Jumat, 01 Juli 2016

BUKIT KELONG-BUKIT DOA

Salib Merah di Bukit Kelong

Liburan tahun pelajaran 2015-2016 ini, keluarga besar Santa Ursula BSD melakukan perjalanan ke Menado. Kegiatan ini dilakukan dari hari Selasa, 14 Juni  sampai hari Juamt, 17 Juni 2016. Peserta yang  ikut dalam tour ini adalah TU dan guru  yang bsudah mengabdi minimal 5 tahun ke atas.
Perjalanan kami mulai dari Santa Ursula BSD menuju Bandara Sukarno Hatta pada pukul 3.00 dini hari dengan bis. Keberangkatan kami ke Menado tepat pukul 05.30 dengan pesawat Garuda, flight GA602. Tiba di Bandara Sam Ratulangi pada pukul 09.55 WITA.

Bukit Doa Kelong menjadi tujuan perdana perjalanan wisata kami. Setiba di lokasi peserta mengikuti doa jalan salib menaiki bukit tersebut. Bukit Doa ini terletak di Kabupaten Tomohon, Sulawesi Utara.  Keindahan alam yang berpadu dengan sejuknya udara pegunungan  Tomohon, membuat setiap pengunjung betah untuk berlama-lama ditempat ini. Tak heran jika Bukit Doa Kelong menjadi salah satu tempat wisata religi yang dikunjungi para wisatawan, bukan hanya mereka yang berkepercayaan Katolik saja yang mengunjungi tempat ini.

Sebenarnya Bukit Doa Tomohon tidaklah begitu jauh dari Kota Manado, akan tetapi dikarenakan jalan dari Kota Manado menuju Kota Tomohon yang menanjak dan berbelok-belok, ditambah ruas jalan yang tidak terlalu lebar, membuat pengendara tidak bisa memacu kendaraan dengan cepat dan kami sebagai penumpang agak ser-seran melihat jalan berkelok-kelok.  Melihat jalanan di tenpat ini mengingatkan kita pada jalan di Cadas Pangeran yang mengubungkan Sumedang dan Bandung.
  
Memasuki jalan lingkar Tomohon, kami  disuguhi  nuansa hijau khas pegunungan  dengan daerah perbukitan yang masih asri. Di samping kiri dan kanan jalan yang menuju Tondano ini, kami bisa melihat hamparan sayuran dan taman bunga milik warga Tomohon. Jalan ini memang  akses untuk menuju  objek wisata alam Bukit Doa Tomohon atau yang biasa juga dikenal dengan nama Jalan Salib Mahawu.

Di beberapa titik kami  bisa melihat panorama Kota Manado dengan latar belakang laut dengan hamparan pulau Bunaken, Manado Tua dan Siladen. Menurut Om Boy, pemandu kami, meskipun begitu, tidaklah sulit untuk menuju ke tempat ini. Bagi para pelancong dengan biaya terbatas (backpaker), untuk menuju Bukit Doa Tomohon, dari pusat Kota Manado wisatawan  tinggal naik mikrolet (angkot) jurusan Wanea Samrat untuk menuju ke terminal Karombasan. Begitu tiba di terminal Karombasan, pengunjung bisa mencari bus jurusan Tomohon. Agar tidak tersesat, bicaralah kepada kondektur bahwa kita hendak menuju ke Bukit Doa Tomohon sehingga bisa diturunkan di pangkalan ojek yang siap mengantar kita.

Pemandangan alam yang begitu indah, bersih, sejuk dan tertata dengan rapi, menjadikan Bukit Doa Mahawu, sebutan lain  untuk Bukit Kelong,  bak sebuah magnet yang menarik setiap orang untuk berkunjung ke tempat ini. Atas semua kelebihan yang dimilikinya, tidak mengherankan jika Jalan Salib Mahawu menjadi lokasi perhelatan berbagai macam kegiatan mulai dari tempat wisata alam dan wisata religi umat Kristiani, lokasi out bond, lokasi gathering, tempat berlangsungnya pemberkatan nikah yang kudus hingga menjadi tempat menggelar pesta pernikahan dengan nuansa pesta taman. Namun, harus berhati-hati saat menapaki rute jalan salib terutama pada musim penghujan karena agak licin dengan lumut yang tumbuh di bebatuan sepanjang rute.

Untuk menuju Bukit Doa Tomohon terdapat dua pintu masuk. Pintu masuk pertama, dengan jalan kaki. Biasanya jalan ini dipergunakan bagi umat Katolik yang akan mengikuti Jalan Salib, prosesi untuk mengenang peristiwa sengsara Yesus Kristus. Di tanah yang berkontur berbukit-bukit ini terdapat perhentian-perhentian. Puncak via dolorosa ini adalah Chapel of Mother Mary. Di lokasi di atas bukit ini juga terdapat The Grotto of Mother Mary,  Gua Mahawu,  kafe , dan amphiteater.

Jalan salib kami lewati dengan khidmat, meskipun ada salah satu teman kami pada stasi IV tidak kuat karena kondisi badan yang tidak prima. Ada juga beberapa teman (yang fisiknya tidak memungkinkan) yang langsung menuju resto yang berdekatan dengan lokasi Gua Maria melalui pintu yang lain. Saat kami berada di stasi 12, gerimis mulai datang menjelang. Peserta yang membawa payung dan pelindung kepala lain segera mengeluarkan perbekalannya. Pada stasi 13  mulai deras sehingga pada Makam Yesus di stasai 14 hujan turun bagaikan dicurahkan langit Menado mengguyur kami.

Cukup lama kami menunggu di Makam Yesus hingga hujan agak reda. Beberapa peserta yang membawa pelindung kepala mulai menerobos hujan untuk menuju ke resto yang akan dijadikan titik pertemuan kami untuk makan siang bersama. Para guide mulai mendistribusikan payung secara bergantian untuk menjemput para peserta yang terjebak hujan. Sesudah menyelesaikan doa rosario, saya memutuskan menerobos hujan dengan payung biru yang saya bawa. Sebetulnya saya ingin mampir di Gua Maria sebelum menuju resto, tetapi hujan sangat deras mengguyur. Akhirnya saya terus menuju resto untuk menikmati makan siang kami.

Menu makan siang pertama kami di Menado adalah makanan khas Menado : ada nasi putih (agak ngeletis-belum begitu matang), paniki (kelelawar) dibumbu pedas, sate babi, balado ikan tongkol, rica-rica RW, sup brenebonen (kacang merah), dan kerupuk. Sebagai penutupnya semangka dan pisang.   Menu yang sungguh menantang karena ada lauk yang tergolong extreem food. Semua lauk saya coba sedikit-sedikit, kecuali RW karena saya tahu kapasitas darah saya. Ketika makan paniki, saya merasa kurang cocok karena aromanya yang kurang sesuai untuk saya. Namun, secara umum saya menyukai makan siang ini, terutama sup kacang merahnya yang beraroma rempah begitu terasa.

Usai makan siang, cuaca kembali membaik. Matahari mulai menampakkan diri lagi meski malu-malu. Awan mulai menyibak. Maka tampaklah di hadapan kami  pemandangan alam yang spektakuler tersaji didepan mata. Sambil berjalan di atas rerumputan dan membelakangi perbukitan Mahawu, kami  bisa dengan leluasa melihat pemandangan Gunung Lokon yang menjulang tinggi. Hijaunya perkebunan terpapar di depan mata. Udara segar dengan pemandangan yang menakjubkan akan membuat tubuh terasa seperti  mendapat suntikan energi. Pesona wisata alam ini membuat kami terpesona. Indah sekali, Jo! (Ch. Enung Martina)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar