Selasa, 10 Mei 2011

VIA DOLOROSA,


JALAN SENGSARANYA
SEBAGAI JALAN KESELAMATAN

Ch. Enung Martina

Masih dalam kaitannya dengan Pekan Suci, kali ini saya mengambil tulisan dari catatan perjalanan saya empat tahun yang lalu. Pada waktu itu, kami melakukan Prosesi Jalan Salib yang juga sering disebut Via Dolorosa. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia Via Dolorosa (bahasa Latin untuk "Jalan Kesengsaraan" atau "Jalan Penderitaan") adalah sebuah jalan di Kota Yerusalem Kuno. Jalan ini adalah jalan yang dilalui Yesus sambil memanggul salib menuju Kalvari. Jalan ini ditandai dengan 14 titik salib. Lima titik salib terakhir berada di dalam Gereja Sanctum Sepulchrum. Jalan ini menjadi tujuan utama para peziarah.
Hari itu, Rabu, 15 Oktober 2007, bertepatan dengan Hari Pangan sedunia. Kami sudah berangkat dari Kedem Tower, hotel tempat kami menginap, tanpa sarapan seperti biasanya. Pada hari itu kami punya niat berpuasa sampai kami selesai mengikuti prosesi jalan salib ke Golgota. Selain karena kami akan jalan salib, kami berpuasa karena hari itu adalah Hari Pangan sedunia.

Pihak hotel sudah menyiapkan sarapan kami yang dikemas dalam dus yang cukup besar. Sarapan ini akan dinikmati sesudah kami selesai prosesi jalan salib kami. Kami mulai memasuki bis kami. Cholid, sopir kami yang berkebangsaan Arab dan berwarga Palestina itu, sudah siap menyambut kami dengan senyumnya yang menjual.

Kami turun dari bis dan berbaris melalui lorong pasar tradisional yang masih kotor karena belum dibersihkan. Onggokan sampah pasar nampak di mana-mana. Rupanya pasar tradisional Israel sama juga kotornya dengan pasar di tanah air beta. Pasar masih tutup karena hari masih cukup pagi. Bebatuan yang kami pijak sepanjang lorong tampak sangat tua. Romo Robby Wowor mengatakan beberapa batu masih batu yang sama dengan zaman Yesus ketika menapaki tempat ini dengan salib yang dipanggul-Nya. Kami melangkah harus hati-hati karena jalan cukup licin. Kami berjalan dalam diam untuk mempersiapkan batin dalam ibadat jalan salib nanti.

Kami memasuki pelataran sebuah gereja yang disebut Benteng Antonia, tempat Yesus dihadapkan pada Pilatus. Romo Robby memulai penjelasannya tentang tempat kami berdiri. Pelataran ini dahulunya merupakan tempat Yesus disiksa dengan dicambuki seperti pada film Passion of the Christ.

Kami mulai dengan perhentian pertama. Marilah kita renungkan Yesus yang menjadi korban karma cinta kasih-Nya. Terdengar lagu dinyanyikan oleh para peziarah dengan pelan dan khidmat. Perhentian demi perhentian dilewati. Dari empat belas perhentian semua kurasakan kekhidmatan meskipun makin siang keadaan makin ramai. Gang di pasar sudah mulai disibukkan dengan truk pengangkut sampah yang berisiknya minta ampun. Menyusul kios dan toko-toko mulai buka. Namun, semua keributan itu tak menghilangkan kesakralan ibadat kami. Saya membayangkan ketika Yesus menapaki jalan salib-Nya keadaan lebih ramai lagi karena banyak orang yang menonton. Betapa Dia dipermalukan begitu rupa.

Pada perhentian keempat, Yesus bertemu dengan ibu-Nya, saya tertegun begitu rupa. Lukisan Maria dengan ekspresi yang sangat sedih memandang Puteranya yang berjalan tertatih dengan peluh bercampur darah meleleh di wajah-Nya, sangat menyentuh hati. Teringat dan terbayang sekilas cuplikan film The Passion of the Christ kala Sang Bunda dengan wajah duka berusaha meraih Sang Putra. Betapa hatimu terluka, ya Bunda, karena Putramu menjadi terdakwa yang hina atas apa yang tak Dia lakukan.
Saya tidak tahu mengapa saya mempunyai perasaan seperti itu. Mungkin karena saya seorang ibu sehingga saya membayangkan bagaimana perasaan Bunda Maria kala itu. Kubayangkan diri saya sendiri. Kala Bunda menyaksikan Puteranya, seolah saya bagian dari salah satu yang melihat peristiwa itu, bagian dari kerumunan orang banyak kala itu.

Ya, Bunda terpujilah engkau di antara para perempuan karena ketabahan yang engkau miliki meski sebuah pedang duka menembus jiwamu. Genap sudah apa yang dinubuatkan Simeon ketika engkau mempersembahka-Nya di bait Allah: …tetapi kelak suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri (Luk.2:35).
Bunda, ajari aku untuk selalu memahami segala kesedihan dan penderitaan sebagai sarana untuk memurnikan jiwaku. Amin.

Satu persatu kami merasakan memanggul salib yang tersedia. Bukan salib seperti yang Dia panggul kala itu. Salib yang kami panggul terbuat dari kayu yang tipis. Tidak seberat salib yang Dia bawa. Salib yang kami bawa, bukan apa-apanya. Kami membawanya berdua. Dia membawanya sendirian. Salib yang kami panggul hanya bagian dari ritual jalan salib. Namun, kala pundak kami memanggulnya, terasa berat juga. Bagaimana kita bisa menyepelekan pada pengorbanan yang sudah dilakukan-Nya untuk kita? Bagaimana kita sering lupa akan apa yang sudah Dia lakukan untuk kita?

Stasi (perhentian) demi stasi kami jalani dengan nyanyian dan doa yang terdaras dengan hati penuh syukur dan khidmat. Setiap stasi itu mengingatkan saya bahwa dalam kehidupan nyata kita juga ada beberapa perhentian. Ada perhentian yang menggembirakan dan membahagiakan, tetapi juga kebalikannya ada yang menyedihkan dan menekan. Namun, setiap kita berjalan ke perhentian berikutnya tak putus kita terus mendaraskan doa.

Via Dolorosa dengan 14 stasi itu adalah juga jalan hidup kita yang kita jalani setindak demi setindak. Namun, terkadang dalam setiap perhentian jalan kita, kita banyak mengeluh dan banyak berhentinya. Akhirnya kita merasa kelelahan sebelum kita sampai pada perhentian terakhir kita. Kita berharap dengan mengingat Via Dolorosa ini menjadikan kekuatan bagi kita untuk melalui perjalanan hidup kita dengan penuh syukur dan meminimalisir keluhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar