Rabu, 27 November 2019

JEJAK LANGKAH 24


KOLAM BETESEDA
Di komplek Gereja Santa Anna Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. [Mereka menantikan guncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan mengguncangkan air itu; siapa saja yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.] – (Yoh 5:2-4). Di kolam itulah Yesus menyembuhkan seseorang yang sudah lumpuh selama 38 tahun (bdk. Yoh 5 : 5-9).
Mengapa Yesus pergi ke kolam Betesda ? Konon kolam itu adalah tempat kafir (orang-orang yang percaya dewa-dewi) yang dipersembahkan kepada Aesculapius, dewa kesehatan. Ada banyak cerita yang mengatakan bahwa sesewaktu orang-orang sakit memperoleh kesembuhan di kolam itu. Orang-orang Yahudi yang saleh, tersinggung karena penyembuhan terjadi di tempat orang kafir. Namun, mereka  menegaskan bahwa orang-orang disembuhkan bukan oleh Aesculapius, tetapi oleh malaikat Tuhan.

Orang-orang Yahudi yang tidak terlalu religius pergi ke sana untuk memperoleh penyembuhan (dianggap sebagai orang yang mencari penyembuhan dari dewa orang kafir). Yesus juga pergi ke sana, tetapi Ia pergi untuk mencari orang-orang berdosa yang ingin diselamatkan. 
Rasul Yohanes mencatat bahwa di situ selalu ada orang-orang sakit (Yohanes 5:2-3) yang mengharapkan kesembuhan dari air kolam. Adanya keterangan "Malaikat yang menggerakkan air" (Yohanes 5:3-4) adalah sebuah keterangan yang ditambahkan oleh sang penyalin Alkitab PB. Menurut dari beberapa penelitian, keterangan tsb disisipkan di waktu kemudian untuk menerangkan naiknya air secara periodik. Di dekat Gereja Anna telah digali kembali sebagian kolam itu. Sejak tahun 1961 ditemukan bak-bak mandi di sebelah Timur kedua kolam itu. Bak-bak mandi itu dipahat pada tanah-tanah padas. Air dimasukkan ke dalamnya lewat saluran-saluran kecil. Sejak sebelum zaman Tuhan Yesus melayani di bumi, kompleks kolam Betesda itu sudah mempunyai sifat sakral dan disakralkan.
Dalam catatan Yohanes,  kolam Betesda adalah tempat bagi kumpulan orang sakit berbaring begitu banyak di situ.Suatu hari Yesus datang ke tempat itu lalu bertanya kepada salah satu dari mereka, “Maukah engkau sembuh?”Jelas orang itu ada berbaring di tepi kolam Betesda dengan satu tujuan yaitu karna ia ingin sembuh. Namun, sebelum   menyembuhkan orang itu,  Yesus memberikan pertanyaan ini baginya: maukah engkau sungguh-sungguh disembuhkan?
Pertanyaan ini penting: apakah engkau sungguh-sungguh mau disembuhkan? Apakah engkau sungguh-sungguh mau diubahkan? Hidupnya membutuhkan satu transformasi total.Itulah artinya pertanyaan Yesus. Kalau engkau sungguh-sungguh mau sembuh maka engkau tidak lagi menjalani hidupmu yang lama dan lifestyle baru dalam hidupmu akan berubah total. Maukah? Alkitab berkata, di dalam Kristus engkau adalah ciptaan baru.Yang lama sudah berlalu, jangan hidup seperti yang dulu lagi. Artinya ketika orang lumpuh sudah sembuh ia harus seperti orang sehat dengan segala hak dan kewajbannya. Ada konsekwensi saat ia menjadi orang sehat. Ada beberapa hal kewajiban yang dia penuhi sebagai pribadi di keluarga juga sebagai bagian dari masyarakat dan juga tentunya agamanya (Yahudi). 
Yesus menyapa orang sakit itu. Yesus bertanya kepadanya “maukah engkau sembuh?” Dari jawaban si sakit, dia mengakui akan ketidak berdayaannya. Turun ke kolam senantiasa didahului orang lain. Di samping itu tidak ada orang yang membantu dan menolongnya. Ketika semua usahanya telah sia - sia dan tidak ada harapan, dia diajak untuk memfokuskan dirinya kepada Yesus yang ada di hadapannya. Satu - satu harapannya tinggal pada Yesus yang ada di depannya. Ketika Tuhan Yesus mengatakan kepadaNya: Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan berjalanlah, ia seperti tersengat oleh kekuatan Ilahi. Ia bangun, mengangkat tempat tidur dan berjalan. Ajaib sekali. Tiga puluh delapan tahun tidak pernah berjalan, kini ada kekuatan Ilahi yang menyembuhkan dan memberi kekuatan untuk berjalan. JIka kolam Betesda tidak bisa memberikan dia anugerah, tetapi Yesus telah memberikan dia anugerah yang sejati. Kesembuhan dan sekaligus keselamatan.
Kelumpuhan itu bukan saja melumpuhkan tubuhnya tetapi akhirnya juga melumpuhkan hasrat hidupnya, melumpuhkan keinginan dan cita-citanya, melumpuhkan keluarganya. Waktunya hanya dihabiskan untuk meratapi keadaannya dan terus hanya berpikir bagaimana untuk sembuh, tanpa berpikir bahwa di dalam sakit kita pun, Tuhan bisa memberi kita anugerah untuk menjalani hidup dan menjadi berkat.orang lain. Dalam cerita Al Kitab sudah lumpuh selama 38 tahun, sebetulnya bagi orang ini sembuh tidak sembuh bukan lagi menjadi persoalan besar, tetapi bagaimana bisa mempunyai hidup yang lebih berkualitas dan lebih menjadi berkat.


Arti Betesda yaitu rumah anugerah. Namun tidak semua orang mendapat anugerah di kolam itu. Ada juga yang mendapat anugrah  termasuk orang yang sudah tiga puluh delapan sakit itu. Anugrah yang didapatnya bukan karena terlebih  dahulu masuk kolam.  Namun, anugrah itu hadir karena perjumpaan dengan Tuhan.  Sampai pada suatu saat dia berjumpa dengan Yesus yang mampu memberikan dia anugerah yang sejati. Ketika itu, Yesus singgah di kolam Betesda dan berjumpa dengan orang itu. 
Pada jaman Kristus kolam ini masih berada di luar kota, di luar tembok utara, dekat Gerbang Domba yang merupakan pintu masuk ke dalam Bait Allah dari arah utara. Pada waktu itu kolam ini merupakan tempat berkumpul orang sakit, orang timpang dan orang cacat yang percaya, bahwa air kolam itu mempunyai daya penyembuhan. Kolam ini sekarang merupakan tempat yang suci bagi orang Kristen, karena disinilah Yesus pernah membuat mukjizat, yaitu menyembuhkan seorang yang menderita kelumpuhan selama tiga puluh delapan tahun. Kolam yang telah tertutup reruntuhan selama berabad-abad ini sebagian besar telah digali kembali oleh para Imam Putih.
Mereka menemukan bahwa kolam ini bersegi empat dengan panjang 120 meter, lebar 70 meter, dan dalam 8 meter. Kolam ini dikelilingi oleh serambi pada empat sisinya dan dibagi dua oleh serambi kelima di tengahnya. Hal ini membenarkan catatan yang diberikan oleh Injil Yohanes, yaitu bahwa kolam itu mempunyai lima serambi (Yoh 5:2).


Di situ ditemukan lima serambi (Serambi adalah: teras/ beranda atau selasar yang agak panjang, bersambung dengan induk rumah). Salah satu serambi itu membelah kolam menjadi dua yang tidak sama luasnya. Keempat serambi lainnya mengelilingi kolam tersebut. Sehingga tiang-tiang membentuk lima serambi seperti yang dijelaskan Injil Yohanes.
Kolam Betesda rupanya juga sudah disebut dalam Perjanjian Lama. Kolam Betesda disebut dalam Perjanjian Lama sebagai Kolam Atas, atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Upper Pool yang dianggap mengacu pada Kolam Betesda disebut dalam Kitab 2 Raja-raja 18 yang mencatat kejadian dalam zaman pemerintahan Raja Hiskia. Catatan ini juga terdapat dalam Kitab Yesaya 36.
Yesaya 7:3 juga mencatat nama Kolam Atas ini, "Berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya: Baiklah engkau keluar menemui Ahas, engkau dan Syear Yasyub, anakmu laki-laki, ke ujung saluran kolam atas, ke jalan raya pada Padang Tukang Penatu." Sementara dalam Perjanjian Baru, nama Betesda hanya muncul sekali, yaitu pada Injil Yohanes 5:2-3.
Sejarah mencatat bahwa pada abad pertama masehi, Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang dalam bahasa Ibrani di sebut Betesda itu ada lima serambinya. Namun ternyata, sampai abad ke 19 tidak ada bukti diluar Injil Yohanes bahwa kolam ini sungguh ada. Maka banyak orang mengira bahwa deskripsi Yohanes mengenai kolam itu tidak dapat diandalkan secara historis. 
Di abad 19 akhirnya reruntuhan Kolam Betesda dibersihkan dan kolam ini terbukti ada. Kini kedua kolam yang disebutkan dalam Injil Yohanes, yaitu Kolam Betesda dalam Yohanes 5:2 dan Kolam Siloam dalam Yohanes 9:7 sudah berhasil diidentifikasi. Dalam penggalian, mereka menemukan bahwa kolam ini berbentu segi empat dengan panjang 120 m, lebar 70 m dan dalam 8 m. Kolam ini dikelilingi oleh serambi pada empat sisinya dan dibagi dua oleh serambi kelima di tengahnya. Kolam Betesda ternyata memang memiliki lima serambi yang tidak tersusun dalam bentuk pentagon. Kolam ini terdiri dari empat serambi yang tengahnya dipisahkan oleh satu serambi sehingga membentuk lima serambi.
Demikianlah apa yang tercatat dalam Al Kitab ternyata bisa dibuktikan secara historis dan juga lokatif. 


Menjadi catatan untuk kita bahwa: dalam Injil Yohanes taka da catatan tentang reaksi orang lumpuh yang disembuhkan tersebut. Tidak ada respons berterima kasih, tidak ada respons bersyukur, tidak ada respons dia memuliakan Allah. Orang-orang Farisi menegur dia kenapa pada hari Sabat dia membawa tilamnya, Orang ini menjawab, “Aku disuruh mengangkat tilam ini oleh orang yang menyembuhkan aku.”Siapa orang itu?Tidak tahu.Aku tidak kenal. Baru kemudian di Bait Allah ia mengenal Yesus yang telah menyembuhkannya. Yesus pula mengingatkan dia: “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk” (Yohanes 5:14).Yesus mengingatkan dia, jangan sampai hidupnya nanti lebih buruk daripada sebelumnya.
Menjadi refleksi untuk diri saya, yang dilakukan oleh orang lumpuh itu terkadang juga kita lakukan: respons yang tidak sesuai atas anugrah hidup yang kita terima. Seolah hidup yang kita terima memang harus demikian adanya. Sesuatu yang sudah selayaknya dan seharusnya. Karena itu, respon kita terhadap kehidupan adala; kurang bersyukur, tidak menyadari apa yang terjadi. 
Sumber: 
www.sarapanpagi.org/kolam-kesembuhan-paganisme-helenistik-betesda-vt10326.html

(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga Besar Santa Ursula BSD.)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar