Kamis, 23 Desember 2010

NAMA BAIK

Saya teringat bahwa pada bulan November 2009 saya pernah membuat catatan tentang kehilangan nama baik. Catatan itu didasarkan pada peristiwa murid saya kelas IX angkatan 2009-2010. Di bawah ini sebagian kutipan yang diambil dari catatan tersebut:
Hari ini, Rabu, 20 November 2009, aku belajar dari seorang anak remaja berusia 14 tahun tentang arti mempertahankan nama baik, tetapi akhirnya justru kehilangan nama baik tersebut. Leo, sebut saja begitu namanya, hari ini mendapat pelajaran berarti dalam hidup dia. Karena dia berusaha menghilangkan jejak agar namanya tidak tercemar untuk suatu kecerobohan dan kesalahan yang dia lakukan, justru namanya menjadi tercemar karena dia sendiri terbelit dengan skenario penyelamatan diri yang dia lakukan yang menurutnya pasti akan berhasil. Dengan skenario yang dia buat untuk mempertahankan nama baik itu, dia mendapat pelajaran dijauhi teman-teman setimnya karena dianggap bebrbuat tidak jujur. Namun, yang aku kagumi remaja putra ini begitu berani melakukannya dan akhirnya mengakuinya.

Saya bercermin untuk diriku sendiri. Saya juga pernah melakukan hal demikian. Saya berusaha mempertahankan sesuatu dalam hidupku, nama baik, materi, pertemanan, atau apa pun. Namun, pada saat kita mempertahankan itu semua, ternyata justru malah kehilangan.

Dengan begitu saya melihat bahwa kalau begitu apa yang ada pada diri kita dan di sekitar kita tidaklah abadi. Apa yang ada pada hari ini, belum tentu ada untuk hari esok. Apa yang hari ini menjadi bagian dari diri kita, bisa saja hari kemudian menghilang. Artinya kita tak mempunyai apa-apa, bahkan nyawa dalam tubuh kita, kita tak memilikinya.

Dengan demikian saya mengatakan pada diri sendiri bahwa semua itu adalah titipan. Apa yang ada pada saya semata-mata karena kehendak-Nya. Pada saatnya, Dia yang mempunyai akan mengambilnya kembali, saya tak bisa menghindar dan mengelak. Ambillah karena semuanya bukan milikku.

Saya pernah merasa kuatir dengan nama baik. Hal ini terjadi ketika nama suami dan anak laki-laki (yang remaja) diungkit dalam suatu kejadian yang menurut saya menjatuhkan nama baik mereka. Saya merasa sakit hati dan kautir kalau mereka nanti namanya akan tercemar. Peristiwanya berkaitan dengan masalah dalam keluarga besar.
Sempat saya berpikir untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya di hadapan keluarga besar. Namun, anak saya yang perempuan mengatakan hal itu tidak perlu karena tidak akan berpengaruh.

Peristiwa itu terjadi 3 hari sebelum saya masuk rumah sakit untuk operasi sesar melahirkan Abhimanyu. Tepatnya hari Jumat, tanggal 16 Juli 2010. Sungguh suatu kejadian yang tak diduga. Perasaan yang dominan saat itu adalah sakit hati. Selama 3 hari itu saya habiskan waktu dengan menangis dan berdoa. Selain sakit hati juga saya kautir dengan nama baik suami dan anak laki-laki saya.

Sesudah berdoa sedikit ada ketenangan dan pencerahan. Saat itu saya hanya berpikir: nama baik bukanlah segalanya. Nama baik tak perlu dibela. Kenyataan yang akan membuktikan seperti apa kualitas seseorang. Kalau seseorang itu memang baik, maka akan terbukti bahwa pribadinya memang baik. Nama baik tidak perlu dibela. Jadi saat itu saya merasa lebih tenang dengan pencerahan itu. Akhirnya saya menuju rumah sakit untuk menghadapi oprasi sesar dengan hati yang tenang.

Peristiwa 3 hari prakelahiran itu sekarang masih saya ingat. Saya masih merasakan bagaimana sesaknya perasaan saya kala itu. Namun, waktu, tangisan, dan juga doa membuat saya bisa lebih jernih melihat semuanya. Akhirnya saya bisa mengatakan saya tidak perlu kuatir dengan nama baik. Biarlah kita lakukan yang baik. Bila ada orang beranggapan bahwa perbuatan itu tak ada artinya biarlah dia beranggapan demikian. Ada yang lebih mengetahui hal yang paling benar. Tidak perlu risau dengan nama baik.

Saya tahu nama baik suami saya dan anak laki-laki saya saat beberapa waktu lalu nampaknya pernah ‘dicemarkan’ dengan cerita ini dan itu di kalangan keluarga besar. Namun, saya akhirnya tahu bahwa tidak semua orang menerima begitu saja cerita tersebut. Ada juga pihak keluarga yang mengkaji dan melihat kenyataannya. Meskipun saya tahu ada juga pihak keluarga yang juga percaya dengan cerita yang dituturkan tentang suami dan anak laki-laki saya.

Saya akhirnya memutuskan untuk berpendirian biarlah orang mempunyai hak untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu. Itu bukan urusan saya, meskipun itu menyangkut nama baik suami juga anak saya. Suami dan anak saya saja yang berhubungan langsung dengan hal ini tidak ambil pusing. Bagi mereka biarlah orang /kerluarga besar beranggapan apa pun, yang penting bagi mereka mereka sudah berlaku benar.

Apa lagi anak saya dia benar-benar tak menghiraukan hal ini. Dia menjalani hidup seperti biasanya: menikmati musik, bermain musik, melayani di gereja, sekolah, mengerjakan tugas sekolah, bercanda, nonton jajan jazz, main game, dll. Tak ada tanda-tanda kuatir dengan nama baiknya. Saya, ibunya, malah belajar dari dia.

Sejak peristiwa itu saya tak pernah terlalu kuatir dengan nama baik dan anggapan orang tentang diri saya dan nama baik saya. Saya hanya peduli apa yang saya lakukan adalah benar di hadapan Allah juga manusia. Kalau kita bertujuan benar dan berlaku benar akhirnya akan terlihat yang mana emas murni dan yang mana imitasi.

Saya kagum dengan anak laki-laki saya (Aga) dan suami saya (Bob) dalam menghadapi masalah nama baik dalam keluarga besar kami. Mereka tenang dan kalem. Tidak banyak bicara, tidak menyatakan reaksi. Tetap adem. Wah… mereka memang hebat! Prinsip mereka: biarkan saja mau bicara apa, yang penting kan kita tidak seperti apa yang dibicarakannya. Nanti juga diam sendiri kalau sudah lelah. Akhirnya juga orang tahu mana yang benar.


(Hari Ibu, 22 Desember 2010)

Rabu, 24 November 2010

BUKAN SEKEDAR BERNIAT BAIK

Niat baik untuk membantu orang lain itu baik, apalagi kalau itu direalisasikan. Namun, tidak semua niat baik itu mendatangkan kebahagiaan kepada seseorang yang akan kita beri kebaikan. Bahkan, bisa sebaliknya, niat baik bisa mendatangkan kecurigaan dan salah penerimaan bagi orang lain.

Nampaknya kita harus berhati-hati dengan niat baik bila kenyataannya menjadi kebalikan dari harapan semula untuk menolong orang lain dan membuat orang lain berkembang. Kala niat baik itu diartikan salah oleh pihak tertentu memang akhirnya menjadi merepotkan.. Namun, tidak berarti kita menyerah untuk tidak melakukan niat baik untuk menolong. Mungkin ini lebih kepada harus lihat pada situasi, kondisi, dan latar belakang orang yang akan ditolong.

Ada kejadian kita berniat baik untuk menolong seseorang, tetapi orang tersebut salah sangka sehingga yang terjadi adalah kerenggangan relasi. Ketika kita berniat baik untuk menolong seseorang kita harus berani untuk menerima apa pun yang terjadi belakangan. Resiko yang diperoleh, mungkin bukan ucapan terima kasih yang didapatkan malah cacian yang kita tuai. Namun, bila memang kita berani menangggung konsekuensi dari niat baik kita, perbuatlah apa yang kita niatkan. Berbuat baik tidak tidak perlu berpikir apa yang kita tuai di belakang hari. Berniat baik aadalah baik. Berbuat baik itu relaisasinya. Sandungan yang didapat ketika usai melakukan perbuatan baik kita, itu namanya resiko.

Seperti apa yang pernah saya ungkapkan dalam renungan tentang Penghargaan bahwa kita melakukan kebaikan bukan untuk mendapat penghargaan. Bila kita memperoleh penghargaan di akhir cerita kebaikan kita, itu namanya bonus. Bila mendapat kritikan, itu namanya membuat kita melihat lagi tentang ketidaksempurnaan kita. Kalau mendapat cacian itu berarti kita harus melihat ulang proses yang kita lakukan, kemungkinan ada yang tak berkenan pada orang tertentu. Bila samapai putus relasi, itu namanya nasib.

Bila sampai putus relasi pengalaman saya adalah: menjauh beberapa jenak untuk melihat segalanya lebih objektif, lebih jernih, tidak emosional, dan lebih berkepala dingin. Jangan mendekat bila membaca namanya saja hati masih panas bergejolak. Menjauh untuk meredakan dan mengendalikan segalanya menjadi lebih baik. Menjauh bukan berarti kita memutuskan.

Orang yang berani menjauh untuk melihat lebih objektif adalah orang yang berani juga untuk terjun ke dalam situasi seburuk apa pun. Orang yang berani menjauh adalah orang yang berani menyelam jauh ke dalam nubari yang terkadang begitu menyakitkan. Orang yang berani menjauh adalah orang yang berani menerima rasa sakit sebagai dasar untuk mengampuni.

Saya sangat tahu hal itu sangat sulit dan tentunya sangat menyakitkan. Karena begitu kita menjauh betapa kita merasa kita ini seperti orang kudisan yang terkucil dan ditelantarkan. Betapa kita menjadi seperti orang yang terdampar di negri yang asing. Terpojok dalam diam yang entah kapan akan berakhir. Terhenyak pada kenyataan bahwa kita tersingkir dan kalah. Celakanya lagi kita juga tak bisa memutuskan apa yang akan dilakukan dan tak tahu kapan semuanya akan berakhir. Itu yang sangat menyiksa.

Resep yang pernah saya lakukan kala saya menjauh adalah: beraktivitas menjalankan kehidupan yang biasa kita jalani. Berdoa lebih banyak dan menangis lebih sering. Rasa sakit yang terasa menusuk itu perlahan hanyut terbawa aliran air mata dan akhirnya dengan perlahan waktu dengan keajaibannya menyembuhkan luka itu. Satu lagi mencari masukan energi positif sebanyak-banyaknya dari bacaan atau dari alam serta orang-orang yang membuat saya kuat.Resep ini terasa manjur. Buktinya saya tetap bertahan hingga saat ini. Hingga akhirnya bila waktunya tiba semuanya akan kembali seimbang.

Enung Martina

Jumat, 12 November 2010

STRATEGI UNTUK MEMIKUL

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan(Yeremia 29:11).

Setiap orang mempunyai salibnya untuk dipikulnya. Karena ada tertulis : barang siapa tidak memikul salibnya sendiri dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi pengikutKu (Luk.14:27
.

Kita tidak diperintahkan untuk memikul salib yang lain, tetapi salib kita sendiri. Salib itu sudah disesuaikan dengan tubuh kita. Dengan pertolongan Allah, kita pasti mampu memikulnya.

Hanya pada saat saya memikul itu terkadang saya sering mengandalkan strategi sendiri. Karenanya saya merasa kelelahan. Saya sering lupa bahwa ada strategi-Nya. Strategi-Nya tak bisa kita tebak.

Untuk menjalani hidup ini pun juga mempunyai strategi. Saya mempunyai bebagai cara untuk bisa meraih tujuan saya. Saya dianugrahi Tuhan dengan akal budi untuk menyiasati hidup. Namun, terkadang saya terlalu percaya diri dengan strategi yang saya buat untuk menghadapi hidup saya sehingga melupakan bahwa ada rancangan Tuhan di atas rancangan dan strategi saya.

Saya mengalami bila strategi yang saya jalankan itu sukses, saya merasa senang dan tentu saja bangga. Namun, kebalikannya bila strategi itu gagal, saya menjadi kecewa dan terkadang bingung.

Tuhan adalah pemain catur yang maha hebat. Strategi Tuhan memang sering susah saya pahami. Sebagai pion, saya menurut saja pada Pengatur Strategi Agung. Tuhan mengarahkan hidup saya dengan berbagai cara maju, mundur, menyamping, atau melompat. Namun, saya percaya bahwa tujuannya satu, yaitu: Untuk menang.

Dengan demikian saya semakin yakin bahwa strategi untuk memikul salib saya adalah juga mengandalkan pada kekuatan-Nya bukan pada kekuatan saya. Dengan mengosongkan kekuatan diri , maka kuasa Tuhan yang luar biasa itu mengalir memenuhi hidup saya. Dengan kekuatan itu, saya dapat melakukan berbagai perkara.

Kekuatan itu disediakan-Nya bagi saya dan Anda yang mengasihi-Nya. Satu penghalang yang menyebabkan kekuatan dan kuasa Allah tidak bekerja dalam diri saya adalah kekuatan saya sendiri. Saya terlalu mengandalkan kekuatan diri saya sendiri. Saya terlalu sombong dan terlalu percaya diri. Akhirnya saya merasa kelelahan dalam perjalanan saya. Semuanya terasa berat dan menjadi beban.

Baiklah, saya akan mengatur strategi untuk supaya saya tidak kelelahan dan energi positif selalu ada dalam diri saya, bahkan bisa mengalir bagi orang lain. Caranya tentu saja dengan hanya mengandalkan diri saya pada kekuatan-Nya dan bukan pada kekuatan diriku saja. Ustadz di mesjid Al Muhajirin dekat rumah saya berkata: Laa haula walaa quwwata illa billahil'aliyyil'adziim
yang terjemahannya kira-kira: Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Tuhan Semesta Alam yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Begitu kata Pak Ustadz. Dan saya setuju sekali dengan perkataannya.
Ch. Enung Martina

Rabu, 27 Oktober 2010

MENANGIS

Pada kala tertentu emosi kita dalam keadaan memuncak, terkadang bentuk pelepasan emosi itu dengan menangis. Tangisan tidak selalu identik dengan kesedihan. Seseorang menangis bisa saja karena penyesalan, marah, bahkan bisa jadi suka cita. Ternyata menurut penelitian, menangis itu mempunyai manfaat yang baik untuk kesehatan jiwa seseorang. Manfaat menangis menurut buku Why Men Don’t Have a Clue adalah:

• Mencuci mata
Air mata mengandung enzim bernama iysozysme yang bisa membunuh bakteri dan menjaga mata dari infeksi.
• Mengurangi stress
Air mata mengandung protein yang bisa membersihkan racun dari tubuh. Selain itu, air mata juga mengandung endhorphin yang bisa mengurangi stress dan rasa sakit. Itu sebabnya kita merasa lega sesudah kita menangis.
• Sinyal emosional
Menangis menjadi tanda kalau kita membutuhkan dukungan emosional. Air mata membuat tubuh menghasilkan hormon axytocin yang membuat orang ingin dipeluk dan disentuh.

Dengan begitu, kita lihat bahwa menangis adalah hal yang manusiawi. Tangisan adalah anugrah dari Tuhan pada mahluk-Nya. Kita juga bisa melihat bahwa peristiwa menangis tercatat juga dalam Kitab Suci. Beberapa peristiwa Al Kitab juga ditandai dengan menangis, bahkan meratap. Mari kita lihat beberapa contohnya.

Dalam Perjanjian Lama dikisahkan Raja Daud menangis karena penyesalannya atas dosanya berselingkuh dengan Betsyeba. Beliau juga menangis dan meratap ketika anak hasil perselingkuhannya itu mati. Dalam Perjanjian Baru, kita membaca beberapa kali Yesus menangis. Antara lain saat sahabat-Nya Lazarus meninggal. Bahkan Yesus menangis sampai mengeluarkan air mata darah saat DIA berdoa di Taman Getsemani ketika menghadapi penderitaan-Nya.

Menangis merupakan hal yang lumrah, wajar, dan manusiawi. Kita mengalami perasaa lega saat selesai menangis. Tentu saja masalah yang kita hadapi tidak selesai dengan hanya memangis. Namun, paling tidak beban perasaan yang membukit sedikit bisa terkikis karena dihanyutkan oleh air mata. Dengan begitu sesudah menangis perasaan bisa lebih ringan dan kita berharap sesudahnya kita bisa menghadapi permasalahan kita dengan hati yang ringan dan pikiran yang dingin. Akhirnya kita bisa menganalisis masalah dengan lebih baik dan tidak emosional.

Jadi saudara-saudari, menagislah kala Anda ingin menangis. Biarlah air mata menghanyutkan beban yang mencekung pundak melalui sedu sedan dan melepaskan rasa yang mendesak sesak melalui isak dan air mata.

O, ya sadar tidak Saudara-Saudari bahwa presidaen kita yang terhormat, Bapak Susilo Bambang Yudoyono alias SBY itu sering sekali menangis. Saya tidak tahu kategori menangis beliau termasuk yang mana. Saya juga jadi terharu karena persiden saya suka menangis. O, Pak SBY mengapa engkau selalu menangis? Apakah itu salah satu kompetensimu untuk membawa negeri ini keluar dari aneka masalah?
Nota:
Pesan khusus untuk Metta, anakku. Tidak usah malu untuk menangis meskipun kamu bukan gadis kecil lagi.

Sabtu, 23 Oktober 2010

PENGHARGAAN

Kita mengetahui, mendengar, memahami, dan juga sering memakai kata PENGHARGAAN. Kata ini merupakan kata berimbuhan yang menyatakan kata benda. ‘Penghargaan’ bermakna sesuatu yang diberikan untuk menghargai seseorang. Penghargaan itu bisa berupa kata-kata pujian juga bisa merupakan barang. Penghargaan diberikan kepada orang yang dianggap layak untuk mendapatkannya dengan kriteria tertentu. Orang yang mendapat penghargaan itu berarti dianggap berharga di depan / bagi orang yang memberikan penghargaan tersebut.

Bagaimana seseorang bisa dianggap berharga dan layak mendapat penghargaan? Jelas, hal itu ada batasan, ada kriteria yang harus dipenuhi sehingga seseorang layak mendapatkan penghargaan. Biasanya kriteria itu umum ada di masyarakat, semisal:orang yang mempunyai karya yang baik, orang yang mempunyai jasa di lingkungannya, orang yang patut diteladani, biasanya orang tersebut bermoral baik, dan tentunya orang ini bisa menjadi inspirasi bagi orang di sekitarnya. Begitu baisanya kriteria umum yang diterapkan pada orang yang layak mendapat penghargaan.

Perlu kita sadari bahwa semua orang sebetulnya berharga. Dapat atau tidak dapat penghargaan, kita tetap berharga. Penghargaan yang diberikan pada seseorang hanya berupa hal yang sifatnya duniawi belaka. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa hal itu bisa mempengaruhi juga hal yang mentali. Namun, baiklah kita memahami bahwa terkadang penghargaan yang diberikan manusia belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Dalam keseharian kita pernah melihat penghargaan yang diberikan pada seseorang sepertinya tidak sesuai dan mengada-ada.

Melihat hal itu, kita biasanya bereaksi dengan cepat. Kita lantas mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi. Kita berpendapat bahwa penghargaan sepertinya tidak diberikan kepada orang yang tepat. Ada yang lebih tepat dan lebih layak mendapatkan penghargaan tersebut. Begitu biasanya kita bereaksi. Kita melihat dari sudut pandang dan pendapat kita. Kita menilai layak dan tidaknya menurut kriteria kita sendiri. Sementara orang lain juga mempunyai pandangan dan juga kriterianya.

Penghargaan bukanlah satu-satunya tujuan utama kita dalam hidup. Penghargaan boleh dikatakan sebagai suatu bonus yang kita peroleh dalam hidup kita. Kita bekerja untuk keluarga tidak mencari penghargaan dari anak atau pasangan kita. Kita bekerja dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab di tempat kerja juga bukan untuk mendapatkan penghargaan. Kalau kita bekerja dengan baik, itu karena memang sudah seharusnya. Kalau kita bekerja sempurna, itu karena kita memang orang yang berkualitas. Kita mempunyai kepribadian yang baik dan moral yang baik. Karena itulah kita melakukan kewajiban kita dengan baik pula.

Sebetulnya tanpa penghargaan kita juga sudah berharga karena kita diciptakan oleh Sang Pencipta sesuai dengan citra-Nya. Karena kita berharga, maka kita juga menghargai diri sendiri juga orang lain. Sebagai pribadi yang berharga maka kita harus tetap bersemangat dan bergembira dalam hidup kita karena seperti apa yang tertulis: Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22).

Karena itu maka marilah kita tetap menyalakan semangat kita untuk menjadi pribadi yang berharga meskipun kita tak mendapatkan penghargaan. Dan bagi orang-orang yang mendapatkan penghargaan, hendaknya tetap menjaga diri agar kita pantas menerima penghargaan itu dan tentunya mampu lebih mengembangkan diri atau minimal tetap mempertahankan kualitas diri yang sudah ada. Selamat kepada Anda yang mendapat penghargaan. Kepada yang tidak mendapat penghargaan (seperti saya) ayo kita bekerja dan belajar agar kita selalu berharga di mata Tuhan dan di mata sesama.

Sanur BSD
Medio oktober 2010

Senin, 27 September 2010

SAAT AKU MENYADARI….

Aku sudah lama tahu bahwa tubuh adalah Bait Allah. Hal itu hanya pengetahuan belaka yang kuamini tanpa aku menyadainya. Aku menyadari bahwa tubuh adalah Bait Allah setelah aku berusia 46 tahun, tepatnya saat aku terbaring tak berdaya di bed rumah sakit bersalin. Saat itu aku baru selesai dioprasi Caesar untuk kelahiran anakku yang ke-3. Untuk hal mendapatkan anak ke-3 sudah kubagikan pada sharing sebelumnya.

Sebelum oprasi aku menjalani serangkaian pemeriksaan lab dan tindakan medis lain yang harus ‘melukai’ bagian badan, seperti menyuntik, memasukkan jarum, memasang infus, dll. Tentunya tindakan itu bukan tindakan yang membuat nyaman. Mungkin aku ini sejenis orang yang takut rumah sakit dengan segala peralatannya.

Tindakan praoprasi itu membuat nervos dan tentu saja sakit, terutama saat penyuntikan obat bius di tulang punggung. Betapa menderitanya: dengan perut besar harus duduk melengkung ke depan dengan memeluk bantal dan sang dokter anestesi dengan sangat profesionalnya memasukan cairan bius itu di tulang punggung. Beliau berpesan: jangan bergerak dan jangan batuk.

Gilaaaa!!! Sakitnya bukan main. Suster di depanku adalah seorang anggota jemaat dari sebuah gereja yang baik. Beliau berkata dengan penuh keibuan dan suara yang menenangkan: Sebut nama Yesus. Beliau berada di depanku sambil memelukku dan memegang bantal yang kupeluk. Sungguh itu sangat membantu. Dan betul, saat jarum suntik yang berukuran poaaannjang itu mencoblos kulitku dan menerobos sela2 tulang punggungku, aku mendesiskan nama Yesus berkali-kali.

Dan saudara-saudari tahu apa yang terjadi sesudah itu? Kakiku kesemutan dan sangat baal. Baal itu merayap ke arah betis, paha, pantat, pinggang, dan perut. Aku dibaringkan di atas meja oprasi. Segeralah lampu sorot yang bentuknya seperti lampu di pesawat dalam film Startec dengan kekuatan seribuan watt itu menyala.

Dokter kandungan bertanya mau disetelkan music apa. Lantas dia bilang karena saya orang Sunda yang tinggal lama di Jogya dan menikah dengan orang Jawa, maka Sang dokter menyetelkan lagu manuk cucakrowo. Manuke-manuke cucakrowo, cucakrowo dawa buntute….

Bayangkan Saudara aku yang nervos karena ini pengalaman pertamaku dioprasi, tak bisa berbuat apa2. Mau mematikan lagu itu dan mengantinya dengan lagu George Groban? Aku yakin mereka tak punya lagu itu. Selain itu aku sudah tak bisa bergerak.


Segeralah tim medis lain memasang tirai untuk menghalangi pemandanganku dari perutku yang akan dioprasi. Sang dokter anestesi ada di samping kananku dan memegang pundakku. Tanganku sudah mereka ikat. Takut aku berontak mungkin. Aku seperti kambing yang dibawa ke pembantaian: tak berdaya. Sang dokter mulai menmegang pundakku. Menepuknya, kemudian mencubitnya. Dan bertanya: sakit? Ya . Aku jawab. Ini namanya sakit kalau dicubit. Lalu ia berpindah menuju perutku yang terpisahkan tirai tadi. Mulai dia mencubiti perutku dan pinggangku. Tentu saja aku tak merasakan sakit. Dia mengguncang2 perutku. Dia Tanya lagi apakah terasa goncangannya. Aku bilang: ya. Dia berkata bahwa selama oprasi berlangsung aku akan sadar dan merasakan goncangan di perut tapi tidak merasa sakit. Aku hanya mengangguk.

Di sebelah kiriku ada monitor yang mendeteksi tekanan darah dan detak jantungku. Aku melihat detak jantungku agak cepat. Saat itu berada di angka 120. Lantas dokter anestesi berkata setengah berbisik: tenang jangan takut. Kalo takut bisa berdoa. Aku mengangguk lagi. Dengan dipandu dokter anestesi aku menghela nafas panjang untuk menenangkan detak jantungku. Akhirnya sesudah nafas panjang beberapa kali, detaknya normal kembali.

Mulailah tim bedah bekerja sama: dokter kandungan, dr anestesi, bidan, perwat 5 orang. Mereka tak henti berbicara ini itu. Dan jangan lupa musik pengiring terus mengalun: ne digoyang ser-ser, aduh enake…

Detik demi detik berlalu. Mulai aku merasakan perutku dibersihkan dengan kapas beralkohol karena aku mencium baunya. Aromanya menyengat. Perutku seperti papan rasanya. Dokter mulai memakai sarung tangan. Mereka mulai mengambil peralatan rupanya. Aku tak melihat peralatan itu. Untung aku tak lihat. Kalo lihat aku pasti shock.

Aku merasakan perutku berguncang-guncang. Tiba-tiba aku melihat ada kepulan asap tipis berasal dari perutku yang ditutup tirai itu. Aku juga mencium aroma daging terbakar. Gile!!!! Perutku mulai dibedah dengan laser. Aku melihat ada tetesan darah sedikit pada sarung tangan dokter yang terangkat sedikit ke atas. Aku penasaran. Mulailah aku iseng ingin melihat apa yang terjadi di balik tirai itu. Suster jemaat yang baik tadi melarangku untuk melongokkan kepalaku ke sana. Ya sudah, aku hanya bisa menebak apa yang sedang dilakukan pada perutku.

Kemudian aku merasakan perutku berguncang lebih heboh. Rupanya mereka mulai mengeluarkan si jabang bayi. Tapi kok agak lama ya…
Rupanya bayiku mencolot sana-sini sehingga merepotkan tim medis untuk menangkap dan mengeluarkannya. Aku mendengar mereka ricuh memberikan komentar dan sang dokter kandungan segera mengeluarkan bayi itu. Nah, segera perawat berlari mengambil lampin dan membungkus bayi merah berlapiskan lendir dan darah itu. Ia menunjukkannya sebentar ke rahku. Aku takjub. Aku hanya terpana dan sedikit senyum di bibir. Lupa, sebaiknya aku harus tersenyum lebar. Tapi… karena aku terpesona jadi aku bengong.

Sesudah itu suster kembali membawa jabang bayi ke ruang lain untuk membersihkannya. Segeralah aku mendengar tangisan melengking dari ruang sebelah. Wow…. Itu tangisan dia, si jabang bayi, anakku. Dia menangis keras. Tangisan pertamanya di dunia. Hirupan pertamanya pada udara dunia yang akan menjadi tempat ia hidup sekian lama waktunya. Aku benar-benar takjub atas kelahiran ini. Aku juga takjub atas 2 kelahiranku yang lain yang sudah lupa rasanya seperti apa.

Sambil berbaring terlintas sedikit kelahiran anakku, Metta: aku merasakan jabang bayi sudah di liang vagina sementara susternya masih menyiapkan peralatan. Aku memanggilnya, malah suster itu bilang: tenang, Bu, masih lama. Aku teriak: Suster, ini udah mau ke luar! Suster itu segera melihat dan benar kepalanya sudah nongol. Baru dia panik. Segeralahdia memanggil temannya dan dokter kandungan… Nah,lo! Siapa yang mau melairkan? Kan aku yang merasakan…

Kelahiran anak lanangku, Aga, lebih heboh karena terasa dari jam setengah sepuluh pagi keluar-keluar jam 12 malam. Untuk menunggu pembukaan sempurna aku membaca novel karya V. Lerstari yang berjudul: Misteri Gaun Merah. Itu novel dibawa suamiku dari penulisnya sendiri. Dokternya sampe heran: ini ibu mau melahirkan ato pindah baca novel. Dan Aga itu keluar jam 12.00, malam Jumat kliwon, tanggal satu suro!! Nah, ampuh tenan untuk jadi dukun!!!

Sementara aku melamun ke masa lalu, bayiku sudah selesai dibersihkan. Suster menunjukkannya lagi padaku dan membawanya ke tempat perawatan bayi. Tim medis mulai merawatku: membersihkan bagian dalam perutku, menjahit bekas pembedahan tadi, membersihkan kotoran pascaoprasi tadi. Selama mereka melakukan tindakan pascaoprasi kantuk pun mulai mnyerangku. Rasanya mengantuuuuk sekali.

Lima jam kemudian, aku baru bisa merasakan kembali bagian tubuhku yang tadi baal. Berawal dari kaki. Mulailah aku gerakkan sedikit-sedikit. Rasanya sangat-sangat tidak nyaman. Dan aku tak boleh minum dulu, kecuali untuk memasukkan obat satu tegukan saja.

Malam pertama setelah dioprasi terbaring dengan perasaan seluruh tubuh sakit, pegal, dan kaku. Tentunya tak bisa bergerak dengan leluasa karena daerah sekitar perut bekas oprasi terasa sakit dan kaku. Rasanya ingin duduk. Tapi belum boleh, apalagi berdiri. Pipis pun lewat kateter.


Hari kedua setelah oprasi baru boleh duduk pelan-pelan. Sesudah itu baru boleh turun, berdiri, dan jalan. Sungguh… rasanya ketika berdiri seluruh saraf berdenyut saking sakitnya. Lantas aku bandingkan dengan cara melahirkan normal. Lima jam pascakelahiran normal, dianjurkan untuk berdiri dan berjalan, serta ke belakang sendiri. Memang segala yang alami jauh lebih baik.

Namun, rasa sakit pascaoprasi itulah yang menyadarkanku tentang konsep bahwa tubuh adalah Bait Allah. Dalam denyut rasa sakitku, aku merasakan bahwa aku adalah mahluk yang berdaging selain berjiwa dan beroh. Rasa sakitku meyadarkanku akan betapa badan kedaginganku ini begitu ringkih dan fana.

Aku merasakan bagian pusat rasa sakitku yaitu pada daerah bekas oprasi yang masih diplester. Aku merasakan tiap saat dia berdenyut. Aku juga merasakan rasa panas dan denyar-denyar saraf yang mungkin sedang proses menyambung kembali. Meski tiap 2x sehari obat anti sakit dijejalkan lewat duburku dan juga segenggam butiran obat yang harus kuminum, tak mampu menawarkan dan menghilangkan rasa sakitku. Selain rasa sakit pada luka oprasi, juga rasa sakit di payudara karena jabang bayi belum menyedot asi dengan sempurna. Rasanya badanku meriang.

Ketika rasa sakit yang kurasakan dan tak bisa tidur itulah, saat aku menyadari betapa aku ini sangat lemah dan terbatas. Betapa tubuh ini sangat berarti. Terlebih kesadaran itu aku rasakan pada saat aku mulai merawat bekas oprasi sesampainya di rumah. Aku mulai memngoleskan ramuan oles tradisional yang disarankan ibuku dan ibu mertuaku (sebelum beliau tiada: semoga damai di sisi-Nya) yaitu: campuran air kapur sirih, air jeruk nipis, dan kayu putih. Semuanya dicampur dan dioleskan di sekitar perut dan pinggang. Selain hangat juga membuat jaringan kulit yang kisut jadi kencang dan mempercepat proses pengecilan rahim. Begitu menurut para pini sepuh. Ya… sudah aku ikuti karean aku anak yang baik. Dan… memang aku merasakan khasiatnya.

Nah, saat oles mengoles, pijat memijat, dan elus mengelus bagian perut dan pinggang itulah aku menghayati bahwa tubuh itu Bait Allah. Aku melihat proses luka bekas oprasi mengering, merasakan setiap denyar saraf, mengecilnya rahim, dan mengempesnya perut. Dalam ketelajanjanganku aku melihat bahwa aku dipercaya menjadi seorang perempuan. Aku punya rahim.
Aku dianugrahi untuk merasakan pengalaman semua: Hamil, melahirkan, mempunyai anak!!! Itu luar biasa!!!

Saat seperti ini aku sering memikirkan betapa banyak perempuan di dunia ini. Namun, berapa banyakkah yang menyadari bahwa dirinya sebagai perempuan itu sungguh luar biasa. Bahkan ada beberapa perempuan yang entah karena terpaksa atau karena keinginan dagingnya melecehkan tubuhnya. Aku melihat betapa organ tubuh perempuan yang satu itu bisa dijadikan berkat kehidupan sekaligus untuk jatuh ke dalam lubang dosa. Betapa banyak perempuan yang tak menyadarinya. Beberapa hanya menganggap tubuh ya… sudah memang tubuh. Dari sononya emang begitu. Hakku untuk melakukan apa pun terhadap tubuhku sendiri. Mau begadang, diet terlalu ketat, makan sesuka hati, mendandaninya, menyakitinya, menjualnya, menyewakannya, atau apalah yang dilakukan (hal buruk) oleh perempuan terhadap tubuhnya. Terkadang kita tak menyadari bahwa tubuh ini berasal dari Allah tempat roh berada. Tanpa tubuh, roh tak mungkin berdiam. Tubuh adalah rumah bagi roh.

Berbaring di meja oprasi, merintih karena rasa sakit luka oprasi, merawat tubuh selama masa nifas, semua itu membuat aku bersyukur atas tubuh ini. Ini adalah tubuh yang pas untuk rohku berdiam. Aku berusaha untuk merawatnya dengan baik. Aku tak boleh lagi sembarangan menggunakan tubuh ini dengan: kerja yang tak tahu waktu, makan yang tak beraturan, pola makan salah, berpakaian yang tak pantas, menyakiti diri sendiri. Selain itu juga aku belajar menghargai orang lain yang juga punya tubuh dan roh.

Begitu besar kasih karunia-Nya melalui kehamilan dan kelahiran ini. Selain berkat indah berupa seorang anak, juga penyadaran diri akan nilai-nilai hidup yang selama ini aku tak menyadarinya atau tak mengindahkannya. Terima kasih Tuhan untuk segala hal yang telah terjadi. Terpujilah Allah dengan segala keagungan-Nya.

(Teh Nung yang mengetik sambil menunggu bayinya yang sedang tidur)

Jumat, 10 September 2010

LIBURAN TELAH USAI

Sudah setahun aku terbiasa dengan ketakberadaannya secara fisik di rumah ini, ternyata ketika ia kembali ke rumah ini suasana berubah menjadi kembali ramai dan heboh. Rumah terasa lebih ribut dan sibuk. Ada saja bahan pembicaraan dari hal-hal sepele hingga hal-hal menyangkut kehidupan dan masa depannya.
Sebulan ia berada di rumah ini untuk berlibur (libur musim panas). Waktu sebulan begitu cepat berlalu, ternyata sudah tiba saatnya untuk dia kembali ke kampusnya, ke asramanya, kepada teman-temannya, ke kehidupan nyata dia yang sedang dijalaninya.
Kembali ia meninggalkan rumah ini dengan doa seluruh keluarga, dengan air mata, dengan seribu pesan, dan juga harapan. Dan hatiku masih sama : gundah dan berdarah ketika ia kembali harus meninggalkan rumah ini. Meski setahun aku sudah merasakan dan membiasakan diri untuk menyadari ketakberadaannya secara fisik di rumah ini, tetap saja aku belum terbiasa dengan kepergiannya kembali. Barangkali akan terus seperti itu.
Kala aku mengingat masa dia bocah, aku memeluk, menggendong, dan memilikinya.
Kini di tanganku sekarang ada juga orok lain yang aku peluk dan aku dekap seperti aku mendejap dan memeluknya.
Ketika aku memandang dia yang sudah tumbuh menjadi gadis berusia 19 tahun, aku tetap merasakan kasih yang mengalir dari hatiku seperti kala dia masih orok. Dengan telaten ia mengasuh adik bayinya. Setiap ada kesempatan dia akan mencium pipi montok adik bayinya dengan penuh kegemasan. Setiap saat adiknya mengencinginya, ia akan tetap berteriak. Hingga kembali ia kembali ke asramanya, ia tetap tak berani untuk membersihkan adik bayinya saat berak.
Itulah anak perempuanku, Metta, yang baru pulang berlibur dan sekarang sudah kembali ke kehidupan kampusnya yang jauh dari bau ompol dan bau bedak adiknya. Aku yakin ia akan merindukan bau khas dari adik bayinya : yaitu perpaduan antara bau minyak telon, bedak, shampoo bayi, bau asam susu, dan bau ompolnya. Itu adalah bau yang khas yang sukar ditemukan. Bau itu yang membawa dia akan selalu merindukan adik bayinya. Demikian juga hawa dan debu rumah kmi yang mungil akan tetap ia rindukan sehingga ia akan selalu pulang entah seberapa jauh ia pergi merantau.
Dan aku, ibunya, akan tetap merindukannya dari waktu ke waktu. Menunggu lagi kapan liburan akan terjadi dan dia bisa kembali pulang ke rumah ini dengan sejuta cerita yang mengisahkan hidupnya di luar sana. Aku selalu bangga menjadi ibunya. Aku selalu yakin bekal yang aku berikan selama ini cukup untuk melalui sejuta tantangan dalam hidupnya. Doa yang aku daraskan tak pernah putus akan terus menghubungkan aku, dia, dan juga Sang Pencipta. Aku tahu dari ceritanya tantangan macam apa yang dia hadapi. Aku akan lagi mengalami perasaan ditinggalkan oleh anakku yang kedua ketika tiba waktunya untuk mengembara di luar sana mendapatkan hidup yang sudah digariskan Ilahi. Demikian juga dengan anakku yang ketiga yang sekarang masih bayi berusia 52 hari. Suatu hari nanti dia akan juga pergi meninggalkan rumah untuk merenda hidupnya. Begitulah hidup, segalanya terus berubah dari waktu ke waktu. Tak ada yang abadi.

Lebaran ke-2 (11 September 2010)