Sabtu, 18 Mei 2013

BERSERAH-SURRENDER


Prihal orang-orang yang menjalani hidup dengan berserah (surrender) , dalam kemalangannya muncul hikmah yang malah membawa mereka pada keberuntungan. Dalam peristiwa keberserahan muncul berkah tersembunyi (blessing in disguise). Orang orang sejenis ini adalah manusia yang tidak melonjak-lonjak lupa diri pada kala mereka beruntung, sebaliknya kala kemalangan, mereka tidak jatuh dalam kesedihan dalam dan depresi berat. Susah dan senang, kalah dan menang adalah bagian yang wajar dalam kehidupan. Kehidupan memang menyimpan sejumlah misteri yang tak terkenali. Mereka inilah yang orang tua sering menyebutnya eling lan waspada.

Berbicara tentang kata eling, saya teringat teman saya Mbak Fenny yang membuka usahanya dengan merek ELLING! (saya tidak promosi!) Hebat Mbak! Piye kabare? Salam untuk Mbak Fenny, di mana pun Anda berada! Semoga sukses dan selalu eling!

Menurut sebuah buku yang pernah saya baca, orang-orang yang agresif dalam kehidupan senantiasa ingin memaksakan kehendak, ide, dan kemauannya. Namun, kebalikannya, orang-orang besar yang bijak mengetahui bila mana ia harus memegang kendali yang ketat, dan mengetahui kapan harus membiarkan kendali lepas. Semuanya bukan demi dirinya, tapi demi kelangsungan hidup yang baik. Saya kira Paus Emiritus Benedictus VI adalah salah satu dari mereka orang besar yang bijak itu.

Kalau tali gitar dipetik terlalu keras, maka snarnya akan putus, lagunya akan hilang. Sebaliknya kalau senar dipetik terlalu kendur, maka ia tak akan mengeluarkan suara. Tarikan tak boleh terlalu keras atau terlalu lembut. Si pemainlah yang harus pandai menimbang dan bijak meraba. ( Wisdom of the Common People)

Menurut buku yang saya baca ada siklus dalam kehidupan ini. Siklus itu berlaku juga dalam hidup manusia. Mereka yang hidup dengan seimbang dan mampu menahan diri pada umumnya hidup sehat dan panjang umur. Kebalikannya, orang yang mengumbar habis hasrat,  energinya akan  cepat terkuras. Usia pun menjadi pendek dan kalau pun berumur panjang dia akan penuh dengan sakit dan penyakit.

Ternyata orang itu harus percaya diri, tetapi sekaligus tahu diri. Tahu kapan saatnya makan dan kapan harus berhenti makan. Kapan harus bekerja dan kapan harus beristirahat. Begitu pun Al Kitab berkata: ada saatnya menanam, ada saatnya menuai. Semua ada waktunya. Seseoarng menjadi orang besar karena dia mengetahui keterbatasannya.

Dalam hidup pasti ada perubahan. Perubahan linear adalah adalah perubahan yang digerakkan oleh kemauan keras manusia. Namun, kenyataannya perubahan itu hendaknya juga memperhatikan beberapa aspek, antara lain: siklus kehidupan manusia, situasi dan kondisi, pengaruh lingkungan alam, dan berbagai interaksi. Diharapkan dengan pemahaman akan berbagai perubahan itu, saya dan Anda dengan rendah hati dan penuh keterbukaan mengandalkan diri pada Sang Pencipta.

Dalam menghadapi perubahan itu diperlukan  kehidupan yang benar: memberi tahu tentang perlunya suatu cara hidup yang mendukung tujuan spiritual yang hendak dicapai. Untuk itu diperlukan ketetapan hati yang benar : ada niat memfokuskan pada tujuan yang akan membimbing seluruh tindakan maupun keyakinan. Selain itu memperhatikan perkataan yang benar: membawa kita pada disiplin untuk selalu berkata benar. Juga memerlukan pikiran yang benar: seluruh hidup kita adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Mempunyai pikiran yang benar sangat penting karena membawa pada pencapaian pencerahan. Dan untuk itu kita membutuhkan usaha yang benar: pencapaian pencerahan bukanlah sesuatu yang mudah, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh. Karena itu betapa pentingnya kehendak sehingga akhirnya kita bisa melakukan perbuatan yang benar: perbuatan sesuai hukum agama/ ajaran spiritualitas. Akhirnya semua itu akan membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi diri saya, diri Anda, juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Keberpasrahan juga sering dilambangkan pada analogi alam, semisal air. Ada sebuah puisi klasik Cina yang melihat kebijaksanaan air:
Mereka yang bijak bagaikan air
Memberi manfaat kepada segala
Tidak bersaing dengan semua
Air mengalir ke bawah
Ke tempat yang dilihat sebelah mata
( Tao te Ching: Lao Tse, 500 SM)
Air mempunyai karakter asli yang lembut, lentur, dan mudah mengalir dengan leluasa tanpa beban. Ia membersihkan, menyegarkan, dan menyejukan. Ia bersifat adil kepada semuanya tanpa memilih, tanpa melihat perbedaan, tanpa pertimbangan. Ia senantiasa stia, tekun, dan bergerak tanpa henti, tanpa lelah, tanpa menyerah. Meskipun sisi lain ia juga responsif, di luar dugaan, dan tanpa perhitungan.
Keberpasrahan juga sering dilambangkan dengan bumi. Planet biru yang sudah tua, tetapi ia tetap setia. Apa pun yang terjadi dia berserah pada Penciptanya. 

Keberpasrahan bukan berarti menyerah. Juga tidak sama dengan mengalah. Keberpasrahan adalah surrender menyerahkan dan mempercayakan pada Sang Pencipta. Keberpasarahan juga bukan pasif. Karena seperti uraian di atas tadi: di dalamnya juga ada strategi. Dalam berpasrah ada setia tanpa kenal lelah seperti dilambangkan dengan air. Begitulah dalam keberserahan di dalamnya ada  iman yang kuat akan satu keyakinan bahwa Sang Pencipta sudah menyediakan segala yang terbaik. Rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera.
(Ch. Enung Martina)






Selasa, 23 April 2013

BERMAIN = BELAJAR



Saya yakin, para orang tua tidak setuju dengan pernyataan di atas, termasuk saya di dalamnya. Orang tua akan beranggapan bahwa belajar, ya belajar, tidak main-main. Belajar bukan permainan. Betul, Pak, Bu?  Ya, setuju. Saya juga mengamini. Namun, rupanya sudut pandang kita sekarang sudah harus digeser sedikit agar kita bisa mengubah pendapat tentang hal ini.

Sejak zaman baheula orang tua kita, turun temurun, mewariskan kepada kita bahawa belajar ya belajar, jangan main-main. Ada saatnya belajar dan ada saatnya bermain. Begitu kan pengetahuan saya dan Anda?  

Ternyata, pendapat itu kurang tepat alias keliru. Mengapa? Karena Bapak Johan Huizinga berpendapat manusia itu adalah mahluk bermain. Man the palayer. Homo ludens. Begitu kata beliau. Pendapat itu dikuatkan lagi oleh Bapak Frederich Niezsche: Dalam diri seorang pria (manusia) dewasa yang sejati, tersembunyi anak kecil yang selalu bermain-main. Nah, lo!

Bermain adalah kegiatan penting bagi manusia. Otak manusia selalu mencari pola, arti, dan hubungan  antarperistiwa yang merupakan proses kognitif (mencari pengetahuan). Sebetulnya proses itu berlangsung  secara efektif pada saat bermain. Bermain sifatnya sangat menarik perhatian, penuh imajinasi, dan menggembirakan. Saat bermain sebenarnya awal anak mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah, berkonsentrasi, mempunyai kesadaran tentang konsep, melatih koordinasi fisik, mengembangkan kreativitas, dan mengembangkan ketrampilan bersosial. Begitu kata para ahli.


Dulu, seperti saya ini yang anak kampung, tentunya kerjanya ‘dolan’ di kebun, sawah, dan alam terbuka lainnya. Rasanya  belajar di sekolah itu tidak seberat anak saya yang sekolah zaman sekarang. Mana bukunya banyak, PR juga banyak, ulangan juga tiap hari, dan masih ada tugas ini itu! Perasaan saya (karena saya sekolah di kampung) ke sekolah saya membawa tas itu enteng. Malah kadang tidak membawa tas ke sekolah. Namun, ya.... survive saja hidup hingga zaman sekarang. Apa kurikulum pendidikan Indonesia itu makin dibuat sulit atau bagaimana, ya? Saya juga tak mengerti. Giliran saya jadi guru di kota pada zaman ‘conected’ seperti sekarang ini kok sekolah itu abot tenan ya! Dan herannya lagi, bocah-bocah sekarang sudah terbiasa juga dengan tuntutan yang menggila itu. Memang sudah zamannya kali, ya. Namun, saya tetap kasihan pada anak-anak.

Kembali ke barmain= belajar. Karena situasi dan tuntutan zaman yang menggila seperti sekarang ini, orang tua terkadang kuatir dengan anak-anaknya apakah mereka mampu untuk bisa melalui semuanya dengan baik. Karena itu, para orang tua berbuat yang terbaik untuk putra-putrinya. Memberikan pendidikan yang dianggap terbaik. Anak-anak diberi berbagai les sehingga mereka tak punya lagi waktu untuk bermain. Padahal, menurut para ahli di atas, bermain itu justru hakikat dari manusia. Nah, lantas bagaimana ini?

Karena itu, saya mulai agak menggeser sudut pandang saya tentang bermain. Saya sekarang tidak terlalu seketat dulu melarang anak-anak di sekolah untuk tidak     bermain’ kala mereka belajar. Saya lebih toleran terhadap kata bermain. 

Untuk mempertegas bahwa memang bermain itu sangat berguna, mari kita melihat pendapat para ahli di bawah ini:
Anak yang bermain adalah anak yang tangguh. Bermain adalah cara anak mempersiapkan diri menghadapi dunia. Di dalam bermain peran (role play), anak sebenarnya sedang belajar bagaimana menghadapi masalah atau konflik yang terjadi di dunia sekitarnya.

Anak yang bermain adalah anak yang sehat. Salah satu indikasi seorang anak sembuh dari penyakit berat adalah bila sudah menunjukkan keinginan untuk bermain lagi.

Anak yang bermain adalah anak yang cerdas. Saat bermain, anak mendidik dirinya sendiri. Dia akan menemukan hal baru dalam permainannya. Dalam bermain kreativitas bisa terasah dengan baik. Banyak permainan yang juga memerlukan strategi.

Bermain mengajarkan anak untuk berelasi dengan alam, teman bermain, juga dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, anak belajar bagaimana berelasi yang baik. Suatu saat dia menjadi pemenang. Kali lain dia menjadi pihak yang kalah. Dia juga akan belajar menerima kemenangan orang lain dan kekalahan dirinya. 

Bermain bisa menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi. Ketika bermain anak mencoba untuk melakukan sesuatu yang mungkin dianggap tadinya tak bisa dilakukan. Namun, ketika ia bermain ternyata ia mampu melakukannya. 

Ada banyak keuntungan bermain. Bila diselidiki dan diteliti, akan muncul keuntungan lain dari bermain. Nah, kalau begitu  jangan abaikan kata bermain. Bermain itu bukan main-main. Bermain artinya melakukan permainan dengan benar. Total menjalaninya dan menghayatinya. Bila kita memberikan kesempatan anak-anak untuk bermain, kita akan mempunyai generasi bangsa dan Gereja yang cerdas, kreatif, dan mempunyai hati.
Ch. Enung Martina

Jumat, 05 April 2013

BASILIKA DI VATICAN

Mari kita berjalan-jalan ke tempat Vatican untuk melihat keagungan dan kemegahannya,

Selamat menikmati

Salam

Ch. Enung Martina

http://www.vatican.va/various/basiliche/san_giovanni/vr_tour/index-en.html

Sabtu, 30 Maret 2013

KESOMBONGAN ROHANI


Ada sebuah kutipan dari karya Louis Naskins yang ditulis di atas makam Raja Gregorius VI berbunyi:
“ Berikan sebuah lampu kepadaku agar aku dengan aman dapat memasuki dunia ketidaktahuan.”
Dan dia pun menjawab:
“ Pergilah memasuki dunia kegelapan dan letakkan tanganmu dalam genggaman Tuhan. Hal itu akan lebih baik daripada lampu dan lebih aman daripada jalan yang jelas.”

Dalam hidup, kita pernah mengalami situasi ruwet, mendung, kelabu, bahkan gelap. Hal itu menyebabkan suasana hati menjadi tawar , tak bergairah. Ketika hati kita tawar, semuanya terasa tidak pas dan tidak pasti. Hal yang biasanya kita lakukan pun berlalu begitu saja tanpa dimaknai. Banyak penyebabya yang membuat situasi hati demikian. Bisa saja karena terpengaruh oleh omongan orang, bisa juga karena mendapat musibah/masalah, atau karena tak kesampaian apa yang diharapkan, bisa juga karena frustasi dengan kenyataan hidup. Namun, apa pun yang dialami tak akan berpengaruh bila kita memutuskan untuk tidak terpengaruh.

Saya sendiri adalah tipe orang yang mudah terpengaruh situasi. Darah saya langsung menggelegak bila menghadapi situasi tertentu. Karena itu, keadaan hati saya selalu naik turun. Apalagi dulu tatkala saya muda, saya cenderung meledak-ledak. Namun, ketika usia sudah menjelang uzur seperti sekarang, ledakan itu makin mengecil dan frekwensinya makin berkurang. Mungkin energi saya pun mulai surut. Selain itu, saya pun memutuskan untuk tidak terpengaruh dengan situasi buruk di sekeliling. Meskipun saya tahu itu tidak mudah tentunya. Jujur saja, terkadang saya masih terpengaruh juga. Saya sadar, bahwa saya terpengaruh atau tidak adalah atas keputusan saya sendiri. Saya mempunyai kebebasan untuk memutuskannya.

Saya berpendapat kesesakan atau masalah itu akan selalu ada sepanjang usia kita. Namun, sikap hati kita yang akan menjadi kunci, apakah kesesakan itu mempengaruhi saya dan menawarkan hati saya. Saya berpendapat meski saya mengeluh panjang pendek kepada siapa saja yang saya jumpai, kesesakan itu tetap tak beranjak dari diri saya. Bahkan, bisa semakin berat karena saya mendramatisirnya. Akhirnya langkah yang saya ambil, daripada mribeni orang dengan keluhan saya, saya lebih baik diam sambil mencari jalan keluarnya. Bila perlu dibicarakan dengan orang tertentu.  Saya akan memilih orang yang saya bisa ajak bisa berbagi dan bisa saya percaya. Kalau ternyata masih tidak menolong juga, ya... sudah saya menjalaninya saja. Toh akhirnya ketika roda waktu berputar, kesesakan itu akhirnya berlalu juga.

Menurut saya, keluhan malah menjadi polusi bagi lingkungan sekitarnya karena menjadi polusi bagi lingkungan karena membawa emosi negatif. Akan tetapi, rupanya menurut yang saya alami, tidak hanya keluhan saja yang membawa emosi negatif, ‘pameran’ keberhasilan pun ternyata bisa membawa emosi negatif juga. Saya pernah mendengar orang memamerkan keberhasilannya dengan membawa nama Tuhan. Sebetulnya tujuan orang itu mungkin mau memberi kesaksian tenntang kemurahan Tuhan dalam hidupnya. Namun, lama-kelamaan kesaksian bergulir bukan kebesaran Tuhan, malah berpusat pada dirinya dan keberhasilannya.

Contoh kejadian: “Tahu nggak sih, aku bersyukur banget lho sama Tuhan. Ternyata Tuhan itu baik banget. Aku bisa beli rumah dekat gereja. Jadi aku nggak usah jauh-jauh  jalan ke gereja.”  Kali lain lagi ada kesaksian lain: “ aku bersyukur banget lo, aku bisa membeli...., suamiku bisa ....” 
Sepertinya ungkapan di atas memang ungkapan syukur, tetapi bila kita perhatikan ujung-ujungnya mengagungkan diri sendiri: Aku bisa beli...., suamiku bisa.... Subjeknya aku, bukan Tuhan. Dalam kasus di atas orang tersebut bisa saja meletakkan Tuhan sebagai pelengkap atau hanya keterangan alat untuk memenuhi semua yang dia harapkan.

Awalnya saya merasa sebal juga tiap kali disuruh mendengarkan kesaksian yang berakhir dengan pameran itu. Kalau pameran yang membawa nama Tuhan itu didengar oleh orang yang sedang mempunyai masalah, kesusahan, atau lemah iman, bisa jadi tanggapannya menjadi lain. Orang tersebut bisa beranggapan Tuhan itu kok  pilih kasih. (O, ya... maafkan  saya Tuhan, terkadang saya masih berpikir Tuhan itu tak adil untuk kasus tertentu).

Kalau tanggapan saya sendiri dengan kesaksian pameran itu sedikit berbeda. Tuhan itu luar biasa! Orang ini bisa membeli rumah dekat gereja, tetapi justru Tuhan membangun rumah-Nya dekat rumah saya. Ayo mana yang ajaib dan luar biasa? (Sebetulnya kalau dilihat dari kacamata iman keduanya luar biasa, tetapi biar lebih dramatislah, saya pilih yang Tuhan membangun rumah-Nya dekat rumah saya.) Memang betul bagi saya yang tidak bisa membeli rumah dekat gereja, pembangunan Gereja Santo Ambrosius, Vila Melati, itu sungguh luar biasa. Bayangkan saja pergi ke gereja itu, saya tinggal berjalan 10 menit. Bagi orang lain, mungkin biasa saja. Bagi saya, itu sangat luar biasa!

Sedikit saja seseorang berada di atas angin, orang itu biasanya mulai dengan ingin menunjukkan diri,Manusia memang sering terjatuh pada kesombongan dan keegoisan. Kata para teolog, kesombongan itu merupakan salah satu akar dosa. Seperti contoh di atas, kita memuji nama-Nya, tetapi untuk menonjolkan keberhasilan yang saya raih, bukan bersaksi tentang ke- Maha Muraha-an Tuhan. Berbicara tentang kesombongan kita sering terjatuh pada yang sering  disebut kesombongan rohani. Tanpa kita sadari, kita mengatakan bahwa berkat doa saya seseorang sembuh, berkat doa saya keluarga saya berhasil, berkat doa saya komunitas saya maju. Semua tertuju kepada saya, bukan kepada Tuhan.

Namun sisi  lain, pada saat dalam keadaan kesesakan, saya mengeluh panjang pendek sehingga membuat orang yang ada di sekitar saya tercemar keluhan saya. Beban hidup yang paling berat sepertinya milik saya. Lantas terpikirkan: Bisakah saya menahan keluhan tertahan sampai kerongkongan saja? Saya merasa saya perlu mengeluarkan unek-unek saya. Belum lega kalau belum keluar. Mengganjal di hati malah jadi penyakit nanti. Demi kesehatan jiwa saya harus membebaskan uneg-uneg saya ini!

Boleh saja mengeluarkan uneg-uneg dan itu memang harus. Namun, semua ada tempatnya yang tepat. Carilah orang yang tepat, yang bisa dipercaya. Bukan semua orang disekitar menjadi sasaran keluhan. Dengan mencari orang dan waktu yang sesuai akhirnya saya bisa berbicara dengan leluasa dan nyaman. Dengan demikian mengeluh saya menjadi lebih bermartabat.

Dari semua peristiwa: suka-duka dan  yang dikeluhkan-yang dipamerkan, semuanya bisa membawa kemajuan pada kemajuan spiritual saya. Segala peristiwa dalam hidup bisa membawa pada relasi saya dengan Sang Pencipta. Hal itu bisa terjadi bila saya memaknainya dengan rasa syukur. Jangan salah, peristiwa keberhasilan pun bisa menjauhkan kita dari Allah. Justru kebalikannya, ada peristiwa kejatuhan dalam hidup seseorang membawa kembali orang itu kepada Allah.
Dengan demikian apa yang dikatakan penyair di atas: “ Pergilah memasuki dunia kegelapan dan letakkan tanganmu dalam genggaman Tuhan. Hal itu akan lebih baik daripada lampu dan lebih aman daripada jalan yang jelas.”

Demikianlah dinyatakan kepada kita bahwa bila kita 100% percaya, tanpa cerewet, tanpa bertanya, dan  tanpa mengeluh, akan rancanagan-Nya, niscaya damai sejahtera dan suka cita akan bersama kita sepanjang hidup kita. Amin. (Ch. Enung Martina)

Selasa, 12 Maret 2013

KISAH DI BALIK PASKAH


Bagi orang Yahudi kuno, mengenangkan sebuah peristiwa religius lebih dari sekedar mengingat-ingat kembali sesuatu yang terjadi berabad-abad sebelumnya. Sebaliknya, mengingat peristiwa tersebut berarti membawa orang masuk ke dalam realitas dan menghidupinya kembali lewat iman.

Demikian pula ketika orang Yahudi mengenang perayaan Paskah Yahudi setiap tahun, mereka melakukannya lebih dari sekedar mengingat peristiwa pembebasan leluhur mereka dari mesir. Namun, lebih dari itu, dengan mengenangkannya, mereka membawa peristiwa itu memasuki masa kini dan menghidupinya kembali. Dengan cara ini mereka menerima berkat yang sama dari peristiwa tersebut seperti yang diterima para leluhur mereka dulu.

Paskah Yahudi dilakukan pada malam hari, tepat setelah munculnya bintang-bintang pertama. Itulah sebabnya setiap orang merayakannya pada saat yang sama sebagai sebuah keluarga. Ketika bintang-bintang pertama bermunculan 2000 tahun yang lalu, Yesus bertindak sebagai seorang bapak, memulai rangkaian perayaan Paskah Yahudi. Cara yang Dia lakukan cukup mencengangkan para murid yang ikut bersama-Nya kala itu. Dia melakukan ritual itu dengan membuka jubah luar-Nya dan membasuh kaki para rasul-Nya.
Bagi orang Yahudi, membasuh kaki orang lain adalah tindak perendahan diri. Hanya para budaklah yang membasuh kaki orang lain. Itulah sebabnya tindakan Yesus  membekaskan suatu perasaan yang mendalam dalam diri para rasul.

Dalam Paskah Yahudi biasanya digunakan anggur merah untuk mengenangkan ambang pintu bertandakan darah di Mesir pada masa Musa membebaskan orang Israel. Perjamuan Yahudi biasa  dimulai dengan pemecahan roti terlebih dahulu. Namun, pada saat Paskah Yahudi, perjamuan dimulai dengan makan sayur pahit. Sayuran pahit mengingatkan tahun-tahun perbudakan yang getir di tanah Mesir. Kemudian perjamuan dilanjutkan dengan makan roti tak beragi untuk mengingatkan keberangkatan yang tergesa-gesa keluar dari Mesir.

Mari sekarang kita mengaitkannya dengan tokoh utama kita, Yesus. Menjelang penyaliban-Nya, Yesus mengadakan perjamuan bersama para rasul-Nya. Perjamuan itu tak terlupakan oleh mereka. Perjamuan tersebut merupakan cikal bakal Ekaristi yang setiap minggu kita ikuti.Semoga perjamuan Ekarisisti tidak hanya sekedar menerima hosti yang menjadi tradisi Gereja Katolik saja, tetapi bisa dimaknai mendalam. Seperti halnya orang Yahudi yang mengenagkan peristiwa religius mereka dengan keyakinan bahwa  mengingat peristiwa tersebut berarti membawa orang masuk ke dalam realitas dan menghidupinya kembali lewat iman.

Paskah Kristen berbeda dengan Paskah Yahudi. Paskah Kristen mengingatkan kita pada peristiwa Kebangitan Yesus dari kematian. Kematian Yesus diuraikan oleh Mark Link, SJ dalam bukunya Journey sebagai tanda, undangan, dan pewahyuan. Dikatakan tanda karena kematian Kristus merupakan tanda kedalaman kasih Yesus kepada manusia dan tanda ketaatan sekaligus kasih  kepada Bapa. Dikatakan sebagai undangan karena kematian-Nya merupakan undangan untuk saling mengasihi seperti yang telah dicontohkan sendiri oleh-Nya. “ Kasihilah satu sama lain seperti Aku mengasihimu.” (Yoh. 15:12). Dinyatakan sebagai pewahyuan karena kematian Kristus mewahyukan tentang kasih yang sering dilupakan. Sekaligus juga mewahyukan bahwa cinta menuntut penderitaan. Dari kita dituntut untuk mengikuti-Nya tanpa cerewet. “Barang siapa mau mengikut  Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.” ( Mark. 8:34)

Bagaimana dengan kita sendiri berkaitan dengan Paskah ini? Sebagai orang Katolik memang kita menjalani ritual yang selayaknya secara liturgis dijalani. Namun, terkadang hanya sebatas ritual. Meskipun begitu, saya masih melihat sisi lain bahwa baiklah itu, orang Katolik pada Pekan Suci rajin datang ke gereja untuk mengikuti semua ritual. Itu tandanya ada niat baik. Bahkan orang yang jarang terlihat pun datang ke gereja. Alangkah baiknya bila niat baik untuk mengikuti rangkaian Pekan Suci itu juga dibarengi dengan sikap hati yang ditunjukkan dengan perilaku. Lebih elok lagi bila akhirnya semua kegiatan liturgis itu menjadi tanda perubahan dalam sikap dan tingkah laku kita keseharian. Semangat Paskah membawa kita pada sikap hidup yang baik. Paskah membawa kita lebih membuka hati pada Bapa  untuk berelasi dengan-Nya , merasakan kasih-Nya, dan mensyukuri  kasih-Nya.

Setiap upacara liturgi yang kita ikuti kiranya mampu membawa kita mengenangkan peristiwa religius lebih dari sekedar mengingat-ingat kembali sesuatu yang terjadi berabad-abad sebelumnya, tetapi membawa kita mengingat peristiwa tersebut masuk ke dalam realitas dan menghidupinya kembali lewat iman. AMIN.
(Ch. Enung Martina) 

Sabtu, 19 Januari 2013

PRIBADI BERMUTU


Ada kalanya pandangan tentang hidup begitu jernih terlihat, tetapi ada kalanya segalanya menjadi tampak kabur. Pada saat segalanya kabur, kita bisa disesatkan. Namun, saat itu kita juga disadarkan bahwa kesetiaan tidak dijamin oleh pemahaman, tetapi oleh kedalaman hubungan pribadi dengan Tuhan dan bagaimana kita tinggal di dalam Dia.

Mutu seseorang tidak dijamin oleh tingginya pendidikan, tetapi oleh dalamnya kesadaran diri akan jati dirinya, sesamanya, dan Tuhan. Demikian juga mutu pribadi seseorang dalam dunia kerja bukan dilihat  dari tingginya pangkat atau golongan, bukan juga  dari bagaimana bagusnya laporan yang dia buat, atau bukan pula dari pandainya dia berkata-kata di depan forum, tetapi bagaimana dia melakukan tugasnya dengan setia dan penuh dedikasi tanpa melihat kehadiran atau ketidakhadiran atasan.

Jika kita merasa segalanya masih tetap suram, kita diajak untuk belajar mengagumi Tuhan yang terus berkarya secara tersembunyi. Saat hati sungguh disentuh oleh cinta Tuhan, pandangan kita pun kembali jernih.

Entah berapa banyak model barang elektronika diciptakan setiap harinya. Iklan untuk menawarkannya pun silih berganti. Tuntutan pasar dan persaingan ketat semakin cepat untuk memproduksi model baru. Karena itu, tidak ada perangkat yang sempurna. Jika kita membeli satu untuk hari ini, segera besok muncul produk baru yang lebih canggih, lebih cepat, dan lebih murah. Berkata ya untuk sebuah produk diartikan tidak untuk yang lain.

Demikian, begitu banyak hal baru yang kita temui dalam hidup kita sehingga terkadang kita bingung dalam memilihnya. Terkadang hal baru itu belum tentu benar atau sesuai dengan kebutuhan kita. Tentunya diperlukan kebijakan dalam memilihnya.

Kembali kepada pribadi yang bermutu, meskipun ada banyak hal baru yang memerlukan seleksi dalam memilih, pribadi ini dengan bijak akan mampu memilahnya. Meskipun perkembangan zaman begitu cepat, namun tak mampu  menggerus pribadi bermutu. Keadaan atau tantangan apa pun yang ada di hadapannya, akan dihadapi dengan keuletannya.

Ketika terpapar kenyataan bahwa tak ada yang menghargainya, pribadi bermutu tetap setia dengan pilihannya untuk tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Dia tak terpengaruh oleh terpaan jaman atau terhanyut suasana di sekitarnya. Mungkin sekali- sekali ia tergoyah dengan apa yang telah dipilihnya. Mungkin pula suatu waktu ia ragu dengan pilihannya karena melihat kenyataan bahwa ada hal lain yang lebih menggiurkan, yaitu untuk tidak berkomitmen. Mungkin pula akan muncul berbagai pertanyaan.  Banyak hal selalu bisa dipertanyakan, dari yang sederhana hingga yang paling rumit. Pertanyaan yang semakin rumit terus muncul. Pertanyaan yang makin rumit itu terus dibuat karena terkadang ia takut  akan jawaban yang sebenarnya yang akan menuntutnya begitu keras.

Namun, kembali ia akan melihat pilihannya. Dia akan mencari peneguhan dari sumber yang benar yang mampu menegakkan kembali pendiriannya untuk berkomitmen dalam hidup. Tidak ada penjelasan hebat yang mampu memuaskan. Pengalaman pribadi bersama Tuhan  jauh lebih meyakinkan daripada segala macam pertanyaan dan jawaban yang hebat sekali pun.

Untuk sebuah tindakan heroik dibutuhkan keberanian. Seorang hero akan melakukan perbuatan besar yang mampu membuat kagum orang lain. Heroik bagi satu orang belum tentu bagi yang lain. Pangeran Dipenogoro adalah seorang pahlawan bagi Indonesia, tetapi pemberontak bagi pemerinatahan Hindia belanda. Robinhood adalah seorang penolong bagi rakyat jelata, tetapi perampok menurut penegak hukum.

Sudah tentu para hero ini akan mendapatkan penghargaan dari banyak pihak. Namun, bagi pribadi bermutu keheroikan  tidak dilihat dari perbuatan besar yang mendapat pengharagaan besar saja. Keheroikan juga dilihat dari perbuatan kecil, sederhana, yang ecek-ecek, yang bagi orang tertentu dianggap tak penting. Pribadi bermutu akan tetap melakukan tindakan-tindakan kecil itu dengan setia. Melakukan tugasnya dengan iklas. Bila dia seorang guru, dia akan memperlakukan siswanya dengan penuh cinta, datang tepat waktu - bahkan jauh sebelum waktu, tidak meninggalkan kelas dan duduk di ruang guru, mengajar siswanya dengan penuh tanggung jawab, memberikan semua hal administratif yang diperlukan.

Begitulah pribadi bermutu. Saya mengenal begitu banyak pribadi bermutu. Namun, terkadang dunia tak melihatnya. Mutiara-mutiara ini adalah milik Tuhan yang hadir di tengah-tengah kita untuk membuat dunia ini nyaman. Mutiara-mutiara ini tak bersinar karena terkadang terhalang oleh lumpur kekalutan dunia. Dunia lebih memandang pada yang penuh gemerlap dengan keindahan harta atau juga pandai berkata-kata dan pandai memanipulasi. Mereka ini eksis di dunia dengan kegemerlapannya mereka hadir di antara mutiara-mutiara yang terbenam tadi. Mereka begitu percaya diri dan rasa percaya diri mereka menenggelamkan butiran mutiara ini.

Namun, mutiara atau pribadi yang bermutu ini, dia akan tetap abadi dari waktu ke waktu. Mereka tidak seeksis para hero dunia. Namun, kehadirannya sungguh menjadi berkat bagi dunia. Karena itu tetaplah berjuang para mutiara untuk mempertankan pribadimu yang bermutu itu. Karena dengan pribadimu yang bermutu memberi dampak yang baik bagi dunia.
Ch. Enung Martina

Kamis, 17 Januari 2013

REFLEKSI MALAM JUMAT


MENGEJAR IMPIAN

Kita sebagai individu dengan hati yang baik dan niat yang baik mempunyai impian-impian yang patut dikejar. Namun, terkadang kita menyerah karena terlalu banyak rintangan untuk meraihnya. Saat-saat seperti itu terasa pahit. Namun, pada saat kesadaran akan pentingngya mewujudkan impian-impian kita muncul, ada segurat rasa segar – ada sebaris rasa manis yang menghangatkan jiwa kita. Rasa cinta terhadap diri sendiri – sebuah kejujuran pada diri bahwa kita berhak untuk meraih apa yang kita impikan. Kita berhak untuk mendapatkan yang terbaik untuk diri kita. Rasanya aliran rasa yang manis dan sejuk itu sejenak menentramkan diri kita, Ya,… aku memang pantas untuk mendapatkan hal yang terbaik dalam hidupku. Apalagi, kalau selama ini kita juga sudah banyak memberi kepada keluarga, lembaga, teman, masyarakat, atau siapalah itu. Kita memang layak mendapatkan apa yang kita harapkan.

Namun, perkaranya adalah untuk meraih impian itu ternyata tidaklah mudah. Tidak segampang kalau kita bicara. Memang betul. Sesuatu yang berharga itu tidak didapatkan begitu saja. Perlu ada air mata, keringat, energi yang dihamburkan, dan juga… penderitaan! Selamat datang penderitaan. Jangan takut, kita memang terbiasa menderita. Kita sudah akrab dengan kata itu. Karena berkat penderitaan aku dan kamu jadi orang yang paling liat, ulet, tanpa kenal putus asa, dan jelas menjadi pribadi tangguh yang tak terkalahkan oleh rongrongan dan bahaya laten yang selalu siap mengancam kita.

Ho….ho….ho… kita memang bangsa penakluk, tetapi untuk menaklukkan diri sendiri itu yang paling sukar, bukan? Mari kita kembali pada impian-impian kita!
Impian harus kita wujudkan, harus kita raih agar kita bisa tentram, tidak penasaran. Dan tentu saja kita menjadi pemenang karena kita berhasil meraihnya. Huh… sungguh kememenangan yang manis karena untuk meraihnya kita harus menderita.

Kita memandang diri kita : bagaimana aku tahu bahwa aku bisa meraih impianku?
Ya… harus dicoba. Kita tak akan tahu kita bisa atau tidak kalau tidak kita coba. Keputusan untuk mengambil langkah pertama itu sangat penting. Dan langkah pertama itu biasanya memang godaannya banyak. Godaan yang laten itu dari orang-orang terdekat kita biasanya, tapi yang paling laten dari yang terlaten itu ya… diri kita ini. Kita merasa takut karenanya. Kita melangkah begitu jauh ke luar dari wilayah nyaman kita. Dengan sekuat tenaga, kita menahankan rasa takut kita. Kita memaksa diri kita untuk melakukannya. Kadang-kadamg kita merasa terintimidasi dengan perasaan kita terhadap segala hal di luar diri kita.

Dalam proses meraih impian, pada suatu ketika, kita membuat kesalahan yang membuat kita sangat malu. Saat itu rasanya kita ingin mati saja. Kita berdoa mudah-mudahan kita bisa menghilang atau bumi menelan kita. Tapi harapan itu tidak terjadi, kita masih ada dan harus menanggung rasa malu kita. Ternyata, peristiwa yang memalukan itu tidak membuat kita mati. Kita masih baik-baik saja. Kita menanggungkannya, bahkan melewatinya. Saat-saat yang demikian menjadi titik balik bagi kita untuk selalu mencoba dan berjuang tanpa kenal putus asa untuk mencapai impian kita.

Jangan pernah meremehkan impian-impian kita. Pada saat kita berjuang untuk meraihnya, ada juga masa penantian untuk melihat apakah usaha kita berhasil atau tidak. Masa penantian seperti itu terasa menyesakkan karena kita terombang-ambing ketidakpastian. Kala kita menghayati dan menikmati penantian kita, segalanya terasa berjalan sangat pelan, seolah tak bergerak, namun teras sangat manis dalam ketaksabaran dan rasa penasaran.