron. masih ada sedikit batuk, sedikit sisa pahit di mulut. Namun, secara keseluruhan saya sudah membaik sekali. saya bermeditasi tetap lakukan. Masih ada sisa pening di bagian tengah kepala. karena itu hari Minggu, jadi saya tambahkan porsi meditasinya. Saya meditasi pagi dan sore. Malam saya hanya sebentar karena hari minggu saya ada 1 pertemuan online dengan anak-anak Legio Maria Junior.  


Hari kedelapan. Ini mah sudah sembuh secara keseluruhan. Ada batuk sedikit. Tubuh sudah sangat enak. Mulut sudah tidak pahit lagi. Tidur sudah sangat nyenyak. Makan sudah tidak merasa dipaksakan lagi. Pokoknya hari kedelapan itu ok sekali. Saat meditasi juga sudah tidak merasakan sensasi tubuh yang sakit atau yang aneh. sudah normal. Sebetulnya saya tinggal tunggu pcr lagi. 


Saya tinggal menunggu pcr nanati tanggal 7 Maret, sesuai dengan saya pertama pcr, 10 hari setelahnya saya baru akan dilihat lagi. Apakah negatif atau belum? saya belum tahu. Karena saya saat saya menulis ini belum tanggal 7 Maret. 


Nah, begitu para pembaca pengalaman saya terkena Omikron. bagi teman-teman yang terkena,  tak perlu terlalu panik. Kita ikuti anjuran dokter dan ikuti protokol yang berlaku. Memang bosan sih kita isolasi mandiri, apalagi seperti saya yang bulu kakinya jatuh harus terus dicari, sangat tidak nyaman harus diam berhari - hari di dalam rumah.  Tetap jaga kesehatan. Tuhan memberkati.🙏🙏 (Ch. Enung Martina)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar