Selasa, 17 Mei 2022

Wisata Alam Terpadu Camp Hulu Cai

 








Hulu cai adalah mata air dalam bahasa Sunda. Tanggal 16-17 Mei 2022, merupakan perjalanan saya kali ketiga ke Hulu Cai. Kali ini, penulis menginap. Dua kunjungan sebelumnya survey untuk kepentingan tempat bekerja. 





Camp Hulu Cai terletak di  Jalan  Veteran III, Cibedug, Kec. Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16720. Camp Hulu Cai yang berdiri sejak tahun 2005 silam. Camp ini  merupakan wisata terpadu dengan konsep alam sekaligus resort. Destinasi wisata  ini banyak dikunjungi baik untuk liburan keluarga maupun pelatihan SDM suatu perusahaan. Resor terpadu ini bahkan mampu menghadirkan berbagai fasilitas yang tersedia  untuk memanjakan setiap pengunjung.







Camp ini menjadi destinasi wisata favorit warga ibu kota menghabiskan hari liburnya menikmati sejuk dan indahnya alam pegunungan.  Tempat wisata ini dibuat untuk liburan keluarga. Namun, tak jarang juga digunakan oleh perusahaan dan kantor-kantor untuk dijadikan tempat pelatihan para pegawainya. Juga digunakan untuk berkemah dalam kegiatan sekolah dan komunitas lain. 









Banyak spot wisata yang ada di Camp Hulu Cai seperti taman bunga indah, resort, outbond centre, trak jalan kaki, kebun sayuran, berkuda,  dan camping ground. Para pengunjung dapat hanya sekedar jalan-jalan tanpa harus menginap. Tentu saja dengan membayar tiket di pintu masuk.  Untuk jam operasional wisata dari Camp Hulu Cai Resort sendiri buka setiap hari selama 24 jam. Jadi anda bisa berkunjung ke Camp Hulu Cai kapan saja dan menikmati pesona keindahannya sepuas hati.







Camp Hulu Cai dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang akan memanjakan waktu libur anda seperti:Tempat parkir kendaraan yang luas, Villa berbagai macam pilihan, Camping area berbagai macam landscape, Wahana permainan, Spot foto, Tempat ibadah (mushola), cafe, gazebo, klinik kesehatan, dan toilet. 













Ternyata setelah saya menelusuri beberapa sumber,  Camp Hulu Cai, sebuah lokasi hunian resort natural yang memiliki luas area kurang lebih 25 hektar yang terbagi di 2 wilayah yaitu di wilayah Babakan dan Cibedug. Kita dapat menikmati  pemandangan gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango dengan  keasrian dan kesejukan hawa pegunungan.  










Karena lokasi yang luas, maka untuk para pengunjung, pengelola menyediakan angkutan kendaraan roda 4 terbuka  khusus bagi tamu agar dapat menikmati pesona dan keseluruhan nuansa Camp Hulu Cai. Pada saat penulis berkunjung, para tamu tinggal membayar Rp 10.000 untuk mengelilingi seluruh komplek area. 







Sumber:

https://sikidang.com/camp-hulu-cai/

https://www.ciwideyoutbound.com/camp-hulu-cai.html





Kamis, 14 April 2022

PUISI KAMIS PUTIH

 

(pic: https://voxntt.com/)

AKU DIBASUH-NYA


Engkau  telah mengosongkan diri-Mu

dan mengambil rupa seorang hamba,

Yang kadang tak pernah aku kenali

karena Kau begitu tak pantas untuk ukuran dunia

 

Malam ini Kau datang memintaku untuk duduk

Melepaskan segala penat dari urusan sepele yang kuanggap berharga

Dan Kau-buka kasutku serta Kau basuh kedua kakiku

Melepas segala kotoran yang menempel

 

Guyuran air dingin meluluhkan semua debu hingga partikel kecil

Seluruh tubuhku terguyur kesejukan yang tak pernah kurasa

Kesejukan surgawi yang melingkupi seluruh diri

Aku terbang ke langit biru bersama awan putih dan sinar hangat mentari

Terguncang rohku dengan  sukacita

Yang terlepas dalam bulir-bulir air mata yang tak henti

 

Tuala Kau sekakan ke kakiku

Kaki yang selama ini menopang seluruh adaku di Bumi

Kaki yang selama ini membawaku berjalan menuju aneka  tempat

Kaki yang terkadang terabaikan karena sudah terlalu biasa

Kaki yang menjadi suku untuk aku berdiri kokoh

Kaki yang menjadi fondamen dan menopang tubuhku

 

Kau menunduk  mencuci kakiku  bak seorang budak 

Dan Kau tahu bahwa aku sangat tak layak

Namun, aku tahu bahwa kasih-Mu melampaui kaidah

Yang dibuat manusia untuk menetapkan tindak

 

Engkau, Sang Pencipta,  mengambil rupa sahaya

Kalimatullah yang menerbitkan semesta 

Datang menghampiriku tanpa kata

Kefanaanku di hadapan-Mu sempurna

 

 ( Kamis Petang, 14 April 2022, Gereja St. Ambrosisu, Vila Melati Mas) 

 

 

 


Jumat, 25 Maret 2022

JURNAL EMAUS JURNEY

 




Sekilas mengenai Emmaus Journey  
Kelompok Spiritualitas Kitab Suci Emmaus Journey (“Emmaus Journey”) adalah kegiatan yang diprakarsai oleh Pastor Yan Sunyata OSC, saat beliau bertugas di paroki St. Monika Serpong. Kegiatan ini pada mulanya diberikan untuk pengembangan kemampuan anggota Seksi Kerasulan Kitab Suci (dahulu Seksi Pewartaan Iman), kemudian dikembangkan menjadi kegiatan umat—dalam program kerja Seksi Kerasulan Kitab Suci untuk menggiatkan pembacaan dan penghayatan Kitab Suci oleh umat.

Dalam kegiatan sharing kelompok peserta diminta untuk menuliskan jurnal bacaan Kitab Suci beserta renungan dan doa singkat.

Di bawah ini ada kumpulan jurnal yang penulis tulis. Lumayan untuk berbagi. 

Selamat membaca.

Link buku digital

https://online.fliphtml5.com/sudrn/aeou/

Jumat, 11 Maret 2022

Tolong CT Value Saya Masih Rendah!



Pada hari ke-12 terkena Omikron, saya melakukan PCR. ternyata hasilnya menunjukkan CT value saya 27.7. Saya bertanya pada teman yang pernah terkena covid. Dia menyatakan bahwa CT saya rendah, berarti saya masih positif.

Terus terang saya panik juga. Tapi, saya ini kan jenis orang seperti Thomas Didimus, yang gak pernah setuju dan menerima begitu saja kata-kata orang. Jelaslah pasti saya akan berliterasi untuk membuktikannya. Nah, di sinilah saya sampaikan hasil literasi saya. 

CT Value adalah singkatan dari Cycle Threshold Value. Angka yang ditunjukkan adalah putaran pada mesin ke sekian (sesuai angka), terdeteksi virus Sars Cov-2 pada pemeriksaan PCR Swab. Semakin tinggi angka CT, semakin pula virus terdeteksi.

Nilai CT dibutuhkan oleh dokter untuk memutuskan diagnosis dan langkah perawatan atau pengobatan selanjutnya.  Nilai CT tidak digunakan untuk menentukan seberapa parah penyakit seseorang. Seberapa menularnya seseorang atau kapan seseorang dapat dibebaskan dari isolasi/karantina. 

Di masyarakat awam beredar kepercayaan seperti ini: Jika CT Value saya rendah, saya sangat menularkan. Jika CT Value saya sangat tinggi, tandanya sudah sembuh, donk. 

Pertanyaannya: Apa benar seperti itu?

Untuk mengetahui seseorang masih menularkan virus Covid-19 adalah dengan pemeriksaan kultur virus serta gejala klinis yang harus diagnosis oleh dokter. 

Menurut penelusuran yang saya lakukan standar angka pada mesin PCR bisa berbeda tiap rumah sakit, karena merek dan standar yang digunakan juga berbeda. PCR hasil NEGATIF rata-rata menggunakan standar 35-40, tergantung pada alat yang digunakan saat melakukan RT-PCR (Reverse transcription-Polymerase Chain Reaction).

Nah, menurut pendapat ahli medis mengutip dari pernyataan dr. Jaka Pradipta, Sp.P dari website https://mayapadahospital.com/  “Daripada menghitung angka CT Value, pahami definisi SEMBUH dari Covid-19,” “Sembuh adalah apabila pasien tersebut dari yang bergejala, kemudian menjadi tidak bergejala lagi selama 3 hari. Sembuh adalah dari orang yang tidak bisa beraktivitas, kemudian bisa beraktivitas lagi,” demikian  dr. Jaka Pradipta, Sp.P, melanjutkan.

Mengapa seorang dokter bisa mentakan demikian?

Ternyata berdasarkan penelususran  PCR Swab Test tidak dapat membedakan virus yang masih hidup/aktif dan virus yang sudah mati/tidak aktif (sudah menjadi bangkai). Selama masih ada materi genetik virus Corona di dalam tubuh, maka hasil PCR akan tetap positif.

Ternyata Saudaraku, proses penghancuran sisa-sisa bangkai virus oleh tubuh memakan waktu hingga 83 hari, sehingga masih memungkinkan terdeteksi oleh PCR sampai 3 bulan ke depan. Nah, lo panjang dan lama kan!

WHO sendiri menyebutkan bahwa kini pasien positif COVID-19 sudah bisa dinyatakan sembuh ketika ia tidak lagi menunjukkan gejala COVID-19, tanpa memerlukan konfirmasi tes PCR. Namun, untuk lebih amannya, tes PCR masih digunakan pada beberapa kasus.

Sedangkan kriteria sembuh bagi pasien positif COVID-19 yang berlaku di Indonesia:

  • Pasien tanpa gejala: Sudah melewati masa isolasi selama 10 hari.
  • Pasien dengan gejala ringan hingga sedang: Sudah melewati masa isolasi selama minimal 10 hari, ditambah 3 hari tanpa gejala.
  • Pasien dengan gejala berat: Sudah melewati masa isolasi selama minimal 10 hari, ditambah 3 hari tanpa gejala dan 1 kali hasil negatif pada tes PCR.

Nah saudara-saudara, saya mendapat beberapa kesimpulan dari sumber-sumber yang saya baca;

  • WHO menyebutkan bahwa kini pasien positif Covid-19 sudah bisa dinyatakan sembuh ketika ia tidak lagi menunjukkan gejala Covid-19, tanpa memerlukan konfirmasi tes PCR.
  • CT Value tidak menentukan tingkat kegawatdaruratan seseorang dalam mencari rumah sakit ataupun menimbulkan kepanikan.
  • Yang harus dilihat adalah gejala klinisnya, hasil lab darah serta saturasi oksigen. Yang bisa menilai kegawatdaruratan pasien adalah seorang dokter.
  • CT Value tidak bisa menentukan apakah pasien Covid-19 tersebut tanpa gejala, gejala ringan-sedang, dan gejala berat.
  • Kegunaan CT Value untuk medis adalah untuk keperluan diagnostic seorang dokter dan menilai perjalanan membaiknya imunitas seorang pasien selama melawan virus.
  • PCR Swab Test tidak dapat membedakan virus yang masih hidup/aktif dan virus yang sudah mati/tidak aktif (sudah menjadi bangkai).
  • Sembuh adalah dari orang yang tidak bisa beraktivitas, kemudian bisa beraktivitas lagi
  • Sembuh adalah apabila pasien tersebut dari yang bergejala, kemudian menjadi tidak bergejala lagi selama 3 hari.

 Sumber: 
https://mayapadahospital.com/news/salah-kaprah-tentang-ct-value

https://www.alodokter.com/komunitas/topic/mengapa-ct-velue-masih-rendah-padahal-sudah-insoman-10-hari

https://www.alomedika.com/perlukah-pcr-pasien-telah-sembuh-covid19

https://covid19.go.id/p/hoax-buster/salah-nilai-ct-pada-tes-pcr-menentukan-kesembuhan-pasien-covid-19




Rabu, 02 Maret 2022

BERMEDITASI SAAT TERKENA OMIKRON


Berdasarkan gejala dan tes kesehatan pada tanggal 24 februari 2022, saya  terbukti terinfeksi Omicron. Sebetulnya gejala dalam tubuh saya yang berbeda sudah saya rasakan sejak sabtu, 19 Februari 2022. Saat itu saya menganggap flu biasa. Karena itu, saya menunggunya sampai  beberapa hari. Dalam keadaan itu, saya sudah memakai masker di rumah dan tidak berdekatan dengan anggota keluarga.


Akhirnya  hari keempat, saya pergi untuk tes pcr di St. Carolus Gading Serpong. Ternyata saya dinyatakan positif. Untuk pengalaman ini sudah saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya. (https://ursaminorblog.blogspot.com/2022/02/disambangi-omikron.html) Hati ketar-ketir dan galau pasti ada lah. Masa terkena covid saya tenang-tenang saja. Pastinya ya tidak baik-baik saja. 


Namun, saya berhasil melewati pengalaman buruk tersebut dan kini membagikan pengalaman saya saat menghadapi Omikron. 


Selain saya makan dan minum makanan sangat bergizi, juga minum obat, saya juga melakukan ritual jemuran di meja kerja saya yang jendelanya saya buka lebar-lebar sehingga matahari dan udara segar masuk menampar ke diri saya. Setiap hari saya kena paparan matahari langsung dari jendela tersebut. 


Satu hal lagi yang saya lakukan adalah saya berdoa dan bermeditasi. Kalo berdoa mah pasti lah semua orang juga berdoa (yang percaya pastinya). Namun, selain berdoa saya melakukan ritual harian saya yaitu meditasi. Meditasi saya tiap hari dilakukan minimal 15 -30 menit, waktunya bebas sesuai luangnya, biasanya sore atau malam. O, ya meditasi yang saya jalani adalah Meditasi Zhen Qi. 


Meditasi itu sebetulnya kan kegiatan diam, hening, untuk merasa-rasa tubuh kita. Kuncinya adalah “merasakan” apa yang kita rasakan dan menyadari apa yang kita rasakan. 


Jadi, itulah yang saya lakukan : meditasi. Saat saya bermeditasi pada hari pertama saya terkena Omikron (kala itu belum yakin kalau itu Omikron), hal yang saya rasakan adalah terasa lebih berat daripada saat saya meditasi saat keadaan normal. Perasaan berat itu terutama pening di kepala sebelah kanan, dan di tengan kepala. Selain itu juga terasa kencang di bagian leher dan bagian pundak. 


Meditasi di hari ke-2 terkena Omikron reaksinya sangat mengenaskan karena sepanjang meditasi saya mengerang. Aduhhhh,.... emmmh…., aduhhhh. Erangan itu tidak saya rekayasa, dirancang, dan dibuat-buat. Itu benar-benar erangan yang keluar dengan sendirinya. Saat saya bermeditasi saya tetap fokus pada tantien bawah pastinya. Puji Tuhan, air liur saya banyak, sambil mengerang sambil menelan ludah.


Hari ketiga saya terkena Omikron,  bermeditasi saya lakukan seperti biasanya. reaksi tubuh saya, masih mengerang, tetapi tidak sekeras di hari kedua. sensasi tubuh saya panas di leher, kepala, dan punggung. Yang terasa panasnya sekali adalah di leher. Saat itu air liur kurang, jadi saya bantu dengan minum air hangat. 


Meditasi hari keempat saya sebagai orang yang terpapar Omikron terus berlanjut. Saat hari keempat mulut saya pahit sekali. Yang sungguh lagi saat hari keempat adalah mlut saya kembali monyong-monyong. Lidah saya bergerak sendiri seperti sedang membersihkan kotoran di sela-sela gigi. bahkan mulut saya berkumur-kumur sendiri. Hari keempat saya tambahkan porsi waktu meditasi saya lebih dari 30 menit, sekitar 40 menitan. Air liur hari keempat banyak, sampai bisa berkumur-kumur🤭🤭🤭. 


Pada hari kelima saya terkena Omikron, meditasi saya sudah lebih normal lagi sensasi tubuhnya. Hanya ada sisa pening di kepala bagian tengan dan mata sebelah kiri agak pegal. saya menduga pada hari keempat yang saya mengalami monyong-monyong dan berkumur-kumur itu mendatangkan kebaikan ke tubuh saya. hari keempat masih tersisa pahit di mulut dan batuk berdahak, tapi tidak intens. 


Hari keenam, saya terus bermeditasi, tapi agak sedikit meditasinya karena saya sore hari ada 2 pertemuan virtual untuk mengajar di pertemuan pertama katekumen di paroki saya (Vila Melati Mas). Sisa petangnya saya habiskan menyimak rapat tim bidang saya, katekese. Jadi meditasinya paling 20 menitan. 


Perlu pembaca ketahui, selama saya terkena Omikron, saya tidak cuti, libur, atau tidak bekerja. saya tetap mengajar kelas saya, saya juga tetap ikut rapat virtual. saya juga mengoreksi, menulis, membaca buku, membuat ini itu di laptop saya. Namun, saya tidak memegang makanan untuk dimasak. diiris, dicuci. Pokoknya saya menjauhi pekerjaan ibu rumah tangga di dapur.


Hari ketujuh saya terkena Omikron. masih ada sedikit batuk, sedikit sisa pahit di mulut. Namun, secara keseluruhan saya sudah membaik sekali. saya bermeditasi tetap lakukan. Masih ada sisa pening di bagian tengah kepala. karena itu hari Minggu, jadi saya tambahkan porsi meditasinya. Saya meditasi pagi dan sore. Malam saya hanya sebentar karena hari minggu saya ada 1 pertemuan online dengan anak-anak Legio Maria Junior.  


Hari kedelapan. Ini mah sudah sembuh secara keseluruhan. Ada batuk sedikit. Tubuh sudah sangat enak. Mulut sudah tidak pahit lagi. Tidur sudah sangat nyenyak. Makan sudah tidak merasa dipaksakan lagi. Pokoknya hari kedelapan itu ok sekali. Saat meditasi juga sudah tidak merasakan sensasi tubuh yang sakit atau yang aneh. sudah normal. Sebetulnya saya tinggal tunggu pcr lagi. 


Saya tinggal menunggu pcr nanati tanggal 7 Maret, sesuai dengan saya pertama pcr, 10 hari setelahnya saya baru akan dilihat lagi. Apakah negatif atau belum? saya belum tahu. Karena saya saat saya menulis ini belum tanggal 7 Maret. 


Nah, begitu para pembaca pengalaman saya terkena Omikron. bagi teman-teman yang terkena,  tak perlu terlalu panik. Kita ikuti anjuran dokter dan ikuti protokol yang berlaku. Memang bosan sih kita isolasi mandiri, apalagi seperti saya yang bulu kakinya jatuh harus terus dicari, sangat tidak nyaman harus diam berhari - hari di dalam rumah.  Tetap jaga kesehatan. Tuhan memberkati.🙏🙏 (Ch. Enung Martina)




Jumat, 25 Februari 2022

DISAMBANGI OMIKRON




Sebuah pengalaman yang berharga bagi saya, karena saya mengalami virus Covid19 dalam tubuh saya, merasakan, dan menjalaninya. Tulisan ini akan menceritakan bagaimana saya mengalami sakit flu akibat COVID-19, varian Omikron. 


Melansir dari https://www.balaibaturaja.litbang.kemkes.go.id/   Varian Omikron adalah varian dari SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Varian ini pertama kali dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari Afrika Selatan pada 24 November 2021. Pada tanggal 26 November 2021, WHO menetapkan 1.1.529 ke dalam Variant of Concern (VOC), dengan nama Omikron.


Omikron sudah muncul  di Indonesia dideteksi pada 26 Desember 2021. Merebaknya pada bulan Januari-Februari ini.  Menurut pemantauan belum ada gejala khas yang muncul pada penderita Covid-19 varian Omikron seperti penderita pada varian lainnya, bahkan beberapa individu tidak menunjukkan gejala sama sekali.


Namun, pada diri saya yang berusia 58 tahun menunjukkan gejala pada tubuh. Gejala yang saya rasakan : hari pertama seperti radang tenggorokan, perih, gatal, hidung tersumbat, mulai batuk. Hari kedua agak sumeng (demam ringan), batuk, pilek, tubuh merasa agak berputar (ringan), hari kedua malamnya saya tidak bisa tidur. Lalu saya minum obat warung dan amoxilin. Hari ketiga lebih mendingan, mungkin karena saya minum obat dan antibiotik, tapi badannya agak pegal (gemereges). Hari ketiga saya melakukan ritual jawa yaitu kerokan dan pijetan. Selama saya sudah merasa gejala flu pada tubuh saya langsung maskeran di rumah. Malamnya pada hari ketiga saya tidur nyenyak. Hari keempat saya merasakan belum membaik, dan tenggorokan tetap tersumbat dan mulut pahit terus, serta keringat dingin tak henti. Pada hari keempat saya menghentikan antibiotik. Maka saya memutuskan untuk tes pcr ke Carolus gading Serpong. 


Malamnya, sekitar pukul 21 lebih,  Carolus sudah memberikan hasil pcr saya. @Carolusgadingserpong kerja dan pelayanannya keren betul. Jempol untuk Anda semua. Dengan penuh cinta dari saya untuk Carolus. 



Berdasarkan hasil tes tersebut saya   ternyata CT saya termasuk rendah ya. Namun, saya tidak panik. Saya sudah tahu bahwa saya kena sebelum pcr diadakan. Segera setelah itu saya menginfokan kepada atasan saya di sekolah, kepada ketua lingkungan saya, dan kepada teman se-team saya di pelayanan St. Ambrosius. 


Inilah yang saya rasakan ketika para saudara tahu saya kena omikron, perasaan dicintai dan dikasihi. Saya di sini tak punya saudara kandung atau kerabat. Namun, dalam perjumpaan saya di Tanah Terjanji yang Tuhan berikan di Serpong ini, saya mendapatkan banyak saudara. 


Nah, para saudara ini segera bertindak. Memang sudah menjadi tradisi kami dalam keguyuban bersama para saudara. Segeralah bantuan mengalir: obat, vitamin, buah, minuman herbal, susu beruang, sup krim, dan aneka berkat yang Tuhan berikan untuk saya.


Sesungguhnya saya merasa sangat diberkati. Pada saat kita mendapatkan kemalangan, kita menjadi tahu bahwa Tuhan itu nyata hadir di seluruh kehidupan saya. Tuhan hadir melalui orang-orang di sekitar kita. Membantu, menghibur, menyediakan, dan menguatkan. 


Selain itu juga sistem pelayanan kesehatan juga sudah cukup baik. Begitu saya melaporkan bahwa saya positive, saya segera mendapat kunjungan virtual dari Puskesmas Pondok Jagung dan Kemenkes RI. Saya juga mendapat kunjungan obat dan buah dari ALUSIA (grup alumni Sanur BSD). Paroki saya (Vila Melati) dan Puskesmas Pondok Jagung bekerja sama. Sehingga saya mendapat pantauan dari Bidan Leny (Puskesmas Pondok Jagung) dan juga dokter dari St. Ambrosius. Mereka memantau saya via WA. 


Saya merasa dengan disambangi Omikron ini, saya jadi mengalami virus covid dalam tubuh saya nyata ada. Saya mengalami gejala-gejalanya. Saya menyadari bahwa imunitas tubuh itu mesti kita jaga ternyata bisa rentan juga. Saya bersyukur bahwa saya punya komunitas di tempat kerja, lingkungan, dan gereja saya. 


O ya, satu lagi. selama saya terkena virus omikron saya tetap melakukan aktivitas biasa, hanya tidak berhadpan dengan keluarga di rumah, tidak aktivitas masak, tidak makan di meja makan, kami makan sendiri-sendiri. Daerah kekuasaan saya dibatasi di atas saja. Saya juga tetap melakukan meditasi zen qi. Ada pengalaman tersendiri tentang meditasai di saat saya kena omikron. Itu nanati saya tulis tersendiri.


Selain itu, kita tak usah lagi bertanya dan merujuk dari mana saya dapat virus tersebut. Gak ada gunanya. Lebih baik kita fokus pada pengobatan dan pemulihan daripada mencari tahu sumber virus saya tertular dari siapa.


Terima kasih teman-teman dan para saudara yang sudah memberikan energinya untuk saya. Tetap kita jaga kesehatan dan tetap bersemangat karena hati yang gembira adalah obat. 


(Ch. Enung Martina)





Kamis, 30 Desember 2021

BERIMAN DI ZONA AMAN-NYAMAN

 



Pagi ini pukul 5.29, pagi yang cerah di hari Jumat 31 desember 2021. Penghujung hari di tahun ini. Penulis kebelet ingin membuang air besar. Jadilah duduk manis di kloset sambil mengisi bak air yang kosong di kamar mandi atas yang langsung terhubung dengan tempat penjemuran pakaian. Sambil duduk manis menunggu sampah ekresi keluar dari tubuh, biasanya pikiran akan belayang ke mana-mana. 


Pembelayangan pikiran kala penulis duduk di kloset saat itu, teringat akan proyek membuat rumah sederhana di kampung untuk tempat tidur sanak keluarga saat mudik karena rumah induk sudah tak muat bila para anak dan cucu pulang. Proyek ini adalah  proyek nekat di masa pandemik yang bukan keadaan mudah. Ditambah lagi karena penulis sekarang sudah pensiun. Namun, puji Tuhan dipekerjakan kembali sebagai guru honor di tempat penulis mengajar. Benar-benar tantangan, bukan?


Kemarin Bayu, sang keponakan me-wa untuk melaporkan proyek tersebut. Yang menjadi anemer proyek itu adalah Mang Dadang, ayah Bayu, suami adik bungsu penulis. Ternyata masih memerlukan dana untuk penyelesaian: memasang ubin, memasang kaca, dan membereskan hal-hal kecil. Pastinya itu berarti upah tukang dan konsumsi tukang. Sementara itu, uang yang dianggarkan sudah tekor. Pembayaran untuk tukang minggu ini sudah mengambil tabungan sekolah si bontot  untuk menggenapinya. Akhirnya diinfokan ke Bayu untuk stop dulu proyeknya. Ditangguhkan sementara untuk menyusun strategi, menghimpun energi, dan mengupayakan dana. 


Penulis tak yakin akan mencari dana ke mana untuk menyelesaikannya. Pastinya tak akan pinjam dana ke pinjol. Pinjol bukan solusi yang cerdas, tapi solusi yang membunuh. Pinjam ke bank juga tak menolong karena usia penulis sudah bukan usia produktif lagi. Pinjam saudara? Yakin? No. Tidak! Koperasi kantor masih belum selesai pinjamannya untuk 13 bulan  ke depan. Credit Union gereja? Nama penulis sedang dipakai si kakak, anak sulung yang baru ambil dana untuk menggenapi dana rumah pertamanya. Pinjam Mas Aga, anak kedua penulis. Juga tidak karena baru masih belajar untuk usahanya. Nah, lo! Bingung kan? 


Keputusan menghentikan proyek adalah hal yang realistis. Maka itulah yang dilakukan penulis. Harapannya nanti tahun 2022 akan ada rejeki lain yang akan tiba.


Pembaca tahu bahwa penulis ini bukan tipe emak-emak yang duduk manis, atau tipe yang mengeluh panjang pendek, atau tipe yang pasrah pada keadaan. Meski sudah diputuskan untuk menghentikan proyek, otak tetap mencari cara dan solusi jalan keluarnya. 


Duduk di kloset sambil menyalakan air mengisi bak. Bak mulai terisi penuh. Air bening mengalir deras dari selang yang berasal dari toren besar bergambar pinguin dengan warna oranye ngejreng. 


Air terus mengisi bak yang berupa  ember besar seukuran 50 liter.  Selang dengan lancar mengalirkan air karena pompaan dari energi listrik yang dipasang. Karena air sudah setengah bak, maka penulis menghentikan aliran listrik untuk menarik air dari toren tersebut. selang masih terus terpasang. Air yang semula mengalir deras, tiba-tiba juga mengecil. Namun sesuai dengan ilmu fisika air yang mengalir dari toren melalui selang tadi, sama sekali tidak berhenti. Mengecil memang. Air di bak perlahan meninggi. Air di toren penampungan menyusut karena mengalir ke bak. Tiba-tiba terdengar bunyi: Tek!! Suara otomatis mesin pompa air menyala dan mengguyurlah air deras dari dalam bumi yang dihubungkan dengan pipa dengan bantuan mesin pompa listrik. Dua lelaki di rumah sudah menyetel pompa tersebut agar saat air di toren  surut pada ukuran tertentu dengan segera air akan mengalir. Asal mesin sedang dalam keadaan on. `


Pikiran saya yang lagi belayang pada proyek rumah sederhana di kampung, tiba-tiba tersadarkan. Tersadarkan akan aliran energi yang otomatis. Aliran air dari bawah bumi sana, ke toren penampungan, lalu ke bak penampungan. Pada kala air di toren itu surut, otomatis air mengalir mengisi toren kembali. Ada beberapa persyaratan agar air itu mengalir: airnya ada, ada alat pemicu (pompa listrik) untuk menariknya naik, ada pipa dan selang sebagai tempat jalannya air, ada knop listrik, ada energi listrik, pastinya juga ada wadah untuk menampung, dan syaratnya yang penting alat dalam keadaan on.  


Prosesnya mengalirnya air di rumah penulis menjadi analogi untuk mengalirnya rejeki, mengalirnya energi dalam hidup penulis. 


Energi (boleh sebut rejeki) akan mengalir-datang pada kita juga ketika persyaratannya terpenuhi. Rejeki akan selalu ada seperti bumi selalu menyediakan air. Menurut ilmu alam, air di bumi akan tetap ukurannya sekian, hanya nanti air itu akan ada yang berubah bentuk ke salju, es, uap, dan air mengalir. Air itu tetap segitu-gitu saja ukurannya dari sejak bumi dicipta. Rejeki juga begitu, akan tetap ada dan mencukupi semua orang yang hidup di bumi. Artinya jangan kuatir akan rejeki. namun, ada syaratnya untuk bisa mengalir. Syaratnya sama dengan air: ada daya yang mengalirkannya. Itu artinya ada upaya dari kita dengan bekerja (bukan dengan korupsi atau menipu). Kalau kita tak ada upaya ya tak akan ada rejeki itu. Jangan curang dengan cara menipu atau korupsi karena pasti di ujung akan berakhir tragis.Rejeki kecil, tapi halal, kudus.  Itu akan lebih bermanfaat daripada besar tapi haram. Becik setitik. Sedikit tapi kudus! Bersih!


Syarat yang lain bahwa ada wadah yang tersedia untuk menampungnya. Rejeki akan ada bila kita menyediakan diri untuk menerimanya, menggunakannya dengan benar, memakainya dengan bijak. Agar wadah kita kosong, dan siap diisi, kita juga berbagi  rejeki yang kita dapat kepada orang yang juga membutuhkan. Biar ‘wadah’ kita dalam keadaan siap diisi seperti toren yang surut airnya dan saat titik kesurutannya pas, maka mesin akan berbunyi: Tek! dan rejeki menggelontor mengisi toren kita. Tapi kalau torennya tak surut-surut, maka bunyi Tek! tak akan pernah ada. 


Analogi mesin air selalu on: Kita juga harus dalam keadaan on, terhubung dengan Sang Sumber rejeki, Sang Pemberi.  Mempercayai bahwa Sang Pemberi akan memberikan rejeki dengan murah kepada kita. Mengandalkan belas kasih Sang Pemberi. Mempercayai-Nya. 




Maka inspirasi kala duduk di kloset, membuat saya akan melanjutkan proyek rumah sederhana ini dengan sebentar meminjam dulu tabungan pendidikan si bontot. Saya yakin, ke depan toren saya akan terisi lagi, dan bak penampungan tabungan si bontot akan terisi lagi. Saya yakin dan percaya. Amin! Ya Tuhan dan Allah-ku. Memang kita dituntut untuk beriman di zona yang tak nyaman. Jangan hanya bermain dan beriman di zona aman dan nyaman!

(Ch. Enung Martina, Penghujung Tahun 2021)