Sabtu, 29 Februari 2020

JEJAK LANGKAH 34


Gereja Makam Kudus (Church of the Holy Sepulchre)



Jalan Salib berakhir di Gereja Holy Sepulchre (the Church of the Holy Sepulchre) atau dikenal dengan Gereja Makam Kudus yang terletak di dalam wilayah Kristen (the Christian Quarter).   Sesampai di Bukit Golgota, tim mengunjungi Gereja Makam Kudus. Peziarah harus melalui sejumlah anak tangga yang sempit menuju tempat Yesus disalibkan, dimakamkan, dan dibaringkan. Gereja Makam Kudus dibangun 324 Masehi. Di dalamnya terdapat potongan batu yang dulu sebagai tempat pembaringan Yesus serta sebuah ruangan kecil sebagai tempat makam Yesus.


Komplek Makam Kudus ini merupakan ujung dari Via Dolorosa yang disebut juga dengan Golgotha, adalah sebuah bukit yang menjadi tempat penyaliban Yesus. Tempat ini sekarang  sama sekali tidak lagi berbentuk bukit walau posisinya berada di ketinggian. Situs ini dipercaya oleh banyak orang Kristen sebagai Golgota, tempat Yesus disalibkan, dan kubur Yesus yang kosong, di mana tertulis Ia pernah dikuburkan, tetapi kemudian bangkit dari kematian. Gereja ini menjadi tujuan peziarahan Kristen sejak abad ke-4, sebagai tempat wafat dan kebangkitan Yesus.


Gereja Makam Kudus dibangun berabad-abad silam dan masih berdiri sampai sekarang. Gedung gereja ini menggunakan model arsitektur kubah, sebagaimana bangunan gereja dan masjid di seluruh penjuru Tanah Suci Tiga Agama Samawi. Bagaimanapun, model arsitektur kubah pada awalnya merupakan milik gereja Ortodoks Bizantium yang kemudian dilestarikan oleh Islam ketika tentara Islam merebut wilayah-wilayah politik Kekaisaran Bizantium pada abad ke VII Masehi.



Menurut tradisi, gereja itu dibangun oleh Kaisar Konstantine sekitar tahun 325-335 Masehi untuk memperingati Kebangkitan Yesus. Konstantine adalah kaisar Romawi yang menjadi pemeluk agama Kristen. Di tempat itu pulalah, Ratu Helena, ibunda dari Kaisar Konstantine, pernah datang berziarah, dan berperanan penting di dalam mendorong Konstantine mengambil keputusan untuk menyelamatkan tempat-tempat suci di Jerusalem dengan membangun gereja di atasnya. Konon, di tempat itu pulalah sang ratu menemukan potongan dari kayu Salib yang digunakan untuk menyalibkan Yesus yang keberadaannya hingga kini tidak lagi diketahui.

Tetapi ada satu bagian dari gereja ini yang posisinya lebih tinggi dari lantai utama, yang merupakan puncak sebuah batu karang. Menurut tradisi, batu karang itu masih menyimpan lubang tempat salib di tancapkan. Untuk menggapai lubang itu, pihak gereja membangun sebuah altar di atasnya dan kita perlu berjongkok mengulurkan tangan ke dalam untuk menjamah batu karang itu.



Situs ini berada di wilayah Kristen dan menjadi salah satu bangunan yang paling disucikan di sana. Paling tidak ada tiga tempat penting di dalam gereja itu yakni, golgota tempat penyaliban Yesus, altar batu tempat jenazah Yesus di baringkan setelah diturunkan dari Salib dan makam kudus, tempat dimana Yesus dikuburkan.

Kompleks situs Makam Kudus  sangat besar. Masing-masing punya bagian sendiri tergantung peristiwa yang terjadi di dalamnya. Ketika kita masuk di pintu gerbang utama, merupakan altar tempat lobang salib berada di tempat paling tinggi di sebelah kanan pintu masuk. Bila dilihat dari kontur bangunannya,  dahulunya merupakan puncak bukit. Kita harus naik tangga yang agak curam untuk sampai di atas.


Altar batu tempat meletakkan jenazah Yesus berada persis di depan pintu masuk. Banyak peziarah ( Katolik )  khusyuk berdoa di tempat itu. Saat memasuki pintu gereja, aroma rempah-rempah yang muncul di atas altar batu tersebut, sudah tercium. Padahal di altar itu, hampir setiap peziarah menempelkan rosario, baju, atau sapu tangan untuk menyerap aroma rempah-rempah kuno yang dulu dulu digunakan untuk memoles jenazah Yesus. Entah kenapa, bau batu itu tidak pernah berkurang. Kemungkinan petugas menambahkan parfum di batu tersebut.  



Di sebelah kiri pintu masuk, bagian belakang gereja, terdapat satu kompleks altar berbentuk cungkup batu yang punya pintu sempit dan kecil. Itu adalah kuburan yang diyakini menjadi tempat meletakkan jenazah Yesus ribuan tahun silam, sekaligus tempat dimana Dia mengalami kebangkitan. Tempat itu sangat dijaga kekudusannya. Peziarah atau wisatawan yang masuk ke dalam altar tersebut harus memakai pakaian yang menutup semua bagian badannya. Wanita dengan rok mini atau celaan pendek harus memakai kain/sarung untuk menutupi paha dan kakinya yang terbuka. Peziarah harus anti untuk dapat sampai ke dalam altar kubur batu tersebut. Antrian mengular dari berbagai rombongan dan berbagai Negara. Kita harus menunduk untuk memasuki ruangan gua yang sempit yang hanya dapat menampung maksimal enam orang. Tidak dapat berlama-lama di sana karena seorang biarawan (berjubah hitam) mungkin dari biarawan dari Gereja Armenia, siap menegur dengan tegas jika melewati batas waktu demi memberi giliran pada yang lain.



Berbicara tentang makam batu yang merupakan kuburan Yesus, ada catatan yang say abaca: Amos Kloner( seorang arkeolog) memeriksa/meneliti  lebih dari 900 gua pemakaman di sekitar Yerusalem era Bait Allah kedua. Dari sekian ratus gua pemakaman  yang diperiksa oleh arkeolog tersebut, hanya empat batu penutup makam yang berbentuk cakram. Keempat makam Yerusalem yang elegan itu milik keluarga terkaya—bahkan mungkin keluarga kerajaan. Misalnya, makam Ratu Helena dari Adiabene.


Makam batu ditutup dengan batu lain dan dikunci atau disegel.  Jenis  batu apa yang digunakan untuk memeteraikan atau menyegel makam Yesus? Apakah batu berbentuk cakram atau berbentuk kubus? Walaupun kedua bentuk itu ada, batu pejal berbentuk kubus jauh lebih umum daripada cakram.


Batu meterai berbentuk cakram begitu jarang jika dibandingkan dengan meterai batu kubus. Makam Yesus dibangun untuk orang biasa ( sebenarnya pinjaman, makam yang belum digunakan) yakni makam milik keluarga Yusuf dari Arimatea (Mat. 27:60). Bila dilihat dari kutipan itu, tampaknya sangat tidak mungkin makam Yesus dilengkapi dengan batu meterai berbentuk cakram. Oleh karena itu para arkeolog menyimpulkan makam Yesus disegel dengan batu kubus.

Dalam kolom Biblical View yang berjudul A Rolling Stone That Was Hard to Roll dalam majalah Biblical Archaeology Review (BAR) edisi Maret/April 2015 Urban C von Wahlde meneliti kisah Injil untuk melihat bagaimana batu itu menyegel makam Yesus. Analisis yang cermat tentang tata bahasa Yunani mengungkapkan detail dari Injil Yohanes yang mendukung gagasan makam Yesus memang disegel dengan batu kubus.


Dalam kolom Biblical Archaeology Review, Urban C von Wahlde menjelaskan bahwa Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) semua menggunakan bentuk kata kerja Yunani kulio untuk menggambarkan bagaimana batu meterai kubur Yesus dipindahkan. Kulio berarti "menggulingkan".

Markus 15:46 berbunyi, "Yusuf pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengafani-Nya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan-Nya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.”
Markus 16: 3 Menjelaskan adegan pada Minggu Paskah ketika Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome mengunjungi makam Yesus Kristus: "Mereka berkata seorang kepada yang lain, 'Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?'"


Gereja Holy Sepulchre menjadi tempat paling suci bagi umat Kristen karena diyakini sebagai lokasi Penyaliban Kristus dan Kuburan Yesus. Di tempat Yesus disalib terdapat batu yang retak terbelah tandanya adanya gempa bumi waktu itu ( Mat 7: 21 ).

Sejarah

Pada abad ke-4 Raja Konstantin (Pendiri Konstantinopel) memeluk agama Kristen, lalu menjadikan agama itu sebagai agama kekaisaran Romawi. Selanjutnya Jerusalem dikuasai oleh kaum Kristen. Makam Yesus sudah menjadi gereja yang besar sejak Kaisar Konstantinus Agung berkuasa atas kekaisaran Romawi, abad keempat masehi. Atas prakarsa Konstantinuslah banyak dibangun gereja-gereja di Tanah Suci yang pada waktu itu masih berstatus wilayah jajahan Romawi.


Setelah kekalahan Bizantium oleh kaum Muslim, Jerusalem harus diserahkan kepada Khalifah Umar. Khalifah Umar datang sendiri ke Jerusalem untuk memenuhi undangan Patriac Sophronius, penguasa lama, guna melakukan serah terima kota Jerusalem. Selanjutnya dibuatlah sebuah perjanjian yang terkenal dengan “Perjanjian Aelia” yang berisi jaminan Islam untuk kebebasan, keamanan dan kesejahteraan kaum Kristen beserta lembaga-lembaga keagamaan mereka.

Selesai membuat perjanjian, Khalifah Umar hendak melaksanakan shalat, Sophronius mempersilakan Khalifah untuk shalat di dalam Gereja Holy Sepulchre. Khalifah menolak, selanjutnya dia shalat di tangga gerbang timur gereja. Khalifah Umar sempat berkata, “Patriac, tahukah anda mengapa aku tidak mau shalat di gereja anda? Anda akan kehilangan gereja ini karena setelah aku pergi, kaum muslim akan mengambilnya dari anda dan berkata, “Disinilah Umar dahulu pernah melakukan shalat”. Penolakan Khalifah Umar inilah yang selanjutnya menyelamatkan gereja tersebut hingga utuh sampai sekarang. Khalifah Umar seorang Muslim yang mempunyai hati nurani.


Dulu makam Yesus dan bukit Golgotha ada di luar kota dan tidak ada bangunan lain di tempat itu selain makam baru milik Yusuf Arimatea. Sekarang Gereja Makam Kudus ada di dalam kota tua di antara berbagai bangunan di sekitarnya, baik gereja, masjid, rumah penduduk, sampai toko-toko souvenir. Dulu Yesus diarak ke luar tembok kota sambil memanggul salib. Kini para peziarah melakukan jalan salib di dalam kota melewati perkampungan dan pertokoan menuju ke Golgotha yang ada di dalam Gereja Makam Kudus.

Kitab Suci menggambarkan dengan jelas bagaimana terjadinya peristiwa-peristiwa ini. Dengan kacamata iman akan kebangkitan Kristus, peristiwa pemakaman adalah hal yang sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan. Penginjil ingin menunjukkan bahwa pemakaman adalah hal yang sangat mendasar bagi seluruh peristiwa Yesus sebagai manusia. Selain itu, penggambaran peristiwa pemakaman Yesus ingin menegaskan kepada kita kenyataan bahwa Ia sungguh-sungguh wafat, dan dengan demikian pada hari ketiga Ia sungguh-sungguh bangkit.


(Ch. Enung Martina: Teriring ucapan terima kasih tak terhingga kepada : Sr. Francesco Maryanti,OSU yang menjadi jalan semua ini teralami, Romo Hendra Suteja, SJ pembimbing rohani yang kepada beliau kebijaksanaan diberikan Tuhan, kepada Romo Sugeng yang mempunyai talenta untuk menghibur, kepada Mas Edi dan Mas Engki yang tak lelah melayani,  kepada seluruh tour guide, crew di bis, dan seluruh peserta ziarah dari Keluarga besar Santa Ursula BSD.)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar