Kamis, 13 Januari 2011

KARYA PERTAMA TAHUN INI

Tahun 2011 sudah datang. Aku masih sibuk dengan hal-hal yang keseharian dilakukan sebagai seorang guru dan seorang ibu. Untuk duduk sejenak menuliskan sedikit kalimat yang bisa dibagikan pun terasa sangat sulit. Baru hari ini Senin, 10 Januari 2011, saya bisa mencuri waktu untuk bisa menuliskan sesuatu untuk penyemangat pada awal tahun ini.

Saya tercenung ketika tanggal 1 Januari 2011 anak perempuan saya bertanya kepada saya: Apa resolusi Ibu pada tahun 2011?
Saya bisa saja membuat hal yang muluk untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya bisa merencanakan yang terinci untuk menuraikannya. Namun, pertanyaan tersebut tidak memerlukan hal yang demikian. Pertanyaan itu hanya memerlukan waktu beberapa jenak untuk merenungkannya dan yang paling penting bagaimana aku bisa melaksanakan apa yang menjadi resolusiku.

Baiklah, aku akan tuliskan resolusi sederhanaku untuk tahun 2011, meski saya tahu yang sederhana ini pun perlu perjuangan untuk konsisten melakukannya. Aku membaginya menjadi tiga sesuai peranku, yaitu sebagai istridan ibu, sebagai guru, dan sebagai diriku sendiri.
Pertama sebagai istri dan ibu dalam keluarga: Aku tahu ini peran yang gampang-gampang susah. Aku ingin menambahkan sepersekian pada tingkat kesabaranku. Rupanya untuk menjadi orang yang sabar memerlukan perjuangan. Aku paling tidak sabar ketika harus membangunkan anak laki-lakiku pagi hari karena tidurnya sangat kebluk. Ketika membangunkan harus disertai dengan omelan panjang pendek. Pada hal yang lain pun tingkat kesabaran perlu ditambahkan. Aku juga akan lebih berjuang untuk tidak mudah mengeluarkan keluhan yang berujung dengan omelan tentunya. Aku tahu persis bila hal ini aku lakukan maka semuanya akan berjalan dengan baik.

Kedua diriku sebagai seorang guru. Menjadi guru selalu belajar setiap hari. Karena itu, aku membaginya menjadi empat hal, yaitu: 1) meningkatkan ketrampilan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Mendengarkan meliputi aku sebagai guru memperhatikan apa yang dikatakan muridku dengan sepenuh hati. Mendengarkan pada saat atasan dan rekan kerja berbicara kepadaku dengan sepenuh hati. Mendengarkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menambah wawasanku sebagai seorang pendidik. Termasuk juga mendengarkan hati kecil sendiri. Ketrampilan ini sungguh sangat tidak mudah untuk dilakukan. 2) Berbicara dengan baik itu hal yang kedua. Sebagai guru terkadang aku berbicara belum teratur dengan baik. Berbicara yang baik dengan memperhatikan kaidah berbahasa,keruntutan, kualitas isi, sopan-santun, volume suara, artikulasi, diksi (pilihan kata) yang tepat, intonasi yang sesuai, juga ekspresi. Bila seorang guru bisa berbicara dengan memperhatikan itu semua, niscaya pengajaran akan sangat menarik. Aku masih jauh dari itu. Karenanya, aku akan berusaha untuk melakukan hal ini meskipun tidak mudah. 3) Kebiasaan membaca, itu adalah hal yang ketiga yang menjadi perjuangan saya. Sebagai seorang guru membaca merupakan kebutuhan untuk menginput pengetahuan dan informasi yang akan memperkaya wawasanku yang sangat berguna dalam proses pengajaran di kelas. Dengan kondisiku yang mempunyai seorang bayi lagi, membaca dibutuhkan perjuangan agar bisa terlaksana. 4) keempat berkaotan dengan tulis-menulis. Aku akan bagi menjadi menulis (tulisan tangan) dan membuat karangan (karya tulis). Seperti yang banyadiketahui umum bahwa tulisan tangan saya biasa-biasa saja. Tidak terlalu buruk, tetapi juga tidak tergolong bagus. Hal ini diperkarakan karena ada kaitannya dengan menulis di depan kelas. Kalau aku menulis di depan kelas seringnya tidak beraturan/tidak sistematis. Karena itu aku akan berusaha menulis dengan baik (sistematis dan jelas bisa dibaca dan dipahami siswa. Menulis karya itu merupakan hal yang aku coba untuk membiasakannya. Meskipun karya tulisanku tidak spektakuler, tetapi ada juga karya yang sudah dipublikasikan. Aku akan mencoba minimalnya menulis uneg-uneg atau kereteg hate yang bisa dibahasakan secara tertulis. Hal ini penting buatku untuk bisa menata pikiran dan gagasan dalam bentuk bahasa tulis. Berharap bisa mndapatkan nilai kedisiplinan diri dari kegiatan ini.

Ketiga diriku sebagai diri sendiri. Mengingat bahwa aku ini bagian dari smesta ini, tentunya aku juga tak bisa lepas dari Pencipta semesta. Karena itu, maka sebagai mahluk aku akan meningkatkan hubunganku dengan Sang Pencipta. Sebagai bagian dari mahluk bumi, paling tidak sedikit memberikan andil untuk planet tempat aku hidup dengan memelihara tumbuhan yang ada di halamanku. Sebagai mahluk sosial, aku pun berusaha untuk memelihara relasi dengan sesamaku. Keluarga sebagai tempat utama kita hidup merupakan hal yang pertama yang menjadi prioritas. Apalagi karena aku sekarang mendapat tugas lagi untuk membesarkan titipan-Nya, jelas tugas itu tidak boleh aku abaikan. Memelihara relasi dengan teman-teman di tempat bekerja, di lingkungan rumah, lingkungan gereja, dan di sekitar tempat aku berada.

Begitu kira-kira niatanku di tahun ini. Aku tahu bahwa hari-hari akan terus berganti dan aku akan tetap menjalaninya dengan rutinitas yang biasa kujalani. Namun, di balik kerutinan itu, aku tetap berusaha memelihara semangat dan menjaganya agar tetap menyala. Berharap bahwa nyala tersebut akan juga mempengaruhi orang lain yang ada di sekitarku, minimal keluargaku.
Ayo kita lakukan tugas dan kewajiban kita dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran serta semangat dalam jiwa kita.

(Enung Martina)

Kamis, 30 Desember 2010

CERPEN

JENDELA
Oleh Ch. Enung Martina

Setiap saat jendela itu terbuka pada jam lima pagi dan tertutup lagi pada jam enam petang. Jendela itu berada di lantai dua sebuah rumah bercat putih. Ada pohon sirsak yang menjorok ke arah samping kiri jendela dan ada pohon tanjung ke sebelah kanannya. Panorama tepat di hadapannya adalah tanah lapang yang ditumbuhi rumput dan belukar. Dari kejauhan genting berwarna merah kecoklatan berderet dari kompleks perumahan di dekatnya.

Sesekali terlihat sosok orang yang melongokkan kepala dari jendela itu. Bergantian orang yang melongok di jendela itu; seorang perempuan paruh baya, seorang remaja putra tanggung, seorang lelaki berambut gondrong, dan seorang remaja putri. Namun, kadang ada dua kepala yang melongok dari jendela itu. Sepertinya setiap kepala yang melongok di jendela itu asyik memperhatikan pemanadangan yang terhampar di hadapannya.

Tampaknya sampai jauh malam gorden belum ditutup oleh pemilik rumah itu. Terkadang masih terlihat gorden itu tak ditutup sampai jendela itu dibuka kembali. Mungkin pemiliknya lupa atau mungkin sengaja. Cahaya lampu yang membias dari kaca jendela itu terang sepertinya berasal dari lampu neon. Tak ada yang bisa dilihat lagi dari jendela itu selain orang yang melongokkan kepala dan cahaya lampu kala malam yang terpancar dari ruangan lantai dua itu.

Jendela itu tak banyak berbicara tentang penghuni di dalam rumah itu. Tak banyak informasi yang disampaikan oleh jendela itu. Aku menjadi pengamat jendela itu sudah lima bulan sejak kepindahanku ke rumah baruku di kompleks sebuah perumahan yang sekarang menjadi rumahku. Kamarku kebetulan ada di lantai dua. Ada jendela di kamarku, tetapi jendelanya mati, tak bisa dibuka atau ditutup. Sepertinya sengaja dimatikan oleh penghuni lama karena AC dipasang di ruangan itu. Karena terbuat dari kaca, aku bisa leluasa melihat ke luar dari balik kaca jendelaku.

Rumah tua itu berada tepat di belakang rumahku yang letaknya di kompleks perumahan. Rumah itu tidak berada dalam komplek. Sepertinya ia dibangun tersendiri oleh pemiliknya. Pekarangannya cukup luas jika dibandingkan dengan pekaranan rumahku. Ada kebun kecil yang ditanami aneka pohon sebagai peneduh; nangka, belimbing wuluh, belimbing buah, srikaya. sirsak, jambu batu, jeruk nipis, kantil, dan tanjung. Rumah itu nampak teduh dengan naungan berbagai pohon yang sudah cukup besar. Rumahnya tidak terlalu besar, bahkan bisa dibilang kecil.

Tak ada jalan yang menghubungkan rumahku dengan rumah itu, kecuali harus memutar jauh ke depan komplek, keluar dulu dan menyusuri jalan raya, baru berbelok ke kiri menuju jalan kampung kira-kira tiga kilo meter. Itu kata pembantuku yang berasal dari kampung sekitar komplek rumahku. Aku sendiri belum mencoba berpetualang untuk mengunjungi rumah itu.

Aku penasaran dengan rumah itu karena rumah itu begitu asri dan hidup. Kadang terdengar suara kendaraan yang datang an pergi di gang yang menuju rumah itu. Tak banyak tetangga dekat rumah itu, hanya ada dua rumah di sebelah kanannya dan di belakannya ada warung tegal dan warung kelontong. Rumah itu tepatnya menghadap ke barat, ke tembok pembatas koplek perumahannku. Di sebelah kirinya tanah lapang yang dibiarkan ditumbuhi rumput liar dan belukar.

Jendela yang kuceritakan di atas berada di sebelah kiri rumah itu. Sebetulnya ada dua jendela lain yang persis menghadap ke barat, hanya tidak kelihatan karena tertutup dengan rimbunnya pepohonan. Pintu utama di lantai satu menghadap ke barat juga, menghadap tembok pembatas. Tembok pembatas itu sepertinya sudah tidak kelihatan lagi karena aneka tanaman menutupinya. Dari jendela rumahku ini tak kelihatan karena aneka tanaman menyamarkannya.Namun, suara orang tertawa dan berbicara serta anjing yang menggonggong kerap terdengar. Bahkan sepertinya di bawah keridangan pohon dekat tembok pembatas itu ada bangku untuk duduk-duduk. Kerap juga tercium asap rokok para pria yang kongko di bangku itu.

Aku tertarik pada jendela sebelah kiri di lantai dua itu karena aku bisa mengintip aktivitas penghuninya yang kerap melongokkan kepala mereka dari jendela itu. aku jadi tahu sepertinya rumah itu dihuni oleh empat orang; ayah yang berambut gondrong, ibu perempuan separuh baya, anak remaja putri, dan anak remaja putra. Secara resmi aku belum berkenalan dengan keluarga pemilik rumah itu, tetapi sepertinya aku sudah mengenal sedikit-banyak mereka dari jendela dan suara-suara yang kudengar dari balik tembok pembatas komplek. Bahkan aku merasa lebih mengenal tetangga jauh di belakang komplekku daripada tetangga kiri kanan di dalam komplekku.

Keluarga yang rumahnya dekat, tetapi tak terjangkau itu mengingatkanku pada keluarga bahagia. Keluarga yang belum pernah kumiliki. Aku seorang perempuan berusia 38 tahun, sudah menikah, tidak dikarunia anak karena kandunganku dua-duanya sudah diangkat. Suamiku bekerja pada perusahaan pelayaran asing yang dua minggu dalam sebulan berangkat berlayar. Bila suamiku pergi aku sendirian hanya ditemani seekor anjing dan seorang pembantu. Aku juga bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang properti. Ayah ibuku bercerai ketika aku SMP. Aku tinggal bersama kakek-nenek di Ungaran. Ibuku di Medan ikut suaminya, ayahku di Jakarta dengan istri dan anak-anak tirinya dan juga anak-anak dari hasil perkawinan mereka, berarti adik-adik seayahku.Karena itulah jendela itu mengingatkanku pada gambaran keluarga utuh dan bahagia seperti iklan layanan masyarakat Keluarga Brencana.

Aku menjadi betah tinggal di ruamhku sendiri bila memandang jendela itu. Ada perasaan bahagia yang bisa aku serap dari sana. Seolah jendela itu memancarkan energi cinta dari orang-orang yang berada di dalamnya. Aku jadi ingin punya anak yang bisa aku cintai. Anak kandung? Itu mustahil. Karena itu aku bertekad akan memberanikan diri minta pada Ray, suamiku untuk mempertimbangkan mengambil anak. Mengadopsi anak? Pikiran gila dari mana itu? Gara-gara aku terlalu larut memandang jendela itu, pikiranku jadi ngelantur.

Namun, anehnya waktu Ray pulang, aku mencoba membicarakan ide gilaku itu. Aku kira dia bakal menertawakanku. Malah ia berbalik memelukku begitu mesra. Apa lagi ini? Hingga larut malam kami berbicara tentang ide itu. Berbagai cara, tempat, dan orang yang bisa membantu proses itu kami bicarakan. Kasihan Ray, lelakiku satu ini. Ia tak bisa menunjukkan pada dunia tentang betapa hebatnya dia dengan menghamili istrinya. Aku juga heran kenapa ia mau dengan aku perempuan mandul yang rahimnya sudah tak ada artinya ini. Barangkali ia mencintaiku? Entahlah…Tapi ia tak pernah mengucapkan kata-kata cinta kepadaku. Tidak seperti Ari kekasihku yang dulu yang kepadanya kuserahkan seluruh jiwa ragaku. Ia selalu mengucapkan kata-kata cinta yang sangat memabukkan hingga tak kutahu bahwa aku sudah jatuh dalam perangkap pesonanya. Betapa gobloknya aku diperdaya dia! Hingga akhirnya kutahu bahwa ia pergi membawa hatiku yang terkoyak bersama seorang gadis pilihannya yang lain untuk mengarungi biduk perkawinan mereka di negri jiran, Malaysia.

Ray kembali berlayar. Sebualan lagi ia baru pulang. Tekad kami sudah bulat untuk mengadopsi anak. Ketika aku tanya kiri kanan tentang niatku ini, ternyata banyak pihak yang mendukung. Salah satu teman kantorku memperkenalkanku pada seorang biarawati Katolik di gerejanya yang bertugas mengelola panti asuhan.

Setiap sore aku mematung memandang jendela itu. Rasanya gambaran mempunyai seorang anak segera berkelebat dalam hayalku. Jendela itu memberiku inspirasi lain untuk mengambil anak perempuan saja. Ray mau anak perempuan. Aku mau anak laki-laki. Ray bilang anak laki-laki suka nakal nanti aku kewalahan. Memangnya anak perempuan nggak bikin pusing juga? Menurut pengamatan dan pendengaran dari cerita teman-teman kantor katanya anak perempuan dan laki-laki sama saja. Aku mau ambil anak perempuan biar Ray senang. Ia kan sudah mendukungku.

Sore ini ada yang lain. Hari cerah begini, mengapa jendela itu tidak buka? Apakah orangnya pergi ke luar kota? Tak mungkin ini kan bukan musim liburan. Kenapa lampu dari dalam rumah belum dinyalakan, padahal sudah remang-remang begini? Sepertinya penghuninya tak ada. Senyap. Aku melongokkan kepalaku untuk melihat keadaan rumah itu. Tak banyak menolong karena tak bisa mendapatkan informasi yang akurat. Niatku untuk mencari inspirasi mencari nama untuk calon anakku jadi kuurungkan.
Hari ini kuputuskan untuk mengunjungi tetangga belakang rumahku. Ini hari Sabtu, aku libur. Aku mengajak Yunah, pembantuku. Kami sengaja naik ojek yang beroprasi ke jalur itu. Agak sukar menanyakan siapa pemilik rumah itu karena aku tak tahu siapa keluarga ini. Dengan berbekal petunjuk letak rumah, tukang ojek akhirnya berhasil membawa kami ke rumah itu. Mengapa sepi? Sepertinya tidak seramai dan sehangat seperti yang kudengar dari balik tembok pembatas. Siang begini kenapa lampu teras masih menyala? Kenapa anjingnya tidak mengonggong?

Aku ketuk-ketuk pagar rumah itu. Tak ada sahutan. Sepertinya rumah ini kosong. Aku coba sekali lagi. sia-sia. Akhirnya Yunah menanyakan ke tetangga sebelah kanan yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah itu. seorang ibu kira-kira berumur 60 tahun menghampiriku dengan tersenyum.
“ Ibu siapanya pak Ridwan?” Ia bertanya.
“ Saya familinya,” aku berbohong. Namanya Ridwan. Baru aku tahu sekarang.
“Pak Ridwan nggak ngasih khabar kalo mau pindah?”
“O, jadi pindah.”
“ Betul, Bu. kembali ke Tasik karena Pak Ridwan baru kena PHK,”
“Kembali ke sini lagi?’
“Sepertinya tidak, rumahnya sudah terjual.”

Sejak itu aku tak pernah lagi melihat jendela di sebelah kiri rumah itu terbuka dari jam 5 pagi sampai jam 6 petang. Juga tak terlihat kepala-kepala yang melongok dari jendela itu memandang ke luar. Gongongan anjing dan suara-suara tawa dan obrolan pun menghilang. Yang terdengar hanya sesekali suara mobil keluar masuk dan pintu pagar dibuka-tutup. Sepi semakin menggelayut di sekitarku. Sepi itu semakin menukik masuk ke relung hatiku. Aku sungguh terlambat untuk mengenal mereka, keluarga Ridwan yang menginspirasiku tentang arti keluarga.

Akan kuusir kesepianku dengan menghadirkan suara tawa dan tangis di rumah ini. Aku jadi tak sabar menantikan Ray pulang. Seminggu lagi ia akan pulang. Aku tak pernah melongokkan kepalaku ke arah jendela itu lagi karena sekarang tak pernah terbuka. Terbersit harapan untuk keluarga kecilku yang akan kubangun dengan calon anakku dan Ray suamiku, menjadi keluarga bahagia seperti keluarga Pak Ridwan. Siapakah istri dan anak-anaknya? Sungguh terlambat aku mengenal mereka. Namun, biarlah doaku untuk keberhasilan dan kebahagiaan keluarga Ridwan yang sudah mendatangkan gambaran manis padaku tentang makna keluarga. Aku juga bertekad akan membangun keluarga Raymondus Hartono dan Irene Shantika serta anak (mungkin juga anak-anak) menjadi keluarga bahagia. Bahagia? Siapa takut!


Sepong, 30 Desember 2010
untuk Metta yang berulang tahun hari ini. Karena kita terkadang ingin tahu apa di balik jendela orang lain. Salam Penuh cinta dari IBU.


Kamis, 23 Desember 2010

NAMA BAIK

Saya teringat bahwa pada bulan November 2009 saya pernah membuat catatan tentang kehilangan nama baik. Catatan itu didasarkan pada peristiwa murid saya kelas IX angkatan 2009-2010. Di bawah ini sebagian kutipan yang diambil dari catatan tersebut:
Hari ini, Rabu, 20 November 2009, aku belajar dari seorang anak remaja berusia 14 tahun tentang arti mempertahankan nama baik, tetapi akhirnya justru kehilangan nama baik tersebut. Leo, sebut saja begitu namanya, hari ini mendapat pelajaran berarti dalam hidup dia. Karena dia berusaha menghilangkan jejak agar namanya tidak tercemar untuk suatu kecerobohan dan kesalahan yang dia lakukan, justru namanya menjadi tercemar karena dia sendiri terbelit dengan skenario penyelamatan diri yang dia lakukan yang menurutnya pasti akan berhasil. Dengan skenario yang dia buat untuk mempertahankan nama baik itu, dia mendapat pelajaran dijauhi teman-teman setimnya karena dianggap bebrbuat tidak jujur. Namun, yang aku kagumi remaja putra ini begitu berani melakukannya dan akhirnya mengakuinya.

Saya bercermin untuk diriku sendiri. Saya juga pernah melakukan hal demikian. Saya berusaha mempertahankan sesuatu dalam hidupku, nama baik, materi, pertemanan, atau apa pun. Namun, pada saat kita mempertahankan itu semua, ternyata justru malah kehilangan.

Dengan begitu saya melihat bahwa kalau begitu apa yang ada pada diri kita dan di sekitar kita tidaklah abadi. Apa yang ada pada hari ini, belum tentu ada untuk hari esok. Apa yang hari ini menjadi bagian dari diri kita, bisa saja hari kemudian menghilang. Artinya kita tak mempunyai apa-apa, bahkan nyawa dalam tubuh kita, kita tak memilikinya.

Dengan demikian saya mengatakan pada diri sendiri bahwa semua itu adalah titipan. Apa yang ada pada saya semata-mata karena kehendak-Nya. Pada saatnya, Dia yang mempunyai akan mengambilnya kembali, saya tak bisa menghindar dan mengelak. Ambillah karena semuanya bukan milikku.

Saya pernah merasa kuatir dengan nama baik. Hal ini terjadi ketika nama suami dan anak laki-laki (yang remaja) diungkit dalam suatu kejadian yang menurut saya menjatuhkan nama baik mereka. Saya merasa sakit hati dan kautir kalau mereka nanti namanya akan tercemar. Peristiwanya berkaitan dengan masalah dalam keluarga besar.
Sempat saya berpikir untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya di hadapan keluarga besar. Namun, anak saya yang perempuan mengatakan hal itu tidak perlu karena tidak akan berpengaruh.

Peristiwa itu terjadi 3 hari sebelum saya masuk rumah sakit untuk operasi sesar melahirkan Abhimanyu. Tepatnya hari Jumat, tanggal 16 Juli 2010. Sungguh suatu kejadian yang tak diduga. Perasaan yang dominan saat itu adalah sakit hati. Selama 3 hari itu saya habiskan waktu dengan menangis dan berdoa. Selain sakit hati juga saya kautir dengan nama baik suami dan anak laki-laki saya.

Sesudah berdoa sedikit ada ketenangan dan pencerahan. Saat itu saya hanya berpikir: nama baik bukanlah segalanya. Nama baik tak perlu dibela. Kenyataan yang akan membuktikan seperti apa kualitas seseorang. Kalau seseorang itu memang baik, maka akan terbukti bahwa pribadinya memang baik. Nama baik tidak perlu dibela. Jadi saat itu saya merasa lebih tenang dengan pencerahan itu. Akhirnya saya menuju rumah sakit untuk menghadapi oprasi sesar dengan hati yang tenang.

Peristiwa 3 hari prakelahiran itu sekarang masih saya ingat. Saya masih merasakan bagaimana sesaknya perasaan saya kala itu. Namun, waktu, tangisan, dan juga doa membuat saya bisa lebih jernih melihat semuanya. Akhirnya saya bisa mengatakan saya tidak perlu kuatir dengan nama baik. Biarlah kita lakukan yang baik. Bila ada orang beranggapan bahwa perbuatan itu tak ada artinya biarlah dia beranggapan demikian. Ada yang lebih mengetahui hal yang paling benar. Tidak perlu risau dengan nama baik.

Saya tahu nama baik suami saya dan anak laki-laki saya saat beberapa waktu lalu nampaknya pernah ‘dicemarkan’ dengan cerita ini dan itu di kalangan keluarga besar. Namun, saya akhirnya tahu bahwa tidak semua orang menerima begitu saja cerita tersebut. Ada juga pihak keluarga yang mengkaji dan melihat kenyataannya. Meskipun saya tahu ada juga pihak keluarga yang juga percaya dengan cerita yang dituturkan tentang suami dan anak laki-laki saya.

Saya akhirnya memutuskan untuk berpendirian biarlah orang mempunyai hak untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu. Itu bukan urusan saya, meskipun itu menyangkut nama baik suami juga anak saya. Suami dan anak saya saja yang berhubungan langsung dengan hal ini tidak ambil pusing. Bagi mereka biarlah orang /kerluarga besar beranggapan apa pun, yang penting bagi mereka mereka sudah berlaku benar.

Apa lagi anak saya dia benar-benar tak menghiraukan hal ini. Dia menjalani hidup seperti biasanya: menikmati musik, bermain musik, melayani di gereja, sekolah, mengerjakan tugas sekolah, bercanda, nonton jajan jazz, main game, dll. Tak ada tanda-tanda kuatir dengan nama baiknya. Saya, ibunya, malah belajar dari dia.

Sejak peristiwa itu saya tak pernah terlalu kuatir dengan nama baik dan anggapan orang tentang diri saya dan nama baik saya. Saya hanya peduli apa yang saya lakukan adalah benar di hadapan Allah juga manusia. Kalau kita bertujuan benar dan berlaku benar akhirnya akan terlihat yang mana emas murni dan yang mana imitasi.

Saya kagum dengan anak laki-laki saya (Aga) dan suami saya (Bob) dalam menghadapi masalah nama baik dalam keluarga besar kami. Mereka tenang dan kalem. Tidak banyak bicara, tidak menyatakan reaksi. Tetap adem. Wah… mereka memang hebat! Prinsip mereka: biarkan saja mau bicara apa, yang penting kan kita tidak seperti apa yang dibicarakannya. Nanti juga diam sendiri kalau sudah lelah. Akhirnya juga orang tahu mana yang benar.


(Hari Ibu, 22 Desember 2010)

Rabu, 24 November 2010

BUKAN SEKEDAR BERNIAT BAIK

Niat baik untuk membantu orang lain itu baik, apalagi kalau itu direalisasikan. Namun, tidak semua niat baik itu mendatangkan kebahagiaan kepada seseorang yang akan kita beri kebaikan. Bahkan, bisa sebaliknya, niat baik bisa mendatangkan kecurigaan dan salah penerimaan bagi orang lain.

Nampaknya kita harus berhati-hati dengan niat baik bila kenyataannya menjadi kebalikan dari harapan semula untuk menolong orang lain dan membuat orang lain berkembang. Kala niat baik itu diartikan salah oleh pihak tertentu memang akhirnya menjadi merepotkan.. Namun, tidak berarti kita menyerah untuk tidak melakukan niat baik untuk menolong. Mungkin ini lebih kepada harus lihat pada situasi, kondisi, dan latar belakang orang yang akan ditolong.

Ada kejadian kita berniat baik untuk menolong seseorang, tetapi orang tersebut salah sangka sehingga yang terjadi adalah kerenggangan relasi. Ketika kita berniat baik untuk menolong seseorang kita harus berani untuk menerima apa pun yang terjadi belakangan. Resiko yang diperoleh, mungkin bukan ucapan terima kasih yang didapatkan malah cacian yang kita tuai. Namun, bila memang kita berani menangggung konsekuensi dari niat baik kita, perbuatlah apa yang kita niatkan. Berbuat baik tidak tidak perlu berpikir apa yang kita tuai di belakang hari. Berniat baik aadalah baik. Berbuat baik itu relaisasinya. Sandungan yang didapat ketika usai melakukan perbuatan baik kita, itu namanya resiko.

Seperti apa yang pernah saya ungkapkan dalam renungan tentang Penghargaan bahwa kita melakukan kebaikan bukan untuk mendapat penghargaan. Bila kita memperoleh penghargaan di akhir cerita kebaikan kita, itu namanya bonus. Bila mendapat kritikan, itu namanya membuat kita melihat lagi tentang ketidaksempurnaan kita. Kalau mendapat cacian itu berarti kita harus melihat ulang proses yang kita lakukan, kemungkinan ada yang tak berkenan pada orang tertentu. Bila samapai putus relasi, itu namanya nasib.

Bila sampai putus relasi pengalaman saya adalah: menjauh beberapa jenak untuk melihat segalanya lebih objektif, lebih jernih, tidak emosional, dan lebih berkepala dingin. Jangan mendekat bila membaca namanya saja hati masih panas bergejolak. Menjauh untuk meredakan dan mengendalikan segalanya menjadi lebih baik. Menjauh bukan berarti kita memutuskan.

Orang yang berani menjauh untuk melihat lebih objektif adalah orang yang berani juga untuk terjun ke dalam situasi seburuk apa pun. Orang yang berani menjauh adalah orang yang berani menyelam jauh ke dalam nubari yang terkadang begitu menyakitkan. Orang yang berani menjauh adalah orang yang berani menerima rasa sakit sebagai dasar untuk mengampuni.

Saya sangat tahu hal itu sangat sulit dan tentunya sangat menyakitkan. Karena begitu kita menjauh betapa kita merasa kita ini seperti orang kudisan yang terkucil dan ditelantarkan. Betapa kita menjadi seperti orang yang terdampar di negri yang asing. Terpojok dalam diam yang entah kapan akan berakhir. Terhenyak pada kenyataan bahwa kita tersingkir dan kalah. Celakanya lagi kita juga tak bisa memutuskan apa yang akan dilakukan dan tak tahu kapan semuanya akan berakhir. Itu yang sangat menyiksa.

Resep yang pernah saya lakukan kala saya menjauh adalah: beraktivitas menjalankan kehidupan yang biasa kita jalani. Berdoa lebih banyak dan menangis lebih sering. Rasa sakit yang terasa menusuk itu perlahan hanyut terbawa aliran air mata dan akhirnya dengan perlahan waktu dengan keajaibannya menyembuhkan luka itu. Satu lagi mencari masukan energi positif sebanyak-banyaknya dari bacaan atau dari alam serta orang-orang yang membuat saya kuat.Resep ini terasa manjur. Buktinya saya tetap bertahan hingga saat ini. Hingga akhirnya bila waktunya tiba semuanya akan kembali seimbang.

Enung Martina

Jumat, 12 November 2010

STRATEGI UNTUK MEMIKUL

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan(Yeremia 29:11).

Setiap orang mempunyai salibnya untuk dipikulnya. Karena ada tertulis : barang siapa tidak memikul salibnya sendiri dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi pengikutKu (Luk.14:27
.

Kita tidak diperintahkan untuk memikul salib yang lain, tetapi salib kita sendiri. Salib itu sudah disesuaikan dengan tubuh kita. Dengan pertolongan Allah, kita pasti mampu memikulnya.

Hanya pada saat saya memikul itu terkadang saya sering mengandalkan strategi sendiri. Karenanya saya merasa kelelahan. Saya sering lupa bahwa ada strategi-Nya. Strategi-Nya tak bisa kita tebak.

Untuk menjalani hidup ini pun juga mempunyai strategi. Saya mempunyai bebagai cara untuk bisa meraih tujuan saya. Saya dianugrahi Tuhan dengan akal budi untuk menyiasati hidup. Namun, terkadang saya terlalu percaya diri dengan strategi yang saya buat untuk menghadapi hidup saya sehingga melupakan bahwa ada rancangan Tuhan di atas rancangan dan strategi saya.

Saya mengalami bila strategi yang saya jalankan itu sukses, saya merasa senang dan tentu saja bangga. Namun, kebalikannya bila strategi itu gagal, saya menjadi kecewa dan terkadang bingung.

Tuhan adalah pemain catur yang maha hebat. Strategi Tuhan memang sering susah saya pahami. Sebagai pion, saya menurut saja pada Pengatur Strategi Agung. Tuhan mengarahkan hidup saya dengan berbagai cara maju, mundur, menyamping, atau melompat. Namun, saya percaya bahwa tujuannya satu, yaitu: Untuk menang.

Dengan demikian saya semakin yakin bahwa strategi untuk memikul salib saya adalah juga mengandalkan pada kekuatan-Nya bukan pada kekuatan saya. Dengan mengosongkan kekuatan diri , maka kuasa Tuhan yang luar biasa itu mengalir memenuhi hidup saya. Dengan kekuatan itu, saya dapat melakukan berbagai perkara.

Kekuatan itu disediakan-Nya bagi saya dan Anda yang mengasihi-Nya. Satu penghalang yang menyebabkan kekuatan dan kuasa Allah tidak bekerja dalam diri saya adalah kekuatan saya sendiri. Saya terlalu mengandalkan kekuatan diri saya sendiri. Saya terlalu sombong dan terlalu percaya diri. Akhirnya saya merasa kelelahan dalam perjalanan saya. Semuanya terasa berat dan menjadi beban.

Baiklah, saya akan mengatur strategi untuk supaya saya tidak kelelahan dan energi positif selalu ada dalam diri saya, bahkan bisa mengalir bagi orang lain. Caranya tentu saja dengan hanya mengandalkan diri saya pada kekuatan-Nya dan bukan pada kekuatan diriku saja. Ustadz di mesjid Al Muhajirin dekat rumah saya berkata: Laa haula walaa quwwata illa billahil'aliyyil'adziim
yang terjemahannya kira-kira: Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Tuhan Semesta Alam yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Begitu kata Pak Ustadz. Dan saya setuju sekali dengan perkataannya.
Ch. Enung Martina

Rabu, 27 Oktober 2010

MENANGIS

Pada kala tertentu emosi kita dalam keadaan memuncak, terkadang bentuk pelepasan emosi itu dengan menangis. Tangisan tidak selalu identik dengan kesedihan. Seseorang menangis bisa saja karena penyesalan, marah, bahkan bisa jadi suka cita. Ternyata menurut penelitian, menangis itu mempunyai manfaat yang baik untuk kesehatan jiwa seseorang. Manfaat menangis menurut buku Why Men Don’t Have a Clue adalah:

• Mencuci mata
Air mata mengandung enzim bernama iysozysme yang bisa membunuh bakteri dan menjaga mata dari infeksi.
• Mengurangi stress
Air mata mengandung protein yang bisa membersihkan racun dari tubuh. Selain itu, air mata juga mengandung endhorphin yang bisa mengurangi stress dan rasa sakit. Itu sebabnya kita merasa lega sesudah kita menangis.
• Sinyal emosional
Menangis menjadi tanda kalau kita membutuhkan dukungan emosional. Air mata membuat tubuh menghasilkan hormon axytocin yang membuat orang ingin dipeluk dan disentuh.

Dengan begitu, kita lihat bahwa menangis adalah hal yang manusiawi. Tangisan adalah anugrah dari Tuhan pada mahluk-Nya. Kita juga bisa melihat bahwa peristiwa menangis tercatat juga dalam Kitab Suci. Beberapa peristiwa Al Kitab juga ditandai dengan menangis, bahkan meratap. Mari kita lihat beberapa contohnya.

Dalam Perjanjian Lama dikisahkan Raja Daud menangis karena penyesalannya atas dosanya berselingkuh dengan Betsyeba. Beliau juga menangis dan meratap ketika anak hasil perselingkuhannya itu mati. Dalam Perjanjian Baru, kita membaca beberapa kali Yesus menangis. Antara lain saat sahabat-Nya Lazarus meninggal. Bahkan Yesus menangis sampai mengeluarkan air mata darah saat DIA berdoa di Taman Getsemani ketika menghadapi penderitaan-Nya.

Menangis merupakan hal yang lumrah, wajar, dan manusiawi. Kita mengalami perasaa lega saat selesai menangis. Tentu saja masalah yang kita hadapi tidak selesai dengan hanya memangis. Namun, paling tidak beban perasaan yang membukit sedikit bisa terkikis karena dihanyutkan oleh air mata. Dengan begitu sesudah menangis perasaan bisa lebih ringan dan kita berharap sesudahnya kita bisa menghadapi permasalahan kita dengan hati yang ringan dan pikiran yang dingin. Akhirnya kita bisa menganalisis masalah dengan lebih baik dan tidak emosional.

Jadi saudara-saudari, menagislah kala Anda ingin menangis. Biarlah air mata menghanyutkan beban yang mencekung pundak melalui sedu sedan dan melepaskan rasa yang mendesak sesak melalui isak dan air mata.

O, ya sadar tidak Saudara-Saudari bahwa presidaen kita yang terhormat, Bapak Susilo Bambang Yudoyono alias SBY itu sering sekali menangis. Saya tidak tahu kategori menangis beliau termasuk yang mana. Saya juga jadi terharu karena persiden saya suka menangis. O, Pak SBY mengapa engkau selalu menangis? Apakah itu salah satu kompetensimu untuk membawa negeri ini keluar dari aneka masalah?
Nota:
Pesan khusus untuk Metta, anakku. Tidak usah malu untuk menangis meskipun kamu bukan gadis kecil lagi.

Sabtu, 23 Oktober 2010

PENGHARGAAN

Kita mengetahui, mendengar, memahami, dan juga sering memakai kata PENGHARGAAN. Kata ini merupakan kata berimbuhan yang menyatakan kata benda. ‘Penghargaan’ bermakna sesuatu yang diberikan untuk menghargai seseorang. Penghargaan itu bisa berupa kata-kata pujian juga bisa merupakan barang. Penghargaan diberikan kepada orang yang dianggap layak untuk mendapatkannya dengan kriteria tertentu. Orang yang mendapat penghargaan itu berarti dianggap berharga di depan / bagi orang yang memberikan penghargaan tersebut.

Bagaimana seseorang bisa dianggap berharga dan layak mendapat penghargaan? Jelas, hal itu ada batasan, ada kriteria yang harus dipenuhi sehingga seseorang layak mendapatkan penghargaan. Biasanya kriteria itu umum ada di masyarakat, semisal:orang yang mempunyai karya yang baik, orang yang mempunyai jasa di lingkungannya, orang yang patut diteladani, biasanya orang tersebut bermoral baik, dan tentunya orang ini bisa menjadi inspirasi bagi orang di sekitarnya. Begitu baisanya kriteria umum yang diterapkan pada orang yang layak mendapat penghargaan.

Perlu kita sadari bahwa semua orang sebetulnya berharga. Dapat atau tidak dapat penghargaan, kita tetap berharga. Penghargaan yang diberikan pada seseorang hanya berupa hal yang sifatnya duniawi belaka. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa hal itu bisa mempengaruhi juga hal yang mentali. Namun, baiklah kita memahami bahwa terkadang penghargaan yang diberikan manusia belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Dalam keseharian kita pernah melihat penghargaan yang diberikan pada seseorang sepertinya tidak sesuai dan mengada-ada.

Melihat hal itu, kita biasanya bereaksi dengan cepat. Kita lantas mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi. Kita berpendapat bahwa penghargaan sepertinya tidak diberikan kepada orang yang tepat. Ada yang lebih tepat dan lebih layak mendapatkan penghargaan tersebut. Begitu biasanya kita bereaksi. Kita melihat dari sudut pandang dan pendapat kita. Kita menilai layak dan tidaknya menurut kriteria kita sendiri. Sementara orang lain juga mempunyai pandangan dan juga kriterianya.

Penghargaan bukanlah satu-satunya tujuan utama kita dalam hidup. Penghargaan boleh dikatakan sebagai suatu bonus yang kita peroleh dalam hidup kita. Kita bekerja untuk keluarga tidak mencari penghargaan dari anak atau pasangan kita. Kita bekerja dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab di tempat kerja juga bukan untuk mendapatkan penghargaan. Kalau kita bekerja dengan baik, itu karena memang sudah seharusnya. Kalau kita bekerja sempurna, itu karena kita memang orang yang berkualitas. Kita mempunyai kepribadian yang baik dan moral yang baik. Karena itulah kita melakukan kewajiban kita dengan baik pula.

Sebetulnya tanpa penghargaan kita juga sudah berharga karena kita diciptakan oleh Sang Pencipta sesuai dengan citra-Nya. Karena kita berharga, maka kita juga menghargai diri sendiri juga orang lain. Sebagai pribadi yang berharga maka kita harus tetap bersemangat dan bergembira dalam hidup kita karena seperti apa yang tertulis: Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22).

Karena itu maka marilah kita tetap menyalakan semangat kita untuk menjadi pribadi yang berharga meskipun kita tak mendapatkan penghargaan. Dan bagi orang-orang yang mendapatkan penghargaan, hendaknya tetap menjaga diri agar kita pantas menerima penghargaan itu dan tentunya mampu lebih mengembangkan diri atau minimal tetap mempertahankan kualitas diri yang sudah ada. Selamat kepada Anda yang mendapat penghargaan. Kepada yang tidak mendapat penghargaan (seperti saya) ayo kita bekerja dan belajar agar kita selalu berharga di mata Tuhan dan di mata sesama.

Sanur BSD
Medio oktober 2010