Senin, 05 Agustus 2013

PERCAYA PADA KEAJAIBAN

Dikisahkan di sebuah desa, tinggallah seorang peramal yang terkenal. Peramal itu sangat dipercaya dengan kemampuannya untuk meramal nasib banyak orang. Saat ingin mengawinkan anak, mencari rumah yang cocok, ingin tahu peruntungan, pekerjaan atau usaha apa yang akan digeluti, mereka tidak ragu meminta nasihat si peramal. Biasanya, orang-orang puas dengan hasil ramalan karena sang peramal memiliki kemampuan bertutur yang baik dan selalu membaca ramalan dari sudut positif.

Suatu hari, ada seorang pemuda mendatangi si peramal. Setelah mengamati bentuk muka, mengitung waktu dan hari lahir, si peramal dengan wajah berseri-seri berkata, “Anak muda, kulit dan bentuk wajahmu sangat bagus dan cemerlang. Berdasarkan perhitungan tanggal dan waktu lahirmu, sebelum berumur 35 tahun, engkau akan menjadi pengusaha yang kaya raya. “ Saya mengerti,” jawab si pemuda senang. “ Agar keberhasilanmu bisa bertahan, banyak-banyaklah membantu orang yang susah.” Sejak saat itu, si pemuda berusaha dengan giat dan penuh semangat. Si pemuda kaget sekali.

Namun, si peramal yang dulu telah meninggal dunia. Kini, ia digantikan oleh peramal lain yang sudah tentu berbeda tutur kata dan sifatnya dengan peramal yang lama. Saat dia mengemukakan masalahnya, si peramal memberitahu pemuda tersebut ,”Berdasarkan ramalanku, nasibmu di tahun-tahun mendatang tidak begitu bagus. Sejak itu, si pemuda patah semangat dan kehilangan gairah kerja. Yang diingat hanya kata-kata peramal yang negatif. Karena itu, seiring dengan berjalannya waktu, usahanya mengalami kemunduran.

Kata beberapa sumber  untuk sukses dalam kehidupan, kita membutuhkan kemandirian, keyakinan dan kepercayaan diri. Sebab, dengan sikap tersebut kita akan mampu mengelola pikiran dan tindakan yang bisa kita kendalikan sepenuhnya menuju kemenangan.
Saat diramal bahwa kita akan hidup sukses, kita akan tetap sadar, bahwa tanpa usaha dan perjuangan, kita tidak mungkin menjadi sukses. Dengan begitu, ramalan jelek pun bisa kita ubah menjadi baik. Dengan kesehatan mental, keberanian dan kepercayaan diri, kita buktikan, nasib baik selalu berpihak kepada kita.


Percaya Cinta, Percaya Keajaiban

Cinta sering menghadirkan keajaiban-keajaiban. Dengan cinta orang mampu menghadapi hal terburuk dalkam hidupnya. Rasa syukur dan percaya kepada Tuhan, dari waktu ke waktu membuat seseorang  tidak pernah kelaparan, atau kekurangan, dan bisa mengatasi permasalahan yang rumit sekali pun.
Cinta memang teramat luas untuk makna yang bisa kita tuliskan. Sementara orang melihat kata cinta dari sudut pandang yang sempit, sementara yang lain melihatnya dari yang lebih dalam dan luas.. Pengungkapan perasaan cinta pun akan berbbeda satu dengan yang lain. Seseorang menggu­nakan bahasa verbal sebagai sarana pengungkapan cinta. Sedangkan yang lain tidak pernah meng­ucapkan satu pun kata cinta dan tidak juga pernah bernyanyi cinta khusus buat orang yang dicintainya. Namun, rasa cinta tersebut dibuktikan dengan tindakan dari waktu ke waktu.
Namun, dari semua bentuk cinta yang terungkap secara verbal atau nonverbal, kita bisa melihat bahwa semuanya  mampu membuat seseorang untuk tegak berdiri menghadapi hidup dengan aneka gelombangnya. Bila ada seseorang yang mencintai dengan harapan balasan di belakanya ini mungkin  seperti  apa yang pernah ditulis Emma Goldman yang menulis: ’’Bila cinta mengharapkan bayaran, itu bukan cinta, melainkan sebuah transaksi".

Dari setiap peristiwa pengungkapan cinta dalam kehidupan  menunjukkan pema­haman yang dalam tentang makna sebuah cinta. , Hanya dengan pendidikan kehidupan cinta itu bisa ditransformasikan. Lebih dari semua ini, cinta  juga sering menghadirkan keajaiban-keajaiban. Dengan  rasa syukur kepada Tuhan sebagai bentuk rasa cinta ciptaan kepada Sang Pencipta,  orang  dari zaman ke zaman mampu membuat kejaiban-kejaiban dan melewati berbagai rintangan. Dari pengalaman orang-orang hebat pada masanya kita bisa mengenal mereka  dan  terinspirasi dengan semua 
perejuangan mereka.

Ketika anak saya merantau di negri orang dengan beasiswa yang hanya untuk pendidikan saja tanpa yang lainnya, semenatra itu uang saku yang saya kirimkan untuk dia terbatas, ada saja keajaiban yang membuat dia tetap survive di negri orang.  Demikian pula kami di tanah air, harus membagi-bagi uang gaji  yang pas untuk hidup, tetapi semuanya pada setiap akhir bulan bisa terpenuhi dengan baik tanpa harus mengemis dan menjatuhkan harga diri untuk meminta pada sanak saudara. Bagi saya kalkulasi dari ilmu ekonomi mana pun tak mungkin mampu memecahkan mengapa gaji saya yang kecil dan pengeluaran saya yang besar bisa imbang dan pas pada akhir bulan. Dengan seluruh cerita ini, percaya ataupun tidak, saya meyakini sekali kalau kasih Tuhan
Di samping itu cinta secara umum mampu  menghadirkan keajaiban- keajaiban. Berikut adalah sebagian kecil contoh keajaiban- keajaiban yang bisa dihadirkan cinta menurut
sumber yang pernah saya baca.

Keajaiban pertama, cinta membuat orang jadi awet muda dan berumur panjang. Sebab, dengan memiliki orang yang kita cintai, meniti karier dan napas kehidupan lainnya bisa dilakukan tanpa rasa lelah dan depresi  yang mengganggu. Kita mengetahui bahwa ibu kita begitu mencintai kita dan  bersyukur penuh karena  pernah melahirkan anak seperti saya.

Keajaiban cinta yang kedua, bila Anda selalu mencari sesuatu yang baik dalam diri orang lain, Anda akan mene­mukan sisi terbaik dari diri Anda sendiri. Ini saya alami sendiri. Sebagai manusia biasa, saya juga pernah memenuhi hidup dengan pandangan-pandangan negatif tentang orang lain. Atau sedikit-sedikit menghakimi orang lain. Ketika saya melihat pimpinan saya dari sisi yang positif, saya melihat betapa banyak kebaikan untuk memperjuangkan hal baik di komunitas kami dan di tempat kami bekerja. Energi negatif  membenci tadi, mungkin tidak memakan orang yang saya benci,  tetapi  ia memakan badan kita sendiri.

Keajaiban yang ketiga, cinta sering membuat yang tidak mungkin jadi mungkin.   Karena mencintai keluarga seseorang mampu melawan penyakit ganas untuk bisa bertahan hidup demi keluarga. Karena rasa cintanya pada Allah, Abraham bersedia menyerahkan anaknya, Ishak. Namun, sesudah itu keajaiban terjad, Ishak tidak mati, melainkan hidup dan memberikan keturunan sehingga menjadi bangsa yang besar. Karena kecintaannya pada Allah pula, akhirnya ia menjadi bapak para bangsa.  
( Ch. Enung Martina )





Selasa, 11 Juni 2013

MENIKMATI SEKARANG

Segala sesuatu yang diciptakan adalah ketidakabadian. Sebagai ciptaan yang paling mulia, manusia mempunyai aneka cara untuk menikmati hidupnya. Ada yang menikmatinya dengan berbagi hasil korupsi. Ada yang menikmatinya dengan hidup bersama tujuh istri. Ada yang menikmatinya dengan merencanakan bagaimana saya bisa mengambil kesempatan untuk mencari untung sebanyak-banyaknya. Ada pula yang menikmatinya dengan berbuat sesuka hati saya untuk mengumbar semua nafsu kedagingan dengan melakukan semua hal demi memenuhi kenikmatan daging saja. 

Namun, di samping jenis manusia yang disebutkan tadi, ada juga manusia yang menikmati hidup dengan memilih jalan yang berbeda. Orang-orang ini lebih memilih jalan yang damai, jalan emas, jalan keselamatan, jalan sukacita, jalan terang, jalan kasih, jalan nirwana, jalan spiritual. Orang-orang seperti ini lebih melihat hidup tidak sekedar hidup yang terjadi begitu saja. Namun melihat hidup sebagai sebuah hadiah dan anugrah Pencipta yang patut disyukuri. Dunia memiliki orang-orang yang seperti ini. Saya sangat yakin orang-orang ini pilihan Tuhan sebagai hadiah untuk dunia.

Mungkin saya dan Anda bertanya : sedangkan saya masuk ke yang mana? Boleh dikatakan saya dan Anda mungkin perpaduan dari dua jenis tadi. Kita masih memikirkan kedagingan tetapi juga masih ingat bahwa hidup itu semua ada yang mengatur. Kita masih ingat akan Gusti Allah yang menciptakan kita dan kita tak mungkin bisa lepas dari pada-Nya.

Saya baru mendapat pengetahuan tentang hal bagaiamana menikmati hidup dengan cara menikmati kekinian kita. Saya katakan ini baru pengetahuan, belum sampai pada pencerahan. Karena kalau pencerahan,  itu berarti saya sudah berada di tataran para spiritualist. Saya ini kan masih manusia biasa yang masih suka terbawa emosi dan tanpa sadar terjerumus dalam arus yang membawa saya pada kebiasaan-kebiasaan buruk yang menurut saya itu manusiawi. Contohnya ngerumpi: saya berpendapat itu adalah bagian dari pergaulan sosial. Biasa dalam hidup selalu minta dimaklumi. Bukan begitu, Jeng?

Katanya (orang tua)  begini ni : hidup itu harus eling lan waspada.  Hidup setiap saat senantiasa dalam kesadaran, bukan hanya lima indra, tetapi menukik masuk sampai pada kesadaran dalam (intuisi). Katanya lagi,  orang yang hidup dalam kesadaran itu adalah orang yang hidup pada saat ini. Maksudnya adalah orang yang menikmati saat ini. Sungguh-sungguh berada total pada saat dia berada. Seberapa banyak orang yang penuh sadar menghayati momen kekinian (mindfulness) dan tidak tidak hidup di hari kemarin atau mengawang ke hari esok. Kita memang hidup dalam momen kini, tetapi apakah kita benar-benar menghayati kekinian tersebut?

Yang diharapkan bukan suatu kesadaran yang tipis, tetapi kesadaran mendalam. Dari batin nurani,  kita menelusuri seluruh pikiran, ucapan, dan perbuatan selama bertahun-tahun kita hidup. Kita lakukan untuk melihat apakah selama kita hidup sekian tahun itu kita menikmati saat ini saya? Belum tentu. Saya sendiri seringnya ingat masa lalu. Atau justru melamun untuk masa yang akan datang. Dengan melakukan kegiatan dua hal tadi, sebetulnya saya sedang menyia-nyiakan masa kini saya. Saat yang paling tepat adalah momen kini.  Diperlukan introspeksi, keterbukaan, dan keberanian untuk berubah. Mengubah kebiasaan saya  untuk dapat melekat  ke masa kini,  diperlukan keyakinan bahwa hal itu memang perlu dan bermanfaat. Penting sekali pengendalian dan kemauan kuat, sebab kesadaran sendiri kerap pergi dan datang begitu saja. 

Potensi pencerahan ada pada setiap orang itu tidak sama. Demikian pula untuk memahami tentang pentingnya dan gentingnya masa kini, saat ini. Untuk itu perlu kesadaran penuh dengan penghayatan tetap akan sikap, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang benar terarah pada saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan pola pikir 180 derajat: segala sesuatu terbagi menjadi dua hitam dan putih, benar dan salah, ya atau tidak. Orang yang mempunyai budi 360 derajat adalah orang yang melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, melihat segala sesuatu lebih integratif, dan komperhensif, serta menyeluruh. Menurut para guru spiritual Zen, kalau kita hidup untuk menghayati  saat ini diperlukan pola pikir 360 derajat.

Bagaimana kalau hidup itu ternayata tidak berjalan baik-baik saja? Yang patut disadari adalah bahwa waktu terus berjalan, mengalir, tanpa bisa dipanggil kembali. Baik yang kita hadapi adalah hidup yang pahit atau pun manis, yang sedang terjadi memang merupakan kenyataan yang harus diterima, betapa pun itu perih.
Dari sudut pandang orang beriman, selain kita memupuk kepercayaan diri dan berbuat baik untuk momen kini, sepatutnya orang merendahkan diri dan berseru kepada Sang Pencipta. Setelah segala daya upaya, maka berserah mendatangkan kedamaian hati. Kesulitan yang kita hadapi saat ini hadapi dengan penuh syukur. Itulah mungkin yang dikatakan Yesus tentang janganlah engkau kuatirakan hidupmu.

Setelah merancang masa depan, tekanannya kemudian kembali lagi ke masa kini. Orang tidak hanya puas dengan rumusan cita-cita, melainkan hidup sehari-hari dengan pelaksanaannya. Orang boleh saja melihat ke belakang untuk mengambil hikmah dan menatap horison masa depan untuk mencari arah, tetapi kemudian saya harus menyadari untuk menekuni momen sekarang yang saya miliki. Dengan pergumulan momen kini, akhirnya dapat diketahui mana rencana yang dapat dipertahankan dan mana yang perlu diubah atau mungkin tibatalkan.

Dengan hidup di saat ini berati memungkinkan orang untuk memandang ke belakang dan menatap ke masa depan dengan penuh harapan. Di situ letaknya orang bisa merefleksikan hidupnya. Hidup di saat ini membuat orang untuk melakukan semuanya dengan baik, bahkan sangat baik. Saya pernah mendengar perkataan: jalanilah hidupmu hari ini seolah-olah besok engkau akan mati dan seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi. Saya melihatnya bahwa menjalani hidup seolah-olah besok  akan mati yaitu menjalani hari ini dengan sangat baik,  berusaha berbuat kebajikan, berusaha tidak berbuat dosa,  agar kalau besok saya mati, saya masuk surga. Sikap hidup seolah-olah akan hidup seribu tahun lagi yaitu melakukan segala sesuatu dengan penuh perhitungan, dengan teliti, dengan sempurna. Karena kalau saya melakukannya dengan sembrono, pastinya  akan berakibat bagi hidup saya yang akan berlangsung sekian lama itu. Saya berhati-hati agar yang saya lakukan itu tidak mendatangkan celaka kepada diri saya atau keturunan saya.
Akhirnya saya mengakhiri obrolan saya kali ini tentang hidup pada saat ini dengan sebuah puisi klasik.

Serenity Prayer
God grant me the serenity
To accept the things I can not change,
The courage to change the things I can,
And the wisdom to know the difference.
Living one day at a time
Enjoying one moment at a time.
                                                                                ( Reinhold Neibuhr: 1892-1973)

Kira-kira artinya adalah...:

Tuhan anugrahilah aku kejernihan hati 
Untuk menerima hal-hal  yang tidak dapat aku ubah
Dan berilah keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah
Serta  kebijaksanaan utk mengetahui perbedaannya
Hidup pada hari ini untuk menikmati saat ini
Menikmati satu saat dalam kekinian.
( Ch. Enung Martina -  awal Juni 2013)


Sabtu, 18 Mei 2013

BERSERAH-SURRENDER


Prihal orang-orang yang menjalani hidup dengan berserah (surrender) , dalam kemalangannya muncul hikmah yang malah membawa mereka pada keberuntungan. Dalam peristiwa keberserahan muncul berkah tersembunyi (blessing in disguise). Orang orang sejenis ini adalah manusia yang tidak melonjak-lonjak lupa diri pada kala mereka beruntung, sebaliknya kala kemalangan, mereka tidak jatuh dalam kesedihan dalam dan depresi berat. Susah dan senang, kalah dan menang adalah bagian yang wajar dalam kehidupan. Kehidupan memang menyimpan sejumlah misteri yang tak terkenali. Mereka inilah yang orang tua sering menyebutnya eling lan waspada.

Berbicara tentang kata eling, saya teringat teman saya Mbak Fenny yang membuka usahanya dengan merek ELLING! (saya tidak promosi!) Hebat Mbak! Piye kabare? Salam untuk Mbak Fenny, di mana pun Anda berada! Semoga sukses dan selalu eling!

Menurut sebuah buku yang pernah saya baca, orang-orang yang agresif dalam kehidupan senantiasa ingin memaksakan kehendak, ide, dan kemauannya. Namun, kebalikannya, orang-orang besar yang bijak mengetahui bila mana ia harus memegang kendali yang ketat, dan mengetahui kapan harus membiarkan kendali lepas. Semuanya bukan demi dirinya, tapi demi kelangsungan hidup yang baik. Saya kira Paus Emiritus Benedictus VI adalah salah satu dari mereka orang besar yang bijak itu.

Kalau tali gitar dipetik terlalu keras, maka snarnya akan putus, lagunya akan hilang. Sebaliknya kalau senar dipetik terlalu kendur, maka ia tak akan mengeluarkan suara. Tarikan tak boleh terlalu keras atau terlalu lembut. Si pemainlah yang harus pandai menimbang dan bijak meraba. ( Wisdom of the Common People)

Menurut buku yang saya baca ada siklus dalam kehidupan ini. Siklus itu berlaku juga dalam hidup manusia. Mereka yang hidup dengan seimbang dan mampu menahan diri pada umumnya hidup sehat dan panjang umur. Kebalikannya, orang yang mengumbar habis hasrat,  energinya akan  cepat terkuras. Usia pun menjadi pendek dan kalau pun berumur panjang dia akan penuh dengan sakit dan penyakit.

Ternyata orang itu harus percaya diri, tetapi sekaligus tahu diri. Tahu kapan saatnya makan dan kapan harus berhenti makan. Kapan harus bekerja dan kapan harus beristirahat. Begitu pun Al Kitab berkata: ada saatnya menanam, ada saatnya menuai. Semua ada waktunya. Seseoarng menjadi orang besar karena dia mengetahui keterbatasannya.

Dalam hidup pasti ada perubahan. Perubahan linear adalah adalah perubahan yang digerakkan oleh kemauan keras manusia. Namun, kenyataannya perubahan itu hendaknya juga memperhatikan beberapa aspek, antara lain: siklus kehidupan manusia, situasi dan kondisi, pengaruh lingkungan alam, dan berbagai interaksi. Diharapkan dengan pemahaman akan berbagai perubahan itu, saya dan Anda dengan rendah hati dan penuh keterbukaan mengandalkan diri pada Sang Pencipta.

Dalam menghadapi perubahan itu diperlukan  kehidupan yang benar: memberi tahu tentang perlunya suatu cara hidup yang mendukung tujuan spiritual yang hendak dicapai. Untuk itu diperlukan ketetapan hati yang benar : ada niat memfokuskan pada tujuan yang akan membimbing seluruh tindakan maupun keyakinan. Selain itu memperhatikan perkataan yang benar: membawa kita pada disiplin untuk selalu berkata benar. Juga memerlukan pikiran yang benar: seluruh hidup kita adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Mempunyai pikiran yang benar sangat penting karena membawa pada pencapaian pencerahan. Dan untuk itu kita membutuhkan usaha yang benar: pencapaian pencerahan bukanlah sesuatu yang mudah, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh. Karena itu betapa pentingnya kehendak sehingga akhirnya kita bisa melakukan perbuatan yang benar: perbuatan sesuai hukum agama/ ajaran spiritualitas. Akhirnya semua itu akan membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi diri saya, diri Anda, juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Keberpasrahan juga sering dilambangkan pada analogi alam, semisal air. Ada sebuah puisi klasik Cina yang melihat kebijaksanaan air:
Mereka yang bijak bagaikan air
Memberi manfaat kepada segala
Tidak bersaing dengan semua
Air mengalir ke bawah
Ke tempat yang dilihat sebelah mata
( Tao te Ching: Lao Tse, 500 SM)
Air mempunyai karakter asli yang lembut, lentur, dan mudah mengalir dengan leluasa tanpa beban. Ia membersihkan, menyegarkan, dan menyejukan. Ia bersifat adil kepada semuanya tanpa memilih, tanpa melihat perbedaan, tanpa pertimbangan. Ia senantiasa stia, tekun, dan bergerak tanpa henti, tanpa lelah, tanpa menyerah. Meskipun sisi lain ia juga responsif, di luar dugaan, dan tanpa perhitungan.
Keberpasrahan juga sering dilambangkan dengan bumi. Planet biru yang sudah tua, tetapi ia tetap setia. Apa pun yang terjadi dia berserah pada Penciptanya. 

Keberpasrahan bukan berarti menyerah. Juga tidak sama dengan mengalah. Keberpasrahan adalah surrender menyerahkan dan mempercayakan pada Sang Pencipta. Keberpasarahan juga bukan pasif. Karena seperti uraian di atas tadi: di dalamnya juga ada strategi. Dalam berpasrah ada setia tanpa kenal lelah seperti dilambangkan dengan air. Begitulah dalam keberserahan di dalamnya ada  iman yang kuat akan satu keyakinan bahwa Sang Pencipta sudah menyediakan segala yang terbaik. Rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera.
(Ch. Enung Martina)






Selasa, 23 April 2013

BERMAIN = BELAJAR



Saya yakin, para orang tua tidak setuju dengan pernyataan di atas, termasuk saya di dalamnya. Orang tua akan beranggapan bahwa belajar, ya belajar, tidak main-main. Belajar bukan permainan. Betul, Pak, Bu?  Ya, setuju. Saya juga mengamini. Namun, rupanya sudut pandang kita sekarang sudah harus digeser sedikit agar kita bisa mengubah pendapat tentang hal ini.

Sejak zaman baheula orang tua kita, turun temurun, mewariskan kepada kita bahawa belajar ya belajar, jangan main-main. Ada saatnya belajar dan ada saatnya bermain. Begitu kan pengetahuan saya dan Anda?  

Ternyata, pendapat itu kurang tepat alias keliru. Mengapa? Karena Bapak Johan Huizinga berpendapat manusia itu adalah mahluk bermain. Man the palayer. Homo ludens. Begitu kata beliau. Pendapat itu dikuatkan lagi oleh Bapak Frederich Niezsche: Dalam diri seorang pria (manusia) dewasa yang sejati, tersembunyi anak kecil yang selalu bermain-main. Nah, lo!

Bermain adalah kegiatan penting bagi manusia. Otak manusia selalu mencari pola, arti, dan hubungan  antarperistiwa yang merupakan proses kognitif (mencari pengetahuan). Sebetulnya proses itu berlangsung  secara efektif pada saat bermain. Bermain sifatnya sangat menarik perhatian, penuh imajinasi, dan menggembirakan. Saat bermain sebenarnya awal anak mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah, berkonsentrasi, mempunyai kesadaran tentang konsep, melatih koordinasi fisik, mengembangkan kreativitas, dan mengembangkan ketrampilan bersosial. Begitu kata para ahli.


Dulu, seperti saya ini yang anak kampung, tentunya kerjanya ‘dolan’ di kebun, sawah, dan alam terbuka lainnya. Rasanya  belajar di sekolah itu tidak seberat anak saya yang sekolah zaman sekarang. Mana bukunya banyak, PR juga banyak, ulangan juga tiap hari, dan masih ada tugas ini itu! Perasaan saya (karena saya sekolah di kampung) ke sekolah saya membawa tas itu enteng. Malah kadang tidak membawa tas ke sekolah. Namun, ya.... survive saja hidup hingga zaman sekarang. Apa kurikulum pendidikan Indonesia itu makin dibuat sulit atau bagaimana, ya? Saya juga tak mengerti. Giliran saya jadi guru di kota pada zaman ‘conected’ seperti sekarang ini kok sekolah itu abot tenan ya! Dan herannya lagi, bocah-bocah sekarang sudah terbiasa juga dengan tuntutan yang menggila itu. Memang sudah zamannya kali, ya. Namun, saya tetap kasihan pada anak-anak.

Kembali ke barmain= belajar. Karena situasi dan tuntutan zaman yang menggila seperti sekarang ini, orang tua terkadang kuatir dengan anak-anaknya apakah mereka mampu untuk bisa melalui semuanya dengan baik. Karena itu, para orang tua berbuat yang terbaik untuk putra-putrinya. Memberikan pendidikan yang dianggap terbaik. Anak-anak diberi berbagai les sehingga mereka tak punya lagi waktu untuk bermain. Padahal, menurut para ahli di atas, bermain itu justru hakikat dari manusia. Nah, lantas bagaimana ini?

Karena itu, saya mulai agak menggeser sudut pandang saya tentang bermain. Saya sekarang tidak terlalu seketat dulu melarang anak-anak di sekolah untuk tidak     bermain’ kala mereka belajar. Saya lebih toleran terhadap kata bermain. 

Untuk mempertegas bahwa memang bermain itu sangat berguna, mari kita melihat pendapat para ahli di bawah ini:
Anak yang bermain adalah anak yang tangguh. Bermain adalah cara anak mempersiapkan diri menghadapi dunia. Di dalam bermain peran (role play), anak sebenarnya sedang belajar bagaimana menghadapi masalah atau konflik yang terjadi di dunia sekitarnya.

Anak yang bermain adalah anak yang sehat. Salah satu indikasi seorang anak sembuh dari penyakit berat adalah bila sudah menunjukkan keinginan untuk bermain lagi.

Anak yang bermain adalah anak yang cerdas. Saat bermain, anak mendidik dirinya sendiri. Dia akan menemukan hal baru dalam permainannya. Dalam bermain kreativitas bisa terasah dengan baik. Banyak permainan yang juga memerlukan strategi.

Bermain mengajarkan anak untuk berelasi dengan alam, teman bermain, juga dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, anak belajar bagaimana berelasi yang baik. Suatu saat dia menjadi pemenang. Kali lain dia menjadi pihak yang kalah. Dia juga akan belajar menerima kemenangan orang lain dan kekalahan dirinya. 

Bermain bisa menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi. Ketika bermain anak mencoba untuk melakukan sesuatu yang mungkin dianggap tadinya tak bisa dilakukan. Namun, ketika ia bermain ternyata ia mampu melakukannya. 

Ada banyak keuntungan bermain. Bila diselidiki dan diteliti, akan muncul keuntungan lain dari bermain. Nah, kalau begitu  jangan abaikan kata bermain. Bermain itu bukan main-main. Bermain artinya melakukan permainan dengan benar. Total menjalaninya dan menghayatinya. Bila kita memberikan kesempatan anak-anak untuk bermain, kita akan mempunyai generasi bangsa dan Gereja yang cerdas, kreatif, dan mempunyai hati.
Ch. Enung Martina

Jumat, 05 April 2013

BASILIKA DI VATICAN

Mari kita berjalan-jalan ke tempat Vatican untuk melihat keagungan dan kemegahannya,

Selamat menikmati

Salam

Ch. Enung Martina

http://www.vatican.va/various/basiliche/san_giovanni/vr_tour/index-en.html

Sabtu, 30 Maret 2013

KESOMBONGAN ROHANI


Ada sebuah kutipan dari karya Louis Naskins yang ditulis di atas makam Raja Gregorius VI berbunyi:
“ Berikan sebuah lampu kepadaku agar aku dengan aman dapat memasuki dunia ketidaktahuan.”
Dan dia pun menjawab:
“ Pergilah memasuki dunia kegelapan dan letakkan tanganmu dalam genggaman Tuhan. Hal itu akan lebih baik daripada lampu dan lebih aman daripada jalan yang jelas.”

Dalam hidup, kita pernah mengalami situasi ruwet, mendung, kelabu, bahkan gelap. Hal itu menyebabkan suasana hati menjadi tawar , tak bergairah. Ketika hati kita tawar, semuanya terasa tidak pas dan tidak pasti. Hal yang biasanya kita lakukan pun berlalu begitu saja tanpa dimaknai. Banyak penyebabya yang membuat situasi hati demikian. Bisa saja karena terpengaruh oleh omongan orang, bisa juga karena mendapat musibah/masalah, atau karena tak kesampaian apa yang diharapkan, bisa juga karena frustasi dengan kenyataan hidup. Namun, apa pun yang dialami tak akan berpengaruh bila kita memutuskan untuk tidak terpengaruh.

Saya sendiri adalah tipe orang yang mudah terpengaruh situasi. Darah saya langsung menggelegak bila menghadapi situasi tertentu. Karena itu, keadaan hati saya selalu naik turun. Apalagi dulu tatkala saya muda, saya cenderung meledak-ledak. Namun, ketika usia sudah menjelang uzur seperti sekarang, ledakan itu makin mengecil dan frekwensinya makin berkurang. Mungkin energi saya pun mulai surut. Selain itu, saya pun memutuskan untuk tidak terpengaruh dengan situasi buruk di sekeliling. Meskipun saya tahu itu tidak mudah tentunya. Jujur saja, terkadang saya masih terpengaruh juga. Saya sadar, bahwa saya terpengaruh atau tidak adalah atas keputusan saya sendiri. Saya mempunyai kebebasan untuk memutuskannya.

Saya berpendapat kesesakan atau masalah itu akan selalu ada sepanjang usia kita. Namun, sikap hati kita yang akan menjadi kunci, apakah kesesakan itu mempengaruhi saya dan menawarkan hati saya. Saya berpendapat meski saya mengeluh panjang pendek kepada siapa saja yang saya jumpai, kesesakan itu tetap tak beranjak dari diri saya. Bahkan, bisa semakin berat karena saya mendramatisirnya. Akhirnya langkah yang saya ambil, daripada mribeni orang dengan keluhan saya, saya lebih baik diam sambil mencari jalan keluarnya. Bila perlu dibicarakan dengan orang tertentu.  Saya akan memilih orang yang saya bisa ajak bisa berbagi dan bisa saya percaya. Kalau ternyata masih tidak menolong juga, ya... sudah saya menjalaninya saja. Toh akhirnya ketika roda waktu berputar, kesesakan itu akhirnya berlalu juga.

Menurut saya, keluhan malah menjadi polusi bagi lingkungan sekitarnya karena menjadi polusi bagi lingkungan karena membawa emosi negatif. Akan tetapi, rupanya menurut yang saya alami, tidak hanya keluhan saja yang membawa emosi negatif, ‘pameran’ keberhasilan pun ternyata bisa membawa emosi negatif juga. Saya pernah mendengar orang memamerkan keberhasilannya dengan membawa nama Tuhan. Sebetulnya tujuan orang itu mungkin mau memberi kesaksian tenntang kemurahan Tuhan dalam hidupnya. Namun, lama-kelamaan kesaksian bergulir bukan kebesaran Tuhan, malah berpusat pada dirinya dan keberhasilannya.

Contoh kejadian: “Tahu nggak sih, aku bersyukur banget lho sama Tuhan. Ternyata Tuhan itu baik banget. Aku bisa beli rumah dekat gereja. Jadi aku nggak usah jauh-jauh  jalan ke gereja.”  Kali lain lagi ada kesaksian lain: “ aku bersyukur banget lo, aku bisa membeli...., suamiku bisa ....” 
Sepertinya ungkapan di atas memang ungkapan syukur, tetapi bila kita perhatikan ujung-ujungnya mengagungkan diri sendiri: Aku bisa beli...., suamiku bisa.... Subjeknya aku, bukan Tuhan. Dalam kasus di atas orang tersebut bisa saja meletakkan Tuhan sebagai pelengkap atau hanya keterangan alat untuk memenuhi semua yang dia harapkan.

Awalnya saya merasa sebal juga tiap kali disuruh mendengarkan kesaksian yang berakhir dengan pameran itu. Kalau pameran yang membawa nama Tuhan itu didengar oleh orang yang sedang mempunyai masalah, kesusahan, atau lemah iman, bisa jadi tanggapannya menjadi lain. Orang tersebut bisa beranggapan Tuhan itu kok  pilih kasih. (O, ya... maafkan  saya Tuhan, terkadang saya masih berpikir Tuhan itu tak adil untuk kasus tertentu).

Kalau tanggapan saya sendiri dengan kesaksian pameran itu sedikit berbeda. Tuhan itu luar biasa! Orang ini bisa membeli rumah dekat gereja, tetapi justru Tuhan membangun rumah-Nya dekat rumah saya. Ayo mana yang ajaib dan luar biasa? (Sebetulnya kalau dilihat dari kacamata iman keduanya luar biasa, tetapi biar lebih dramatislah, saya pilih yang Tuhan membangun rumah-Nya dekat rumah saya.) Memang betul bagi saya yang tidak bisa membeli rumah dekat gereja, pembangunan Gereja Santo Ambrosius, Vila Melati, itu sungguh luar biasa. Bayangkan saja pergi ke gereja itu, saya tinggal berjalan 10 menit. Bagi orang lain, mungkin biasa saja. Bagi saya, itu sangat luar biasa!

Sedikit saja seseorang berada di atas angin, orang itu biasanya mulai dengan ingin menunjukkan diri,Manusia memang sering terjatuh pada kesombongan dan keegoisan. Kata para teolog, kesombongan itu merupakan salah satu akar dosa. Seperti contoh di atas, kita memuji nama-Nya, tetapi untuk menonjolkan keberhasilan yang saya raih, bukan bersaksi tentang ke- Maha Muraha-an Tuhan. Berbicara tentang kesombongan kita sering terjatuh pada yang sering  disebut kesombongan rohani. Tanpa kita sadari, kita mengatakan bahwa berkat doa saya seseorang sembuh, berkat doa saya keluarga saya berhasil, berkat doa saya komunitas saya maju. Semua tertuju kepada saya, bukan kepada Tuhan.

Namun sisi  lain, pada saat dalam keadaan kesesakan, saya mengeluh panjang pendek sehingga membuat orang yang ada di sekitar saya tercemar keluhan saya. Beban hidup yang paling berat sepertinya milik saya. Lantas terpikirkan: Bisakah saya menahan keluhan tertahan sampai kerongkongan saja? Saya merasa saya perlu mengeluarkan unek-unek saya. Belum lega kalau belum keluar. Mengganjal di hati malah jadi penyakit nanti. Demi kesehatan jiwa saya harus membebaskan uneg-uneg saya ini!

Boleh saja mengeluarkan uneg-uneg dan itu memang harus. Namun, semua ada tempatnya yang tepat. Carilah orang yang tepat, yang bisa dipercaya. Bukan semua orang disekitar menjadi sasaran keluhan. Dengan mencari orang dan waktu yang sesuai akhirnya saya bisa berbicara dengan leluasa dan nyaman. Dengan demikian mengeluh saya menjadi lebih bermartabat.

Dari semua peristiwa: suka-duka dan  yang dikeluhkan-yang dipamerkan, semuanya bisa membawa kemajuan pada kemajuan spiritual saya. Segala peristiwa dalam hidup bisa membawa pada relasi saya dengan Sang Pencipta. Hal itu bisa terjadi bila saya memaknainya dengan rasa syukur. Jangan salah, peristiwa keberhasilan pun bisa menjauhkan kita dari Allah. Justru kebalikannya, ada peristiwa kejatuhan dalam hidup seseorang membawa kembali orang itu kepada Allah.
Dengan demikian apa yang dikatakan penyair di atas: “ Pergilah memasuki dunia kegelapan dan letakkan tanganmu dalam genggaman Tuhan. Hal itu akan lebih baik daripada lampu dan lebih aman daripada jalan yang jelas.”

Demikianlah dinyatakan kepada kita bahwa bila kita 100% percaya, tanpa cerewet, tanpa bertanya, dan  tanpa mengeluh, akan rancanagan-Nya, niscaya damai sejahtera dan suka cita akan bersama kita sepanjang hidup kita. Amin. (Ch. Enung Martina)

Selasa, 12 Maret 2013

KISAH DI BALIK PASKAH


Bagi orang Yahudi kuno, mengenangkan sebuah peristiwa religius lebih dari sekedar mengingat-ingat kembali sesuatu yang terjadi berabad-abad sebelumnya. Sebaliknya, mengingat peristiwa tersebut berarti membawa orang masuk ke dalam realitas dan menghidupinya kembali lewat iman.

Demikian pula ketika orang Yahudi mengenang perayaan Paskah Yahudi setiap tahun, mereka melakukannya lebih dari sekedar mengingat peristiwa pembebasan leluhur mereka dari mesir. Namun, lebih dari itu, dengan mengenangkannya, mereka membawa peristiwa itu memasuki masa kini dan menghidupinya kembali. Dengan cara ini mereka menerima berkat yang sama dari peristiwa tersebut seperti yang diterima para leluhur mereka dulu.

Paskah Yahudi dilakukan pada malam hari, tepat setelah munculnya bintang-bintang pertama. Itulah sebabnya setiap orang merayakannya pada saat yang sama sebagai sebuah keluarga. Ketika bintang-bintang pertama bermunculan 2000 tahun yang lalu, Yesus bertindak sebagai seorang bapak, memulai rangkaian perayaan Paskah Yahudi. Cara yang Dia lakukan cukup mencengangkan para murid yang ikut bersama-Nya kala itu. Dia melakukan ritual itu dengan membuka jubah luar-Nya dan membasuh kaki para rasul-Nya.
Bagi orang Yahudi, membasuh kaki orang lain adalah tindak perendahan diri. Hanya para budaklah yang membasuh kaki orang lain. Itulah sebabnya tindakan Yesus  membekaskan suatu perasaan yang mendalam dalam diri para rasul.

Dalam Paskah Yahudi biasanya digunakan anggur merah untuk mengenangkan ambang pintu bertandakan darah di Mesir pada masa Musa membebaskan orang Israel. Perjamuan Yahudi biasa  dimulai dengan pemecahan roti terlebih dahulu. Namun, pada saat Paskah Yahudi, perjamuan dimulai dengan makan sayur pahit. Sayuran pahit mengingatkan tahun-tahun perbudakan yang getir di tanah Mesir. Kemudian perjamuan dilanjutkan dengan makan roti tak beragi untuk mengingatkan keberangkatan yang tergesa-gesa keluar dari Mesir.

Mari sekarang kita mengaitkannya dengan tokoh utama kita, Yesus. Menjelang penyaliban-Nya, Yesus mengadakan perjamuan bersama para rasul-Nya. Perjamuan itu tak terlupakan oleh mereka. Perjamuan tersebut merupakan cikal bakal Ekaristi yang setiap minggu kita ikuti.Semoga perjamuan Ekarisisti tidak hanya sekedar menerima hosti yang menjadi tradisi Gereja Katolik saja, tetapi bisa dimaknai mendalam. Seperti halnya orang Yahudi yang mengenagkan peristiwa religius mereka dengan keyakinan bahwa  mengingat peristiwa tersebut berarti membawa orang masuk ke dalam realitas dan menghidupinya kembali lewat iman.

Paskah Kristen berbeda dengan Paskah Yahudi. Paskah Kristen mengingatkan kita pada peristiwa Kebangitan Yesus dari kematian. Kematian Yesus diuraikan oleh Mark Link, SJ dalam bukunya Journey sebagai tanda, undangan, dan pewahyuan. Dikatakan tanda karena kematian Kristus merupakan tanda kedalaman kasih Yesus kepada manusia dan tanda ketaatan sekaligus kasih  kepada Bapa. Dikatakan sebagai undangan karena kematian-Nya merupakan undangan untuk saling mengasihi seperti yang telah dicontohkan sendiri oleh-Nya. “ Kasihilah satu sama lain seperti Aku mengasihimu.” (Yoh. 15:12). Dinyatakan sebagai pewahyuan karena kematian Kristus mewahyukan tentang kasih yang sering dilupakan. Sekaligus juga mewahyukan bahwa cinta menuntut penderitaan. Dari kita dituntut untuk mengikuti-Nya tanpa cerewet. “Barang siapa mau mengikut  Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.” ( Mark. 8:34)

Bagaimana dengan kita sendiri berkaitan dengan Paskah ini? Sebagai orang Katolik memang kita menjalani ritual yang selayaknya secara liturgis dijalani. Namun, terkadang hanya sebatas ritual. Meskipun begitu, saya masih melihat sisi lain bahwa baiklah itu, orang Katolik pada Pekan Suci rajin datang ke gereja untuk mengikuti semua ritual. Itu tandanya ada niat baik. Bahkan orang yang jarang terlihat pun datang ke gereja. Alangkah baiknya bila niat baik untuk mengikuti rangkaian Pekan Suci itu juga dibarengi dengan sikap hati yang ditunjukkan dengan perilaku. Lebih elok lagi bila akhirnya semua kegiatan liturgis itu menjadi tanda perubahan dalam sikap dan tingkah laku kita keseharian. Semangat Paskah membawa kita pada sikap hidup yang baik. Paskah membawa kita lebih membuka hati pada Bapa  untuk berelasi dengan-Nya , merasakan kasih-Nya, dan mensyukuri  kasih-Nya.

Setiap upacara liturgi yang kita ikuti kiranya mampu membawa kita mengenangkan peristiwa religius lebih dari sekedar mengingat-ingat kembali sesuatu yang terjadi berabad-abad sebelumnya, tetapi membawa kita mengingat peristiwa tersebut masuk ke dalam realitas dan menghidupinya kembali lewat iman. AMIN.
(Ch. Enung Martina)