Selasa, 13 September 2011

AKREDITASI = GENGSI

-->
Senin, 8 Agustus 2011 itulah saatnya kami diakreditasi sesudah lima tahun lebih sejak akreditasi sebelumnya. Akreditasi merupakan proses penilaian yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional terhadap sekolah-sekolah. Ada standar yang harus dipenuhi oleh sekolah sesuai dengan statusnya masing-masing (sekolah negeri, sekolah swasta nasional, sekolah internasional, dll.)
Sebuah sekolah yang akan diakreditasi tentu harus mempersiapkan diri dengan baik. Dalam menghadapinya sekolah tenu memrelukan persiapan administrasi, waktu, tenaga, dan tentunya biaya. Berbagai kesibukan untuk menghadapi akreditasi dilakukan oleh setiap sekolah dari persiapan, pelaksanaan, hingga sesudahnya.
Yang ingin saya bagikan bukan pada persaiapan administrasi atau  kiat menghadapi akreditasi agar berhasil meraih standar A, tetapi kisah dibalik dapur akreditasi kami.
Sudah pasti persiapan diwarnai dengan kerja keras bahkan kerja lembur. Sebetulnya tidak perlu sampai seperti itu kalau semua tuntutan administratif  sudah dilengkapi  jauh-jauh tahun, bukan jauh-jauh hari lagi. Dengan begitu administrasi harus tertib! Namun, kenyataan berbeda dengan seharusnya. Ternyata banyak kekurangan  yang harus dipenuhi untuk pembuktian  bahwa hal yang diminta dalam buku panduan (sesuai standar) sudah kami lakukan. Semua harus ada bukti. Akan menjadi omong doang kalau hanya dikatakan sudah dilakukan tanpa disertai bukti. Nah, itu dia, bukti sering terselip, tidaik ada, atau tidak ditemukan. Kalau bukti sudah tak ada, ya.... harus mengadakan! Kreativitas mencipta!
Menarik memang proses persiapan ini karena di sini akan terlihat kinerja sekolah, yayasan, kepala sekolah, guru, tata usaha, karyawan, pokoknya semua elemen sekolah.Yang lebih menarik lagi dalam peristiwa ini akan tampak kinerja dan kepribadian setiap individu. Saya melihat teman-teman saya sangat getol, rajin, teliti, dan bekerja tanpa lelah.
Namun, di samping teman-teman yang  yang ber-jibaku, ada juga teman yang kenyataannya tidak demikian. Teman-teman  yang pulang sampai sore, bahkan   malam, yang ini pulang tepat waktu. Yang lain berusaha sebisa mungkin membantu untuk ikut andil dan terlibat, yang ini ini melenggang entah ke mana. Ketika dia ditanya oleh kepala sekolah mengapa demikian, dia menjawab dengan enteng ‘ saya kan gak bisa komputer ‘ , ‘ saya gak bisa ngetik, jadi ya... gak bisa bantu ‘ . 
Begitu saya tahu jawaban yang dikemukakan saya benar-benar meradang. Lha, memangnya akreditasi itu hanya berkaitan dengan kegiatan memakai komputer? O...alah, wong pekerjaan lain seabrek. Ya,   mestinya kan bisa  membantu yang lainya: menjilid, menyampul, mengangkat, membereskan, atau mijetin temen, membelikan minuman untuk temannya, bahkan cukup dengan kehadiran saja, duduk nongkrong memberi dukungan moril dengan doa, atau apa sajalah. Yang penting peduli. Ya... elah malah katanya tak bisa membantu apap pun.
Saya berpikir lagi jadinya. Apa tidak salah pribadi seorang guru yang begitu? Padahal seorang guru itu kan seorang pendidik. O, ya tambah lagi, guru ini kan pernah mendapatkan penghargaan dari yayasan karena kepeduliannya. Ya... kalo begini,  jadinya mau dibawa ke mana pendidikan ini, je? Kalo saya seperti itu, kok ya... malu saya!

Ee.....ee...lha kok saya malah ikut campur urusan pribadi orang dan urusan kebijakan yayasan dalam memberi penghargaan. Siapa saya? Itu kan bukan urusan saya. Ya, betul sekali itu bukan urusan saya dalam memberi penghargaan, tetapi menjadi urusan saya berkaitan dengan relasi sebagai sesama teman di kalangan para guru. Apa alasannya? Karena saya bagian dari guru-guru dan saya merasa dirugikan juga. Keenakan sekali dia.

Ini menyoal tentang nilai hidup kerja sama, penghargaan, kepedulian, dan rasa setia kawan. Menurut apa yang dicanangkan sekolah ini, sekolah ini mengedepankan pendidikan nilai. Namun, melihat kejadian di atas, rasanya jauh dari apa yang dicanangkan. Saya memang mengakui melakukan sesuatu yang baik itu memang sangat sulit. Demikian pula dengan penerapan pendidikan nilai yang menjadi keunggulan dari sekolah ini. Memang semestinya nilai-nilai itu menjadi bagian dari gurunya juga supaya guru menjadi model untuk siswanya. Ya, itu tadi, terkadang guru seringnya jarkoni. Ming isone ngujar ning ora ngelakoni. Bisanya berkata-kata, tetapi tidak menjalankan. OD. Omong doang.
Lho.... kok saya sewot! Ya... saya akui saya memang sewot. Bagaimana tidak sewot. Sekolah ini kan bukan hanya milik yayasan dan milik ursulin saja. Sekolah ini akan menjadi baik bila menjadi milik bersama. Menjadi milik bersama artinya menjadi tanggung jawab bersama pula. Intinya menjadi keluarga besar begitu.

Ok,.... tenang..... tenang,....!  Tarik nafas panjang.... pelan.... dan hembuskan. Ulang sampai tiga kali!
Meskipun kisruh dan semerawut menurut penilaian orang tertentu, akreditasi sudah berjalan dengan baik. Cukup bukan? O, tentu tidak cukup. Mengapa? Karena akreditasi bukan segalanya. Akreditasi hanya salah satu kisah dalam perjalanan sebuah sekolah. Yang lebih penting adalah pada proses berjalannya roda persekolahan ini dari waktu ke waktu.

Saya akui akreditasi adalah gengsi sekolah, apalagi untuk sekolah sebesar sekolah tempat saya bekerja. Kalau sekolah berada di bawah level A, betapa malunya kami. Bahkan, meskipun masih level A dengan scor yang turun dari akreditasi sebelumnya, itu juga masalah bagi kami. Mengapa bisa demikian. Karena itu menunjukkan bahwa sekolah kami tidak bergerak maju, malah mundur teratur. Dan tentunya itu tidak boleh terjadi seperti itu. Itu berarti kami harus berjuang sekuat tenaga mempertahankan sekolah ini dalam setiap langkah perjalanan kami.

Karena itulah, maka saya sewot mengapa ada rekan guru yang mempunyai sikap seperti yang saya ceritakan di atas.
Gengsi sekolah dipertaruhkan dalam akreditasi. Semua orang tahu itu. Akan menjadi perkara bila bila hasil akreditasi menurun. Karena itu pula mengapa kami berjuang sekuat tenaga untuk menyukseskan akreditasi. Perjuangan ini akan berlanjut untuk proses selanjutnya dalam menjalankan roda persekolahan ini.

Saya belajar banyak dari proses akreditasi ini. Belajar untuk lebih tertib administrasi, menyimpan bukti-bukti dengan baik, melakukan prosedur pengajaran dengan baik, juga nilai-nilai hidup seperti kerja sama, kepedulian, daya juang, ketekunan, ketelitian, pengorbanan, penghargaan, kesantunan, dan terlebih relasi. Saya melihat bahwa kami harus belajar banyak untuk berelasi dan berkomunikasi dengan baik. Semoga pengalaman akreditasi ini bisa menjadikan kami lebih baik untuk menghadapi tahun-tahun berikutnya. 
Ayo... para guru di seluruh tanah air,  tetaplah berjuang untuk bangsa dan negara kita tercintah inih!!!


Jumat, 05 Agustus 2011

SEORANG IBU DENGAN 4 ORANG ANAK

Ch. Enung Martina

Alkisah ada seorang  perempuan dengan 4 orang anaknya. Anak sulung sudah duduk di bangku SMA, anak kedua berada di SMP, anak ketiga di SD, dan anak keempat di TK. Keempat anaknya bertumbuh dengan baik dan maju dalm pendidikannya. Banyak orang memuji  keberhasilan ibu ini dalam mendidik anak2nya.

Namun, orang-orang tidak mengetahui persis apa yang terjadi dengan keluarga ini. Mereka menyangka bahwa keluarga ini baik-baik saja. Karena memang demikian tampaknya dari luar. Kenyataannya, perempuan ini mempunyai tempramen yang buruk. Dia mendidik anaknya dengan sangat disiplin. Terkadang segala sesuatu keinginan perempuan ini harus dituruti. Bila tak dituruti, anak-anak akan kena sasaran amukannya. Setiap hari marah. Ada saja hal yang dijadikan masalah. Hal kecil menjadi nampak besar dan akan menyulut marahnya.

Meskipun demikian perempuan ini juga terkadang bisa juga berbelas kasih. Dia tak akan membiarkan ana-anaknya terlantar. Karena bila sampai terlantar, itu akan menurunkan prestisenya di mata orang-orang. Bagi perempuan ini, prestise sangatlah penting. Ia sering melakukan tindakan amal. Namun, bila diperhatikan dengan sungguh, perbuatannya tersebut semata untuk mengibarkan namanya di depan kolega-koleganya.

Perempuan ini juga rupanya terkenal dengan pilih kasihnya. ia menganut azas like and dislike. Dia akan memberikan apa pun kepada orang yang disuakinya. Hal ini sering dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk mengeruk keuntungan darinya. Namun, perempuan ini tak menyadarinya karena orang tersebut orang yang disukainya.

Di samping itu perempuan ini dikenal sebagai orang yang sangat pandai, disiplin, dan mandiri. Dia merasa tak ada orang yang mengalahkannya. Karena sifatnya inilah banyak orang mengagumi dan segan olehnya. Dia sadar sekali akan kelebihannya itu. Terkadang nampak dia arogan dengan kemampuannya itu.

Kembali kepada sifatnya yang pilih kasih, rupanya berlaku juga kepada anak-anaknya. Mari kita melihat seperti apa sifat anak-anaknya ini. Si sulung (SMA), ia adalah anak yang sangat cerdas, sedikit licik, pandai memanfaatkan situasai, pandai membolak-balikkan fakta untuk mencari perhatian dan cinta dari ibunya. Bahkan si sulung ini tak peduli bila harus 'makan' adik-adiknya, terutama yang SMP. Dia sangat pandai untuk melakukan tipu daya dan rekayasa kenyataan demi keselamatan dari amuk ibunya. Dia akan mencari cara bagaimana agar cinta ibunya tumpah padanya. Dia sering memanfaatkan kesulugannya untuk beberapa tujuan yang berkaitan dengan relasi dengan ibunya.

Anak kedua (SMP), dia seorang anak yang lemah fisiknya, banyak mengalah, tak pernah mau pamer, tak ingin muncul, rendah hati, pemalu, namun sebenarnya dia cerdas, bahkan kecerdasannya dan kreativitasnya bisa melebihi saudara-saudaranya. Ada salah satu kolega ibunya yang ditunjuk oleh sang ibu untuk memberikan pelatihan kepada keempat anak ini. Kolega ini seorang yang objektif. Ketika dimintai laporan tentang kemajuan keempat anaknya oleh perempuan ini, ia memnyebutkan bahwa anak kedua adalah seorang anak yang beyond. Melampau saudara-saudaranya. Anak ini mampu melihat dengan jeli dan kritis serta kreatif melihat suatu masalah. Tetapi sayang, sang ibu rupanya tidak menyukai anak SMP ini. Ibunya selalu mencap bahwa anak ini tidak mencuat, lamban, malas, dan bodoh. Meskipun dilecehkan oleh ibunya sendiri, anak ini tetap dengan kemurniannya untuk terus maju melangkah meraih cita-citanya. Banyak prestasi yang diraihnya, tetapi sang ibu seolah tak melihat hal itu. Ketika mendapatkan juara di olompiade fisika saja yang keluar dari mulut ibunya adalah: saya mengeluarkan uang begitu banyak untuk kamu! Tak ada pujian, tak ada penghargaan. Yang ada hanya cacian. Anak ini hanya bisa menahan rasa sakit hatinya. Namun, ia bertekad dalam hati bahwa ia akan menunjukkan kepada ibunya, kepada saudara-saudaranya, dan  kepada dunia bahwa ia bisa. Beberapa ketidakadilan yang lain contohnya adalah: laptop anak SMP diambil dan diberikan kepada anak yang SD. Ketika ada ujian/ulangan, anak-anak lain boleh libur dari tugas sehari-hari di rumah untuk persiapan ujian/ulanga, tapi anak SMP harus tetap mengerjakan tugasnya. Dengan ancaman yang tegas sang ibu mengatakan bahwa anak SMP paling tidak harus meraih angka 95! Begitulah...ia diperlakukan. Tetapi, anak ini tetap tabah menjalankan semuanya meskipun dengan tangisan dan rasa sakit hati. Justru perlakuan yang pilih kasih inilah, anak ini malah semakin bertumbuh menjadi pribadi yang alot, kuat, dan berkarakter.

Anak ketiga, duduk di SD. Dia tidak begitu dekat dengan ibunya. Namu, justru itulah dia banyak selamat dari banyak masalah. Terkadang dia suka melarikan diri dari kesalahan yang dibuatnya. Dia akan mencari alasan untuk keselamatan dari kemarahan sang ibu. Anak ini terkadang sering lari dari tanggung jawabnya. Bila ada masalah membelit dia akan menyalahkan situasi, saudaranya, alat, alam, atau apa pun yang ada di luar dirinya. Dia banyak selamat dari masalah-masalah moral yang sebetulnya sangat prinsipil. Bila dia ketahuan tak mengerjakan tugasnya, maka dia akan menyalahkan pembantunya. Akhirnya kemarahan sang ibu jatuh kepada pembantunya, dan yang harus menanggung adalah pembantunya. Sebetulnya anak ini agak lambat, tetapi karena dia pandai mencari alasan, maka selamatlah dia.

Anak bungsu, ada di TK. Ia seorang anak yang masih kecil, masih lucu, dan sangat riang. Karena kesibukan sang ibu, anak ini juga jauh dari ibunya. Tak begitu banyak kenakalan yang dilihat dari anak ini. Yang tampak adalah kenakalan kanak-kanak yang menggemaskan.

Begitulah keempat sosok anak-anak yang berbeda karakter. Pertanyaan saya, bagaimanakah nasib anak-anak ini kelak ketika sang ibu sudah tiada? Adakah keempat anak ini akan bertahan dan melanjutkan hidup mereka dengan berhasil? Adakah sifat-sifat mereka mempengaruhi mereka dalam menghadapi hidup? Adakah mereka akan akur satu sama lain? Adakah perempuan ini menyadari akan perlakuannya yang penuh dengan pilih kasih? Apakah perempuan ini menyadari bahwa ada luka-luka yang dia buat untuk anaknya mempengaruhi hidup mereka? Adakah dia juga sadar bahwa hidup tidak selalu berpihak padanya?

Sabtu, 23 Juli 2011

Coba2 Berhadiah

Coba2 Berhadiah
Ch. Enung Martina
Itu adalah kata-kata yang tak sengaja kutuliskan saat sedang tak ada karya yang bisa kutuliskan. Bukan tak ada ide. Ide buanyaak sekali, tetapi apa daya : keterbatasan waktu dan tenaga.



Namun, akhirnya kata-kata ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dilanjutkan. Dalam hidup kita sering mencoba-coba keberuntungan kita. Coba-coba itu ada yang berhasil, tetapi seringnya gagal. Kegagalan terkadang membuat sesorang malas untuk melakukan coba-coba berikutnya. Termasuk diriku ini. Aku sejenis orang yang terlalu terpola mengikuti pola lama yang selama ini sudah biasa dilakukan.

Sebetulnya jenis orang seperti diriku ini, bukan orang yang bisa sukses untuk meraih cita-cita dan berbagai usaha. Ini adalah sejenis orang yang suka dengan kenyamanan. Tak mau tantangan. Senang berada di zona nyaman.

Orang yang suka berada di zona nyaman, rupanya gampang terlibas dengan adanya berbagai kemajuan. Orang sudah mengetahui berbagai hal penemuan baru, tetapi dia (aku juga) masih aman-aman saja dengan pola yang selama ini dipakai.

Aku ingin belajar keluar dari zona nyaman untuk mencapai pencerahan dalam hidup. Rupanya hal yang harus aku lakukan pertama adalah mau berkorban dan berani bersusah-susah. Bersusah untuk proaktif mencari hal baru. Berkorban untuk membagi waktu. berkorban untuk keluar dari kelekatan. Berkorban untuk peduli kepada diri sendiri jugaorang lain.

Saudari-Saudara, ternyata itu sangat tidak mudah. Perlu perjuangan dan niat yang kuat. Banyak tantangan dan rintangan. Tantangan yang paling berat rupanya justru dari diriku sendiri.

Karena itu, aku akan berjuang untuk mengalahkan diri sendiri! Mari kita belajar untuk mencoba hal-hal baru untuk kemajuan dan pencerahan hidup kita.

Kamis, 16 Juni 2011

ADA KALANYA

Ada kalanya kita menjumpai sesuatu hal yang merupakan atribut menjadi lebih penting daripada subjek. Dalam keagamaan ada kalanya kita menemukan ibadat lebih penting daripada kasih. Demikian pula symbol lebih penting daripada makna. Kulit lebih penting daripada isi. Begitu juga konsep lebih penting daripada realitas.

Sifat dasariah manusia yang selalu merasa kurang dan tidak pernah puas, barangkali itulah yang membuat manusia terkadang lebih mementingkan hal yang materi daripada yang hakiki.

Kecenderungan yang demikian semestinya bisa dikurangi bila manusia kembali menaydari tujuan dan makna hidupnya. Bagi yang mengaku dirinya orang beriman menyatakan bahwa tujuan hidupnya pada akhirnya adalah TUHAN, dan alam semesta adalah sarana.

Agar manusia selalu mengingat tujuannya itu, manusia memerlukan kesadaran yang terus menerus. Anthony de Mello menyatakan bahwa kesadaran itu merupakan jalinan pengetahuan yang berproses sehingga menggerakkan kita pada kebenaran.

Kebenaran tidak ditentukan oleh perintah, himbauan, system nilai yang diyakini, atau pendapat seseorang. Kebenaran itu mutlak.

Manusia akan selalu berubah dan terus berubah untuk mencapai pusat hidupnya. Mencapai tujuannya. Untuk bisa sampai ke pusat hidupnya manusia harus kembali ke Fitrah. Kembali pada kesuciannya.

Untuk sampai pada tujuan akhirnya itu, manusia sering terperosok. Untuk mengurangi keterperosokannya maka kesadaran tadi diperlukan oleh manusia. Kesadaran seseorang bisa dilatih, tapi bisa juga datang dengan sendirinya. Kesadaran bisa dilatih dengan bersekolah, menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, berbagai kegiatan rohani melalui retret, rekoleksi, gladi rohani, berbagai pelatihan mental yang terbimbing, juga kesadaran bisa terasah melalui refleksi dan doa.

Diharapkan dengan berbagai latihan kesadaran, orang bisa kembali menyadari tujuan hidupnya dan makna hidupnya. Tidak sekedar mementingkan hal yang Nampak saja, melainkan lebih jauh ke hal yang esensi. (NUNG MARTINA)

Senin, 13 Juni 2011

CATATAN tentang KEBEBASAN

Dari SAAT TUHAN TIADA karya A. Setyawan, SJ

Aku bebas, sebebas air hujan turun di bumi: di semak ia menumbuhkan duri, di kebun ia menumbuhkan bunga. Aku bebas sebebas air yang mengalir di gunung: di tempat curam ia mengalir deras, di tempat landai ia bisa membuat banjir. (Saat Tuhan Tiada, A. Setyawan, 1999, hal.73).

Bebas akan berarti benar-benar BEBAS kalau kita dalam keadaan sadar. Dalam kesadaran sempurna kita bisa bebas sebebas-bebasnya.

Seperti air, ia bebas. Air mengalir mengarah ke pusat gravitasi, pusat bumi. Kalau begitu dalam pribadi kita yang bebas ini, kita juga harus mempunyai pusat hidup agar bisa sebebas air. Tuhan adalah inti yang tidak berinti. Tuhan inti yang tak terbatas, yang sempurna. Suara hati menjadi titik temu anatar Tuhan dan manusia.

Seseorang yang bebas adalah ketika ia memiliki kekayaan tanpa takut kehilangan, ketika sehat tanpa takut sakit, ketika dipuji tanpa takut dicela, ketika dihormati tanpa takut dijelekkan. Namun beberbeda dengan ketika seseorang tidak bisa melihat hidup secara menyeluruh. Ketika ia terpaku pada barang, peristiwa, atau orang tertentu. Ketika kita hidup dalam tempurung tertentu, kita sungguh tak bisa menikmati hidup yang sangat kaya. Ia tidak bebas. Ia tidak bisa menikmati kehidupan.

Ketika seseorang menjadi manusia yang bebas, ia bisa melangkah menuju keutamaan yang lepas bebas dengan memilih sesuatu secara sederhana, ugahari. Berbeda dengan situasi demikian: menjadi kaya, sehat, dan terkenal, tetapi diwarnai oleh kesakitan. Itulah ilustrasi tentang: Memiliki seluruh dunia, tapi kehilangan nyawa.

Namun inti dari kebebasan sejati itu adalah KESADARAN. Kesadaran akan realitas yang ada di sini dan sekarang. Orang yang memiliki kesadaran tak akan pernah merasa terpaksa karena ia memiliki kebebasan memilih. Hal itulah yang akan membawa pada pengalaman rohani yang mendalam. Begitu katanya.

Wah,… mau sadar saja kok ya tidak mudah, ya. Selamat meraih kesadaran diri untuk bisa menggapai kebebasan sejati.

Minggu, 22 Mei 2011

CATATAN tentang BAHAGIA

Dari SAAT TUHAN TIADA karya A. Setyawan, SJ

‘ Jangan mencari kebenaran. Singkirkan saja opini-opinimu.’ ( Guru Zen Jepang )
Hidup yang indah selalu menuntut perubahan. Namun, orang belum juga terbebas dari gambaran diri yang keliru karena terbatas pada lapisan luar yang dirasa itulah dirinya yang asli.

Insting manusia adalah prolife. Secara natural kita berorientasi pada kehidupan di dunia ini. Tetapi dalam kenyataan kita menemukan ada orang yang memilih kematian sebagai tujuan yang tidak disadarinya. Hal ini dipengaruhi karena ada brainwashing oleh konsep ideologi tertentu. Orang yang memilih kematian sebagai tujuan jelas berbeda dengan orang yang memilih kematian sebagai konsekwensi.

Karena seseorang berorientasi pada kehidupan, maka kerinduan terdalam manusia adalah kebahagiaan. Kebahagiaan bukanlah hasil usaha kita. Kebahagiaan itu suatu keadaan ketika kita berpasrah, menyerahkan diri pada kebahagiaan itu sendiri, ketika kita menyadari realitas.

Sebetulnya kebahagiaan itu ada pada diri kita, tetapi kita tidak menyadrinya. Kalau kita dalam keadaan terluka, kita sendiri yang melukai diri. Gagasan kita, ide kita, dan harapan kita sendiri yang melukai, bukan dunia, bukan orang lain, bukan realitas. Dunia, orang lain, realitas itu baik-baik saja. Kehidupan berjalan seturut hukumnya. Dunia, orang lain, dan realitas bukan sumber masalah. Masalah terjadi ketika gagasan, ide, cita-cita, dan harapan tidak sesuai dengan realitas.

Langkah menggapai kebahagiaan:
1. mendiagnosa apa penyebab ketidakbahagiaan
2. Menelusuri apa yang menyebabkan perasaan negatif itu muncul
3. memahami perasaan tersebut dan menerimanya
4. jangan mengidentikkan diri dengan perasaan-perasaan itu
5. Pikirkan bagaimana mengubah diri sendiri.

Perlu diketahui juga bahwa kebahagiaan tidak disejajarkan dengan perasaan tidak bersalah. Kebahagiaan itu melampaui gejala perasaan senang. Kebahagiaan itu semacam kondisi ketika kita memahami dan menerima segala realitas. Kita tidak perlu tidak bahagia karena alasan kesedihan, kekecewaan, kesusahan, dan hal negatif lain. Kita bahagia.... ya bahagia saja. Perasaan negatif bisa berubah menjadi bahagia karena kita menyadarinya. KESADARAN!!

(Ch. Enung Martina)

Minggu, 15 Mei 2011

CATATAN ‘SETELAH PESTA DANSA’ Leo Tolstoy

Hidup ini tak bisa ditebak. Berlapis kabut tipis yang sering kali menjebak. Ada yang lubang jebakannya dalam tak berdasar. Ada pula yang hanya pendek tak berarti. Kadangkala hidup ini seakan hambar tak bergaram, tapa rasa, tanpa selera. Terkadang terasa susah, rumit, bagai jalan yang berkelok-kelok dengan seribu rintangan. Tetapi ada juga perjalanan hidup yang tadinya datar, tiba-tiba berbalik hanya karena sebuah halangan kecil.

Begitulah hidup dengan riak dan gelombangnya. Dengan liku dan belokannya. Dengan naik dan turunnya. Terkadang seseorang mengalami perubahan perjalanan hidup bukan karena keadaan atau lingkungan, tetapi karena satu peristiwa kecil.
Namun, kita boleh berpikir bahwa hidup di dunia ini semuanya berjalan dengan baik selama kita melakukan yang dikehendaki-Nya.