Jumat, 05 Januari 2018

NYEKAR, MENELUSURI LELUHUR I: SEMARANG


Liburan Natal tahun 2017, kami sekeluarga ,memutuskan untuk mudik ke Jawa Tengah untuk nyadaran makam leluhur dari pihak suami saya, Yohanes Bob Hariyadi Martopranoto. Berbicara tentang leluhur itu berarti dari pihak ayah dan ibu suami saya. Dari pihak ibu (Agatha Dientje Adolfin Breton van Groll)  makam keluarga Breton Van Groll  berada di  Pemakaman Umum Kyai Klungsu, Kecamatan Wonosari, Klaten, Jawa Tengah.  Dari pihak ayah Bob (Paulus Martono Martopranoto) berada di Pemakaman Umum Bergota, belakang RS Karyadi, Semarang. Juga dari pihak kakek Bob (R. NG. Sumarmo Martopranoto dan Ny. Ng. Martopranoto) berada di Pemakaman Umum Baben, Bareng Lor, Klaten. 

Kami berangkat dari Serpong pada hari Sabtu, 23 Desember 2017. Karena kami tahu bahwa itu  musim liburan, maka kami memutuskan untuk tidak membawa kendaraan sendiri, melainkan naik kereta api. Betul saja perkiraan kami. Karena keponakan yang pulang ke Yogyakarta dari Bumi Serpong Damai dengan membawa kendaraan sendiri baru tiba setelah menempuh perjalanan 20 jam.

Tujuan pertama kami ke Semarang, kota tempat  Bob dibesarkan. Di sini Bob mempunyai banyak kenangan masa kanak-kanan bersama-sama keluarga besar,  bersama ayah dan ibunya, serta saudara-saudarinya.  Kami berangkat dengan Kereta Api Gumarang dari Statsiun Senen, Jakarta,  pukul 16.45 dan tiba di Statsiun Tawang, Semarang pukul 23.05. 

Kami memutuskan untuk menginap di Hotel Olympic. Mencarinya dari traveloka.com yang harganya murah meriah. Pilihan kami tepat karena hotel ini strategis berada di Jalan Imam Bonjol yang dekat ke mana-mana. 


Tanggal 24 setelah sarapan di hotel kami menuju makam pertama yang akan kami datangi, yaitu makam mertua lelaki yang tidak saya kenal karena saat saya menikah dengan Bob, beliau sudah tiada. Beliau bernama Paulus Martono Martopranoto.

Memasuki kawasan tempat permakaman umum (TPU) Bergota Kota Semarang, saya tidak merasa seram seperti kalau memasuki area pemakaman. Mungkin karena lokasi pemakaman ini berdekatan dengan perumahan penduduk. Seperti pada umumnya pemakaman yang sering kita temukan, di sekitar pemakaman Borgota pohon kamboja  tumbuh di sela-sela kuburan. Bunganya bermekaran putih kekuningan. Keindahannya dan harumnya menyemarakkan area tersebut.

Pemakaman ini berada di sebuah bukit di atas kota Semarang. Ada beberapa gang kecil, jalannya telah beraspal. Jalan yang hanya bisa dilalui satu mobil, membelah kuburan berlokasi di atas perbukitan wilayah Keluruhan Randusari, Semarang Selatan ini. Di sini kami berdoa dan menabur bunga. Ada perasaan syukur pada saya karena akhirnya kami bisa berziarah setelah 8 tahun berlalu. Terakhir ke kuburan ini tahun 2009. 
Ketika menyusuri jalan kecil yang ada di komplek pemakaman Borgota, kami sampai ke atas dan  mendapatkan pemandangan ganjil bagi orang awam, karena di antara makam-makam tersebut berdiri bangunan rumah. Ada perkampungan di sela-sela komplek pemakaman. 

Bangunan rumah kebanyakan sudah permanen, ditembok, bahkan ada yang telah ditingkat. Semuanya berpadu dengan batu-batu nisan di sekitarnya.  Penduduk berlalu lalang beraktivitas seperti biasanya.
Sepulang dari makam kami menuju ke arah Padanaran dulu untuk mencari oleh-oleh dan makam lumpia semarang yang terkenal itu. Jalan Padanaran merupakan jalan yang berada di tengah-tengah kota Semarang ini merupakan sentra jajanan oleh-oleh khas Semarang. Di tempat inilah makanan khas Semarang seperti lumpia, bandeng presto, dan wingko babat, serta bakso tahu dapat ditemui dengan mudah.


Setelah cukup berbelanja, maka kami memutuskan untuk menikmati jajanan lumpia semarang di kaki lima dari pedagang yang banyak berjejer sepanjang jalan. Harganya per lumpia Rp 10.000. Bisa dinikmati dengan digoreng atau basah. Sesuai selera. Kami pun membeli minuman segar jus jeruk baby yang diperas langsung tanpa campuran apa pun. ada 2 pilihan yang harga Rp 12.000 dengan gelas sedang atau gelas besar seharga Rp 15.000. Boleh ditambah es batu untuk menambah kesegarannya. Rasanya manis asli, juisy, tanpa pengawet apapun. segar dan alami!
Selesai mengisi perut, kami melanjutkan untuk mengunjungi kerabat yang berada di area Cinde Barat. Lokasi perumahan di tempat yang kami kunjungi berada di atas bukit. jalannya cukup curam sehingga agak mengkhawatirkan ketika kami naik. Akhirnya diputuskan untuk memarkir kendaraan di jalan yang ada di bawah. Untuk menuju ke rumah kerabat kami, Mbah Reso, kami jalan kaki. Namun, pemandangan dari atas bukit sangat menakjubkan. Seluruh panorama kota Semarang nampak dari sini. Panorama nan elok merupakan upah yang setimpal setelah cukup lelah berjalan naik ke atas bukit. 
Kunjungan kami dipenuhi dengan obrolan dan canda tawa karena sudah lama tidak berjumpa. Bercerita banyak hal seputar pengalaman yang lalu dan  keadaan sekarang. Silaturahmi kami dimeriahkan dengan makanan kecil aneka kue dan sirup jeruk yang segar. Serta menu utama kami adalah lontong opor ayam kampung yang gurih dan sedap. Hidangan yang luar biasa disantap kala lapar dan penuh kekeluargaan. Kami mengakhiri kunjungan dengan doa bersama sebagai bentuk ucapan syukur atas pertemuan dan persaudaraan yang selama ini terjalin. 


Kami pun menlanjutkan perjalanan kami menuju hotel untuk check out mengambil barang-barang untuk menuju ke destinasi kami yang kedua: ziarah ke Gua Maria di Ambarawa. 
(Ch. Enung Martina)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar