Setiap hari di sekolah bagiku adalah tekanan.
Aku tidak tahu persis sejak kapan sekolah terasa seperti tempat yang harus kulewati,
bukan tempat yang ingin kudatangi. Setiap pagi aku datang dengan seragam yang rapi,
sepatu yang sudah disemir, rambut yang diatur sedemikian rupa, lalu memasang masker
sebelum masuk ke gerbang.
Masker.
Entah kenapa, benda kecil itu membuatku merasa lebih aman. Di balik masker, orang tidak perlu tahu apakah aku sedang tersenyum atau tidak. Mereka tidak perlu melihat wajahku terlalu lama. Mereka juga tidak perlu bertanya mengapa aku diam.
Aku memang tidak banyak bicara. Bukan karena bisu. Aku hanya tidak tahu harus bicara
dengan siapa.
Di kelas, semua orang seperti punya tempatnya masing-masing. Ada yang duduk bergerombol, tertawa keras, saling memanggil dengan nama panggilan yang hanya mereka mengerti. Ada yang sibuk membicarakan rencana akhir pekan. Ada yang sibuk dengan gawai yang nanti akan dikumpulkan di keranjang dan dimasukkan di lemari kelas. Ada yang sibuk dengan tugas dan nilai. Ada juga yang tampaknya punya kehidupan yang baik-baik saja.
Aku?
Aku hanya berusaha melewati hari. Kadang aku berpikir, mungkin memang ada orang yang
sejak awal diciptakan untuk mudah berteman. Dan mungkin ada juga orang seperti aku yang
entah bagaimana selalu berada sedikit di luar lingkaran.
Aku tidak tahu. Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Mungkin juga aku memang aneh. Satu-satunya tempat yang membuatku merasa nyaman adalah perpustakaan. Bagiku, perpustakaan adalah rumah kedua. Bukan karena aku suka membaca. Justru sebenarnya aku tidak terlalu suka membaca. Aku tahu itu terdengar aneh. Anak yang hampir setiap hari masuk perpustakaan, tetapi tidak terlalu suka membaca.
Aku biasanya hanya duduk di salah satu meja baca yang besar, membuka ponsel, memasang earphone, lalu membiarkan waktu berjalan. Kadang aku melihat-lihat buku yang tersusun di rak. Hanya melihat-lihat. Tidak selalu mengambilnya.
Perpustakaan sekolahku memang agak berbeda. Orang bilang tempat ini kuno. Aku juga pernah berpikir begitu.
Ruangannya luas dan dingin. Meja-meja bacanya besar. Tanaman-tanaman hias diletakkan di beberapa meja. Rak-rak buku berdiri tidak terlalu tinggi hingga bisa memandang ke berbagai arah, dan teratur. Musik lembut selalu terdengar, seperti suara yang sengaja dibuat untuk menenangkan orang-orang yang sedang lelah.
Tidak ada desain yang terlalu modern. Tidak banyak hal yang membuat tempat ini terlihat keren. Tetapi justru karena itulah aku menyukainya. Semuanya teratur. Buku-buku berada di tempatnya. Kursi-kursi berada di tempatnya. Meja-meja berada di tempatnya. Bahkan kesunyian di sini seperti mempunyai tempatnya sendiri. Mungkin itu yang kusukai.
Di dunia yang sering terasa berantakan, perpustakaan membuatku merasa bahwa segala sesuatu sebenarnya masih bisa ditata. Walaupun aku sendiri tidak tahu bagaimana menata diriku.
Jumlah buku di perpustakaan itu puluhan ribu. Aku pernah mendengar petugas menyebut jumlahnya, tetapi aku lupa tepatnya. Yang kuingat hanya banyak sekali. Ada novel, ensiklopedia, buku sejarah, agama, sains, seni, psikologi, sastra, dan entah apa lagi.
Aku pernah berdiri cukup lama di depan rak-rak itu. Puluhan ribu buku. Puluhan ribu cerita. Puluhan ribu kehidupan. Aneh juga.
Begitu banyak orang di dunia ini yang menulis tentang kehidupan, tetapi aku sendiri bahkan tidak mengerti kehidupan yang sedang kujalani.
Aku tahu sedikit tentang sejarah sekolah ini. Sekolah kami didirikan oleh seorang biarawati Katolik dari Ordo Santa Ursula. Katanya, beliau sangat peduli pada pendidikan dan literasi. Buku-buku dikumpulkan, dibeli, dan juga diperoleh dari berbagai sumbangan. Dari tahun ke tahun koleksinya terus bertambah.
Aku tidak tahu bagaimana orang bisa begitu mencintai buku. Aku bahkan kadang malas membuka satu halaman saja. Tetapi aku suka berada di antara buku-buku itu. Aneh, ya?
Aku tidak membaca banyak buku, tetapi buku-buku itu seperti menjaga aku. Di antara rak-rak itu, aku merasa terlindungi.
Terlindungi dari apa? Aku juga tidak tahu. Mungkin dari suara-suara di luar. Mungkin dari teman-teman yang tidak kumiliki. Mungkin dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Atau mungkin dari diriku sendiri.
Di perpustakaan itu ada seorang petugas perempuan. Usianya sekitar enam puluhan. Aku tidak pernah benar-benar bertanya berapa usianya. Dia tahu hampir semua hal tentang perpustakaan. Kalau aku mencari buku tertentu, dia tahu raknya. Kalau ada buku yang hilang, dia bisa tahu. Kalau ada siswa yang bertanya tentang koleksi, dia seperti memiliki peta perpustakaan di dalam kepalanya.
Kadang-kadang dia menyapaku.
“Sudah makan?”
Aku biasanya hanya mengangguk.
“Belajar?”
Aku mengangguk lagi.
“Kenapa pakai masker terus?”
Pertanyaan yang terakhir itu paling sulit kujawab.
Aku hanya diam.
Pernah suatu hari dia berkata, “Kamu cantik, lho. Tidak usah terus-terusan pakai masker.”
Aku tersenyum kecil.
Tidak tahu harus menjawab apa.
Bagiku, cantik adalah sesuatu yang jauh. Seperti sesuatu yang hanya dimiliki orang lain.
Dia kemudian berkata bahwa perempuan itu istimewa. Aku kembali tersenyum. Dia mengatakan bahwa setiap perempuan berharga. Aku mendengarkannya sambil memainkan ujung tali maskerku.
“Kadang hidup memang tidak mudah,” katanya. “Akan ada tantangan. Akan ada luka. Tapi semua itu bisa membuat kita menjadi lebih kuat.”
Aku tidak tahu apakah aku percaya. Aku juga tidak tahu apakah aku ingin menjadi kuat. Bukankah
lebih mudah kalau hidup tidak memberi kita terlalu banyak masalah?
Dia pernah melihat jari-jariku. Ada bekas luka kecil di sana. Aku buru-buru menyembunyikannya.
Tetapi dia sudah melihat.
“Luka itu akan sembuh,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kalau kamu mulai belajar menerima dirimu sendiri.”
Aku tidak mengerti. Apa hubungannya luka di jari dengan menerima diri sendiri? Aku tidak bertanya.
Dia kemudian mengatakan bahwa aku harus belajar mencintai diri sendiri. Kalimat itu terdengar seperti kalimat yang sering muncul di media sosial. Cintai dirimu sendiri. Aku sering melihatnya.
Tetapi bagaimana caranya? Apakah dengan bercermin dan mengatakan, “Aku cantik”?
Apakah dengan berhenti membandingkan diri dengan orang lain?
Apakah dengan tidak memikirkan komentar orang?
Atau apakah cukup dengan tidak membenci diri sendiri?
Aku benar-benar tidak tahu.
Dan mungkin itu masalahnya. Aku tidak tahu siapa diriku. Sekarang aku sudah kelas akhir
di SMA. Sebentar lagi aku akan lulus. Orang-orang mulai bertanya tentang masa depan.
“Mau kuliah di mana?”
“Mau ambil jurusan apa?”
“Nanti mau jadi apa?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa seperti ujian lain yang belum kupelajari.
Aku biasanya menjawab, “Belum tahu.”
Dan itu memang benar. Aku belum tahu. Aku bahkan belum tahu siapa diriku sekarang. Bagaimana mungkin aku tahu akan menjadi apa lima tahun lagi?
Kadang-kadang aku membayangkan setelah lulus nanti, aku tidak akan pernah lagi masuk ke perpustakaan ini. Aku tidak akan lagi duduk di meja yang sama. Tidak akan lagi mendengar musik lembut yang sama. Tidak akan lagi melihat tanaman kecil di atas meja. Tidak akan lagi melihat perempuan tua yang selalu menyapaku itu.
Entah mengapa pikiran itu membuatku sedih. Padahal perpustakaan ini bukan milikku. Aku
hanya siswa yang datang, duduk, bermain ponsel, lalu pergi. Tetapi mungkin, tanpa kusadari,
tempat ini sudah menyimpan terlalu banyak bagian dari hidupku.
Suatu pagi, sebelum aku masuk kelas, aku duduk sendirian seperti biasa. Aku bahkan tak meletakkan tasku ke kelas dulu, tapi menggendong ranselku ke perpustakaan, lalu duduk di sofa bundar berwarna coklat. Di luar jendela, langit mulai berubah warna. Dari langit pagi menuju ke siang, cahayanya kekuningan, seberkas sinar menerobos masuk menyinari deretan rak-rak buku, menimbulkan sensasi rasa tersendiri saat melihatnya. Aku memandang rak buku di depanku.
Tiba-tiba aku bertanya dalam hati: Kalau buku sebanyak ini bisa menyimpan begitu banyak cerita, apakah mungkin ada satu buku yang bercerita tentang aku?
Aku hampir tertawa sendiri. Pertanyaan yang aneh. Aku bahkan belum pernah menemukan buku seperti itu. Mungkin karena ceritaku memang belum selesai. Atau mungkin karena aku sendiri belum tahu bagaimana menuliskannya.
Petugas perpustakaan itu lewat di depanku. Dia berhenti.
“Belum masuk kelas?”
Aku menggeleng.
Dia tersenyum.
“Jangan terlalu lama sembunyi di sini.”
Aku terdiam.
Sembunyi? Aku tidak pernah merasa sedang bersembunyi.
Atau mungkin benar? Mungkin selama ini aku memang bersembunyi. Di balik masker.
Di balik layar ponsel. Di balik diam. Di balik rak-rak buku.
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku ingin bertanya sesuatu. Tetapi pertanyaan itu berhenti di tenggorokan.
Bu, bagaimana caranya mengenal diri sendiri?
Bagaimana caranya menerima diri sendiri?
Bagaimana kalau aku tidak suka dengan diriku sendiri?
Bagaimana kalau aku takut dengan apa yang ada di dalam diriku?
Tetapi aku tidak jadi bertanya. Aku hanya tersenyum.
Dia pun pergi. Aku kembali sendirian.
Musik masih terdengar pelan. Pendingin ruangan masih membuat udara terasa dingin.
Buku-buku masih berdiri rapi di tempatnya. Dan aku masih duduk di sana dengan masker
menutupi sebagian wajahku.
Aku belum tahu apakah suatu hari nanti aku akan bisa melepasnya. Aku belum tahu apakah aku akan punya banyak teman. Aku belum tahu apakah aku akan menjadi seseorang yang kuat seperti yang dikatakan perempuan itu.
Aku bahkan belum tahu apakah aku benar-benar bisa mencintai diriku sendiri.
Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya, aku tidak buru-buru pulang. Sepulang sekolah saat aku
kembali ke tempat persembunyianku, aku mengambil sebuah buku dari rak. Bukan karena aku
ingin membaca. Setidaknya belum. Aku hanya ingin membawanya ke meja. Membukanya.
Melihat halaman pertamanya.
Mungkin aku memang belum tahu apa-apa tentang hidup. Mungkin aku masih terlalu muda untuk memahami semuanya. Tetapi mungkin tidak apa-apa. Sebab bukankah setiap buku juga selalu dimulai dari halaman pertama?
Aku membuka halaman itu perlahan. Dan untuk beberapa menit, aku membiarkan diriku sendiri berada di sana. Tanpa harus menjadi siapa-siapa. Tanpa harus terlihat baik-baik saja. Tanpa harus menjawab pertanyaan tentang masa depan.
Hanya aku. Seorang remaja yang masih bingung. Masih takut. Masih sering merasa tidak cukup. Tetapi hari itu, entah mengapa, aku merasa sedikit lebih aman.
Di antara puluhan ribu buku yang tidak semuanya pernah kubaca, aku mulai berpikir bahwa mungkin hidup juga seperti perpustakaan. Kita tidak mungkin memahami semua isinya sekaligus. Kita hanya perlu membuka satu halaman. Lalu halaman berikutnya. Pelan-pelan. Sampai suatu hari nanti, mungkin aku akan menemukan cerita tentang diriku sendiri.
Atau mungkin… aku sendiri yang akan menuliskannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar