Selasa, 28 April 2026

Cerpen Kereta Api

 

https://www.antaranews.com/


Di Antara Kantuk dan Lintasan

Malam itu turun perlahan, seperti kelopak mata yang tak lagi kuat terbuka. Lampu-lampu di dalam kereta menyala redup, menguning, memantulkan wajah-wajah yang lelah setelah seharian berjuang. Gerbong padat dengan penumpang dari aneka kelas sosial. Dalam KRL semua kelas sosial itu terasa sama. Semua penumpang tanpa kelas. Sama-sama rebutan tempat duduk, atau sekedar meletakkan kaki di sela-sela kaki lainnya. Sudah dapat tempat berpijak pun, sudah bersyukur. Nampaknya ada wajah-wajah yang sama yang sering tampak pada jam kepulangan yang sama. Seolah nasib membawa mereka pada gerbong kereta tak berkelas ini. 

Kereta melaju membelah gelap, membawa pulang orang-orang yang hampir habis tenaganya.

Di kursi dekat jendela, Bu Riana bersandar. Kepalanya sesekali terangguk. Tangannya masih menggenggam tas berisi nasi bungkus yang tadi ia beli di stasiun. Ia belum sempat makan. “Nanti saja di rumah,” pikirnya. Ia membayangkan anaknya yang mungkin sudah tertidur, atau mungkin masih menunggu sambil memeluk bantal.

Di seberangnya, Arga menatap kosong ke luar jendela. Bayangan lampu jalan berlari-lari di kaca, seperti pikirannya yang tak juga tenang. Perutnya perih, tapi kantuk lebih kuat. Ia menyandarkan kepala, memejamkan mata, memeluk tas berisi buku-buku dan harapan yang belum tentu.

Pak Darto duduk di ujung gerbong. Matanya berat, tubuhnya pegal. Ia baru saja lembur. Ponselnya di genggaman, dengan pesan terakhir dari istrinya: “Hati-hati di jalan, Pak.” Ia sempat tersenyum, lalu memasukkan ponsel ke saku. “Sebentar lagi sampai,” gumamnya.

Kereta melaju, seperti biasa.

Di luar, malam semakin pekat. Di sebuah perlintasan tanpa palang, hanya ada lampu berkedip malas dan suara jangkrik yang lebih nyaring dari biasanya. Seorang pengendara taxi online mendekat. Ia juga lelah. Seharian orderan agak seret hari ini. Makin hari mencari penumpang tak mudah. Berbagai perusahaan taxi dan mobil yang dipesan melalui aplikasi, makin amrak saja. Semua berlomba mencari rupiah, mencari penghidupan hari demi hari. Tak ada yang pasti nasib di bumi ini. Hanya bisa menjalani dari waktu ke waktu tanpa harus berpikir berat.  Matanya berat, pikirannya ingin cepat sampai rumah untuk melepas lelah agar besok pagi-pagi buta bisa segera mencari lagi rejeki.  Jalan tampak padat. Lintasan tampak sunyi. Tidak ada yang terlihat.

Ia tidak berhenti. Taxi melaju. 

Di dalam kereta, sebagian penumpang sudah terlelap. Sebagian setengah sadar, setengah tenggelam dalam kantuk. Tidak ada yang benar-benar waspada. Sebagian asyik dengan telepon genggam masing-masing. Scroll sana, scroll situ, melihat kehidupan orang lain yang terwakili lewat konten. Semua konten yang muncul yang terbaik, yang tampak bahagia dan sejahtera.  Benar-benar maya. Semua tak nyata, semua ilusi. Namun, justru dunia maya itu yang banyak menentukan manusia untuk bersikap, berkata bertindak.  Malam memang sering membuat manusia percaya bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa malam membawa kedamaian untuk beristirahat, untuk melepas lelah. Malam yang tentram dan temaram. 

Hingga suara itu datang.

Rem yang mendecit panjang, seperti teriakan yang terlambat. Benturan yang menghantam tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh yang terlempar dari kesadaran. Tas yang terlepas. Lampu yang bergoyang liar. Benturan yang menggoncangkan. Tubuh-tubuh terpelanting dan roboh. Teriakan yang histeris. Tangisan, jeritan,  dan kegaduhan. 

Dalam sepersekian detik, semua berubah.

Bu Riana terbangun dengan nafas tercekat, tangannya refleks menggenggam tasnya lebih erat. Nasi bungkus itu terjatuh, terbuka, berserakan di lantai. Ia tidak sempat berpikir tentang lapar lagi.

Arga membuka mata dalam kebingungan. Dunia seperti berputar. Ia mencoba berdiri, tapi tubuhnya tak sepenuhnya menurut. Buku-bukunya jatuh, berserakan seperti mimpi-mimpinya yang tiba-tiba terasa menjauh.

Pak Darto terdorong ke depan. Ia meraba saku, mencari ponselnya, entah untuk apa. Mungkin hanya ingin memastikan bahwa dunia di luar sana masih sama, bahwa istrinya masih menunggu.

Suara tangis, teriakan, dan kekacauan memenuhi gerbong. Malam yang tadi sunyi kini penuh luka.

Di tempat lain, jauh dari rel itu, sebuah rumah kecil masih menyalakan lampu.

Seorang anak tertidur di sofa sambil memeluk bantal bergambar mini dan micky, menunggu ibunya pulang. Di sampingnya, sepiring makanan sudah dingin. Waktu berjalan pelan, seperti menahan sesuatu yang tak ingin datang.

Di rumah lain, seorang istri menatap pintu. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya. Ia membuka ponsel, membaca ulang pesannya sendiri: “Hati-hati di jalan, Pak.”

Namun malam tidak selalu mengembalikan semua orang.

Sejak malam itu, perlintasan itu tidak lagi sekadar jalan yang dilalui. Ia menjadi saksi dari kelelahan yang bertemu dengan kelengahan. Dari kantuk yang menipu kewaspadaan. Dari satu keputusan untuk tidak berhenti, yang merenggut begitu banyak kepulangan.

Dan kita pun diingatkan, dengan cara yang paling menyakitkan, bahwa keselamatan tidak pernah boleh ditunda. Bahwa di balik setiap perjalanan, ada seseorang yang menunggu di rumah.

Dan bahwa berhenti sejenak, meski hanya beberapa detik. Ternyata bisa menyelamatkan seluruh kehidupan. 

(Ch. Enung Martina : Teriring doa untuk para korban KRL di Bekasi pada hari Senin, 27 April 2026) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar