Selasa, 19 Juni 2012

KEMELUT HIDUP


Kita menghadapi kemelut hidup dimulai dari yang kecil hingga yang besar, dari tiada menjadi ada, dari mulai kita lahir, hidup, dan akhirnya mati. Hidup memberikan begitu banyak pengalaman yang tak pernah sama untuk semua orang.

Kita berbagi pengalaman dengan orang lain. Berbagi kesakitan yang dialami kita lalui untuk menuju pemulihan. Segala sesuatu berjalan menurut proses yang memang seharusnya dilewati. Kita menghadapi berbagai tantangan yang selalu dimulai dengan tanda tanya. Kita mencoba menuntaskan kemelut itu satu persatu. Ketika semuanya berlalu, barulah kita melihat dan tersadar betapa hidup ini penuh dengan warna.

Terkadang hidup begitu penuh ceria, bahagia, tawa riang. Di sisi lain, hidup penuh dengan derita, duka, nestapa,  dan air mata. Berbagai emosi bermunculan bagai gelombang,  pasang dan surut. Terkadang kita dengan gagah berani menghadapi kenyataan tetapi lain kali kita bersembunyi karena  sudah tak mampu lagi menghadapinya. Kita sekali waktu menjadi pahlawan, tetapi waktu lain kita menjadi pecundang. Saat tertentu kita bersinar karena semangat yang begitu prima memuncak, tetapi saat lain,  kita dalam keadaan lemah, letih, lesu, tak berdaya. Hati kita dicekcoki dengan pertanyaan mengapa orang begitu baik dan mengapa orang  begitu jahat. Ternyata berbagai pertanyaan itu jawabannya terdapat di relung hati. Kita hanya perlu menyibakkan tabirnya agar bisa tersenyum saat menerima jawaban dari semua pertanyaan kita. Jawaban-jawaban itu terkadang tidak nyata dan tak gamblang, atau ceto welo-welo (terbnaca mata). Akan tetapi, pastilah semua pertanyaan ada jawaban akhirnya. Apakah jawabannya  memuaskan atau tidak, itu tergantung pada kebutuhan kita. Alangkah indahnya bila jawaban itu dapat menciptakan suatu keajaiban yang membawa kepada perubahan yang baik.

Sebetulnya semua kemelut hidup akan mendidik kita untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Namun, untuk menyadari hal itu memerlukan proses yang alot dan tidak mudah. Semua itu kembali kepada seberapa lebar kita menyibak hati. Kebahagiaan adalah sesuatu yang relatif bagi semua orang.Tidak ada ukuran yang pasti untuk menimbang kebahagiaan. Karena itu harta yang berlimpah dan materi yang berlebih tak bisa menjamin hidup seseorang bahagia.

Di bawah ini beberapa langkah untuk mengalihkan berbagai perasaan tertekan menurut beberapa sumber yang saya baca:
1. melupakan semua peristiwa yang menyakitkan dengan cara menggantungkan harapan dengan
    berdoa.
2.  Carilah kegiatan positif yang merasa kita lebih berguna.
3. Mengisi hari-hari dengan kegiatan yang banyak menggunakan otak kanan, misalnya kegiatan
    yang berkaitan dengan seni dan berbagai hobi positif yang lain.
4. Bergeraklah, berolahraga.
5. Masuk dalam sebuah komunitas yang positif: mendiskusikan berbagai hal, memperluas
    pengalaman, dan memperluas wawasan.
6. Mengungkapkan perasaan negatif  melalui media (buku harian, surat, blog, dll.) atau secara
    Langsung membicarakannya.
7. Membaca bacaan/buku-buku yang menginspirasi.
            Satu lagi yang menurut saya ini paling sukar untuk dijalani yaitu bersabar. Saya mengutip pendapat dari Ahmad Fuadi dalam novelnya Ranah 3 Warna tentang kesabaran:
“ Yang namanya dunia ada masa senang dan ada masa kurang senang. Di masa kurang senanglah kita harus aktif.Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tetapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kita punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelum sampai di tujuan. Setelah ada di titik terbawah, ruang kosong hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Bersabar untuk menjadi lebih baik. Tuhan sudah berjanji bahwa sesungguhnya Dia berjalan dengan orang yang sabar,” (Ranah 3 Warna hal. 131).
            Demikianlah hidup dengan kemelutnya akhirnya membawa kepada satu titik kesadaran bahwa kita tidak bisa melangkah sendiri. Kita memerlukan bantuan orang lain. Tentunya yang paling utama kita tak akan pernah bisa lepas dari peran Tuhan dalam hidup kita. ( Posted by Ch. Enung Martina )

#   #   #

Selasa, 24 April 2012

MAKAN TEMAN


MT adalah singkatan untuk ‘ makan teman ‘ yang biasanya terdengar di kalangan anak remaja. Dalam dunia remaja MT ini dikaitkan dengan hidup pergaulan mereka.  MT ini tentunya sesuatu yang tak disukai. Namun, rupanya MT ini terjadi tak hanya di kalangan anak remaja saja. Kenyataannya pada kehidupan orang dewasa yang sudah mapan pun berlaku juga. Bahkan, akan lebih terasa lebih sadis karena menyangkut pada hidup berkarir dan urusan berkaitan dengan banyak macamnya.

Saling mencaplok atau memakan satu sama lain terdapat dalam hukum rimba. Pemangsa  atau predator akan mencaplok mangsanya hewan yang lebih lemah. Demikian hukum alam. Rantai makanan.
Dalam rimba raya manusia, saling memakan juga tak asing. Kembali bila kita melihat manusia sebagai citra Allah yang mulia, barang tentu manusia lebih tinggi kedudukannya dibandingkan para binatang. Satu hal yang diberikan Allah kepada manusia sebagai citra Allah adalah akan dan budi yang tak diberikan-Nya kepada hewan. Diharapkan akal budi mampu membawa manusia menjadi mahluk beradab dan berbudaya sesuai yang dicitrakannya.

Namun, tidak pada keyataannya, manusia terkadang jatuh pada keserakahan dan egois serta ingin mencari pembenaran untuk dirinya. Yang sering terjadi yang satu ingin mencari keselamatan dan kemuliaan untuk dirinya dan kelompoknya dengan mengorbankan orang lain. Kesejahteraan, keselamatan, dan kenyamanan, serta kemuliaan akhirnya didapatkan oleh orang tersebut, tetapi akibatnya dirasakan oleh orang lain yang menjadi korbannya.

Dalam dunia kerja keseharian kita pun sering terjadi. Satu orang ingin mencari keselamatan dan kemuliaan di hadapan atasannya. Bila orang ini bersalah, yang akan dilakukannya adalah mencari kambing hitam yang bisa dijadikan korban. Akhirnya keselamatan dan nama baik memang dia peroleh, tetapi akibat dari mencari kambing hitam, berarti ada orang lain yang menjadi korban. Orang yang menjadi limpahan kesalahan terkena dampaknya. Dampak yang nyata kelihatan adalah kemungkinan menurunnya kinerja karena dia beranggapan sudah bekerja dengan baik saja masih disalahkan. Kalau jatuh pada orang mentalnya kurang baik akan berpendapat : lebih baik bekerja saja seenaknya daripada berlelah payah, toh masih disalahkan juga. Kalau melihat situasi ini, siapa yang rugi? Sebetulnya semua rugi. Perusahaan/ yayasan, pimpinan, teman yang suka mencari korban kambing hitam, teman yang lain, keluarga, dan pastinya orang yang bersangkutan.

Jadi dilihat dari dampaknya yang meluas itu, maka tak ada manfaatnya makan teman, bukan? Karena itulah, makanlah makanan yang bergizi supaya badan tetap sehat dan kuat daripada makan teman.

(Ch. Enung Martina)

Sabtu, 10 Maret 2012

CATATAN DARI NEGERI LIMA MENARA


Sebagai seorang guru, saya merasa begitu tergugah dengan novel ini. Novel ini berkisah tentang seorang anak remaja tanggung bernama alif Fikri yang karena suruhan ibunya ia terdampar di sebuah pesantren bernama Pondok madani. Namun, yang tadinya sebuah keterpaksaan, rupanya pendidikan pesantren ini yang menyebabkan dia menjadi  memiliki begitu banyak hal berharga dalam hidupnya. Pengalamannya  dalam rutinitas pendidikan pesantren yang ketat justru yang mempertemukan dengan jalan hidupnya dan jati dirinya.
Yang menjadi daya tarik dari kisah ini bagi saya adalah tentang pendidikan penuh keiklasan. Guru iklas berbagi bagi siswanya, siswa iklas berbagi untuk temannya, senior iklas berbagi untuk adik kelasnya, demikian pula pimpinan tertinggi pesantren itu iklas menjalankan perannya dengan penuh cinta dan komitmen yang tinggi tanpa pilih kasih, dan semua warga pesantren itu iklas menjalani semua hal untuk kemajuan bersama pesantren mereka. Sungguh suatu keiklasan yang putih. Keiklasan yang dilandaskan pada alasan bahwa hakikatnya  manusia memang bersaudara sebagai mahluk ciptaan-Nya di alam semesta ini.

Saya juga tergugah dan sekaligus terinspirasi dengan sistem pendidikan yang mengutamakan ketrampilan hidup. Terutama yang menarik dalam sistem pendidikan mereka adalah bagaimana ketrampilan berbahasa asing (Inggris dan Arab) diterapkan dalam sistem dan program pendidikan di pondok. Untuk menguasai kedua bahasa tersebut, para siswa dituntut untuk terus menggunakannya, baik secara lisan atau tulisan melalui kegiatan berbahasa sehari-hari matau melalui kegiatan pembelajaran di kelas. Berkat didikan, latihan,  disiplin, dan usaha yang super keras, akhirnya ketrampilan tersebut bisa dikuasai dengan baik.

Tidak hanya ketrampilan berbahasa saja yang diperoleh dalam sistem pendidikan itu, tetapi jauh yang lebih penting  adalah pelajaran hidup. Nilai daya juang, religiusitas, kedisiplinan, persahabatan, dan persaudaraan, terasa sangat kental dalam kisah ini. Berbagai peristiwa harian yang rutin yang konsisten dilakukan menjadikan para siswa menjadi pribadi yang utuh. Meskipun motivasi masuk Pondok Madani beragam (ada yang memang pilihan hati, suruhan orang tua, terpaksa karena keadaan, akhirnya mereka akhirnya  menemukan jalan hidup dan jati diri mereka yang penuh makna. Mereka menemukan inti kehidupan yaitu: iklas, kerja keras, doa, dan tawakal.

Ungkapan dalam bahasa Arab man jada wa jada menjadi mantra ajaib yang mampu membangkitkan semangat mereka pada saat mereka terpuruk.
Dari sini kita melihat bahwa rancangan seseorang belum tentu sejalan dengan rancangan Ilahi. Namun, yang jelas rancangan Ilahi ada di atas segalanya. Rancangan itu sudah pasti merupakan rancangan keselamatan dan damai sejahtera. Itulah yang dialami oleh Alif Fikri, tokoh utama novel ini.

Salut untuk para Sahibul Menara dan juag para pendidik Pondok Madani yang selalu mendidik dengan penuh iklas. Jempol untuk penulis yang mampu menginspirasi pembacanya, Ahmad Fuadi.

(Ch. Enung Martina)

Sabtu, 03 Maret 2012

DALAM RENGKUHAN CAHAYA


Suka cita yang lebih besar akan kita terima melalui cinta kasih. Detai-detail pengalaman penting akan membantu kita dalam mengasihi,  segala sesuatu di luar itu adalah perlengkapannya. Sepanjang kita mengikuti pesan Sang Juru Selamat seperti yang disabdakan-Nya “ lebih dari segalanya, cintailah satu sama lain “, maka suka cita itu akan menjadi milik kita.

Mencintai akan terasa manis ketika kita berhadapan dengan hal yang kita temui pada orang-orang di sekitar kita yang membuat kita tidak terlalu bersusah payah. Situasi yang wajar dan normal. Orang-orang yang mudah dipahami dan memahami. Namun, kebalikannya bila kita berhadapan dengan orang-orang yang tidak kita sukai, yang bersebrangan dengan kita, yang menurut kita prinsipnya tak sesuai dengan yang selama ini kita anut, yang membuat kita sengsara, yang juga menyengsarakan orang lain. Sungguh itu sangat tidak mudah.  

Cinta berkembang menjadi semakin luas ketika di dalamnya juga kita melibatkan perasaan itu pada setiap gerak dan langkah kita. Dia akan tumbuh di rumah, di lingkungan gereja, lingkungan masyarakat sekitar, di tempat bekerja, bahkan di satu tempat yang baru kita datangi. Dia tak akan habis ketika kita membagi-bagikannya. Justru kebalikannya, dia justru akan tumbuh subur bila kita membaginya.

Untuk mempunyai cinta dalam diri kita, kehidupan pribadi dan penuh makna itu penting. Yesus berkata: kasih adalah yang utama. Kasih harus menguasai kita. Kita membangun lingkungan kita dengan pikiran-pikiran kita dan juga terutama dengan hati yang penuh kasih. Kita diutus untuk menjalani kehidupan secara penuh dan berkelimpahan untuk menemukan suka cita dalam kreasi kita sendiri, juga termasuk di dalamnya untuk mengalami kesuksesan dan kegagalan. Dalam menjalani hidup,  kita diberi hak  untuk menggunakan kehendak bebas, untuk memperluas wawasan, mengembangkan pribadi,  dan memperkaya kehidupan kita.

Bila kita mempunyai cinta, kita bisa melakukan hal-hal baik tanpa pamrih, dengan demikian kita akan memperoleh suka cita. Namun, sebelum merasakan kesukacitaan, terkadang  harus mengalami kedukaan. Kedukaan yang ditemukan dalam berbagai peristiwa yang melintas hidup kita. Di situlah saatnya kita berjuang, berusaha, berjerih payah, dan menunjukkan ketahanan dan daya juang kita. Tantangan yang menghadang dengan penuh semangat dan rasa percaya diri serta keimanan satu persatu kita hadapi. Kritikan, cercaan, ejekan, dan hinaan, bukanlah rintangan yang berarti ketika dalam hati kita dipenuhi dengan kasih. Kita mempunyai kebebasan untuk menentukan apakah saya terpengaruh dengan semua hal negatif dari luar dan dalam diri kita, atau justru kita menjadikan hal tersebut sebagai pemicu untuk terus maju dan melejit. Sekali lagi: kita mempunyai kebebasan.

Terkadang kita mengabaikan kebenaran-kebenaran sederhana yang telah kita ketahui. Kita menganggap itu semua sebagai suatu rumus atau dalil  yang ada pada kitab-kitab suci atau buku-buku bijak lainnya. Atau justru kebalikannya kita menganggap kebenaran-kebenaran tersebut hanya omong kosong.  Salah satu kebenaran tersebut adalah :  Bila tidak ada wawasan, manusia akan celaka. Kebenaran tersebut sebetulnya berasal dari pepatah Indian kuno. Wawasan menjadi hal yang penting untuk bisa mengetahui benar dan salah. Wawasan juga berguna untuk memberikan petunjuk arah mana yang patut kita tempuh. Wawasan itu begitu banyak macamnya dan  cara untuk mendapatkannya. Namun, yang perlu kita catat semua hal baik selalu berasal dari satu sumber, yaitu Sang Pencipta, yang Ilahi.

Sebagai orang beriman Katolik kita mengakui bahwa Yesus adalah kehidupan dan cinta itu sendiri. Cinta-Nya memberikan suka cita yang sedemikian penuh hingga berlimpah-limpah. Awalnya kita hanya melihat dan memahami cinta-Nya adalah sesuatu yang abstrak, yang ada dalam deretan ayat Al Kitab, atau sederet dogma gereja  yang banyak tidak kita mengerti. Namun, begitu kita membawa Dia dalam setiap helaan nafas, setiap langkah dan tindak kita, rupanya Dia tidaklah abstrak dan tidaklah jauh. Seorang penggubah lagu mengatakan Dia hanya sejauh doa.

Kita hidup sekedar mencari cinta dan kebaikan serta menjalaninya saja. Karena itulah, kita mempunyai alsan untuk hidup di dunia. Karena itu pula kita sampai gumun(heran)mengapa ada orang yang dalam hidupnya begitu rupa mengejar hal (duniawi) yang menurutnya sangat berharga sampai dia mau melakukan apa saja untuk mendapatkan hal tersebut. Hakekat hidup ya itu tadi mencari cinta dan kebaikan. Kalau kita perhatikan orang-orang yang melakukan berbagai macam kegiatan yang halal atau yang haram akhirnya kembali pada dua hal di atas. Melakukan korupsi untuk mendapatkan uang milyaran rupiah agar bisa banyak uang, bisa membeli ini itu menyenangkan keluarga, mendapat perhatian orang lain, dan mendapat pujian menjadi orang kaya atau orang sukses. Namun semuanya dia lakukan untuk apa? Ya, karena dia ingin dipuji, disayangi, diperhatikan keluarga atau orang lain. Demikian juga seorang perempuan membesarkan atau mengecilkan  ini itu pada dasarnya supaya dia mendapat sanjunagn dari kaumnya ( sesama perempuan) dan perhatian dari pasangannya. Semuanya intinya sama bahwa seseorang memerlukan perhatian dan cinta. Orang sering mengatakan ujung-ujungnya duit (uud), tetapi saya boleh mengatakan uuc (ujung-ujungnya cinta).

Berbicara tentang cinta yang lain, yaitu cinta pada Tuhan, di dunia ini ada banyak agama, kepercayaan, dan gereja. Masing-masing dari kita berada pada tingkat pemahaman dan perkembangan spiritual yang berbeda.  Karena itu, tiap orang disiapkan dengan tingkat pengetahuan dan spiritual yang berbeda pula. Semua agama di dunia penting karena ada orang-orang yang memerlukan ajarannya. Satu ajaran agama tertentu tersebut cocok untuk yang satu, tetapi belum tentu sesuai untuk yang lain. Saya merasa cocok memilih Katolik. Bagi orang lain Katolik bukan pilihan yang tepat. Mungkin saya dan Anda bertanya: kenapa ada orang yang memilih ajaran agama yang garis keras? Itu tadi karena berada pada tingkat pemahaman dan perkembangan spiritual masing-masing orang.

Penganut suatu agama dapat saja ia tidak memiliki pemahaman lengkap tentang sabda Tuhan dan tak akan pernah paham selama dia berada dalam agamanya. Namun, agama tersebut digunakan sebagai batu loncatan untuk pengetahuan lebih lanjut. Setiap gereja memenuhi kebutuhan spiritual yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh gereja yang lain. Tak satu gereja pun yang dapat memenuhi kebutuhan semua orang di segala tingkat spiritual. Bagi saya (lagi) Gereja katolik memenuhi kebutuhan spiritual saya. Bagi teman saya yang berpindah ke Muslim dengan alasan apa pun, ya.... agama Islam memenuhi kebutuhan spiritualnya saat ini. Mungkin saya dan Anda bertanya lagi: Ada orang yang berpindah agama bukan karena kebutuhan spiritual, tetapi untuk kebutuhan duniawi (mencari jodoh, pekerjaan, jadi anggota dewan partai ini itu, ingin menjadi terkenal, atau karena kekecewaan) itu bagaimana? Lha, itu tadi tingkat pemahaman spiritual dia baru tingkat duniawi. Spiritual diukur dengan yang materi atau jabatan.

Apa pun pilihan seseorang bila dia mampu mengembangkan diri dan mejalankan cinta, menurut saya itu lebih dari cukup. Kita akan membandingkan dengan ketika  kita bertemu dengan orang yang mengaku mempunyai  cinta dan memiliki iman, tetapi kenyataannya tak menampakkan itu semua, malah lebih parahb bukan? Mengingat lagi apa yang sudah disimggung di atas : lebih dari segalanya, cintailah satu sama lain.



Selasa, 07 Februari 2012

MINYAK ZAITUN

diposkan oleh Enung Martina

Bagaimana Pandangan para ilmuan jaman sekarang terhadap Khasiat minyak Zaitun? Manfaat apa saja dari Minyak Zaitun? Apa kata mereka tentang khasiat Minyak Zaitun:
menyatakn para wanita mengkomsusi Minyak Zaitun lenbih sedikit terkana Kanker Rahim. >Majalah DerMartdogg Times Edisi Agustus 2000 menunjukkan bahwa Minyak Zaitun melindungi terjadinyaKanker kulit.
>Studi yang dilakukan Unversitas dan Akademi Amerika menyatakan: Minyak Zaitun membunuh Kutu Kepala.

Kegunaan Mujarab dari Minyak Zaitun

minyak zaitun mengandung asam linolenat, berupa senyawa yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia dan dapat mencegah penguapan air pada tubuh. Gosokkan sedikit minyak zaitun pada rambut yamg kering dan kusut, akan membuat rambut lebih luwes; terutama pada musim dingin atau hari bercuaca lembab, minyak zaitun juga dapat mengurangi beberapa kerusakan pada rambut. Dapat pula menggunakan beberapa sendok minyak zaitun untuk memijat rambut, supaya minyak menyerap masuk lebih dalam ke kulit kepala serta akar rambut.
Dibandingkan dengan minyak anti kusut rambut yang terbuat dari minyak bumi, minyak zaitun mungkin lebih aman terhadap tubuh kucing.
Ketika tenggorokan gatal juga boleh minum satu sendok minyak zaitun untuk meredam gejala tersebut. 
Gosokkan sedikit minyak zaitun pada perabotan rumah bisa mencegah tanda tanda  belang, korosi dan bintik noda. Ia juga dapat merawat produk kulit, misalnya gunakan minyak zaitun menggosok sarung tangan baseball, selang 30 menit kemudian baru bersihkan sisa minyak zaitun.

MINYAK ZAITUN LE RICHE - (ZAITUN)

Minyak zaitun mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung dan kanker. Berdasarkan studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari Minyak Zaitun, menyimpulkan bahwa lemak tak jenuh yang terdapat pada minyak zaitun bisa menurunkan kadar kolesterol LDL (Low Density Lipoproein) yang mana LDL adalah kadar kolesterol darah jahat yang dapat menimbun di dinding-dinding arteri. - Untuk kulit muka yang berminyak, oleskan sedikit minyak zaitun pada wajah dan gunakan tissu dan tempelkan pada wajah sehingga minyak terangkat dan sedikit saja tinggal di wajah.
RAHASIA LAIN DARI MINYAK ZIATUN :
- Minyak zaitun dapat digunakan pada tangan, rambut, dan sebagai bahan untuk massage oil atau pijat urut.

Sumber lain: Oliveoil-oliveoil.com

Sabtu, 31 Desember 2011

KOTA DAUD, YANG BERNAMA BETLEHEM




Bintang Betlehem ( berada di bawah altar, diyakini di sini gua tempat Yesus dilahirkan)

            Pada mulanya adalah firman, firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. ( Yoh. 1:1-3).

            Betlehem terletak sekitar 10 km di sebelah selatan Yerusalem, dengan ketinggian sekitar 765m (2.510 kaki) di atas permukaan laut. Yang paling penting, Betlehem adalah tempat kelahiran Daud, raja kedua Israel. Kota ini pun merupakan tempat ia diurapi menjadi raja oleh Samuel (1 Samuel 16:4-13). Yang tak kalah pentingnya, Kota ini adalah tempat kelahiran dari Dia "yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala" (Mikha 5:2). Di sinilah tempat kelahiran Mesias yang dinantikan. 
Saat ini, setelah ada ketegangan antara Israel dan Palestina, Betlehem termasuk wilayah Palestina. Ketika saya dan rombongan menuju tempat ini, kami harus melalui palang-palang perbatasan dengan penjagaan yang sangat ketat. Philip, local guide kami tidak bisa ikut bersama rombongan karena ia seorang Yahudi. Yahudi dilarang masuk ke Palestina, kecuali ada kepentingan yang mendesak tentunya. Untungnya sopir bis kami Cholid, yang kami juluki Mr. No. One, (Julukan karena kepiawaiannya membawa bis), bukan orang Yahudi. Ia seorang bersuku Arab, dan seorang Muslim, tetapi kami tak pernah melihat ia solat selama bersama dengan kami. Selain itu Cholid juga penduduk Palestina, jadi ia bisa bebas memasuki wilayahnya. O,ya banyak warga Palestina yang mencari mata pencaharian di wilayah Israel, entah sebagai sopir, karyawan, atau pemandu wisata.
Beberapa rombongan terpaksa harus ganti bis karena sopir mereka Yahudi. Mereka berganti bis Palestina dengan sopir juga warga Palestina. Ada perbedaan antara bis kedua negara tersebut, yaitu bis Israel lebih bagus dibandingkan Palestina. Selain itu, keadaan dan fasilitas kedua negara tersebut jelas jauh berbeda. Israel kesannya lebih bagus, teratur, dan lengkap.

Karena itu,  kami bisa terus dengan bisa kami bersama sopir kami yang jagoan itu, Cholid alias Mr.No. One. Sesampainya di tempat parkir bis, local guide dari Betlehem pun datang. Ia seorang Arab, bahasa Inggrisnya sangat cepat. Terkadang saat menjelaskan, kami sampai terseok-seok dibuatnya. Untungnya saya pernah membaca tentang sejarah kekristenan sehingga kata-kata yang hilang karena cepatnya berbicara bisa tersambung lagi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Topik yang ia jelaskan seputar sejarah bagaimana gereja didirikan dan berkaitan dengan materi Perang Salib dan zaman Bizantium.
Ini beberapa yang saya tangkap dari local guide di Betlehem. Tahun 325 M, Ratu Helena, ibunda  Constantine,  kaisar  Roma     yang beragama Kristen berkunjung ke Tanah Suci. Di sana beliau mendirikan gereja Kristen pertama.
Tahun 529 M orang Samaria dari Nublus memberontak melawan pemerintahan Kristen. Gereja tempat kelahiran Yesus di Betlehem rusak parah karena kejadian itu. Namun semuanya itu segera dibangun kembali berdasarkan perintah Kaisar Yustinianus.
Pada tahun 614 M terjadi invasi Persia ke Palestina.  Mereka menghancurkan gereja-geraja dan biara. Namun,  Gereja tempat kelahiran Yesus selamat dari penghancuran. Kisah yang diceritakan dalam sumber-sumber yang belakangan mengatakan bahwa mereka membatalkan rencana menghancurkan Gereja Kelahiran ketika mereka melihat gambar orang majus yang dilukiskan mengenakan pakaian Persia dalam salah satu mosaik di Gereja itu.
Pada masa Ksatria Perang Salib ( 1099 M) Gereja Kelahiran  diperbaiki dan diperbaharui. Pada masa ini Betlehem makmur di bawah pemerintahan mereka.
Pada 1187, Saladin merebut Betlehem dari tangan Tentara Salib, dan para rohaniwan Latin dipaksa pergi. Saladin menyetujui kembalinya dua imam dan dua diaken Latin pada 1192. Namun kota itu menderita karena hilangnya bisnis dari para peziarah. Betlehem untuk sementara waktu kembali ke tangan Tentara Salib melalui perjanjian antara 1229 dan 1244. Pada 1250, dengan berkuasanya Rukn al-Din Baibars, toleransi terhadap kekristenan menurun, para pendeta meninggalkan kota, dan pada 1263 tembok-tembok kota dihancurkan. Para agamawan Latin kembali ke kota itu selama abad berikutnya, membentuk biara yang berdampingan dengan Basilika, dan pada 1347 Ordo Fransiskan mendapatkan hak milik atas Gua Kelahiran serta hak untuk menyelenggarakan dan memelihara Basilika itu. ( http://id.wikipedia.org/ )
Pada 21 Desember 1995, Betlehem menjadi salah satu wilayah di bawah kekuasaan penuh oleh Otoritas Palestina. Ia menjadi ibukota distrik Betlehem. 
            Ada beberapa kutipan ayat yang berkaitan dengan Betlehem dalam kitab Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Mari kita simak kitipan di bawah ini.
Demikian Rachel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem (Kej. 35:19). Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem -Yehuda beserta istrinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Nama orang itu ialah Elimelekh, nama istrinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem –Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana (Rut 1:1-2). Dan berjalanlah keduanya (RUT dan Naomi) sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu…(Rut 1:19) Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab.dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai (Rut 1:22). Lalu datanglah Boas dari Betlehem…(Rut 2:4). … Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyur di Betlehem (Rut 4:11). “…Aku (Allah) mengutus engkau (Samuel) kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” (I Sam.16:2)  
Demikian Yusuf pergi dari kota Nazareth di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem…(Luk .2: 4).
Kota ini disebut kota Daud ternyata didasarkan pada kisah Perjanjian Lama, Kitab Kejadian dan Rut tentang asal-usul Daud. Daud adalah anak Isai, Isai adalah anak Obed, Obed adalah anak Boas dengan Rut. Kisah keluarga itu berlatar tempat di Betlehem.  Dari Raja Daud sampai Yesus  menurut Matius ( Mat.1: 17 )  ada 28 keturunan. Dengan demikian, bisa dipahami alasan mengapa Betlehem disebut Kota Daud dan jelas juga mengapa Yusuf harus membawa istrinya, Maria yang sedang hamil tua, pergi mendaftarkan diri ke Betlehem. Dengan begitu kita  juga mengetahui bahwa Yesus sering disebut sebagai Putra Daud seperti yang diucapkan oleh Bartimeus anak Timeus seorang pengemis buta di kota Yeriko dalam Injil Markus 10: 47-49.

Di Betlehem ada tiga komplek gedung gereja. Kami mengadakan misa pagi di salah satu gereja yang menurut Romo Roby dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para tentara pada zaman Perang Salib. Pada zaman Persia menginvasi Tanah Suci, gereja tempat kami misa ini sudah diduduki kaum Muslim. Mereka akan merusak dan mengubah gereja itu sesuai kebutuhan mereka. Namun, niatnya itu diurungkan karena gedung tersebut sangat istimewa, yaitu tidak memerlukan alat penngeras suara bila sedang ada pertemuan.
Pada Misa pagi itu, Romo Roby berbicara tentang silsilah Yesus yang diambil dari bacaan Injil Matius 1: 1-17. Beliau berbicara tentang peran kaum perempuan untuk datangnya jalan keselamatan.  Salah satu perempuan yang memegang peranan untuk perjalanan gereja dan juga keselamatn itu adalah Maria, ibunda Yesus. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa dalam silsilah itu ada juga beberapa perempuan yang agak miring ceritanya, salah satunya Betsyeba, istri Uria yang akhirnya menjadi istri Raja Daud, yang melahirkan Salomo. Beberapa cerita intrik yang terjadi dalam silsilah Yesus itu hanya mau mengatakan kepada kita bahwa Yesus itu nyata-nyata sebagai manusia biasa. Namun, kemiringan atau kesalahan itu bukan sesuatu yang memalukan atau harus ditutupi. Itu semua manusiawi sekali.
Tanpa perjalanan yang panjang dengan segala lekuk dan likunya, sabda tak akan pernah menjadi daging. Pada mulanya adalah firman, firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. ( Yoh. 1:1-3). Tanpa kemiringan yang manusiawi itu kata-kata dalam Injil di atas tidak berbunyi demikian mungkin.

JELUPANG, NATAL 2011



***

Sabtu, 19 November 2011

YANG BERSALAH YANG DIUNGKIT

-->
Ch. enung Martina


Seseorang berbuat kesalahan itu sesuatu yang wajar dan manusiawi. Kesalahan akan membuat orang melihat mana yang benar. Dari kesalahan orang belajar berhati-hati dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Biasanya sesudah seseorang melakukan kesalahan, ia akan berusaha untuk memperbaiki dan menjaga agar tak jatuh pada kesalahan yang sama. Memperbaiki kesalahan itu sebuah usaha yang tak mudah. Jadi, ketika ada seseorang berusaha memperbaiki kesalahan dan berhasil, itu suatu yang luar biasa.

Namun, proses memperbaiki kesalahan ternyata bukan proses yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi seseorang dalam perbaikan tersebut. Orang bisa berhadapan dengan tantangan dari luar maupun dari dalam dirinya. Dukungan dari orang sekitar akan menjadi suatu kekuatan bagi orang tersebut melanjutkan proses hingga berhasil.

Kenyataan lain yang mungkin dihadapi seseorang ketika ia berproses memperbaiki diri dan bahkan ketika ia berhasil adalah ada orang lain yang mengungkit kembali kesalahan masa lalu. Ini dia permasalahan yang sering kita hadapi. Banyak di antara kita ketika mengalami ini merasa terpuruk dan disudutkan. Kesalahan masa lalu kembali dibeberkan,  sungguh membuat kita merasa tidak aman dan tidak nyaman. Sementara itu, ada orang yang sangat suka mengungkit kesalahan orang lain. Ada beberapa alasan mengapa si pengungkit kembali membuka kesalahan orang lain. Alasan yang biasanya terjadi adalah agar si pembuat kesalahan tidak kembali terjatuh pada kesalahan yang sama. Alasan lain karena kesalahan itu sangat fatal dan tak bisa hilang begitu saja dari ingatan. Ada juga alasan hanya untuk melampiaskan perasaan kesal terhadap si pembuat kesalahan. Atau alasan yang lainya untuk kepuasan si pengungkit dan untuk menjatuhkan si pembuat kesalahan.

Kasus lain yang  mungkin kita alami adalah bila ada kesalahan di masa sekarang, kita akan mencari kambing hitam ke masa lalu. Contoh  anak SMA tidak bisa berdoa dengan baik dalam retret di kelas XII, maka akan menyalahkan proses retret dan pendampingan pada masa SMP. Dianggap kesalahan itu karena guru SMP yang tidak becus mendampingi. Pertanyaan kita: apakah kebiasaan berdoa itu hanya mutlak tanggung jawab pendidikan semasa di SMP? Bagaimana dengan pendidikan dalam keluarga? Bagaimana proses selama dia berada di SMA dari kelas X sampai kelas XII? Apakah masa selama di SMA  pendampingan tidak dianggap? Apakah pendidikan hanya terjadi pada satu periode? Apakah kalau anak sudah sampai di SMA pendampingan (termasuk sikap berdoa) juga berhenti? Bukankah selama ini yang kita ketahui dan kita amini bahwa pendidikan itu merupakan sebuah proses yang berkesinambungan?

Mengungkit dan terus mengungkit, mencari dan terus mencari, membeberkan dan terus membeberkan kesalahan orang lain terasa sudah biasa bahkan menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Mencari kambing hitam untuk kesalahan sekarang dengan mencari kesalahan dan mengaitkannya dengan  masa lalu apakah sebuah jalan keluar untuk memperbaiki kesalahan sekarang? Bukankah kesalah tidak akan bisa diperbaiki dengan hanya menyalahkan dan mengungkit kesalahan di masa lalu? Apakah kesalah bisa kita perbaiki dengan mencari kesalahan orang lain untuk menutupinya?

Apa pun alasan si pengungkit untuk kembali membeberkan kesalahan seseorang, itu sangat bertentangan dengan makna memaafkan atau lebih tepatnya lagi pengampunan. Mengampuni berarti benar-benar memafkan dan tak perlu lagi mengungkitnya, apalagi kalau diutarakan di depan orang banyak dan di depan si pembuat kesalahan. Bila hal ini dilakukan, orang yang mengalami ( dengan catatan si pembuat kesalahan sudah memperbaiki diri atau dalam proses perbaikan diri )  akan merasa benar-benar dijatuhkan. Semangat untuk membenahi diri pada orang itu akan jatuh.

Ada yang mengatakan bahwa mengampuni bukan berarti melupakan. Betul juga pendapat itu. Kesalahan bukan untuk dilupakan karena kalau dilupakan kita tak akan bisa belajar dari kesalahan. Namun, kesalahan bukan untuk diungkit atau terus dibeberkan ke mana-mana. Bila kesalahan terus diungkit,  bagaimana si pembuat kesalahan bisa mendapat ruang untuk memperbaiki diri karena terus diingatkan dan dihakimi dengan kesalahan masa lalunya.

Kesalahan mungkin saja fatal akibatnya bagi orang lain dan juga bagi si pelaku. Namun, kesalahan juga menunjukkan kepada kita bahwa manusia tidak sempurna. Dari kesalahan ada pembelajaran dan ada pengampunan. Tanpa kesalahan orang tidak bisa melihat  mana yang benar. Karena itu, mari kita belajar dari kesalahan kita dan juga mari kita berani untuk tidak mengungkit kesalahan orang lain.