Kamis, 04 Desember 2025

CERPEN TENTANG BENCANA



Batu yang Disisihkan

Pantai Wediombo yang begitu tenang, hidup manusia dan laut seperti dua sahabat tua yang saling memahami napas satu sama lain. Setiap pagi, anak-anak bangun dengan harum garam yang dibawa angin, dan para nelayan membaca gerak ombak seperti membaca halaman perimbon  yang diwariskan dari kakek-kakek mereka. Suara gelombang yang memecah karang bukanlah ancaman, melainkan lagu pengantar tidur yang menenteramkan, lagu yang telah mengiringi generasi demi generasi, mengikat mereka dalam ritme alam yang stabil dan penuh rahmat.

Namun beberapa tahun terakhir, sesuatu berubah dalam nada dunia. Cuaca yang dulu dapat ditebak kini seperti hati yang penuh guncangan. Angin tak lagi hanya bertiup kencang; ia menjerit, memutar, mengaum seperti binatang besar yang terbangun dari tidur panjangnya. Laut yang tenang, sering bergulung dan berbuih, melontarkan diri ke pantai, layaknya istri yang marah-marah karena tak diberi nafkah. Desa yang kecil itu menyaksikan lahirnya angin siklon pertama dalam sejarah mereka; putaran raksasa yang menyapu perahu, merobek atap, dan membuat orang-orang berdoa sambil menahan napas.

Laut pun berubah watak. Ia tak lagi hanya naik dengan sopan pada saat pasang, tetapi melonjak tinggi, memukul tepi pantai dengan kekuatan yang belum pernah dirasakan. Seolah-olah laut ingin menguji keberanian manusia, mengingatkan bahwa ia adalah makhluk purba yang jauh lebih tua daripada desa mana pun. Ombak memecah karang dengan suara dentum yang menggema, seperti bumi sedang mengetuk pintu langit, meminta perhatian.

Di balik semua itu, orang-orang desa merasakan kehadiran kecemasan yang halus namun terus tumbuh, bahwa dunia yang mereka cintai perlahan berubah bentuk, dan mereka harus belajar membaca ulang bahasa alam yang kini berbicara dengan nada yang lebih keras, lebih mendesak. Perubahan itu bukan hanya terlihat pada langit yang semakin sering menghitam tanpa aba-aba, tetapi juga pada periuk-periuk dapur yang semakin ringan isinya. Ikan-ikan yang dulu berlimpah kini menjauh, seolah takut pada suhu air yang tak lagi ramah. Jala para nelayan kembali ke daratan dengan lebih banyak angin daripada hasil tangkapan.

Harga kebutuhan pokok naik seperti gelombang yang tak pernah surut. Anak-anak belajar menahan lapar lebih lama, para ibu menakar beras dengan hati-hati, dan para ayah menatap laut dengan pandangan yang lebih panjang daripada sebelumnya, seperti mencari jawaban pada cakrawala yang terus berubah warna. Setiap keluarga mulai menyadari bahwa yang guncang bukan hanya bumi, tetapi juga keseimbangan hidup mereka sendiri: penghasilan yang kian tak menentu, kebutuhan yang mendesak, dan harapan yang semakin harus disimpan di dalam dada, agar tidak tertiup angin siklon yang mengancam.

Di tengah kondisi itu, hiduplah Bhanu, seorang anak yang suka menggambar dan mengamati alam. Ia sering mendengar orang dewasa membicarakan “megathrust”, “anomali cuaca”, dan “lempeng yang bergerak”. Meskipun ia tak sepenuhnya memahami, ia tahu bahwa bumi sedang seperti seseorang yang kelelahan, meminta manusia untuk mendengarkan. Setiap kali ia menatap garis pertemuan antara laut dan langit, ia merasa seolah alam sedang berbisik melalui desau angin dan gemuruh ombak yang tak lagi beraturan.

Melihat perubahan yang makin tak menentu, warga desa akhirnya bergerak serentak, sebuah gerakan yang lahir dari naluri bertahan hidup dan warisan gotong royong yang tak pernah padam. Para nelayan menurunkan balok kayu dari gudang perahu, para ibu membawa batu karang dari tepi pantai, sementara para pemuda menggali lubang-lubang penahan di sepanjang bibir desa. Mereka bekerja tanpa banyak kata, hanya suara sekop, desah napas, dan gelegar ombak yang sesekali menerjang kaki mereka. Tujuan mereka satu membangun pemecah ombak. 

Pemecah ombak itu mereka bangun seperti membangun doa: lapis demi lapis, batu demi batu, harapan demi harapan. Tujuannya sederhana namun mendesak, agar ombak yang marah tidak langsung menerjang rumah-rumah mereka, agar laut yang tak lagi dapat diprediksi tetap diberi batas, agar anak-anak seperti Bhanu masih bisa bermimpi di bawah atap yang aman.

Para tukang bangunan mengangkut batu-batu untuk membangun tanggul penahan ombak yang baru. Karena badai siklon sebelumnya menghancurkan sebagian besar tanggul lama, desa itu butuh perlindungan yang lebih kuat. Namun ketika para tukang memilih batu, mereka menyingkirkan satu batu besar yang warnanya gelap dan bentuknya tak beraturan. “Terlalu kasar. Terlalu jelek. Tidak bisa dirapikan,” kata seorang tukang sambil membuangnya ke samping.

Bhanu berdiri di antara mereka, kecil tetapi penuh perhatian, menggambar di buku lusuhnya sosok-sosok yang bekerja bersama. Dalam garis-garisnya yang sederhana, ia menangkap punggung-punggung yang basah oleh keringat, mata-mata yang penuh letih, dan tangan-tangan yang tak berhenti bergerak. Baginya, pemecah ombak bukan hanya bangunan baru di tepi pantai, tetapi simbol bahwa manusia, ketika bersatu, masih mampu berdiri menghadapi alam yang berubah dengan keberanian dan kasih satu sama lain.

Seperti biasa, Bhanu selalu mengambil benda apa saja yang menurutnya bisa dipakai lagi. Ia pun mengambil batu itu. Berat memang, tapi dengan tubuh kecilnya, ia berusaha keras menyisihkan batu itu ke arah pohon kelapa yang tumbuh di sekitar situ. Bhanu melihat  ada sesuatu yang berbeda dengan batu itu. Teksturnya sangat padat, lebih berat daripada batu lainnya. 

Beberapa minggu kemudian, badai siklon muncul di Desa Wediombo. Awan gelap bergerak dengan kecepatan yang tak wajar, angin memutar seperti cambuk raksasa, dan laut mengamuk. Tanggul yang baru dibangun retak dan sebagian roboh. Tak alang kepalang, rob pun masuk ke desa. Rumah-rumah yang dekat dengan pantai mengalami kerusakan: dinding retak, atap beterbangan, dan perabotan hanyut terseret air. Warga panik, berlarian menyelamatkan diri sambil memanggil nama-nama anggota keluarga mereka, memastikan tak ada yang tertinggal di belakang.

Namun ketika badai akhirnya surut dan langit membuka sedikit celah cahaya, desa itu menemukan secercah kelegaan. Kondisinya tidak seburuk dugaan mereka. Tak ada korban jiwa, tak ada seorang pun yang terluka meski badai begitu mengamuk. Hanya beberapa kios kecil di tepi pantai yang luluh-lantak, papan namanya tergeletak miring, dan barang dagangan yang tadinya tersusun rapi kini terendam lumpur. Kerugian itu terasa berat bagi pemiliknya, tetapi tetap dapat dipulihkan, asal mereka bersama-sama bangkit.

Desa itu menarik napas panjang karena  baru saja terlepas dari genggaman bahaya. Di tengah puing-puing yang berceceran, muncul rasa syukur bahwa badai yang ganas itu tidak merenggut nyawa, bahwa mereka masih diberi kesempatan untuk memperbaiki, memperkuat, dan belajar memahami lagi tanda-tanda alam yang sebelumnya mereka abaikan. Angin yang menyapu sisa-sisa badai membawa serta bisikan ringan, bahwa hidup, sekalipun rapuh, selalu menyimpan ruang untuk bangkit kembali.

Ketika badai reda, kepala desa mengumpulkan warga di tepi pantai. Mereka harus membangun ulang tanggul dan memperkuat fondasi sebelum badai berikutnya datang karena peringatan megathrust juga semakin sering terdengar. Desa itu harus siap menghadapi guncangan dan gelombang besar.

Bhanu, dengan tubuh kecilnya, maju dan mengatakan tentang batu yang ia simpan. “Pak, mungkin batu yang kemarin saya temukan bisa dipakai untuk fondasi,” katanya. Banyak orang tersenyum simpul, mengira ini hanya kelucuan anak-anak di tengah kesedihan.

Namun Pak Wirya, salah satu tukang bangunan sepuh yang paling berpengalaman datang untuk melihat batu itu dengan seksama. Ia mengetuknya. Bunyi yang muncul bukan dentingan biasa, tetapi dentang yang dalam dan kokoh. “Ini batu karang tua,” katanya. “Ditekan oleh ribuan tahun ombak dan lempeng bumi. Justru batu seperti ini yang mampu menahan guncangan dan hempasan.”

Batu itu akhirnya ditempatkan sebagai penjuru tanggul baru, menjadi fondasi utama di titik yang paling rawan diterjang ombak. Ketika tanggul selesai dibangun kembali, orang-orang mulai menyadari betapa kokohnya struktur itu. Batu yang semula dibuang justru menjadi titik terkuat penahan badai.

Hari itu Bhanu mengerti sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pembangunan tanggul. Ia melihat bahwa bumi sedang mengingatkan manusia: banyak hal yang sering diabaikan alam, tanah, laut, udara, dan hutan adalah justru batu penjuru yang menopang hidup kita. Ketika manusia menyingkirkan alam dari prioritas, bencana datang bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai panggilan untuk kembali sadar.

Ketika sinar matahari sore bersinar lembut dan semburat jingga di langit  mulai memerah tua, tanggul baru itu berdiri kokoh. Di dalam tanggul baru itu ada batu yang dahulu disisihkan para tukang bangunan, tetapi kini menjadi fondasi kuat. Tanggul baru ini pun seolah mengatakan bahwa yang dianggap tidak penting seringkali menyimpan kekuatan untuk menyelamatkan.

Bhanu  memandang tanggul baru itu lama-lama. Ia seperti mendengar bisikan kata-kata lama mengalun pelan di hatinya:

“Batu yang dibuang tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.”

Dan ia tahu, di zaman ketika angin siklon, megathrust, dan bencana alam terus meningkat, kisah itu bukan hanya tentang batu atau bangunan, tetapi tentang keberanian manusia untuk melihat kembali apa yang selama ini diabaikan, termasuk bumi yang diam-diam memanggil kita pulang.  (Ditulis di penghujung tahun 2025 ketika bencana menggoncang Pulau Sumatera - Ch. Enung Martina) 


Rabu, 03 Desember 2025

CATATAN SETELAH MEMBACA BUKU SAPIENS



 Perjalanan Umat Manusia

Perjalanan yang panjang membaca buku Sapiens  : Riwayat Singkat Umat Manusia,  karya Yuval Noah Harari, akhirnya selesai juga. Saya membaca sejak bulan Januari 2025 dan selesai 15 November 2025. Sepuluh  bulan setengah bukanlah waktu yang singkat. Namun, selama jangka waktu tersebut saya juga membaca buku-buku lain yang lebih ringan. Sepertinya buku ini benar adanya bahwa ini merupakan riwayat hidup umat manusia. 


Secara ringkas bahwa buku ini berisi tentang perjalanan umat manusia dari zaman semono sampai zaman semene. Secara garis besar beginilah isi buku itu: Cognitive Revolution → manusia mulai berpikir simbolis dan bekerja sama dalam skala besar. Agricultural Revolution → masyarakat menetap, populasi meningkat, ketimpangan sosial muncul. Unification of Humankind → uang, kekaisaran, dan agama menyatukan dunia. Dan yang keempat adalah 

Scientific Revolution → ilmu, teknologi, kapitalisme membentuk dunia modern dan membuka era rekayasa kehidupan.


Revolusi Kognitif merupakan titik balik yang membuat Homo Sapiens melampaui spesies manusia lainnya. Ketika manusia mulai berpikir secara simbolis, mereka tidak hanya menamai benda atau menggambarkan peristiwa, tetapi juga menciptakan makna: mitos, nilai, aturan, serta kisah-kisah yang memberi arah bagi hidup bersama. Kemampuan membayangkan sesuatu yang tidak kelihatan secara fisik, seperti roh, bangsa, atau masa depan, memungkinkan manusia merencanakan, mengingat, dan menata hidup dengan cara yang tidak bisa dilakukan makhluk lain. Dalam konteks ini, bahasa menjadi alat utama yang membuka ruang kreativitas intelektual sekaligus memperluas cakrawala berpikir manusia.


Dari sini kita tahu bahwa manusia itu tak hanya homo Sapiens saja jenisnya. Ada aneka jenis manusia. Diperkirakan ada sekitar 10 jenis manusia selain homo sapiens. Misalnya saja saya menyebutkan dua contohnya yaitu Homo neanderthalensis (Neanderthal) yang hidup di Eropa dan Asia Barat dengan ciri-ciri tubuh berotot, otak besar, adaptif terhadap cuaca dingin. Contoh jenis  kedua adalah Homo erectus, yaitu salah satu spesies manusia paling lama bertahan. Lokasi hidup pertama kali keluar dari Afrika dan menyebar ke Asia. Serta berbagai jenis manusia yang lain. 


Dibandingkan dengan jenis manusia yang lain, homo sapiens mampu bertahan hidup dan menjadi satu-satunya spesies manusia yang tersisa karena memiliki kemampuan berpikir simbolis dan berimajinasi yang jauh lebih maju, memungkinkan terciptanya mitos, aturan, serta identitas bersama yang mengikat kelompok besar. Bahasa yang kompleks membuat mereka dapat berkomunikasi secara detail, menyimpan pengetahuan, dan merancang kerja sama dalam skala luas, jauh melampaui batas keluarga. Fleksibilitas kognitif yang tinggi menjadikan sapiens cepat belajar dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, sekaligus mendorong inovasi teknologi yang terus berkembang. Selain itu, kecerdasan sosial mereka memungkinkan pembentukan jaringan pertemanan, aliansi, dan struktur sosial yang rumit, sehingga mendukung keberlangsungan hidup komunitas. Gabungan semua kemampuan ini memberi Homo sapiens keunggulan dalam persaingan ekologis dan sosial, hingga akhirnya membuat mereka mampu mengungguli dan menggantikan spesies manusia lainnya.


Kemampuan berpikir abstrak itu kemudian membuat manusia mampu bekerja sama dalam kelompok yang jauh lebih besar dan kompleks. Jika hewan lain hanya bisa bekerja sama dalam kelompok kecil yang saling mengenal, manusia dapat membentuk komunitas ratusan hingga ribuan orang berkat kepercayaan bersama, entah itu tradisi, hukum, atau keyakinan spiritual. Kerja sama skala besar inilah yang menjadi fondasi lahirnya budaya, masyarakat, dan peradaban. Dalam arti tertentu, Revolusi Kognitif bukan hanya perubahan dalam cara manusia berpikir, tetapi juga awal mula manusia membangun dunia sosial yang terus berkembang hingga hari ini.


Bagian kedua dari buku Sapiens adalah Revolusi Pertanian. Revolusi ini  membawa perubahan besar dalam cara manusia hidup. Ketika masyarakat mulai menetap dan mengandalkan budidaya tanaman serta hewan ternak, jumlah populasi meningkat pesat karena makanan lebih stabil dan ruang hidup menjadi lebih teratur. Namun, perubahan ini juga membuat manusia bekerja lebih keras untuk mengolah tanah, menjaga ladang, dan mengelola panenan. Jika dibanding dengan masa berburu-meramu, tampaknya  memang  lebih fleksibel. Cara hidup menetap menciptakan fondasi awal bagi desa, kota, hingga peradaban besar yang kemudian berkembang selama ribuan tahun.

Di balik kemajuan itu, Revolusi Pertanian juga memunculkan ketimpangan sosial. Mereka yang memiliki tanah atau menguasai hasil panen menjadi lebih berkuasa, sementara kelompok lain bekerja keras untuk mempertahankan hidup. Kepemilikan dan surplus makanan menciptakan hierarki: tuan tanah, pekerja, pemimpin, dan kelas bawah. Dengan demikian, pertanian tidak hanya mengubah cara manusia makan, tetapi juga cara mereka memandang status, kekuasaan, dan struktur sosial. Revolusi ini menjadi titik awal munculnya masyarakat kompleks beserta segala peluang dan tantangannya.

Ketiga adalah penyatuan umat manusia. Proses penyatuan umat manusia terjadi ketika uang, kekaisaran, dan agama mulai berperan sebagai kekuatan bersama yang menghubungkan kelompok-kelompok berbeda. Uang menjadi alat yang dapat diterima semua orang, terlepas dari suku atau budaya, sehingga memudahkan pertukaran barang, membangun perdagangan jarak jauh, dan menciptakan ketergantungan ekonomi antarwilayah. Kekaisaran, dengan sistem hukum dan administrasinya, menyatukan banyak kelompok di bawah aturan yang sama, sehingga menciptakan stabilitas, jaringan perdagangan, dan pertukaran budaya yang semakin memperluas cakrawala peradaban. Bersamaan dengan itu, agama universal menyatukan manusia melalui nilai-nilai moral, harapan hidup, dan keyakinan spiritual yang tidak terbatas pada satu suku, tetapi dapat dianut berbagai bangsa.

Proses penyatuan umat manusia terjadi ketika uang, kekaisaran, dan agama mulai berperan sebagai kekuatan bersama yang menghubungkan kelompok-kelompok berbeda. Uang menjadi alat yang dapat diterima semua orang, terlepas dari suku atau budaya, sehingga memudahkan pertukaran barang, membangun perdagangan jarak jauh, dan menciptakan ketergantungan ekonomi antarwilayah. Kekaisaran, dengan sistem hukum dan administrasinya, menyatukan banyak kelompok di bawah aturan yang sama, sehingga menciptakan stabilitas, jaringan perdagangan, dan pertukaran budaya yang semakin memperluas cakrawala peradaban. Bersamaan dengan itu, agama universal menyatukan manusia melalui nilai-nilai moral, harapan hidup, dan keyakinan spiritual yang tidak terbatas pada satu suku, tetapi dapat dianut berbagai bangsa.

Ketiga kekuatan ini pada akhirnya menciptakan jaringan global pertama yang memungkinkan manusia melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar. Uang menggerakkan kerja sama praktis, kekaisaran membangun struktur dan ketertiban, sedangkan agama memberikan makna dan tujuan bersama. Melalui interaksi ketiganya, manusia dari berbagai latar belakang mulai berbagi sistem kepercayaan, norma, dan cara hidup yang relatif serupa. Penyatuan ini bukan tanpa konflik, tetapi justru melalui berbagai pertemuan, pertentangan, dan penyesuaian, dunia perlahan bergerak menuju satu ruang sosial yang saling terhubung. Itulah cikal bakal globalisasi yang kita rasakan hingga sekarang.

Revolusi Sains menandai momen ketika manusia mulai mengakui ketidaktahuan sebagai pintu menuju penemuan baru. Alih-alih hanya mengandalkan tradisi atau otoritas lama, manusia mulai mencari kebenaran melalui pengamatan, eksperimen, dan metode ilmiah. Sikap ini menghasilkan lonjakan pengetahuan yang belum pernah terjadi sebelumnya,  dimulai dari astronomi, kedokteran, hingga fisika. Semuanya yang secara bertahap mengubah cara manusia memahami alam semesta dan dirinya sendiri. Ilmu pengetahuan membuka ruang bagi rasa ingin tahu yang tak terbatas, menjadikan pencarian pengetahuan sebagai motor penggerak peradaban.


Dampak Revolusi Sains tidak hanya dirasakan dalam dunia pengetahuan, tetapi juga dalam cara hidup manusia sehari-hari. Penemuan-penemuan baru melahirkan teknologi yang mempercepat pertanian, transportasi, komunikasi, dan kesehatan. Ekonomi modern bertumpu pada penelitian dan inovasi, sementara negara-negara mulai membangun kekuatan melalui ilmu pengetahuan dan industri. Pada akhirnya, Revolusi Sains menciptakan dunia yang serba berubah dan bergerak cepat. Pastinya membawa harapan akan kemajuan, sekaligus tantangan etis dan ekologis yang masih terus kita gumuli hingga hari ini.


Secara keseluruhan, Sapiens menggambarkan perjalanan panjang manusia dari makhluk kecil di Afrika menjadi penguasa planet berkat kemampuan berpikir simbolis, membangun kerja sama besar, menciptakan pertanian, menyatukan dunia melalui uang, kekaisaran, dan agama, hingga melahirkan revolusi sains yang mengubah wajah peradaban. Namun, di balik kemajuan yang luar biasa, terutama teknologi modern yang memungkinkan manusia menjelajah angkasa, menciptakan kecerdasan buatan, dan mengubah struktur hidup. Dari semenjak keberadaan manusia, kehidupan manusia tetap penuh perjuangan seperti para leluhur kita. Kita masih mencari makna, bergelut dengan ketidakpastian, menghadapi ketimpangan, dan berusaha memahami arah perkembangan dunia. Buku ini mengingatkan bahwa meskipun manusia telah berkembang jauh, hakikat kita tetap sama: makhluk yang terus belajar, beradaptasi, dan bertanya tentang tujuan keberadaan di tengah perubahan yang tidak pernah berhenti.


Membaca Sapiens adalah perjalanan reflektif yang mengajak kita melihat diri sendiri dari kejauhan, seolah menengok sejarah panjang umat manusia sambil bertanya kembali siapa kita hari ini. Setiap bagian buku ini membuka kesadaran bahwa segala yang kita anggap “biasa” dalam hidup modern (agama, negara, uang, ilmu, bahkan identitas) adalah hasil rangkaian pilihan, kebetulan, dan kreativitas yang dibangun ribuan tahun. Saat menutup buku ini, kita disadarkan bahwa kemajuan teknologi, kenyamanan hidup, dan berbagai pencapaian masa kini tidak menghapus pertanyaan mendasar tentang makna, tujuan, dan arah hidup manusia. Dengan demikian, membaca Sapiens bukan hanya menambah pengetahuan sejarah, tetapi juga menajamkan kepekaan tentang betapa rapuh, namun sekaligus luar biasanya perjalanan kita sebagai manusia. Meskipun banyak tantangan dalam hidup, saya tidak bosan menjadi manusia. (Ch. Enung Martina, 3 Desember 2025) 




Senin, 24 November 2025

ARTIKEL REFLEKTIF HARI GURU

 


Ziarah Seorang Guru - Menemukan Tuhan dalam Ruang Kelas

Tahun 1989 menjadi pintu pertama ketika saya melangkah keluar dari IKIP Sanata Dharma sebagai seorang guru muda yang penuh semangat, namun belum sepenuhnya mengerti bahwa Tuhan telah menyiapkan sebuah perjalanan panjang untuk membentuk hati saya. Tiga puluh lima tahun lebih berlalu, dan kini ketika saya melihat ke belakang, saya menyadari bahwa mengajar bukan sekadar profesi, melainkan ziarah rohani, tempat Tuhan perlahan mencetak ulang diri saya melalui perjumpaan sehari-hari dengan anak-anak dan berbagai orang dengan latar belakang yang beraneka. 

Awal perjalanan saya sebagai guru dimulai di Yos Sudarso, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Dilanjutkan di Bandung, di SMP Prova, sekarang SMP St. Ursula. Di sana saya belajar bahwa dunia pendidikan bukan ruang steril seperti teori di bangku kuliah; melainkan dunia nyata di mana jiwa-jiwa muda datang membawa harapan, luka, tawa, dan pergulatan. Saya masih ingat di Cigugur, seorang siswa yang kerap datang terlambat. Saat saya tegur, berkata lirih, “Bu, saya harus bantu orang tua jualan dulu pagi-pagi.” Sejak hari itu, saya memahami bahwa tugas guru bukan memberi label, tetapi mendengarkan. Bukan menghakimi, tetapi mendampingi. Bukan menuntut kesempurnaan, tetapi menemani perjalanan.

Ketika Tuhan menuntun langkah saya ke St. Ursula BSD, saya menemukan sebuah rumah rohani yang menempa dan memelihara panggilan saya. Di sini saya belajar lebih dalam bahwa setiap anak adalah misteri dan sekaligus benih. Ada siswi yang pernah berkata, “Bu, saya gak  pintar seperti teman saya ” Ia menunduk, merasa tidak layak. Saya juga berjumpa dengan anak-anak yang mempunyai permasalahan keluarga. Saya juga berjumpa dengan anak yang sangat penuh dengan kemarahan. Ada juga anak yang penuh keputusasaan. Ada yang merasa minder. Ada yang terlalu sombong. Dan banyak lagi perjumpaan dengan aneka kasus. Dengan kesabaran, saya mencoba menyirami mereka  dengan kepercayaan diri yang pelan-pelan tumbuh kembali. Bahkan, saya juga membentak, menggebrak meja,  serta memarahi mereka. Saya juga pernah menghukum mereka. Puji Tuhan tak ada orang tua yang membawa saya ke ranah hukum, karena mereka tahu bahwa saya sedang menempa anak-anak mereka untuk menjadi lebih kuat dalam menghadapi kehidupan. 

Bertahun-tahun kemudian ada yang  mengirim pesan, “Terima kasih, Bu, karena Ibu melihat saya ketika saya kehilangan diri saya sendiri.” pernah saya mengalami saat saya berjalan kakai di Taman Kota I BSD, tiba-tiba ada yang memeluk saya dan cipika-cipiki saya. Lelaki  itu badannya tinggi besar, brewokan, dan kokoh. Saya kaget dan mundur perlahan. Rupanya, dia murid saya beberapa puluh tahun lalu, sekarang bekerja dan berkeluarga, serta tinggal di Singapura. Dan aneka pertemuan di ruang publik yang tak sengaja berjumpa dengan para murid yang sekarang sudah menjadi aneka macam profesi. Di saat seperti itu, saya merasakan dengan jelas bahwa Tuhan bekerja melalui hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa. Saya memahami  bahwa waktu membawa keajaibannya sehingga para murid ini sekarang  tumbuh dengan kokoh dan kuat.

Tidak semua langkah terasa ringan. Ada masa ketika saya lelah: saat tuntutan meningkat, dunia berubah begitu cepat, dan teknologi bergerak lebih cepat daripada napas saya. Ada masa ketika hati menjadi sendu, bertanya apakah karya ini masih berarti. Dalam kesunyian doa, saya sering kembali kepada ayat yang menguatkan:

“Tuhan akan menuntun engkau senantiasa… engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik.”
(Yesaya 58:11)

Ayat ini menjadi pelita di saat saya berjalan dalam lorong-lorong yang tampak redup. Saya belajar untuk berserah, untuk percaya bahwa guru tidak bekerja sendirian; Roh Tuhan turut hadir dalam setiap langkah kecil yang sering tidak terlihat orang lain.

Sungguh benar kata Mazmur:

“Ajarilah kami menghitung hari-hari kami, supaya kami beroleh hati yang bijaksana.”
(Mazmur 90:12)

Saya juga belajar dari pengalaman sulit, konflik, kehilangan, kebingungan, atau masa ketika sekolah menghadapi kedukaan. Dalam situasi itu, saya merasa bahwa tugas guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi memelihara kemanusiaan. Kita menjadi pendengar, pembangun harapan, penenang jiwa, atau sekadar kehadiran yang memberi rasa aman. Dalam saat-saat demikian, saya memahami makna Mazmur di atas. 

Kegiatan mengajar mengajarkan saya kebijaksanaan. Bukan kebijaksanaan besar yang menggelegar, tetapi kebijaksanaan lembut yang tumbuh dari kesetiaan sehari-hari: ketika saya membuka kelas dengan doa, ketika saya memilih mendengarkan alih-alih memaksa, ketika saya membiarkan anak belajar dari kegagalan, ketika saya merayakan kemajuan kecil yang hanya terlihat oleh mata yang peka.

Panggilan guru secara perlahan membentuk cara saya memandang manusia dan cara saya memandang Tuhan. Saya mulai melihat bahwa setiap ruang kelas adalah tanah suci: tempat anak-anak belajar menemukan jati diri, dan tempat saya belajar menemukan kembali siapa saya di hadapan Tuhan. Ruang kelas adalah altar persembahan, saat asa dan kerja kita dipersembahkan kepada Sang Mahaguru.  Dalam perjalanan panjang ini, saya menemukan kebenaran kata-kata Paulo Freire:

“Pendidikan tidak mengubah dunia. Pendidikan mengubah manusia yang akan mengubah dunia.”

Pekerjaan ini mengajarkan saya untuk tidak mengukur keberhasilan hanya dari nilai, ranking, atau prestasi. Mengajar adalah pekerjaan hati. Ia hadir dalam tatapan mata siswa yang mulai mengerti, dalam tanya yang muncul tiba-tiba, dalam pujian kecil, dalam kegagalan yang kita tanggulangi bersama, atau bahkan dalam keheningan ketika seorang anak merasa tidak sanggup tetapi akhirnya mencoba lagi. Di sanalah saya memahami kata-kata Paulo Freire tersebut. 

Sebagai guru, kita mungkin tidak selalu melihat hasilnya. Ada benih yang tumbuh cepat, ada yang lama tersembunyi dalam tanah, ada yang hanya Tuhan yang tahu kapan akan berbuah. Tugas kita hanyalah menabur dengan cinta, menyiram dengan kesetiaan, dan mempercayakan pertumbuhan kepada Sang Pemberi Hidup.

Kini, ketika saya merenungkan kembali seluruh perjalanan ini, dengan segala terang dan gelapnya, tawa dan air matanya: hati saya dipenuhi syukur. Saya belajar bahwa menjadi guru bukanlah tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi hadir. Hadir dengan hati, hadir dalam doa, hadir dalam kesetiaan.

Kata-kata Kierkegaard menjadi pengingat bagi saya:

“Hidup hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi ia harus dijalani dengan melangkah ke depan.”

Meskipun saya sudah pensiun dari mengajar secara resmi, saya tetap seorang guru. Ketika saya melihat ke belakang, saya melihat rahmat yang begitu banyak. Ketika saya melihat ke depan, saya tetap ingin melangkah pelan, setia, dan penuh harapan karena saya percaya bahwa Tuhan masih ingin memakai hidup saya dalam pelayanan kecil sehari-hari.

Dan mungkin, pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak diukur dari berapa banyak penghargaan, prestasi, atau publikasi yang dimiliki. Keberhasilan seorang guru terletak pada seberapa banyak kasih yang ia bagikan.

Saya bersyukur pernah berjalan sejauh ini. Saya bersyukur pernah jatuh bangun dalam pelayanan ini. Saya bersyukur bahwa Tuhan mempercayakan saya untuk menjadi bagian kecil dari karya-Nya dalam diri anak-anak.

Hingga akhirnya saya dapat berkata dengan tenang:

Segala yang telah saya jalani adalah rahmat.
Setiap anak yang saya jumpai adalah anugerah.
Dan setiap hari mengajar adalah doa.

(Hari Guru 2025: Christina Enung Martina) 


Senin, 10 November 2025

ARTIKEL HARI ST. URSULA 2025

 


Brave Hearts, Strong Spirits, Shining in Love


Judul di atas menjadi tema perayaan Hari Santa Ursula tahun 2025 di Kampus Santa Ursula BSD. “Brave Hearts, Strong Spirits, Shining in Love” mengajak setiap Ursulin muda dan seluruh pendidik untuk meneladani keberanian dan ketangguhan Santa Ursula dalam menempuh jalan iman, pengetahuan, dan kasih. Di tengah dunia yang terus berubah, semangat ini menginspirasi setiap pribadi untuk memiliki hati yang berani menghadapi tantangan, jiwa yang tangguh dalam berjuang, serta cinta yang memancar dalam setiap tindakan nyata. Perayaan ini menjadi ungkapan syukur atas warisan spiritual yang terus hidup dan berbuah dalam karya pendidikan Santa Ursula BSD.


Keberanian bagi para Sanurian di zaman ini tidak lagi hanya berarti menghadapi bahaya besar atau perjuangan fisik, tetapi juga tentang kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran dan kasih di tengah arus dunia yang cepat berubah. Di Kampus Santa Ursula BSD, keberanian itu tampak dalam keseharian: para guru yang terus berinovasi dan mendampingi dengan hati, para siswa yang berani berpikir kritis dan tetap rendah hati, staf tata usaha dan karyawan yang setia melayani dengan ketulusan meski dalam kesibukan dan keterbatasan. Keberanian sejati adalah keberanian untuk tetap menjadi terang di tengah kegelapan, melakukan yang benar meski tidak populer, dan terus menabur kasih tanpa pamrih. Di sinilah semangat “Brave Hearts, Strong Spirits, Shining in Love” menemukan wujud nyatanya dalam langkah-langkah sederhana setiap Sanurian yang berani mencintai dan berkarya dengan sepenuh hati.


Keberanian sejatinya  tumbuh dari hati yang percaya dan jiwa yang teguh pada nilai-nilai kebaikan. Dalam kehidupan sehari-hari di kampus BSD, keberanian itu tampak ketika seseorang berani mengakui kesalahan dan belajar darinya, ketika guru tetap setia mendampingi meski hasil belum terlihat, ketika siswa berani berbicara dengan jujur, dan ketika setiap karyawan memilih bekerja dengan integritas tanpa mencari pujian. Keberanian juga berarti tidak menyerah pada kelelahan atau ketidakpastian, melainkan terus melangkah dengan harapan dan doa. Seperti Santa Ursula yang mengandalkan kekuatan kasih Tuhan dalam menghadapi tantangan, para Sanurian pun diajak untuk menyalakan keberanian itu setiap hari untuk menjadi diri sendiri, untuk melayani dengan tulus, dan untuk memperjuangkan kebaikan di mana pun berada.


Unsur kedua dari tema di atas adalah tentang keteguhan jiwa. Keteguhan jiwa menjadi dasar yang meneguhkan semangat Sanurian dalam menjalankan setiap tugas dan kewajiban. Di tengah tuntutan pekerjaan, studi, maupun pelayanan, keteguhan ini tampak dalam kesetiaan untuk tetap berproses dengan sabar, tekun, dan bertanggung jawab. Guru yang terus membimbing meski lelah, siswa yang berjuang menyelesaikan tugas dengan jujur dan disiplin, serta karyawan yang bekerja dengan disiplin dan komitmen adalah wujud nyata dari jiwa yang kuat. Keteguhan tidak selalu tampak besar. Namun, hidup dalam hal-hal sederhana dalam kesediaan untuk tetap setia, dalam kesabaran menghadapi kesulitan, dan dalam keyakinan bahwa setiap karya, sekecil apa pun, adalah bagian dari panggilan kasih. Keteguhan jiwa inilah yang diharapkan  senantiasa hidup di tengah komunitas Santa Ursula BSD.


Keteguhan jiwa menjadi sangat penting karena dunia saat ini. Situasi  sering menguji kesabaran, komitmen, dan integritas manusia. Tanpa keteguhan, seseorang mudah goyah oleh tekanan, mudah menyerah ketika hasil tak segera tampak, atau tergoda untuk mengambil jalan pintas demi kenyamanan sesaat. Keteguhan membuat hati tetap berpaut pada nilai-nilai kebenaran dan kasih, meski lingkungan sekitar kadang tidak mendukung. Bagi para Sanurian, keteguhan jiwa berarti berani bertahan dalam kebaikan, menjaga semangat pelayanan, dan tetap berpegang pada cita-cita luhur pendidikan Ursulin. Di sinilah makna mendalam dari Strong Spirits, bahwa kekuatan sejati bukan datang dari luar, melainkan dari ketekunan dan kesetiaan batin untuk terus berbuat baik, apa pun tantangannya.


Dari keberanian yang lahir dari hati yang tulus dan keteguhan jiwa yang teruji dalam kesetiaan, terpancarlah cahaya kasih yang menerangi kehidupan. Inilah makna terdalam dari Shining in Love. Bahwa kasih menjadi buah dari keberanian dan keteguhan yang dijalani dengan rendah hati. Kasih itu tidak berhenti di ruang kelas atau lingkungan sekolah, tetapi mengalir ke rumah dan keluarga dalam bentuk perhatian, pengertian, dan kehadiran yang menguatkan. Ia juga menyebar di lingkungan sekitar dan masyarakat melalui sikap peduli, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama serta alam ciptaan. Ketika setiap Sanurian berani berbuat baik, teguh dalam panggilannya, dan menjalankan tugas dengan tulus, maka semangat “Brave Hearts, Strong Spirits, Shining in Love” sungguh hidup nyata sehingga menjadi terang yang menuntun dan menyejukkan dunia di sekitarnya.


Dunia saat ini sungguh merindukan kehadiran pribadi-pribadi yang memancarkan kasih dalam tutur, sikap, dan tindakan. Di tengah derasnya arus persaingan, individualisme, dan ketidakpedulian, kasih menjadi tanda kehadiran Allah yang menenangkan dan memulihkan. Kasih yang memancar bukan hanya berupa kata-kata manis, melainkan nyata dalam empati, kesediaan mendengarkan, dan ketulusan berbagi. Inilah panggilan bagi setiap Sanurian untuk menjadi pribadi yang menghadirkan kasih di mana pun berada: di rumah, di sekolah, di lingkungan, dan di tengah masyarakat. Ketika kasih menjadi pusat dari segala perbuatan, dunia yang keras dan terburu-buru akan kembali menemukan wajah kemanusiaannya. Dengan demikian, semangat “Brave Hearts, Strong Spirits, Shining in Love” bukan sekadar tema perayaan, melainkan jalan hidup yang menyembuhkan dan menebarkan terang bagi banyak orang.


Menjalankan semangat “Brave Hearts, Strong Spirits, Shining in Love” tentu bukan perkara mudah. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada kelelahan, kekecewaan, atau situasi yang membuat semangat kasih dan keteguhan hati terasa redup. Tidak selalu mudah untuk tetap berani berbuat benar ketika lingkungan menuntut kompromi, atau untuk tetap teguh ketika hasil kerja tak segera tampak. Namun justru di sanalah nilai sejatinya: kita terus berusaha, setahap demi setahap, sesuai kemampuan yang Tuhan anugerahkan. Dengan kesadaran akan keterbatasan, kita belajar mengandalkan rahmat dan kekuatan dari-Nya. Setiap upaya kecil untuk tetap berani, teguh, dan penuh kasih adalah persembahan berharga.  Memelihara terang di tengah dunia yang suram,meskipun terang yang, itu kecil, tetap berarti bagi sesama dan menjadi tanda harapan bagi banyak hati.


Di tengah tantangan zaman yang kompleks, kita diajak untuk tidak kehilangan arah, melainkan menjadikan nilai-nilai Ursulin sebagai kompas yang menuntun hati. Keberanian, keteguhan, dan kasih bukan sekadar semboyan, tetapi jalan pembentukan diri menuju kedewasaan iman dan kemanusiaan. Hati yang berani menghadapi tantangan, jiwa yang kuat menapaki tanggung jawab, dan cinta yang bersinar dalam pelayanan, semua membawa kita menuju pada kemajuan bersama di kampus kita tercinta.  Setiap Sanurian menjadi bagian dari terang yang mengubah dunia, mulai dari hal-hal kecil di rumah, di gereja,  di sekolah, hingga di masyarakat luas. Inilah warisan Santa Ursula yang terus hidup dan berbuah sepanjang zaman. Selamat merayakan Hari Santa Ursula, pelindung kampus kita. Tuhan memberkati. (Ch. Enung Martina)


Refleksi November

 


Rumah Masa Kecil

Antara Sendu, Syukur, dan Harapan

Ada saat-saat ketika pagi terasa begitu lembut, udara dingin menusuk pelan, dan rintik hujan jatuh tanpa tergesa. Bulan November selalu membawa nuansa sendu, seolah waktu sendiri melambat agar hati punya kesempatan menengok ke belakang, menatap ke dalam, dan menyiapkan diri menatap ke depan. Dalam keheningan seperti ini, berbagai rasa bercampur: ada galau dan keraguan tentang masa depan, ada rindu pada masa lalu, namun di antara semuanya, mengalir rasa syukur yang menenangkan.

Ketika mengingat masa kecil, hati serasa hangat. Ada kenangan tentang tawa bersama saudara, permainan sederhana di tanah kampung, aroma tanah basah selepas hujan, dan cahaya sore yang memantul di sela-sela pepohonan. Semua itu mungkin tampak jauh, tapi justru di sanalah akar kebahagiaan bertumbuh. Bersyukur rasanya pernah memiliki masa kecil yang begitu murni dan penuh kasih. Keluarga yang akur dan rukun, meski tak sempurna, telah menanamkan nilai kesederhanaan dan ketulusan yang kini menjadi fondasi dalam menghadapi hidup.

Rumah masa kecil di tanah kelahiran kini menjadi rumah bersama, tempat kenangan bersemayam sekaligus tempat jiwa pulang mencari tenang. Setiap sudutnya menyimpan cerita, setiap dindingnya menampung doa. Di sanalah seseorang belajar bahwa cinta tidak selalu diungkapkan dengan kata, tetapi hadir dalam kesetiaan, dalam upaya menjaga dan merawat yang ada.

November juga menjadi penanda bahwa Natal semakin dekat. Musim yang membawa cahaya dan sukacita. Ada getar batin yang lembut setiap kali mengingat malam Natal di desa, di Kampung Susuru, Kertajaya, Panawangan, Ciamis.  Ketika  gamelan degung  gereja bergema mengiringi pujian  di tengah sunyi, lilin-lilin kecil menyala di tangan anak-anak, dan lagu “Wengi Suci” terdengar lembut di udara dingin. Semua kenangan itu tidak sekadar nostalgia; ia adalah sumber kekuatan batin, pengingat bahwa kasih selalu menemukan jalannya.

Kini, di tengah perjuangan  hidup dan perubahan zaman, rasa syukur menjadi jangkar. Syukur atas waktu yang telah dilewati, atas keluarga yang setia hadir, atas hari-hari yang masih bisa dijalani. Meski kadang ada tantangan, hati tetap diundang untuk percaya bahwa hidup ini, dengan segala warna dan luka, adalah anugerah yang terus diperbaharui setiap pagi. Seperti firman Tuhan mengingatkan:

“Kasih setia Tuhan tak berkesudahan, rahmat-Nya tidak habis-habisnya; selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu.”
(Ratapan 3:22–23)

Dan dalam rasa syukur itu, jiwa pun berdoa bersama pemazmur:

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, yang menebus hidupmu dari liang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.”
(Mazmur 103:2–4)

Maka, biarlah sendu menjadi bagian dari keindahan. Biarlah rintik hujan November menjadi doa yang jatuh perlahan. Karena di antara setiap tetesnya, selalu tersimpan harapan, bahwa esok akan membawa cahaya baru, dan hati selalu  kembali menemukan damainya.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
(Yeremia 29:11)

Jelupang, 11 November, pulul 05.25 saat meditasi pagi hari menunggu keberangkatan ke tempat kerja. Saat itu hujan rintik kecil menetes - Ch. Enung Martina 

Senin, 14 Juli 2025

Angin Perubahan

 



                                Hari St. Ursula 2025



Waktu terus berlalu. tak terasa usia semakin senja., kepala enam sudah diriku. Perubahan sangat terasa pada tubuh, ingatan, dan beberapa hal lain. Alam memang tab bisa dilawan. Secara perlahan, namun pasti perubahan karena usia tampak dan terasa. Peristiwa-demi peristiwa kehidupan pun bergulir silih berganti. Dari yang manis bak madu, hingga pahit bak empedu. Semuanya silih berganti memperkaya mozaik pengalaman hidupku.


Begitu pula perjumpaan. Ada yang hanya sekilas tak berbekas, tetapi ada yang lama dan mendalam. Semua tak direkayasa mengalir secara natural. Relasi pun ada air yang lebih kental daripada darah dan berkualitas. Namun, sebaliknya, ada juga persaudaraan yang semestinya kental, tetapi malah lebih encer  daripada air, dan akhirnya berakhir dalam kerenggangan. Tak bisa dipaksakan memang, energinya tak sesuai. Kalau dipaksakan juga malah berat dan memakan banyak sekali harga yang harus dibayar. Biar saja mengalir dalam kebebasannya. 


Bagaikan angin yang terus berhembus dari penjuru ke penjuru membawa serta debu, awan, uap air, dan terkadang membawa pula pohon, rumah, binatang dan aneka hal yang ia ingin bawa. Hidup kita pun demikian, terkadang mendekap serta hal-hal remeh  temeh dan beban berat yang sarat berat. 


Suatu saat kau merasa bahwa anginmu begitu lembut, semilir, penuh kedamaian. Suatu saat anginmu kencang disertai hujan deras. Bahkan suatu saat anginmu menjadi badai yang bergelora siap menghempas apa pun. Dan kau diam dalam keputusasaan yang tak tahu harus berlaku apa. kau terjebak dalam ketidakberdayaan.  Kita bertanya kapankah badai ini berlalu? 


Namun, kita tak perlu kuatir. Karena badainya pasti berlalu. Maka muncullah angin perubahan. Angin perubahan, atau yang sering disebut angin muson, adalah angin yang bertiup akibat perbedaan tekanan udara antara daratan dan lautan, dan juga dipengaruhi oleh perputaran bumi. Perubahan musim mempengaruhi pola angin ini, dan bisa berdampak pada cuaca, iklim, serta aktivitas manusia, termasuk pertanian dan perikanan.


Pentingnya Memahami Angin Perubahan: Memahami fenomena angin perubahan dan dampaknya sangat penting untuk mengurangi risiko bencana, mempersiapkan diri terhadap perubahan cuaca, serta mengoptimalkan kegiatan ekonomi yang dipengaruhi oleh angin.


Begitu juga dengan cuaca dan iklim hidup kita. Ketika ada angin perubahan berhembus, maka kita harus menyiapkan diri menyambut angin perubahan ini agar bisa lebih  maju dalam iman dan siap menghadapi tantangan. Angin perubahan dalam kehidupan merujuk pada transformasi dan dinamika yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan.


Angin perubahan adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan. Dengan memahami sifat perubahan dan dampaknya, serta mengembangkan keterampilan untuk beradaptasi dan mengambil peluang, kita  dapat mengarungi angin perubahan dengan lebih baik dan mencapai kemajuan.


......
The world is closing in
And did you ever think
That we could be so close, like brothers?
The future's in the air
I can feel it everywhere
Blowing with the wind of change   

-Wind of change (Scorpio)-

(Ch. Enung Martina)