Sabtu, 23 Januari 2010

MATRA SANG GURU

Untuk menjadi guru, seseorang harus juga belajar dari berbagai kebijaksanaan yang berasal dari para pendahulu, termasuk juga para spiritualitas. Di bawah ini ada kiat menjadi guru yang baik bila belajar dari kebijaksanaan Isa, Sang Guru.

Tiga matra Sang Guru terdapat pada Yohanes 14:69: Akulah jalan kebenaran dan hidup.
1. Jalan : Dia adalah yang dapat diikuti atau diteladani
2. Kebenaran : memberi inspirasi, memberikan ajaran yang benar. Ajarannya segar dan
abadi untuk situasi dan waktu serta tempat yang berbeda ajaran itu
akan tetap sesuai.
3. Hidup : Memberikan harapan sehingga orang bisa bertahan hidup dengan penuh
harapan.

Pribadi Sang Guru:
Pribadi yang terbuka, mampu menerima siapa pun sehingga pengikutnya begitu banyak.
Pengikut-Nya sewaktu Dia hidup adalah:
- kelompok 12 (12 rasul)
- 70 murid
- Murid lain
- Murid yang tersembunyi (tidak terang-terangan mengakui karena alas an politis dan
agama)
- Sporter yang selalu memebrikan dukungan
- Khalayak ramai

Memberikan ajaran yang segar
- menantang
- tidak terjebak pada satu pengalaman
- ajarannya menyentuh pribadi
- materi lama diperbaharui
- menggerakkan daya nalar
- menggerakkan kehendak
- sesuai konteks (kontekstual
- memakai yang ada di sekitarnya
- memakai ajaran lama untuk konteks kekinian

Memberi harapan
- kepada orang berpenyakit tak tersembuhkan ( contoh mujizat pada perempuan yang
menderita pendarahan bertahun-tahun)
- memberikan kesembuhan secara sosial (melepaskan dari isolasi sosial) contoh orang
kusta yang disembuhkan
- menyembuhkan penyakit struktural (Zakeus si pemungut cukai)
- menyembuhkan penyakit spiritual (mengampuni dosa)

(Tulisan disarikan dari retret Romo Aria Dewanto, SJ dengan penambahan oleh Ch. Enung Martina)

Sabtu, 09 Januari 2010

DUC IN ALTUM

Untuk memberi semangat pada diriku sendiri dalam menghadapi satu tahun mendatang, aku ingin mengambil kutipan Injil Lukas 5:2-6

Bertolaklah ke Tempat yang Dalam

Dalam renunganku aku akan menempatkan diri masuk dan berada dalam waktu dan situasi saat itu. Aku berada bersama Yesus dan menjadi bagian dari orang-orang yang ada bersama Dia saat itu.

Aku bersama dengan orang banyak lainnya berada bersama Yesus di tepi Danau Genezareth, wilayah Galilea. Danau ini sering pula disebut Danau Genezareth, Danau Galilea, atau Danau Tiberias. Danau ini sering pula disebut laut, karena saking besarnya. Ini adalah danau air tawar yang terkenal dengan ikannya. Banyak perkampungan di sekitar pantai danau itu. Salah satu kampung atau desa nelayan bernama Kapernaum. Itu adalah kampung Petrus, Simon. Nah, saat ini aku berada di kampung nelayan Kapernaum.

Sekarang ini Yesus sedang sangat terkenal di seantero wilayah baik Galilea maupun Yudea, bahkan Yerusalem juga. Semua orang mengenal Dia karena ajaran-Nya dan juga mujizat-Nya untuk menolong banyak orang. Ajaran-Nya sih memang agak ekstrim untuk saat ini. Agak berbeda dengan Torah yang dikenal oleh kaum Yahudi saat ini. Orang banyak mengatakan bahwa Dia adalah penggenapan hukum Torah. Apakah betul? Aku tak tahu.

Yesus itu seorang pribadi yang menarik Ia adalah anak zaman ini. Memahamai bahasa Ibrani, juga berbicara dalam bahasa Yunani, bahkan juga bahasa Aram. DIA adalah seorang pribadi yang cerdas, mempunyai karisma yang kuat, pemberani, rela berkorban, penuh kasih sayang, tetapi terkadang kalau berbicara apa adanya, tak pernah berpikir apa akibat dari perkataannya. Yang jelas Yesus ini seorang yang gampang mencari pengikuut. Dia itu seperti magnet. Lihat saja orang-orang selalu ngintil di belakang Dia hanya sekedar untuk melihat Dia atau mendengarkan ajaran-Nya yang agak ekstrim tersebut. Mau tahu contoh ajarannya yang ekstrim? Cintailah musuhmu! Nah, lho… musuh kok dicintai. Selama ini musuh ya dibenci dan dikalahkan! Dan banyak lagi ajara-ajaran ekstrim lainnya. Kalau mau tahu dengarkan saja apa perkataan-Nya.

Aku terkadang heran kenapa semua orang itu tersihir dengan laki-laki muda ini. Kalau dilihat sekilas, Dia itu ya biasa saja, manusia biasa. Apakah dia ganteng? Ya… dia cakap parasnya, tetapi masih banyak pemuda yang parasnya lebih ganteng daripada Dia. Kadang-kadang Dia juga emosional. Pokoknya Dia itu manusia seperti kita, tetapi kenapa banyak orang terpikat oleh Dia? Dan sialnya aku juga terpikat oleh Dia. Ada yang salah dengan diriku, jangan-jangan aku tak waras lagi. Masa aku terpikat dengan laki-laki yang kerjaannya pengangguran seperti begitu. Gak punya pekerjaan tetap, secara ekonomis gak punya harapan untuk masa depan,gak punya tempat tinggal, bajunya juga yang itu-itu lagi.

Jangan salah aku terpikat pada Dia bukan seperti aku terpikat secara asmara. Pokoknya ada kekuatan pada diri-Nya yang membuat aku terpikat. Daya ilahi mungkin begitu aku membahasakannya.

Aku duduk di salah satu perahu nelayan yang sedang ditambatkan di sana. Belakangan aku baru tahu kalau ternyata perahu itu milik Simon. Aku memandang ke sekelilingku, banyak orang beraktivitas seperti layaknya di kampung nelayan. Ada orang yang mengatur jalanya untuk ditebarkan, ada yang sedang mengurusi kailnya, ada yang mondar-mandir dengan tangkapan mereka. Kaum perempuan juga banyak di sana. Ada yang sekedar jalan-jalan membawa anak-anaknya, ada yang membantu suaminya yang nelayan untuk memngambil ikan hasil tangkapan, ada yang hanya ingin memandang Yesus karena Dia ada di pantai danau itu. Pokoknya banyak sekali orang di sekitarku.




Yesus ada di tengah-tengah kerumunan orang banyaak itu. Selain di dalam perahu, orang banyak berkerumun sekitar perahu untuk mendengarkan kata-kata-Nya. Sementara itu aktivitas pantai tetap seperti biasa.

Saat itu Yesus banyak berbicara seputar kasih Allah dan juga hukum kasih. Namun yang terngiang di telingaku serta tertangkap di kepalaku dan tersimpan dalam hatiku adalah perkataan Dia kepada Simon, si nelayan. Simon adalah nelayan yang berpengalaman. Dia paham betul danau Genezareth karena di tempat itu ia mencari nafkah. Malam tadi Simon berlayar dan tangkapannya sedikit. Yesus mendengar hal tersebut. Karena itu Dia berkata kepada Simon: Cobalah bertolaklah ke tempat yang dalam.
Simon menjawab: Sudah Guru! Namun, karena Engkau yang menyuruhnya, maka aku akan lakukan.

Aku tertarik dengan potongan percakapan itu. Kalimat yang diucapkan Yesus untuk Simon: bertolaklah ke tempat yang dalam. Seolah-olah kalimat itu juga diucapkan untukku yang berada di situ. Karena aku bukan nelayan seperti Simon, aku mengartikan perkataan-Nya dengan duniaku.

Terkadang aku juga tidak berani melangkah lebih jauh dan ke tempat yang dalam. Aku takut dengan resiko yang aku dapatkan. Aku takut gagal. Dengan melangkah ke yang dalam, kemungkinan tantangan akan lebih besar, Perlu persiapan yang matang tentunya. Perlu keberanian yang lebih, itu pasti.

Namun, aku kagum dengan Simon, si nelayan. Dia adalah nelayan yang berani. Meski dia tahu bahwa semalam dia tak dapat ikan. Sebagai nelayan yang professional dia tahu persis tentang hal itu. Namun, ia adalah pribadi lugu dan patuh. Maka Simon berkata:
karena Engkau yang menyuruhnya, maka aku akan lakukan.

Begitulah, aku juga akan belajar seperti Simon untuk percaya pada DIA yang memintaku untuk melakukan sesuatu yang terkadang berat menurutku. Aku tahu persis bahwa Dia sangat tahu dan mengerti tentangku jauh lebih mengetahui daripada aku tahu tentang diriku sendiri, Karena itu, aku akan belajar percaya seperti Simon percaya pada Sang Guru. Maka aku akan melangkah ke yang lebih dalam karena aku percaya bersama Dia segalanya tak ada yang mustahil.

(Enung Martina- 10 Januari 2010)

Kamis, 07 Januari 2010

BANGUN

Selamat memulai tahun 2010. Maaf ucapannya terlambat karena pada awal tahun begitu banyak hal yang harus diurus sehingga untuk duduk mengetik membutuhkan perjuangan. Aku berharap untuk diriku sendiri pada tahun 2010 ini aku melakukan segala sesuatunya dalam keadaan BANGUN., SADAR. AWARENESS. Itu mungkin kata-kata yang tepat.

Tahun lalu aku melakukan segala sesuatu dengan niat dan semangat yang kuusahakan untuk tetap bernyala senaksimal mungkin. Akhirnya aku berhasil dan tahun 2009 berlalu dengan baik, meski ketika aku duduk untuk merenung , ada juga hal-hal yang kulakukan begitu semberono dan tanpa perhitungan. Dengan kata lain aku melakunanya sepertinya terbuai dengan egoismeku. Ketika aku melihatnya dan aku benar-benar terjaga, aku melihat betapa aku sudah menyakiti begitu banyak orang.

Kesadaran muncul. Itu yang penting. Meski aku tahu bahwa untuk memulai lagi dan kembali pada diri sendiri terkadang tidaklah mudah. Masih linglung mungkin. Kita belajar dan kita memang terus belajar. Dalam proses belajar itu carut marut pasti ada. Ya… tidak apa-apa.

Anthony de Mello berkata bahwa spiritualitas berarti bangun-terjaga. Kebanyakan orang (sadar ataupun tidak) hidup dalam keadaan tertidur. Kita tidak menyadari kebaikan dan keindahan dalam keberadaan kita. Kita asyik dengan hal-hal lain yang kita sebut masalah. Kita asyik dengan dunia yang kita ciptakan sendiri. Kita terbuai dan merasa sudah sangat benar untuk beberapa hal yang kita lakukan. Benarkah? Kita memang sering tertidur.

Aku akan berusaha bangun dan terjaga untuk setiap detikku pada tahun 2010 ini. Kurun waktu satu tahun akan sangat panjang kalau kita melihat dan menghitungnya dari sekon demi sekon. Namun satu tahun adalah waktu yang pendek bila kita menjalaninya dan menyadarinya bahwa belum banyak yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan Tuhan.

Tuhan, ajari aku untuk selalu bangun dan mensyukuri setiap berkat yang kuterima. Amin.

Serpong, 7 januari 2010
Enung Martina

Rabu, 30 Desember 2009

PUSI UNTUK METTA

SEMBILAN BELAS
(untuk Metta)


19 tahun kita ditakdirkan untuk menjadi ibu-anak
Dan waktu-waktu mendatang untuk sepanjang kisah kita
Kita tetap ibu dan anak
Manis seperti gula-gula kapas yang kita makan saat kau duduk di TK

Kamu yang pertama menjadi buah cinta
Antara aku dan kekasihku, ayahmu
Kamu yang membuat perutku mules saat akan lahir di dunia
Kamu yang membuatku mules saat kamu meninggalkan rumah
Kamu yang membuat aku bangga menjadi seorang ibu
Karena keberhasilan kecil dan besar
Kamu yang membuat aku kuatir ketika makin hari kau beranjak dewasa
Kamu yang membuat aku ingin menempuh separuh dunia ini
Hanya untuk membuatkan secangkir teh panas beraoma melati
Kamu yang membuatku menangis dan tertawa untuk beberapa peristiwa
Kamu juga yang membuat aku mensyukuri setiap detik hidupku
Kamu yang membuat aku berdenyut hidup
Untuk berjuang tanpa lelah
Dan melewati batas garis ketakmungkinan
Kamu yang ada dalam setiap untai doaku

Dari sini, di negri yang kita cintai, meski terkadang kita mencacinya
Aku ucapkan selamat ulang tahun
Tak kubuatkan nasi kuning
Atau ayam goreng kesukaanmu
Tapi kubuatkan puisi ini
Sebagai tanda cinta terdalamku dari lubuk nubariku

(Ciamis, 30 Desember 2009,
Dengan segenap cinta
IBU: Ch. Enung Martina)

Selasa, 22 Desember 2009

Kebahagiaan

Tuesday, December 22, 2009 7:11 AM
From:
"Lukas Tanri"
Add sender to Contacts
To:
"'Enung Martina'" , nfuise@yahoo.com, griyantopoey@yahoo.co.id, handi
msm@yahoo.com, "'albertus sugiana'"

Subject: Kebahagiaan



Ada seseorang yang selalu resah dan gelisah dalam hidupnya menemui seorang bijak dan berkata:
"Guru, saya tidak pernah mendapatkan KEBAHAGIAAN dalam hidupku....
Tolong ajarkan saya agar HIDUPKU SELALU BAHAGIA !"

Orang bijak itu menjawab:
" Kebahagiaan itu sebenarnya tidak perlu kau cari....Kebahagiaan itu ada pada dirimu sendiri. Tapi kamu dapat belajar untuk menemukannya"

''Berapa lamakah waktu yang saya butuhkan untuk memperoleh kebahagiaan ?''

Orang bijak itu memandang si anak muda kemudian menjawab, “Kira-kira sepuluh tahun.''

Mendengar hal itu anak muda tadi terkejut, ''Begitu lama?'' tanyanya tak percaya.

''Tidak,'' kata si orang bijak, ''Saya keliru. Engkau membutuhkan 20 tahun.''

Anak muda itu bertambah bingung. ''Mengapa Guru lipatkan dua,?'' tanyanya keheranan.

Orang bijak kemudian berkata, ''Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin engkau membutuhkan 30 tahun.''

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika membaca cerita di atas?
Tahukah Anda mengapa semakin banyak orang muda itu bertanya,
semakin lama pula waktu yang diperlukannya untuk mencapai kebahagiaan?

Lantas,
bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan?

Sebagaimana yang telah banyak disampaikan,kebahagiaan hanya akan dicapai
kalau kita mau melakukan perjalanan KE DALAM.

Namun, itu semua tidak dapat Anda peroleh dengan cuma-cuma. Anda harus mau MEMBAYAR HARGANYA.

Agar lebih mudah kita gunakan analogi sebuah toko. Nama toko itu adalah ''TOKO KEBAHAGIAAN' '

Di sana tidak ada barang yang bernama 'Kebahagiaan' ' karena
''Kebahagiaan' ' itu sendiri TIDAK DIJUAL.

Namun, toko ini menjual semua barang yang merupakan unsur-unsur pembangun kebahagiaan, antara lain:
KESABARAN,
KEIKHLASAN,
RASA SYUKUR,
KASIH SAYANG,
KEJUJURAN,
KEPASRAHAN KEPADA TUHAN dan
RELA MEMAAFKAN.

Inilah ''barang-barang' ' yang Anda perlukan untuk mencapai kebahagiaan.

Tetapi,
berbeda dari toko biasa, toko ini tidak menjual produk jadi.
Yang dijual di sini adalah BENIH.

Jadi, kalau Anda tertarik untuk Membeli ''Kesabaran' '
Anda hanya akan mendapatkan ''Benih Kesabaran.''

Karena itu,
segera setelah Anda pulang ke rumah Anda harus Berusaha Keras
untuk Menumbuhkan Benih tersebut Sampai ia Menghasilkan BUAH KESABARAN.

Setiap Benih yang Anda beli di toko tersebut Mengandung
Sejumlah Persoalan yang Harus Anda Pecahkan.

Hanya bila Anda MAMPU Memecahkan Persoalan tersebut,
Anda akan Menuai Buahnya.

Benih yang dijual di toko itu juga bermacam-macam tingkatannya.
''Kesabaran Tingkat 1,''
misalnya, berarti menghadapi kemacetan lalu lintas atau pengemudi bus yang ugal-ugalan.

''Kesabaran Tingkat 2''
berarti menghadapi orang yang sewenang-wenang atau orang yang suka memfitnah.

''Kesabaran Tingkat 3'',
misalnya, adalah menghadapi keluarga Anda yang sendiri.

Menu yang lain misalnya ''BERSYUKUR' '
''Bersyukur Tingkat 1''
adalah bersyukur di kala SENANG, sementara

''Bersyukur Tingkat 2''
adalah bersyukur di kala SUSAH .

''KEJUJURAN Tingkat 1,''
misalnya, kejujuran dalam Kondisi Biasa, sementara

''Kejujuran Tingkat 2''
adalah kejujuran dalam Kondisi TERANCAM.

Inilah sebagian produk yang dapat dibeli di ''Toko Kebahagiaan' '.

Setiap produk yang dijual di toko tersebut Berbeda-beda Harganya
sesuai dengan KUALITAS KARAKTER yang Ditimbulkannya.

Yang TERMAHAL ternyata adalah ''KESABARAN' ' karena
kesabaran ini merupakan Bahan Baku dari
Segala Macam Produk yang Dijual di sana .

Seorang filsuf pernah mengatakan,
''Apa yang Kita Peroleh dengan TERLALU MUDAH PASTI KURANG Kita HARGAI.
Hanya Harga yang MAHAL-lah yang Memberi NILAI kepada SEGALANYA.
Tuhan Tahu Bagaimana MEMASANG Harga yang Tepat pada Barang-barangnya. ''

Dengan cara pandang seperti ini kita akan menghadapi masalah secara berbeda.
Kita akan Bersahabat dengan Masalah.
Kita pun akan Menyambut Setiap Masalah yang Ada dengan
Penuh KEGEMBIRAAN karena Dalam Setiap Masalah Senantiasa Terkandung
''OBATdan VITAMIN'' yang Sangat Kita Butuhkan.

Dengan demikian Anda akan BERTERIMA KASIH kepada
Orang-orang yang Telah Menyusahkan Anda karena
Mereka Memang ''diutus'' untuk Membantu Anda.

Pengemudi yang ugal-ugalan, orang yang jahat, orang yang sewenang-wenang adalah Peluang untuk MEMBENTUK Kesabaran.

Penghasilan yang Pas-pasan adalah peluang untuk MENUMBUHKAN RASA SYUKUR.

Suasana yang Ribut dan Gaduh adalah Peluang untuk MENUMBUHKAN KONSENTRASI.

Orang-orang yang TAK TAHU BERTERIMA KASIH adalah Peluang untuk Menumbuhkan PERASAAN KASIH Tanpa Syarat.

Orang-orang yang MENYAKITI Anda adalah Peluang untuk MENUMBUHKAN Kualitas RELA MEMAAFKAN.

Sebagai penutup Marilah kita Renungkan ungkapan berikut ini:

''Aku memohon Kekuatan dan Tuhan membimbing dalam Kesulitan-kesulitan untuk Membuatku KUAT.

Aku memohon Kebijaksanaan dan Tuhan membimbing dalam Masalah dan Menyelesaikan.

Aku memohon Kemakmuran dan Tuhan memberiku TUBUH dan OTAK untuk Bekerja.

Aku memohon Keberanian dan Tuhan membimbing dalam berbagai BAHAYA untuk aku Atasi.

Aku memohon Cinta dan Tuhan membimbing dalam menghadapi Orang-orang yang Bermasalah untuk Aku Bantu.

Aku mohon Berkah dan Tuhan memberiku berbagai Kesempatan.

Aku Tidak Memperoleh Apapun yang Aku Inginkan, tetapi Aku MENDAPATKAN Apapun yang Aku BUTUHKAN.''

(Teh Nung: Semoga aku bisa belajar untuk menjadi orang yang bahagia)

Senin, 21 Desember 2009

AROMA LIBUR

Sepertinya aroma libur sudah memngental dan memenuhi atmosfir di setiap tempat yang kulewati. Di setiap pertokoan sudah bersaing menghias tokonya semeriah mungkin dan seindah serta berlomba memberi sentuhan natal sepas mungkin. Natal memang menjadi salah satu daya tarik untuk bisnis.

Kami (pasukan dari rasi bintang Beruang Kecil-Ursa Minor alias para Ursuliner) jelas masih giat bekerja. Dimulai dengan minggu-minggu sibuk menyiapkan rapot sampai pembagian dan kini pengembalian rapot serta beres-beres ruang guru serta menyiapkan administrasi untuk semester II. Wow... kami memang pekerja keras di ladang Tuhan.

Namun, perlu diketahui aroma libur menghanyutkan kami sampai tulang sungsum kami. Bikin malas bangun pagi dan bikin malas mulai bekerja menyelesaikan ini dan itu. rasanya kami hanya ingin tetap bergelung di tempat tidur kami sambil merasakan betapa enaknya liburan!!!

Sampai detik penghabisan di semester I, yaitu Selasa, 22 Desember 2009. Bertepatan dengan Mother Day , itulah hari terakhir kami berjuang di semester I tahun ini.

Semua sudah bersiap dengan rencana masing-masing perayaan Natalnya. Mulai dari yang tetap di rumah, pulang kampung, dan melancong. Semuanya antusias ingin segera libur. Aku sendiri? jelas pulang kampung.Tapi harus menunaikan kewajiban dulu: tugas pada malam Natal untuk dua pria di rumahku (Aga dan Bob). Pagi-pagi tanggal 25 baru kami bisa pulang kampung. Kasihan Emak-ibuku tercinta. Kalo anaknya tak pulang, bisa merana dia. Aku sebetulnya merana juga karena dara mungil buah hatiku tak bisa pulang. Baru pulang summer 2011 nanti. Lha kok masih lama ya...

Ini adalah Natal pertama dia jauh dari keluarga. Ini adalah Natal pertamaku tanpa dia. Hu...hu...hu... rasanya di dadaku ada yang menyesak. Eh... lihat masih ada Natal-natal lain yang akan kulalui bersama dia!!!

(Teh Enung yang sangat ingin segera menikmati liburan Natal)

Semoga para pembaca blog ini sudah menikmati liburannya dan juga selamat menikmati natal dalam keluarga!!

Jumat, 18 Desember 2009

BRUDER ELIA

Aku tertarik dengan tokoh yang satu ini karena iman dan juga keajaiban Allah terjadi melalui dia. Silakan membaca tentang hamba ini karena ia begitu berbeda dengan dunia. Ia begitu dekat dengan DIA yang wafat di Kalvari.

(Teh Enung Martina)



Malaikat dengan Stigmata Mengunjungi Rumahku - fra Elia
Sunday, August 2, 2009 at 6:01am
Penulis : Fiorella Turolli
Penerbit : Marian Center Indonesia

Siapakah Fra Elia?

Lahir pada tanggal 20 Februari 1962 di daerah Puglia, Italia. Ketika
usianya masih muda, ia masuk Biara Kapusin di Lombardi dan selama masa
novisiat ia menerima karunia stigmata. Sejak saat itulah, selama Masa
Paskah, Fra Elia mengalami sengsara Yesus (didahului dengan berpuasa
selama 40 hari) dan bau harum keluar dari seluruh tu-buhnya. Setiap
hari Jumat, luka-luka-Nya yang terbuka menyebabkan kesakitan yang
sangat luar biasa. Me-reka sembuh kembali dalam 1 atau 2 hari, namun
tanda-tandanya masih tetap ada.

Ketika fenomena ini mulai, ia dan 3 bruder lainnya tidak berani
memberitahukan pada pimpinan biara. Walaupun mereka menyaksikan
peristiwa tersebut dan salah seorangnya adalah perawat, yang telah
dipercaya Fra Elia untuk mengurus segalanya. Se-mentara itu, ia
melanjutkan hidup dalam iman dan tiba saatnya mengucapkan kaul
sementaranya. Dan ia memakai nama Fra Elia Maria.

Saat ia diberitahu bahwa luka-lukanya bukanlah penyakit herpes atau
sejenisnya, ia lalu mengalami krisis, tidak mau menerima hal ini. Ia
merasa tak layak dan tak ingin memikul tanggungjawab dengan segala
akibatnya. Ia ingin hidup normal seperti orang-orang lain. Krisis lain
menimpanya pula dan kali ini ia meninggalkan biara dengan keyakinan
bahwa ia akan hidup normal dan segalanya akan kembali juga menjadi
normal.

Sebagai seorang bruder awam, ia menemukan pekerjaan yang sesuai dengan
alamiah dirinya. Ia membantu orang-orang yang sakit dan kemudian para
narapidana di penjara. Ia amat berbakat sebagai perawat dan mendapat
diploma untuk refleksi. Pekerjaannya yang terakhir adalah di pabrik
kimia.

Bagaimana pun, ia tahu tidak mungkin merubah hidup pribadinya dan
begitulah, setiap tahun ia memperbaharui kaulnya secara pribadi,
melalui bekas superiornya, Romo Eugenio. Ia membagi waktunya dengan
pekerjaan, Gereja dan menolong orang-orang.

Waktu berjalan dan stigmatanya tetap, malah lebih nampak dari
sebelumnya. Nostalgia akan kehidupan membiara masih kuat dan jelas
baginya, ia tidak mungkin lari dari Tuhan. Jadi ia menyerahkan diri
pada Kerahiman-Nya dan bertanya, apa yang menjadi kehendak-Nya. Agar
lebih mengerti jawabannya, ia masuk pertapaan di Tuscany, dimana tak
seorang pun yang mengenalnya dan tinggal di sana dalam waktu yang
la-ma.

Pada waktu itu, ia mengerti bah-wa tugasnya adalah menjadi peziarah di
dunia dan untuk dunia. Dia mendirikan suatu komunitas religius yang
bekerja untuk menolong kaum lemah, yang kesepian dan yang tersisih.
Khususnya kaum muda yang hidup sendirian, tanpa bimbingan dan
seringkali tanpa kasih dan karenaya menimbulkan problem yang gawat
(anak-anak jalanan).

Menyadari hal ini dan terbebas dari keraguan, ia menyiapkan
serangkaian peraturan yang kemudian menjadi komunitas Fra Elia, the
Apostles of God. Setelah 60 hari kembali di rumah, kali ini ia
berbahagia karena mengerti akan kehendak Allah dan menerimanya. Ia
segera mengunjungi superiornya yang terakhir waktu masih di biara dan
meminta nasehat untuk kehidupannya selanjutnya. Romo Superior
mengatakan bahwa ia harus mengikuti panggilan hidupnya dan mencari
tempat yang sesuai untuk komunitasnya. Lalu ia menghadap uskup dan
meminta petunjuk dan bimbingan seorang imam.

Dalam Penyelenggaraan Ilahi, Fra Elia bertemu dengan beberapa teman
yang kemudian membentuk asosiasi yang diberi nama ONLUS dan 2 tahun
kemudian mampu membeli sebuah biara tua dan dipersembahkan kepada St.
Fransiskus. Terletak di Calvi Del Umbria (tak jauh dari Asisi) di
Propinsi Terni. Untuk mengatasi pembiayaan, asosiasi ini mengambil
pinjaman jangka panjang.

Pada tahun 2002 di Spinea, ia kembali memperbaharui kaulnya, melalui
imam Kapusin, Romo Claudio dan beberapa imam lain yang hadir juga
(tetapi ia bukan sebagai seorang Kapusia, melainkan sebagai Fra Elia
dari Apostle of God atau Rasul Allah). Sejak September 2003, akhirnya
ia mendiami rumahnya yang terdiri dari 3 ruangan, di sudut biara tua
tersebut. Dan Fra Elia kemudian diundang ke berbagai paroki dalam
kelompok-kelompok doa dari seluruh Italia. Melalui penyembuhan,
pentobatan dan pembebasan dan lain-lain manifestasi yang tidak dapat
diterangkan oleh ilmu pengeta-huan, yang semuanya ini dicatat dalam
buku kedua menganai Fra Elia. Fra Elia sendiri tidak pernah mendirikan
kelompok doa, karena ia selalu diundang ke paroki-paroki, namun ia
juga tidak bersikap sebagai seorang penyembuh.

Pada tahun 2002, Uskup Paolo Maria Hnilica, dalam sebuah surat
resminya, memohonkan bantuan dari semua pihak agar membantu proyeknya.
Selama masa sengsaranya dalam bulan April 2004, ia berada di biara di
Calvi dan dikunjungi oleh 2 utusan dari Tahta Suci untuk memeriksa
dirinya. Sekarang ia tinggal bersama beberapa bruder dan Sr Domenica
di biara di Calvi Umbria, berdoa dan bekerja serta merestorasi tempat
tinggalnya.

Sungguh merupakan anugerah dan berkat Tuhan bahwa dalam kunjungannya
ke Australia, Komunitas Katolik Indonesia yang berada di Perth,
memperoleh kesempatan merayakan Ekaristi dan Adorasi bersama Fra Elia
pada hari Jumat 16 November 2007, dengan Romo Ari Pawarto, O.Carm
Chaplain di sana sebagai konselebran utama.

Ditulis kembali sebagai artikel oleh: Willy Prayogi ke milis Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM)
Distrik Surabaya 1 - willyprayogi@yahoo.com