Rabu, 22 Maret 2017

SAAT LEMAH (RETRET HARI KE-2)


Saat lemah semangat dialami oleh semua orang. Untuk menghadapi situasi tersebut kita memerlukan kepercayaan dasar.  kalau kita fokus pada hal yang negatif, maka yang positif tidak nampak. Ketika seseorang memiliki sikap penerimaan terhadap keadaan dan hal yang dialaminya, ia akan mengalami kegembiraan bahkan kebahagiaan. Ketika orang berani untuk menerima kenyataan maka di situlah ada sikap iman.

Banyak orang bercita-cita untuk hidup kaya dan bahagia. Kebanyakan orang memaknai  kekayaan dari sisi duniawi. Kaya berarti banyak harta. Kita mempunyai gambaran yang menipu tentang kebahagiaan. Ilusi  ini terkadang membutakan kita sehingga kita mengejar hal yang sifatnya ilusi itu. Bila orang memahami bahawa bahagia itu adalah nyata bukan sebuah ilusi maka orang kaya bisa dimaknai sebagai orang yang tidak mempunyai keinginan lagi. Ia sudah sangat cukup. Orang kaya dengan definisi ini tak mempunyai keinginan ini dan itu, kecuali  ingin menikmati hidup itu sendiri. Dalam menikmati hidup, seseorang akan merasakan kedamaian.

Saat orang menikmati hidup, orang ini dengan sendirinya akan menerima perbedaan. Perbedaan dianggap sebagai sebuah karunia yang patut dirayakan. Perbedaan adalah hal yang harus disyukuri.

Hati-hati dengan kata ‘menerima’. Menerima  bisa dilihat dari dua cara. Seseorang menerima kenyataan hidup  dengan cara aktif, maka hal yang dilakukan orang itu bersyukur atas hidup yang dialaminya.

Dengan melalui proses pengolahan dalam perjalanan hidup seseorang, akhirnya suatu saat orang bisa menemukan kesadarannya akan sesuatu hal yang benar. Kesadaran itu dimulai dari pemahaman, kemudian orang membuka diri, lalu ia tertarik, dan mempelajari, akhirnya membuat keputusan untuk melakukan yang dianggap itu benar.
Seseorang sampai menemukan makna hidupnya karena ia terus bersabar dalam menghadapi permasalahannya. Karena bersabar akhirnya seseorang bisa bertahan dalam situasi yang menekan sekali pun.

Rancangan keselamatan dalam hidup seseorang sering tidak tampak nyata karena yang dihadapi orang tersebut adalah penderitaan dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Bungkusnya nampaknya memang kehancuran, penderitaan, kesengsaraan. Namun, ketika orang memandang lebih jauh dan lebih dalam ternyata di sana  ada rancangan keselamatan di dalamnya.

Sebuah gambaran tentang hal itu kami dapatkan dalam sebuah film yang berjudul After Shock yang diputar dalam kegiatan retret kami. Cerita berlatar-belakang bencana gempa bumi yang terkenal berkekuatan 7.8 richter melanda sebuah desa kecil bernama Tangshan di Propinsi Hebei,  Cina di tahun 1976 yang menghancurkan kota kecil dan 240.000 penduduknya menjadi korban.

Film ini bercerita tentang kisah seorang ibu, Yuan Ni, dan kedua anak kembarnya Zeng Fang dan Fang Da dan bagaimana hidup mereka berubah selamanya oleh gempa di  pagi hari bersejarah di awal tahun 1976 itu. Ketika gempa terjadi Yuan Ni dan suaminya sedang berada di luar apartemennya. Suami istri itu melihat dengan tangis bagaimana bangunan itu runtuh dan kedua kembarnya terjebak di dalamnya. Gempa itu juga merenggut suaminya.  Kedua anak umur tujuh tahun terkubur di bawah reruntuhan gempa bumi dahsyat itu. Ketika Tim penyelamat bermaksud menjelaskan kondisi kedua korban, Yuan Ni dihadapkan pada pilihan sulit, harus menyelamatkan yang mana karena  keduanya terhimpit reruntuhan bangunan yang bisa mengorbankan salah satunya. Yuan Ni dihadapkan pada keputusan yang paling sulit dalam hidupnya, ia akhirnya memilih untuk menyelamatkan anaknya Fang Da, si kembar laki-laki. Keputusan yang kemudian mengubah kehidupan mereka kelak.

Keputusan Ibunya yang memilih Fang Da menorehkan luka yang berkepanjangan bagi Zeng Fang yang ternyata masih hidup. Dengan gambar bersuasana buram, di antara mayat-mayat bergelimpangan dan di antara tumpahan darah serta germis hujan, Zeng Fang bangun dan berjalan mencari sosok ibunya. Zeng Fang yang terdampar di tempat penampungan  sementara akhirnya diadopsi oleh sepasang suami istri  tentara yang hingga akhir hayatnya tidak pernah dikaruniai seorang anak. Zeng Fang yang terluka akhirnya memilih diam seribu bahasa dan berusaha untuk melupakan dan tidak pernah mau mengingat pada kenangan buruk itu. Bukan saja karena bencana itu telah membuat banyak orang mati termasuk ayahnya,  tapi keputusan Ibunya untuk menyelamatkan adik laki-lakinya adalah keputusan yang sulit diterima oleh Zeng Fang.

Zeng Fang pun menjadi gadis introvert dan hidup dalam tekanan yang luar biasa. Sementara itu Fang Da hidup bersama ibunya yang tetap memilih tinggal di kota itu. Meski dihadapkan pada berbagai masalah menjadi orang tua tunggal dengan anak laki-laki yang bermasalah di sekolahnya,  Yuan Ni tetap bertahan dan memelihara kenangan akan cinta terhadap mendiang suaminya dan putrinya Zeng Fang. Ia  hidup dengan perasaan bersalah berkepanjangan karena suami dan anak perempuannya menjadi korban gempa itu, sementara itu ia tak bisa melakukan apa pun untuk menolong mereka.

Tiga puluh dua  tahun kemudian setelah kedua anak kembar tersebut menjalani kehidupannya sendiri-sendiri, Zeng Fang sudah menjadi dokter dan hidup di Kanada bersama suami bulenya dan putrinya.  Sedangkan  Fang Da sudah memiliki perusahaan dengan banyak karyawan dan  pindah ke kota besar. Ia sudah mampu membelikan ibunya sebuah apartemen. Ketika kota Sichuan dilanda gempa yang sama tahun 2008, keduanya tergerak datang untuk menolong mengingat keduanya pernah menjadi korban gempa yang sama. Keduanya bergabung bersama para relawan yang lain.

Fang Da bercerita pada teman sesama relawannya tentang pengalamannya dimasa kecil yang juga mengalami menjadi korban bencana gempa. Ia bercerita bahwa  kakak dan ayahnya menjadi korban dalam bencana di Desa Tangshan. Tak disangka kakak perempuannya, Zeng Fang  yang sudah 32 tahun tak pernah bertemu bahkan disangka sudah meninggal berada diantara para relawan mendengarkan percakapan kedua orang ini. Zeng Fang hanya bisa menangis mendengar bagaimana ibunya begitu merasa bersalah berkepanjangan karena peristiwa itu.

Singkat cerita, Zeng Fang dipertemukan dengan ibunya yang tidak pernah berhenti menangisi kepergian anak peremuannya meski itu sudah 32 tahun berlalu. Sungguh pertemuan yang sangat mengharukan. Yaun Ni yang merasakan keputusannya adalah sebuah kekeliruan meminta Zeng Fang memaafkan atas keputusan itu. Zeng Fang pun bercerita 32 tahun adalah waktu yang lama untuk melupakan keputusan ibunya untuk mengabaikannya. Namun keputusan Tuhan memang tidak diduga seperti apa akhrinya.


Keputusan Tuhan memang tak dapat diduga, tetapi keputusan-Nya selalu membawa manusia pada kebahagiaan dan kebaikan. Rancangan-Nya adalah rancangan kehidupan dan damai sejahtera. 

(Ch. Enung Martina)

Selasa, 21 Maret 2017

PILIHAN UNTUK MENJADI BERIMAN (Retret Hari Ketiga)


PILIHAN UNTUK MENJADI BERIMAN

Usia bertambah (menjadi tua) itu pasti. Menjadi beriman itu pilihan. Tahapan perkembangan  iman seseorang bisa berjalan sesuai usia, tetapi bisa jadi, pertumbuhan iman seseorang tidak bertambah sesuai denagn usia yang makin menua.

Iman yang dewasa dalam agama apa pun adalah iman yang universal. Iman dalam tahapan ini orang mampu merasakan kesatuan dalam Allah Sang Pencipta Semesta Alam. Ia mampu ke luar dari dirinya sendiri, dari keegoisannya, dari pandangannya yang picik. Ia mampu melihat segala sesuatu melampaui ajaran agamanya sendiri. Ia mempunyai pandangan yang luas akan suatu permasalahan. Ia melihat orang lain, bahkan yang tak seiman dengannya sebagai sesama ciptaan. Karena itu, ia mampu mencapai orang lain (bahkan yang tak seiman dengannya) dengan perhatian dan cinta yang tak pandang bulu.

Iman yang dewasa adalah iman yang transformatif. Iman yang mampu membawa perubahan ke arah kebaikan bagi dirinya, keluarganya, lingkungan kerjanya, lingkungan masyarakatnya. Arah perkembangan iman seseorang dimulai dengan diri sendiri menuju kepada kebersamaan hidup dengan saling berbagi.

Iman dimulai dengan membereskan dulu hubungannya denagn dirinya sendiri. Ia sudah mampu menerima dirinya dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Penerimaan akan dirinya. Mensyukuri keberadaannya. Menghayati bahwa ia berada di dunia untuk tujuan yang baik. Sesudah ia beres dengan dirinya sendiri, ia baru bisa menyadari keberadaan orang lain di sekitar dirinya. Ia hidup dengan perantaraan kedua orang tua. Ia juga hidup bersama saudari-saudaranya. Di samping itu ia juga sadar ada orang lain di samping keluarga intinya. Ada teman yang berbeda dengannya. Ia tahu bahwa temannya berbeda peraturan dalam keluarganya. Ia juga menyadari perbedaan latar belakang kebiasaan, budaya, agama yang dianut oleh temannya. Ia menyadari bahwa berbeda itu bukan sesuatu masalah. Ia menyadari bahwa berbeda itu baik. Bahwa orang tidak harus sama, seragam, mirip seperti dirinya. ia akan toleran akan perbedaan. Ia akan melihat bahwa berbeda itu indah.

Bila seseorang belum mengalami dan menerima dirinya, ia akan sulit menerima orang lain. Ia akan sulit untuk melihat kebaikan orang lain dan siap menerima kelemahan orang lain. Bahkan, ia juga tidak siap menerima kelebihan orang lain. Ia akan selalu dengki dan iri akan keberhasilan yang dimiliki orang lain. Bila perasaan ini tidak dibereskan sejak kecil, maka emosi negatif ini terbawa hingga dia dewasa. Kita bisa melihat begitu banyak contoh orang tidak siap menerima kelebihan orang lain. Akhirnya orang tersebut melakukan perbuatan tercela untuk bisa mengalahkan kelebihan orang lain dengan cara yang tidak terpuji.

Sering saya atau Anda sebagai orang tua mengabaikan hal ini pada anak-anak kita. Sebaiknya, kita memperhatikan emosi negatif anak-anak kita sejak dini. Biasakan mereka mampu mengatasi emosi negatif mereka dengan cara yang positif. Biasakan mereka mampu menerima kelemahan diri mereka. Biasakan mereka mampu menerima teman-temannya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ajari mereka untuk sportif saat temannya lebih unggul dari mereka.

Niscaya  anak-anak yang mempunyai emosi positif akan tumbuh dengan lebih sehat, cerdas, dan berkarakter baik. Mereka  juga kelak akan menjadi manusia dewasa yang berkarakter, siap menerima kekalahan, tidak sombong kala dia mendapatkan keberhasilan, percaya diri, dan yang pasti mampu merayakan perbedaan dengan penuh syukur kepada Sang Pencipta. Wah, betapa indahnya itu!!!!  Kalau bangsa Indonesia seperti itu, pasti Indonesia dinobatkan menjadi negara berbahagia urutan pertama di dunia. Amin!

Iman yang dewasa adalah iman yang mampu merayakan kasih dan perhatian Sang Pencipta yang menciptakan kita lengkap dengan seperangkat alam semesta yang menjadi  pendukung kehidupan kita. Dengan perangkat segenap alam semesta yang khusus diberikan Sang Pencipta untuk kita, kita bisa makin bertumbuh ke arah yang lebih baik. Bukan malah makin parah dan makin mundur dalam pertumbuhan iman kita.   Iman seseorang mempengaruhi karakter orang tersebut. Iman yang saya maksud bukan kebiasaan liturgis (doa dan segala macam upacara keagamaan). Iman yang saya maksud lebih kepada penghayatan dan praktik dalam hidup nyata yang lebih mendalam dari sekedar hal yang sifatnya liturgis. Ini juga tidak berarti bahwa hal yang liturgis itu buruk.

Dengan begitu kedewasaan iman seseorang bisa dilihat dari indikasi bagaimana orang itu mamapu semakin keluar membawa imannya menuju kepada kebersamaan hidup dengan orang lain. Ia mampu berbagi yang dinyatakan dengan tindak nyata. Berbagi harta, berbagi ilmu, berbagi tenaga, berbagi ide, berbagi kabar suka cita yang membuat orang tertulari kebaikan.

Seseorang yang beriman dewasa adalah orang yang mampu melihat perbedaan itu adalah anugrah Sang Pencipta. Ia mampu menyadari dan menghayati imannya dengan merayakan perbedaan itu. Orang yang beriman dewasa akan berhati-hati dengan segala pikiran, perkataan, dan tindakannya.

Orang yang beriman dewasa akhirnya akan menuju pada yang sifatnya universal. Mengapa universal? karena Sang Pencipta juga universal. Dia tak membedakan ciptaan-Nya dari sisi ras, agama, atau aliran, atau partai mana.

Jadi, saya dan Anda jangan dulu mengaku beriman, apabila masih terbersit dalam diri saya dan Anda bahwa tetanggamu itu adalah kafir!
(Ch. Enung Martina)


Kamis, 16 Maret 2017

Artikel Kesehatan Anak


PENYAKIT  FLU  BERAT  PADA  ANAK  DENGAN  SAKIT  OTOT  KAKI

Buah hati sakit, membuat ayah-bunda menjadi kuatir dan was-was akan keadaan si kecil.  Saya mempunyai pengalaman yang membuat saya kuatir sekali. Pengalaman ini berkaitan dengan sakit yang diderita oleh anak ke-3 saya, Abhimanyu.

Pada suatu hari Sabtu, badan Abhimanyu panas. Saya kira itu paans biasa. Hari itu saya harus ke Bandung untuk giliran menengok ibu saya yang sekarang tinggal di rumah adik saya.  Jadi saya tetap pergi ke Bandung dan menginap. Saat saya menginap di Bandung kami tetap berkomunikasi sehingga saya tahu bahwa panasnya 38 derata Celsius.

Hari Minggu, keesokan harinya saya baru pulang. Minggu sore saya dan Abhimanyu menyiapkan peralatan sekolahnya seperti biasa. Dia masih aktif, bermain, menggambar, dan bercanda. Badannya terasa masing sumeng-sumeng dan bibirnya masih nampak merah dan kering. Namun, demamnya secara keseluruhan sudah hilang.

Esoknya hari Senin, bangun pagi seperti biasa. Saat dia bangun biasanya langsung ke kamar mandi buang air kecil, minum air putih, lanjut minum susu, lanjut nonton cartoon network, lanjut sarapan pagi (makan nasi). Pagi itu, saat dia berdiri mau ke kamar kecil, ia menjerit kesakitan dan tidak bisa berdiri. Akhirnya ia, ke kamar kecil dengan digendong.

Ketika kami tanya apa yang sakit dia menunjuk kedua betisnya. Saat betisnya dipegang dia mengaduh. Rupanya dia mengalami sakit pada otot betis.

Kami kebingungan apa yang terjadi dengan anak kami. Lalu kami membawanya ke dokter lagi karena sebelumnya sudah pergi ke dokter umum. kali ini kami pergi ke dokter neorolog anak. Untung dekat rumah ada klinik yang menyediakan dokter anak. Untungya lagi dokter anak yang memeriksa abhimanyu seorang neorolog. Dokter menyatakan bahwa dia terkena virus sejenis flu. Kami mendapatkan obat batuk-flu dan obat untuk sakit otot serta antibiotik.

Pengobatan Alternatif

Karena anak ini mengalami kesakitan pada kaki yang membuat dia tak bisa berjalan, kami merasa kuatir. akhirnya kami memutuskan selain berobat ke dokter, kami juga meminta jasa tukang pijat anak. Kami memanggilnya Mbah Par. Akhirnya Mbah Par datang 3 kali untuk memijat seluruh tubuh.
Mbah Par seorang tradisional, ia memijat dengan ramuan jahe dan bawang putih. Bahan tersebut dibalurkan ke otot yang sakit. Bahkan, ia juga memberikan bangle dan jeringao. Saya jadi teringat masa kecil saya kalo saya demam ibu dan nenek saya suka membuat obat balur dari bangle dan jeringao.

Orang suka menghubungkan dua obat tradisional tersebut dengan mitos. Baunya yang menyengat sangat khas sehingga dianggap bisa mengusir hantu pengganggu anak kecil. Karena itu sering anak bayi di desa diberi sematan banglai pada bajunya, terutama saat mau pergi ke luar rumah.

Namun, ketika saya pelajari mengapa obat ini dijadikan andalan nenek moyang kita dulu rupanya ada kandungan yang bermanfaat dari kedua tumbuhan ini.  Ternyata bangle si obat tradisional ini punya khasiat yang banyak. Ini dia sekedar pengetahuan. Bangle sejatinya memiliki nama Latin Zingiber purpureum roxb terbukti memiliki kandungan berupa asam organik; mineral; lemak; gom albuminoit; gula; damar (pahit); minyak atsiri (sineol, pinen, sesquiterpen) yang kesemuanya bersifat karminatif; anti inflamasi; analgesik; antipiretik. Maka tak pelak tanaman yang satu ini ramai dijadikan obat tradisional sekaligus obat herbal. Beberapa manfaat bangle yaitu obat masuk angin, perut mulas, sakit kepala, sakit kuning, nyeri sendi, dan cacingan.  

Ada pun jaringao/  jeringau/ delingau/ darinagau yang nama latinnya Ascorus Calamus ternyata merupakan tanaman yang sekeluarga dengan talas. Bentuknya seperti pandan hanya dia tumbuh di air (lumpur) seperti pinggiran sungai, pinggir kolam atau parit. Kandungan yang terdapat pada tanaman ini adalah minyak atsiri ( glikosida, asaron, eugenol, asarilaldehida, akorenin, akoretina, akonin, kholin, isokolamin, akolamonin, kalameona, sioburin, isosiobunin, resin, amilum, tanin), flavonoid, dan saponin.

Dengan kandungan tersebut di atas, jaringau mempunyai manfaat sebagai obat alternatif sebagai penenang alami, pelancar sistem pencernaan, untuk perut kembung, mengobati tipes, dan kejang.
Dua sejoli tumbuhan obat alami bangle-delingo sejak zaman dahulu sudah digunakan oleh bangsa Indonesia untuk mengobati aneka macam penyakit seperti demam, flu, sakit perut, dan untuk membuat anak lebih tenang. Karena aromanya kerdua sejoli ini sering digunakan sebagai aroma terapi bagi anak yang sakit sehingga lebih menenangkan dan membuat mereka mengantuk.

Ketika saya mencium bau khas dari kedua obat tradisional ini, saya jadi tahu bahwa aromanya pun menjadi aroma terapi bagi yang sakit. Rasa hangat yang ditimbulkan pun menjadi melancarkan darah dan melemaskan otot dan persendian yang kaku.

Saya akui memang dengan diobati secara tradisional membantu Abhimanyu merasa lebih nyaman. Selama sejam dia dipijit Mbah Par, ia tertidur. Obat yang dibalurkan ke tubuh pun membantu dia lebih lega untuk bernafas. Otot yang sakit pun terkurangi rasa sakitnya karena jahe dan bawang putih yang diparut.

Asupan Nutrisi
Awalnya saya menyangka Abhimanyu kena flu tulang atau chikungunya, tetapi ternyata bukan.  Istilah flu tulang menjadi salah satu istilah yang sering saya dengar dari beberapa orang. Tanda-tanda umum dan gejala yang dialami oleh anak saya adalah nyeri otot betis, pusing,  kelelahan, dan   panas, mata berair, batuk, radang tenggorokan. Namun, ternyata dokter menyatakan bahwa itu bukan flu tulang.

Untuk mempercepat kesembuhan dan mengembalikan  kekuatan fisik, saya juga memberikan makanan yang baik padanya.  Buah (Abhimanyu  suka pepaya dan apel), minum air putih yang banyak, minum teh madu, minum air jeruk hangat,  air kunyit ditambah jeruk nipis dan madu (1 sendok makan 3 kali dalam sehari), telur rebus, nasi/bubur, roti bakar, dan beberapa makanan yang dia suka. Saya menghindari makanan gorengan dan juga makanan ringan yang dijual bebas di warung. Cemilan yang saya berikan lebih kepada buah dan biskuit yang aman seperti kue mari.

Saya diberi saran oleh Mbah Par agar jangan memberikan minum air dingin. Selain itu juga disarankan untuk tidak mandi di atas pukul 16.00. Menurut saya amsuk akal agar anak jangan kedinginan sehingga memicu kembali flunya.

Dari pengalaman anak saya sakit flu berat ini, saya belajar ternyata obat dan cara tradisional itu banyak membantu untuk penyembuhan dan pemulihan kondisi si sakit. Saya ini dibesarkan di desa dengan cara kampung. Jadi saya amsih sering menggunakan cara kampung yang saya pakai untuk mengatasi berbagai persoalan. salah satunya saat sakit.

Namun, ketika kita kaji dan pelajari, cara dan obat kampung ternyata bisa dijelaskan secara keilmuan. Dengan begitu, sudah pasti amsuk akal. bukan hal yang kelenik atau mistis.



Rabu, 15 Maret 2017

PUISI REFLEKTIF


SEPI
Sepi dihindari
Kesunyian ditakuti
kesenyapan menjadi masalah
Karena sepi menguliti diri
Hingga inti yang tak dimengerti

Sepi dibenci
Diakali dengan strategi
Kreasi dicari untuk bisa mengalahkan sunyi

Bagi si pemberani
sepi dicari untuk digumuli
bertemu diri hingga menyadari yang ilahi

Senyap disapa dengan mesra
dalam diam yang temaram
ada rasa jiwa yang diolah
lena berjalan ke kedalaman

Belajar untuk menyapa sunyi
masuk ke dalam diri
untuk membawa hening nan bening
pada dunia yang sarat luka

                  (Ch. Enung Martina)

Senin, 05 Desember 2016

RETRET BERSAMA ST. IGNATIUS ( Hari Pertama)

(Danau Garda, Italia)

Kita manusia ciptaan Allah yang memiliki tubuh yang dibatasi ruang dan waktu. Manusia adalah kesatuan antara tubuh dan jiwa yang memberi hidup. Arah tujuan hidup kita digerakkan oleh dorongan roh. Roh baik membimbing kita pada Allah sebagai tujuan akhir, sedangkan roh jahat membelokkan arah tujuan hidup kita.  Untuk mengenali roh baik dan jahat itulah kita memerlukan waktu menyendiri dan mengheningkan diri. Retret merupakan salah satu latihan rohani untuk mengenali kedua roh tersebut.

Pada saat retret kita memerlukan keheningan diri, keterbukaan akan Kasih Allah, kerja sama dengan manusia juga Allah, serta juga memerlukan kedisipilan diri dalam melakuakan berbagai latihan di bawah bimbingan.

Situasi yang harus kita bangun   pada saat retret adalah sikap batin berjiwa besar untuk mengakui beberapa kekurangan dan kelemahan,  serta rela berkorban untuk membuang hal-hal yang selama ini sudah melekat ternyata tidak membawa pada kebaikan. Keterbukaan hati diperlukan untuk membiarkan Allah membimbing kita seperti seorang guru yang membimbing muridnya. membiarkan diri mempunyai kesadaran akan kegiatan yang dilakukan dengan meninggalkan rutinitas, membiarkan diri tenang dan dalam suasana istirahat. beretret merupakan situasi liburan. Berlibur bersama Tuhan.

Bukan seberapa banyak berlimpahnya pengetahuan yang diperoleh dalam retret, melainkan lebih penting merasakan dan mencecap kebenaran yang memperkaya jiwa.  Tidak dalam rangka mengejar banyaknya materi yang sudah dirancang, melainkan kedalaman refleksi yang utama. Karena itu untuk masuk ke kedalaman memerlukan silensium. Diam. Hening agar kita berjumpa dengan diri kita dan Tuhan.

Salah satu latihan dal;am retret adalah meditasi. Latihan meditasi merupakan proses untuk masuk pada keheningan menuju kedalaman.  Latihan yang digunakan dengan meditasi cara Ignatius dari Loyola yang mempunyai  4 tahapan. Meditasi ini dibawa pada satu fokus dari teks Kitab Suci.

Tahapan pertama kita mengenali dahulu pokok-pokok bacaan yang biasanya ada 3 pokok. Pokok pertama pada pengenalan-pengantar, pokok kedua ada permasalahan atau pergumulan, pokok ketiga ada situasi ideal yang dikehendaki Allah.  Tahapan yang kedua ada percakapan imajinatif antara diriku dengan Tuhan melalui kata-kata / ayat dalam pokok-pokok-pokok di atas. dalam pokok ini ada perjumpaan antara diriku dengan Tuhan. Tahapan ketiga adalah memahami dan merefleksikan perjumpaan tadi dengan hidupku. tahapan yang keempat mencacatkan buah-buah yang kudapatkan dalam proses bermeditasi.


Permenungan dari Kejadian 6: 9-22 (Riwayat Nuh)
Hasil Meditasi Diriku:
Tahap I: Menghidupkan kembali teks Kitab Suci dalam 3 pkok. Pokok 1, Kejadian 6: 9: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan  Allah.  Pokok 2, Kejadian 6: 13: Aku (Allah)telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Pokok 3 Kejadian 6: 18: tetapi dengan engkau (Nuh) Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan istrimu dan istri anak-anakmu.

Tahap II Percakapan imajinatif: Dalam tahap ini saya mengalami imajinasi tentang sebuah kapal pesiar besar bercat putih yang sedang berlabuh. Imajinasi   saya hanya sebatas bentuk luar kapal tersebut. Saya tidak melihat dalamnya. Gambaran berikutnya muncul di dalam kapal Tanjung Kambani. Sekedar tahu, Tanjung Kambani itu sebuah kapal perang milik TNI ALRI. Gambaran ini muncul karena saya pernah menginap di dalam kapal ini dan berjalan di seluruh bagian kapal ini, kecuali gudang senjatanya. Lalu gamabaran berikutnya  muncul seorang laki-laki Yahudi berusia anatara 50-60 tahun dengan janggut rapi yang di antara janggut itu sudah muncul beberapa uban. Ia berperawakan tinggi, besar, tidak gemuk, tetpi tegap, berkulit agak kemerahan seperti pada umumnya orang Yahudi. Rupanya itu gambaran Nuh.  

Dalam tahapan ini saya mengingat bahwa sebetulnya saya pernah membayangkan kalau saya hidup pada zaman Nuh atau kebalikannya, Nuh hidup di zaman saya,  saya merasa jatuh cinta dengan Nuh. Lantas saya mengingat ada sebuah cerpen yang saya buat terinspirasi karena kisah Nuh. Cerpen ini mendapatkan juara harapan II ketika saya lombakan dalam sebuah perlombaan menulis cerpen tingkat dewasa. 

Persepsi yang terhubung dalam otak kanan saya saat tahapan ini adalah: Nuh orang yang dekat dengan Allah, sudah pasti hidupnya selaras/seimabng secara horisontal (sesama) dan vertikal (Tuhan). Saya melihat Nuh adalah seorang yang kaya. Ia mempunyai banyak teman dan kolega. Meskipun teman dan koleganya berbeda gaya hidupnya dengan Nuh, tetapi ia tetap bekerja sama dalam hal bisnis dengan mereka. Saya membayangkan Nuh orang kaya karena ketika Tuhan menyuruh dia membangun bahtera bertingkat 3 yang itu artinya bahtera besar dan pastinya perlu biaya banyak, Nuh melakukannya dan selesai membangunnya.  Imajinasi saya berlanjut bahwa saat pembuatan bahtera itu, Nuh mendapat  pertanyaan dan cemoohan dari orang-orang sekitarnya. Nuh seorang yang bermental baja. Ia lelaki yang kuat mental. Ia percaya pada janji Allah yang akan menyelamatkan dia dan keluarganya. Nuh yakin Allah mempunyai proyek besar dalam hidupnya dan pasti akan menggenapi.

Tahap III, kontekstual dengan hidup saya: Allah juga mempunyai janji kepada saya. Allah menjanjikan rancangan damai sejahtera dan keselamatan un tuk saya. Allah juga memberikan proyek besar dalam hidup saya. Proyek itu adalah panggilan hidup saya sebagai seorang guru di St. Ursula BSD, sebagai seorang ibu dari 3 orang anak, dan memilih saya menjadi seorang Katolik yang hidup di Indonesia.

Proyek ini dirasa penting bagi saya. Menjadi seorang guru merupakan tantangan karena saya harus terus belajar dan harus menjadi model bagi anak didik saya. Saya sudah 20 tahun menjadi guru di St. Ursula. Saya mengalami refleksi yang panjang untuk sampai pada kesadaran bahwa menjadi guru itu adalah proyek besar dalam hidup saya.

Demikian pula proyek menjadi ibu bagi 3 orang anak. Saya sebagai seorang ibu tak pernah bersekolah bagaimana menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anak saya. Saya merasa terkadang saya menjadi ibu yang buruk. Untuk mendidik anak menjadi anak-anak yang berkareakter.

Tahapan keempat saya bertanya pada diri saya: Apa yang akan saya lakukan untuk ke depan berkaitan dengan proyek Tuhan dalam hidup saya?

Pastinya saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan proyek Tuhan dalam hidup saya dan menyelesaikannya sampai dengan ketsudahannya. Tuntas. Berhasil. 

Sebagai guru saya benar-benar akan menikmati pekerjaan saya sebagai pendidik. Lima tahun ke depan saya sudah pensiun menurut aturan kepegawaian yang berlaku di yayasan tempat saya bekerja. Dengan begitu saya benar-benar akan menikmati menjadi guru ini dengan penuh gairah.

Proyek kedua saya sebgai ibu dari tiga anak. Kedua anak saya sudah bekerja, sudah besar. Namun, perjuangan mereka untuk meraih harapan, cita-cita, dan panggilan hidup mereka, tetap membutuhkan saya sebagai ibunya untuk menjadi pendukung meraka. Untuk anak bontot yang sekarang berada di kelas 1 SD, sudah jelas bahwa perjuangan saya masih panjang. Itulah alasan Tuhan membuat saya tetap sehat dan membuat saya tetap bersemangat. 

Karena saya orang Katolik yang hidup di Indonesia tentunya bukan secara kebetulan. Saya dipanggil untuk menjadi seorang Katolik yang minoritas di negri saya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa menjadi minoritas itu bukan hal mudah. Namun, saya tetap akan setia pada panggilan saya sebagai orang Katolik dengan tantangan iman yang saya hadapi. Saya berusaha untuk bisa menggereja semampu saya.  (Ch. Enung Martina)



Jumat, 25 November 2016

HARI GURU: MENJAGA INTEGRITAS DIRI GURU SEBAGAI PENDIDIK


Guru diberikan kehormatan dengan cara  negara memberikan  setiap tanggal 25 November sebagai hari untuk menghormati profesi ini. Ini menunjukkan bahwa profesi guru dihargai dan dihormati sebagai sebuah profesi yang membawa dampak baik bagi bangsa ini. Anak bangsa akan menjadi cerdas dengan bimbingan para guru. Berkat pendampingan dan pengajaran mereka para anak bangsa mempunyai harkat yang baik karena mereka mempunyai pendidikan. Pendidikan yang mengngkat seseorang menjadi lebih berharkat.

Guru dengan pendidikan tak bisa dipisahkan. Ibarat cabai denagn pedasnya, gula dengan manisnya, dan garam dengan asinnya. Menjadi senyawa yang tak terpisahkan. Ketika garam tak lagi asin maka dia tak lagi disebut garam. Demikian juga guru. Bila guru tak lagi mendidik dia bukan lagi sebagai seorang guru yang layak digugu atau ditiru.

Guru bukan lagi sebagai sebuah profesi dengan ijasah dan pendidikan keguruan di belakangnya  belaka. Profesi guru bersenyawa dengan kepribadian guru tersebut. Profesi guru menuntut seseorang menghayati profesinya dan sekaligus menjadikan kepribadiannya juga layak disebut guru. Ada sejumlah persyaratan tak tertulis yang harus dipenuhi seseorang  ketika dia memutuskan untuk menjadi guru. Ada integritas yang harus dipenuhi ketika seseorang menjadi guru.

Dalam fase kehidupan manusia seorang pendidik mempunyai andil pada proses pembentukan karakter. Guru yang memiliki makna “digugu lan ditiru” (dipercaya dan dicontoh) secara tidak langsung juga memberikan pendidikan karakter pada peserta didiknya. Oleh karena itu, profil dan penampilan guru seharusnya memiliki sifat-sifat yang dapat membawa peseta didiknya ke arah pembentukan karakter yang kuat. (M.Furqon Hidayatullah, 2009).

Dari  pendapat diatas, kita dapat memberikan persepsi mengenai makna dari guru itu sendiri. Sebagai guru yang dituntut untuk profesional, memberikan makna bagi sarjana pendidikan yang akan menjadi penopang estafet mendidik anak bangsa untuk memberikan suatu realita contoh dari diri mereka. Sikap yang ditunjukkan didalam diri mereka kepada anak didik merupakan suatu bukti nyata dari hasil kombinasi etika dan moral yang dimiliki oleh seorang guru. Jika rusak etika dan moral mereka sebagai guru, maka rusaklah sikap mereka kepada anak didik dan tidak patut dijadikan sebagai contoh dan panutan. Namun pertanyaannya adalah bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh seorang sarjana pendidikan sebagai guru dan penerus estafet didalam mendidik anak didik? Inilah yang perlu dikaji secara mendalam dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan saat ini dengan kesejahteraan guru yang semakin meningkat.

Moral dan Etika merupakan bentuk kontributif dari sikap yang ditunjukan oleh guru kepada anak didiknya. Jika Moral dan Etika buruk, maka buruk juga sikap guru dimata anak didiknya, dan terkadang anak didik menjadikan panutan didalam kehidupan sehari-hari mereka. Untuk mencapai moral dan etika yang baik kepada siswa, sudah selayaknya sebagai guru yang profesional, mampu mengkonstruksi kembali perencanaan pendidikan yang akan dilakukan kepada anak didik. Untuk mendapatkan apresiasi yang baik dari anak didik, maka terlebih dahulu guru membenahi moral dan etika mereka dihadapan anak didik dan bukan menjadikan moral sebagai topeng. Karena jika moral dan etika hanya dijadikan sebagai topeng, maka suatu saat moral buruk akan kembali dan merusak tatanan sebelumnya sehingga menjadikan topeng baik menjadi topeng buruk.

Sudah selayaknya moral dan etika guru sebagai wajah yang selalu tertanam didalam diri manusia. Bukan sebagai topeng yang sekali waktu bisa tergantikan denagn topeng yang lainnya.
Kurangnya respon guru terhadap anak didik didalam pembelajaran atau sebaliknya memberikan andil didalam menurunkan moral dan etika seorang guru. Terkadang ketika didalam proses belajar mengajar siswa kurang memberikan apresiatif terhadap guru yang sedang mengajar didepan kelas, misalnya ribut. Jika siswa ribut, terkadang guru sering lepas emosi, alhasil memberikan citra buruk kepada guru tersebut dihadapan peserta didik. Siswa menganggap guru killer, dan tidak mustahil dapat berimbas pada minat maupun motivasi siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. Oleh karena itu, selayaknya seorang guru mampu mengontrol emosinya pada saat keadaan yang tidak terkendali.

Sebagai seorang pengajar yang akan memberikan materi penlajaran kepada siswanya seharusnya seorang guu memberikan inovasi-inovasi didalam pengajarannya dengan model-model pembelajaran dan pemanfaatan teknologi yang menarik bagi siswa, tetapi tetap disesuaikan dengan kondisi sekolah dan permasalahan siswa. Selain itu, sudah selayaknya seorang guru memberikan apresiasi besar kepada siswa dengan apa yang dilakukan oleh mereka didalam proses belajar mengajar serta menjadikan anak didik sebagai mitra didalam proses pembelajaran bukan menjadikan anak didik sebagai pesuruh ataupun lainnya yang bersifat memberikan kesenjangan dengan siswa. Peserta didik sebagai subjek, bukan sebagai objek.

Menurunnya moral seorang guru juga dapat disebabkan oleh kurangnya komunikasi antar guru. Dengan kurangnya komunikasi antar guru, terkadang sesama guru tidak dapat mengembangkan inovasi pembelajaran yang efektif dan efisien. Kurangnya komunikasi antar guru juga dapat berakibat pada tidak terselesaikannya permasalahan yang terjadi pada anak didik, misalnya prestasi belajar, dan permasalahan administratif. Terkadang juga dengan kurangnya komunikasi antar guru memberikan sikap kaku didalam sekolah.

Dengan demikian, sangatlah penting seorang guru memberikan sikap saling pengertian dengan guru lainnya, saling komunikatif, dan menciptakan suasana yang kondusif didalam sekolah itu sendiri. Dengan semakin komunikatifnya guru didalam sekolah dapat menguntungkan satu sama lain, yaitu dapat melakukan penelitian terhadap permasalahan didalam pembelajaran kepada anak didik. Sesama guru dapat saling membantu untuk memecahkan permasalahan didalam pembelajaran.  

Permasalahan internal dari guru itu sendiri juga memberikan andil didalam mempengaruhi moral seorang guru. Kita tidak dapat memungkiri, terkadang beberapa guru mencampuradukan permasalahan internal, baik itu permasalahan keluarga maupun lainnya ke dalam kewajibannya didalam mengajar. Sehingga terkadang membuat guru tersebut malas mengajar atau tidak respek dengan apa yang dilakukan siswa didalam proses belajar mengajar. Alhasil guru bersifat masa bodoh dan acuh tak acuh sehingga mengesampingkan makna pendidikan itu sendiri. Sudah seharusnya seorang guru bersifat profesional dan mampu memilah antara permasalahan internal dan proses belajar mengajar.

Kurangnya religiusitas yang berdampak pada kurangnya kecerdasan spiritual seorang guru  juga turut member andil didalam penurunan moral dan etika dari seorang guru. Dengan kurangnya kecerdasan spiritual, guru terkadang cepat emosi dan keluar dari koridor-koridor yang semestinya. Namun sebaliknya, dengan adanya pendidikan religi batasan-batasan yang perlu dilakukan oleh seorang guru dapat terwujud dan meningkatkan moral dan etika pendidik.

Oleh karenanya, pihak sekolah dan dinas kementrian pendidikan nasional perlu mengevaluasi tingkat moral dan etika dari seorang guru yang menjadi tanggung jawab mereka. Dengan adanya evaluasi, diharapkan dapat meminimalisir permasalahan yang mengakibatkan penurunan moral dan etika yang dapat berakibat pada permasalahan-permasalahan krusial, seperti tindak asusila, korupsi, dan tindak lainnya. Perlunya pemahaman moral-sosial dengan pelatihan-pelatihan dan menejemen konflik juga diharapkan dapat meminimalisir dekadensi moral dari para guru.

Guru  sebagai seorang pendidik yang memang lahir dan berkarya untuk pendidikan sudah selayaknya menjadi seseorang  yang memiliki integritas yang tinggi. Integritas artinya selarasnya   moral dan etika dengan tidakan nyata  yang dilakukannya dalam kehidupan kesehariannya.  

Peningkatan kualitas prestasi anak didik merupakan tanggung jawab dari seorang pendidik. Pendidikan tidak hanya mencakup pada tersampainya materi pembelajaran, tetapi juga tercapainya pendidikan karakter pada siswa yang dapat dilihat dari kepribadian siswa keseharian. Moral peserta didik  menjadi bagian dari tanggung jawab guru sebagai pendidik. Jangan salahkan anak didik jika mereka sering mencontek, karena pendidiknya pun acuh tak acuh dan tidak respon dengan baik atau buruknya kegiatan yang mereka lakukan. Sudah selayaknya guru sebagai pendidik menjadi model bagi peserta didik.  Baik atau buruknya moral seorang pendidik berpengaruh besar kepada anak murid yang dididiknya. Pendidik adalah panutan untuk memunculkan potensi positif didalam diri anak didik bukan sebaliknya.

 (Ch. Enung Martina)

Senin, 07 November 2016

Cerpen tentang Kematian

TABIR TIPIS KEMATIAN

Masih ingatkah akan cerpen saya tentang alam yang berjudul Cerita Sebuah Pohon Tanjung? Cerpen ini diunggah 10 Februari 2013 sehari sebelum saya ulang tahun ke-49. Cerpen itu berkisah tentang hati saya yang biru dan lebam karena 2 pohon tanjung besar di rumah saya ditebang karena lahan di dekatnya akan dibangun rumah, padahal pohon tanjung itu pohon peneduh di pinggir jalan.  Pohon tanjung itu sudah berusia sekitar 18 tahun kala ia ditebang. Hati saya merana sampai rasanya sakit saat saya bernafas. Kala itu saya benci terhadap orang yang akan jadi calon tetangga saya yang membangun rumahnya disamping rumah saya denagn mengorbankan pohon tanjung besar yang saya cintai.

Ini adalah lanjutan kisah sesudah 3 tahun lebih peristiwa itu berlalu.  Kami dengan penebang pohon tanjung ini menjadi tetangga. Ada asam dan manis menjadi tetangga. Awalnya saya agak canggung ketika bertegur sapa denagn keluarga ini. Apalagi saat saya mengingat dua pohon tanjung, hati saya teriris lagi. Namun, dengan bergeraknya waktu yang ajaib, kami menjadi tetangga yang baik. Anak-anaknya 3 orang anak laki-laki mulai bermain ke rumah kami. Main bersama si bungsu, Abhimanyu. Terutama anak nomor dua yang usianya selisih 1 tahun dengan bungsu saya.  Nonton yutube bersama, main game bersama, naik sepeda bersama, makan bareng, jatuh bareng, nakal bareng. Pokoknya menjadi sahabat baik. Alvin, nama anak kedua tetangga baru ini hampir setiap hari main ke rumah saya. Mungkin karena di rumah ada vasilitas internet dan laptop yang bisa dijadikan dua anak generasi Z ini bermain. Jadilah kedua anak ini menjadikan rumah saya jadi amrkas mereka.

Saya sendiri sudah jatuh cinta dengan Alvin. Anak laki-laki yang rambutnya selalu dipotong plontos itu sangat pandai membawakan diri saat bermain dengan Abhimanyu. Demikian pula kami orang tua, akhirnya mulai berperilaku layaknya tetangga,  saling mencicipi oleh-pleh bila habis bepergian, berbagi masakan yang kami masak. Hati saya sudah tidak biru lagi. Pohon tanjung masih ada dalam ingatan saya, tetapi sakit hati mulai terkikis. Itu keajaiban waktu.

Kebetulan pula bahwa saya orang Sunda dan keluarga ini suami istri dari kabupaten yang sama denagn saya. Bahkan, sang istri satu kecamatan dengan saya. Jadilah kami sering mengobrol dengan bahasa Sunda yang sangat langka saya gunakan di sini karena tak ada lawan.  Begitulah kami akhirnya menjadi tetangga yang baik.

Memang ada beberapa hal dari keluarga ini yang tak cocok denagn prinsip saya, contohnya  dalam hal lingkungan dan pola pengasuhan anak. Namun itu hal lumrah karena tidak tiap orang harus sama dengan apa yang saya mau. Dalam hal lingkungan keluarga ini saat membangun  rumah memindahkan batas jalan umum untuk memperlebar batas tanahnya. Waktu itu salah satu dari warga blok kami sudah ada yang mengingatkan, tetapi tetangga baru saya tak menggubriusnya.  Masih dalam hal lingkungan, keluarga ini tidak membuat bak sampah dekat rumahnya, melainkan menempatkan pot besar sebagai pengganti tempat sampah di samping bak sampah saya yang dibangun permanen. Dalam pola pengasuhan anak, tak ada batasan waktu anak bermain di luar atau ke rumah tetangga. Anak akan dibiarkan pulang sendiri. Terkadang saya harus mengusir Alvin pulang karena sudah kelamaan di rumah saya.

Hal-hal demikian bukan menjadi pengahalang dalam bertetangga itu pikir saya. Namun, untuk melebarkan batas tanah sempat menjadi bahan pemikiran saya. Itu karena saya dibesarkan dalam budaya pertanian yang sangat menghargai tanah, tanaman, dan air. Ayah saya almarhum pernah memberikan petuahnya bahwa jangan pernah kita melebihkan batas tanah kita dengan mengambil batas tanah orang lain. Itu pamali. Saya masih ingat karena saat itu tidak puas dengan pernyataan pamali. Lantas saya bertanya : Kenapa? Ayah saya bilang tanah itu menyangkut ‘hurip’ kehidupan. Semua mahluk bumi hidup dari tanah dan air. Karena itu kalau kamu memindahkan batas,  kamu sudah mencurangi kehidupan. begitu penjelasan ayah saya. Pasti ada akibatnya. Waktu saya bertanya apa akibatnya? Tapi Emak (ibu saya) bilang kalau pamali itu  tak usah dipertanyakan karena itu aturan leluhur yang juga diturunkan dari sononya. Mereka membuat aturan itu berdasarkan pengalaman mereka. Jadi saya tidak bertanya lagi.

Nah, kata-kata ayah saya jadi terngiang lagi ketika tetangga baru saya memindahkan batas itu. Tapi karena banyak perkara lain yang  menyita pikiran saya, hal tersebut tidak berkepanjangan, dengan sendirinya hilang begitu saja.

Hingga pada suatu hari Kamis tanggal 18 Agustus 2018, saya pulang dari tempat kerja melewati rumah tetangga baru saya sebelum masuk ke pintu pagar saya. Saya melihat di gang sudah dipasang tenda. Saya lewat saja karena pikir saya mungkin Papa Alvin mau menyelenggarakan pesta. Ketika saya masuk, Abhimanyu sedang menonton chanel yutube kesukaannya, tiba-tiba mengatakan, “Ibu, Alvin meninggal tadi pagi.”

Saya sontak melepaskan barang bawaannya saya dari tangan saya, seolah petir di siang bolong berita itu masuk ke kepala saya. “Kenapa Alvin, Abhi?”
“Alvin sudah dipanggil Tuhan. Tapi kamu gak usah sedih.”

Sudah pasti sedih dan kaget. Meskipun Abhimanyu berpesan begitu. Masih terlihat di sudut mata saya, Alvin duduk berdua dengan Abhimanyu di kursi yang sekarng diduduki Abhimanyu saat melihat chanel yutube atau bermain game bersama. Masih terbayang di pelupuk mata kaus – celana setelan hijau ada strip kuning di lengannya dengan gambar pahlawan power ranger di depannya. Di halaman rumah, tepatnya jalan gang blok kami, Alvin akan main bola atau main kayu bersama adiknya. Semuanya nyata di mata saya yang sekarang basah bersimabha air mata.

Tanpa mengganti seragam kerja berwarna biru ngejreng yang melekat di tubuh saya, saya langsung menyambangi tetangga baru saya. Keluarga inti Alvin tak ada di rumah. Mereka membawa jenazah Alvin ke kampung ibunya, berarti ke daerah saya, untuk memakamkannya di sana. Yang menyambut saya adalah paman dan bibinya yang dipercaya menjaga rumah.

Saya bertanya pada mereka penyebab Alvin meninggal. Mereka mengatakan Alvin panas 3 hari, ini hari keempat ia meninggal. Tubuh Alvin membiru saat meninggal, terutama di bagian kuku dan lidahnya. Saya kaget sekali. Saya penasaran apa yang menyebkan kematian bocah ini. Namun, mereka menjelaskan saat dibawa ke RS Medika, Alvin sudah meninggal sehingga tak bisa diketahui apa penyebabnya.

Saat saya berbincang dengan teman sekerja saya yang sekaligus tetangga saya selang satu rumah, topik kami  masih pertanyaan seputar penyebab kematian Alvin. Pak Jaka kawan saya akhirnya menelepon adiknya yang seorang dokter. Adik Pak Jaka menyatakan kalau dengan tanda seperti itu, kematian itu disebabkan kekurangan oksigen. Apakah Alvin mempunyai penyakit asma? Saya tak berani menanyakan pada orang tuanya hingga saat ini. Saya bertemu dengan mereka tak pernah menyinggung Alvin. Saya tahu hal itu akan melukai mereka.

Saya dan Abhimanyu khususnya mendoakan Alvin saat doa malam kami. Dua hari setelah kematian Alvin, berarti itu hari ketiganya Alvin tiada, Abhimanyu minta sendiri untuk mendoakan Alvin. Kami berdoa dimualai dengan doa Abhimanyu untu Alvin dan untuk supaya tidak mimpi buruk, melainkan mimpi indah. Lalu doa saya lanjutkan juga masih untuk Alvin. Selesai kami membuat tanda salib tanda doa berakhir, Abhimanyu tiba-tiba berkata, “Bu, kok kamar kita wangi sekali. Apa ada minyak wangi yang tumpah? Coba Ibu cium!” Tapi saya tak mencium apa pun. Sampai saya cari di seputar kamar bahkan ke luar dekat jendela, saya tak menemukan apa-apa. Namun, Abhimanyu tetap ‘keukeuh’ menyatakan bahwa kamarnya wangi sekali, wangi parfum dengan aroma manis, begitu ia mendeskripsikan.

Saya tidak diberi berkat untuk mencium wangi itu. Wangi itu hanya khusus UNTUK ABHIMANYU SAJA. Ketika ia bertanya itu wangi apa, saya agak sukar untuk menjawab pertanyaan itu. Saya ngarang bahwa mungkin itu wangi yang dibawa angin ke rumah kita lalu mampir di kamarmu. Begitu saya menjelaskan. Untung dia mengantuk sehingga pertanyaan tidak bersambung.
Setiap malam acara rutin saya bermeditasi (Zen Qi Sirkulasi) untuk tujuan kebugaran tubuh. Biasanya dilakukan sesudah doa malam atau sebelum rutinitas pagi. Pukul 3 .30 pagi saya bangun, lalu doa dilanjutkan meditasi. Lumayan kalau ada masalah tidak langsung nyamber ke titik emosi negatif saya, kepala jadi agak adem.

Penyebab kematian Alvin masih bersarang di otak saya. Karena itu akhirnya saya bawa dalam meditasi pernafasan saya. Apa yang didapat saudara? Ingatan kembali ke tahun 2013 saat tetangga baru saya membabat habis pohon tanjung dan membuat hati saya biru lebam. Otak saya menghubungkan pohon tanjung itu adalah sumber oksigen untuk tiap mahluk yang ada di sekitarnya. Pohon adalah pabrik oksigen. Pohon ditebang artinya kita menghancurkan pabrik oksigen. Artinya merampas oksigen dari mahluk  yang membutuhkannya. Alvin mati kekurangan oksigen. Bapaknya Alvin 3 tahun lalu menghilangkan sumber oksigen.  Bapak Alvin mengubah batas tanah yang merupakan jalan umum- hajat hidup orang banyak untuk memperluas tanahnya sendiri. Sekarang hidup Alvin terenggut?

Dalam meditasi itu air mata saya menetes deras. Saat itu saya sangat takut dengan hukum alam. Atau huku karma. Atau hukum sebab akibat. Atau hukum pamali yang ayah saya katakan. Saya sangat takut. Otak neokortek saya yang merupakan otak akal budi menepis hasil analisis otak reptilia dan otak mamalia saya. Saya bertanya apakah pamali yang Ayah saya ajarkan itu benar terjadi? Apakah benar ketika kita melakukan tindakan gegabah pada alam bisa berdampak langsung seperti itu? Tapi kenapa kalau itu  benar terjadi apda anak kecil yang tak mengerti apa-apa?

Itu semua analisis di otak reptilia dan otak mamalia saya saat meditasi.  Salah satu Suhu pernah menyatakan bermeditasi itu adalah proses otak untuk menganalisis, memilah, mengungakp, menimbang, membangun,  dan akhirnya memaparkan. Namun, benar atau tidaknya, Walallahu Alam.
(Ch. Enung Martina)