Jumat, 08 Juli 2016

Liburan 4: Menikmati Surga Bunaken


Tak lengkap bila pergi ke Manado tidak pergi ke Bunaken. Maka pada hari kedua, kami keluarga besar St. Ursula BSD, pagi-pagi buta sudah mengantri di depan ruang makan hotel. Para pegawai hotel sepertinya agak risih juga dengan para tamu rombongan besar yang sangat siap untuk menyerbu makanan. Peserta bukan karena sudah sangat kelaparan menantikan makan, melainkan karena ada komando yang mengatakan pukul 7.00 WITA makan dan bersiap-siap untuk wisata bahari kami pada hari ini. Namun, peserta menanti dengan tertib. Karena kami memang warga yang baik dan taat aturan.

Dengan aneka kostum yang siap untuk berbasah-basah terciprat air, para peserta nampaknya sudah benar-benar menantikan untuk menjelajah Bunaken. Tujuan utama hari ini memang Pulau Bunaken. dari hotel kami menuju ke dermaga dengan bis. Di sana bis air sudah menanti kami. Kami naik boat berdasarkan aktivitas yang dipilih sebelumnya, yaitu snorkling dan atau submarine. Saya hanya memilih submarine. Hati saya belum berani untuk secara langsung terjun ke laut, meskipun ada alat pengaman. Saya memang fobia air dan ketinggian.

Saya naik boat dengan peserta lain yang memilih untuk kegiatan submarime dan yang memilih 2 kegiatan sekaligus: submarine dan snorkling. kami berangkat mendahului yang lain.  Ketika kami meninggalkan daratan menuju Pulau Bunaken, kami melihat pemandangan yang mirip dengan yang pernah kami lihat pada saat pergi ke Itali, yaitu di Danau Garda. Pada saat kami meninggalkan Kota Salo menuju Desenzano melalui Danau Garda dengan boat, kami melihat pemandangan yang menawan yaitu daratan yang makin lama menjauh dari kami. Hal serupa juga terjadi saat ini.

Air laut yang biru bening berbuih karena boat yang kami naiki menerobosnya. Lautnya begitu bersih. Biru dan bening. Melihat kenyataan ini, hati saya melonjak karena terpesona oleh keelokan alam. Hati siapa pun akan terpesona melihat keindahan ini. Pantas saja para turis domestik atau pun mancanegara begitu mendewakan laut Bunaken.

Untuk menunggu sampai di tempat tujuan, para peserta mengisinya dengan menikmati keindahan panorama, mengambil foto diri dan alam, mengobrol, bercanda, melamun, tidur-tidur ayam, dan beberapa orang mejeng di atas geladak dekat haluan. Matahari mulai terasa terik di badan, meski hari masih tergolong pagi. lama-lama saya tergoda juga untuk ikut bergabung dengan keriuhan teman-teman yang sedang mejeng di haluan. Akhirnya saya menggabungkan diri. Benar saja merak sedang asyik selfi, foto bersama, dan saling ribut memberi komentar dengan berbagai gaya. Jadilah saya menjadi bagian dari orang yang benar-benar menimkati laut, angin, juga matahari Minahasa nan terik.

Karena melihat kemolekan alam, mendorong kami untuk bernyanyi. Lagu yang kami bawakan adalah lagu Rayuan Pulau Kelapa kalau tidak salah karya Taufik Ismail. Betul Miss Ocha? Lagu ini  menggambarkan tentang negri yang begitu indah. Tanah airku Indonesia, Negeri elok amat kucinta, Tanah tumpah darahku yang mulia,Yang kupuja sepanjang masa. Tanah airku aman dan makmur, Pulau kelapa yang amat subur, Pulau melati pujaan bangsa, Sejak dulu kala. Saat refrein kami membawakannya lebih bersemangat. Melambai lambai, Nyiur di pantai, Berbisik bisik, Raja Kelana. Memuja pulau, Nan indah permai, Tanah Airku, Indonesia!!!. Keseseluruhan lagu itu kami bawakan sambil merem melek. Ada beberapa orang merentangkan tangannya di haluan. Menirukan adegan dalam video klip lagu India? Entahlah. Pasti pernah melihat refrensi sebelumnya.

Sebenarnya rombongan boat kami bisa langsung submarine dengan berganti boat submarine. Namun, airnya belum pasang sehingga tak memungkinkan kapalnya tenggelam jauh ke dalam. karena itu, tour guide memutuskan membawa rombongan menuju Pulau Bunaken dulu untuk menikmati keindahannya dan makanan atau minuman di pulau itu.  Jadilah kami rombongan yang pertama tiba di pulau.

Segeralah saya dan beberapa orang mencari pembuangan akhir membuang hajat kecil kami. Suster Francesco sebagai seorang yang paling kaya dalam rombongan, segeralah mentraktir kami makan pisang goreng sambal terasi, bukan sambal roa. Minumannya beli sendiri-sendiri. Saya pesan kelapa muda satu butir. Hijau dan muda. So, pasati sadap! Datanglah pisang goreng traktiran dari Suster. Pisangnya diiris  besar, tebal, digoreng kekuningan, garing, dan tepungnya renyah. Dalam keadaan mengepul panas disajikan pada setiap meja-bangku kayu di bawah pohon rindang  yang kami duduki. Tak lupa sambalnya. Pisang goreng tadi dicoelkan ke sambal yang didominasi oleh rawit dan bawang merah. Wessss, mak nyussss!!!!

Di sinilah kami sekarang sedang duduk. Tempat kami berada kali ini di Pulau Bunaken yang merupakan   sebuah pulau seluas 8,08 km² di Teluk Manado, yang terletak di utara pulau Sulawesi. Pulau ini merupakan bagian dari kota Manado, ibu kota provinsi Sulawesi Utara. Di sekitar pulau ini dikelilingi laut yang disebut sebagai Taman laut Bunaken yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken. Menurut pemandu, Taman Nasional Bunaken meliputi area seluas 75.265 hektare dengan lima pulau yang berada di dalamnya, yakni Pulau Manado Tua (Manarauw), Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage berikut beberapa anak pulaunya, dan Pulau Naen.  Lokasi penyelaman (diving) berada hanya terbatas di masing-masing pantai yang mengelilingi kelima pulau tadi.  Taman laut Bunaken memiliki 20 titik penyelaman (dive spot) dengan kedalaman bervariasi hingga 1.344 meter. Dari 20 titik selam itu, 12 titik selam di antaranya berada di sekitar Pulau Bunaken. Dua belas titik penyelaman inilah yang paling kerap dikunjungi penyelam dan pecinta keindahan pemandangan bawah laut.

Saat selesai menikmati sejuknya air kelapa muda dan hangat-legitnya pisang goreng, kami keling shoping di kios-kios sederhana untuk mencari sekedar oleh-oleh kaos bertuliskan ‘bunaken’  sebagai bukti bahwa pernah datang di pulau ini.  Mulailah belanja. Ke mana pun perginya, belanja tak pernah lupa.

Tiba saatnya kami untuk berpetualang laut. Kami naik boat untuk berganti dengan submarine. bagi teman yang akan ikut snorkling juga, mereka harus memakai baju dan peralatan yang sudah mereka sewa. Sebelum kami naik ke submarine, kami diajak dulu melihat  dunia bawah laut dengan glass bottom boat. Dari kaca yang berada di dasar perahu itu, kami bisa melihat bawah laut dengan aneka biotanya. Air Laut Bunaken yang jernih memmungkinkan kami untuk melihat aneka biota yang ada di dalam laut sana. Sungguh mempesona. Ikan, kuda laut, bintang laut, babi laut, karang, rumput laut, anemon, ubur-ubur, mahluk ini, mahluk itu, dan aneka mahluk yang ada di laut yang belum pernah saya lihat nampak dari balik kaca tersebut. Itu baru sebagian mahluk laut yang mauncul. Ada sumber yang pernah saya baca bahwa biota laut itu jauh lebih beragam daripada di darat. Saya sungguh terpana melihat kenyataan betapa indahnya dasar laut!

Tiba saatnya untuk berpindah ke submarine. Teman-teman yang akan ikut snorkling juga sudah terlebih dahulu ke submarine. Sekarang mereka dibawa ke arah laut tempat mereka akan nyebur untuk menjadi ‘mahluk laut’ sementara waktu.

Kami masuk ke submarine dan turun menuju ruangan yang dikelilingi kaca semua untuk melihat ke dasar laut. Pendingin ruangan sudah menyala, dan mesin sudah dihidupkan. Mulailah submarine ini bergerak. Perlahan membelah laut. Air semuanya  di sekeliling kami. Mulailah tampak rumput laut, lumut, ubur-ubur, ikan kecil sejenis nemo dan dori, ikan belang berkostum tahanan penjara, karang putih-ijo-kuning-ping-kebiruan. Makin jauh laut makin dalam. Air agak gelap kebiruan. Saya agak merinding melihat palung-palung laut yang airnya kehitaman menandakan betapa dalamnya dia. Saya melihat dinding-dinding seperti jurang kalau di daratan, tetapi semuanya ditumbuhi aneka karang dengan aneka warna dan bentuk. Saya hanya ngowoh saja melihat keajaiban ini. Di sekitarnya aneka ikan yang cantik dengan warna emas, perak, kuning, hitam, biru, neon, menyala, ping, totol-totol, dll berenang berkejaran. Saya seperti dalam dunia finding nemo dan finding dori. Apa yang ada dalam film itu di sini nyatanya juga ada di hadapan saya, hanya dibatasai kaca tebal saja.  Ketika melewati palung yang gelap, saya membayangkan monster laut mungkin juga bersemayam di dalamnya. Keindahan ini sepertinya berada di dunia lain, antah berantah. Laut memang dunia lain yang penuh keindahan, keajaiban, sekaligus penuh misteri.

Satu jam kami berada di submarine tak terasa. Tahu-tahu mesin pendingin mati dan mesin pun berhenti. Kami dipersilakan kembali naik ke geladak. Otak saya masih penuh dengan dunia bawah laut.  

Ternyata ketika saya mencari sumber tentang keindahan bawah laut tadi begini penjelasan wikipedia: Sebagian besar dari 12 titik penyelaman di Pulau Bunaken berjajar dari bagian tenggara hingga bagian barat laut pulau tersebut. Di wilayah inilah terdapat underwater great walls, yang disebut juga hanging walls, atau dinding-dinding karang raksasa yang berdiri vertikal dan melengkung ke atas. Dinding karang ini juga menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan di perairan sekitar Pulau Bunaken.

Taman laut Bunaken  terletak di Segitiga Terumbu Karang, menjadi habitat bagi 390 spesies terumbu karang dan juga berbagai spesies ikan, moluska, reptil dan mamalia laut. Taman ini merupakan perwakilan ekosistem laut Indonesia, meliputi padang rumput laut, terumbu karang dan ekosistem pantai.

Sumber lain mengatakan bahwa ada sekitar 13 jenis terumbu karang  yang menjulang terjal vertikal ke bawah sedalam sekitar 25 – 50 meter. Kita juga  dimanjakan dengan pemandangan yang disuguhkan oleh sekitar 91 species ikan yang ada di Taman Laut Bunaken. antara lain koi putih (Seriola rivoliana), gusimi lokal(Hippocampus), nila gasi (Scolopsis bilineatus), goropa (spilotocepsep hinephelus dan hypselosoma Pseudanthias), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), dan banyak yang lain. tidak hanya itu disini juga banyak ditemukan moluska seperti ikan kepala kambing (Cassis cornuta), nautilus (Nautilus pompillius), kima raksasa (Tridacna gigas), dan tunikates atau askidian.

Kami kembali lagi ke boat yang tadi membawa kami. Sekarang kami akan kembali ke Pulau Bunaken untuk menikmati makan siang. Tak terasa hari sudah menujukkan pukul 13.00 WITA. Beberapa teman yang tidak ikut submarine sudah mulai menikmati makian siang. Segeralah kami membereskan diri di kamar mandi yang bisa disewa untuk membilas diri.
Hidangan di hadapan kami adalah: nasi putih hangat, acar tomat dan bawang beraroma lemong cui, ikan bakar, ikan gule, ikan goreng, kari ayam, cah kangkung, cah bunga pepaya, sup ikan, sambal cabe-bawang merah, dan bakwan jagung. Segeralah kami menyerbu hidangan ini. Perut memang sudah lapar.  (Ch. Enung Martina)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar