Selasa, 19 Oktober 2021

KEPULANGAN



 Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. (Kej 25:7-8)

Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.(Kej 25:17)

Adapun umur Ishak seratus delapan puluh tahun. Lalu meninggallah Ishak, ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya; ia tua dan suntuk umur, maka Esau dan Yakub, anak-anaknya itu, menguburkan dia.(Kej 35:28-29)

Setelah Yakub selesai berpesan kepada anak-anaknya, ditariknyalah kakinya ke atas tempat berbaring dan meninggallah ia, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.(Kej 49:33)


Kutipan di atas merupakan ayat-ayat Al Kitab tentang kematian beberapa tokoh besar dalam  Al Kitab. Kisah ini abadi karena tercatat dalam Kitab Suci dan tetap akan tertulis demikian. 


Semua kisah kematian para tokoh berakhir dengan perkataan  dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. 


Saya akan  membagikan kisah saya dan keluarga besar tentang kepulangan ibu saya tercinta, Maria Napti, yang berpulang berkumpul bersama kaum leluhurnya, pada hari Rabu, 15 September 2021. kalau dalam kalender liturgi Gereja Katolik, tanggal tersebut merupakan Hari Santa Maria Berduka Cita. Tanggal yang baik. dalam hidupnya Maria Napti selalu mengandalkan doa untuk peristiwa hidupnya. Juga peristiwa sedih, dia pun mengandalkan doa.


Kepulangan Ibu Maria Napti kepada kaum leluhurnya bagi kami tidak mengagetkan karena kami sudah mempunyai perkiraan dengan kepulangan beliau. Ibu Maria Napti, kami panggil Nenek, sudah 2 bulan sakit parah, penyempitan jantung. Kami menikmati hari-hari terakhir bersama dengan beliau. Meski saya tidak saban hari bersama beliau. Sebelum beliau berpulang, saya 3x pulang kampung.  Bahkan, kami memutuskan pulang kampung saat bulan April 2021. Setelah itu bulan Juni kami pulang lagi, lalu Agustus juga kami pulang lagi.


Dengan begitu, kami sudah sangat siap untuk kepulangan beliau. Sanak saudara dari yang jarak jauh pun berdatangan untuk menjenguknya. Puji Tuhan, masih dipertemukan dengan mereka. 


Ada banyak keluhan yang beliau sampaikan dan ungkapkan dengan monolognya. Monolog bersana Tuhan. Menceritakan kekesalannya, kecemasannya, juga kenangan manis dan pahit, pedih dan bahagia. Semua beliau sampaikan.  Menjadi kebiasaan  beliau akan duduk sendirian di teras sambil menikmati teh hangat pahit, menikmati udara pegunungan dan hijau rimbunnya pepohonan di halaman rumah kami. 


Bagi kami, kami sudah siap bahwa beliau akan kembali ke sajatining asalnya. Namun, meski saya sudah siap, tetapi saat dikabari bahwa ibu saya meninggal, kaki saya lemes, badan saya gemetar. Saya merasa ada satu energi dari tubuh saya yang dicabut. Saya tak kuat berdiri. Saya akhirnya duduk dalam gemetar.

 

Saya menyadari bahwa tubuh saya menerima berita itu bereaksi luar biasa. Padahal, saya sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Namun, tubuh fisik saya tak kuat menahannya.


Dengan penuh kesadaran saya menerima moment ini. Saya merasakan getaran tubuh saya. Saya merasakan gerak pikiran dan hati saya. Saya tidak bersedih. Saya juga tak memangis. Saya bersyukur karena perempuan pejuang ini sampai pada kesudahannya. Hanya rasa kosong yang dalam pada dada saya. Kehampaan yang tak mungkin diisi oleh yang lain. Saya tahu satu waktu nanti, saat waktu saya tiba, saya akan berkumpul bersama dia lagi, ibuku tercinta.


Akhirnya, perempuan yang menjadi perantara saya hadir di dunia ini dikebumikan di pemakaman umum, Kampung Susuru, Desa Kertajaya, Panawangan, Ciamis. Kembali pada pangkuan Ibu Pertiwi dalam kerindangan dan kehijauan bukit. Terima kasih untuk cintamu, yang tak pernah lekang dimakan waktu.  (Ch. Enung Martina) 


 

Sumber: 

https://sabdaspace.org/




Jumat, 02 Juli 2021

PUISI DI MASA PANDEMIK

 


 Jean Puy "Marce a Sanary "      

NYATANYA KITA HARUS BERDAMAI


Masalah  adalah kenyataan

akan menjadi sulit bila kau menginginkannya

yang kutahu bahwa aku masih gagap

dengan kematian yang mengelilingiku


dia sangat nyata di hadapanku

sengatnya tajam membawa binasa

tiap saat angin mengabarkan kedatangannya

melalui polusi kota

juga media yang memajangnya


aku masih gugup dengan dia

rasanya dia masih beringas

atau aku yang masih menolaknya?


yang kutahu bahwa dia tak terhindarkan

datang dengan arogan tanpa permisi

melalui sederet nama virus dan bakteri

atau penyakit menahun dan dadakan


dia menebarkan kecemasan

berhasil melumpuhkan harapan

tanpa basa-basi membawa sangsi

pada tiap hati yang tak bernyali


maka kini akan kukibarkan

bendera perdamaian antara aku dan dia

aku katakan biar kuselesesaikan tugasku

hingga waktu yang ditentukan tiba

dan pada saatnya biar dia datang melaksanakan tugasnya


bagai saudara kandung kami berdamai

menikmati waktuku dan waktunya

sambil kuacungkan  gelas persaudaraan untuknya

di antara lalu lalangnya berita kematian di seluruh pelosok negri


( Christina Enung Martina: sedang belajar menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan di tengah kepungan Covid 19)


Kamis, 24 Juni 2021

PUISI KENANGAN UNTUK SUHU IWAN


 SAMPAI PADA YANG SEMPURNA


Jalanmu adalah prana, chi yang murni

Kau menapakinya dan menghayatinya sepanjang hari

Kegembiraan dan iklas adalah kunci menjalani waktu

Berbagi adalah piranti yang kau miliki


Bagimu Guru, aku tuliskan puisi ini

Kini kau kembali pada Sangkan Paran Dumadi

Sang Sumber dari segala sumber

Yang mengerti tentang seluk beluk masing-masing mahluk


Guru, kau berkata bahwa chi dalam tubuh 

Mengerti akan sejarah hidup kita

Mengetahui apa pun peristiwa diri dari awal penciptaan kita

Chi mengetahui sejarah hidup kita

Hingga kita kembali pada keabadian


Untukmu Guru, kenangan penghormatanku

Pada latihan yang kita jalani

Pada pertanyaan penuh perhatian untuk setiap sensasi tubuh 

Untuk setiap dorongan semangat yang kau pompakan bagi kami

Terima kasih Guru.

Tak kan kulupakan ajaranmu


Selamat jalan

Kini kau tiba di haribaan Sang Pencipta 

dalam hening nan bening 

menyatu dalam rahasia Semesta.


( Christina Enung Martina: Puisi Kenangan untuk Bapak  Iwan Sugiharto. Rest in Peace, Suhu Iwan.) 


Jumat, 12 Maret 2021

ARTIKEL KELUARGA: MENGHADAPI MASA TUA

 

MENGHADAPI MASA TUA



Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya (Pengkhotbah 3:1)

 Pada tahun 2021 ini, Emak (ibu saya) atau Nenek (anak-anak memanggil) berusia 85 tahun. Usia yang bukan muda lagi dan ada bonus umur yang luar biasa di dalamnya yang diberikan Tuhan kepada ibu saya. 


Pada usia ini, tentunya ada tantangan yang dihadapi Nenek, terutama terkait dengan kesehatan secara fisik juga psikologis. Perempuan Sunda yang selalu tak lelah berjuang dan selalu perkasa di depan anak-anaknya, secara perlahan berangsur layu dan jompo. Pastinya kami sebagai anak-anak melihat perubahan ini merasa secara perlahan ditinggalkannya. Namun, seperti kata Pengkhotbah tadi di atas bahwa segala sesuatu ada masanya. 

Ini bukan suatu penilaian moral, mana waktu yang bagus dan mana waktu yang buruk. Melainkan penilaian yang paling buruk ialah bahwa semua itu semua tak terhindarkan. Kelahiran dan kematian, menanam dan menuai, membunuh dan menyembuhkan, itu semua terus berlangsung tanpa peduli pada apa yang kita lakukan. Akhirnya sampailah pada alternatif-alternatif  di mana kita memihak: ada waktu untuk memgasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Itu seua terjadi begitu saja. 

Pengkhotbah juga sebenarnya hendak memperlihatkan kepada pembacanya kenyataan itu apa adanya, realitas yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan ini.  Semua orang pasti mati tetapi hidup setelah kematian pun adalah sebuah misteri yang tidak terpecahkan. Manusia tidak dapat mengetahui atau mengontrol kehidupan ini.

Manusia tidak dapat mengontrol segala sesuatu di luar dirinya. Segala usaha manusia untuk dapat meraihnyanya tidak akan berhasil. Sia-sia belaka. Siapa yang dapat mengontrol segala sesuatu? Hanya Tuhan sendiri. Jika semuanya itu sia-sia karena hanya Tuhan yang dapat mengaturnya, lalu apa yang harus dilakukan manusia? Pengkhotbah mengajak pembaca untuk menjalani hidup ini saja, karena hidup ini adalah anugerah Allah. menikmati hidup.

Manusia memang tidak bisa memilih kehidupan yang lain, hanya kehidupan inilah satu-satunya yang Allah berikan. Ada orang lain mengatakan bahwa hidup itu sedang memenuhi karmanya. Oleh karena itu yang bisa dilakukan adalah menerimanya dan memahaminya dalam kesadaran bahwa hidup ini adalah karunia (anugerah) Allah. Pengkhotbah mengajak orang untuk menikmati hidup pemberian Allah. 

Pada usia seperti Nenek dengan bonus tahun - tahun yang dialaminya menjadi sebuah berkat bagi kami dan keluarga besar. Khususnya memiliki dan membangun relasi yang baik dengan keluarga, terutama anak-anak adalah satu hal yang menjadi kunci menikmati pada masa tua dengan penuh bahagia. Hal utama lainnya adalah, memiliki mental dan kehidupan spiritual yang sehat. Memiliki relasi pribadi dengan Tuhan banyak berdoa dan bersyukur membuat hati lebih tegar menghadapi masa yang sukar di usia ini.

Masa tua memang tak mudah untuk siapa pun, tetapi tetap kita hadapi dengan penuh semangat. Bagi kita anak-anaknya, menjadi sebuah kewajiban untuk mengurus orang tua kita pada asa tuanya. Mereka layak menerima hormat dan kasih kita, lepas dari kekurangan mereka. Sebab merekalah sebagai jalan kita hadir di dunia ini. Mereka yang melahirkan dan mengasuh kita. Apalagi disertai janji-Nya, ada berkat khusus bagi anak yang tahu berbakti. Kasih dan perhatian kita pada orang tua akan dilihat anak-anak, dan itu pula kelak dia tiru saat kita menjadi tua.

Mejadi tua memang tak mudah, tetapi itu pasti terjadi pada siapa pun. Masa tua bukan masa akhir dari kebahagiaan seseorang. Masa tua justru akan menjadi masa untuk membuktikan cinta kasih keluarga pada orang yang telah menjadi perantara kita hadir di dunia ini. Diskusi internal dalam keluarga akan menjadi salah satu cara untuk membicarakan bagaimana perawatan, pelayanan, biaya, waktu, giliran dll. Mungkin ada yang anak tak bisa membantu biaya, tetapi punya waktu dan tenaga untuk merawat. Kebalikannya ada yang tak bisa memberi waktu, tetapi punya uang. Nah, hal ini akan menjadi pengikat antara anak-anak untuk memberikan bakti kepada orang tua.   

Demikian kita berharap para sepuh akan menjadi sangat manis bila masa tua dinikmati dan disyukuri dalam penerimaan dan kesiapsiagaan akan waktunya tiba untuk kembali pada Sang pencipta. Sehingga kita boleh berkata seperti Pemazmur: Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib;  juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang. (Mzm. 71:17-18)

Dari sini kita bisa menyadari bahwa hidup di dunia ini fana, hanya Sang Firman-lah yang kekal. Seperti apa yang dikatakan Kitab Suci : Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur ,  tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu. (1Ptr. 1:24-25)

(Ch. Enung Martina sehari setelah menjenguk Emak)

SUMBER:

https://media.neliti.com/media/publications/275336-memahami-kesia-sian-dalam-kitab-pengkhot-b3604c0d.pdf

http://studibiblika.id/2020/11/03/ayat-ayat-alkitab-tentang-masa-tua/

https://lifestyle.kompas.com/read/2012/04/19/07161210/perilaku.orangtua.lansia.sebelum.meninggal?page=all.



Selasa, 02 Maret 2021

CATATAN SETELAH MEMBACA: BUKU MUKJIZAT SETIAP SAAT ( J. Sudrijanta, S.J.)

 Titik  Hening


                                                                           Pagi Bening

Puji Tuhan saya bisa membaca dengan nikmat lagi. Allah memberikan semua pada waktunya yang pas. 


“ Kegaduhan seperti kapal yang mengarungi samudra tanpa arah, sedangkan keheningan seperti kapal yang mengarungi samudra dengan arah tujuan yang pasti. Keheningan akan membantu kita menemukan arah tujuan perjalanan hidup kita, dan membimbing kita pada kepenuhan hidup dari saat ke saat.” 


Eckhart Tolle seorang penulis dan guru spiritual kelahiran Jerman menyatakan: To know yourself as the Being underneath the thinker, the stillness underneath the mental noise, the love and joy underneath the pain, is freedom, salvation, enlightenment. 

Perkataan Eckhart Tolle di atas sangat cocok untuk situasi dunia pada masa pandemic yang tetap hingar bingar di dunia maya dengan berbagai macam konten yang disuguhkan dalam media dengan berbagai aplikasinya. 

Orang yang ingin menimba kedalaman hidup (duc in altum) menjadikan seluruh aktivitas dan kesibukan sehari-hari  menjadi sebuah praktik spiritual. Dalam keseharian,  kita berjumpa  dengan berbagai peristiwa yang membuat emosi menjadi negatif dan juga yang membuat emosi positif. Semua peristiwa tersebut bermakna bagi kita dengan pengolahan yang baik dan pemberian makna yang sesuai di dalamnya.  

Untuk pemberian makna tersebut kita perlu waktu diam, hening, atau saat teduh.  Para  spiritualis mengatakan bahwa : Jalan yang benar menuju pembebasan haruslah mulai dari titik diam dan berakhir pada titik diam.  Pertanyaan yang kritis adalah: Bagaimana menemukan titik diam dalam gerak atau kesibukan harian?

Diam adalah diam dan gerak adalah gerak. Namun, kita akan belajar dan berlatih  untuk menemukan diam di dalam gerak dan gerak di dalam diam. Laksana Bumi. Apakah bumi diam atau bergerak? Bumi terus bergerak mengitari Matahari, tetapi juga sekaligus dia diam secara sempurna. 

Diam dan gerak adalah dua dimensi yang tak terpisahkan dalam hidup kita. Banyak hal dalam hidup kita yang bisa kita pahami dan hayati saat kita diam. Hidup yang merupakan relasi dan terdiri dari aneka relasi, akan berjalan pada kedalaman dan ketertibannya apabila kita bisa diam.  Orang tercerahkan juga karena diam.    Hening. Meneng.

Meditasi adalah salah satu jalan atau sikap untuk hening. dalam keseharian kita sudah terlalu disibukakn dengan berbagai macam kegiatan yang menyita pikiran, tenaga, ruang, dan waktu. Dalam keheningan meditasi terdapat banyak moment kala pikiran berhenti. Pikiran tak lagi fokus pada permasalahan kehidupan. Di situ para ahli bilang terjadilah mutasi atau transformasi kesadaran. Kita menyadari kita sedang bernafas. Kita menyadari bahwa kita mengikuti istruksi instruktur atau guru kita. Guru kita mengatakan fokus pada hembusan nafas. Guru Iwan Sugiarto mengatakan perhatian pusatkan pada tantien bawah (3 jari di bawah pusar). Semua kita menyadari apa yang terjadi saat itu. Pikiran kita tidak lagi berada dalam masalah kita yang rumit dan ribet. Kita menikmati panas tubuh kita, otot-otot yang sebentar tegang lalu mengendur, kita menikmati baalnya kaki tangan kita, kita menikmati pegalnya tubuh kita. Semua kita sadari. Meditasi adalah sadar. Bangun!

Hanya apabila terjadi transformasi total dalam kesadaran, maka hidup dengan batin yang baru dan fresh, segar, akan menjadi mungkin. Tanpa kesadaran saat kita bermeditasi, maka batin kita berfungsi dalam keterbatasan. Itulah yang Suhu Frans katakan bahwa dengan meditasi kita akan mendapatkan pencerahan, gerak batin yang bening, bersih, clear. Bahkan mendapatakn inspirasi dan kebijaksanaan serta kebaahgiaan dan sukacita mendalam.

Prinsip kerjanya batin itu menurut buku Romo J. Sudrijatna, S.J. adalah tidak mungkin terdapat perubahan fundamental (mendasar) dalam diri kita, apabila tidak terdapat transformasi kesadaran. Kesadaran baru terlahir hanya apabila kesadaran lama berakhir. Kesadaran lama adalah kesadaran yang bertumpu pada pikiran yang ribet, yang egois, yang jauh dari KASIH. Sedangkan kesadaran baru adalah kesaadran yang melampaui pikiran. Jauh ke dalam. Meamahami. Mengerti. Menerima. Iklas. Bersyukur. Bahasa Jawanya lila legawa.

Bagi para Sedhulur, para Saderek sadaya, para Kadang, dan teman-teman yang sedang menjalani masa Pra-Paskah, jalan hening adalah jalan yang tepat untuk masa ini. Bagi para Sedulur yang sedang belajar meditasi Zen Qi, Anda semua sedang menapaki jalan sunyi untuk masuk pada diri sendiri. Akan ada rintangan itu pasti. Namun, akan ada bahagia, sehat, dan suka cita menanti di hadapan kita semua. Rahayu3x. Ning. Hening. Bening.

 (Perpustakaan St. Ursula BSD, 3 Maret 2021: Ch. Enung Martina) 

 


Sabtu, 09 Januari 2021

MEDITASI DAN KEDISIPLINAN

  

(Jelupang, Jln Srikaya)

KEDISIPLINAN DALAM MEDITASI 

Sebuah kesempatan yang luar biasa kala saya dahulu ingin bermeditasi, mendapat jawaban dari suami saya yang ikut meditasi (kelas Pak Frans Sunito di BSD) dan saya belajar darinya. Tahun 2015,  saat itu saya masih mempunyai batita yang tak memungkinkan untuk keluar rumah malam hari untuk ambil kelas meditasi. Suami saya yang memandu bermeditasi di rumah. Sekedar informasi, saya mengambil meditasi Zen Qi Sirkulasi. Saya pembelajar yang tekun. Setiap hari saya berlatih minimal 1 jam. Puji Tuhan saat hari ke-18 saya mengalami Thong Kwan (meridian Ren dan Du tersambung, itu hanya merupakan awal bahwa aliran Qi (energy murni) di tubuh kita sudah mengalir ke seluruh tubuh). Untuk pengalaman merasakan Thong Kwan silakan lihat di sini. 

(   http://ursaminorblog.blogspot.com/2016/04/mudra-natural.html)  

Hingga sekarang tiap hari minimal 20-30 menit saya melakukan praktik meditasi sambil sekalian berdoa malam agar tidak sedia waktu dua kali. Saya sangat ingin belajar dari para guru meditasi secara langsung. Namun, tuntutan pekerjaan menyita waktu saya sehingga keinginan itu hanya ada di angan saja.

Sebuah pribahasa lama berkata bahwa saat seorang murid siap untuk belajar, maka seorang guru akan datang. Nah, hal itu terjadi pada saya. Pada masa pandemic seperti ini banyak kegiatan pekerjaan berlangsung di rumah (WFH). Masa ini pula yang membawa guru saya datang pada saya untuk mengajari. Guru ini hadir melalui sebuah pelatihan virtual.  Guru ini juga masih guru suami saya (Bob Hariyadi) yaitu Suhu Frans dan juga dengan pakar seniornya yang bernama Pak Iwan Sugiarto.  

Maka mulailah saya belajar meditasi secara formal. Peserta ada 74 orang. Kelas yang sangat besar. Padahal efektifnya kelas meditasi sekitar 15 orang. Meditasi lebih efektif dengan kelas kecil agar bisa lebih terperhatikan caranya. Efektifnya lagi akan dipisah antara pemula dan yang kelas lanjutan. Namun, karena situasi belum memungkinkan, maka kelas ini masih dicampur. Saya kira ke depan Pak Frans dan Pak Iwan akan memikirkan hal ini.


Namun, semua itu tak menghalangi seorang murid untuk belajar. Bagi saya keadaan ini menjadi sebuah kesempatan untuk belajar bersama dengan para peserta lain. Puji Tuhan mendapat kesempatan ini. Di bawah ini saya membagi tentang bagaimana kedisiplinan dalam bermeditasi.

Asal kata Disiplin adalah dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini muncul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dalam bahasa Inggris adalah "disciple" yang berarti pengikut atau murid. Dari sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peraturan dan tunduk pada pengawasan. Kedua, disiplin juga merupakan latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib. Perkataan disiplin mempunyai arti kepatuhan kepada aturan. Dengan melaksanakan disiplin, berarti semua pihak dapat menjamin kelancaran berbagai aktivitas, antara lain belajar, bekerja, berusaha, dan lain-lain. Dari disiplin, akan melahirkan mental yang kuat dan tidak mudah menyerah walaupun dalam kondisi sulit sekalipun.

Disiplin dalam bermeditasi menyatakan bahwa meditasi itu adalah sebuah jalan pembelajaran yang terus menerus berproses tanpa henti. Meditasi itu juga merupakan jalan perhatian, memberikan diri fokus  dengan cara memusatkan pikiran pada suatu titik tertentu. Tidak melayang, mbelayang, atau ngalor ngidul ke mana-mana. Meditasi juga adalah sebuah jalan untuk disiplin berani memasuki diri sendiri. Membiarkan guru/instruktur memandu sesuai aturan main yang berlaku. Disiplin untuk mengikuti panduan. Berani mengulang dan mencoba lagi bila itu salah. Disiplin untuk melakukan beberapa peraturan untuk tidak makan sesuatu yang akan menganggu proses energi bergerak lancar. Displin untuk kembali mengecek proses dengan evaluasi dan sharing setelah bermeditasi dalam komunitas.

Berbicara tentang sharing setelah latihan di depan kelas meditasi, berarti di sini juga berani utuk membagikan pengalaman yang sebetulnya milik pribadi. Berani untuk terbuka dengan jujur menyatakan apa yang dirasakan dan dialami. Dengan begitu juga artinya siap untuk dikritik kala cara yang dilakukan kurang tepat. Dengan rendah hati menerima arahan guru/instruktur. Tidak ngeyel saat dibetulkan. Patuh pada aturan yang diterapkan pada saat bermeditasi. Tentunya juga berani untuk membetulkan hal yang kurang tepat saat sudah dikoreksi.

Dalam disiplin meditasi ini saya mendapat pembelajaran. Saya diingatkan untuk memiliki komitmen ketika membuat suatu keputusan meskipun dalam kondisi sulit. Pelajaran sederhana ini muncul saat duduk bermeditasi. Bila sedang bermeditasi merasakan kaki kesemutan, pilihan yang muncul adalah menahan perasaan tidak nyaman tersebut atau menyerah dan ganti posisi kaki. Itu semua tidak mudah pastinya. Syukur bahwa meditasi Zen Qi ini adalah meditasi kesehatan yang mempunyai aturan tak begitu ketat untuk posisi duduk. Aturannya hanya tak boleh bersandar dan telapak kaki menapak. Begitu banyak manfaat yang saya dapatkan dari  latihan meditasi ini. Sebagian adalah manfaat kesehatan fisik, selebihnya juga terkait mental dan spiritual  yang berubah dalam hidup saya.

 (Ch. Enung Martina)

 (sumber: https://www.studilmu.com/blogs/details/pengertian-disiplin-dan-5-sikap-disiplin-orang-sukses, http://myridemyadventure.blogspot.com/, https://bodhigiri.com/meditasi-membawa-perubahan-diri-menjadi-lebih-baik/