Minggu, 24 Maret 2024

REKOLEKSI HARI 1 TRIDUUM PASKAH 2024

 

                                            (doc. pribadi: Roma Juni 2015) 

REKOLEKDI DIBAWAKAN OLEH ROMO HEDRA SUTEDJA, SJ

Penyelamatan yang kita hayati: 

  • Tradisi Mencuci Kaki

  • Ekaristi

  • Kebangkitan


Iman kita ada 3 hal dasar

Dibangun pada misteri Paskah. Kebangkitan adalah puncaknya

Ungkapan dalam Ekaristi : Penghayatan misteri iman kita

  • Wafat Kristus

  • Keabangkitan-Nya

  • Kedatangan-Nya kembali

Seluruh manusia ciptaan diselamatkan

Tindakan Tuhan terakhir pada akhir zaman

Kita ditentukan masuk kebahagiaan kekal atau penderitaan kekal

Dengan misteri itu Tuan melepaskan manusia dari cengkeraman dosa

Dosa adalah kegagalan manusia untuk hidup sejalan dengan kehendak penyelamatan Allah

Sebetulnya kita berada dalam tuntunan Tuhan, tetapi seringkali kita tak mau sehingga gagal untuk berada di jalan Tuhan

Dosa bisa menyelinap masuk melalui keinginan kita yang tak terkontrol

Dalam hidup kita punya dorongan : 3 daya jiwa dipakai utk memilih Tuhan

Akibat dosa mengacaukan dan memburamkan

Apakah aku masih bisa mengendalikan batinku untuk lurus jalan bersama Tuhan?

Kekacaun akan membuat hidup menjadi terasa sempit dan gelap

Banyak keputusan diambil secara keliru, membiarkan keinginan yang tak esensial diikuti oleh kekeliruan lain

Efek domino dosa adalah menimbulkan kehancuran, kehilangan kebahagiaan

Dosa bukan teori dan teologi, tetapi realita

Paskah bukan hanya liturgis, Paskah adalah perayaan manusia yang terporosok  dalam dosa masuk pada kebangkitan

Arti Paskah tindakan penyelamatan Tuhan dalam hidup kita

Pada saat kita terporosok dosa, kita masuk dalam kematian

Arti kematian Yesus, Dia mengambil kematian kita dengan kematian-Nya

Dia sudah melakukan-Nya secara historis dalam kehidupan manusia

Paulus adalah seorang pembunuh murid Yesus, akhirnya dijamah, dan bertobat. Paulus mengalami kebangkitan.

Kita melihat sejarah hidup kita, saat Tuhan menyelamatkan kita dari kekacauan-kematian

Bagaimana Yesus menangkap dan menyelamatkan diriku

Buah yang paling jelas dari penyelamatan adalah syukur

Arti kebangkitan Yesus: Yesus anak Allah : Cengekraman iblis yang mematikan tak mempengaruhi Yesus. Kuasa Allah mengatasi kematian. Kasih mengalahkan dosa dan kematian.

Pikiran, perasaan, kenangan akan penyelamatan Allah akan membawa kita pada Terang

Pengalaman hidup yang tercengkeram oleh kegelapan, Tuhan mengambil alih-Nya dengan kematian-Nya yang terwujud dalam kebangkitan

Kebangkitan artinya memasukkan kita pada kemuliaan kita 

Arti kebangkitan: Kematian dikalahkan, kemuliaan dinyatakan


Misteri kedatangan kembali

Mat 24: 30-31

Semua bangsa meratap

Melihat Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya di langit


Kedatangan Yesus memenuhi kerinduan kita akan Tuhan

Ia akan menyuruh malaikat-Nya untuk meniup sangkakala

Tuhan mengumpulkan kita

Kedatangan kembali penuh kemuliaan dan kebesaran-Nya

Kita merayakan-Nya dalam Ekaristi: 3 dimensi Yesus kita rayakan (kematian, kebangkitan, kedatangan).

Hidup Ekaristi: hal yang real atas 3 dimensi hidup Yesus


Gerak mencuci kaki

Yoh 13: 3-15

Mencuci kaki itu penting

Bukan hanya tindakan merendahkan diri

Saat Yesus mau membasuh kaki Petrus, Petrus menolak

Tindakan Yesus mencuci kaki ini sangat penting

Jika Yesus tak membasuh kaki Petrus, ia tak mendapatkan bagian dalam Yesus

Maksudnya: Petrus tak bisa masuk dalam lingkaran Yesus, ia tetap dalam dosa.

Bagian Yesus yang paling penting dalam Petrus; Petrus diminta Yesus untuk mengambil bagian, bergerak seperti Yesus, sampai tuntas.

Dengan pembasuhan kaki, Tuhan mau menunjukkan bahwa kita mengambil bagian dalam menyelamatkan jiwa-jiwa.

Dengan pembasuhan kaki artinya

Ambil bagian dalam Yesus:

  • Memulihkan kita dari dosa ketidakpantasan kita dalam karya penyelamatan Tuhan

  • Bergerak sama seperti Yesus yaitu dalam hidup kita menjadi suatu persembahan tuntas bagi sesama, seperti yang dilakukan Yesus dalam kehendak bapa. Kita diminta bergerak sampai tuntas untuk jiwa2 yang membutuhkan keselamatan 

Gerak bersama Yesus juga kita melakukan rekonsiliasi antar jiwa-jiwa.

Bisa terjadi tabrakan-tabrakan yang membuat kita tertahan, kita harus bisa menjadi sumber pembawa rekonsiliasi (perdamaian kembali). 

Gerak bersama Yesus artinya membawa damai membangun kembali, mempersatukan.

Bagaimana kita melakukan itu semua menjadi persembahan total dalam kehidupan kita

Saat kita melakukan persembahan total, kita mengalami sukacita.

Tuhan dalam misteri Paskah-Nya membuat kita dipenuhi dengan cinta dan mengalami sukacita yang penuh. (Ch. Enung martina)




Jumat, 15 September 2023

Pesan-Pesan Mutiara Bapak Suci

(doc. 2015)

Kata-kata inspirasi Paus Fransiskus di Lisbon, Portugal pada  kunjungannya dalam rangka World Youth Day 2023.


Dengarkan dia karena seluruh kehidupan Kristiani berpusat pada perkataan Kristus. Yang menarik bagi kita adalah membawa Tuhan menjadi lebih dekat ke tempat dan situasi di mana hidup, bergumul, dan berharap.


Kita mengarungi lautan sejarah di masa-masa penuh gejolak dan kita merasakan kurangnya jalur perdamaian yang berani. Karena itu, kita harus menebarkan jala kita lagi. Pada saat kita putus asa biarkanlah Yesus naik ke perahu kita. Ketika kita dalam kesepian dan kritis, dia datang mencari kita untuk membantu kita berangkat lagi.


Gereja adalah untuk semua orang: orang benar dan orang berdosa, orang baik dan orang jahat. Bagi kaum muda hendaknya mengganti ketakutan dengan mimpi. Karena masyarakat saat ini membutuhkan orang-orang yang penuh mimpi dan bukan pengelola ketakutan. Kaum muda hendaknya berani mencari dan mengambil risiko dengan menjadi protagonis dan koreografi baru yang menempatkan manusia sebagai pusatnya. 


Kehidupan manusia membuat kosmos keluar dari chaos. Dari yang tidak bermakna menjadi sesuatu yang bermakna dan menarik. Dalam menghadapi moment kekacauan, kita membutuhkan kerja kelompok dan kerja pribadi.


Kita berada di sini bukan karena kebetulan. Tuhan telah memanggil kita bukan hanya saat ini. Namun, sejak awal kehidupan. Tuhan memanggil kita dengan nama masing-masing. Bagi Tuhan kita bukan hanya sedar nomor atau angka, tetapi sebuah wajah.  Seorang pribadi. 


Yesus adalah JALAN dan kita akan akan berjalan bersama-Nya. Jalan Yesus adalah Jalan Tuhan yang keluar-muncul-memancar dari diri-Nya. Ia berjalan di antara kita, yang menjadi manusia karena kasih-Nya kepada kita. Tidak ada seorang pun yang memiliki kasih yang lebih besar daripada seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya, bagi orang lain. Itulah sebabnya, ketika kita memandang Dia yang tersalib, yang begitu menyakitkan, begitu keras, kita melihat keindahan cinta dari Dia yang memberikan nyawa-nya bagi kita masing-masing.



Maka itu, bangun dan berjalanlah! Karena tak ada sesuatu pun dalam hidup kita ini yang gratis. Hanya kasih Yeusus sajalah yang gratis. Kasih Yesus adalah sumber kebahagiaan kita. Kegembiraan kristiani bersifat misioner. Karena itu, harus diwartakan.


Pelajaran hidup tidak dipelajari dengan mengambil pelajaran ( sekolah atau kursus), tetapi dengan mempraktikkannya, dengan cara berkontak dengan orang lain. Dalam pelajaran itu, kita juga hendaknya mencari Terang Injil dalam menghadapi tantangan kehidupan. Terang itu datang dari kasih dan pengorbanan diri. Menjadi terang dan bersinar,  bukan berarti menjadi sorotan atau menampilkan citra yang sempurna, melainkan menjalani kehidupan yang berisiko demi cinta.


Dalam sepanjang perjalanan kita, kita juga hendaknya mengingat orang-orang yang telah menjadi seberkas cahaya dalam hidup kita. Juga mengingat orang-orang yang menjadi akar kebahagiaan bagi diri kita. Kita hendaknya memiliki hati seorang ibu, yang memiliki hati terbuka terhadap semua anaknya tanpa kecuali.


Jangan takut, tetaplah gigih karena gereja dan dunia membutuhkan kontribusi kaum muda. Kaum muda adalah masa kini dan masa depan Gereja. 


( Sumber: Majalah Hidup, edisi 10 September 2023)


Minggu, 02 April 2023

Refleksi Minggu Palma 2023

 





RENUNGAN 2 APRIL

Mat 21_1-11

Tuhan Memerlukannya

 

Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.

Seorang artis luar negeri terkenal datang ke Indonesia dengan harga untuk tiket konsernya jutaan rupiah. Para penggemar pun berbondong-bondong membeli tiket konsernya. Tak jarang tiket itu ludes terjual hingga para penggemar ada yang tak mendapatkannya. Begitulah para bintang itu diburu oleh para penggemarnya. Seperti ini mengingatkan kita pada saat Yesus Kristus dielu-elukan yang kita peringati pada Minggu Palma.

Pekan Suci kita buka dengan merayakan Minggu Palma atau Minggu daun-daun. Hari ini merupakan  prosesi agung, pawai mulia-meriah Yesus masuk kota Yerusalem disertai sorak-sorai, suatu pawai kebesaran. Pawainya Yesus ini bukanlah suatu kebetulan. Hal ini Yesus lakukan dengan tujuan mau memperlihatkan kepada semua orang, siapa Dia sebenarnya sebelum Ia masuk dalam penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib, palang penghinaan.

Pada hari ini juga kita memasuki Pekan Suci. Pada pekan ini, Gereja secara khusus merenungkan misteri penebusan dan keselamatan dunia. Kita bersama-sama merenungkan kasih Allah yang luar biasa bagi umat manusia. Bacaan-bacaan yang kita dengarkan dan baca hari ini  menarik perhatian. Pada bacaan Injil kita mendengarkan kalimat “Tuhan memerlukannya” (Mat 21:3).

Yesus berpesan kepada murid-Nya untuk mencari seekor keledai untuk ditunggangi. Saat menemukan keledainya, pasti banyak orang yang bertanya-tanya akan dibuat apakah keledai itu? Murid-Nya hanya menyampaikan kepada mereka bahwa Tuhan memerlukan. Nyatanya pemilik keledai itu bersedia meminjamkan keledainya untuk dipakai Tuhan.

Berapa banyak barang atau waktu yang menjadi milik kita yang kita anggap berharga? Relakah kita memberikannya jika Tuhan memerlukannya? Harta benda dan waktu-waktu pribadi kita sekalipun itu bisa diperlukan Tuhan. Tuhan yang memberikannya dan Dia punya andil untuk meminta. Di saat kita rela, justru Tuhan akan berjanji: “Ia akan mengembalikan”

Peristiwa Minggu Palma mengajak kita untuk berani menentukan pilihan dan sikap iman yang tegas dan benar. Sikap iman yang tidak gampang di kala kemajuan zaman terus melesat, digeser oleh kepentingan diri dan mencari aman. Sikap yang tidak gampang goyah, bimbang dan ragu, yang tidak menjadi orang beriman Katolik yang ikut arus, ikut ramai dan ikut-ikutan orang banyak, beriman yang plin-plan, atau iman yang kabur dan suram, dan suam-suam kuku yang cuma “napas” natal-paskah dan musiman.

Memang bukan hal yang mudah sikap bersiap sedia untuk Tuhan. Pasti di dalamnya menyertakan kita untuk rela berkorban, waktu, tenaga, pikiran, harta, juga korban perasaan sering terjadi. Kala Tuhan memerlukan kita (waktu, pikiran, tenaga, harta, dll) kiranya kita mempunyai sikap rela untuk memberikan kepada-Nya. Kita berdoa dengan pertolongan Roh Kudus, kita mempunyai ketulusan hati dalam pelayanan kita. Amin. (Ch.E.M)

 

 

 

 

 

Jumat, 09 Desember 2022

ARTIKEL TENTANG ST. AMBROSIUS (1)

 


Pic. https://christusmedium.com/wp-content/uploads/2019/12/santo-ambrosius-1.jpg

Para pembaca yang budiman, saya akan mencantumkan artikel-artikel saya tentang spiritualitas St. Ambrosius. Hal ini terkait dengan pelayanan saya di paroki saya Vila Melati Mas. terkadang banyak orang yang menanyakan kembali artikel yang dulu saya tulis. Saya pelupa sehingga cukup lama untuk mencarinya. Karena itu saya muat saja di blog ini agar mudah untuk menemukannya daripada kalau saya simpan di drive atau laptop saya sendiri sulit menemukannya. Terima aksih. Selamat membaca. 


SANTO AMBROSIUS SOSOK SEORANG PEMBELAJAR

Aurelius Ambrosius (340–397) atau Santo Ambrosius adalah Uskup Milan

yang tersohor sebagai salah seorang tokoh Gereja paling berpengaruh pada

abad ke-4. Ia adalah Gubernur Romawi atas wilayah Liguria dan Emilia yang

berpusat di Milan, sebelum dipilih secara aklamasi menjadi Uskup Milan

oleh warga kota itu pada tahun 374.


Ambrosius adalah seorang penentang paham Arianisme yang gigih. 

Pada zamannya, Ambrosius adalah seorang yang terpelajar dan terpandang.

Kedudukannya sebagai seorang gubernur di Milan menyatakan betapa

berpengaruhnya beliau. Ambrosius tergolong kaum cerdik cendekia pada

masanya.


Ia adalah salah seorang di antara keempat Doktor Gereja yang mula-mula. 

Tentunya kedudukan itu, beliau raih tidak karena keturunan semata,

tetapi juga berkat kerja keras dan ketekunannya. Dikisahkan bahwa setelah

ayah Ambrosius meninggal dunia, dia dididik di Roma, di sana dia belajar

hukum, sastra dan retorika. 


Bagaimana Ambrosius sebagai seorang pembelajar digambarkan oleh anak

didiknya St. Agustinus dari Hipo dalam salah satu bagian dari

Confessiones (karya Agustinus), berisi sepenggal anekdot yang memuat

kebiasaan membaca St. Ambosius: 

Bilamana [Ambrosius] membaca, matanya memindai isi halaman sementara

hatinya mengulik maknanya, namun suaranya tak terdengar dan lidahnya

tak bergerak. Siapa saja bebas mendekatinya dan kedatangan tetamu

lazimnya tak dimaklumkan, sehingga seringkali, manakala kami datang

mengunjunginya, kami mendapatinya sedang membaca seperti ini tanpa

suara, karena ia tidak pernah membaca dengan suara nyaring.


Kutipan  ini menjadi sebuah pokok bahasan ilmiah di zaman modern.

Kebiasaan membaca seorang diri tanpa menyuarakan isi bacaan tidaklah

lazim pada zaman kuno sebagaimana sekarang ini. Pada masa itu

masayarakat berada pada  sebuah kebudayaan yang sangat menghargai

kepiawaian bertutur dan segala macam unjuk kebolehan di muka umum. 

Pembuatan buku-buku sangat menguras tenaga karena peralatan tidak

secanggih sekarang. Mayoritas warga masyarakat buta aksara dan

golongan yang mampu menikmati karya-karya sastra pun menggunakan

jasa hamba sahaya untuk membacakannya bagi mereka.  Teks-teks

tertulis lebih dipandang sebagai huruf-huruf untuk didaraskan ketimbang

sarana untuk merenung dalam keheningan.


Namun, tidak dengan Ambrosius. Dia sudah terbiasa berliterasi dengan

diam (bukan membaca nyaring). Dengan demikian, terdapat bukti bahwa

kebiasaan membaca dalam hati sudah ada pada zaman kuno.  Bahwasanya

kebiasaan (membaca dalam hati) tidaklah umum maka dianggap sebagai

ketidaklaziman. 


Ambrosius terlahir dalam sebuah keluarga Kristen Romawi kira-kira pada

tahun 340. Ia tumbuh besar di Gallia Belgica, wilayah Kekaisaran Romawi

yang beribu kota di Augusta Treverorum. Kadang-kadang diriwayatkan

bahwa ayahnya adalah Prefek Pretoria Galia

(bahasa Latin: praefectus praetorio Galliarum); namun menurut sebagian

pakar, ayahnya adalah seorang pejabat bernama Uranius yang menerima

piagam kekaisaran bertarikh 3 Februari 339 (disebutkan dalam kutipan

singkat ketetapan salah satu dari ketiga kaisar pada tahun 339,

Konstantinus II, Konstantius II, atau Konstans, yang termaktub di dalam

Codex Theodosianus, Kitab XI.5).


Setelah ayah Ambrosius meninggal dunia, dia dididik di Roma, di sana dia

belajar hukum, sastra dan retorika. Setelah rampung studinya, Ambrosius

menerima sebuah tempat di dewan pemerintahan, seperti ayahnya, dan

dijadikan prefek konsuler, atau Gubernur untuk  Liguria dan Emilia sekitar

tahun 372. Kantor pusat tempat Ambrosius berada di Milan, ibu kota

kedua Italia setelah Roma. 


Perjalanan hidup Ambrosius berikutnya menuju pada satu garis lurus yang

sudah disiapkan untuk mengubah dunia. Setelah Uskup Milan meninggal,

terjadilah perselisihan antara kaum Arian dengan Gereja Katolik saat itu 

tentang siapa yang pantas menduduki jabatan itu. Ambrosius menghadiri

pemilihan tersebut untuk mencegah terjadinya konflik antara Gereja

( yang ikut Konsili Nicea) dan kaum Arian

(Orang Kristen yang hanya mempercayai keilahian Yesus). 


Namun banyak umat yang menginginkan Ambrosius menjadi Uskup di

wilayah itu. Kendati sempat menolak karena belum dibaptis, Ambrosius

akhirnya menerima tanggung jawab baru itu. Dilansir dari

Imankatolik.or.id,

setelah terpilih Ambrosius harus menjalani enam hari berturut-turut untuk

menerima semua sakramen yang harus diterima oleh seorang uskup.

Setelah itu ia ditahbiskan menjadi uskup pada 7 Desember 374.


Terlihat lagi bahwa Ambrosius seorang pembelajar saat dia menerima jabatan

Uskup Milan.  Ia belajar teologi dengan Simplisianus. Dengan menggunakan

pendidikan barunya, bersama dengan pengetahuannya tentang bahasa

Yunani, dia meluangkan waktu untuk mempelajari para penulis Perjanjian

Lama dan Yunani. Kembali ia menunjukkan kebiasaannya

berliterasi dan seorang pembelajar yang baik. 


Ambrosius  menggunakan semua pengetahuannya dan wawasan serta

buah renungnya hasil pembelajaran dan kegiatan berliterasinya  saat

berkhotbah di mimbar di depan umatnya. Sudah pasti khotbahnya bukan

hanya biasa saja. Khotbah yang bernas, berisi, dan mendalam. 

Dan sudah pasti juga bahwa khotbahnya menyentuh banyak

hati. Kemampuannya  berkhutbah dan tentunya isi khutbahnya

mengesankan Agustinus dari Hippo, yang sebelumnya menganggap

buruk para pengkhotbah Kristen. Itu pula lah yang membuka jalan

pertobatan dari Agustinus.


Ambrosius-lah yang membawa Agustinus menjadi seorang santo dan

sekaligus seorang pujangga Gereja yang terkenal. Setelah bertemu

dengan Ambrosius, Agustinus mengevaluasi kembali dirinya

dan berubah. Pada tahun 387, Ambrose membaptis Agustinus, yang

memiliki pengaruh besar terhadapnya.


Dengan kempuan literasinya pula, Ambrosius mencoba mengakhiri

pengaruh Arianisme di Milan. Dia sering berusaha secara teologis

untuk membantah pendapat mereka.

Kaum Arian mengajukan banding ke banyak pemimpin berpangkat tinggi,

tetapi Ambrosius dapat bertahan bahkan bisa selangkah lebih maju.


Kekuatan karakter Ambrosius ditunjukkan dengan  caranya membela

diri saat kaum Arian menuntut beberapa gereja di Milan didedikasikan

untuk mereka, satu di kota dan satu di pinggiran kota. Ambrosius

menolak permintaan mereka. Dia diperintahkan untuk tampil di depan

dewan, di mana dia kemudian berbicara dengan fasih dalam

membela Gereja. 


"Jika Anda menuntut pribadi saya, saya siap untuk tunduk: membawa

saya ke penjara atau mati, saya tidak akan menolak; tapi saya tidak akan

pernah mengkhianati Gereja Kristus. Saya tidak akan meminta orang

untuk menolong saya; Saya akan mati di kaki altar daripada

meninggalkan-Nya,” ujar Ambrosius saat itu.


Ambrosius meninggal pada tanggal 4 April 397. Sebagai uskup Milan dia

diganti  oleh Simplisianus. Jasad Ambrosius dikebumikan di Gereja

St. Ambrogio di Milan. Karena kepemimpinannya di Milan, baik sebagai

gubernur atau sebagai uskup,   dia dihormati sebagai santo pelindung

Kota Milan. 


(Ch. Enung Martina ) 

dari sumber:

*Ambrosius dari Milan, Corpus Scriptorum Ecclesiasticorum Latinorum 64, 139 

* Ambrosius dari Milan, De Mysteriis, 59, PG 16, 410 

* Ambrosius dari Milan, De Spiritu Sancto, III, 11,79–80 

* Ambrosius dari Milan, Expositio in Lucam 2, 17; PL 15, 1640 

* De virginibus (Perihal Para Perawan); De virginitate

A. Heuken SJ. Ensiklopedi Gereja. Jakarta: Yayasan Cipta Loka, 2004. 

* H. Berkhof, H. Enklaar. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.