Jumat, 24 April 2026

CERPEN TENTANG CUCI DARAH


Sumber gambar: https://www.halodoc.com/

Sisa Waktu di Antara Jarum

Bunyi mesin itu selalu sama, ritmis, datar, seperti detak waktu yang dipaksa berjalan

pelan. Bimantara sudah hafal. Bahkan tanpa membuka mata, ia bisa menebak kapan

cairan mulai mengalir, kapan tekanan sedikit berubah, kapan perawat akan datang

mengecek selang yang terpasang di lengannya.

Hari ini, seperti lima tahun terakhir, ia kembali duduk di kursi yang sama. Lengan

kirinya terbentang, jarum tertancap, dan waktu seperti berhenti di antara angka-angka

yang berkedip di layar.

Empat jam. Kadang lima.

Ia menghela napas, lalu merogoh tas kecil di sampingnya. Sebuah buku tulis dengan

sampul yang sudah mulai melengkung di sudutnya. Pulpen diselipkan di halaman

tengah, seperti seseorang yang tak pernah benar-benar selesai dengan apa yang ingin

ia katakan.

Bimantara membuka halaman kosong. Ia diam cukup lama, seolah kata-kata perlu

dipanggil, bukan sekadar ditulis.

Lalu ia mulai.


Untuk Bimantara yang berusia 40 tahun,

Kau mungkin tidak akan percaya bagaimana hidupmu berubah.

Saat dokter pertama kali mengatakan tentang gagal ginjal itu, kau tertawa kecil.

Kau pikir itu hanya salah diagnosa. Atau kalaupun benar, kau merasa masih

punya waktu.

Selalu ada waktu, begitu katamu.

Nyatanya, tidak.


Ia berhenti sejenak. Matanya beralih ke selang transparan yang menghubungkan

tubuhnya dengan mesin. Darahnya mengalir perlahan, keluar dan kembali lagi,

seperti lingkaran yang tak pernah selesai.

Di sebelahnya, seorang ibu paruh baya sedang tertidur dengan kepala miring.

Di seberang, seorang remaja memainkan ponsel dengan satu tangan, sementara tangan

lainnya diam terpasang jarum.

Bimantara kembali menunduk.


Kau marah waktu itu. Kau ingat? Kau menyalahkan banyak hal—pekerjaanmu yang

terlalu sibuk, kebiasaan makanmu yang sembarangan, bahkan orang-orang di

sekitarmu yang menurutmu tidak cukup peduli.

Kau merasa hidupmu dipotong paksa.

Tapi sekarang, lima tahun kemudian, aku ingin bilang sesuatu yang mungkin akan

kau benci: hidupmu tidak berhenti. Ia hanya berubah bentuk.


Tinta di ujung pulpen sedikit menebal. Ia menggerakkannya perlahan, seperti takut

merusak sesuatu yang rapuh.


Aku tidak akan berbohong. Ada banyak hal yang hilang.

Kopi pagi yang dulu kau nikmati tanpa pikir panjang, perjalanan jauh yang dulu terasa

ringan, bahkan rasa bebas yang dulu kau anggap biasa saja.

Sekarang semuanya harus dihitung, diukur, dibatasi.

Dan ya, itu menyebalkan.


Seorang perawat lewat, tersenyum singkat, memastikan semuanya berjalan normal.

Bimantara membalas dengan anggukan kecil. Ia sudah tidak banyak bicara di tempat ini.

Kata-kata sering terasa berlebihan.

Ia kembali ke bukunya.


Tapi di antara semua yang hilang itu, ada hal-hal kecil yang dulu tidak pernah kau lihat.

Kau belajar menghargai waktu—bukan waktu yang panjang, tapi waktu yang ada.

Kau belajar duduk diam tanpa merasa bersalah.

Kau belajar bahwa ditemani seseorang, meski tanpa banyak bicara, bisa terasa cukup.


Tangannya sedikit gemetar, bukan karena lemah, tapi karena sesuatu yang bergerak

pelan di dalam dadanya.


Kau juga belajar menerima tubuhmu, yang tidak lagi seperti dulu. Bekas jarum di

lenganmu, rasa lelah yang datang tiba-tiba, semuanya menjadi bagian dari dirimu.

Dan anehnya, kau tidak lagi terlalu membencinya.


Ia menutup mata sejenak. Bunyi mesin itu tetap ada, seperti latar yang tak bisa dihapus.


Kalau aku boleh meminta sesuatu darimu, mungkin ini: jangan menunggu sampai

semuanya berubah untuk mulai bersyukur.

Kau tidak perlu sakit untuk menyadari bahwa hidup itu rapuh.

Dan kau tidak perlu kehilangan untuk mulai menghargai.


Pulpen berhenti. Bimantara menatap kalimat terakhirnya lama. Seolah ada sesuatu yang

belum selesai.

Akhirnya, ia menambahkan satu baris lagi.


Aku tidak tahu apakah kau akan menjadi lebih kuat setelah membaca ini.

Tapi aku tahu, aku akhirnya lebih damai.


Ia menutup buku itu perlahan.

Di luar jendela, cahaya sore mulai turun, lembut dan tidak tergesa. Seperti memberi

ruang bagi hari untuk mengakhiri dirinya sendiri.

Bimantara bersandar, membiarkan matanya terpejam. Empat jam di antara jarum

itu tidak lagi terasa seperti waktu yang terbuang.

Di sana, di antara bunyi mesin dan aliran yang tak terlihat, ia menemukan sesuatu

yang selama ini ia cari yaitu cara untuk menerima, dan akhirnya, berdamai.

(Cerita terinspirasi dari ketabahan seorang teman : I.Teguh Eko P, S.Pd.,M.IP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar