Selasa, 10 Mei 2011

VIA DOLOROSA,


JALAN SENGSARANYA
SEBAGAI JALAN KESELAMATAN

Ch. Enung Martina

Masih dalam kaitannya dengan Pekan Suci, kali ini saya mengambil tulisan dari catatan perjalanan saya empat tahun yang lalu. Pada waktu itu, kami melakukan Prosesi Jalan Salib yang juga sering disebut Via Dolorosa. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia Via Dolorosa (bahasa Latin untuk "Jalan Kesengsaraan" atau "Jalan Penderitaan") adalah sebuah jalan di Kota Yerusalem Kuno. Jalan ini adalah jalan yang dilalui Yesus sambil memanggul salib menuju Kalvari. Jalan ini ditandai dengan 14 titik salib. Lima titik salib terakhir berada di dalam Gereja Sanctum Sepulchrum. Jalan ini menjadi tujuan utama para peziarah.
Hari itu, Rabu, 15 Oktober 2007, bertepatan dengan Hari Pangan sedunia. Kami sudah berangkat dari Kedem Tower, hotel tempat kami menginap, tanpa sarapan seperti biasanya. Pada hari itu kami punya niat berpuasa sampai kami selesai mengikuti prosesi jalan salib ke Golgota. Selain karena kami akan jalan salib, kami berpuasa karena hari itu adalah Hari Pangan sedunia.

Pihak hotel sudah menyiapkan sarapan kami yang dikemas dalam dus yang cukup besar. Sarapan ini akan dinikmati sesudah kami selesai prosesi jalan salib kami. Kami mulai memasuki bis kami. Cholid, sopir kami yang berkebangsaan Arab dan berwarga Palestina itu, sudah siap menyambut kami dengan senyumnya yang menjual.

Kami turun dari bis dan berbaris melalui lorong pasar tradisional yang masih kotor karena belum dibersihkan. Onggokan sampah pasar nampak di mana-mana. Rupanya pasar tradisional Israel sama juga kotornya dengan pasar di tanah air beta. Pasar masih tutup karena hari masih cukup pagi. Bebatuan yang kami pijak sepanjang lorong tampak sangat tua. Romo Robby Wowor mengatakan beberapa batu masih batu yang sama dengan zaman Yesus ketika menapaki tempat ini dengan salib yang dipanggul-Nya. Kami melangkah harus hati-hati karena jalan cukup licin. Kami berjalan dalam diam untuk mempersiapkan batin dalam ibadat jalan salib nanti.

Kami memasuki pelataran sebuah gereja yang disebut Benteng Antonia, tempat Yesus dihadapkan pada Pilatus. Romo Robby memulai penjelasannya tentang tempat kami berdiri. Pelataran ini dahulunya merupakan tempat Yesus disiksa dengan dicambuki seperti pada film Passion of the Christ.

Kami mulai dengan perhentian pertama. Marilah kita renungkan Yesus yang menjadi korban karma cinta kasih-Nya. Terdengar lagu dinyanyikan oleh para peziarah dengan pelan dan khidmat. Perhentian demi perhentian dilewati. Dari empat belas perhentian semua kurasakan kekhidmatan meskipun makin siang keadaan makin ramai. Gang di pasar sudah mulai disibukkan dengan truk pengangkut sampah yang berisiknya minta ampun. Menyusul kios dan toko-toko mulai buka. Namun, semua keributan itu tak menghilangkan kesakralan ibadat kami. Saya membayangkan ketika Yesus menapaki jalan salib-Nya keadaan lebih ramai lagi karena banyak orang yang menonton. Betapa Dia dipermalukan begitu rupa.

Pada perhentian keempat, Yesus bertemu dengan ibu-Nya, saya tertegun begitu rupa. Lukisan Maria dengan ekspresi yang sangat sedih memandang Puteranya yang berjalan tertatih dengan peluh bercampur darah meleleh di wajah-Nya, sangat menyentuh hati. Teringat dan terbayang sekilas cuplikan film The Passion of the Christ kala Sang Bunda dengan wajah duka berusaha meraih Sang Putra. Betapa hatimu terluka, ya Bunda, karena Putramu menjadi terdakwa yang hina atas apa yang tak Dia lakukan.
Saya tidak tahu mengapa saya mempunyai perasaan seperti itu. Mungkin karena saya seorang ibu sehingga saya membayangkan bagaimana perasaan Bunda Maria kala itu. Kubayangkan diri saya sendiri. Kala Bunda menyaksikan Puteranya, seolah saya bagian dari salah satu yang melihat peristiwa itu, bagian dari kerumunan orang banyak kala itu.

Ya, Bunda terpujilah engkau di antara para perempuan karena ketabahan yang engkau miliki meski sebuah pedang duka menembus jiwamu. Genap sudah apa yang dinubuatkan Simeon ketika engkau mempersembahka-Nya di bait Allah: …tetapi kelak suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri (Luk.2:35).
Bunda, ajari aku untuk selalu memahami segala kesedihan dan penderitaan sebagai sarana untuk memurnikan jiwaku. Amin.

Satu persatu kami merasakan memanggul salib yang tersedia. Bukan salib seperti yang Dia panggul kala itu. Salib yang kami panggul terbuat dari kayu yang tipis. Tidak seberat salib yang Dia bawa. Salib yang kami bawa, bukan apa-apanya. Kami membawanya berdua. Dia membawanya sendirian. Salib yang kami panggul hanya bagian dari ritual jalan salib. Namun, kala pundak kami memanggulnya, terasa berat juga. Bagaimana kita bisa menyepelekan pada pengorbanan yang sudah dilakukan-Nya untuk kita? Bagaimana kita sering lupa akan apa yang sudah Dia lakukan untuk kita?

Stasi (perhentian) demi stasi kami jalani dengan nyanyian dan doa yang terdaras dengan hati penuh syukur dan khidmat. Setiap stasi itu mengingatkan saya bahwa dalam kehidupan nyata kita juga ada beberapa perhentian. Ada perhentian yang menggembirakan dan membahagiakan, tetapi juga kebalikannya ada yang menyedihkan dan menekan. Namun, setiap kita berjalan ke perhentian berikutnya tak putus kita terus mendaraskan doa.

Via Dolorosa dengan 14 stasi itu adalah juga jalan hidup kita yang kita jalani setindak demi setindak. Namun, terkadang dalam setiap perhentian jalan kita, kita banyak mengeluh dan banyak berhentinya. Akhirnya kita merasa kelelahan sebelum kita sampai pada perhentian terakhir kita. Kita berharap dengan mengingat Via Dolorosa ini menjadikan kekuatan bagi kita untuk melalui perjalanan hidup kita dengan penuh syukur dan meminimalisir keluhan.

Jumat, 22 April 2011

BUKIT ZAITUN


Untuk peringatan Kamis Putih tahun ini, saya mengambil catatan perjalanan saya pada tahun 2007 lalu. Selamat merayakan Tri Hari Suci. Salam.

Kami pergi ke Bukit ini dua kali, yaitu ketika kami akan berziarah ke Betlehem pada hari Minggu, 15 Oktober 2007 . Waktu itu pagi hari, kami mengambil foto bersama. Kedua pada hari Senin 16 Oktober 2007.

Saat aku berdiri memandang ke arah barat, kota Yerusalem Lama tampak di hadapanku panorama yang mempesona. Seluruh bangunan nampak menampilkan kindahannya masing-masing. Tembok kota yang menjadi pembatas antara kota lama dan kota baru yang dibangun di luar tembok, nampak berdiri berkelok dengan megahnya menjadi pelindung kota lama. Dari kejauhan tampak bukit-bukit Yudea sampai ke Laut Mati, dan pegunungan Moab yang tampak samar.

Bukit ini dimuliakan oleh umat Yahudi dan juga Kristen. Bagi umat Yahudi di bukit ini dimakamkan nabi-nabi yang menjadi leluhur mereka, yaitu nabi Hagai, Zakaria, dan Malekhi. Sedangkan bagi kita umat Nasrani bukit ini berkaitan dengan beberapa peristiwa penting dalam hidup Tuhan kita, yaitu Yesus berdoa dan menyepi, Yesus mengajarkan doa Bapak Kami, dan naik ke surga.

Bukit ini sebenarnya ada tiga puncak, yaitu di sebelah utara, tengah, dan selatan. Puncak bukit yang di tengah merupakan puncak yang diyakini sebagai tempat kenaikan Yesus ke surga. Ada legenda berkaitan dengan tempat ini, yaitu ditemukan batu yang terdapat jejak kaki di atasnya. Jejak kaki pada batu itu konon katanya adalah jejak kaki Yesus ketika naik ke surga. Di tempat itu didirikan gereja oleh para pejuang Perang Salib. Namun, gereja itu diubah menjadi mesjid pada masa kemenangan Sultan Saladin. Hingga sekarang gereja itu kubahnya tertutup. Hak kepemilikan Gereja Kenaikan itu ada pada keluarga Sultan Saladin. Pada saat itu, Nissim, local guide kami yang lain, memperkenalkan salah seorang anggota keluarga sultan kepada kami. Nama orang itu Joseph. Dia berada di tempat itu sambil berjualan cendera mata.

Bukit yang berada di utara dan di selatan tidak banyak diterangkan oleh Romo Roby maupun local guide kami. Namun, kuperoleh keterangan sedikit dari catatan perjalanan Romo Moses H. Beding, CSsR, dalam bukunya yang berjudul O Yeusalem. Dalam buku itu dikatakan bahwa puncak Bukit Zaitun bagian utara disebut Viri Galilea yang artinya orang-orang Galilea. Mengapa disebut demikian? Rupanya di bukit ini Malaikat Allah menegur para rasul sesudah kenaikan Yesus: Hai orang-orang Galilea, mengapa kalian hanya berdiri saja di situ dan memandang ke langit? Yesus yang kalian lihat diangkat ke surga itu di hadapan kalian, akan kembali lagi dengan cara itu juga seperti kalian lihat tadi (Kis.1:11).
Tempat ini sekarang menjadi milik Gereja Ortodoks Yunani.

Puncak bukit sebelah selatan dijuluki Gunung Skandal oleh umat Kristen. Mengapa? Karena, katanya di puncak itulah Raja Salomo mendirikan tempat pemujaan dewa-dewi yang dihormati oleh para istrinya yang kafir. O..ya, menurut Kitab Raja-raja, Raja Salomo mempunyai istri seribu orang. Nah, lho…! Apakah semua bisa dinafkahi lahir dan batin? Itu mah bukan urusan saya atuh, euy!

Ke arah selatan dari Gereja Kenaikan berdirilah gereja Pater Noster (Gereja Bapa Kami). Di tempat inilah Yesus mengajarkan doa Bapak Kami yang menjadi doa pokok bagi umat Kristen. Di serambi gereja dinding-dindingnya dipasangi doa Bapak Kami dengan berbagai bahasa dan tulisan dari seluruh dunia. Sekarang doa Bapak Kami di tempat ini ada lebih dari 100 bahasa. Dari tanah air kita baru tiga bahasa, yaitu bahasa nasional kita, bahasa Jawa, dan bahasa Batak.

Di antara bukit Zaitun dan kota Yerusalem ada lembah yang dikenal dengan Lembah Kidron. Menurut penjelasan dari Philips dan Romo Roby, lembah ini sering dilewati oleh Yesus dengan para murid-Nya. Lembah ini menjadi pemakaman yang besar. Di sini juga ada makam tua yang bersejarah, yaitu makam dari Absalom, Yosafat, Zakaria, dan Yakobus.Yang kami lihat sepanjang lembah itu hanya kuburan Yahudi berwarna putih.
Berdekatan dengan Lembah Kidron, di lereng yang lain ada sebuah gereja yang disebut Gereja Dominus Flevit (Tuhan Menagis). Gereja ini mengingatkan kita pada saat menjelang sengsara Yesus, tepatnya sebelum Yesus dielu-elukan dengan daun palma, yang kita kenal dengan Minggu Palma.

Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu (Yerusalem), Yesus menagisinya, kata-Nya, “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matanu “(Luk.19:43). Bahkan Yesus sudah melihat kehancuran kota ini: “Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau (Yerusalem) dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau.” (Luk.19:43-44).

Panorama dari jendela Gereja Dominus Flevit langsung menghadap ke kota Yerusalem dengan segala keindahan dan kemegahannya. Kala kupandang panorama yang mempesona itu persaanku jadi ikut terharu. Jadi membayangkan bagaimana perasaan Yesus kala Dia menangisi kota-Nya yang saat itu Bait Allah masih berdiri dengan megahnya. Meskipun tak tahu persis keadaan perasaan hati-Nya pada saat itu, paling tidak aku pun merasakan keprihatinan dan kesedihan terhadap keadaan tanah airku tercinta. Lantas aku harus berbuat apa? Akhirnya hanya bisa menjalankan tugasku yang semestinya. Itu saja. Terkadang itu pun tidak mudah.



***Ch. Enung Martina ***

Minggu, 10 April 2011

DARI SEBUAH FILM

Menonton film adalah hal yang biasa untuk manusia pada zaman sekarang karena film sudah merupakan bagian dalam hidup kita. Banyak film beredar dalam masyarakat kita. Kita memanfaatkan film dalam hidup kita untuk berbagai kepentingan antara lain hiburan, pelajaran di sekolah, materi untuk berbagai pelatihan, dan bahan refleksi dalam rekoleksi atau retret.

Kita bisa asyik masuk ke dalam dunia film. Kita seolah menjadi bagian dalam film itu. Kita menyaksikan dunia lain yang tersaji di depan kita. Kita hanyut bersama petualangan dan emosi para tokoh film. Kita berkelana masuk dunia lain yang berbeda dari dunia kita. Kita berpetualang dan merasakan sensasi sebuah kebebasan dalam dunia lain.

Namun, tidak hanya sensasi petualngan saja yang diperoleh seseorang ketika berhadapan dengan sebuah film. Di dalmnya juga ada hidup yang dihadapi. Hidup itu mewakili juga hidup penontonnya. Beberapa peristiwa dan adegan juga adalah adegan hidup kita.

Karena itu, bila kita sedang asyik menonton film dan salah satu di antara kita tiba-tiba nyeletuk: Itu kan hanya film. Rekaan sutradaranya. Maka, dunia yang terbentuk tadi bisa saja berakhir dalam keping-keping kenyataan bahwa itu adalah sebuah rekaan belaka. Nah, kalau sudah seperti itu film menjadi tidak asyik lagi.
Tetapi, itulah film. Dengan film kita dihanyutkan, dengan film kita bisa dibawa ke realitas tertentu, dengan film kita bisa sejenak menjauhkan diri dari realitas diri kita sendiri. Josdeph V. Mascelli, ASC berkata: Film adalah dunia pura-pura yang meyakinkan.

Hal yang penting dari sebuah film adalah meyakinkan. Tujuan sebuah film meyakinkan penonton bahwa mereka sedang berada di suatu realitas tertentu yang nyata dan tidak dibuat-buat. Ketika kita bisa hanyut seolah film adalah dunia nyata, itu berarti pembuat film berhasil.

F.X. Murti Hadi Wijayanto, SJ mengatakan bahwa melalui film kita bisa:
Mencari hiburan, belajar tentang nilai hidup (value), mengasah kreativitas, merenung/bereflkesi. Film mengajak manusia melihat hidupnya sendiri yang sedang dibentangkan di layar lebar. Dalam cerita film ada kisah-kisah yang mewakili perasaan, kerinduan, kenangan, dan mimpi-mimpi kita.

Beliau juga mengatakan ada 3 hal penting yang bisa diambil dari dunia audio visual, termasuk film di dalamnya, yaitu: message (pesan), kemasan (graund, ambience, packing), dan vibrasi (getaran). Setiap program audio visual pasti mempunyai pesan verbal. Supaya pesan sampai kepada penonton, programharus dikemas sedemikian rupa untuk menimbulkan vibrasi yang mampu menggetarkan emosi penonton.
Demikianlah film sebuah program audio visual yang bila dikemas sedemikian rupa, ia akan mampui menyampaikan pesan dan mem-vibrasi penontonya.

Kamis, 24 Maret 2011

TIDAK HANYA SEKEDAR KATA-KATA

Hanya cerita....(kata-kata) yang menyelamatkan anak-anak kita dari kesalahan besar seperti pengemis buta yang berjalan ke arah duri-duri pagar kaktus. Cerita (kata-kata) adalah penjaga kita. Tanpanya, kita buta. ( Chinua Achebe: Anthills of The savanah )

Karunia manusia yang unik adalah kata-kata. Kata-kata dirangkai menjadi cerita. Kita sudah lama mengetahui bahwa cerita sejak lama sudah lama membimbing dan menghibur kita. Dengan keajaiban kata-kata yang terangkai lewat cerita, nenek moyang kita telah menurunkan kebijaksanaan yang memungkinkan kita bisa berkembang dan bertahan dalam situasi tersulit. Selama berabad-abad cerita telah digunakan untuk berbagi kebenaran. Bahkan, cerita merupakan pelajaran yang lebih penting daripada sejarah yang terkadang dibelokkkan sesuai dengan kebituhan politik pada masanya.

Cerita mempunyai kekuatan yang menyampaikan kebenaran. Dalam setiap cerita di situ nyata ada kehidupan. Kita menemukan sepotong diri kita dalam cerita. Di dalam cerita ada benang yang menyambungkan dengan kisah hidup kita. Benang itu juga menguatkan. Ya... itulah cerita!

Cerita terkumpul dalam kata-kata. Bersemi dan hidup karena kata-kata. Kata-kata yang tepat memberi jiwa dan menghidupi. Perkataan mempunyai kekuatan yang hebat. Jangan meremehkan kata-kata!

Kata-kata bisa menguatkan bila digunakan untuk hal yang tepat. Namun, sekaligus kata-kata bisa membunuh. Sekali lagi: jangan meremehkan kata-kata!

Tyron Edward berkata: Perkataaan bisa lebih baik dan lebih buruk dibandingkan pikiran. Perkataan mengekspresikan pikiran dan menambahkan makna pada pikiran. Perkataan memberi pikiran kekauatan untuk berbuat baik dan buruk. Perkataan mengawali pikiran pada perjalanan tanpa akhir. Perkataan membawa pada instruksi dan kenyamanan, juga berkat, atau pada luka, duka, dan kehancuran.

Berkaitan dengan perkataan adalah: hal yang terbaik yang dapat kita lakukan untuk orang lain adalah menahan lidah kita. Ada kalanya kita tergoda untuk memberikan nasihat yang tidak diinginkan, kita sangat ingin pamer, kita merasa butuh untuk menunjukkan kesalahan orang lain, kita ingin protes karena perlakuan tak adil, atau kita hanya ingin menunjukkan eksistensi kita agar dipuji. Kebijakan yang terbaik untuk situasi seperti ini adalah kita tidak mengatakan apa pun. Tidak mengatakan apa-apa. Diam adalah emas.

Seorang jurnalis dari Inggris pada abad 19 bernama George Sala mengatakan: Kita harus berupaya tidak saja mengatakan sesuatu yang tepat di tempat yang tepat, tetapi lebih sulit membuat sesuatu sesuatu yang tidak tepat tidak dikatakan pada momen yang menggoda.

Kita berharap untuk diri kita masing-masing bisa mengendalikan lidah kita. Saya akui itu memang sangat sulit. Saya mudah keterucutan kalau berbicara. Sesudah selesai berkata baru saya sadar bahwa sebetulnya perkataan itu tidak patut saya ucapkan. Ya... sudah keterucutan mau apa.

Kata-kata bijak Raja Salomo adalah: Seperti buah apel emas di pinggan perak, begitulah perkataan yang diucapkan pada situasi yang tepat.

Ho ho ho, ..... sungguh luar biasa! Kata-kata itu tidak sekedar meluncur dari mulut. Semoga kata-kata yang keluar dari mulut saya, mulut Anda, mulut kita semua mampu membangun hal yang positif dalam diri kita dan orang lain.

(Enung Martina yang sedang belajar bahasa bayi)

Sabtu, 19 Maret 2011

Sabtu, 05 Februari 2011

DI BALIK YANG MATERIAL

Keseharian kita akrab dengan hal yang bersifat materi. Hal yang bisa diindra: bisa dilihat, bisa dicecap, bisa diraba, bisa dicium, dan bisa didengar. Karena itu kita juga biasa mengharagai hal yang material. Kita terbiasa melihat yang kuantitas daripada yang kualitas, melihat yang duniawi daripada rohani, memandang rupa daripada pribadi, melirik kulit daripada isi, mencermati kerangka daripada makna. Semuanya serba materi yang terkadang terhenti pada yang sifatnya dangkal di permukaan saja.

Begitu banyak contoh orang terjerumus pada hal yang materi saja. Akhirnya hal yang hakiki terabaikan. Persaudaraan tersisihkan karena urusan rupiah, harga diri direndahkan agar bisa ditukar harta dan jabatan, iman digadaikan untuk mendapatkan yang duniawi, hati nurani ditumpulkan demi meraih materi, keselamatan jiwa diabaikan demi mendapatkan harta melimpah. Pokoknya semua dilakukan untuk meraih materi.

Saudara dan saya juga sering terjebak dalam tuntutan materi, apalagi kebutuhan hiidup dari hari ke hari semakin menekan. Kita berada dalam situasi bahwa materi itu sangat penting sehingga hal yang hakiki terabaikan. Dalam situasi itu, kita terkadang kita membandingkan materi yang kita miliki dengan si ini dan si itu. Kita terus membanding-bandingkan. Si ini begini, si itu begitu, si anu demikian. Meminjam istilah Metta, anak perempuan saya: kita terus naik banding.Tak pernah ada cukupnya, tak pernah ada puasnya,, tak pernah ada tuntasnya. Keadaan seperti itu terkadang membutakan kita pada hal yang maknawi, menjauhkan dari yang hakiki, dan menumpulkan nurani.

Beberap kasus terjadi di sekitar hidup kita, orang begitu mengagungkan materi, yang kita sebut materialistis. Segalanya diukur dari materi. Segala hal dimaterikan. Padahal, kita tahu bahwa ada hal yang tidak bisa terukur dengan materi. Kendaraan mewah, rumah bagus, makanan enak, kenyamanan tubuh, kenikmatan badani dipenuhi sedemikian rupa. Kebutuhan dipenuhi dan tubuh dimanjakan dengan segala hal yang sifatnya materi.

Untuk memenuhi kebutuhan di atas orang berani bekerja keras,membanting tulang, kapala jadi kakai, kaki jadi kepala. Bahkan, beberapa orang berani mengambil resiko mempertaruhkan harga diri, keluarga, nama baik, bahkan nyawa. Beberapa hal dalam hidup dikorbankan untuk mendapatkan materi: diri sendiri, keluarga, persahabatan, persaudaraan, bahkan terkadang nyawa.

Materi seperti yang kita ketahui bahwa itu juga merupakan salah satu berkat Tuhan dalam hidup kita. Materi menjadi sarana untuk menyejahterakan kita. Kita bisa hidup damai dan sejahtera juga karena salah satunya didukung materi. Materi penting dalam hidup kita di dunia. Salah satu kesuksesaan seseorang juga dilihat dari materi yang diperolehnya. Namun, bila materi menjadi sebuah tujuan dan bukan lagi sebagai sarana, hal itulah yang akan menjerumuskan seseorang pada hidup yang materialistis. Segala sesuatu diukur dari sudut pandang materi. Jangan sampai karena materi hal yang sifatnya lebih luhur terkalahkan. Akan menjadi apa jadinya hidup kita bila semua yang luhur tidak diharagai lagi, tidak dimaknai lagi.

Dengan kebijakasanaan yang ada pada setiap orang, materi bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengembangkan diri, mempererat persaudaraan, menjalin persahabatan, menghubungkan silaturahmi yang terputus, membina kekeluargaan, bahkan mewartakan iman. Karena itu, selain kita berlomba mencari materi duniawi, alangkah lebih baiknya juga kita mengumpulkan harata surgawi yang tak mungkin hilang dicuri, dimakan ngengat, atau membusuk.

Enung Martina

Kamis, 13 Januari 2011

KARYA PERTAMA TAHUN INI

Tahun 2011 sudah datang. Aku masih sibuk dengan hal-hal yang keseharian dilakukan sebagai seorang guru dan seorang ibu. Untuk duduk sejenak menuliskan sedikit kalimat yang bisa dibagikan pun terasa sangat sulit. Baru hari ini Senin, 10 Januari 2011, saya bisa mencuri waktu untuk bisa menuliskan sesuatu untuk penyemangat pada awal tahun ini.

Saya tercenung ketika tanggal 1 Januari 2011 anak perempuan saya bertanya kepada saya: Apa resolusi Ibu pada tahun 2011?
Saya bisa saja membuat hal yang muluk untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya bisa merencanakan yang terinci untuk menuraikannya. Namun, pertanyaan tersebut tidak memerlukan hal yang demikian. Pertanyaan itu hanya memerlukan waktu beberapa jenak untuk merenungkannya dan yang paling penting bagaimana aku bisa melaksanakan apa yang menjadi resolusiku.

Baiklah, aku akan tuliskan resolusi sederhanaku untuk tahun 2011, meski saya tahu yang sederhana ini pun perlu perjuangan untuk konsisten melakukannya. Aku membaginya menjadi tiga sesuai peranku, yaitu sebagai istridan ibu, sebagai guru, dan sebagai diriku sendiri.
Pertama sebagai istri dan ibu dalam keluarga: Aku tahu ini peran yang gampang-gampang susah. Aku ingin menambahkan sepersekian pada tingkat kesabaranku. Rupanya untuk menjadi orang yang sabar memerlukan perjuangan. Aku paling tidak sabar ketika harus membangunkan anak laki-lakiku pagi hari karena tidurnya sangat kebluk. Ketika membangunkan harus disertai dengan omelan panjang pendek. Pada hal yang lain pun tingkat kesabaran perlu ditambahkan. Aku juga akan lebih berjuang untuk tidak mudah mengeluarkan keluhan yang berujung dengan omelan tentunya. Aku tahu persis bila hal ini aku lakukan maka semuanya akan berjalan dengan baik.

Kedua diriku sebagai seorang guru. Menjadi guru selalu belajar setiap hari. Karena itu, aku membaginya menjadi empat hal, yaitu: 1) meningkatkan ketrampilan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Mendengarkan meliputi aku sebagai guru memperhatikan apa yang dikatakan muridku dengan sepenuh hati. Mendengarkan pada saat atasan dan rekan kerja berbicara kepadaku dengan sepenuh hati. Mendengarkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menambah wawasanku sebagai seorang pendidik. Termasuk juga mendengarkan hati kecil sendiri. Ketrampilan ini sungguh sangat tidak mudah untuk dilakukan. 2) Berbicara dengan baik itu hal yang kedua. Sebagai guru terkadang aku berbicara belum teratur dengan baik. Berbicara yang baik dengan memperhatikan kaidah berbahasa,keruntutan, kualitas isi, sopan-santun, volume suara, artikulasi, diksi (pilihan kata) yang tepat, intonasi yang sesuai, juga ekspresi. Bila seorang guru bisa berbicara dengan memperhatikan itu semua, niscaya pengajaran akan sangat menarik. Aku masih jauh dari itu. Karenanya, aku akan berusaha untuk melakukan hal ini meskipun tidak mudah. 3) Kebiasaan membaca, itu adalah hal yang ketiga yang menjadi perjuangan saya. Sebagai seorang guru membaca merupakan kebutuhan untuk menginput pengetahuan dan informasi yang akan memperkaya wawasanku yang sangat berguna dalam proses pengajaran di kelas. Dengan kondisiku yang mempunyai seorang bayi lagi, membaca dibutuhkan perjuangan agar bisa terlaksana. 4) keempat berkaotan dengan tulis-menulis. Aku akan bagi menjadi menulis (tulisan tangan) dan membuat karangan (karya tulis). Seperti yang banyadiketahui umum bahwa tulisan tangan saya biasa-biasa saja. Tidak terlalu buruk, tetapi juga tidak tergolong bagus. Hal ini diperkarakan karena ada kaitannya dengan menulis di depan kelas. Kalau aku menulis di depan kelas seringnya tidak beraturan/tidak sistematis. Karena itu aku akan berusaha menulis dengan baik (sistematis dan jelas bisa dibaca dan dipahami siswa. Menulis karya itu merupakan hal yang aku coba untuk membiasakannya. Meskipun karya tulisanku tidak spektakuler, tetapi ada juga karya yang sudah dipublikasikan. Aku akan mencoba minimalnya menulis uneg-uneg atau kereteg hate yang bisa dibahasakan secara tertulis. Hal ini penting buatku untuk bisa menata pikiran dan gagasan dalam bentuk bahasa tulis. Berharap bisa mndapatkan nilai kedisiplinan diri dari kegiatan ini.

Ketiga diriku sebagai diri sendiri. Mengingat bahwa aku ini bagian dari smesta ini, tentunya aku juga tak bisa lepas dari Pencipta semesta. Karena itu, maka sebagai mahluk aku akan meningkatkan hubunganku dengan Sang Pencipta. Sebagai bagian dari mahluk bumi, paling tidak sedikit memberikan andil untuk planet tempat aku hidup dengan memelihara tumbuhan yang ada di halamanku. Sebagai mahluk sosial, aku pun berusaha untuk memelihara relasi dengan sesamaku. Keluarga sebagai tempat utama kita hidup merupakan hal yang pertama yang menjadi prioritas. Apalagi karena aku sekarang mendapat tugas lagi untuk membesarkan titipan-Nya, jelas tugas itu tidak boleh aku abaikan. Memelihara relasi dengan teman-teman di tempat bekerja, di lingkungan rumah, lingkungan gereja, dan di sekitar tempat aku berada.

Begitu kira-kira niatanku di tahun ini. Aku tahu bahwa hari-hari akan terus berganti dan aku akan tetap menjalaninya dengan rutinitas yang biasa kujalani. Namun, di balik kerutinan itu, aku tetap berusaha memelihara semangat dan menjaganya agar tetap menyala. Berharap bahwa nyala tersebut akan juga mempengaruhi orang lain yang ada di sekitarku, minimal keluargaku.
Ayo kita lakukan tugas dan kewajiban kita dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran serta semangat dalam jiwa kita.

(Enung Martina)