Jumat, 14 Agustus 2026

Cerpen Remaja 2

 



Di Balik Pintu Perpustakaan

Ariel selalu datang paling pagi. Ketika sebagian besar siswa kelas XI masih sibuk mencari tempat duduk, menyalin pekerjaan rumah, atau membeli sarapan di kantin, Ariel sudah duduk di bangku dekat jendela lantai dua. Buku terbuka di hadapannya. Pulpen tersusun rapi di sebelah kanan. Botol air minum diletakkan tepat di sudut meja.
Ia suka pagi. Pagi tidak banyak bicara. Pagi tidak menertawakan. Dan yang paling penting, pagi tidak bertanya mengapa ia sendirian.
Ariel adalah salah satu siswa cukup pintar di angkatannya, meskipun bukan yang terpandai. Nilai-nilainya hampir selalu berada di papan atas. Dalam pelajaran matematika, ia bisa menyelesaikan soal yang membuat teman-temannya mengernyitkan dahi. Dalam Bahasa Inggris, ia mampu berbicara lancar tanpa teks. Ia juga pandai berdebat dan memiliki ingatan yang kuat.
Guru-guru sebenarnya melihat banyak potensi dalam dirinya. Sayangnya, mereka juga melihat sesuatu yang lain. Ariel sulit bekerja sama. Ketika diskusi kelompok, ia sering mengambil alih pembicaraan.
"Menurut saya, cara kalian salah. Seharusnya begini." "Sudah, biar saya saja yang mengerjakan." "Kalau kalian tidak mengerti, dengarkan dulu penjelasan saya." Kadang-kadang ia mengolok teman yang dianggapnya lambat. "Begitu saja tidak bisa?" Atau, sambil tertawa, ia berkata, "Serius? Masa soal segampang itu salah?"
Ariel menganggap semua itu candaan. Teman-temannya tidak. Lama-kelamaan, mereka mulai memilih kelompok tanpa dirinya. Jika Ariel datang, pembicaraan yang semula ramai tiba-tiba menjadi lebih pelan. Jika ia mengirim pesan di grup kelas, sering kali hanya dibaca tanpa jawaban. Ariel memperhatikan semuanya. Dan ia mengambil kesimpulan sendiri. Mereka tidak suka aku. Pasti karena aku pintar. Mungkin mereka iri. Atau kesimpulan yang paling sering muncul di kepalanya:
Mereka membully aku.
Di rumah, keadaan tidak jauh lebih mudah. Mama Ariel bukan orang tua yang kasar. Ia menyayangi anaknya. Hanya saja, cara Mama menunjukkan kasih sayang sering kali membuat Ariel merasa seperti sedang mengikuti perlombaan yang tidak pernah selesai.
"Nilaimu Matematika berapa?" "Delapan puluh sembilan." "Kenapa bukan sembilan puluh lima?" "Yang lain?" "Fisika sembilan puluh." "Bagus. Tapi kamu harus bisa lebih."
Kalimat itu selalu berulang. Harus lebih. Harus lebih tinggi. Harus lebih baik. Harus masuk universitas bagus. Harus mendapatkan beasiswa. Harus membuktikan bahwa semua pengorbanan orang tua tidak sia-sia.
Ariel tidak pernah mengatakan bahwa ia lelah. Ia juga tidak pernah mengatakan bahwa setiap kali menerima hasil ujian, ia tidak hanya takut mendapatkan nilai rendah. Ia takut mengecewakan Mama. Pagi itu, seperti biasa, Ariel berangkat tanpa bekal. Ia hanya membawa sebuah botol kosong. "Bekal?" tanya Mama. "Nggak usah." "Nanti lapar." "Aku beli."
Kadang-kadang ia melihat teman-temannya makan bersama di hall dekat kantin. Ada yang berbagi ayam goreng. Ada yang saling mencicipi bekal. Ada yang tertawa karena cerita sederhana. Ariel biasanya hanya lewat. Ia tidak pernah bergabung. Bukan karena tidak ingin. Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri. Padahal Ariel tahu, ia tidak akan membeli apa pun. Ia memang jarang membawa uang lebih untuk jajan. Baginya, makan cukup dari rumah. Di sekolah, ia hanya mengisi botolnya dari tempat air minum umum.
Tempat yang paling disukai Ariel adalah perpustakaan. Bukan karena ia selalu membaca. Kadang-kadang ia memang membaca. Tetapi lebih sering ia duduk di sudut ruangan, membuka laptop, lalu berpura-pura sibuk. Di perpustakaan itu ada juga adik-adik kelas SMP. Mereka mengenalnya.
"Kak Ariel!" Ariel menoleh. "Eh, Kak Ariel, lihat deh!" Seorang siswa kelas VII menunjukkan buku yang baru dipinjamnya. "Bagus," kata Ariel. "Kak, nanti ajarin aku Matematika, ya?" "Boleh."
Di antara adik-adik kelas itulah Ariel merasa diterima. Mereka memandangnya sebagai kakak kelas yang pintar. Mereka bertanya kepadanya. Mereka meminta bantuan. Mereka mendengarkan ketika ia berbicara. Ariel menyukai perasaan itu. Di sana, ia tidak merasa ditolak. Ia merasa dibutuhkan. Ia merasa penting.
Karena itu, hampir setiap hari setelah pelajaran selesai, Ariel pergi ke perpustakaan. Ia tidak menyadari bahwa mungkin ada alasan lain mengapa adik-adik kelas begitu nyaman bersamanya. Mereka belum cukup lama mengenalnya untuk melihat sisi dirinya yang membuat teman-teman seangkatannya menjauh.
Suatu siang, Bu Ratri, guru yang sering melihat Ariel di perpustakaan, duduk di sampingnya.
"Kamu sedang apa?" "Membaca, Bu." Bu Ratri melihat buku yang terbuka. Halaman yang sama sudah terbuka selama hampir dua puluh menit. "Benarkah?" Ariel tersenyum kecil. "Iya, Bu." Bu Ratri tidak langsung menjawab. Ia sudah lama memperhatikan anak itu. Pintar.
Ariel terdiam.
Cepat menangkap pelajaran. Punya banyak kemampuan. Tetapi seperti sebuah rumah yang pintunya selalu tertutup, Ariel tidak mudah dimasuki. "Riel," kata Bu Ratri pelan, "kamu punya teman dekat?" Ariel langsung mengangkat kepala. "Teman?" "Iya." "Ada." "Siapa?" Nama-nama muncul di kepalanya. Tetapi tidak satu pun terasa tepat. Akhirnya ia menjawab, "Teman-teman kelas." Bu Ratri tersenyum tipis. "Kalau mereka temanmu, apakah kamu merasa bahagia bersama mereka?" Pertanyaan itu membuat Ariel tidak nyaman. "Bu, mereka sebenarnya nggak suka sama saya." "Mengapa?" "Mereka sering menjauhi saya." "Menurutmu, mengapa mereka menjauh?" Ariel mengangkat bahu. "Mungkin karena saya pintar." Bu Ratri diam beberapa saat. "Atau mungkin," katanya hati-hati, "ada sesuatu dari caramu bergaul yang belum kamu sadari." Ariel menatap gurunya. Wajahnya berubah. "Maksud Ibu, saya yang salah?" "Saya tidak mengatakan kamu salah." "Tapi itu yang Ibu maksud." Bu Ratri menarik napas. "Saya hanya ingin kamu mencoba melihat dari sudut pandang orang lain." Ariel berdiri. "Saya sudah tahu, Bu. Semua orang memang menganggap saya bermasalah." Ia mengambil tasnya. Sebelum pergi, ia berkata, "Makanya saya lebih nyaman di sini." Pintu perpustakaan tertutup. Bu Ratri memandang punggungnya yang menghilang di balik pintu. Ia tahu percakapan itu belum selesai. Keesokan harinya, sesuatu terjadi.
Untuk pertama kalinya, Ariel mencoba menjawab pertanyaan itu bukan dari sudut pandangnya sendiri. Ia mengingat satu per satu. Ketika Raka salah menjawab soal dan ia tertawa. Ketika Kezia sedang menjelaskan pendapat dan ia memotong pembicaraannya. Ketika Dimas meminta bantuan dan ia menjawab, "Masa begitu saja nggak bisa?" Ketika kerja kelompok, ia mengambil alih. Ketika teman sedang bercerita, ia selalu mengembalikan pembicaraan kepada dirinya sendiri.
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk membuat proyek. Nama Ariel masuk dalam satu kelompok bersama tiga orang temannya: Dimas, Kezia, dan Raka. Begitu guru pergi, Dimas berkata, "Kita bagi tugas, ya." "Aku bagian presentasi," kata Ariel cepat. "Kita belum bagi tugas." "Kalau begitu aku bagian yang paling penting." Raka tertawa kecil. "Semua juga penting, Riel." Ariel menatapnya. "Kalau kalian mau hasilnya bagus, ikuti saja caraku." Kezia menghela napas. "Kita bisa diskusi dulu." "Aduh, lama." Ariel mengambil kertas tugas. "Kalian cari data. Aku susun semuanya." Dimas memandangnya. "Kenapa selalu begitu?" "Begitu bagaimana?" "Seolah-olah cuma kamu yang bisa." Ariel terdiam. Dimas melanjutkan, "Kamu pintar, Riel. Kami tahu itu. Tapi bukan berarti kami bodoh." Ruangan menjadi hening. Untuk pertama kalinya, tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang mengolok. Dimas hanya berkata jujur. Dan justru kejujuran itu terasa lebih menyakitkan daripada ejekan. Sepulang sekolah, Ariel kembali ke perpustakaan. Namun hari itu ia tidak membuka buku. Ia duduk diam. Kalimat Dimas terus berputar di kepalanya. Bukan berarti kami bodoh. Kemudian muncul kalimat lain. Mengapa mereka menjauh?

Ariel menundukkan kepala. Tiba-tiba semuanya tampak berbeda. Mungkin mereka bukan membully dirinya. Mungkin mereka hanya lelah. Air matanya jatuh satu. Ia cepat-cepat mengusapnya. Ariel tidak suka menangis. Di rumah, menangis tidak menyelesaikan masalah. Di sekolah, menangis bisa membuat seseorang dianggap lemah. Tetapi sore itu, ia membiarkan air matanya jatuh. Bukan karena ia kalah. Melainkan karena untuk pertama kalinya ia berani melihat dirinya sendiri.
(Cerita terinspirasi dari seorang anak laki-laki yang selalu pergi ke perpustakaan, tapi hanya berjalan dari rak ke rak)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar