Minggu, 02 Februari 2020

JEJAK LANGKAH 31


GEREJA BAPAK KAMI – PATER NOSTER


Pater Noster Church, bahasa Latin dari Gereja Bapa Kami, adalah gereja yang dibangun di atas tempat Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami. Satu-satunya doa yang diajarkan Yesus kepada murid-muridnya adalah Bapak Kami. Gereja ini terletak di Mount Olives (Bukit Zaitun) di Yerusalem. Berdasarkan tradisi bahwa di situlah Yesus mengajarkan doa Bapa Kami kepada para rasul-Nya. Tradisi ini didukung oleh Injil Lukas yang menempatkan doa itu langsung sesudah kunjungan Yesus di rumah Maria dan Marta (Luk 10:38, 11:4), yang menurut Injil Yohanes (11:1; 12:1) tinggal di Betania.

Gereja Pater Noster yang ada sekarang ini adalah gereja yang ketiga. Gereja yang pertama didirikan oleh Kaisar Konstantin pada awal abad ke 4. Gereja Bapa Kami adalah gereja katholik Roma. Gereja tersebut dihancurkan pada tahun 614 oleh Persia. Pada abad ke-12 Ksatria Perang Salib membangun lagi sebuah gereja di tempat yang sama, namun ketika mereka meninggalkan Yerusalem, gereja ini dihancurkan oleh penguasa Islam,  lalu tanahnya dijadikan milik mereka.

Memori ajaran Yesus tetap terkait dengan situs ini, dan selama perang salib itu secara eksklusif dikaitkan dengan ajaran Doa Bapa Kami. Tentara salib Kristen membangun orator kecil di tengah reruntuhan pada tahun 1106, dan sebuah gereja penuh dibangun pada tahun 1152 berkat dana yang disumbangkan oleh Uskup Denmark, yang dimakamkan di dalam gereja. Gereja era crusader rusak parah selama Pengepungan Yerusalem pada 1187. 


Akhirnya ditinggalkan dan jatuh ke dalam kehancuran pada tahun 1345. Pada tahun 1851 batu-batu sisa dari gereja abad ke-4 dijual untuk batu nisan di Lembah Yosafat. Situs ini diakuisisi oleh Putri Aurelia Bossi de la Tour d’Auvergne pada akhir abad ke-19 dan pencarian gua yang disebutkan oleh para peziarah awal dimulai. Pada tahun 1868 ia membangun sebuah biara yang bernaung pada Campo Santo di Pisa, Italia, dan mendirikan biara Carmelite pada tahun 1872. Pada tahun 1910, fondasi di atas gua ditemukan sebagian di bawah biara. Biara itu dipindahkan ke lokasi terdekat dan mulailah rekonstruksi gereja Bizantium pada 1915. Gereja masih belum selesai.

Seperti penjelasan di atas bahwa pada tahun 1868 tempat ini dibeli oleh seorang bangsawan Perancis, Puteri Aurelia de Bossi de la Tour d’Auvergne. Ia membeli lokasi ini dan menyumbangkannya ke pemerintah Perancis. Pada tahun 1875 dia juga membangun biara untuk Biarawati ordo Carmelita. Setelah kematiannya, Putri Aurelia dimakamkan di dinding serambi gereja ini. Penggalian dilakukan pada tahun 1910–1911 untuk mengangkat sisa–sisa gereja pertama. Pada tahun 1918 Perancis mengorganisir dana untuk membangun basilika dunia untuk Ordo Hati Suci. Pekerjaan bisa dimulai tetapi gagal untuk menyelesaikannya. Namun, berkat perkembangan pariwisata yang ditunjang adanya keterhubungan antarbangsa, maka bangunan gereja modern ini sekarang bisa kita saksikan.


Gereja ini terletak di distrik At-Tur Yerusalem yang memiliki populasi sekitar 18.000 orang Arab (kebanyakan Muslim), dengan minoritas Kristen. Gereja Pater Noster, juga dikenal sebagai Sanctuary of the Eleona (Perancis: Domaine de L’Eleona).  Gereja Katolik Roma ini yang sebagian dibangun kembali terletak di Bukit Zaitun, sebelah utara Makam Para Nabi, di Yerusalem.Gereja ini  berdiri di situs tradisional ajaran Kristus tentang Doa Bapa Kami. (Lukas 11: 2-4). Hari ini, tanah tempat gereja berdiri secara resmi sudah menjadi milik Gereja.


Bagian Kiri pintu selatan gereja adalah tempat baptisan yang diratakan dengan mosaik. Biaranya adalah gaya Eropa dan berisi plakat yang bertuliskan Doa Bapa Kami di lebih dari 100 bahasa yang berbeda. Sebuah jalan di sebelah kanan biara mengarah ke Gereja Pertempuran Rusia dan kapel makam Bizantium di mana beberapa mosaik Armenia dilestarikan di sebuah museum kecil. (Wikipedia)

Di dalam gereja ini ada pelataran dan lorong-lorong dengan dinding yang dipenuhi dengan keramik berisi Doa Bapa Kami dari berbagai bahasa.

Guide kami (yang orang Arab) mengatakan, negara-negara Arab hanya punya bahasa satu, bahasa Arab, tidak seperti Indonesia bernegara satu, tapi punya lebih dari 300 bahasa daerah. Rasanya bangga juga punya bangsa yang kaya dengan budaya dan bahasa.



Doa Bapa Kami dalam berbagai bahasa yang ada di dunia dibingkai pada dinding tembok. Pada salah satu tembok sisi kanan gereja terdapat bingkai Doa Bapa Kami dalam bahasa Indonesia. Di Pater Noster Church, atau Gereja Bapa Kami ini, bahasa – bahasa daerah di  Indonesia juga terlihat mendominasi.  Salah satunya bahasa Sunda, bahasa daerah saya. Saya merasa bangga menjadi orang Indonesia.

Mari kita telusuri tentang doa Bapak Kami. Doa Bapa Kami sangat tepat diucapkan oleh kaum Israel yang berada pada masa sebelum salib (kekeristenan), di mana mereka menantikan Kerajaan Mesianis yang dinantikan. Seingga frase “datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu” menjadi permohonan yang selalu harus diulang-ulang dalam ucapan doa.

Indahnya Kerajaan yang digambarkan itu serta keadaan diampuni dari segala dosa sebagai upah dari saling mengampuni adalah dambaan dan kerinduan yang diajarkan dalam Doa Bapa Kami. Yesus mengajarkan murid-murid agar saling mengampuni untuk dapat memperoleh pengampunan Bapa. Mengampuni supaya diampuni adalah keniscayaan untuk dilakukan baik bagi orang Israel maupun bagi murid-murid pra-Kristen.


Bagi orang Kristen, Doa Bapa Kami dalam Matius 6:9-15 ini adalah doa familier bagi setiap kita yang mudah diucapkan dan dihafalkan oleh semua kalangan usia. Orang yang percaya dalam masa sekarang ini sepertinya kalimat demi kalimat dalam Doa Bapa Kami hanya didaraskan begitu saja. Rupanya patut dicerna kembali makna yang mengena dari tiap kata dalam doa Bapak Kami dengan kaidah beriman kita masa kini.

Orang percaya hendaknya kita memiliki kemandirian dalam berdoa, sehingga tidak perlu bersifat hafalan atau pengulangan suatu ucapan. Jadi dapat dikatakan rumusan doa bersifat fleksibel sesuai kebutuhan dan situasi serta kondisi si pendoa.  Namun, sebuah doa hafalan yang dirafalkan dari tahun ke tahun dari zaman ke zaman mempunyai kekuatan tersendiri untuk yang mengucapkannya.

Doa adalah suatu makanan pokok bagi seorang Kristiani. Dengan berdoa kita akan lebih dekat dengan Tuhan. Berdoa tidak saja berbicara dengan Tuhan tetapi melatih diri kita untuk lebih mengenal Tuhan dan juga diri sendiri. Beberapa doa pokok yang dihafalkan empunyai beberapa manfaat: pada saat berdoa tubuh akan berkonsentrasi dengan Tuhan dan anda akan mengalami komunikasi dengan Tuhan melalui alam bawah sadar anda. Dengan begitu kita akan dipaksa untuk mengoreksi diri kita dengan perbuatan yg kita lakukan setiap harinya. Yah, kita pasti akan lebih mengenal siapa kita dan akan lebih bisa mengontrol tindakan kita sehari-hari. Banyak sekali orang yg mendapat keajaiban setelah berdoa. Bahkan dalam keadaan yang mendesak tak ada yang mustahil bagi Tuhan jika kita berdoa dengan sunguh-sungguh. Walau itu terlihat mustahil.


Doa yang dihafalkan   tidak bergantung pelafalan kata atau kalimat doa yang persis seperti yang diajarkan, sebagaimana Doa Bapa Kami. Analisis menyeluruh terhadap teks doa Bapa Kami ini adalah penting bagi sekalian kita, supaya orang percaya bisa memiliki penerapan yang tepat dan melihat makna yang terkandung di dalamnya.

Bagi orang Kristen, Doa Bapa Kami dalam Matius 6:9-15 ini adalah doa familier bagi setiap kita yang mudah diucapkan dan dihafalkan oleh semua kalangan usia. Terasa aneh apabila orang Kristen tidak hafal doa ini mengingat biasanya ini dihafalkan ketika seseorang mengikuti kelas katekisasi atau dipajari ketika kanak-kanak.

Santo Agustinus dari Hippo mengatakan “doa itu merupakan penghubung antara manusia dengan Allah, termasuk juga Doa Bapa Kami yang merupakan doa yang sangat populer dalam dunia Kristen dan dijadikan acuan bagi semua doa,”[1].  Geldenhuys mengatakan: “Doa dalam Matius 6:9-13, Tuhan Yesus mengajarkannya sebagai contoh doa yang cocok dengan segala syarat, yang telah diletakkanNya sendiri sebagai dasar bagi doa yang benar.”[2] Ini menjadi cerminan bagi doa-doa lainnya dalam kekristenan. Bahkan para petobat baru biasanya wajib menghafal doa ini sebagai syarat permulaan hidup beriman dalam Kristen.


Ketika Doa Bapa Kami diucapkan dalam liturgi gereja saya yakin peserta dalam ibadah tidak berpikir terlebih dahulu apa makna dari ungkapan dalam doa yang diajarkan Yesus ini. Bahkan mungkin karena terasa sangat sakral di telinga umat, ketika secara serempak mengucapkan doa itu, pertimbangan nurani dan pikiran tidaklah diperlukan lagi. Namun, nampaknya baik bila kita menghayati sebuah doa dengan memahami makna di balik kata-kata yang diucapkan.

Doa "Bapa Kami" versi Injil Matius terdapat dalam Mat 6:5-15, di mana Yesus mengajarkan bagaimana seharusnya para murid berdoa. Dalam pengajaran tersebut, Yesus menasihatkan dua hal penting sehubungan dengan doa. Pertama , Ia menasihati para muridNya, agar mereka "jangan berdoa seperti orang munafik", yang suka memamerkan doanya di hadapan orang banyak (bdk ay 5). Untuk mencegah kemunafikan, baiklah para murid berdoa di tempat tersembunyi, yang jauh dari keramaian (bdk ay 6). Kedua, Yesus menasihati para muridNya, supaya dalam berdoa, mereka "jangan bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah" (bdk ay 7). Daripada bertele-tele, jauh lebih baik mereka langsung menyampaikan apa yang mereka perlukan; sebab sebelum mereka minta, sesungguhnya Allah telah mengetahuinya (bdk ay 8). Sesudah Yesus menasehatkan dua hal penting tersebut, Ia kemudian mengajarkan doa "Bapa Kami".


Doa singkat ini dibuka dengan menyapa Allah sebagai "Bapa". Selanjutnya disampaikan enam permohonan yang tersusun secara paralel. Tiga permohonan dimaksudkan bagi "kepentingan Allah" dan tiga permohonan dimaksudkan bagi "keperluan manusia", Bagi kepentingan Allah, dimohonkan agar nama-Nya dikuduskan, kerajaanNya datang, dan kehendak-Nya terjadi (bdk ay 9-10). Sedangkan bagi keperluan manusia, dimohonkan agar diberi makanan secukup-nya, diampuni kesalahannya, dan dilepaskan dari yang jahat (bdk ay 11-13) .

Menurut kebiasaan orang Yahudi, doa harus ditutup dengan suatu doksologi (adalah sebuah himne pendek yang digunakan di pelbagai kebaktian Kristen, seringkali dinyanyikan pada akhir kebaktian. Tradisi menyanyikan himne pendek ini diturunkan dari praktik serupa yang dilakukan di sinagoge Yahudi untuk mengakhiri suatu doa/ibadah - Wikipedia). Jadi dapat dipahami, jika doa "Bapa Kami" juga ditutup dengan suatu doksologi.


Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Allah memang sering dipuji sebagai yang empunya kerajaan (bdk. 1Taw 29:11; Mzm 22:29; Ob 21), kuasa (bdk Mzm 62:12; 68:35; Ayb 25:2) dan kemuliaan (bdkl Taw 29:12; Mzm 29:1; 96:7) untuk selama-lamanya. Jadi dengan mengucapkan doksologi tersebut, para murid menegaskan kembali harapannya agar kedaulatan Allah segera dipulihkan (bdkWhy 11:6; ,4:11; 5f~13) .

Doksologi sesudah doa "Bapa 'Kami" ini senada dengan doksologi yang diucapkan Daud: "TerpujilahEngkau, ya Tuhan, Allahnya bapa kami Irael, dari selama-Iamanya sampai selama-lamanya. Ya Tuhan, punyamulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya Tuhan, punyamulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari padaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tanganMulah kekuatan dan kejayaan; dalam tanganMulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya" (bdk 1 Taw 29:10-12).


 (Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar