Rabu, 13 Mei 2015

JADWAL DAN RUTE/JALUR FEEDER BUSWAY TRANS BSD CITY

TRANS BSD CITY
1.      RUTE: BSD CITY – RATU PLAZA
2.      RUTE: BSD CITY – MANGGA DUA
3.      RUTE: BSD CITY – PASAR BARU
RUTE/JALUR: BSD CITY – PD INDAH MAL – RATU PLAZA – PLAZA SENAYAN
JADWAL
HARI KERJA
HARI SABTU
HARI MINGGU
BSD CITY
RATU PLAZA
BSD CITY
RATU PLAZA
BSD CITY
RATU PLAZA
PAGI
05.30
05.50
06.10
06.30
06.50
07.10
07.30
08.00
08.30
06.30
06.50
07.10
07.40
08.00
08.20
08.40
09.10
09.30
07.00
07.30
08.00
08.30
09.15
–
–
–
–
08.10
08.40
09.10
09.40
10.15
–
–
–
–
08.45
09.30
10.15
–
–
–
–
–
–
09.45
10.30
11.15
–
–
–
–
–
–
SIANG
09.15
10.15
11.15
12.15
13.15
14.15
14.55
15.25
15.45
10.15
11.15
12.15
13.15
14.15
15.15
15.55
16.25
16.45
10.15
11.15
12.15
13.15
14.15
–
–
–
–
11.15
12.15
13.15
14.15
15.15
–
–
–
–
11.15
12.15
13.15
–
–
–
–
–
–
12.15
13.15
14.15
–
–
–
–
–
–
SORE
16.15
16.35
16.55
17.15
17.35
17.55
18.25
18.50
17.15
17.35
17.55
18.15
18.35
18.55
19.25
19.50
15.25
15.55
16.25
16.55
17.25
–
–
–
16.25
16.55
17.25
17.55
18.25
–
–
–
14.55
15.55
16.55
–
–
–
–
–
15.55
16.55
17.55
–
–
–
–
–
Rute/jalur:
Halte Besar BSD (Kolam Renang) – Halte Al-Azhar – SGU – Tol BSD Pd.Indah – Pd Indah Mal – Jl.Arteri Pd Indah – Jl. Pakubuwono – Jl.Sisingamangaraja – Jl.Jend. Sudirman (Ratu Plaza) – Pintu Gelora I – Jl.Asia Afrika – Plaza Senayan – Jl.Hang Tuah – Taman Puring – Jl.Gandaria – Jl.Arteri Pd Indah – Jl.Raya Metro Pd Indah – Tol Pd Indah BSD – BSD
Loket Tiket:
Halte Kolam Renang BSD, Halte Al-Azhar, Halte Pd Indah, Halte Depdiknas, Halte Plaza Senayan
Harga Tiket:
Harga Tiket Reguler : Rp.15.000,-
Harga Tiket Pulang Pergi: –
No. Telp:
Tasbun : 0819-3257 3661 ; Usen: 0812-8831-6563; Toyo: 0815-7405 5684
RUTE/JALUR: JALUR: BSD CITY – KOTA – MANGGA DUA
JADWAL
HARI KERJA
HARI SABTU
HARI MINGGU
BSD CITY
MANGGA DUA
BSD CITY
MANGGA DUA
BSD CITY
MANGGA DUA
PAGI
05.40
06.10
07.20
08.10
07.10
07.40
08.50
09.40
06.40
07.10
08.10
09.30
08.10
08.40
09.40
11.00
08.30
09.30
10.30
–
10.00
11.00
12.00
–
SIANG
09.30
10.30
11.30
12.30
14.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.30
10.30
11.30
12.30
13.30
–
12.00
13.00
14.00
15.00
–
11.30
12.30
13.30
–
–
13.00
14.00
15.00
–
–
SORE
14.50
15.40
16.20
17.10
16.20
17.10
17.50
18.40
14.00
15.00
16.00
16.55
15.30
16.30
17.30
18.25
14.30
15.30
16.30
–
16.00
17.00
18.00
–
Rute/jalur:
Halte Besar BSD (Kolam Renang) – Halte Al-Azhar – ITC BSD – Jl.Raya Serpong – Tol Jakarta Merak – Tol Pluit Tomang – Tol Pelabuhan (keluar pintu Tol Ancol Barat) – Jl.Lodan – Jl.RE.Martadinata – Jl.Kp.Bandan – Jl.Kunir – Jl.Kemukus – Jl.Lada (berhenti di Halte BNI) – Jl.Jembatan Batu – Jl.Mangga Dua (Halte Bank Shinta) – Gerbang Tol Ancol Barat
Loket Tiket:
Halte Kolam Renang BSD, Halte Al-Azhar, Halte Pemasaran BSD, Halte BNI (Kota), Halte Bank Shinta (Mangga Dua)
Harga Tiket:
Harga Tiket Reguler : Rp.15.000,-
No. Telp:
Usen: 0812-8831-6563; Fandhi: 0852 1458 6238; Zaki: 0817-653 0868
RUTE/JALUR: JALUR: BSD CITY – HARMONI – PASAR BARU
JADWAL
HARI KERJA
HARI SABTU
HARI MINGGU
BSD CITY
PASAR BARU
BSD CITY
PASAR BARU
BSD CITY
PASAR BARU
PAGI
05.30
05.50
06.15
07.05
08.00
06.40
07.00
07.30
08.30
09.30
06.30
07.20
08.20
09.00
–
07.40
08.30
09.30
10.15
–
08.00
09.00
10.00
–
–
09.10
10.10
11.10
–
–
SIANG
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
10.30
11.30
12.30
13.30
14.30
10.00
11.00
12.00
13.00
–
11.15
12.15
13.15
14.15
–
11.00
12.00
13.00
–
–
12.10
13.10
14.10
–
–
SORE
14.30
15.30
16.20
17.00
15.45
17.00
17.50
18.30
14.30
15.20
16.10
17.00
15.45
16.35
17.25
18.15
14.00
15.00
16.00
—
15.10
16.10
17.10
–
Rute/jalur:
Halte Besar BSD (Kolam Renang) – Halte Al-Azhar – Halte Pemasaran BSD – Jl.Raya Serpong – Tol Tangerang Kebon Jeruk – Jl.Tomang Raya – Jl.Kyai Caringin – Jl.Balikpapan – Jl.Suryo Pranoto – Halte Busway Harmoni Duta Merlin – Jl.Juanda – Halte Pasar Baru (Gedung Kesenian Jkt) – Jl.Veteran – Halte Harmoni Lampu Merah Suryo Pranoto – Jl.Tomang Raya – Tol Jakarta Tangerang – BSD
Loket Tiket:
Halte Kolam Renang BSD, Halte Al-Azhar, Halte Pemasaran BSD, Halte Harmoni Duta Merlin, Halte Pasar Baru Gd Kesenian Jkt , Halte Harmoni Lampu Merah, Halte Lampu Merah Suryo Pranoto
Harga Tiket:
Harga Tiket Reguler : Rp.15.000,-
No. Telp:
Usen: 0812-8831-6563; Fandhi: 0852 1458 6238; Zaki: 0817-653 0868

Minggu, 10 Mei 2015

CATATAN SESUDAH MEMBACA SERAT CENTHINI JILID I

Akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan sebuah buku klasik Jawa. Sebetulnya buku tersebut ditulis dalam bahasa Jawa yang kuno dalam bentuk tembang. Tentu saja saya tidak membaca versi bahasa Jawa, tetapi saya membaca dalam versi bahasa Indonesia yang terdapat di perpustakaan SMA Santa ursula BSD. Saya membaca baru jilid peratma.  Di bawah ini catatan saya  sesudah membaca buku tersebut.
      Serat Centhini atau juga disebut  Suluk Tambanglaras  atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Serat Centhini disampaikan dalam bentuk tembang.
        Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti.
       Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan "perjalanan spiritual" ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.

Serat Centhini jilid pertama berisi tentang babad Giri yang mengisahkan Sunan Giri dimulai dari masa kejayaannya hingga dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya.  Kekalahan Giri berakhir dengan ditawannya Pangeran Giri dan diboyong ke Mataram. Sementara ketiga putra-putri Giri terpencar saat meloloskon diri dari kedaan chaos saat penyerangan tersebut.
            Cerita selanjutnya buku jilid pertama mengisahkan perjalanan putra pertama Giri yang bernama Pangeran Jayengresmi diikuti Santri Gathak dan Gathuk untuk mencari adik-adik Pangeran yaitu Jayengsari dan Niken  Rancangkapti. Kedua adiknya ini diikuti oleh abdi setianya Buras.
            Jayengresmi mencari adiknya dimulai dari arah timur ke arah barat Pulau jawa, yaitu dimulai dari bekas kerajaan Majapahit hingga Jayengresmi mendirikan padepokan di Gunung Salak,  Bogor. Di padepokan ini ia didatangi oleh Seh Ibrahim atau Ki Ageng Karang yang ingin mengangkat Jayengresmi menjadi anaknya. Ada pun Ki Ageng Karang ini adalah seorang pertapa dari Gunung Karang, Banten yang sangat terkenal ilmu dan kesaktiannya.
Bila dilihat dari tempat yang dikunjungi, Jayengresmi dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan "perjalanan spiritual" ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.
Dalam perjalanannya di berbagai tempat mencari kedua adiknya ini, Jayengresmi bertemu dengan orang-orang berilmu, bijaksana, dan manusia luhur. Selain itu ia juga bertemu dengan mahluk-mahluk halus. Jayengresmi banyak mendapat ilmu dan pengajaran dari orang-orang atau mahluk yang bertemu dengannya.
Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami "pendewasaan spiritual", karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal  hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. 
            Perjalanan Jayengsari dan Niken  Rancangkapti dalam jilid pertama juga bertujuan mencari kakandanya yaitu Jayengresmi. Ketiga saudara ini salingmencari. Perjalanan mereka berdua dimulai dengan naik perahu ke Sunagi Emas dan turun di Wanakrama. Kemudian ke Desa Sidacerma, ke Tosari (ada di Pasuruan-Jawa Timur), Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa (Banjarnegara, Jawa tengah) di kaki Gunung Bisma Banyumas.
Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.
Bisa dikatakan bahwa kisah dalam Serat Chentini ini menyampaikan beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa.  Pokoknya buku ini seperti ensiklopedi Jawa yang dibalut dalam alur kisah para putra-putri Sunan Giri yang sedang berkelana. Bisa dikkatakan bahwa Serat Centhini merupakan sebuah ensiklopedi yang memuat berbagai informasi penting mengenai politik, ekonomi, sastra, budaya, religi yang telah berkembang di Jawa pada era Sebelum Masehi hingga pada ke 18 Masehi. Para krtiikus memuji kitab ini sebagai karya sastra istana Jawa yang megah, mewah, indah, dan bermutu tinggi.
            Buku yang aslinya ditulis dalam bentuk tembang ini dianggap sebagai sastra klasik yang adhiluhung. Seperti kita ketahui bahwa dalam banyak kehidupan manusia, kita mengenal ajaran nyanyian atau tembang atau bahkan berbalas pantun, dimana isi dari ungkapan-ungkapan di dalamnya mengajarkan perumpamaan untuk menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Tidak sedikit ajaran-ajaran agama juga memiliki tembangnya sendiri, seperti dalam agama Kristiani, di dalam Kitab Suci ada bagian disebutkan sebagai mazmur, Kidung Agung, atau puji-pujian kepada Allah. Di dalamnya juga bisa kita tangkap beberapa kata yang menggambarkan hubungan harmonis antara makhluk hidup yang ada di bumi ini, dan hubungan mahluk dengan khaliknya sebagai penghormatan kepada Sang Penciptanya.

Meskipun saya membaca buku turunannya dalam  bahasa Indonesia, tetapi saya bisa membayangkan keindahan sasatrawinya. Bila saya mendengarkan versi asli yang didendangkan para penembang, atau bila saya membaca  tulisan berisi tembang-tembang tersebut saya yakin  rasa, greget, dan nuansanya (fill)-nya akan lain dengan kala saya membaca buku turunanya. Teman saya, Anna Wiwin Yarniatun, atau Ibu Wiwin, yang adalah pencinta sasatra dan seni  Jawa, mengatakan bahwa ketika Serat Chentini itu ditembangkan membuat mak-nyos di hati.
Bila dilihat dari sisi sosiologisnya, di awal buku, diceritakan asal usul silsilah keluarga dan orangtua dari Jayengresmi, yaitu kakek Jayengresmi yang adalah Syekh Walilanang, seorang muslim dari Jedah yang mencoba masuk ke Kerajaan Blambangan sebagai benteng terakhir dari peradaban Majapahit di Jawa. Dengan kekuatannya, Syekh Walilanang berhasil menyembuhkan penyakit puteri raja dan mempersuntingnya, dengan harapan raja dan seluruh kerajaan bisa mengikuti ajaran agama Islam. Menarik melihat latarbelakang penyebaran agama Islam dan keruntuhan dari kerajaan Majapahit yang menyembah Dewa Siwa (Budha). Dituliskan di berbagai bagian mengenai “aspek negatif” dari para penyembah Dewa Siwa dari laskar Majapahit dan bagaimana para penyebar agama Islam tersebut termasuk Syekh Walilanang dan anaknya Sunan Giri berusaha mengembalikan masyarakat “Jawa” untuk kembali ke jalan yang “benar” dengan menganut agama Islam. Perspektif Islam sangat kuat dalam buku itu. Hal ini terutama memang berdasarkan cerita mengenai penyebaran agama Islam dan bagaimana kaidah-kaidah agama Islam menjadi patokan dalam perumpamaan dan ajaran-ajaran yang coba dikawinkan dengan ilmu Jawa Kuno.
Buku ini memang menarik terlebih karena buku ini merupakan karya klasik yang ditulis 2 abad yang lalu. Seperti karya-karya sastra yang lain yang meskipun diciptakan sekian abad yang lalu, bahkan sekian milenium yang lalu, kebijasanaan yang ada di daalmnya akan tetap relevan untuk kehidupan saat ini.

(Christina enung Martina, 11 Mei 2015)




Kamis, 26 Maret 2015

PELAJARAN DARI RAJA SAUL (2): Daud yang Rendah Hati

Makin hari Raja Saul makin aneh kelakuannya. Sepeperti yang diceritakan pada bagian pertama tulisan ini, saul sering melarikan diri dari kesalahannya dan mencari kambing hitam.
Akhir masa pemerintahan Saul ditandai oleh beberapa pemberontakannya kepada Allah. Saul tidak sabar untuk menunggu kedatangan Samuel untuk memimpin upacara persembahan kurban sebelum ia memimpin peperangan melawan bangsa Filistin (1 Samuel 13), dan ia menolak perintah untuk menghabisi orang Amalek dan seluruh ternaknya (1 Samuel 15). Akibatnya, Saul ditolak Allah, dan ia digantikan oleh Daud.
Menurut sejarawan Yahudi-Romawi abad ke-1 M, Flavius Yosefus (37-100 M), Saul menjadi raja atas Israel selama 18 tahun ketika Samuel masih hidup, dan kemudian memerintah sendirian selama 22 tahun. Raja kedua sesudahnya adalah Raja Daud bin Isai.
Ia adalah putra bungsu dari 8 anak laki-laki Isai. Ia mempunyai 2 saudara perempuan. Daud dilahirkan di Betlehem, Efrata, di wilayah Yehuda.  Ia bukan seorang tipe pria yang gagah perkasa dengan perawakan tinggi besar seperti pendahulunya, Saul. Al Kitab (1 Samuel 16: 12)  menggambarkan bahwa Daud adalah seorang yang kemerahan-merahan, matanya indah, dan parasnya elok. Daud tipe laki-laki yang halus dan ganteng, bukan macho. Samuel sendiri yang mendapat tugas mengurapinya saja terkecoh. Samuel menyangka yang akan diurapi Allah itu Eliab, anak pertama Isai. Tetapi, berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “ Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia melihat yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel: 16: 7)
Daud bukan yang diperhitungkan manusia. Bahkan, ayahnya saja tidak memperhitungkan dia. Saat Samuel datang ke rumah Isai untuk mengurapi salah satu anaknya, Isai tidak meminta Daud untuk tampil di depan Samuel. Saat itu, Daud sedang menggembalakan ternaknya di padang.
Lihat! Saya mendapatai kisah dalam Al Kitab beberapa di antaranya bila Tuhan memanggil seseorang, orang tersebut didapati sedang dalam posisi bekerja. Abraham ketika dipanggil-Nya sedang berada di bengekl kerjanya. Pastinya sedang bekerja bukan melamun. Para murid Yesus saat dipanggil-Nya juga mereka sedang bekerja sebagai nelayan ( menjala ikan, membetulkan jala). Belum ditemukan kisah tokoh yang dipanggil Tuhan sedang mabuk, melamun, bengong, bersantai, atau semacamnya.
Daud bukan orang yang diperhitungkan manusia. Namun, ia diperhitungkan Tuhan. Tuahn jatuh hati padanya.  Tuhan jatuh hati pada Daud karena melihat hatinya. Sudah pasti Daud itu mempunyai hati dan perilaku serta tindakan yang sama. Orang benar begitulah dia.  Bahkan, ketika ia sudah diurapi Samuel pun, Daud tidak mengubah sikapnya menjadi jumawa, sombong, angkuh, atau besar kepala. Daud masih bekerja menggembalakan ternak keluarga. Dia tidak memamerka dirinya bahwa dia sudah diurapi.
Rupanya saat Samuel mengurapi Daud, ia pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuan Raja Saul. Saya tidak membayangkan kalau Saul tahu akan ada orang lain yang diurapi sebagai raja, selain dirinya, akan terjadi kehebohan yang menggegerkan kedaulatan negara tentunya. Sepertinya upacara pengurapan Daud itu hanya lingkup keluarga dan para pinisepuh saja. Sepertinya lagi, mereka juga menjaga rahasia ini. Karena kalau ketahuan raja yang sedang berdaulat,  bisa runyam dan menjadi celaka bagi mereka. Itu perbuatan makar.
Ada hal yang menarik dalam kisah Raja Saul sesudah ditinggalkan Sameul (itu berarti berkat urapan Than sudah tak ada padanya lagi), Saul menjadi makin aneh kelakuannya. KEJATUHAN Raja Saul terjadi karena ia Lebih Mengikuti SUARA RAKYAT daripada "SUARA TUHAN" dari Pemimpin Rohaninya, Samuel!
Suatu peristiwa yang menggambarkan titik nadir kehidupan rohani Saul adalah ketika ia pergi menghubungi seorang medium perempuan di En-Dor untuk bertanya kepada roh Samuel guna mengetahui apa yang akan terjadi dalam peperangan melawan orang Filistin yang akan segera dihadapinya (1 Samuel 28:1-25). Ini adalah keputusan Saul yang diwarnai oleh rasa putus asanya karena Samuel telah meninggal, sementara Allah tidak menjawab dia.
Ketaatan dan iman adalah dua bahan penting dalam membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan. Sayangnya, Saul tidak pernah taat sepenuhnya ataupun pernah bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, karena ia sombong dan menganggap ringan perintah Tuhan. Saul menghargai alasan dan kehendaknya sendiri lebih daripada alasan dan kehendak Tuhan. Sebagai hasilnya, ia melakukan tiga kesalahan besar, yang pada akhirnya harus ia bayar dengan jabatan raja dan nyawanya. 

                Kesalahan Saul yang pertama ialah mempersembahkan korban tanpa memedulikan perintah Tuhan untuk menunggu Samuel selama tujuh hari. Saul memang menunggu Samuel, tetapi tujuh hari itu belum sepenuhnya berlalu ketika prajurit-prajuritnya mulai berpencar. Saul panik dan lebih memikirkan bagaimana menyenangkan manusia ketimbang Tuhan. Lebih mengandalkan diri sendiri daripada Tuhan, ia mempersembahkan korban menuruti kata hatinya. Samuel datang tidak lama kemudian dan menegur Saul. Ia memberitahu Saul bahwa kerajaannya tidak akan tetap sebagai akibat dari ketidaktaatannya (1Sam. 13:13-14). 

          Kesalahan Saul yang kedua ialah menyuruh prajurit-prajuritnya bersumpah, dengan berkata, ”Terkutuklah orang yang memakan sesuatu sebelum matahari terbenam dan sebelum aku membalas dendam terhadap musuhku“ (1Sam. 14:24). Saul menetapkan penitah ini tanpa berhenti untuk berpikir apakah Tuhan menghendaki agar pasukannya berpuasa. Tidak tahu akan sumpah itu, Yonatan, anaknya  memakan madu. Setelah itu, Saul menduga bahwa seseorang telah membatalkan puasa itu karena Tuhan tidak menanggapi permintaannya. Selagi mereka melempar undi, Saul membuat satu sumpah ceroboh lagi, katanya, “Sekalipun itu disebabkan oleh Yonatan, anakku, maka ia pasti akan mati” (1Sam. 14:39). Undian menunjukkan Yonatanlah pelakunya. Untuk menyelamatkan mukanya, Saul berkata, “Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu. Sesungguhnya, Yonatan, engkau harus mati.” (1Sam. 14:44). Tetapi, pasukan Saul datang untuk melepaskan Yonatan dan menyelamatkan nyawanya. Saul mengucapkan sumpah-sumpah kosong itu tanpa mengindahkan pesan Tuhan untuk ”jangan bersumpah palsu,“ melainkan “peganglah sumpahmu di depan Tuhan” (Mat. 5:33-37). 

          Saul melakukan kesalahannya yang ketiga ketika ia tidak mematuhi perintah Tuhan: “Kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya” (1Sam. 15:3). Walaupun Tuhan memerintahkan dengan jelas agar ia memusnahkan segala yang ada, Saul menentang perintah Tuhan supaya ia dapat menyimpan barang-barang dan harta kekayaan. Sifat rakunya muncul. Dia juga melepaskan Agag, raja orang Amalek, untuk memperbesar dan bersenang-senang dalam kemuliaannya sendiri. 

Saul kemudian meninggal di dalam peperangan melawan bangsa Filistin. Karena terjepit dan tidak rela jatuh ke tangan musuhnya hidup-hidup, Saul menjatuhkan dirinya ke pedang yang dibawa oleh pembantunya (1 Samuel 31). Itu memang tindakan bunuh diri kalau bisa dikatakan begitu.
Akhirnya Daud naik tahta setelah pendahulunya meninggal dunia.
Ada rasa menyesak ketika membaca akhir cerita raja pertama Israel ini. Rasanya seperti gelo, kecewa, karena tokoh utamanya kok tidak bertobat, menyesalai kesalahannya, mengubah dirinya menjadi lebih baik, akhirnya hidup berbahagia untuk selamanya. Itu kan harapan saya ketika menjadi seorang bocah kecil, kalau membaca dongeng yang penting berakhir dengan bahagia.

Namun, saya banyak belajar dari tokoh Raja Saul ini. Ada banyak sifat Saul yang juga saya miliki. Saya juga sering mengabaikan apa yang diminta Tuhan karena lebih melihat pertimbangan saya sendiri. Bahkan saya tidak bertanya apa mau Tuhan. Saya lebih memikirkan bagaimana supaya saya bisa selamat dari berbagai kesalahan yang saya buat, bukan memeprtanggungjawabkannya.  Saya juga suka berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu apa akibatnya bagi diri saya, keluarga saya, atau yang lain. Sepertinya saya banyak sok tahu. Saya sering mempertimbangkan sesuatu berdasarkan kerakusan saya. Bisa menguntungkan saya atau tidak.  Saul... oh... Saul! Kau dan aku tak jauh beda. 
(Ch. Enung Martina-Jelupang Maret 2015)

Kamis, 05 Maret 2015

Mental Pengemis


Mental pengemis bukan pengemis betul-betulan yang sering ditemukan di pinggir jalan atau di tempat umum yang menadahkan tangan untuk meminta belas kasihan. Namun, mental pengemis tepatnya adalah mental yang selalu resah harta, selalu merasa kurang, dan selalu khawatir dengan masa depan. Kata “resah” menjadi kunci di sini. Warna jiwa inilah yang diyakini telah menjadikan banyak orang memiliki mental pengemis. Mental ini tidak bergantung pada harta, kelas, profesi, usia, jenis kelamin,  atau jabatan. Artinya karena ini menyangkut  mental, maka  miskin dan kaya sama-sama bisa memiliki mental pengemis, jika jiwanya resah dan selalu merasa kurang. Membahagiakan anak, istri, dan keluarga,biasanya menjadi alasan yang klise untuk mental ini.
            Orang yang bermental pengemis yakin  bahwa harta duniawi yang banyak akan membuat ia lebih bahagia. Harta itu bisa menyelesaikan segala perkara. Kehormatan, prestise, masalah, dan bahkan kebahagiaan bisa diselesaikan dengan harta. Orang yang bermental pengemis jauh dari mental yang percaya akan kelimpahan. Orang yang bermental pengemis sangat anti untuk memberi. Kalau bisa,  setiap kesempatan yang dia dapat bisa mendapatkan keuntungan. Orangnya tak mau rugi. Orang seperti ini akan berpikir dua kali kalau disuruh menyumbang.  Bagi mereka memberi itu akan mengurangi jatah mereka. Dengan memberi artinya yang sudah ada menjadi berkurang. Karena itu lebih baik ia menerima karena artinya pasti akan terus bertambah.
Demikianlah mental pengemis, yang sering memicu masalah. Berarti, gemar meminta-minta itu jelas faktor mental, bukan faktor miskin atau kaya. Bukti lain, banyak orang yang hidupnya sederhana ogah meminta-minta. Mereka lebih mempunyai harga diri untuk tidak menjadi pengemis.  Mereka sangat malu kepada Allah, mengingat karunia yang diterima lebih banyak ketimbang musibah yang sedang diterima. Karena itulah, senjata yang mereka andalkan adalah usaha tanpa kenal lelah disertai doa dan sabar.
Mental pengemis ini amat rentan menimbulkan banyak masalah. Akan lebih bermasalah lagi jika ia berkolaborasi dengan mental serakah. Maka yang terjadi kemudian, banyak orang berkelimpahan harta, dengan gaji dan fasilitas yang memadai, masih gemar meminta-minta, bahkan menghalalkan segala cara.
Tidak ada orang yang mau hidup susah. Namun, bila  lantas menginginkan enak tanpa mau berusaha, itu namanya tak mempunyai harga diri. Bila seorang manusia tanpa martabat disebut apakah dia? Orang dihargai karena dia mempunyai hati yang mau memberi dan mau berbagi, bukan hanya menadahkan tangan belaka.
Sebaliknya bagi orang yang mental berkelimpahan mempercayai bahwa semesta yang diciptakan Tuhan ini tak pernah kekurangan. Rejeki selalu ada. Karena itu orang yang mentalnya percaya akan kelimpahan akan sangat senang memberi. Karena dengan memberi, rejeki mengalir datang. Prinsipnya diberikan bukannya berkurang malah ia datang berlipat ganda, berkelimpahan.
Memberi bukan selalu dalam bentuk harta. Memberikan ide, gagasan, waktu, tenaga, pikiran, saran, kemampuan. Kerelaan dalam memberi menjadi kunci bagi pribadi berkelimpahan.
Beberapa kata bijak yang disitir dari beberapa Kita Suci tentang memberi antara lain:

“Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS Al-Baqarah: 271].

Hendaklah masing-masing orang memberi sesuai dengan niat hatinya, jangan dengan sedih hati atau dengan terpaksa, karena sikap hati orang yang memberi dengan gembira disukai Allah. (2 Korintus 9:7 )

Bila orang berbuat kebajikan dengan memberi  hadiah-hadiah, suka memberi pelajaran dan nasehat-nasehat walaupun kepada orang miskin sehingga dapat menghibur hatinya, maka orang yang  demikian akan selamatlah anak cucu dan keturunanya serta akan terkenalah kebaikan budinya . (SS.172)

                                                

Jelaslah, kemiskinan bukan aib. Saatnya orang beriman mampu mengikis mental pengemis dari sanubari. Tanamkan kalimat berikut dengan mantap: biar miskin, aku pantang mengemis! Jadilah orang kaya, kaya ilmu, kaya harta, kaya amal. Berapa pun ilmu yang kita punya, berapapun harta yang kita miliki, kita harus mengamalknnya, membaginya tidak akan mengurangi jumlahnya. Ilmu dan harta adalah titipan Allah yang akan berlipat ganda jika kita membaginya dengan orang yang membutuhkannya.
 Ch Enung Martina


Senin, 22 Desember 2014

PELAJARAN DARI RAJA SAUL (bagian 1)

      Kita mengenal Saul sebagai raja pertama bangsa Israel. Menurut Al Kitab (Kitab Samuel), Saul adalah seorang yang berperawakan paling tinggi dari antara sebangsanya pada masa itu. Selain itu tubuhnya pun gagah. Pendek kata Saul, adalah seorang laki-laki yang maco. Saul adalah pilihan pertama Allah untuk menjadi raja Israel.
      Dalam perjalanannya sebagai penguasa perdana,  Saul, pastinya tidak langsung mahir menjadi pemimpin yang baik dan mumpuni. Ia bertemu dengan berbagai peristiwa yang membuat dia harus memutuskan berbagai perkara dalam mempertahankan kerajaannya dan menunjukkan otoritasnya menjadi seorang raja. Perlu diingat bahwa kerajaan Saul bukan didirikan karena keinginan rakyat saja. Kerajaannya terdiri karena adanya rahmat dan campur tangan Allah. Tentunya kedaulatan Saul sebagai raja memang 100%, tetapi ia harus mendasarkan pemerintahannya pada hukum Tuhan. Namun, Saul seringkali lupa atau pura-pura lupa bahwa kekuasaan dia bukan kekuasaan mutlak tanpa batas dan kekuasaan tanpa melandaskan pada  hukum Tuhan.
      Banyak peristiwa dalam perkara-perkara kecil maupun besar, Saul melupakan hukum Tuhan yang menjadi landasan kekuasaannya itu. Ketidaktaatan Saul pada Allah ditunjukkan dalam 1 Samuel 13: 8-12, yang mengisahkan Saul tidak lagi mengindahkan perkataan penasihat rohaninya, guru spiritualnya, Samuel. Ia lebih memilih mengadakan kurban bakarannya sendiri tanpa menunggu Samuel. Perlu dicatat bahwa yang berhak mempersembahkan kurban bakaran itu adalah imam, bukan raja. Namun, Saul karena ketakutannya ditinggalkan rakyatnya yang cerai berai karena gentar menghadapi tentara Filistin, ia memutuskan untuk mengadakan korban bakaran sendiri. Setelah menunggu tujuh hari lamanya Samuel tidak datang, Saul mengambil keputusan mengadakan korban bakaran tanpa imam. Sepertinya dalam zaman Perjanjian Lama tugas mempersembahkan korban bakaran itu memang spesial pekerjaan para imam. Raja, atau rakyat biasa  tak berhak untuk melakukan kurban bakaran. Memang begitu peraturannya. Saul membuat aturan sendiri. Samuel mengatakan: perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan, Allahmu yang diperintahkan- Nya kepadamu; sebab sedianya Tuhan mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel selama-lamanya. (1Samuel13: 13)
     Tindakan pelanggaran Saul lain adalah ketika ia mengalahkan orang Amalek. Ia menyelamatkan Agag, raja orang Amalek. Saul juga menyelamatkan kambing, domba, lembu yang terbaik dan tambun, serta segala yang berharga. Padahal diperintahkan untuk memusnahkan orang Amalek semuanya beserta ternak dan barang-barang berharganya. Ketika Samuel bertanya tentang hal itu kepadanya, Saul menjawab dengan berdalih: Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud mempersembahkannya kepada Tuhan, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas (1Samuel 15:15).
     Saul mempersembahkan kurban bakaran pada Tuhan, tidak dengan niat yang tulus. Dia mau mempersembahkan kurban bukan dari harta miliknya. Dia mau mempersembahkan barang rampasan. Dia orang yang pelit. Pedit. Untuk Tuhan saja dia masih mempertimbangkan untung dan rugi. Dia tak mau rugi.
Saya sungguh terkena dengan kelakuan yang Saul dalam kisah itu. Saya pun sering melakuka perhitungan dengan Tuhan. Contoh kalau saya mau persembahan kala Ekaristi. Sering dalam persembahan saya tidak mempersiapkan dengan baik. Meskipun persembahan saya tidak banyak, tetapi kalau dipersiapkan dengan baik maknanya pasti lain.
     Dalam keadaan salah dan terbukti pun Saul masih melarikan diri untuk mencari kambing hitam dari kesalahannya. Sebagai seorang raja dia mempunyai wewenang untuk memerintahkan rakyatnya dengan tegas untuk tidak mengambil apa pun dari orang Amalek itu. Seharusnya dia memerintahkan untuk memusnahkan semuanya tanpa kecuali.
     Kedua tindakan Saul di atas, dia lebih mempedulikan apa kata rakyatnya. Apa yang bdikatakan manusia. Saul raja yang sangat peduli akan pencitraan dirinya di depan rakyat. Dia takut kehilangan dukungan rakyat bila dia tidak memenuhi keinginan rakyat. Nama baik dirinya di hadapan manusia jauh lebih penting baginya daripada menuruti perintah Tuhan.  Saul selalu mencari pembenaran dari kesalahan yang diperbuatnya. Dia tidak secara ‘gentelman’ mengakui perbauatannya.
     Sebetulnya Saul tahu persis akan tindakan  yang dilakukannya. Berarti ia juga tahu bahwa tindakannya itu tidak tepat. Namun, alih-alih mengakui kesalahannya dan meminta ampun kepada Tuhan atas tindakannya, ia malah mencari dalih untuk membenarkan tindakannya. Lempar batu sembunyi tangan, begitu mungkin peribahasa yang tepat untuk Saul.
     Saya jadi melihat diri saya sendiri ketika membaca tentang kisah Saul ini. Dalam situasi terdesak, kepepet, saya juga pernah melakukan untuk mencari keselamatan diri dengan melemparkan kesalahan saya pada ‘kambing hitam’  situsi, orang lain, kesempatan, cuaca, masa lalu, kurangnya waktu, alat yang tidak mendukung, godaan setan, khilaf, dan seribu kambing hitam yang lain.
          Saul mempunyai mentalitas korban (victim). Mentalitas ini merupakan upaya untuk menghindari tanggung jawab dan memindahkan kesalahan pada kambing hitam, kambing putih, atau kambing belang. Mentalitas menjadi korban membuat seseorang tidak bertahan, jauh dari berkat, dan tidak bisa mencapai potensi penuh.
      Ada banyak aspek dan keadaan di lingkungan kita yang di luar kendali saya. Namun, bila saya mau menerima tanggung jawab, maka saya saya bisa melakukannya dengan baik. Saya menjadi pemenang bukan lagi korban.
      Saul membuat kesalahannya kelihatannya menjadi masuk akal, logis, dan wajar, bisa dimaklumi. Rasanya saya juga terkadang melakukan itu. Saya memaklumi kesalahan saya sebagai sesuatu yang wajar terjadi karena situasi saat melakukan itu memang menjerumuskan saya pada kesalahan. Keadaan saat saya melakukan kesalahan itu sangat logis untuk saya lakukan saat itu. Saya bermental korban. Saya menempatkan kesalahan saya pada kambing yang berwarna-warni.
     Jika Saul, saya, atau siapa pun melakukan ‘ lari dari tanggung jawab’ dan mencari kambing warna-warni, itu berarti Saul, saya, atau siapa pun sedang bertindak bodoh. Ketidaktaatan pada Allah tetap salah meskipun mencari alasan yang logis disertai dengan bukti-bukti yang kuat dan akurat sekali pun.
       Bila saya perhatikan dan cermati prihal peraturan Allah dalam kisah Saul, hanya ada salah dan benar. Tidak ada yang abu-abu, belang-belang, atau suam-suam kuku, yang setengah-setengah, banci, atau yang situasional. Peraturannya jelas benar dan salah. Taat dan tidak taat. Tidak melihat cuaca, musim, atau situasi. Peraturan Allah tetap selama-lamanya. Begitu kata Al Kitab.

        Kembali lagi kepada saya. Saya suka membuat peraturan itu jadi situasional. Peraturan yang menyesuaikan pada saya. Bukan saya yang mengikuti  peraturan. Kalau peraturan itu enak, ya saya ikuti. Kalau itu berat dan membelit, maka saya berusaha membelokkan, membengkokan sesuai kemauan saya. Sepertinya saya ini kok mirip  Saul. Hanya bedanya saya buka raja seperti dia.
(Ch. Enung Martina)