Ch. Enung Martina
Pembaca pasti kenal Sarah atau Sarai. Dia adalah istri Abraham. Kita mengenalnya dalam kisah Perjanjian lama. Pasutri Abraham-Sarah sudah lama menantikan keturunan dalam perkawinan mereka. Bagi mereka, anak sangat penting karena budaya pada masa itu menuntut hal itu dan juga untuk pembuktian janji Allah yang akan menjadikan Abraham mempunyai keturunan sebanyak bintang-bintang di langit dan pasir-pasir di pantai .
Allah memberikannya pada saat mereka sudah berusia tua, yang sepertinya tak mungkin lagi mempunyai keturunan kalau dilihat dari kaca mata manusia. Namun, dari kaca mata Allah berbeda. Dia menyatakan kepada kita semua bahwa janji-Nya pasti terjadi dan tak ada sesuatu yang mustahil bagi-Nya. Saat mempunyai anak, Abraham berusia lebih kurang 100 tahun pada saat Ishak lahir dan sarah dikatakan dalam perjanjian Lama, ia telah mati haid.. Memang bukan usia yang lazim untuk mempunyai anak.
Pada zaman kita hidup sekarang ini, pasutri yang berusia seperti mereka yang diberi keturunan sepertinya tidak ada. Usia seperti itu, manusia zaman sekarang sudah sangat jarang atau bahkan sudah berpulang ke Rahamatullah.
Kisah kehamilan di usia senja seperti kisah Abraham-Sarah memang masih ada meski usia tak setua meraka. Dan salah satunya yang dipercaya untuk melakoninya adalah saya. Tentunya dengan suami tercinta, Bob. Usia saya 46 tahun dan suami 55 tahun. Usia kami memang tidak setua Abraham-Sarah, tetapi usia kami juga tak lazim lagi untuk memperoleh anak di masa sekarang.
Bagi diri saya terutama, kehamilan ini merupakan tugas dari-Nya yang tidak mudah. Bisa dikatakan berat. Namun, saya tahu saya yang terpilih. Saya bangga karena mendapat kepercayaan ini. Awalnya saya bertanya : apakah saya layak untuk mendapatkan kepercayaan ini? Mengapa roh yang menjelma menjadi daging ini memilih hidup di rahim saya? Mengapa ia memilih saya sebagai ibunya? Mengapa ia memilih waktunmya sekarang pada saat kami di usia senja? Mengapa ia tidak hadir pada saat usia kami (khususnya saya) normal untuk melahirkan? Dan ada banyak ‘mengapa’ yang lain yang muncul pada kepala saya.
Jawaban dari pertanyaan yang bertubi-tubi itu hadir dari seorang perempuan Muslimah, bernama Ibu Kemi, salah satu pegawai tata usaha di SMA santa Ursula BSD. Dia berkata: Kun fayakun. Kira-kira arti menurut terjemahan bebasnya adalah.; maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya. Ya! Itu adalah jawaban dari segudang mengapa yang ada pada saya.
Kisah kehamilanku ini baru kusadari betul pada saat Pekan Suci 2010, tepatnya Kamis Putih. Sebelunya saya menyangka saya mengalami gejala menjelang pra menopose. Hari itulah hari saya memastikan pada dokter. Takjub dan terkejut mendengar berita suakcita itu.
Saya membawa berita sukacita itu kepada keluarga, saudara, dan teman-teman. Ada banyak reaksi ketika berita itu sampai pada pendengarnya. Anak laki-lakiku terbengong-bengong tak percaya karena pada usianya yang ke-16 akan mempunyai adik baru. Berarti kebungsuannya akan berakhir. Anak perempuanku yang berada jauh dari rumah dan berusia 19 tahun kontan terpekik dan juga terbengong bahwa ibunya yang sudah tua ini hamil lagi. Tak kalah kehebohan terjadi pada teman-teman kantor dan juga gereja. Ada yang terharu dan menitikkan air mata, ada yang spontan memelukku dan menciumku, ada yang terdiam dan terpana, ada yang tertawa tak henti (apakah menertawakan seperti reaksi Sarah yang juga tertawa mendengar berita bahwa dirinya akan hamil?), ada yang menyindir, ada yang berkoar-koar jangan sampai kehamilan seperti ini terjadi pada dirinya dan pada yang lain, dan bahkan ada yang mengatakan: ini sudah salib dan nasib saya, dan ada banyak reaksi lainnya.
Semua reaksi itu saya hayati sebagai ungkapan syukur teman-teman juga seperti layaknya saya bersyukur atas pemberian ini. Juga sebagai bentuk perhatian dari mereka. Dari semua itu saya belajar untuk selalu siap menerima aneka reaksi dari berbagai orang, baik yang mendukung atau pun tidak. Sungguh semuanya menjadi hal yang menarik yang layak saya renungkan.
Tinggal penantian panjangku untuk menunggu ia lahir di dunia ini. Setiap saat saya betul-betul menikmatinya. Setiap reaksi dan perubahan tubuhku: badan yang melar, perut yang membuncit, kulit yang meregang, kaki yang membengkak, rasa pegal, dan aneka rasa tak nyaman lainnya. Saya menikmatinya karena ini adalah pengalaman langka yang tidak terjadi pada setiap orang. Demikian juga bentuk perhatian dari orang-orang di sekitarku. Semuanya saya nikmati dan saya syukuri.
Dalam penghayatanku ini muncul rasa penasaranku: akan menjadi apakah anak ini kelak? Apa rencana-Nya untuk anak ini? Semuanya menjadi sebuah misteri yang akan terkuak dalam serangkaian perjalanan panjang dan waktu yang akan terus berlalu. Kehadirannya dalam rahimku juga misteri. Sebelumnya saya sudah merencanakan ikut ziarah Eropa pada september 2010 bersama teman-teman dari St. Ursula BSD. Kami sudah mulai menabung sejak Januari 2008. Memang dokter berkata saya tak apa-apa pergi. Tadinya saya mau nekad pergi. Namun, saya memutuskan untuk tak pergi karena pada saat ziarah itu berlangsung, umur anak saya baru 1 bulan di luar. Menyesal tak pergi? Jujur, ya sih. Kapan lagi saya bisa pergi ziarah ke Eropa kalau bukan bersama teman-teman seyayasan. Alasannya karena harga ziarah di luar sana mahal. Kami kan mendapat subsidi dari yayasan kami. Harga sangat miring. Dicari di mana pun pasti tak akan ada.
Karena saya berusaha untuk melihat bahwa semua yang dirancang-Nya pasti sesuatu yang baik dan bukan kebinasaan, maka saya rela untuk tidak pergi ikut ziarah Eropa. Tuhan memberikan yang sangat berharga pada saya yaitu kehadiran anak laki-laki dalam rahimku ini.
Akhirnya semua peristiwa yang saya alami selama kehamilan ini membawa saya kepada permenungan bahwa : Hidup ini memang misteri. Rancangan-Nya ada di atas rancangan manusia. Tak ada yang mustahil bagi Allah. Selain itu permenungan saya juga membawa kepada beberapa pertanyaan reflektif: Apakah saya mendasarkan semua hidup saya pada kehendak-Nya atau kehendak saya? Sudahkah saya melewatkan hidup kita ini dengan sedikit memberi makna di dalamnya? Adakah saya memberinya arti dengan melakukan hal-hal baik tanpa pamrih? Sudahkah saya melaksanakan kewajiban saya dengan iklas? Adakah saya menahan keluhan sebatas tenggorokan saja agar tidak membuat segalanya menjadi negatif? Sudahkah saya menjadi pendukung untuk orang-orang di sekitar saya dan bukan menjadi penghalang? Apakah perkataan saya yang keluar sudah terkontrol dengan baik sehingga tidak menyinggung orang lain? Mampukah saya memahami orang lain dan bukan orang lain yang harus memahami saya? Bisakah saya memberi maaf dan pengampunan pada diri saya sendiri atas suatu kesalahan yang saya lakukan pada orang lain atau juga kebalikannya?
Kehamilan di usia senja membuat saya lebih banyak melihat dan merasa dengan batin. Hal ini tentunya membuat saya menjadi lebih banyak merenungkan hal yang dilihat dan dialami. Perubahan fisik pada kehamilan ini meyadarkan bahwa saya memang mahluk kedagingan yang benar-benar merasakan berbagai gejala kehamilan. Saya menikmati denyut jantungnya, gerak-gerak halus, hingga gerak-gerak yang kadang terasa menyakitkan. Saya juga menyadari bahwa saya ini mahluk yang mempunyai jiwa dan perasaan sehingga nyata merasakan suka-duka dan aneka rasa lain.
Saya sudah lupa semua gejala kehamilan dan juga perubahan pada saat kehamilan karena waktu 16 tahun lebih adalah waktu yang sudah berlalu begitu lama. Sekarang semua nyata kembali hadir dalam hidup saya. Semua pengalaman ini terangkum dalam ungkapan doa yang dipanjatkan dari hari ke hari. Sungguh ajaiblah perbuatan tangan-Nya. Terpujilah Allah sepanjang segala masa. Saya berharap untuk kesehatan, rejeki, juga perjalanan hidup di masa sekarang dan masa depan yang lebih baik. AMIN.
Selasa, 03 Agustus 2010
Sabtu, 19 Juni 2010
Catatan untuk anak Lanangku
ULTAH AGA KE -16 (10 Juni 2010)
Satu tahun lagi bertambah umurmu. Setahun lalu aku membuat puisi untukmu. Untuk tahun ini aku membuat catatan saja. Mungkin ini sekedar ungkapan hati atau rasan-rasanan seorang seorang ibu yang tak merasa cukup baik untuk menjadi orang tuamu, ibumu. Ada banyak waktu dalam setahun ini yang tak bisa kita lewatkan bersama. Hanya sedikit waktu yang bisa kita nikmati bersama secara intensif karena kita punya aktivitas yang berbeda dalam waktu yang sama.
Kita menikmati kebersamaan kita dalam satu atap di rumah kita yang mungil. Kamu bermain bass atau berotak-atik di depan komputer, sementara aku mengerjakan ini itu, atau aku sekedar berbaring untuk menikmati suasana rumah.
Aku menikmati ritual membuat teh manis panas dan kamu menikmati ritual untuk meyeruputnya dengan bunyi yang khas. Ada peristiwa yang kita nikmati dalam diam kita. Ada juga saat yang kita lewati dalam letupan tawa kita. Namun, ada waktu yang kita lewati dalam sendu kita. Peristiwa suka dan bahagia kita rasakan, juga peristiwa sedih yang kita alami, kita teguhkan dengan pelukan erat. Dulu waktu kamu kecil , aku yang memluk tubuh ringkihmu. Sekarang kamu lebih tinggi dan dadamu telah bidang, giliran kamu yang memelukku.
Enam belas tehun waktu sudah berlalu dalam hidupmu. Dari anak laki-laki kecil tumbuh menjadi pemuda kuat yang sigap melindungiku kala kita menyebrang jalan. Dulu aku menuntunmu bila melewati tangga jembatan penyebrangan, sekarang kamu yang menuntunmu melalui tanngga-tangga itu.Dulu aku yang bilang: hati-hati, ga. Sekarang giliranmu yang mengatakan: hati-hati, Bu. Semuanya kita lewatkan dalam detik-detik waktu yang tetap ajeg dalam lajunya.
Ke manakah hari-hari kita bermain di lapangan, bermain petak umpet, bermain plastisin, main lego, dan aneka mainan lain. Waktu-waktu aku cemas menunggumu bermain sepeda ke tempat yang gak jauh dari rumah berganti dengan waktu-waktu menunggumu pulang sehabis les, latihan ini-itu, atau kamu nonton jajan jazz.
Aku permah merasa takut kamu tak pulang ke rumah ketika anjing kita hilang. Aku merasa seolah dunia akan berakhir hari itu.
Semua peristiwa membuat kamu tumbuh menjadi dewasa dan bertemu dengan jati dirimu. Ada luka yang tertoreh sengaja atau tidak dalam perjalananmu. Tapi seperti yang pernah aku bilang: Luka itu akan mengering dan menjadi penguat pribadimu yang akan bertambah alot dan tak lekang didera tantangan yang kamu hadapi.
Maafkan Ibu bila dalam perjalanan kita, sempat menorehkan luka. Tak sengaja itu pasti. Tapi aku tahu dengan pasti bahwa itu bukan tujuan. Itu adalah dampak yang disebabkan oleh cara yang salah ketika memebrikan pendidikan atau ajaran. Tujuan utamaku adalah membawamu siap menghadapi berbagai hal yang kadang tak terduga dalam hidup ini.
Untaian doa yang itu-itu lagi aku ulang dan aku daraskan ribuan kali hanya untuk memastikan bahwa DIA tetap melindungimu dalam setiap situasi. Aku juga hanya memastikan bahwwa malaikat pelindungmu tidak meleng dan lalai akan tugasnya melindungimu.
Aku ucapkan: SELAMAT ULANG TAHUN ke-16. Tetaplah jadi dirimu sendiri dengan berbagai kelebihan dan keunikanmu.
Salam sayang
Dari IBU
Satu tahun lagi bertambah umurmu. Setahun lalu aku membuat puisi untukmu. Untuk tahun ini aku membuat catatan saja. Mungkin ini sekedar ungkapan hati atau rasan-rasanan seorang seorang ibu yang tak merasa cukup baik untuk menjadi orang tuamu, ibumu. Ada banyak waktu dalam setahun ini yang tak bisa kita lewatkan bersama. Hanya sedikit waktu yang bisa kita nikmati bersama secara intensif karena kita punya aktivitas yang berbeda dalam waktu yang sama.
Kita menikmati kebersamaan kita dalam satu atap di rumah kita yang mungil. Kamu bermain bass atau berotak-atik di depan komputer, sementara aku mengerjakan ini itu, atau aku sekedar berbaring untuk menikmati suasana rumah.
Aku menikmati ritual membuat teh manis panas dan kamu menikmati ritual untuk meyeruputnya dengan bunyi yang khas. Ada peristiwa yang kita nikmati dalam diam kita. Ada juga saat yang kita lewati dalam letupan tawa kita. Namun, ada waktu yang kita lewati dalam sendu kita. Peristiwa suka dan bahagia kita rasakan, juga peristiwa sedih yang kita alami, kita teguhkan dengan pelukan erat. Dulu waktu kamu kecil , aku yang memluk tubuh ringkihmu. Sekarang kamu lebih tinggi dan dadamu telah bidang, giliran kamu yang memelukku.
Enam belas tehun waktu sudah berlalu dalam hidupmu. Dari anak laki-laki kecil tumbuh menjadi pemuda kuat yang sigap melindungiku kala kita menyebrang jalan. Dulu aku menuntunmu bila melewati tangga jembatan penyebrangan, sekarang kamu yang menuntunmu melalui tanngga-tangga itu.Dulu aku yang bilang: hati-hati, ga. Sekarang giliranmu yang mengatakan: hati-hati, Bu. Semuanya kita lewatkan dalam detik-detik waktu yang tetap ajeg dalam lajunya.
Ke manakah hari-hari kita bermain di lapangan, bermain petak umpet, bermain plastisin, main lego, dan aneka mainan lain. Waktu-waktu aku cemas menunggumu bermain sepeda ke tempat yang gak jauh dari rumah berganti dengan waktu-waktu menunggumu pulang sehabis les, latihan ini-itu, atau kamu nonton jajan jazz.
Aku permah merasa takut kamu tak pulang ke rumah ketika anjing kita hilang. Aku merasa seolah dunia akan berakhir hari itu.
Semua peristiwa membuat kamu tumbuh menjadi dewasa dan bertemu dengan jati dirimu. Ada luka yang tertoreh sengaja atau tidak dalam perjalananmu. Tapi seperti yang pernah aku bilang: Luka itu akan mengering dan menjadi penguat pribadimu yang akan bertambah alot dan tak lekang didera tantangan yang kamu hadapi.
Maafkan Ibu bila dalam perjalanan kita, sempat menorehkan luka. Tak sengaja itu pasti. Tapi aku tahu dengan pasti bahwa itu bukan tujuan. Itu adalah dampak yang disebabkan oleh cara yang salah ketika memebrikan pendidikan atau ajaran. Tujuan utamaku adalah membawamu siap menghadapi berbagai hal yang kadang tak terduga dalam hidup ini.
Untaian doa yang itu-itu lagi aku ulang dan aku daraskan ribuan kali hanya untuk memastikan bahwa DIA tetap melindungimu dalam setiap situasi. Aku juga hanya memastikan bahwwa malaikat pelindungmu tidak meleng dan lalai akan tugasnya melindungimu.
Aku ucapkan: SELAMAT ULANG TAHUN ke-16. Tetaplah jadi dirimu sendiri dengan berbagai kelebihan dan keunikanmu.
Salam sayang
Dari IBU
Selasa, 25 Mei 2010
Tentang Kecerdasan Anak
KECERDASAN GANDA dalam DIRI ANAK
1.Kecerdasan Linguistik (word smart)
Merupakan kecerdasan berbahasa yang dimiliki oleh setiap orang yang tentunya berbeda kadarnya untuk setiap orang. Ada pun cirri-ciri kecerdasan ini adalah:
a.suka menulis kreatif
b.mengarang kisah khayal atau menuturkan lelucon dan cerita
c.sangat hafal nama, tempat, tanggal, dan hal-hal kecil
d.menikmati membaca buku di waktu senggang
e.mengeja kata-kata dengan tepat dan mudah
f.menyukai pantun lucu dan permainan kata
g.suka mengisi teka-teki silang atau melakukan permainan kata seperti scrubble
h.menikmati mendengarkan kata-kata lisa (radio, dongeng lisan, cerita)
i.mempunyai kosa kata yang luas atau kaya dibandingkan anak seusianya
j.unggul dalam pelajaran sekolah yang melibatkan membaca atau menulis/mengarang
2.Kecerdasan Logis-Matematis (number smart)
Anak yang mempunyai kecerdasan dalam bidang ini adalah:
a.menghitung problem aritmetika – matematika dengan cepat di luar kepala
b.menikmati menggunakan bahasa computer atau program software komputer
c.sering mengajukan pertanyaan seperti: Di mana akhir alam semesta? Mengapa langit biru?
d.Mampu bermain catur atau menyukai permainan strategi lainnya
e.Menjelaskan masalah secara logis
f.Merancang eksperimen untuk menguji hal-hal yang tidak dimengerti
g.Menghabiskan banyak waktu untuk menghabiskan teka-teki logika
h.Suka menyusun sesuatu dalam kategori atau hirarki
i.Mudah memahami sebab akibat
j.Menikmati pelajaran matematika, IPA dan cenderung berprestasi tinggi
3.Kecerdasan Kinestetik – jasmani (body smart)
a.berprestasi dalam olah raga kompetitif di sekolah atau lingkungan rumah
b.bergerak-gerak ketika sedang duduk (tak bisa diam)
c.terlibat dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking, atau bermain
sepatu roda
d.menyentuh sesuatu/memegang sesuatu sebelum dipelajari
e.Meniklamti kegiatan fisik seperti: melompat, lari, atau kegiatan serupa
f.memperlihatkan keterampilan dalam bidang kerajinan tangan seperti kerajinan
kayu, menjahit, mengukir, atau memahat.
g.pandai menirukan gerakan, kebiasaan,, atau perilaku orang lain.
h.menikmati bekerja dengan tanah, melukis dengan jari, atau kegiatan kotor lainnya
i.sangat suka membongkar berbagai benda dan kemudian menyusunnya
4.Kecerdasan Spasial – Visual (picture smart)
a.menonjol dalam kelas seni di sekolah
b.memberikan gambaran visual yang jelas ketika sedang memikirkan sesuatu
mudah membaca peta, grafik, dan diagram
c.memberikan gambaran visual yang jelas ketika sedang memikirkan sesuatu
d.menggambar sosok orang atau benda yang persis aslinya
e.senang melihat film, slide, atau foto
f.menikmati melakukan teka-teki jigsaw, maze, atau kegiatan visual lain
g.sering melamun
h.membangun konstruksi 3 dimensi yang menarik (contoh: bangunan LEGO)
i.mencoret-coret di atas secarik kertas atau di buku tugas sekolah
j.lebih banyak memahami lewat gambar daripada lewat kata-kata ketika sedang
membaca
5.Kecerdasan Musikal (music samrt)
a.memainkan alat musik di rumah atau di sekolah sebagai anggota band atau
orkes
b.mengingat melodi lagu
c.berpartisipasi sangat bagus di kelas musik
d.lebih bisa belajar dengan iringan musik
e.memiliki koleksi CD atau kaset
f.bernyanyi untuk diri sendiri atau orang lain
g.bisa mengikuti irama musik
h.mempunyai suara yang bagus untuk bernyanyi
i.peka terhadap suara-suara di lingkungannya
j.memberikan reaksi yang kuat terhadap berbagai jenis musik
6.Kecerdasan Anatarpribadi-Interpersonal (people smart)
a. mempunyai banyak teman
b. banyak bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal
c. tampak sangat mengenal lingkungannya
d. terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah
e. berperan sebagai ‘penengah keluarga’ ketika terjadi pertikaian
f. menikmati permainan kelompok
g. berempati terhadap perasaan orang lain
h. dicari sebagai ‘penasihat’ atau ‘pemecah masalah’ oleh teman-temannya
i. menikmati ketika mengajari orang lain
j. tampak mempunyai bakat pemimpin
7. Kecerdasan Intrapribadi – Intrapersonal (self smart)
a. memperlihatkan sikap independen atau kemauan yang kuat
b. bersikap realistis terhadap kekuatan dan kelemahannya
c. memberikan reaksi keras ketika membahas topik-topik kontroversial
d. bekerja atau belajar seorang diri dengan baik
e. mempunyai rasa percaya diri
f. mempunyai pandangan hidup yang lain daripada pandangan umum
g. belajar dari kesalahan masa lalu
h. dengan tepat mengekspresikan perasaannya
i. terarah pada pencapaian tujuan
j. terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri
8.Kecerdasan Naturalis (nature smart)
a.akrab dengan hewan peliharaan
b.menikmati berjalan-jalan di alam terbuka atau ke kebun binatang atau museum
sejarah alam
c.menunjukkan kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam (misalnya: gunung, awan,
atau jika berada di dalam kepekaan terhadap bentuk-bentuk budaya populer,
seperti misalnya sepatu kanvas, sampul CD, model mobil dan sebagainya)
d.suka berkebun atau berada dekat kebun
e.menghabiskan waktu di dekat akuarium, terarium, atau sistem kehidupan yang
lain.
f.memperlihatkan kesadaran ekologis (misalnya daur ulang)
g.yakin bahwa binatang mempunyai hak tersendiri
h.mencatat fenomena alam yang melibatkan hewan, tanaman, dan ha-hal sejenis,
misalnya: mempunyai foto, buku harian, gambar, koleksi, dll
i.membawa pulang serangga, bunga, daun, atau benda-benda alam lain untuk
diperlihatkan kepada anggota keluarga lain.
j.memperlihatkan pemahaman yang mendalam di sekolah dalam topik-topik yang
melibatkan sistem kehidupan (misalnya: topik biologi, topik lingkungan hidup)
( disarikan dari berbagai sumber oleh Enung Martina)
1.Kecerdasan Linguistik (word smart)
Merupakan kecerdasan berbahasa yang dimiliki oleh setiap orang yang tentunya berbeda kadarnya untuk setiap orang. Ada pun cirri-ciri kecerdasan ini adalah:
a.suka menulis kreatif
b.mengarang kisah khayal atau menuturkan lelucon dan cerita
c.sangat hafal nama, tempat, tanggal, dan hal-hal kecil
d.menikmati membaca buku di waktu senggang
e.mengeja kata-kata dengan tepat dan mudah
f.menyukai pantun lucu dan permainan kata
g.suka mengisi teka-teki silang atau melakukan permainan kata seperti scrubble
h.menikmati mendengarkan kata-kata lisa (radio, dongeng lisan, cerita)
i.mempunyai kosa kata yang luas atau kaya dibandingkan anak seusianya
j.unggul dalam pelajaran sekolah yang melibatkan membaca atau menulis/mengarang
2.Kecerdasan Logis-Matematis (number smart)
Anak yang mempunyai kecerdasan dalam bidang ini adalah:
a.menghitung problem aritmetika – matematika dengan cepat di luar kepala
b.menikmati menggunakan bahasa computer atau program software komputer
c.sering mengajukan pertanyaan seperti: Di mana akhir alam semesta? Mengapa langit biru?
d.Mampu bermain catur atau menyukai permainan strategi lainnya
e.Menjelaskan masalah secara logis
f.Merancang eksperimen untuk menguji hal-hal yang tidak dimengerti
g.Menghabiskan banyak waktu untuk menghabiskan teka-teki logika
h.Suka menyusun sesuatu dalam kategori atau hirarki
i.Mudah memahami sebab akibat
j.Menikmati pelajaran matematika, IPA dan cenderung berprestasi tinggi
3.Kecerdasan Kinestetik – jasmani (body smart)
a.berprestasi dalam olah raga kompetitif di sekolah atau lingkungan rumah
b.bergerak-gerak ketika sedang duduk (tak bisa diam)
c.terlibat dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking, atau bermain
sepatu roda
d.menyentuh sesuatu/memegang sesuatu sebelum dipelajari
e.Meniklamti kegiatan fisik seperti: melompat, lari, atau kegiatan serupa
f.memperlihatkan keterampilan dalam bidang kerajinan tangan seperti kerajinan
kayu, menjahit, mengukir, atau memahat.
g.pandai menirukan gerakan, kebiasaan,, atau perilaku orang lain.
h.menikmati bekerja dengan tanah, melukis dengan jari, atau kegiatan kotor lainnya
i.sangat suka membongkar berbagai benda dan kemudian menyusunnya
4.Kecerdasan Spasial – Visual (picture smart)
a.menonjol dalam kelas seni di sekolah
b.memberikan gambaran visual yang jelas ketika sedang memikirkan sesuatu
mudah membaca peta, grafik, dan diagram
c.memberikan gambaran visual yang jelas ketika sedang memikirkan sesuatu
d.menggambar sosok orang atau benda yang persis aslinya
e.senang melihat film, slide, atau foto
f.menikmati melakukan teka-teki jigsaw, maze, atau kegiatan visual lain
g.sering melamun
h.membangun konstruksi 3 dimensi yang menarik (contoh: bangunan LEGO)
i.mencoret-coret di atas secarik kertas atau di buku tugas sekolah
j.lebih banyak memahami lewat gambar daripada lewat kata-kata ketika sedang
membaca
5.Kecerdasan Musikal (music samrt)
a.memainkan alat musik di rumah atau di sekolah sebagai anggota band atau
orkes
b.mengingat melodi lagu
c.berpartisipasi sangat bagus di kelas musik
d.lebih bisa belajar dengan iringan musik
e.memiliki koleksi CD atau kaset
f.bernyanyi untuk diri sendiri atau orang lain
g.bisa mengikuti irama musik
h.mempunyai suara yang bagus untuk bernyanyi
i.peka terhadap suara-suara di lingkungannya
j.memberikan reaksi yang kuat terhadap berbagai jenis musik
6.Kecerdasan Anatarpribadi-Interpersonal (people smart)
a. mempunyai banyak teman
b. banyak bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggal
c. tampak sangat mengenal lingkungannya
d. terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah
e. berperan sebagai ‘penengah keluarga’ ketika terjadi pertikaian
f. menikmati permainan kelompok
g. berempati terhadap perasaan orang lain
h. dicari sebagai ‘penasihat’ atau ‘pemecah masalah’ oleh teman-temannya
i. menikmati ketika mengajari orang lain
j. tampak mempunyai bakat pemimpin
7. Kecerdasan Intrapribadi – Intrapersonal (self smart)
a. memperlihatkan sikap independen atau kemauan yang kuat
b. bersikap realistis terhadap kekuatan dan kelemahannya
c. memberikan reaksi keras ketika membahas topik-topik kontroversial
d. bekerja atau belajar seorang diri dengan baik
e. mempunyai rasa percaya diri
f. mempunyai pandangan hidup yang lain daripada pandangan umum
g. belajar dari kesalahan masa lalu
h. dengan tepat mengekspresikan perasaannya
i. terarah pada pencapaian tujuan
j. terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri
8.Kecerdasan Naturalis (nature smart)
a.akrab dengan hewan peliharaan
b.menikmati berjalan-jalan di alam terbuka atau ke kebun binatang atau museum
sejarah alam
c.menunjukkan kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam (misalnya: gunung, awan,
atau jika berada di dalam kepekaan terhadap bentuk-bentuk budaya populer,
seperti misalnya sepatu kanvas, sampul CD, model mobil dan sebagainya)
d.suka berkebun atau berada dekat kebun
e.menghabiskan waktu di dekat akuarium, terarium, atau sistem kehidupan yang
lain.
f.memperlihatkan kesadaran ekologis (misalnya daur ulang)
g.yakin bahwa binatang mempunyai hak tersendiri
h.mencatat fenomena alam yang melibatkan hewan, tanaman, dan ha-hal sejenis,
misalnya: mempunyai foto, buku harian, gambar, koleksi, dll
i.membawa pulang serangga, bunga, daun, atau benda-benda alam lain untuk
diperlihatkan kepada anggota keluarga lain.
j.memperlihatkan pemahaman yang mendalam di sekolah dalam topik-topik yang
melibatkan sistem kehidupan (misalnya: topik biologi, topik lingkungan hidup)
( disarikan dari berbagai sumber oleh Enung Martina)
Minggu, 02 Mei 2010
CATATAN TENTANG YERUSALEM BAGIAN II
YERUSALEM 2
Mitologi tidak pernah dibuat untuk mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang secara historis bisa diverifikasi bahwa ia benar-benar terjadi. Ia merupakan upaya untuk mengekspresikan signifikasi batin atau untuk memberikan perhatian pada realitas-realitas yang terlalu eksklusif untuk didiskusikan dalam cara yang secara logis koheren.
Mitologi didefinisikan sebagai bentuk kuno dari psikologi karena ia mendeskripsikan jangkauan-jangkauan batin diri yang begitu misterius tapi mempesona untuk kita. Dengan demikian mitos tentang geografis sakral mengekspresikan kebenaran-kebenaran mengenai kehidupan batin. Mereka menyentuh sumber-sumber yang sulit diketahui dari kesakitan dan hasrat manusia. Dengan demikian dapat membangkitkan emosi-emosi yang kuat.
Persoalan Jerusalem mudah meledak karena kata itu telah memperoleh status mistis. Masa kini, orang-orang dari kedua belah pihak yang berkonflik tentang jerusalem (dalam komunitas internasional) sering menyerukan perdebatan yang rasional mengenai hak-hak dan kedaulatan, yang bebas dari semua friksi emosi.
Namun, tidak cukup hanya dengan menyatakan bahwa kita harus mengesampingkan kebutuhan kita akan mitologi. Di masa lalu orang sering berusaha untuk menghapuskan mitos dari agama. Para nabi dan reformis Israel kuno, misalnya sangat mudah untuk memisahkan iman mereka dengan mitologi orang Kanaan asli. Namun, mereka tidak berhasil. Cerita-cerita dan legenda lama muncul lagi dengan kuat dalam mistisme Kabbalah. Suatu proses yang dilukiskan sebagai kemenangan mitos atas bentuk-bentuk agama yang lebih rasional. Dalam sejarah Jerusalem, kita akan melihat bahwa orang secara naluriah berpaling terhadap pada mitos ketika kehidupan mereka sangat terganggu dan mereka tidak dapat menemukan pelipur lara dalam ideologi yamg lebih rasional.
Kadang-kadang peristiwa luar tampaknya sangat sempurna mengekspresikan realitas batin sehingga peristiwa-peristiwa tersebut cepat memperoleh status sebagai mitos dan mengilhami letupan antusias me-mitologis.
Istilah lain yang harus dipertimbangkan dalam mengenali sejarah Jerusalem adalah simbolisme. Dalam masyarakat yang berorientasi ilmiah, kita tidak lagi berpikir secara alamiah dalam dalam tema citra dan simbol. Kita cenderung mengatakan ‘hanyalah sebuah simbol’ yang secara esensial terpisah dari realitas yang lebih misterius yang diawali oleh simbol itu. Tidak demikian dalam dunia pramodern. Sebuah simbol dilihat sebagai bagian dari realitas yang disimbolkan. Sebuah simbol agama, dengan demikian memiliki kekuatan untuk memperkenalkan penyembahnya kepada yang sakral.
Sepanjang sejarah, yang sakral tidak pernah dialami secara langsung, kecuali oleh segelintir orang yang luar biasa. Yang sakral selalu dirasakan dalam sesuatu di luar dirinya sendiri. Dengan demikian tuhan dialami dalam diri manusia laki-laki dan perempuan. Yang sakral juga dialami dan ditemukan dalam teks suci, kode, hukum, dan doktrin.
Salah satu simbol ilahi yang paling awal dan ada di mana-mana ialah: tempat. Orang merasakan yang sakral di gunung-gunung, pohon, kota, bangunan, dll. Ketika mereka berjalan ke tempat ini, mereka merasaikan bahwa mereka telah memasuki sebuah dimensi yang berbeda, yang terpisah, tetapi juga terpaut dengan dunia fisik yang biasa mereka tempati.
Bagi orang Yahudi, Kristen, dan Islam, Jerusalem adalah simbol ilahi semacam itu. Hal ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja secara otomatis. Begitu suatu tempat telah dialami sebagai tempat yang sakral dengan cara tersendiri dan terbukti mampu memberi seseorang akses kepada yang ilahi. Para penyembah mencurahkan energi kreatif yang besar untuk membantu orang lebih mengembangkan perasaan transendensi ini. Kita sering melihat bahwa aritek candi, gereja, mesjid, kuil, memiliki nilai penting simbolis, yaitu sering memetakan perjalanan batin yang harus dijalani peziarah untuk mencapai Tuhan.
Liturgi dan ritual juga memperbesar perasaan akan ruang sakral. Akan lebih akurat untuk melihat liturgi sebagai suatu bentuk teater yang dapat memberikan pengalaman yang kuat akan yang transenden, bahkan dalam konteks yang seepenuhnya sekuler. Di barat, drama memiliki asal-usul dalam agama, misalnya dalam festival-festival sakral di Yunani Kuno dan perayaan paskah di Gereja Katedral Eropa abad pertengahan.
Demikian mitos-mitos juga dirancang untuk mengekspresikan makna batin Jerusalem dan berbagai tempat suci lainnya. Salah satu mitos adalah apa yang mendiang sarjana rumania – amerika, Mercia Eliade menyebutkan bahwa mitos sebagai kepercayaan abadi yang ditemukan hampir ada pada setiap kebudayaan.
Menurut cara berpikir ini, semua objek di bumi memiliki padanannya di alam ilahi. Orang dapat melihat mitos ini sebagai suatu usaha untuk mengungkapkan perasaan bahwa kehidupan kita di dunia ini adalah tidak lengkap dan terpisah dari eksistensi di tempat lain yang jauh lebih penuh dan lebih memuaskan.
Semua aktivitas dan keterampilan manusia juga memiliki prototipe ilahi. Dengan menirukan tindakan yang ilahi, orang mengalami kehidupan ilahi. Imitatio Dei. Hal ini masih terlihat sampai hari ini. Contohnya, orang masih beristirahat pada hari Sabath dan makan roti dan minum anggur di Gereja. Tindakan ini menjadi memiliki makna dalam diri seseorang karena mereka percaya bahwa Tuhan pernah melakukan hal yang sama.
Ritual-ritual di tempat suci merupakan cara simbolik lain meniru yang ilahi. Untuk memasuki kehidupan yang ilahiah, lebih penuh dengan cara mengadakan ritual. Hal yang sama juga penting bagi pemujaan terhadap kota suci. Kota suci dapat dilihat sebagai replika rumah para dewa, para suci, yang ilahi, di surga. Sebuah kuil dianggap sebagai reproduksi dari istana yang ilahi dan surga. Dengan meniru arketipe langitnya dalam bentuk sekecil apa pun, berarti kuil dapat juga menjadi rumah Tuhan di bumi.
Namun, bila dilihat dari sorotan dingin modernitas yang rasional, mitos-mitos semacam itu tampak menggelikan. Dalam agama, pengalaman selalu datang sebelum penjelasan teologis.
Orang pertama-tama merasakan bahwa mereka telah memahami yang sakral di sebuah hutan atau puncak gunung. Mereka kadang-kadang mencapai hal semacam itu dibantu oleh peralatan estetis arsitektur, musik, dan liturgi yang mengangkat mereka melampaui diri mereka sendiri. Mereka kemudian berusaha untuk menjelaskan pengalaman ini dalam simbol-simbol geografis sakral. Jerusalem menjadi salah satu lokasi yang dirasa bisa mewakili hal di atas bagi Yahudi, Krisetn, dan Muslim karena dirasa bisa mengantarkan mereka kepada Tuhan.
Praktik agama sangat berkaitan dengan praktik seni. Baik seni maupun agama berusaha untuk mengekspresikan perasaan tertinggi tentang sebuah dunia yang tragis dan cacat. Agama berbeda dari seni karena ia mempunyai dimensi etis. Agama bisa dilukiskan sebagai estetika moral. Ia tidak cukup untuk mengalami yang ilahi atau yang transenden. Pengalaman itu harus diwujudkan dalam perilaku kita terhadap orang lain. Semua agama besar bersikukuh bahwa ujian atas spiritualitas sejati ialah kasih sayang yang dibuktikan dalam praktik. Budha pernah berkata bahwa setelah mengalami pencerahan, orang harus meninggalkan puncak gunung dan kembali ke pasar. Di sana ia akan berbuat kebaikan bagi semua mahluk hidup.
Erat sekali dengan pengultusan jerusalem sejak awal yaitu nilai pentingh kedermawanan yang efektif dan keadilan sosial. Kota ini tidak bisa dianggap suci kecuali ia mampu memberikan keadilan dan kasih sayang kepada yang miskin papa. Tetapi sayangnya imperatif moral ini sering diabaikan oleh para penguasa. Justru sebagian dari kekejaman terburuk terjadi ketika orang-orang lebih mengutamakan kesucian Jerusalem dan hasrat untuk memperoleh akses kepada kesuciannya yang agung daripada pencarian keadilan dan amal nyata.
Semua peristiwa penting terkini memainkan peranan dalam sejarah panjang Jerusalem yang penuh pergolakan. Masih menjadi kebenaran yang tetap berlaku tatkala kita menengok ke belakang pada sejarah panjang Jerusalem, bahwa masyarakat yang telah tinggal di sana paling lama, umumnya adalah mereka yang bersedia untuk hidup menuju semacam sikap toleransi dan hidup berdampingan di kota suci. Sikap toleransi sudah pasti menjadi satu-satunya cara menghormati kesucian Jerusalem pada hari ini, daripada pertempuran sia-sia yang membabi buta demi kedaulatan dan kemenangan total.
catatan sesudah membaca buku Yerusalem Satu Kota Tiga Iman
Mitologi tidak pernah dibuat untuk mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang secara historis bisa diverifikasi bahwa ia benar-benar terjadi. Ia merupakan upaya untuk mengekspresikan signifikasi batin atau untuk memberikan perhatian pada realitas-realitas yang terlalu eksklusif untuk didiskusikan dalam cara yang secara logis koheren.
Mitologi didefinisikan sebagai bentuk kuno dari psikologi karena ia mendeskripsikan jangkauan-jangkauan batin diri yang begitu misterius tapi mempesona untuk kita. Dengan demikian mitos tentang geografis sakral mengekspresikan kebenaran-kebenaran mengenai kehidupan batin. Mereka menyentuh sumber-sumber yang sulit diketahui dari kesakitan dan hasrat manusia. Dengan demikian dapat membangkitkan emosi-emosi yang kuat.
Persoalan Jerusalem mudah meledak karena kata itu telah memperoleh status mistis. Masa kini, orang-orang dari kedua belah pihak yang berkonflik tentang jerusalem (dalam komunitas internasional) sering menyerukan perdebatan yang rasional mengenai hak-hak dan kedaulatan, yang bebas dari semua friksi emosi.
Namun, tidak cukup hanya dengan menyatakan bahwa kita harus mengesampingkan kebutuhan kita akan mitologi. Di masa lalu orang sering berusaha untuk menghapuskan mitos dari agama. Para nabi dan reformis Israel kuno, misalnya sangat mudah untuk memisahkan iman mereka dengan mitologi orang Kanaan asli. Namun, mereka tidak berhasil. Cerita-cerita dan legenda lama muncul lagi dengan kuat dalam mistisme Kabbalah. Suatu proses yang dilukiskan sebagai kemenangan mitos atas bentuk-bentuk agama yang lebih rasional. Dalam sejarah Jerusalem, kita akan melihat bahwa orang secara naluriah berpaling terhadap pada mitos ketika kehidupan mereka sangat terganggu dan mereka tidak dapat menemukan pelipur lara dalam ideologi yamg lebih rasional.
Kadang-kadang peristiwa luar tampaknya sangat sempurna mengekspresikan realitas batin sehingga peristiwa-peristiwa tersebut cepat memperoleh status sebagai mitos dan mengilhami letupan antusias me-mitologis.
Istilah lain yang harus dipertimbangkan dalam mengenali sejarah Jerusalem adalah simbolisme. Dalam masyarakat yang berorientasi ilmiah, kita tidak lagi berpikir secara alamiah dalam dalam tema citra dan simbol. Kita cenderung mengatakan ‘hanyalah sebuah simbol’ yang secara esensial terpisah dari realitas yang lebih misterius yang diawali oleh simbol itu. Tidak demikian dalam dunia pramodern. Sebuah simbol dilihat sebagai bagian dari realitas yang disimbolkan. Sebuah simbol agama, dengan demikian memiliki kekuatan untuk memperkenalkan penyembahnya kepada yang sakral.
Sepanjang sejarah, yang sakral tidak pernah dialami secara langsung, kecuali oleh segelintir orang yang luar biasa. Yang sakral selalu dirasakan dalam sesuatu di luar dirinya sendiri. Dengan demikian tuhan dialami dalam diri manusia laki-laki dan perempuan. Yang sakral juga dialami dan ditemukan dalam teks suci, kode, hukum, dan doktrin.
Salah satu simbol ilahi yang paling awal dan ada di mana-mana ialah: tempat. Orang merasakan yang sakral di gunung-gunung, pohon, kota, bangunan, dll. Ketika mereka berjalan ke tempat ini, mereka merasaikan bahwa mereka telah memasuki sebuah dimensi yang berbeda, yang terpisah, tetapi juga terpaut dengan dunia fisik yang biasa mereka tempati.
Bagi orang Yahudi, Kristen, dan Islam, Jerusalem adalah simbol ilahi semacam itu. Hal ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja secara otomatis. Begitu suatu tempat telah dialami sebagai tempat yang sakral dengan cara tersendiri dan terbukti mampu memberi seseorang akses kepada yang ilahi. Para penyembah mencurahkan energi kreatif yang besar untuk membantu orang lebih mengembangkan perasaan transendensi ini. Kita sering melihat bahwa aritek candi, gereja, mesjid, kuil, memiliki nilai penting simbolis, yaitu sering memetakan perjalanan batin yang harus dijalani peziarah untuk mencapai Tuhan.
Liturgi dan ritual juga memperbesar perasaan akan ruang sakral. Akan lebih akurat untuk melihat liturgi sebagai suatu bentuk teater yang dapat memberikan pengalaman yang kuat akan yang transenden, bahkan dalam konteks yang seepenuhnya sekuler. Di barat, drama memiliki asal-usul dalam agama, misalnya dalam festival-festival sakral di Yunani Kuno dan perayaan paskah di Gereja Katedral Eropa abad pertengahan.
Demikian mitos-mitos juga dirancang untuk mengekspresikan makna batin Jerusalem dan berbagai tempat suci lainnya. Salah satu mitos adalah apa yang mendiang sarjana rumania – amerika, Mercia Eliade menyebutkan bahwa mitos sebagai kepercayaan abadi yang ditemukan hampir ada pada setiap kebudayaan.
Menurut cara berpikir ini, semua objek di bumi memiliki padanannya di alam ilahi. Orang dapat melihat mitos ini sebagai suatu usaha untuk mengungkapkan perasaan bahwa kehidupan kita di dunia ini adalah tidak lengkap dan terpisah dari eksistensi di tempat lain yang jauh lebih penuh dan lebih memuaskan.
Semua aktivitas dan keterampilan manusia juga memiliki prototipe ilahi. Dengan menirukan tindakan yang ilahi, orang mengalami kehidupan ilahi. Imitatio Dei. Hal ini masih terlihat sampai hari ini. Contohnya, orang masih beristirahat pada hari Sabath dan makan roti dan minum anggur di Gereja. Tindakan ini menjadi memiliki makna dalam diri seseorang karena mereka percaya bahwa Tuhan pernah melakukan hal yang sama.
Ritual-ritual di tempat suci merupakan cara simbolik lain meniru yang ilahi. Untuk memasuki kehidupan yang ilahiah, lebih penuh dengan cara mengadakan ritual. Hal yang sama juga penting bagi pemujaan terhadap kota suci. Kota suci dapat dilihat sebagai replika rumah para dewa, para suci, yang ilahi, di surga. Sebuah kuil dianggap sebagai reproduksi dari istana yang ilahi dan surga. Dengan meniru arketipe langitnya dalam bentuk sekecil apa pun, berarti kuil dapat juga menjadi rumah Tuhan di bumi.
Namun, bila dilihat dari sorotan dingin modernitas yang rasional, mitos-mitos semacam itu tampak menggelikan. Dalam agama, pengalaman selalu datang sebelum penjelasan teologis.
Orang pertama-tama merasakan bahwa mereka telah memahami yang sakral di sebuah hutan atau puncak gunung. Mereka kadang-kadang mencapai hal semacam itu dibantu oleh peralatan estetis arsitektur, musik, dan liturgi yang mengangkat mereka melampaui diri mereka sendiri. Mereka kemudian berusaha untuk menjelaskan pengalaman ini dalam simbol-simbol geografis sakral. Jerusalem menjadi salah satu lokasi yang dirasa bisa mewakili hal di atas bagi Yahudi, Krisetn, dan Muslim karena dirasa bisa mengantarkan mereka kepada Tuhan.
Praktik agama sangat berkaitan dengan praktik seni. Baik seni maupun agama berusaha untuk mengekspresikan perasaan tertinggi tentang sebuah dunia yang tragis dan cacat. Agama berbeda dari seni karena ia mempunyai dimensi etis. Agama bisa dilukiskan sebagai estetika moral. Ia tidak cukup untuk mengalami yang ilahi atau yang transenden. Pengalaman itu harus diwujudkan dalam perilaku kita terhadap orang lain. Semua agama besar bersikukuh bahwa ujian atas spiritualitas sejati ialah kasih sayang yang dibuktikan dalam praktik. Budha pernah berkata bahwa setelah mengalami pencerahan, orang harus meninggalkan puncak gunung dan kembali ke pasar. Di sana ia akan berbuat kebaikan bagi semua mahluk hidup.
Erat sekali dengan pengultusan jerusalem sejak awal yaitu nilai pentingh kedermawanan yang efektif dan keadilan sosial. Kota ini tidak bisa dianggap suci kecuali ia mampu memberikan keadilan dan kasih sayang kepada yang miskin papa. Tetapi sayangnya imperatif moral ini sering diabaikan oleh para penguasa. Justru sebagian dari kekejaman terburuk terjadi ketika orang-orang lebih mengutamakan kesucian Jerusalem dan hasrat untuk memperoleh akses kepada kesuciannya yang agung daripada pencarian keadilan dan amal nyata.
Semua peristiwa penting terkini memainkan peranan dalam sejarah panjang Jerusalem yang penuh pergolakan. Masih menjadi kebenaran yang tetap berlaku tatkala kita menengok ke belakang pada sejarah panjang Jerusalem, bahwa masyarakat yang telah tinggal di sana paling lama, umumnya adalah mereka yang bersedia untuk hidup menuju semacam sikap toleransi dan hidup berdampingan di kota suci. Sikap toleransi sudah pasti menjadi satu-satunya cara menghormati kesucian Jerusalem pada hari ini, daripada pertempuran sia-sia yang membabi buta demi kedaulatan dan kemenangan total.
catatan sesudah membaca buku Yerusalem Satu Kota Tiga Iman
Minggu, 28 Maret 2010
CATATAN TENTANG YERUSALEM

JERUSALEM SATU KOTA TIGA IMAN
( dari buku karya Karen Armstrong)
Bagian I
Jerusalem, sebuah nama yang begitu terkenal di seluruh jagat. Hampir semua mengharapkan satu waktu bisa tiba di tempat itu. Yerusalem sering pula disebut Al Quds. Kota ini dikultuskan sebagai kota suci. Pengultusan sebuah tempat menjadi tempat suci merupakan fenomena yang mendekati universal.
Para sejarawan agama percaya bahwa Yerusalem merupakan salah satu manisfestasi iman yang paling awal dalam semua kebudayaan. Orang mengembangkan geografi sacral yang tidak ada kaitannya dengan peta ilmiah dunia, tetapi menggambarkan kehidupan batin mereka. Dengan alasan yang berbeda, yerusalem telah menjadi pusat geografi sakral Yahudi, Kristen, dan Islam.
Hal ini mempersulit mereka melihat kota ini secara objektif karena yerusalem sangat terikat dengan konsepsi mereka tentang diri mereka sendiri dan realitas tertinggi yang disebut TUHAN atau yang sakral. Hal itu memberikan makna dan nilai pada kehidupan duniawi kita.
Ketika manusia merenungkan dunia, manusia mengalami transendensi dan misteri di jantung eksistensi. Manusia merasa bahwa itu sangat dalam berhubungan dengan diri mereka dan dengan cara alamiah, tetapi juga melampaui yang lebih jauh. Kata itu diwakili dengan TUHANB, Brahma, Nirvana, atau sebutan lain. Transendensi ini merupakan fakta kehidupan manusia.
Kita mengalami hal serupa apa pun opini teologis kita ketika kita mendengarkan gubahan music yang luar biasa atau membaca sebuah puisi yang indah. Kita merasa tersentuh, batin kita terangkat melamapaui diri kita sendiri. Kita cenderung mencari pengalaman ini. Dan jika kita tidak menemuknnya pada suatau tempat, kita akan mencarinya di tempat lain.
Yang suci dialami dengan berbagai cara:
Ia menimbulkan ketakutan, kekaguman, antusiasme, kedamaian, dan aktivitas moral yang kuat. Ia mempresentasikan eksistensi yang lebih penuh dan lebih baik yang akan melengkapi kita. Ia bukan sekedar dirasakan sebagai sesuatu kekuatan ‘di luar sana’, tetapi dapat juga dirasakan kedalaman wujud kita sendiri.
Namun, seperti pengalaman estetik lainnya, kesadaran akan yang sakral dianggap sangat penting. Memang, tanpa kesadaran yang ilahi ini, orang sering merasakan bahwa kehidupan tidak layak dijalani.
Persaan bahwa kehidupan tak layak dijalani anatara lain disebabkan oleh karena manusia selalu mengalami dunia sebagai tempat yang menyakitkan. Menjadi korban bencana alam, kematian, kepunahan, ketidakadilan, dan kekejaman manusia.
Di samping mengalami guncangan-guncangan yang umum yang dialami jasmani, kita semua mengalami tekanan personal yang menjadikan kesulitan yang remeh terasa sangat menganggu. Ada perasaan ditinggalkan yang menjadikan pengalaman seperti penolakan, perceraian, putusnya persahabatan, atau bahkan kehilangan barang tercinta. Kadang semua itu menjadi bagian dari sesuatu penderitaan mendasar dan universal.
Seringkali penyakit batin ini dicirikan oleh perasaan perpisahan. Tampaknya ada sesuatu yang hilang dalam hidup kita, sepertinya tidak utuh. Kita memiliki persaan awal bahwa kehidupan tidak dimaksudkan untuk demikian dan bahwa kita telah kehilangan sesuatu yang esensial bagi kesejahteraan kita, meskipun kita sulit menjelaskan ini secara rasional. Pada abad-abad lalu manusia berpaling pada agama untuk meredakan kesulitan hidupnya dengan menemukan penyembuhan dalam pengalaman akan yang sakral.
(Enung Martina : catatan sesudah membaca buku)
Sabtu, 13 Maret 2010
KEKAGUMAN
Ch. Enung Martina
Bila dilihat dari bentuk katanya ’kekaguman’ termasuk kata jadian yang disebut kata berimbuhan. Kata ini berasal dari kata dasar ’kagum’. Menurut kamus ’kagum’ artinya heran (dengan rasa memuji), takjub, tercengang. Kata ’kekaguman’ artinya perasaan kagum, ketakjuban, dan keheranan.
Dalam kehidupan kita, kita sering mengalami rasa kagum. Misalnya, saya sendiri kagum terhadap hal yang indah-indah, yang nyeni, yang cantik, yang ngganteng, yang menyentuh nubari, dll. Saya mengagumi beberapa tokoh yang menurut saya mereka itu hebat karena saya tidak bisa seperti mereka. Saya mengagumi tokoh yang ternama di dunia sampai akhirat, juga yang tidak ternama. Kekaguman saya kepada mereka karena saya tidak memiliki apa yang mereka miliki. Misalnya saya mengagumi para penulis seperti Khalil Gibran, Paulo Coelho, Andera Hirata, Dewi Lestari, dll karena karya mereka yang menginsipari. Saya juga kagum pada tokoh Kitab Suci seperti Yesus, Abraham, Nuh, Ayub, Esther, dll karena kehebatan mereka dalam kisah hidup mereka yang menginspirasi dunia. Saya juga kagum pada Soekarno juga Mbah Marijan dan Romo Widyo. Akhir-akhir ini saya kagum pada Amsi, gadis Flores yang tinggal di keluarga Ibu Rini. Ia gadis yang pandai memanjat pohon kelapa dan punya iman katolik yang kampiun. Wah, kalau saya ceritakan satu persatu kekaguman saya, banayak sekali dan tak mungkin muat untuk ditulis.
Kekaguman pada seseorang membuat kita bersemangat karena kita terinspirasi pada cara hidup mereka atau keberhasilan mereka. Kekaguman tidak semata karena ganteng dan cantik secara fisik saja. Namun, juga hal yang sifatnya rohani.Bila kita mengingat orang yang kita kagumi kita jadi ingin juga ketularan kehebatan mereka.
Pada suatu liburan Lebaran tahun 2008 kemarin, ketika gema takbir berkumandang, saya duduk berdua dengan adik ipar saya di beranda sebuah pondok di tepi pantai sambil mendengarkan deburan ombak di laut lepas. Malam itu kami duduk-duduk berdua saja sementara anak-anak dan para suami sibuk bermain kartu. Ipar saya bercurhat ria tentang banyak hal. Salah satunya tentang rasa kagum dan hormat yang berubah menjadi tidak simpatik dan cenderung meremehkan. Apa pasalnya?
Ada seseorang yang layak dihormati dan dikagumi karena ia tokoh masyarakat. Namun, dalam perjalanan waktu ipar saya jadi tahu belangnya tokoh ini. Rupanya sepak terjangnya dia selama ini ternyata menyembunyikan ’kebobrokan’ tokoh kita ini. Ipar saya kecewa karena yang layak dikagumi ini ternyata... layak juga dicaci. Pokoknya malam itu kartu tokoh kita ini terbuka di hadapan saya. Saya juga kaget awalnya meskipun tokoh ini bukan tokoh yang saya kagumi. Saya kenal baik dengan tokoh kita ini, tetapi apa yang diceritakan oleh adik ipar saya, di luar dugaan saya. Saya benar-benar kaget dengan cerita ipar saya itu. Tidak sangka ya...begitulah hidup penuh dengan misterinya.
Saya tidak akan berkisah tentang tokoh kita di atas karena itu bukan urusan saya juga bukan urusan pembaca. Urusan saya sekarang berbicara tentang kekaguman. Kekaguman memang bisa saja berakhir dengan kebencian bila ternyata tokoh yang kita kagumi menunjukkan sisi kelemahannya apalagi kalau kelemahan itu selama ini tidak muncul. Selama ini kita mengagumi tokoh karena kelebihannya.
Mengagumi juga ternyata ada seninya ada kaidahnya. Kalau kita mengagumi secara buta, akhirnya akan berakhir dengan kecewa. Saya mengagumi laki-laki yang menjadi pacar saya karena dia ... sesuai dengan harapan saya. Begitu saya tahu ternyata laki-laki tadi menampilkan hal yang berlawanan dengan harapan saya, kekaguman saya pun pudar.
Mengagumi juga harus dewasa. Ketika kita mengagumi seseorang kita juga sudah harus tahu bahwa orang itu tidak sempurna. Saya mengagumi Ir. Soekarno (presiden RI pertama) karena pemikirannya, gagasan, dan pandangannya. Sisi lain juga saya tidak suka dan tidak setuju dengan tokoh saya ini karena dia doyan kawin. Dia orang yang berpoligami. Perempuan mana yang mendukung poligami? Kecuali dalam film Ayat-Ayat Cinta atau mungkin Teh Ninih (istri Aa Gim) ketika diwawancarai wartawan tentang suaminya yang beristri lagi, dia merelakan dirinya untuk dimadu.
Kekaguman jangan membabi buta karena akan berakhir dengan kecewa bahkan kebencian. Kekaguman juga berarti kita melihat sisi lemah dari tokoh yang kita kagumi. Kehebatan tokoh ini yang membuat saya terinspirasi, tetapi kelemahannya juga membuat saya bercermin tentang arti kesempurnaan dan ketidaksempurnaan.
Saran saya tetaplah mengagumi tokoh-tokoh nyata atau tak nyata dalam hidup kita karena mengagumi itu sebuah hak. Ambillah pelajaran-pelajaran hidup dari tokoh yang kita kagumi, jangan hanya semata-mata karena keren, ganteng, cantiknya, atau kaya saja. Belajarlah dari tokoh yang kita kagumi tentang makna kasih yang ia lakoni dan daya juang yang ia miliki. Jangan mendewakan tokoh yang kita kagumi, kecuali pada tokoh dunia-akhirat kita. Kalau saya siapa lagi yang saya kagumi, tentu saja Yesus dari Nazareth itu.
* * * *
Labels:
Andera Hirata,
Dewi Lestari,
kagum,
Khalil Gibran,
Mbah Marijan,
Paulo Coelho
Kamis, 18 Februari 2010
PERBUATLAH!
Oleh: Cristina Enung Martina
Pernahkah kau mersakan bahwa beban yang satu lepas beban yang lain datang lebih dari satu dan terasa lebih mennekan?
Terkadang aku merasakan dan menganggap itu sebuah beban. Aku mengalami ketika satu tanggung jawab selesai dan muncul tanggung jawab lain yang lain. Kala hati sedang sangat tidak beres dan mental sedang terpuruk semua hal terasa tidak pada tempatnya. Semua hal terasa menjadi sesuatu yang menganggu, bukan yang menantang.
Kala hati kita diliputi oleh kegelapan pikiran, muncul suatu perasaan berat yang mendesak dan meracuni. Kenapa aku harus melakukannya? Kenapa bukan orang lain yang melakukannya? Kenapa tanggung jawab itu diberikan kepadaku bukan diberikan kepada orang lain yang menurut pendapat dan penglihatanku memang semestinya itu menjadi tanggung jawabnya?
Mengapa orang yang semestinya yang bertanggung jawab malah bisa berkelit dan seolah tak tahu serta pergi meninggalkan tanggung jawabnya? Mengapa pula ketika orang itu berkelit dan melarikan diri, aku merasa harus menjadi pengganti orang tersebut. Mengapa pula ada dorongan bahwa aku harus mengambil alih tanggung jawab itu. Siapa yang mengharuskan? Tak ada? Siapa yang mewajibkan? Juga tak ada. Mengapa sepertinya memang masalah tersebut berada di hadapanku dan seolah itu sudah seharusnya aku yang ambil alih? Sementara orang yang semestinya bertanggung jawab lari kocar-kacir dan tak mungkin ditangkap karena berbagai alasan yang menunjukkan bahwa pribadinya memang tak bisa diandalkan.
Ada banyak pertanyaan mengapa yang tak juga ditemukan jawabannya. Hanya kenyantaannya bahwa masalah itu sekarang ada di hadapanku. Ayo kamu mau lari kemana? Apakah aku akan berlari seperti orang si pengecut tadi atau aku mengambil alih? Kalau aku diam saja berarti aku sama dengan si pengecut tadi. Kalau aku mengambil alih berarti tanggung jawabmu bertambah dan juga bebanmu bertambah. Nah, lo…. Bingung kan.
Nah, celakanya lagi aku itu adalah jenis manusia yang sangat tak ingin dikatakan pengecut. Aku lebih baik babak belur daripada aku harus bertindak menjadi pengecut. Payah sekali. Sebetulnya sebagian dari diriku mengatakan kau tak perlu lakukan itu. Untuk apa? Dapat keuntungan? Tidak juga. Malah yang didapat kerepotan dan juga pengorbanan materil maupun moril.
Nah… lo mau-maunya direpotkan. Lari saja… biar saja…. Ngapain kamu yang bertanggung jawab? Orang lain juga ada. Kenapa kamu repot-repot. Kamu kan bukan orang berada dan bukan orang yang tidak mempunyai pekerjaan. Kamu juga masih punya banyak hal dan pekerjaan yang harus kamu urusi. Sudahlah jangan repot dan jangan jadi orang yang sosial..
Begitulah suara-suara itu terus menghantuiku. Aku berperang anatar ya dan tidak. Aku juga jengkel kenapa ada orang yang dengan manisnya bisa mencuci tangannya dan sama sekali tak peduli dengan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Berperang dalam hati kecil itu yang biasa terjadi. Suara lain berkata:
Lantas aku harus juga berlaku tidak bertanggung jawab seperti orang lain lakukan? Kalau begitu apa bedanya aku yang katanya mengenal Tuhan dan mengaku beriman dengan orang yang yang pribadinya hanya mampu diukur dengan hitungan rupiah atau materi apa yang didapat? Serendah itukah harga diriku? Apa atinya Injil yang katanya aku akui sebagai kumpulan firman Allah?
Beberapa hari ini permenunganku pada keberadaan manusia di dunia dengan segala tugas dan panggilannya. Pada tujuan Tuhan yang membuat manusia berada di dunia. Ada satu tujuan dari setiap hidup yang diciptakan Tuhan pada setiap insan. Diadari atau tidak disadari, tujuan itu ada.
Sesudah otakku mulai jernih, dingin, dan hatiku mulai berperan ikut mempertimbangkannya, mulai aku bisa melihat dengan lebih baik. Melihat dengan logika dan hati. Kalau memang orang emoh untuk bertanggung jawab, kita tak bisa memaksa orang tersebut untuk melakukannya. Namun masih ada menyisakan pertanyaan: Tapi kenapa bisa begitu ya? Kalau memang dia mau lari dari tanggung jawab mereka terhadap ini sebetulnya dia lari dirinya dan yang lebih besar daripada itu, dia menghindar dari tanggung jawabnya terhadap Tuhan. Kalau tindakan mereka yang berlaku seperti itu, sebetulnya hanya menyatakan kepadaku juga dunia bahwa itulah batas kepribadiannya.
Lantas kenapa sewot? Ya…. Sudah anggap saja Tuhan menunjuk kamu untuk mengambil alih tanggung jawab ini. Begitu suara lain berkata.
Ini perkara biaya…cing! Duit!!!
Begitu suara lain berkata.
Memangnya selama ini Bapa Surgawimu membiarkan kamu menderita, kekurangan, kelaparan, dan mengemis pada orang yang kamu anggap bisa meolongmu? Memangnya DIA membiarkan anak-anakmu menjadi anak gelandangan, buta huruf, dan tak berpendidikan?
Jawabannya adalah : TIDAK PERNAH.
Apakah limpahan berkat yang kamu nikmati selama ini kurang? Apakah rasa syukurmu hanya kamu nyatakan lewat doa dan ke gereja saban minggu? Apakah imanmu hanya dinyatakan sebatas itu tanpa perbuatan nyata?
Semprul! Itu suara tajam menghujam nubari! Tapi ya... kok benar adanya. Malu aku jadinya.
Jadi kesimpulannya: PERBUATLAH yang terbaik apa yang bisa kamu lakukan. Urusan rejeki biar Bapa Surgawi yang mengatur. Dan janganlah memikirkan nanti bagaimana kalau…. Berbuat baik tak pernah memikirkan resiko apa yang akan terjadi. Mengapa? Karena berbuat abaik adalah berbuat baik. Wis titik. Tidak ada koma atau pertanyaan lain atau alasan lain.
& & &
Pernahkah kau mersakan bahwa beban yang satu lepas beban yang lain datang lebih dari satu dan terasa lebih mennekan?
Terkadang aku merasakan dan menganggap itu sebuah beban. Aku mengalami ketika satu tanggung jawab selesai dan muncul tanggung jawab lain yang lain. Kala hati sedang sangat tidak beres dan mental sedang terpuruk semua hal terasa tidak pada tempatnya. Semua hal terasa menjadi sesuatu yang menganggu, bukan yang menantang.
Kala hati kita diliputi oleh kegelapan pikiran, muncul suatu perasaan berat yang mendesak dan meracuni. Kenapa aku harus melakukannya? Kenapa bukan orang lain yang melakukannya? Kenapa tanggung jawab itu diberikan kepadaku bukan diberikan kepada orang lain yang menurut pendapat dan penglihatanku memang semestinya itu menjadi tanggung jawabnya?
Mengapa orang yang semestinya yang bertanggung jawab malah bisa berkelit dan seolah tak tahu serta pergi meninggalkan tanggung jawabnya? Mengapa pula ketika orang itu berkelit dan melarikan diri, aku merasa harus menjadi pengganti orang tersebut. Mengapa pula ada dorongan bahwa aku harus mengambil alih tanggung jawab itu. Siapa yang mengharuskan? Tak ada? Siapa yang mewajibkan? Juga tak ada. Mengapa sepertinya memang masalah tersebut berada di hadapanku dan seolah itu sudah seharusnya aku yang ambil alih? Sementara orang yang semestinya bertanggung jawab lari kocar-kacir dan tak mungkin ditangkap karena berbagai alasan yang menunjukkan bahwa pribadinya memang tak bisa diandalkan.
Ada banyak pertanyaan mengapa yang tak juga ditemukan jawabannya. Hanya kenyantaannya bahwa masalah itu sekarang ada di hadapanku. Ayo kamu mau lari kemana? Apakah aku akan berlari seperti orang si pengecut tadi atau aku mengambil alih? Kalau aku diam saja berarti aku sama dengan si pengecut tadi. Kalau aku mengambil alih berarti tanggung jawabmu bertambah dan juga bebanmu bertambah. Nah, lo…. Bingung kan.
Nah, celakanya lagi aku itu adalah jenis manusia yang sangat tak ingin dikatakan pengecut. Aku lebih baik babak belur daripada aku harus bertindak menjadi pengecut. Payah sekali. Sebetulnya sebagian dari diriku mengatakan kau tak perlu lakukan itu. Untuk apa? Dapat keuntungan? Tidak juga. Malah yang didapat kerepotan dan juga pengorbanan materil maupun moril.
Nah… lo mau-maunya direpotkan. Lari saja… biar saja…. Ngapain kamu yang bertanggung jawab? Orang lain juga ada. Kenapa kamu repot-repot. Kamu kan bukan orang berada dan bukan orang yang tidak mempunyai pekerjaan. Kamu juga masih punya banyak hal dan pekerjaan yang harus kamu urusi. Sudahlah jangan repot dan jangan jadi orang yang sosial..
Begitulah suara-suara itu terus menghantuiku. Aku berperang anatar ya dan tidak. Aku juga jengkel kenapa ada orang yang dengan manisnya bisa mencuci tangannya dan sama sekali tak peduli dengan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Berperang dalam hati kecil itu yang biasa terjadi. Suara lain berkata:
Lantas aku harus juga berlaku tidak bertanggung jawab seperti orang lain lakukan? Kalau begitu apa bedanya aku yang katanya mengenal Tuhan dan mengaku beriman dengan orang yang yang pribadinya hanya mampu diukur dengan hitungan rupiah atau materi apa yang didapat? Serendah itukah harga diriku? Apa atinya Injil yang katanya aku akui sebagai kumpulan firman Allah?
Beberapa hari ini permenunganku pada keberadaan manusia di dunia dengan segala tugas dan panggilannya. Pada tujuan Tuhan yang membuat manusia berada di dunia. Ada satu tujuan dari setiap hidup yang diciptakan Tuhan pada setiap insan. Diadari atau tidak disadari, tujuan itu ada.
Sesudah otakku mulai jernih, dingin, dan hatiku mulai berperan ikut mempertimbangkannya, mulai aku bisa melihat dengan lebih baik. Melihat dengan logika dan hati. Kalau memang orang emoh untuk bertanggung jawab, kita tak bisa memaksa orang tersebut untuk melakukannya. Namun masih ada menyisakan pertanyaan: Tapi kenapa bisa begitu ya? Kalau memang dia mau lari dari tanggung jawab mereka terhadap ini sebetulnya dia lari dirinya dan yang lebih besar daripada itu, dia menghindar dari tanggung jawabnya terhadap Tuhan. Kalau tindakan mereka yang berlaku seperti itu, sebetulnya hanya menyatakan kepadaku juga dunia bahwa itulah batas kepribadiannya.
Lantas kenapa sewot? Ya…. Sudah anggap saja Tuhan menunjuk kamu untuk mengambil alih tanggung jawab ini. Begitu suara lain berkata.
Ini perkara biaya…cing! Duit!!!
Begitu suara lain berkata.
Memangnya selama ini Bapa Surgawimu membiarkan kamu menderita, kekurangan, kelaparan, dan mengemis pada orang yang kamu anggap bisa meolongmu? Memangnya DIA membiarkan anak-anakmu menjadi anak gelandangan, buta huruf, dan tak berpendidikan?
Jawabannya adalah : TIDAK PERNAH.
Apakah limpahan berkat yang kamu nikmati selama ini kurang? Apakah rasa syukurmu hanya kamu nyatakan lewat doa dan ke gereja saban minggu? Apakah imanmu hanya dinyatakan sebatas itu tanpa perbuatan nyata?
Semprul! Itu suara tajam menghujam nubari! Tapi ya... kok benar adanya. Malu aku jadinya.
Jadi kesimpulannya: PERBUATLAH yang terbaik apa yang bisa kamu lakukan. Urusan rejeki biar Bapa Surgawi yang mengatur. Dan janganlah memikirkan nanti bagaimana kalau…. Berbuat baik tak pernah memikirkan resiko apa yang akan terjadi. Mengapa? Karena berbuat abaik adalah berbuat baik. Wis titik. Tidak ada koma atau pertanyaan lain atau alasan lain.
& & &
Langganan:
Postingan (Atom)