http://www.youtube.com/watch?v=js-cKpZydfE&list=RD02aub2pfzGgx0
Jalaludin Rumi seorang Sufi dari Timur Tengah tepatnya Konya, ibu kota Anatolia, sekarang wilayah ini disebut Afganistan. Kita akan belajar dari perjalanan hidup Rumi yang dibesarkan dalam keluarga Muslim yang terpandang di wilayahnya, ayahnya seorang imam besar yang ternama pada masanya.
Dalam pertemuannya dengan sahabat spiritualnya, Syams dari Tarbiz, Rumi mengalami perubahan drastis dalam jalan hidupnya. Sahabat spiritualnya inilah yang membawa Rumi kepada Jalan Cinta yang bagi orang-orang kebanyakan dianggap gila. Karena jalan hidup yang berbeda ini pula mampu membawa Rumi pada permenungan dan refleksi yang dalam tentang hidup spiritualitas. Dari hasil permenungannya ini, karya-karya berupa puisi sufi yang indah dan bernilai luhur tercipta. Karya-karya inilah yang melambungkan nama Rumi sepanjang zaman.
Rumi melihat bahwa kerinduan, keterpisahan, ketersiksaan, perjumpaan, kebersatuan, serta ketunggalan semua menjadi anak tangga menuju Yang Ilahi. Hilangnya sesuatu yang berharga sering disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang yang cemburu untuk melihat sesuatu ‘yang lain’ di balik yang tampak.
Dalam salah satu syairnya Rumi berkata:
‘Apalah arti M A W A R, tapi carilah yang punya nama’
Semua yang terlihat hanyalah penanda atau ayat yang harus diikuti untuk mengetahui, memahami, dan merasakan kehadiran pertanda yang tak lain adalah ASAL dari segala yang ada.
Rumi adalah pijar cahaya yang nyalanya menyebar lewat kata-kata bijak yang ia wariskan. Kata-katanya indah dan bijaksana. Katanya-katanya bisa menunjuk kepada ALLah, tetapi tak satu pun bisa membawa kepada-Nya. Agar sampai kepada DIA kita harus melalui Jalan Cinta kita sendiri. Kita harus melanjutan akhir perjalanan itu dalam diam karena jalan sufi adalah JALAN CINTA. Dan Jalan Cinta sebenarnya senantiasa mengatup mulut dalam hening. Ning… hening… bening…
(Teh Nung yang sedang terinspirasi dengan Jalaludin Rumi)
Senin, 29 Juni 2009
Rabu, 24 Juni 2009
PUISIKU
DOA IBU
Anakku, lanang dan wadon
Kalian berdua anugrah Allah yang terbesar
Yang harus kami jaga
Dari berbagai virus dunia
Kami jaga kalian
Dengan taruhan jiwa raga
Sudah separuh nyawa kami beri
Dan seluruh jiwa kami bagi
Tanggung jawab kami pada Sang Pencipta
Membawa kami pada untaian doa
Yang tak kan pernah usai kami daraskan
Anakku lanang dan wadon
Bila dunia punya aneka rupa yang menjerat
Membuat kalian lena
Kami punya cinta yang lebih besar dari dunia
Kami tahu
Tak mungkin kalian terus dalam pelukan kami
Satu saat kalian kan berjalan menjauh
Menempuh takdirmu yang sudah diukir Pencipta
Satu hal tak boleh lupa
Pelita iman di hatimu
Kan menuntun jejak langkahmu
Menuju pulau harapan
Ayah bundamu akan berjaga
Menghembuskan energi cinta
Melalui doa dan air mata
(sajak ini kutulis mengiringi langkah anak-anaku: Metta dan Aga yang tumbuh semakin dewasa. Terutama Metta yang akan pergi dari rumah menempuh pendidikan di lain kota atau mungkin di lain negri)
Anakku, lanang dan wadon
Kalian berdua anugrah Allah yang terbesar
Yang harus kami jaga
Dari berbagai virus dunia
Kami jaga kalian
Dengan taruhan jiwa raga
Sudah separuh nyawa kami beri
Dan seluruh jiwa kami bagi
Tanggung jawab kami pada Sang Pencipta
Membawa kami pada untaian doa
Yang tak kan pernah usai kami daraskan
Anakku lanang dan wadon
Bila dunia punya aneka rupa yang menjerat
Membuat kalian lena
Kami punya cinta yang lebih besar dari dunia
Kami tahu
Tak mungkin kalian terus dalam pelukan kami
Satu saat kalian kan berjalan menjauh
Menempuh takdirmu yang sudah diukir Pencipta
Satu hal tak boleh lupa
Pelita iman di hatimu
Kan menuntun jejak langkahmu
Menuju pulau harapan
Ayah bundamu akan berjaga
Menghembuskan energi cinta
Melalui doa dan air mata
(sajak ini kutulis mengiringi langkah anak-anaku: Metta dan Aga yang tumbuh semakin dewasa. Terutama Metta yang akan pergi dari rumah menempuh pendidikan di lain kota atau mungkin di lain negri)
PUISI PERJALANAN
JEJAK PERJALANAN
Kusinggahi setiap tempat dan kota
Dalam pemenuhan hidupku
Lalui berbagai peristiwa
Dengan tawa dan air mata
Kala kuliaht mundur
Dari tempat kuberpijak kini
Kusadari bahwa Engkau bersamaku
Dalam setiap jejak langkahku
Terkadang tak kusadari
Bahwa semua itu berarti
Dalam membentuk jati diri
Hingga kumampu tegak berdiri
Untuk setiap langkah
Dan untuk setiap tempat dan kota
Telah kuukir sejarah hidupku
Dalam pemenuhan takdirku
Tangan-Mu erat kugenggam
Dalam setiap langkahku
Kehangatan erat memelukku
Menuntunku mencapai tujuan
Kusinggahi setiap tempat dan kota
Dalam pemenuhan hidupku
Lalui berbagai peristiwa
Dengan tawa dan air mata
Kala kuliaht mundur
Dari tempat kuberpijak kini
Kusadari bahwa Engkau bersamaku
Dalam setiap jejak langkahku
Terkadang tak kusadari
Bahwa semua itu berarti
Dalam membentuk jati diri
Hingga kumampu tegak berdiri
Untuk setiap langkah
Dan untuk setiap tempat dan kota
Telah kuukir sejarah hidupku
Dalam pemenuhan takdirku
Tangan-Mu erat kugenggam
Dalam setiap langkahku
Kehangatan erat memelukku
Menuntunku mencapai tujuan
Senin, 15 Juni 2009
YERUSALEM…YERUSALEM SAMBUTLAH RAJAMU!
(Ch. Enung Martina)
Yerusalem, Yerusalem lihatlah Rajamu
Hosana, terpujilah,
Yesus, penebus manusia
Begitulah, potongan lagu itu kami nyanyikan dengan penuh semangat dan dengan segenap perasaan. Kami akhirnya memasuki kota ini. Kota yang terkenal di seantero dunia. Saat itu hari menjelang petang. Matahari sudah benar-benar terbenam.
Semakin dekat memasuki kota, keadaan semakin terang dan semakin ramai layaknya kota besar pada umumnya.
Sementara itu di tempat yang sama dan suatu masa yang berbeda:
Dan sementara Yesus mengendarai keledai itu, orang banyak menghamparkan pakaiannya di jalan.Ketika Dia mendekati Yerusalem, di tempat menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujijat ang telah mereka lihat. Mereka berseru:
“ Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang maha tinggi.”
Keharuanku makin nyata kala kami melihat bagaimana suasana kota. Meskipun ada persamaan dengan kota besar lain, contohnya Jakarta dengan gedung pencakar langit dan kendaraan yang tak pernah surut, Yerusalem tetap mempunyai keindahan dan nuansa yang berbeda yang tak dimiliki kota lain. Mungkin karena ada sejarah iman yang melatarbelakanginya.
Dua ribu tahun yang lalu, Sang Guru mengatakan kepada murid-Nya tentang Yerusalem:
“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya suah dekat. Pada waktu itu orang-orang ang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, an orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk agi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertuli.”
Akhirnya bis kami berhenti di salah satu gedung pencakar langit. Rupanya gedung ini hotel tempat kami akan menginap selama kami berziarah di Yerusalem. Kedem Tower Hotel, nama gedung itu.
Kami dibagi kartu untuk masuk kamar dan juga stiker sesuai nomor kamar untuk ditempelkan pada kopor-kopor kami yang akan dibawa oleh bellboy ke kamar masing-masing. Semua berada di lobi untuk mendengarkan dulu pengarahan dari tour leader kami.
Pengarahan selesai, kami menuju kamar masing-masing dengan perasaan bersemangat meskipun kantuk rasanya sudah berada di pelupuk mata kami. Kamarku di lanatai 9. Kamar yang nyaman. Dari jendela pemandangan sangat bagus ke arah penjuru kota.
Ruang makan di hotel ini sangat besar karena memang tamu yang menginap pun banyak sekali. Menu yang ada di sini hampir sama dengan di Tiberias. Namun, ketika kami mencicipinya kami baru bisa membedakannya. Roti di Tiberias lebih fresh dan lezat daripada di sini. Di Tiberias selalu ada sup, di sini tidak ada. Salad dan mustradnya sama rasanya. Buah zaitun yang sudah diasinkan pun selalu ada. Bagi lidahku yang tidak biasa memang agak asing rasanya. Karena mengingat faedahnya bagi kesehatan tubuh, aku makan juga sedikit-sedikit. Kami pun menikmati makan malam pertama kami di Yerusalem.
Di kota ini juga pernah ada perjamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Sang Guru untuk makan malam bersama murid-murid terkasih pada perayaan Paskah Yahudi yang tercatat menjadi sebuah sejarah cinta kasih:
Hari Raya Roti Tak Beragi adalah hari di mana orang harus menyembelih anak domba Paskah, makan roti yang tak beragi, untuk mengenangkan perjalanan kebebasan Mesir menuju kebebasan dan juga pengembaraan serta tantangan keyakinan dan kesetiaan akan sesuatu yang tidak pasti.Sesuatu janji kebesan,kesejahteraan, damai, dan kebahagiaan yang teramat sukar untuk digapai.Mengenangkan pahlawan kelas kakap seperti Musa.
Lalu Dia menyuruh Petrus dan Yohanes, katanya: “ Pergiah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan.”
Ketika tiba saatnya, Dia duduk makan bersama para rasul-Nya. Katanya kepada mereka: “ Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama denagn kamu, sebelum aku menderita. Sebab aku berkata kepadamu: Aku tiak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.”
Perut kenyang dan kini aku terbaring di atas ranjang nan empuk ini. Bila kupandang ke seluruh penjuru kota dari jendela kamarku, aku tidak bisa membayangkan Yerusalem pada zaman Yesus. Yang jelas zaman itu aneka mobil, gedung pencakar langit, dan mall tidak ada. Ada kalanya segalanya berubah, tetapi langit dan tanah tetap sama dari dahulu. Kupandang juga langit malam. Gelap, tak tampak bintang atau bulan. Kota tetap benderang dengan cahaya ribuan lampu.Kesibukan kota masih nampak dengan lalu lalangnya kendaraan di jalan. Yerusalem tetap elok di kala malam.
Di suatu malam yang juga mungkin seelok malam ini, hanya tanpa lampu jalan warna-warni seperti sekarang. Sosok tubuh tampak terpekur larut dalam khusuknya doa di sebuah sudut taman di luar tembok kota:
Setelah tiba di Taman Zaitun, Dia, Lelaki itu berkata kepada yang mengikuti-Nya: “ Berdoalah supaya kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan.” Kemudian Lelaki itu menjauhkan diri dari mereka kira-kia sepelempar batu jaraknya, lalu Dia berlutut dan berdoa, kata-Nya:” Ya, BapakKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMu-lah yang terjadi. “ Lelaki itu makin ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Perasaan syukur memenuhi seluruh rongga dadaku. Sambil kupandang langit Yerusalem pada malam itu, seluruh perjalananku di tanah Israel tergambar. Sebagian sudah menjadi masa laluku yang akan terkenang sepanjang hayatku. Sebagian lagi masih akan kualami beberapa hari lagi. Masih akan ada lagi cerita dan kesan yang mendalam di tanah ini. Malam bertambah larut. Kutinggalkan pemandangan indah Yerusalem di kala malam. Kuhening sejenak untuk larut dalam doa syukurku. Akhirnya aku pulas dalam pelukan selimut malam kota Yerusalem.
Sementara di waktu dan masa ribuan tahun lalu, malam semakin beranjak: Sementara Lelaki yang terpekur dalam doa dan ketakutan-Nya tadi, kini sedang digiring oleh pasukan melewati jalan terjal dari arah Taman Getemani, jalan berbatu menuju rumah Imam Besar. Deretan pohon jaitun di taman itu bisu menyaksikan drama dan aroma pengkhianatan dari seorang murid kepada Sang Guru. Malam makin larut. namun, itu bukan malam elok yang penuh kedamaian, tetapi sebuah malam awal dari penderitaan Lelaki yang selama ini berkarya dalam mujijat dan menujukkan kebesaran Allah Sang Pencipta yang agung.
(Teh Nung mengingat kembali perjalanan yang membuat semangat)
Yerusalem, Yerusalem lihatlah Rajamu
Hosana, terpujilah,
Yesus, penebus manusia
Begitulah, potongan lagu itu kami nyanyikan dengan penuh semangat dan dengan segenap perasaan. Kami akhirnya memasuki kota ini. Kota yang terkenal di seantero dunia. Saat itu hari menjelang petang. Matahari sudah benar-benar terbenam.
Semakin dekat memasuki kota, keadaan semakin terang dan semakin ramai layaknya kota besar pada umumnya.
Sementara itu di tempat yang sama dan suatu masa yang berbeda:
Dan sementara Yesus mengendarai keledai itu, orang banyak menghamparkan pakaiannya di jalan.Ketika Dia mendekati Yerusalem, di tempat menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujijat ang telah mereka lihat. Mereka berseru:
“ Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang maha tinggi.”
Keharuanku makin nyata kala kami melihat bagaimana suasana kota. Meskipun ada persamaan dengan kota besar lain, contohnya Jakarta dengan gedung pencakar langit dan kendaraan yang tak pernah surut, Yerusalem tetap mempunyai keindahan dan nuansa yang berbeda yang tak dimiliki kota lain. Mungkin karena ada sejarah iman yang melatarbelakanginya.
Dua ribu tahun yang lalu, Sang Guru mengatakan kepada murid-Nya tentang Yerusalem:
“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya suah dekat. Pada waktu itu orang-orang ang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, an orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk agi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertuli.”
Akhirnya bis kami berhenti di salah satu gedung pencakar langit. Rupanya gedung ini hotel tempat kami akan menginap selama kami berziarah di Yerusalem. Kedem Tower Hotel, nama gedung itu.
Kami dibagi kartu untuk masuk kamar dan juga stiker sesuai nomor kamar untuk ditempelkan pada kopor-kopor kami yang akan dibawa oleh bellboy ke kamar masing-masing. Semua berada di lobi untuk mendengarkan dulu pengarahan dari tour leader kami.
Pengarahan selesai, kami menuju kamar masing-masing dengan perasaan bersemangat meskipun kantuk rasanya sudah berada di pelupuk mata kami. Kamarku di lanatai 9. Kamar yang nyaman. Dari jendela pemandangan sangat bagus ke arah penjuru kota.
Ruang makan di hotel ini sangat besar karena memang tamu yang menginap pun banyak sekali. Menu yang ada di sini hampir sama dengan di Tiberias. Namun, ketika kami mencicipinya kami baru bisa membedakannya. Roti di Tiberias lebih fresh dan lezat daripada di sini. Di Tiberias selalu ada sup, di sini tidak ada. Salad dan mustradnya sama rasanya. Buah zaitun yang sudah diasinkan pun selalu ada. Bagi lidahku yang tidak biasa memang agak asing rasanya. Karena mengingat faedahnya bagi kesehatan tubuh, aku makan juga sedikit-sedikit. Kami pun menikmati makan malam pertama kami di Yerusalem.
Di kota ini juga pernah ada perjamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Sang Guru untuk makan malam bersama murid-murid terkasih pada perayaan Paskah Yahudi yang tercatat menjadi sebuah sejarah cinta kasih:
Hari Raya Roti Tak Beragi adalah hari di mana orang harus menyembelih anak domba Paskah, makan roti yang tak beragi, untuk mengenangkan perjalanan kebebasan Mesir menuju kebebasan dan juga pengembaraan serta tantangan keyakinan dan kesetiaan akan sesuatu yang tidak pasti.Sesuatu janji kebesan,kesejahteraan, damai, dan kebahagiaan yang teramat sukar untuk digapai.Mengenangkan pahlawan kelas kakap seperti Musa.
Lalu Dia menyuruh Petrus dan Yohanes, katanya: “ Pergiah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan.”
Ketika tiba saatnya, Dia duduk makan bersama para rasul-Nya. Katanya kepada mereka: “ Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama denagn kamu, sebelum aku menderita. Sebab aku berkata kepadamu: Aku tiak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.”
Perut kenyang dan kini aku terbaring di atas ranjang nan empuk ini. Bila kupandang ke seluruh penjuru kota dari jendela kamarku, aku tidak bisa membayangkan Yerusalem pada zaman Yesus. Yang jelas zaman itu aneka mobil, gedung pencakar langit, dan mall tidak ada. Ada kalanya segalanya berubah, tetapi langit dan tanah tetap sama dari dahulu. Kupandang juga langit malam. Gelap, tak tampak bintang atau bulan. Kota tetap benderang dengan cahaya ribuan lampu.Kesibukan kota masih nampak dengan lalu lalangnya kendaraan di jalan. Yerusalem tetap elok di kala malam.
Di suatu malam yang juga mungkin seelok malam ini, hanya tanpa lampu jalan warna-warni seperti sekarang. Sosok tubuh tampak terpekur larut dalam khusuknya doa di sebuah sudut taman di luar tembok kota:
Setelah tiba di Taman Zaitun, Dia, Lelaki itu berkata kepada yang mengikuti-Nya: “ Berdoalah supaya kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan.” Kemudian Lelaki itu menjauhkan diri dari mereka kira-kia sepelempar batu jaraknya, lalu Dia berlutut dan berdoa, kata-Nya:” Ya, BapakKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMu-lah yang terjadi. “ Lelaki itu makin ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Perasaan syukur memenuhi seluruh rongga dadaku. Sambil kupandang langit Yerusalem pada malam itu, seluruh perjalananku di tanah Israel tergambar. Sebagian sudah menjadi masa laluku yang akan terkenang sepanjang hayatku. Sebagian lagi masih akan kualami beberapa hari lagi. Masih akan ada lagi cerita dan kesan yang mendalam di tanah ini. Malam bertambah larut. Kutinggalkan pemandangan indah Yerusalem di kala malam. Kuhening sejenak untuk larut dalam doa syukurku. Akhirnya aku pulas dalam pelukan selimut malam kota Yerusalem.
Sementara di waktu dan masa ribuan tahun lalu, malam semakin beranjak: Sementara Lelaki yang terpekur dalam doa dan ketakutan-Nya tadi, kini sedang digiring oleh pasukan melewati jalan terjal dari arah Taman Getemani, jalan berbatu menuju rumah Imam Besar. Deretan pohon jaitun di taman itu bisu menyaksikan drama dan aroma pengkhianatan dari seorang murid kepada Sang Guru. Malam makin larut. namun, itu bukan malam elok yang penuh kedamaian, tetapi sebuah malam awal dari penderitaan Lelaki yang selama ini berkarya dalam mujijat dan menujukkan kebesaran Allah Sang Pencipta yang agung.
(Teh Nung mengingat kembali perjalanan yang membuat semangat)
Jumat, 12 Juni 2009
PUISI TENTANG SEMESTA
KITA DAN SEMESTA
Aku bertanya pada angin
Apakah kita pernah berjumpa
Pada waktu pertama semesta ada
Kupejam mata: kelam, biru dalam diam
Kita sampai pada sebuah titik
Hingga waktu mempertemukan ruhku dan ruhmu
Kitab tua berkata
Penciptaan tentang Adam dan Hawa
Debu tanah dan ruh
Menjelma menjadi sempurna
Kau Adam, aku Hawa
Atau kau Hawa, aku Adam?
Tak jauh beda karena kita adalah semesta
(Teh Nung :untuk semua orang yang ditakdirkan Tuhan berjumpa denganku dan mempunyai relasi denganku)
Aku bertanya pada angin
Apakah kita pernah berjumpa
Pada waktu pertama semesta ada
Kupejam mata: kelam, biru dalam diam
Kita sampai pada sebuah titik
Hingga waktu mempertemukan ruhku dan ruhmu
Kitab tua berkata
Penciptaan tentang Adam dan Hawa
Debu tanah dan ruh
Menjelma menjadi sempurna
Kau Adam, aku Hawa
Atau kau Hawa, aku Adam?
Tak jauh beda karena kita adalah semesta
(Teh Nung :untuk semua orang yang ditakdirkan Tuhan berjumpa denganku dan mempunyai relasi denganku)
Rabu, 10 Juni 2009
PUISI UNTUK AGA
LELAKI YANG PERNAH BERDIAM DALAM RAHIMKU
(Untuk Aga)
Hai kau lelaki yang terlahir pada jumat kliwon
Tanggal satu suro jam 24.00
Sesudah beberapa lama peringatan Sidharta Gautama lahir
Ketika rembulan sudah tak lagi purnama
Hai kau lelaki yang ditakdiran
Menjadi anak lanangku
Semesta menyambutmu
Untuk menjadi hadiah yang bermakna
Kau menjelma dalam rahimku
menjadi mahluk mungil yang selalu bergerak
Aku merasakan detak jantungmu
Karena kau dan aku bernafas dalam irama yang sama
Rahasia hidup membawa kau masuk dalam garbaku
Menjelma menjadi embrio
Membengkakan seluruh tubuhku
Membuat aku tak bisa bertingkah leluasa
Kau mengikatku untuk menjadi ibu
Sebuah kata yang terdefinisikan dalam sejumlah bahasa
Dengan makna cinta yang menjadi dasar
Kau dan aku terikat dalam jalinan erat tak kan terpisahkan
Meski dunia berhenti berputar kau tetap anakku dan aku ibumu
Lelaki yang mendiami garbaku
Kini sudah menjelma menjadi pemuda tampan
Dengan kumis tipis di atas bibirmu
Aku bangga menjadi ibumu
Ruhku dan ruhmu disatukan Pencipta
Yang akan terus terikat sampai kapan pun
Hanya satu doaku raihlah impianmu
Gapailah semua asamu
Karena bulan sudah tak lagi perawan
Kau akan mencapainya bukan lewat puisi
Tapi sains dan iman yang akan membawamu menjelajahinya
Lelakiku yang terlahir dari liang garbaku
Berdeguplah bersama irama jantungmu
Menaklukan dirimu untuk meraih kesempurnaan.
(Puisi teh Nung untuk anak lanang (Aloysius Gonzaga Ilham Sidharta) yang berulang tahun ke-15)
(Untuk Aga)
Hai kau lelaki yang terlahir pada jumat kliwon
Tanggal satu suro jam 24.00
Sesudah beberapa lama peringatan Sidharta Gautama lahir
Ketika rembulan sudah tak lagi purnama
Hai kau lelaki yang ditakdiran
Menjadi anak lanangku
Semesta menyambutmu
Untuk menjadi hadiah yang bermakna
Kau menjelma dalam rahimku
menjadi mahluk mungil yang selalu bergerak
Aku merasakan detak jantungmu
Karena kau dan aku bernafas dalam irama yang sama
Rahasia hidup membawa kau masuk dalam garbaku
Menjelma menjadi embrio
Membengkakan seluruh tubuhku
Membuat aku tak bisa bertingkah leluasa
Kau mengikatku untuk menjadi ibu
Sebuah kata yang terdefinisikan dalam sejumlah bahasa
Dengan makna cinta yang menjadi dasar
Kau dan aku terikat dalam jalinan erat tak kan terpisahkan
Meski dunia berhenti berputar kau tetap anakku dan aku ibumu
Lelaki yang mendiami garbaku
Kini sudah menjelma menjadi pemuda tampan
Dengan kumis tipis di atas bibirmu
Aku bangga menjadi ibumu
Ruhku dan ruhmu disatukan Pencipta
Yang akan terus terikat sampai kapan pun
Hanya satu doaku raihlah impianmu
Gapailah semua asamu
Karena bulan sudah tak lagi perawan
Kau akan mencapainya bukan lewat puisi
Tapi sains dan iman yang akan membawamu menjelajahinya
Lelakiku yang terlahir dari liang garbaku
Berdeguplah bersama irama jantungmu
Menaklukan dirimu untuk meraih kesempurnaan.
(Puisi teh Nung untuk anak lanang (Aloysius Gonzaga Ilham Sidharta) yang berulang tahun ke-15)
Selasa, 09 Juni 2009
SANG MOTIVATOR
Akhir-akhir ini profesi yang sedang menanjak dan banyak dilirik orang adalah menjadi motivator. Motivator adalah orang yang memberikan motivasi pada orang lain agar orang lain bersemangat dan termotivasi untuk melakukan tindakan yang positif dan diharapkan tindakan tersebut membawa hasil yang memuaskan bagi orang tersebut dan juga bagi orang di sekitarnya. Pendek kata menjadi berkat bagi orang lain, menjadi gift bagi lingkungan.
Aku pernah menyaksikan, mendengarkan, dan melihat motivator saat memberikan motivasinya. Ada banyak yang diperoleh ketika mendengarkannya. Dan tumbuh motivasi dalam diri untuk melakukan kiat-kiat yang disaranan untuk menjadi sukses dan menjadi bahagia.
Menjadi motivator menurutku tidak mudah. Mengapa? Karena menjadi motivator kita harus mampu berbicara dengan sangat baik, mampu membangkitkan semangat, menguasai ilmu untuk mendapat perhatian pendengar, menarik perhatian dengan gaya bicara juga penampilan, menguasai materi yang akan disampaikan, menguasai keadaan juga diri sendiri, dan juga harus punya pengalaman pribadi yang layak dikagumi. Tidak hanya jarkoni saja ( hanya ujar -bicara ora ngelakoni –tidak menjalani ). Bagian terakhir itu yang sukar. Perkara ilmu bisa dipelajari, tetapi teladan yang baik, itu yang terkadang memerlukan komitmen yang tak mudah.
Banyak motivator handal yang kita kenal sekarang ini. Ada yang alirannya menurut agama tertentu atau keyakinan tertentu, ada juga yang sifatnya universal. Banyak yang bagus, ada juga yang biasa-biasa saja. Keberhasilan dari kiat-kiat yang disampaikan oleh sang motivator tidak tergantung pada hebatnya si motivator, tetapi pada bagaimana seseorang melakukan saran atau kiat-kiat itu dengan baik. Tidak hanya bersemangat beberapa saat saja, sesudah itu melempem lagi. Tidak hanya niat untuk menjadi yang terbaik saja, tetapi bagaimana melaksanakannya.
Menurutku, justru bagi kita yang diberi motivasi, yang paling berat dan perlu ketekunan adalah pada saat melaksaakannya dan berkomitmen untuk terus melakukan petunjuk tersebut. Perubahan dari diri kita tergantung pada diri kita lagi. Seseorang bisa berubah ke arah yang lebih baik bila ada kesadaran pada orang tersebut untuk berubah. Untuk memperoleh kesadaran pun ternyata perlu perjuangan yang juga tidak mudah. Dalam penyadaran diri tersebut kita perlu kerendahan hati untuk mengakui berbagai kelemahan dan juga kelebihan kita. Menyadai kelemahan dan kelebihan ternyata tidak mudah juga rupanya. Dalam kerendahan hati akan muncul keterbukaan untuk menerima kelebihan dan kekurangan kita.
Keberhasilan tidak ditentukan pada siapa yang member motivasi. Terkadang motivator tidak harus selalu datang dari para pembicara handal, bahkan orang sederhana yang tak kita anggap pun bisa menjadi motivator kita. Sebetulnya motivasi yang paling lama bertahan pada diri seseorang bukan karena berasal dari si pembicara handal, tetapi justru motivasi yang datangnya dari diri kita sendiri ( motivasi intrinsik ). Bila motivasi itu berasal dari dalam diri kita, apa pun yang terjadi pasti kita tetap bersemangat tak tergoyahkan oleh rintangan apa pun.
Karena itu, mari kita tetap bersemnagt dan tetap memelihara motivasi dalam diri kita masing-masing untuk melakukan yang terbaik untuk diri kita, yang tentunya juga akan menjadi bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Jadilah sang motivator untuk diri kita sendiri!
(Teh Nung yang lagi tergelitik dengan kata motivator)
Aku pernah menyaksikan, mendengarkan, dan melihat motivator saat memberikan motivasinya. Ada banyak yang diperoleh ketika mendengarkannya. Dan tumbuh motivasi dalam diri untuk melakukan kiat-kiat yang disaranan untuk menjadi sukses dan menjadi bahagia.
Menjadi motivator menurutku tidak mudah. Mengapa? Karena menjadi motivator kita harus mampu berbicara dengan sangat baik, mampu membangkitkan semangat, menguasai ilmu untuk mendapat perhatian pendengar, menarik perhatian dengan gaya bicara juga penampilan, menguasai materi yang akan disampaikan, menguasai keadaan juga diri sendiri, dan juga harus punya pengalaman pribadi yang layak dikagumi. Tidak hanya jarkoni saja ( hanya ujar -bicara ora ngelakoni –tidak menjalani ). Bagian terakhir itu yang sukar. Perkara ilmu bisa dipelajari, tetapi teladan yang baik, itu yang terkadang memerlukan komitmen yang tak mudah.
Banyak motivator handal yang kita kenal sekarang ini. Ada yang alirannya menurut agama tertentu atau keyakinan tertentu, ada juga yang sifatnya universal. Banyak yang bagus, ada juga yang biasa-biasa saja. Keberhasilan dari kiat-kiat yang disampaikan oleh sang motivator tidak tergantung pada hebatnya si motivator, tetapi pada bagaimana seseorang melakukan saran atau kiat-kiat itu dengan baik. Tidak hanya bersemangat beberapa saat saja, sesudah itu melempem lagi. Tidak hanya niat untuk menjadi yang terbaik saja, tetapi bagaimana melaksanakannya.
Menurutku, justru bagi kita yang diberi motivasi, yang paling berat dan perlu ketekunan adalah pada saat melaksaakannya dan berkomitmen untuk terus melakukan petunjuk tersebut. Perubahan dari diri kita tergantung pada diri kita lagi. Seseorang bisa berubah ke arah yang lebih baik bila ada kesadaran pada orang tersebut untuk berubah. Untuk memperoleh kesadaran pun ternyata perlu perjuangan yang juga tidak mudah. Dalam penyadaran diri tersebut kita perlu kerendahan hati untuk mengakui berbagai kelemahan dan juga kelebihan kita. Menyadai kelemahan dan kelebihan ternyata tidak mudah juga rupanya. Dalam kerendahan hati akan muncul keterbukaan untuk menerima kelebihan dan kekurangan kita.
Keberhasilan tidak ditentukan pada siapa yang member motivasi. Terkadang motivator tidak harus selalu datang dari para pembicara handal, bahkan orang sederhana yang tak kita anggap pun bisa menjadi motivator kita. Sebetulnya motivasi yang paling lama bertahan pada diri seseorang bukan karena berasal dari si pembicara handal, tetapi justru motivasi yang datangnya dari diri kita sendiri ( motivasi intrinsik ). Bila motivasi itu berasal dari dalam diri kita, apa pun yang terjadi pasti kita tetap bersemangat tak tergoyahkan oleh rintangan apa pun.
Karena itu, mari kita tetap bersemnagt dan tetap memelihara motivasi dalam diri kita masing-masing untuk melakukan yang terbaik untuk diri kita, yang tentunya juga akan menjadi bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Jadilah sang motivator untuk diri kita sendiri!
(Teh Nung yang lagi tergelitik dengan kata motivator)
Langganan:
Postingan (Atom)
